Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember 2025 https://doi. org/10. 52060/mp. E-ISSN 2621-0703 P-ISSN 2528-6250 STRATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI DALAM MENGEMBANGKAN AKHLAK MULIA Hafiq S1. Yulia Oktarina2. Dewi Hasanah3 Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi e-mail: hafiq@uinjambi. id, yuliaoktarina@uinjambi. id, dewihasanah@uinjambi. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh beberapa masalah yang menjadi perhatian terkait dengan pembinaan akhlak mulia pada siswa. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis strategi guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dalam mengembangkan akhlak mulia Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Penelitian ini dilakukan di SMPN 14 Batang Hari. Subjek penelitian ini, yaitu kepala sekolah, wali kelas, guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti, serta siswa di SMPN 14 Batang Hari. Instrumen penelitian ini, yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data penelitian ini adalah analisis data kualitatif yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini . adapun gambaran akhlak mazmumah pada peserta didik di SMPN 14 Batang hari, yaitu mengolok-olok (Man. , dusta, ingkar janji (Khianat/ghada. , dan egoistik. strategi Guru PAI dan Budi Pekerti dalam mengatasi akhlak mazmumah, yaitu keteladanan, pembiasaan, nasihat, dan hukuman. faktor pendukung Guru PAI dan Budi Pekerti dalam mengatasi akhlak mazmumah, yaitu adanya dukungan pihak sekolah, kemampuan komunikasi yang baik, tersedianya materi ajar yang relevan untuk menanamkan nilai-nilai karakter. Selanjutnya, faktor penghambatnya, yaitu terbatasnya waktu pembelajaran, kurangnya dukungan dari orang tua, pengaruh lingkungan pertemanan di luar sekolah, dan belum optimalnya fasilitas dan sarana pendukung pembentukan karakter siswa. Kata Kunci : Akhlak Mazmummah, strateg guru PAI dan Budi Pekerti. Akhlak Mulia. ABSTRACT This research is motivated by several issues concerning the cultivation of noble character among students. The purpose of this study is to analyze the strategies employed by Islamic Religious Education and Character Education teachers in developing noble character. This study is a qualitative research using a descriptive The research was conducted at SMPN 14 Batang Hari. The subjects of this study include the principal, homeroom teachers. Islamic Religious Education (PAI) and Character Education teachers, as well as students of SMPN 14 Batang Hari. The research instruments used were interviews, observations, and documentation. The data analysis technique applied in this research is qualitative data analysis, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing. The results of the study are as follows: . the forms of negative character traits . khlaq mazmuma. found among students at SMPN 14 Batang Hari include mocking others, lying, breaking promises . reachery/ghada. , and egotism. the strategies used by PAI and Character Education teachers to address these negative traits are role modeling, habituation, giving advice, and applying punishments. the supporting factors for teachers in overcoming negative character traits include support from the school, good communication skills, and the availability of relevant teaching materials to instill character values. Meanwhile, the inhibiting factors include limited instructional time, lack of parental support, peer influence outside of school, and the suboptimal condition of facilities and infrastructure for fostering student character development. Keywords: Psalmmah Morals. PAI teacher strategies and Characteristics. Noble Morals. PENDAHULUAN Pendidikan Akhlak Mulia di Indonesia menjadi perhatian penting dalam pembentukan karakter generasi muda, terutama di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sebagai upaya untuk menanggulangi akhlak mazmumah . khlak tercel. yang banyak berkembang di kalangan remaja, peran pendidikan agama sangatlah