PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 Peranan Orang Tua dalam Pendidikan Seks Sejak Dini pada Anak Usia 4-6 Tahun Jessica Laura Sidabutar Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission Jakarta jessicacovenant582@gmail. Abstract: This article wants to examine the role of parents in early sex education for children aged 46 years. In writing this scientific paper, the author uses qualitative research methods. Researchers obtained data from Sunday School children at GKB West Jakarta through interviews and direct This study aims to determine the role of parents in sex education from an early age in children aged 4-6 years. Based on research, early sex education is a natural, normal and beautiful Sex education from an early age is not a sin or something taboo, because sex is a special and precious gift or gift from God to humans. In this context, parents are obliged to teach sex education from an early age to children aged 4-6 years. Keywords: Sex education. children aged 4-6 years. the role of parents. Abstrak: Artikel ini ingin mengkaji tentang peranan orang tua dalam pendidikan seks sejak dini pada anak usia 4-6 tahun. Dalam penulisan karya ilmiah ini, penulis menggunakan metode penelitian Peneliti mendapatkan data dari anak-anak Sekolah Minggu di GKB Jakarta Barat melalui wawancara dan pengamatan secara langsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan orang tua dalam pendidikan seks sejak dini pada anak usia 4-6 tahun. Berdasarkan penelitian, pendidikan seks sejak dini merupakan hal yang wajar, normal dan indah. Pendidikan seks sejak dini bukanlah dosa atau sesuatu hal yang tabu, karena seks adalah anugerah atau pemberian Tuhan yang istimewa dan berharga kepada manusia. Dalam konteks ini, orang tua berkewajiban untuk mengajar pendidikan seks sejak dini untuk anak usia 4-6 tahun. Kata kunci: Pendidikan seks. anak usia 4-6 tahun. peranan orang tua. Pendahuluan Masalah seputar pendidikan seks sebenarnya harus diketahui oleh semua orang, bukan hanya kalangan tertentu dan batasan umur tertentu. Akan tetapi, yang didapati sampai akhirakhir ini sangat bertentangan dengan fakta di atas bahwa pendidikan seks hanya untuk konsumsi pembicaraan orang dewasa atau mereka yang telah menikah. anak remaja sebainya tidak boleh membicarakannya apalagi bagi anak usia 4-6 tahun mereka dianggap belum cukup (Laaser 2. Dan ketika anak-anak itu ingin mengetahui tentang pendidikan seks tidak sedikit orang tua yang langsung menghapus keingintahuan anak-anak itu dengan menyatakan bahwa masalah seks itu bukan urusan anak-anak. (Fountain 2. Hal ini merupakan pandangan yang keliru dari orang tua terhadap pendidikan seks. Pemikiran bahwa hal menyangkut seks adalah tabu untuk dibicarakan karena beranggapan bahwa masalah seks adalah menyangkut hubungan suami isteri, padahal seks adalah menyangkut segala hal yang berhubungan dengan seks atau jenis kelamin dan termasuk hubungan seks itu sendiri. Masalah seks amat penting diketahui tidak hanya untuk orang PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 dewasa melainkan juga anak-anak. Orang tua harus bertanggung jawab dan berkomitmen untuk memberikan pendidikan seks kepada anaknya sejak dini. Pendidikan seks yang seharusnya diperoleh terdiri dari pengetahuan secara biologis dan psikologis. Pengetahuan secara biologis meliputi pengetahuan tentang alat-alat reproduksi secara sederhana. (Creagh 2. Beberapa ahli mengatakan pendidikan seksual yang baik harus dilengkapi dengan pendidikan etika, pendidikan tentang hubungan antar sesama manusia baik dalam hubungan keluarga maupun di dalam masyarakat. (Margiana and Suharni 2. Allah menciptakan manusia sebagai mahluk