LISTRA Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Juni 2025, pp. https://e-jurnal. id/index. php/LISTRA/index || NILAI PENDIDIKAN BUDAYA PADA NOVEL PERTEMUAN DUA HATI KARYA NH. DINI Didik Heryanto 1. Sutardi 2. Sariban 3 *1-3 Universistas Islam Darul AoUlum Lamongan. Indonesia 1 didikspdsd99@admin. id, 2 sutardi@unisda. 3 sariban@unisda. ABSTRAK Penelitihan ini bertujuan untuk mendeskripsikan Nilai-Nilai Pendidikan Dalam Novel Pertemuan Dua Hati Karya Nh. Dini (Tinjauan Sosiologi Sastr. , di tinjau sosiologi sastra, maka nilai -nilai pendidikan dapat di lihat dalam bagaimana di pendidikan religi, bagaimana di pendidikan budaya, bagaimana di pendidikan moral. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode analisis dan deskriptif kualitatif, sedangkan data yang diperoleh dari penelitian ini ialah novel pertemuan dua hati karya Nh. Dini. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa hasil observasi terhadap ilai pendidikan religi dalam novel ini merupakan pesan atau saran yang bersifat ajaran agama yang ditampilkan melalui sikap atau prilaku tokoh-tokohnya dan mencerminkan seseorang dalam bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan norma dan nilai keagamaan. Penelitian ini membahas nilai-nilai pendidikan budaya dalam novel Pertemuan Dua Hati karya Nh. Dini yang merepresentasikan dinamika kehidupan sosial, keluarga, dan perempuan dalam budaya Jawa. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif, penelitian ini mengungkap bahwa novel ini menyoroti hierarki dalam keluarga, norma sosial, serta perpaduan antara pengobatan modern dan tradisional. Nilai-nilai etos kerja dan peran ganda perempuan juga menjadi fokus utama, menunjukkan keseimbangan antara tanggung jawab keluarga dan karier. Selain itu, aspek spiritual dan rasa syukur menjadi elemen penting yang memperkaya makna budaya dalam kehidupan tokoh-tokohnya. Kesimpulannya, novel ini mencerminkan budaya yang dinamis dan adaptif terhadap perubahan zaman, tetapi tetap mempertahankan tradisi sebagai bagian dari identitas sosial. Kata kunci: pendidikan budaya, keluarga, perempuan, etos kerja, novel Pertemuan Dua Hati. ABSTRACT This study aims to describe the Educational Values in the Novel Meeting of Two Hearts by Nh. Dini (Literary Sociology Revie. , reviewed from the sociology of literature, the educational values can be seen in how in religious education, how in cultural education, how in moral education. The method used in this study is the qualitative analysis and descriptive method, while the data obtained from this study is the novel meeting of two hearts by Nh. Dini. The results of this study indicate that the results of observations of the values of religious education in this novel are messages or suggestions that are religious teachings that are displayed through the attitudes or behavior of the characters and reflect a person in behaving and behaving according to religious norms and values. This study discusses the values of cultural education in the novel Meeting of Two Hearts by Nh. Dini which represents the dynamics of social life, family, and women in Javanese culture. Through a qualitative approach with descriptive analysis methods, this study reveals that the novel highlights the hierarchy in the family, social norms, and the combination of modern and traditional medicine. The values of work ethic and the dual role of women are also the main focus, showing the balance between family and career In addition, spiritual aspects and gratitude are important elements that enrich the meaning of culture in the lives of the characters. In conclusion, this