vital. Berdasarkan (Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 2. tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada pasal 3 dinyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, serta memiliki kemampuan yang diperlukan untuk masyarakat. Hal ini sejalan dengan Permenristekdikti No. 44 Tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi yang menekankan pentingnya pembentukan karakter mahasiswa yang juga relevan dengan karakter peserta didik di tingkat SMP (Ristekdikti Pembinaan akhlak mulia pada siswa SMP perlu dilakukan secara holistik, mencakup dimensi spiritual, moral, dan sosial. Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti di sekolah memiliki peran besar dalam menanamkan nilainilai akhlak yang baik. Seperti yang terkandung dalam Al-Qur'an Surat Al-Ahzab ayat 21, https://ejournal. id/index. php/mp This is an open access article under the cc-by license | 445 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . Artinya: AuSesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap . Allah dan kedatangan hari kiamat dan yang banyak menyebut Allah. Ay (RI 2. Hal ini sejalan dengan Hadis Nabi Muhammad SAW juga mengingatkan dalam sabdanya, "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia" (HR. Ahma. , pengembangan akhlak mulia adalah bagian integral dari misi pendidikan. Meskipun terdapat kerangka hukum dan ajaran agama yang kuat, masih terdapat tantangan dalam penerapan pendidikan akhlak yang efektif di sekolah. Menurut penelitian yang dilakukan oleh (Hidayati 2. penerapan pendidikan karakter yang kurang maksimal di sekolah dapat mengarah pada rendahnya menyebabkan timbulnya akhlak mazmumah. Selain (Subasman Nasyiruddin 2. juga mengungkapkan bahwa kesenjangan antara teori dan praktik di lapangan masih menjadi kendala. Pelatihan untuk guru dalam hal penerapan nilai-nilai karakter masih kurang sehingga siswa tidak sepenuhnya memahami dan menginternalisasi akhlak yang Penelitian lain oleh (Sari and Sugiarto 2. juga menunjukkan tantangan utama pendidikan karakter adalah pengaruh dari lingkungan luar sekolah, seperti media sosial dan pergaulan bebas. Siswa sering kali terpapar dengan pengaruh negatif yang bertentangan dengan nilai-nilai akhlak mulia yang diajarkan di Oleh karena itu, diperlukan strategi yang lebih terintegrasi antara pendidikan agama, budi pekerti, dan pengawasan terhadap pengaruh eksternal yang dapat merusak moral Akhlak mazmumma merupakan perilaku atau sikap yang bertentangan dengan nilai-nilai moral dan ajaran agama yang baik. Dalam konteks remaja, akhlak mazmumma sering kali terbentuk akibat pengaruh lingkungan, baik itu dari media sosial, pergaulan (Setiawati 2. Remaja sangat rentan terhadap pengaruh konformitas sosial (Fiske 2. Mereka lebih memilih mengikuti perilaku yang dominan di kelompok mereka, meskipun perilaku tersebut tidak sesuai dengan norma moral yang benar. Tanpa adanya pengawasan dan pendidikan yang baik, remaja cenderung akan terus E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 terpapar pada perilaku negatif yang berpotensi merusak akhlak mereka. Guru pendidikan Agama Islam merupakan seorang pendidik yang mana tugas utamanya mendidik (Fadhillah 2. Guru PAI dan Budi Pekerti memberikan teladan dan strategi yang efektif untuk mengembangkan akhlak mulia di kalangan Menurut (Syahruddin et al. , strategi yang diterapkan oleh guru harus mampu psikomotorik, sehingga siswa tidak hanya mengerti, tetapi juga mempraktikkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku siswa sangat dipengaruhi oleh contoh yang diberikan oleh guru dan lingkungan sekitarnya. Dalam konteks ini, guru tidak hanya menunjukkan sikap dan perilaku yang baik, menginternalisasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka. Berdasarkan hasil observasi di SMPN 14 Batang Hari, terdapat beberapa masalah yang menjadi perhatian terkait dengan pembinaan akhlak mulia pada siswa. Salah satu masalah utama yang ditemukan adalah masih rendahnya pemahaman dan praktik nilai-nilai agama