seksual yang responsif, tetapi Allah juga memberikan petunjuk bagaimana menanggulangi masalah seks dalam diri dan juga memberikan hak untuk memilih yang diharuskan, dan mengendalikan sifat seksual dengan penuh tanggung jawab. Seks harus digunakan sesuai dengan kerangka keseluruhan hidup kita, tidak sebagai sesuatu yang tabu untuk dibicarakan sehingga melarangnya bukan merupakan Oleh sebab itu, orang tua harus mengajarkannya kepada anak-anak agar mereka mendapatkan pendidikan seks yang benar. (Almurhan and Amperaningsih 2. Pendidikan seks sejak dini harus diajarkan kepada anak-anak dalam pengenalan organ seks manusia secara sederhana. Mengenai usia 4-6 tahun. Sigmun Freud menyebutkan bahwa setiap anak penting untuk mendapatkan pendidikan seks sejak dini. Pada usia ini, ia menjelaskan bahwa anak memasuki tahap yang ketiga yaitu Fase Phallus, artinya di saat anak menginjak usia 4-6 tahun ia akan merasakan kenikmatan tertentu ketika meraba atau menyentuh alat genitalnya (Gundasmoro 2. Pendidikan seks yang sejati selain mencegah anak menjadi korban kejahatan seksual tetapi mencegah anak menjadi pelaku dari kejahatan tersebut. Tidak hanya berdampak pada perkembangan moral anak, tetapi di satu sisi anak dapat langsung belajar tentang pandangan seks secara baik. Pendidikan, apapun cara dan bentuknya yang diajar membawa dampak yang tidak sedikit pada pada pola pikir anak. Namun yang harus dipahami ketika mengajarkan pendidikan seks bagi anak-anak adalah kapan dan bagaimana cara menjelaskannya bagi anakanak. Beberapa orang tua mengaku merasa dan bingung untukmenerangkan masalah tersebut kepada anak-anaknya. Alasan utama ialah karena orang tua merasa anak-anak mereka belum AAcukup umurAA untuk mengerti hal-hal berikut. Dan karena beberapa orang tua tidak mengetahuinya sehingga tidak mengajar anak. -anaknya tentang pendidikan seks sejak usia Oleh sebab itu, usaha pendidikan seks sejak dini dari orang tua kepada anak usia 4-6 tahun sangat dibutuhkan. (Gunarsa and Gunarsa 2. Berbicara mengenai pendidikan apapun bentuk dan cakupannya, maka orang tua adalah pendidik pertama yang wajib menunaikan tugas ini. Bahkan dalam hal pendidikan seks, orang tua adalah sumber dan bahkan pendidik yang utama. Apalagi mendidik anak usia remaja, dimana anak memasuki usia remaja maka orang tua harus memberikan hatinya, waktu, konsentrasi, tenaga dan bahkan pikiran yang ekstra dalam mendidik anaknya. Orang tua sebagai lingkungan pertama dalam semua aspek kehidupan sangat berperan aktif dalam hal PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 II. Metode Penelitian Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, peneliti sebagai instrumen kunci. Analisa data bersifat induktif, dan hasil penelitian lebih menekankan (Sugiyono 2. Peneliti mendapatkan data dari anak-anak Sekolah Minggu di GKB Jakarta Barat melalui wawancara dan pengamatan secara langsung. Untuk mendapatkan data yang akurat, penulis membuat persentase dari hasil penelitian. Hasil dan Pembahasan Pendidikan Seks adalah Aupendidikan yang bertujuan memberi pengetahuan tentang seks, fungsi biologis kelamin, kehamilan, dsb. Ay(Penyusun 2. Orang tua adalah Auayah ibu . rang tu. orang yg dianggap tua . erdik pandai, ahli, ds. orang-orang yg dihormati . di kampung. tetuaAy(Penyusun 2. Pengertian Seks secara Umum Kata AuseksAy berasal dari kata latin yaitu sexus, yang berarti jenis kelamin. Kata sexus sendiri dari kata kerja secare yang berarti memotong, membagi dan memisahkan. Dengan demikian menurut pengertian kata seks berarti adalah hal-hal yang membagi mahluk ke dalam kedua kelompok atau jenis yang satu disebut laki-laki . atau pria . , sedangkan jenis yang lain disebut perempuan . atau