novel reflects a dynamic and adaptive culture to changing times, but still maintains tradition as part of social identity. Kata Kunci: cultural education, family, women, work ethic, novel Meeting of Two Hearts. This is an open-access article under the CCAeBY-SA license. https://e-jurnal. id/index. php/LISTRA/index listra@unisda. Pendahuluan Karya sastra merupakan hasil ciptaan manusia yang mengekspresikan pikiran, gagasan, pemahaman, dan tanggapan perasaan penciptanya tentang hakikat kehidupan dengan menggunakan bahasa yang imajinatif dan emosional. Sebagai hasil imajinatif, sastra selain berfungsi sebagai hiburan yang menyenangkan, juga berguna untuk menambah pengalaman batin bagi para pembacanya. Sebuah karya sastra yang baik tidak hanya dipandang sebagai rangkaian kata tetapi juga ditentukan oleh makna yang terkandung di dalamnya dan memberikan pesan positif bagi pembacanya (Endraswara, 2003 :. Karya sastra merupakan karya seni yang berupa bangunan bahasa yang di dalamnya terdapat nilai estetik . Sebagai sebuah dunia miniatur, karya sastra berfungsi untuk menginvestasikan sejumlah besar kejadian yang telah dikerangkakan dalam pola-pola kreativitas dan imajinasi. Sebagai karya imajiner, fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan. Fiksi merupakan hasil dialog, kontemplasi, dan reaksi orang terhadap lingkungan dan kehidupan sehingga seorang pengarang akan mengajak pembaca memasuki pengalaman atau imajinasi karya sastra (Nurgiyantoro, 2007: Pada prinsipnya, selain realitas sosial, sosiologi sastra ingin menghubungkan penciptaan karya sastra, keberadaan karya sastra, dan hendak menyatakan bahwa karya sastra tidak lepas dari pengaruh latar belakang sosial budaya pengarang. segi-segi kemasyarakatan . (Wiyatmi, 2006: . Oleh karena itu, dalam praktiknya, pendekatan ini memiliki dua sumber ilmu, yaitu ilmu sosiologi dan sastra. Pendekatan sosiologi sastra digolongkan menjadi tiga tipe, yakni sosiologi pengarang, sosiologi karya, dan sosiologi pembaca dan dampak sosial karya sastra (Wellek dan Warren, 1995: . Ketiga tipe Latar belakang pengarang tersebut menjadi teknik dan isi karya sastranya yang merupakan sumber penciptaannya (Winarni, 2013: . Novel Pertemuan Dua Hati karya Nh. Dini merupakan novel yang mempunyai pelajaran bermakna akan nilai-nilai kehidupan. Novel Pertemuan Dua Hati karya Nh. Dini menyajikan kisah inspiratif yang dapat dijadikan pelajaran hidup yang bermakna. Memiliki nilai-nilai pendidikan yang sangat tinggi. Di dalam novel ini, pengarang menyajikan alur cerita yang mampu mengubah suatu hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Bila ditelusuri secara cermat, nilai-nilai yang dihadirkan pengarang melalui karya sastra cukup beragam dan meliputi berbagai kehidupan. Bahkan tidak jarang nilai-nilai tersebut menyangkut budaya dan kebudayaan bangsa Indonesia. Sehingga tidak menutup kemungkinan dari sejumlah nilai-nilai yang ada terkandung adalah nilai-nilai pendidikan. Menurut Saduloh . pendidikan mengandung suatu pengertian yang sangat luas, menyangkut seluruh aspek kepribadian manusia. Pendidikan menyangkut hati nurani, nilai-nilai, perasaan, pengetahuan dan keterampilan. Dengan pendidikan manusia ingin berusaha untuk meningkatkan dan mengemb emperbaiki nilai-nilai, hati nuraninya, perasaannya, pengetahuannya, dan keterampilannya. Dalam konteks ini, novel Pertemuan Dua Hati karya Nh. Dini dapat dipandang sebagai refleksi dari realitas sosial dan kultural yang melingkupi kehidupan masyarakat Indonesia pada masa tertentu. Nh. Dini sebagai pengarang dikenal kerap menghadirkan isu-isu sosial dan pendidikan