dan budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari siswa. Hal ini terlihat dari masih terdapat siswa yang mengejek temannya dengan kata-kata kasar ketika berada di kelas maupun di lingkungan Selain itu, beberapa siswa juga sering berbohong kepada guru, misalnya dengan memberikan alasan yang tidak benar ketika tidak mengerjakan tugas. Meskipun materi mengenai akhlak mulia sudah diajarkan dalam mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti, namun sebagian besar siswa belum mampu mengaplikasikan nilai-nilai tersebut secara konsisten di luar ruang kelas. Contohnya masih ada siswa yang terbiasa berkata kasar dan mengejek temannya, tidak jujur kepada guru, dan beberapa siswa sering tidak melaksanakan salat berjamaah di mushola sekolah meskipun sudah diarahkan oleh guru. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara teori yang diterima siswa dengan perilaku yang sehari-hari Adanya pengaruh negatif dari lingkungan luar sekolah yang turut mempengaruhi sikap dan perilaku siswa. Di era digital ini, siswa sering terpapar dengan berbagai konten yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moral dan agama, seperti tayangan kekerasan, pornografi, dan perilaku konsumtif yang berlebihan melalui media sosial. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru PAI dan Budi Pekerti dalam https://ejournal. id/index. php/mp | 446 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . pengembangan karakter dan akhlak mulia di Bahkan, sebagian siswa cenderung lebih mengikuti tren atau perilaku dari lingkungan sosial mereka daripada menerapkan ajaran yang diajarkan di sekolah. Keterbatasan dalam penerapan strategi pengajaran yang efektif oleh guru PAI dan Budi Pekerti. Meskipun para guru telah berusaha mengajarkan nilai-nilai akhlak mulia, namun pendekatan yang digunakan belum sepenuhnya optimal dalam melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kurangnya pelatihan atau pengembangan profesional bagi guru dalam menerapkan metode yang lebih kreatif dan berbasis pengalaman siswa. Akibatnya, termotivasi untuk mengubah perilaku mereka menjadi lebih baik sesuai dengan ajaran agama dan nilai-nilai budi pekerti yang diajarkan. Seiring dengan perkembangan zaman, tantangan dalam pendidikan akhlak semakin besar, pengaruh teknologi dan budaya yang semakin mendominasi kehidupan remaja. Oleh mengeksplorasi bagaimana guru PAI dan Budi Pekerti di SMPN 14 Batang Hari mengatasi akhlak mazmumah dan mengembangkan akhlak mulia pada siswa. Dengan pendekatan yang tepat dan berbasis teori-teori pendidikan karakter, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan kualitas pendidikan karakter di Tujuan penelitian ini untuk menganalisis: gambaran akhlak mazmumah pada peserta didik, . strategi Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dalam mengatasi akhlak mazmumah, . faktor pendukung dan penghambat Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti mazmumah peserta didik. METODE Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan fenomena atau kondisi yang terjadi di lapangan secara mendalam. Menurut (Fadli 2. , penelitian deskriptif kualitatif bertujuan untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai karakteristik suatu fenomena yang diteliti dengan menggali informasi dari berbagai sumber yang (Sugiyono 2. menjelaskan bahwa metode kualitatif berfokus pada pemahaman fenomena dalam konteks sosialnya, tanpa Subjek penelitian ini, yaitu kepala sekolah, wali kelas, guru Pendidikan Agama Islam (PAI) E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 dan Budi Pekerti, serta siswa di SMPN 14 Batang Hari. Penelitian ini dilakukan di SMPN 14 Batang Hari. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2024/2025. Instrumen penelitian ini, yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi mengidentifikasi informasi yang relevan dan mengeliminasi data yang tidak diperlukan. (Sugiyono 2. menjelaskan bahwa dalam penelitian kualitatif, reduksi data sangat penting untuk menyaring informasi yang sesuai dengan fokus penelitian. Setelah data direduksi, data disajikan dalam bentuk deskriptif untuk memberikan gambaran yang jelas tentang fenomena yang diteliti. Langkah terakhir adalah penarikan kesimpulan, di mana peneliti menginterpretasikan data yang telah dianalisis untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai implementasi pendidikan karakter di SMPN 14 Batang Hari. Hasil dan Pembahasan Gambaran Akhlak Mazmumah pada Peserta Didik SMPN 14 Batang Hari Mengolok-olok (Man. Hasil penelitian di SMPN 14 Batang Hari mengolok-olok teman merupakan salah satu bentuk akhlak mazmumah yang cukup menonjol di kalangan peserta didik. Berdasarkan wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, perilaku ini sering terjadi, terutama kepada siswa yang memiliki kekurangan secara fisik Bentuk bervariasi, mulai dari julukan kasar, sindiran merendahkan, hingga perundungan verbal yang berlangsung di kelas maupun saat Observasi menguatkan temuan tersebut, beberapa siswa mengejek temannya saat proses pembelajaran berlangsung yang berdampak pada turunnya rasa percaya diri siswa yang menjadi korban. Secara teoritis, perilaku mengolok termasuk dalam kategori akhlak tercela yang bertentangan dengan prinsip pendidikan karakter dalam Islam. (Fadhillah 2. menekankan pentingnya peran guru PAI dalam membina akhlak siswa agar menjauhi (Jannah menyatakan bahwa pembentukan karakter religius siswa memerlukan dukungan lingkungan yang kondusif terhadap nilai-nilai akhlak mulia. Jika sekolah tidak mengambil langkah tegas terhadap perilaku mengolok, https://ejournal. id/index. php/mp | 447 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . maka siswa akan menganggapnya sebagai hal yang lumrah. Dalam konteks ini, pendekatan pembinaan tidak hanya cukup dengan hukuman, tetapi juga harus menyentuh aspek emosional dan spiritual Dusta Hasil Pendidikan Agama Islam (PAI) dan wali kelas di SMPN 14 Batang Hari menunjukkan bahwa perilaku berdusta masih sering terjadi di kalangan peserta didik. Beberapa siswa cenderung memberikan alasan tidak benar saat tidak mengerjakan tugas, datang terlambat, atau melanggar tata tertib sekolah, seperti berpura-pura sakit untuk menghindari ujian. Guru PAI menyatakan bahwa kebiasaan ini menjadi tantangan dalam menanamkan nilai kejujuran yang seharusnya dibentuk melalui pembelajaran dan pembiasaan sejak dini. Observasi peneliti selama proses pembelajaran juga menguatkan temuan ini, di mana beberapa siswa tampak tidak jujur saat pengecekan tugas, bahkan saling menutupi kesalahan satu sama lain. Perilaku dusta merupakan akhlak mazmumah yang bertentangan dengan nilai dasar keislaman. Pendidikan karakter Islam harus menjadikan kejujuran sebagai fondasi utama pembentukan akhlak (Fadhillah Keteladanan dan lingkungan yang menanamkan nilai moral sangat penting untuk membentuk karakter religius peserta Bila perilaku dusta tidak ditangani dengan serius, maka hal itu berpotensi membentuk pola karakter negatif yang sulit diubah (Jannah 2. Ingkar janji (Khianat/ ghada. Perilaku ingkar janji atau tidak menepati komitmen merupakan salah satu bentuk akhlak mazmumah yang cukup sering ditemukan pada peserta didik. Hasil wawancara dengan guru PAI dan wali kelas di SMPN 14 Batang Hari menunjukkan bahwa siswa sering berjanji mengumpulkan tugas pada waktu yang ditentukan, namun sering kali tidak menepatinya tanpa alasan yang jelas. Selain itu, terdapat siswa yang tidak menepati janji untuk datang dalam kelompok, meskipun sebelumnya telah Guru menyampaikan bahwa meskipun siswa telah menepati janji, perilaku ini tetap terulang, mencerminkan lemahnya internalisasi nilai tanggung jawab dan kejujuran. E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 Temuan ini diperkuat oleh hasil observasi peneliti selama beberapa kali kegiatan pembelajaran dan interaksi siswa. Saat kegiatan kerja kelompok, beberapa siswa yang telah berjanji akan membawa perlengkapan atau menyelesaikan bagian tugasnya justru tidak hadir atau datang