wanita . (Koseng 1. Seks memiliki arti yang sangat sederhana yakni berarti jenis kelamin, yaitu suatu sifat atau ciri yang membedakan laki-laki dan perempuan. Seks berkembang menjadi berbagai pengertian apabila disertai dengan penambahan AukataAy seperti perilaku seksual, yakni segala bentuk perilaku yang muncul berkaitan dengan dorongan seksual, dan hubungan seks yang mempunyai arti hubungan dua jenis kelamin sebagai salah satu bentuk kegiatan penyaluran dorongan seksual tersebut. Menurut Kamus, istilah seks mempunyai dua pengertian. Pertama, berarti jenis kelamin dan yang ke dua adalah hal ihwal yang berhubungan dengan alat kelamin, misalnya persetubuhan atau sanggama. Padahal yang disebut pendidikan seks sebenarnya mempunyai pengertian yang jauh lebih luas, yaitu upaya memberikan pengetahuan tentang perubahan biologis, psikologis, dan psikososial sebagai akibat pertumbuhan dan perkembangan (Sugono 2. Pengertian seks secara umum adalah sesuatu yang berkaitan dengan alat kelamin atau hal-hal yang berhubungan dengan perkara hubungan intim antar laki-laki dengan perempuan. Karakter seksual masing-masing jenis kelamin memiliki spesifikasi yang berbeda. Pendapat tersebut seiring dengan pendapat Hurlock, seorang ahli psikologi perkembangan, yang mengemukakan tanda-tanda kelamin sekunder yang penting pada laki-laki dan perempuan. Menurut Hurlock, pada remja putera: tumbuh rambut kemaluan, kulit menjadi kasar, otot bertambah besar dan kuat, suara membesar dan lain-lain. Sedangkan pada remaja puteri: pinggul melebar, payudara mulai tumbuh, tumbuh rambut kemaluan, mulai mengalami haid. Seiring dengan pertumbuhan primer dan sekunder pada remaja ke arah kematangan yang PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 sempurna, muncul juga hasrat dan dorongan untuk menyalurkan keinginan seksualnya. Hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar karena secara alamiah dorongan seksual ini memang harus terjadi untuk menyalurkan kasih sayang antara dua insan, sebagai fungsi pengembangbiakan dan mempertahankan keturunan. (Anon n. Pengertian seksual secara umum adalah sesuatu yang berkaitan dengan alat kelamin atau hal-hal yang berhubungan dengan perkara-perkara hubungan intim antara laki-laki dengan perempuan. Seks adalah topik yang sudah lama dianggap tabu untuk diperbincangkan oleh orang dewasa, banyak orang kurang mengetahui tentang seksualitas atau enggan mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan seksualitas. Namun, seringkali masyarakat umum . memiliki pengertian bahwa istilah seks lebih mengarah pada bagaimana masalah hubungan seksual antara dua orang yang berlainan jenis kelamin. (Yulianti 2. Psikologi Perkembangan Anak Usia 4-6 tahun Masa anak-anak merupakan periode yang berbeda dibandingkan kehidupan orang Penelitian dari para psikologi menunjukkan bahwa seorang anak telah dipengaruhi lingkunganya sejak dalam kandungan. Gizi, obat-obatan, radiasi, sakit, bahkan emosi ibu dapat mempengaruhi perkembangan anak. Adapun perkembangan anak secara psikologi ini akan dibahas secara bertahap sesuai dengan tahapan umur anak. Perkembangan psikologis ini mencakup perkembangan fisik, sosial, mental, rohani. (Sunarto 2. Masa usia ini masih tergolong kepada masa dimana anak mulai mengenal pendidikan sekolah dan menjejakkan kakinya duduk dibangku sekolah Taman Kanak-kanak. Secara fisik, anak bertumbuh lebih cepat. (Sunarto 2. Mereka mulai tumbuh lebih tinggi, otot besarnya terus bertumbuh, suka melompat-lompat untuk melenturkan otot-otot Kordinasi otot kecil sangat kurang. Kordinasi mata dan tangan kurang bangus tetapi berkembang menjadi lebih baik. Untuk itu program yang memberikan kebebasan bergerak, kemudian