dalam karya-karyanya, terutama yang berkaitan dengan peran keluarga, pengasuhan, serta pendidikan karakter anak. Hal ini menunjukkan bahwa secara ontologis, novel tersebut bukan sekadar hiburan, tetapi juga mengandung muatan nilai-nilai pendidikan yang dapat dikaji dan ditafsirkan melalui pendekatan sosiologi sastra. Nilai tercipta secara sosial bukan, bukan secara biologis atau bawaan sejak lahir. Manusia sebagai mahkluk yang bernilai akan memaknai nilai sebagai sesuatu yang objektif, apabila dia memandang nilai itu ada meskipun tanpa ada yang menilai, bahkan memandang nilai telah ada sebelum adanya manusia sebagai penilai. Baik dan buruk, benar dan salah, bukan hadir karena hasil persepsi atau penafsiran manusia, tetapi ada sebagai sesuatu yang ada dan menuntun manusia dalam kehidupannya. Persoalanya bukan bagaimana seseorang harus menemukan nilai yang telah ada tersebut tetapi lebih kepada bagaimana menerima dan mengaplikasikan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. METODE Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra untuk menganalisis nilai-nilai pendidikan dalam novel Pertemuan Dua Hati karya Nh. Dini. Pendekatan sosiologi sastra dipilih karena novel ini merefleksikan realitas sosial yang berkaitan dengan aspek pendidikan, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, maupun institusi pendidikan formal. Data penelitian diperoleh melalui teknik studi pustaka dengan menelaah teks novel secara mendalam untuk mengidentifikasi dan menginterpretasi nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya. Menurut Bodgan dan Taylor . alam Basrowi, 2008:. , metode penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif, berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Dalam meneliti karya sastra menurut Ratna . , data-data formal penelitian kualitatif diambil dari teks novel dalam bentuk kata-kata, kalimat, wacana. Sumber data utama penelitian ini adalah novel Pertemuan Dua Hati karya Nh. Dini, yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama. Novel ini dipilih karena dianggap memiliki nilainilai pendidikan yang kaya dan relevan dengan kehidupan masyarakat. Data utama dalam penelitian ini berupa kutipan-kutipan yang relevan dari teks novel Pertemuan Dua Hati karya Nh. Dini, yang mencerminkan nilai-nilai budaya. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Nilai pendidikan budaya adalah tingkat yang paling tinggi dan yang paling abstrak dari adat istiadat. Hal itu disebabkan karena nilai-nilai budaya itu merupakan konsep-konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga sesuatu masyarakat mengenai apa yang mereka anggap bernilai. Dalam analisis nilai budaya disini semua data mencerminkan kebiasaan-kebiasaan yang selalu terjadi di kehidupan sehari-hari. Pada data di bawah ini terlihat adanya nilai budaya. Ibu Suci : AuTiga anak lebih mudah dididik dan dibesarkan daripada empat, lima, atau Biaya hidup semakin tinggi. Filsafat orang-orang tua yang mengatakan bahwa setiap anak lahir dengan bawaan rezeki masing-masing sangat sukar diterapkan di zaman sekarang. Ay (PDH. Hlm. Kutipan yang diucapkan oleh tokoh Ibu Suci ini mencerminkan nilai pendidikan budaya yang berkaitan dengan pola pikir masyarakat terhadap keluarga dan tanggung jawab orang tua dalam membesarkan anak. Pernyataan AuTiga anak lebih mudah dididik dan dibesarkan daripada empat, lima, atau enamAy menunjukkan adanya kesadaran akan pentingnya perencanaan keluarga dalam kehidupan modern. Hal ini mencerminkan perubahan budaya dari pandangan tradisional yang menganggap banyak anak sebagai berkah menuju perspektif yang lebih