tanpa persiapan. Hal ini mengganggu jalannya kerja sama kelompok dan menimbulkan rasa kecewa dari temanteman satu tim. Dalam perspektif pendidikan karakter Islam, perilaku ingkar janji tergolong khianat . yang sangat dikecam. Menurut (Syahri 2. , karakter islami menuntut keterikatan pada janji dan tanggung jawab terhadap komitmen yang juga menekankan bahwa guru PAI menanamkan nilai amanah dan kejujuran melalui keteladanan dan pembiasaan (Sofa et al. Egoistis Berdasarkan hasil wawancara dengan guru PAI dan beberapa wali kelas di SMPN 14 Batang Hari, ditemukan bahwa sikap egois masih cukup sering terlihat dalam perilaku peserta didik, terutama saat kegiatan kerja kelompok dan interaksi sosial Guru kelompok, beberapa siswa cenderung mengutamakan kepentingan pribadi dan tidak mau bekerja sama secara adil. Ada siswa yang hanya ingin menerima hasil tanpa berkontribusi, atau bahkan menolak membantu teman yang kesulitan. Sikap ini rendahnya kesadaran sosial siswa dalam membangun kebersamaan dan tanggung jawab bersama. Guru PAI menyebutkan bahwa sikap egois ini berbanding terbalik dengan nilai-nilai kebersamaan dan tolongmenolong yang diajarkan dalam Islam. Hasil mendukung pernyataan guru, di mana saat pelaksanaan tugas kelompok, beberapa siswa tampak tidak peduli dengan hasil kerja tim, lebih memilih bermain sendiri, dan tidak menunjukkan kepedulian dan kerja sama terhadap teman yang sedang berusaha Dalam pembentukan karakter religius, seperti yang dijelaskan oleh (Jannah 2. , nilai sosial seperti kerja sama dan solidaritas harus ditanamkan melalui pembiasaan dan contoh menambahkan bahwa pendidikan berbasis karakter Islam harus menciptakan suasana yang mendorong siswa untuk memiliki https://ejournal. id/index. php/mp | 448 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . kepedulian terhadap orang lain (Syahri Oleh karena itu, untuk mengatasi sikap egois ini, diperlukan pendekatan yang menekankan pembiasaan perilaku positif, penguatan nilai empati dalam pembelajaran, serta peran aktif guru sebagai teladan dalam bersikap adil dan peduli terhadap sesama. Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dalam Mengatasi Akhlak Mazmumah di SMPN 14 Batang Hari Keteladanan Guru PAI di SMPN 14 Batang Hari membentuk akhlak siswa. Melalui sikap dan perilaku sehari-hari, seperti mengucapkan salam, berpakaian rapi, dan disiplin waktu, guru memberikan contoh langsung yang dapat ditiru oleh siswa. Guru juga menanamkan nilai-nilai kejujuran dan kesederhanaan dalam setiap tindakan. Contohnya, guru yang tidak hanya menyuruh tetapi turut serta dalam kegiatan kebersihan sekolah memberikan pesan moral yang kuat kepada siswa bahwa semua orang memiliki tanggung jawab yang Gambar 1. Penanaman akhlak mulia sikap kerja sama dan kejujuran dalam pembelajaran di kelas Hasil observasi menunjukkan bahwa siswa cenderung lebih menghormati dan mendengarkan guru yang menunjukkan konsistensi antara ucapan dan perbuatan. Guru yang menunjukkan integritas dan sehari-hari menciptakan lingkungan yang mendukung pembentukan karakter siswa. Penelitian oleh (Sari and Sugiarto 2. juga menegaskan berpengaruh terhadap akhlak siswa. Pembiasaan Strategi dengan membiasakan siswa melakukan aktivitas positif secara rutin, seperti membaca doa sebelum dan sesudah kegiatan, shalat berjamaah, dan menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Guru secara E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 konsisten mengingatkan dan memotivasi siswa untuk melaksanakan kebiasaan Hal ini sejalan pendapat (Hidayati 2. yang menyatakan bahwa pembiasaan adalah metode efektif dalam membentuk akhlak mulia pada siswa. Gambar 2. Penanaman akhlak mulia melalui pembiasaan Sholat berjamaan Hasil wawancara dengan siswa menunjukkan bahwa kebiasaan positif yang diterapkan di sekolah mulai membentuk perilaku mereka, baik di dalam maupun di luar sekolah. Pembiasaan ini juga didukung oleh lingkungan sekolah yang mendukung, seperti adanya fasilitas untuk shalat Walaupun fasilitasnya