diselingi oleh periode aktivitas dan istirahat sangat diperlukan. Namun, pertumbuhannya agak melambat pada usia lima tahun. (Kristanto n. Secara sosial, hubungan sosial mereka berkembang pesat sejak masuk Taman Kanakkanak (TK). Mereka terikat kepada aktivitas kelompok. Mereka menyadari adanya kelompok tetapi mungkin malu bergabung. Namun, beberapa anak dapat lebih cepat bergabung dalam Di sisi lain dalam pergaulan, emosinya sering kali diungkapkan secara negatif secara menggigit, mendorong, memukul adik laki-laki, perempuan atau teman-temannya (Kristanto n. ) Dalam hal mental, mereka dapat belajar dengan cepat melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukan karena pada masa ini imajinasinya semakin tajam. Pada usia ini kosa kata mereka mencapai 1500 kata. (Koseng 1. Dalam hal rohani, mereka akan berkembang bila diajari kebenaran dan pengetahuan Alkitab. Disini orang tua sangat berperan dalam perkembangan rohani. Perkembangan rohani harus dilakukan secara konkret, dan dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Mereka perlu diajarkan tentang Tuhan Yesus yang mengasihinya, doa-doa yang sederhana dan nyanyian-nyanyian rohani untuk anak-anak. Namun, harus diperhatikan juga dalam pengajaran hendaknya disesuaikan dengan tingkat intelektualitas. (Koseng 1. PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 Pandangan Alkitab tentang Seks Perjanjian Lama Kitab Kejadian pasal 2 ayat 27 berkata bahwa: AuMaka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia. laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya merekaAy. Penyebutan jenis kelamin yang berbeda untuk manusia di sini merupakan sesuatu yang penting untuk diperhatikan, karena Alkitab tidak mencatat perbedaan jenis kelamin binatang di Kejadian 1, walaupun mereka tentu saja berjenis kelamin berbeda. Kejamakan dan ketunggalan ini juga terlihat dari narasi di Kejadian 2:18-25. Kesendirian Adam dianggap tidak baik oleh Allah . Allah selanjutnya memberikan Hawa bagi Adam. Menariknya, tujuan Hawa diciptakan dan diberikan kepada Adam adalah supaya mereka menjadi satu . Jadi seks merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari posisi manusia sebagai gambar dan rupa Allah di dunia. (Abineno 2. Kejadian 1:28 sebagai amanat budaya atau yang disebut juga sebagai perintah Allah yang tertinggi dalam kaitan dengan tanggung jawab kultural orang percaya. Ayat ini bukan hanya sebuah perintah, tetapi juga berisi berkat. Hal ini terlihat dari awal ayat 28 AuAllah memberkati mereka, lalu berfirman. Ay. Tidak heran, dalam bagian Alkitab selanjutnya, memiliki keturunan merupakan simbol/bukti bahwa seseorang diberkati oleh Allah. Hal lain yang penting yang diajarkan ayat ini adalah bahwa seks . alam konteks ini memiliki keturuna. bukanlah tujuan hidup manusia. Sebaliknya, memiliki keturunan merupakan sarana bagi manusia untuk melayani Allah dalam bentuk menguasai alam. (Miles 2. AuPerintahAy untuk memenuhi bumi sangat berhubungan dengan tugas manusia sebagai gambar dan rupa Allah yang harus mengurusi alam ini. Begitu pentingnya hal ini. Allah bahkan memandang berdosa tindakan orang-orang yang hendak membangun menara Babel supaya mereka tidak terserak ke seluruh bumi (Kej 11:. Perbedaan seksualitas sebagai sarana untuk melayani Allah juga bisa dilihat dari Kejadian 2:15-18. Dalam ayat 18 dikatakan bahwa Hawa dijadikan sebagai penolong Adam. Penolong dalam hal apa? Konteks menunjukkan bahwa penolong di sini berhubungan dengan perintah Allah di ayat 15-17. Terlepas dari terjemahan yang benar tentang ayat 15 (Auberibadah dan memelihara perintah AllahAy atau Aumengusahakan dan memelihara tamanA. , keberadaan Hawa di sini dimaksudkan sebagai penolong