rasional, di mana jumlah anak disesuaikan dengan kemampuan ekonomi dan pendidikan orang tua. Selain itu, kalimat AuBiaya hidup semakin tinggiAy mengindikasikan pemahaman bahwa kondisi sosial-ekonomi sangat mempengaruhi kesejahteraan keluarga. Ungkapan ini memperlihatkan bagaimana faktor ekonomi menjadi pertimbangan utama dalam pola asuh dan pendidikan anak. Sementara itu, pernyataan AuFilsafat orang-orang tua yang mengatakan bahwa setiap anak lahir dengan bawaan rezeki masing-masing sangat sukar diterapkan di zaman sekarangAy mencerminkan adanya pergeseran budaya dari kepercayaan tradisional menuju pola pikir yang lebih pragmatis. Dulu, banyak masyarakat percaya bahwa setiap anak akan membawa rezekinya sendiri, tetapi dalam konteks modern, pandangan ini mulai dipertimbangkan kembali karena realitas kehidupan yang semakin kompleks. Dengan demikian, kutipan ini menggambarkan bagaimana nilai-nilai budaya dalam pendidikan keluarga mengalami transformasi dari generasi ke generasi, menyesuaikan diri dengan tantangan zaman tanpa sepenuhnya meninggalkan akar tradisi. Ibu Suci : AuMemenuhi tatacara, aku memperkenalkan diri ke Rukun Tetangga. Aku bertemu dengan isteri RT, sebab suaminya sedang mengurus keperluan di tempat lain. Ramah dan sopan dia menyambutku. Setelah basa-basi, pembicaraan sampai perihal anak-anak dan pekerjaan. Lalu dia menceritakan kesibukannya. Ay (PDH. Hlm. Kutipan yang diucapkan oleh tokoh Ibu Suci ini mencerminkan nilai pendidikan budaya yang berkaitan dengan norma sosial dan adat dalam kehidupan bermasyarakat. Pernyataan AuMemenuhi tatacara, aku memperkenalkan diri ke Rukun TetanggaAy menunjukkan bahwa tokoh memiliki kesadaran akan pentingnya etika dalam berinteraksi dengan lingkungan baru. Tindakan ini mencerminkan nilai budaya yang mengedepankan sopan santun, penghormatan terhadap struktur sosial, dan keterlibatan dalam komunitas. Selain itu, interaksi dengan istri ketua RT yang digambarkan sebagai Auramah dan sopanAy menegaskan bahwa keramahan merupakan salah satu aspek penting dalam budaya Sikap saling menyambut dan berbincang mengenai kehidupan sehari-hari, seperti anak-anak dan pekerjaan, mencerminkan nilai kekeluargaan serta gotong royong yang masih dijunjung tinggi dalam kehidupan sosial. Pembicaraan mengenai kesibukan istri ketua RT juga mengindikasikan bagaimana peran perempuan dalam masyarakat tidak hanya terbatas pada urusan domestik, tetapi juga mencakup keterlibatan dalam lingkungan sosial. Hal ini memperlihatkan bahwa pendidikan budaya dalam novel ini mengajarkan pentingnya keterlibatan aktif dalam komunitas serta menghormati norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat. Ibu Suci : AuDan ketika anakku demam, aku memutuskan sendiri untuk memeriksakannya ke dokter mana saja. Dari dokter ini anakku menerima obat guna menanggulangi flu. Belum selesai menghabiskan semua obat, kulitnya ditumbuhi bintik-bintik merah. Gatal membikin dia semakin rewel. Uwak ku menumbuk kunyit, ditambah air masak, gula merah dan beberapa tetes air kapur. Anakku disuruh menghadap ke arah Timur dan minum jamu itu sebanyak lima atau tujuh tegukan. Ay (PDH. Hlm. Kutipan yang diucapkan oleh tokoh Ibu Suci ini mencerminkan nilai pendidikan budaya yang berkaitan dengan cara pengobatan tradisional dan pengambilan keputusan dalam Dalam kalimat AuDan ketika anakku demam, aku memutuskan sendiri untuk memeriksakannya ke dokter mana saja,Ay terlihat bahwa tokoh Ibu Suci memiliki kesadaran akan pentingnya pengobatan medis modern untuk menangani penyakit anaknya. Ini menunjukkan bagaimana budaya dalam novel tersebut mengajarkan nilai kemandirian