belum cukup menampung semua peserta didik di SMPN 14 Batang hari. Nasihat Hasil wawancara dengan kepala sekolah, guru, dan wali kelas diperoleh informasi bahwa Guru PAI memberikan nasehat secara langsung maupun tidak langsung kepada siswa, baik dalam konteks pembelajaran maupun melalui komunikasi Nasehat disampaikan dengan cara yang bijaksana dan penuh kasih sayang sehingga siswa merasa dihargai untuk memperbaiki perilaku mereka. Nasehat yang disampaikan dengan bijak dapat membantu siswa memahami tanggung jawab mereka sebagai peserta didik (Hidayati 2. Observasi menunjukkan bahwa siswa yang menerima nasehat dengan hati terbuka menunjukkan perubahan positif dalam perilaku mereka. Nasehat juga diberikan dalam bentuk diskusi kelompok, sehingga siswa dapat saling mengingatkan dan memperkuat nilai-nilai positif dalam diri https://ejournal. id/index. php/mp | 449 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . Gambar 3. Memberi nasihat sebagai bentuk pengembangan akhlak mulia Hukuman Hukuman diberikan sebagai bentuk dilakukan siswa dengan tujuan mendidik dan memperbaiki perilaku mereka. Hukuman yang diterapkan bersifat mendidik, seperti memberikan tugas tambahan atau meminta siswa untuk meminta maaf kepada yang Hal ini sejalan dengan pandangan (Jannah 2. yang menyatakan bahwa hukuman harus diberikan sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan siswa dan bertujuan untuk membantu mereka memahami tanggung jawab mereka sebagai peserta didik. Wawancara dengan guru menunjukkan bahwa hukuman diterapkan secara adil dan proporsional tanpa adanya unsur kekerasan. Guru sebelum dan setelah memberikan hukuman sehingga siswa memahami alasan di balik tindakan tersebut. Faktor Pendukung dan Penghambat Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Mengatasi Akhlak Mazmumah Peserta Didik di SMPN 14 Batang Hari Faktor Pendukung Salah satu faktor pendukung utama dalam mengatasi akhlak mazmumah peserta didik adalah adanya dukungan dari pihak sekolah, terutama kepala sekolah dan wakil bidang kesiswaan. Hasil wawancara dengan guru menyatakan bahwa kepala sekolah memberikan ruang dan kebebasan bagi guru PAI pembelajaran yang menekankan nilai-nilai karakter dan moral. Sekolah secara rutin mengadakan kegiatan keagamaan seperti pembacaan asmaul husna, shalat dhuha bersama, dan peringatan hari besar Islam yang menjadi media dalam menanamkan nilai-nilai akhlak mulia kepada peserta didik. Kegiatan-kegiatan ini sejalan dengan pandangan (Jannah 2. yang menyatakan bahwa pembentukan karakter religius E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 peserta didik memerlukan integrasi antara kurikulum dan kegiatan spiritual di sekolah. Observasi yang dilakukan peneliti juga menunjukkan bahwa guru-guru PAI memiliki kemampuan komunikasi yang baik dengan siswa sehingga memudahkan mereka dalam memberikan pembinaan secara persuasif. Guru PAI tampak aktif dalam membangun kedekatan emosional dengan siswa, baik di dalam maupun di luar kelas. Pendekatan ini penting dalam proses pembinaan akhlak karena sesuai dengan pendapat (Fadhillah 2. bahwa guru yang mampu menjadi teladan dan membangun kedekatan dengan siswa akan lebih mudah memengaruhi perilaku dan sikap mereka. Guru yang dicintai dan dihormati oleh siswa akan menyampaikan nilai-nilai kebaikan, sehingga pembinaan akhlak tidak hanya bersifat teoritis, tetapi menyentuh sisi psikologis Faktor pendukung lainnya adalah tersedianya materi ajar dan buku teks yang memadai juga menjadi pendukung dalam pelaksanaan pembelajaran akhlak. Guru menyampaikan bahwa buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti yang digunakan saat ini telah dilengkapi dengan nilai-nilai karakter dan disesuaikan dengan konteks kehidupan siswa. Hal ini membantu guru dalam mengaitkan materi dengan sehari-hari sehingga pembelajaran menjadi lebih Menurut (Anggito and Setiawan 2. , dalam penelitian kualitatif, konteks dan materi yang relevan sangat penting untuk membangun makna dan pemahaman yang mendalam pada