dan tanggung jawab orang tua dalam merawat anak. Namun, ketika anaknya mengalami efek samping berupa bintik merah dan rasa gatal, tokoh tidak hanya mengandalkan pengobatan medis, tetapi juga beralih ke pengobatan tradisional yang dilakukan oleh uwaknya. Penggunaan bahan-bahan alami seperti kunyit, air masak, gula merah, dan air kapur mencerminkan kearifan lokal dalam pengobatan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Selain itu, cara pemberian jamu yang mengikuti aturan tertentu, seperti menghadap ke arah timur dan meminum dalam jumlah ganjil, menunjukkan bahwa praktik kesehatan tradisional sering kali berkaitan dengan kepercayaan budaya yang masih dipegang oleh masyarakat. Kutipan ini menggambarkan adanya perpaduan antara modernitas dan tradisi dalam praktik kehidupan sehari-hari. Pendidikan budaya yang tercermin dalam novel ini menegaskan bahwa meskipun ilmu kedokteran semakin berkembang, masyarakat masih mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Hal ini menunjukkan bahwa budaya tidak bersifat statis, tetapi beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan akar tradisinya. AuTetapi dalam kebudayaan Jawa, apakah pendapat seorang anak, apalagi di bawah umur belasan tahun, pernah diacuhkan? Bukankah orang-orang tua selalu berkata, bahwa umur seberapa pun seorang anak tetap anak dalam sebuah keluarga? Dia tetap dianggap berkedudukan di bawah derajat orang tua sehingga dalam waktu-waktu atau suasana tertentu tetap dikalahkan. Kuakui bahwa hal-hal ini ada baiknya. Itu melestarikan rasa hormat, keseganan, kesopanan dan segala tata huku m tradisi keJawaan. Itu baik asal komunikaasi tetap terbuka, asal hubungan dekat hati ke hati terjalin secara kekeluargaan yang wajar. Ay (PDH. Hlm. Data di atas mencerminkan nilai budaya. Hal tersebut jelas terlihat bahwa dalam kebudayaan Jawa, seorang anak tetap dianggap berkedudukan di bawah derajat orang tua demi melestarikan rasa hormat, keseganan, kehormatan dan segala tata hukum tradisi keJawa-an. Kutipan tersebut menggambarkan nilai pendidikan budaya dalam masyarakat Jawa, khususnya dalam hal hubungan antara anak dan orang tua. Dalam budaya Jawa, terdapat hierarki yang jelas dalam keluarga, di mana anak-anak dianggap berada di bawah kedudukan orang tua dan harus menghormati serta mematuhi mereka. Hal ini terlihat dalam pernyataan bahwa pendapat seorang anak, terutama yang masih berusia belasan tahun, jarang diacuhkan. Namun, meskipun terdapat ketidaksetaraan dalam posisi sosial di dalam keluarga, nilainilai seperti rasa hormat, keseganan, dan kesopanan tetap dijunjung tinggi. Dalam budaya Jawa, anak-anak diajarkan untuk menghormati orang tua mereka sebagai bagian dari adat dan tata hukum tradisional. Hal ini bertujuan untuk menjaga harmoni dalam keluarga dan memastikan bahwa hubungan antaranggota keluarga tetap berjalan dengan baik. Kutipan ini juga menunjukkan bahwa nilai-nilai tradisional memiliki sisi positif jika diimbangi dengan komunikasi yang terbuka dan hubungan yang wajar antara orang tua dan Jika hanya mengutamakan hierarki tanpa adanya komunikasi yang baik, anak bisa kehilangan kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya dan merasa terpinggirkan dalam Oleh karena itu, dalam konteks pendidikan budaya, kutipan ini menekankan pentingnya keseimbangan antara penghormatan terhadap tradisi dan keterbukaan dalam hubungan keluarga. Hal ini mencerminkan bahwa budaya tidak bersifat kaku, melainkan harus bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman agar tetap relevan dan tidak menghambat perkembangan individu dalam keluarga. Aku ingin, dan aku minta kepada Tuhan, agar diberi kesempatan mencoba mencakup tugasku di dua bidang. sebagai ibu dan sebagai guru. Dengan pertolonganNya, pastilah aku akan berhasil. Karena dia mahabisa dalam segala-galanya," (PDH. Dalam kutipan AuAku ingin, dan aku minta kepada Tuhan, agar diberi kesempatan mencoba mencakup tugasku di dua bidang. Sebagai ibu dan sebagai guru. Dengan pertolonganNya, pastilah aku akan berhasil. Karena Dia Mahabisa dalam segala-galanya. Ay (PDH. Hlm. , terdapat nilai pendidikan budaya yang mencerminkan etos kerja, tanggung jawab, serta keyakinan terhadap kekuatan spiritual. Tokoh Ibu Suci menunjukkan bagaimana budaya dalam masyarakat menekankan peran ganda perempuan, yaitu sebagai ibu yang mengasuh anak dan sebagai individu yang memiliki tanggung jawab profesional, dalam hal ini sebagai guru. Sikapnya merepresentasikan nilai budaya yang menghargai kerja keras, dedikasi, dan keseimbangan dalam kehidupan, di mana perempuan tidak hanya berperan dalam ranah domestik tetapi juga dalam dunia pendidikan. Selain itu, aspek religius dalam budaya Indonesia juga tampak jelas dalam pernyataan ini, di mana Ibu Suci menunjukkan sikap berserah diri kepada Tuhan setelah berusaha. Hal ini menggambarkan bahwa dalam budaya masyarakat, terutama yang berlandaskan nilai-nilai spiritual, usaha harus selalu diiringi dengan doa dan keyakinan terhadap kekuasaan Tuhan. Dengan demikian, novel Pertemuan Dua Hati tidak hanya menampilkan realitas sosial perempuan dalam menjalankan peran gandanya, tetapi juga mengajarkan nilai pendidikan budaya yang mencakup kerja keras, keteguhan hati, serta keseimbangan antara usaha dan kepasrahan kepada Tuhan. "Tiada hentinya aku bersyukur kehadira Ilahi karena kemudahan-kemudahan yang kami terima selama ini. " (PDH. Dalam kutipan "Tiada hentinya aku bersyukur ke hadirat Ilahi karena kemudahankemudahan yang kami terima selama ini. " (PDH. Hlm. , nilai pendidikan budaya yang tergambar dalam novel Pertemuan Dua Hati karya Nh. Dini mencerminkan ajaran kehidupan yang menekankan pentingnya rasa syukur sebagai bagian dari budaya spiritual masyarakat. Dalam konteks budaya Indonesia, bersyukur merupakan bentuk kesadaran individu terhadap anugerah yang diberikan Tuhan, baik dalam keadaan sulit maupun dalam kemudahan. Sikap ini tidak hanya menunjukkan keimanan seseorang tetapi juga menjadi bagian dari etika budaya yang diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan sosial. Nilai pendidikan budaya dalam kutipan ini juga menampilkan bagaimana masyarakat Indonesia menghargai berkah dalam kehidupan, sekecil apa pun itu. Dengan bersyukur, seseorang diajarkan untuk selalu melihat sisi positif dalam setiap keadaan, sehingga dapat menjalani kehidupan dengan lebih lapang dada dan penuh ketenangan. Selain itu, rasa syukur yang terus-menerus diungkapkan oleh tokoh Ibu Suci menunjukkan bahwa dalam budaya Indonesia, keyakinan terhadap kuasa Tuhan menjadi fondasi utama dalam menghadapi tantangan hidup. Oleh karena itu, novel ini tidak hanya menggambarkan kehidupan pribadi tokohnya, tetapi juga memperlihatkan nilai-nilai pendidikan budaya yang menanamkan pentingnya bersyukur, optimisme, serta keteguhan dalam menjalani kehidupan. "Dan setiap akan berangkat, hatiku langsung berbicara kepada Tuhan: apakah yang akan terjadi hari ini? Berikanlah kekuatan serta jalan guna merampungkan tugas seharihari itu dengan baik. " (PDH. Dalam kutipan "Tuhan: apakah yang akan terjadi hari ini? Berikanlah kekuatan serta jalan guna merampungkan tugas sehari-hari itu dengan baik. " (PDH. Hlm. , nilai pendidikan budaya yang tergambar dalam novel Pertemuan Dua Hati karya