siswa. Dengan adanya materi yang sesuai, guru dapat mengarahkan siswa untuk memahami bahwa akhlak yang baik bukan hanya teori, tetapi sesuatu yang harus dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Faktor Penghambat Terdapat beberapa faktor penghambat dalam mengatasi akhlak mazmumah peserta didik berdasarkan hasil wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti di SMPN 14 Batang Hari. Pertama, terbatasnya waktu pembelajaran Guru mengungkapkan bahwa jam pelajaran PAI dan Budi Pekerti yang terbatas menyulitkan mereka untuk menyampaikan materi secara mendalam dan melakukan pendekatan yang lebih personal terhadap siswa. Hal ini sejalan dengan temuan (Sari and Sugiarto https://ejournal. id/index. php/mp | 450 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . keterbatasan waktu menjadi salah satu faktor penghambat dalam pembinaan akhlak Kedua, kurangnya dukungan dari orang tua siswa juga menjadi hambatan Beberapa orang tua tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap perkembangan akhlak anak, baik di rumah maupun dalam kegiatan keagamaan yang diselenggarakan sekolah. Ketiga, pengaruh lingkungan pertemanan siswa di luar sekolah turut memengaruhi perilaku mereka. Beberapa siswa terpengaruh oleh teman sebaya yang memiliki perilaku negatif sehingga sulit bagi guru untuk membina akhlak mereka secara efektif. Keempat, kurangnya fasilitas dan sarana pendukung pembelajaran yang memadai menjadi hambatan tambahan. Beberapa sekolah tidak memiliki ruang khusus untuk kegiatan keagamaan, dan fasilitas yang ada tidak mendukung pembelajaran yang optimal. Keterbatasan fasilitas sebagai salah satu kendala dalam optimalisasi pendidikan agama Islam (Sari and Sugiarto 2. Secara faktor-faktor mengatasi akhlak mazmumah peserta didik, melibatkan kerjasama antara guru, orang tua, dan lingkungan sekitar. Selain itu, pembelajaran juga menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan. KESIMPULAN Berdasarkan kesimpulan penelitian ini, yaitu Berdasarkan temuan penelitian, dapat disimpulkan bahwa akhlak mazmumah yang masih muncul pada peserta didik di SMPN 14 Batang Hari antara lain adalah perilaku suka mengolok-olok . , berdusta, ingkar janji . hianat/ghada. , serta sikap egoistik. Untuk mengatasi hal tersebut, guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti menerapkan berbagai strategi, yaitu melalui keteladanan, pembiasaan, pemberian nasihat, serta penerapan hukuman. Adapun faktor pendukung yang memperkuat strategi guru meliputi adanya dukungan dari pihak sekolah, kemampuan komunikasi yang baik, serta tersedianya materi ajar yang relevan dalam nilai-nilai Namun demikian, terdapat pula faktor penghambat kurangnya dukungan dari orang tua, pengaruh lingkungan pertemanan di luar sekolah, serta pendukung pembentukan karakter siswa. E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 Adapun keterbatasan penelitian ini memiliki keterbatasan pada ruang lingkup yang hanya dilakukan di satu sekolah, yaitu SMPN 14 Batang Hari, sehingga hasil penelitian ini belum dapat digeneralisasikan ke sekolah lain dengan kondisi yang berbeda. Selain itu, data yang diperoleh sangat bergantung pada hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi, sehingga kemungkinan masih terdapat bias subjektivitas dari informan maupun peneliti. Hasil penelitian ini, direkomendasikan agar sekolah lebih mengoptimalkan kerja sama dengan orang tua dalam pembinaan akhlak mulia siswa melalui kegiatan parenting maupun komunikasi intensif. Pihak sekolah juga perlu meningkatkan fasilitas dan sarana pendukung pembentukan karakter, seperti ruang khusus kegiatan keagamaan dan media pembelajaran Bagi guru, strategi keteladanan dan pembiasaan hendaknya terus diperkuat, disertai inovasi metode pembelajaran yang lebih variatif. Selanjutnya, penelitian lanjutan disarankan untuk dilakukan pada sekolah yang berbeda dengan lingkup yang lebih luas, agar dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai strategi pembinaan akhlak mulia DAFTAR PUSTAKA