Nh. Dini mencerminkan budaya religius yang kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Tokoh dalam novel menunjukkan kebiasaan untuk selalu memulai hari dengan doa dan permohonan kepada Tuhan, yang mencerminkan budaya spiritual yang melekat dalam kehidupan sehari-hari. Kutipan ini juga mencerminkan nilai pendidikan budaya yang menanamkan kesadaran akan pentingnya berserah diri kepada Tuhan setelah berusaha dan bekerja keras. Dalam budaya Indonesia, keyakinan terhadap Tuhan sering kali menjadi pegangan utama dalam menjalani kehidupan, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia bukan hanya ditentukan oleh usaha dan kerja keras, tetapi juga oleh doa dan harapan akan pertolongan Tuhan. Selain itu, kutipan ini mengajarkan bahwa dalam budaya Indonesia, nilai kerja keras dan ketekunan selalu diiringi dengan spiritualitas yang kuat. Tokoh dalam novel mengajarkan bahwa setiap individu harus memiliki perencanaan dan kesiapan dalam menghadapi hari-hari mereka, tetapi juga harus menyadari bahwa ada kekuatan di luar dirinya yang dapat memberikan bimbingan dan pertolongan. Sikap ini mencerminkan nilai budaya yang mengajarkan keseimbangan antara usaha dan doa sebagai bagian dari kehidupan yang Ibu Suci: "Aku bersyukur kepada Tuhan telah menemukan jalan yang menuju ke pertemuan dengan hati dan perasaan Waskito. Karena ya, benarlah aku merasa seolaholah hati kami berdua telah bertemu. " (PDH. Dalam kutipan "Aku bersyukur kepada Tuhan telah menemukan jalan yang menuju ke pertemuan dengan hati dan perasaan Waskito. Karena ya, benarlah aku merasa seolah-olah hati kami berdua telah bertemu. " (PDH. Hlm. , nilai pendidikan budaya dalam novel Pertemuan Dua Hati karya Nh. Dini tercermin melalui sikap empati, kesabaran, dan penghargaan terhadap hubungan antarmanusia, terutama dalam dunia pendidikan. Kutipan ini menggambarkan bagaimana seorang pendidik, dalam hal ini Ibu Suci, menunjukkan sikap yang mencerminkan budaya ketulusan dan kasih sayang dalam mendidik. Dalam budaya Indonesia, hubungan guru dan murid tidak hanya sebatas transfer ilmu, tetapi juga menciptakan keterikatan emosional yang dalam, di mana seorang guru harus memahami kondisi psikologis serta latar belakang siswanya. Keberhasilan Ibu Suci dalam membangun hubungan dengan Waskito bukan hanya sekadar keberhasilan akademik, tetapi juga keberhasilan dalam membentuk hubungan emosional dan pemahaman mendalam antara pendidik dan peserta didik. Selain itu, ungkapan rasa syukur yang dinyatakan Ibu Suci menunjukkan nilai budaya religius yang kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Rasa syukur ini mengajarkan bahwa keberhasilan dalam mendidik bukan hanya hasil dari kerja keras semata, tetapi juga merupakan berkah dari Tuhan. Ini mencerminkan nilai pendidikan budaya yang menekankan keseimbangan antara usaha dan spiritualitas. Dengan demikian, kutipan ini menggambarkan bahwa nilai pendidikan budaya dalam novel Pertemuan Dua Hati menekankan pentingnya hubungan emosional dan spiritual dalam dunia pendidikan. Seorang guru tidak hanya bertanggung jawab untuk mengajarkan ilmu, tetapi juga untuk membimbing, memahami, dan menjalin hubungan yang penuh kasih dengan muridnya, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Ibu Suci dalam interaksinya dengan Waskito. "Mudah-mudahan Tuhan selalu menolongku dalam melaksanakan tugas ini. " (PDH. Dalam kutipan "Mudah-mudahan Tuhan selalu menolongku dalam melaksanakan tugas " (PDH. Hlm. , nilai pendidikan budaya dalam novel Pertemuan Dua Hati karya Nh. Dini tercermin melalui sikap religius, ketekunan dalam menjalankan tugas, dan kesadaran akan keterbatasan manusia dalam menghadapi tanggung jawabnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Ibu Suci memiliki keyakinan kuat terhadap peran Tuhan dalam kehidupannya, khususnya dalam menjalankan tugas sebagai seorang pendidik. Sikap ini mencerminkan budaya religius yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, di mana setiap individu dianjurkan untuk selalu berdoa dan berserah diri kepada Tuhan setelah berusaha dengan maksimal. Dalam konteks pendidikan, hal ini mengajarkan bahwa kesuksesan seorang pendidik tidak hanya bergantung pada usaha dan keahliannya, tetapi juga pada doa dan harapan akan pertolongan Tuhan. Selain itu, kutipan ini juga mencerminkan nilai budaya kerja keras dan tanggung jawab. Ibu Suci menyadari bahwa tugasnya sebagai pendidik bukanlah hal yang mudah, tetapi dengan kesabaran dan keyakinan, ia tetap menjalankan kewajibannya. Dalam budaya pendidikan di Indonesia, seorang guru tidak hanya bertanggung jawab dalam mentransfer ilmu, tetapi juga dalam membentuk karakter peserta didik dengan penuh dedikasi dan kesabaran. Dengan demikian, kutipan ini mengajarkan bahwa dalam pendidikan, kerja keras harus diiringi dengan doa dan kepasrahan kepada Tuhan. Nilai pendidikan budaya yang tercermin dalam novel ini adalah keseimbangan antara usaha dan spiritualitas, serta pentingnya menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab dan keyakinan akan pertolongan Tuhan. Berdasarkan analisis data dan deskripsi data tersebut dapat disimpulkan bahwa hubungan yang mendalam antara guru dan murid, di mana keberhasilan tidak hanya diukur dari aspek akademik, tetapi juga dari keterikatan emosional dan spiritual. Selain itu, nilai budaya dalam novel ini juga menonjolkan pentingnya rasa hormat dalam hubungan keluarga, seperti yang terlihat dalam kebudayaan Jawa yang mengutamakan kedudukan orang tua di atas anak. Semua ini menggambarkan bahwa nilai pendidikan budaya yang tercermin dalam novel ini tidak hanya berkisar pada ilmu pengetahuan, tetapi juga pada etika, moral, dan nilainilai spiritual yang membentuk karakter individu. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa novel Pertemuan Dua Hati karya Nh. Dini merefleksikan nilai-nilai pendidikan budaya yang mencerminkan perubahan pola pikir tentang keluarga, norma sosial, serta perpaduan antara medis modern dan pengobatan tradisional. Hierarki dalam keluarga, terutama dalam budaya Jawa, tetap dijunjung tinggi dengan menekankan rasa hormat dan komunikasi yang seimbang. Selain itu, etos kerja dan peran ganda perempuan menunjukkan bagaimana tanggung jawab dalam keluarga dan karier dapat berjalan selaras, didukung oleh nilai spiritual dan rasa syukur. Secara keseluruhan, novel ini menegaskan bahwa budaya bersifat dinamis, mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, namun tetap mempertahankan akar tradisinya. DAFTAR RUJUKAN Basrowi. Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka Cipta. Endraswara. Suwardi. Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi. Model. Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Widyatama. Nurgiyantoro. Burhan. Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Ratna. Nyoman Kutha. Teori. Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sadulloh. Uyoh. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Wellek. Reny & Warren. Austin. Teori Kesusastraan. Terjemahan oleh Melani Budianta. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Winarni. Retno. Pengajaran Sastra di Sekolah Dasar. Surakarta: UNS Press. Wiyatmi. Sosiologi Sastra: Teori dan Terapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.