Adam dalam melaksanakan tugas di ayat 15. Mereka pada akhirnya memang gagal menaati Allah, tetapi bukan berarti rencana Allah gagal atau seks merupakan sesuatu yang negatif. Allah melihat bahwa kesendirian Adam merupakan sesuatu yang tidak baik (Kej 2:. Penilaian ini pertama kali sangat mengejutkan, karena Allah sebelumnya selalu mengatakan AubaikAy untuk hal yang Ia lakukan. Setelah itu Allah menciptakan berbagai binatang sebagai kandidat pasangan manusia (Kej 19-. Walaupun binatang-binatang tersebut diciptakan dari bahan yang sama dengan manusia dan disebut dengan istilah makhluk hidup, namun tidak satu pun yang cocok sebagai pasangan manusia. Allah akhirnya menciptakan Hawa bagi Adam. Yang menarik adalah Hawa tidak diciptakan dari tanah liat seperti Adam maupun binatang-binatang di ayat 19-20. Hawa diciptakan dari bagian tubuh Adam, yaitu tulang rusuk PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 dan daging Adam . yat 21-. Proses penciptaan ini menunjukkan keintiman hubungan antara suami-istri (Adam dan Haw. Keintiman tersebut juga terlihat dari superioritas relasi suami-istri dibandingkan orang tua dan anak. Ayat 24 mengajarkan bahwa laki-laki harus meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya. Berdasarkan kultur Yahudi yang patrilokal . stri yang masuk ke dalam lingkungan keluarga suam. dan struktur kalimat Ibrani, ayat ini tidak boleh ditafsirkan bahwa laki-laki akan meninggalkan rumah orang tuanya. (Reiss and Halstead 2. Sebelum kejatuhan manusia ke dalam dosa, kehidupan seks merupakan berkat Allah yang sempurna. Keadaan ini berubah ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Memiliki keturunan harus disertai dengan berbagai kesakitan. Hubungan antara laki-laki dan perempuan pun mengalami perubahan. Mereka tidak lagi menjadi pasangan yang sepadan (Kej 3:. Kerusakan ini terus berlanjut pada jaman Lamekh (Kej 4:19, 23-. Nuh (Kej 9:21-. Lot (Kej 19:4-5, 30-. , bahkan sampai hari ini. (Handoko 2. Perjanjian Baru Pada dasarnya seks diciptakan Allah sangat baik. Seks adalah bagian tubuh yang diciptakan Allah dan dikuduskannya. Seks bukanlah sesuatu yang kotor, jahat, dan tadu. Seks itu baik, kudus, dan agung karena AuAllah melihat segala yang dijadikanNya itu, sungguh amat Ay Seks itu merupakan karunia Allah untuk kebahagiaan manusia. Oleh sebab itu perlu dipelihara dengan baik dan menjunjungnya. Anugerah itu harus dihormati dan dihargai. (TuAu Kitab perjanjian Baru mengadakan pendekatan yang positif terhadap seks. Rasul Paulus dalam kitab Efesus 5:29-32 memakai kiasan hubungan antara suami dan isteri untuk menjelaskan mengenai Kristus sebagai mempelai laki-laki dan jemaat (Gerej. sebagai mempelai perempuan digunakan untuk menggambarkan hubungan antara Allah dan manusia. Seperti itulah gambaran suami dan isteri harus mengabdi satu sama lainnya. Saling menghargai, saling melengkapi dan saling mencintai satu dengan yang lainnya sebagaimana Allah menghargai dan mencintai umat-Nya. Ketika orang percaya terlibat dengan seks yang di luar rencana Allah, maka manusia itu telah menodai gambaran dan karakter Allah bagi pasangan dan dirinya sendiri (Yohanes 3:. Dalam Injil Matius 19:4-6 menyatakan bahwa tujuan Allah menciptakan laki-laki dan perempuan adalah agar mereka dapat menikah dan menjadi satu daging. Sistem adanya dua macam jenis kelamin bukan merupakan pikiran yang timbul kemudian, melainkan sudah merupakan rencanaNya sejak semula yang mempunyai tujuan utama yaitu untuk kemuliaan namaNya. Di mana manusia melaksanakan mandat yang diberikan Tuhan untuk beranak cucu dan bertambah banyak menguasai bumi serta memeliharanya. Jadi seks adalat alat yang dipakai Allah untuk tujuan mulia. Oleh sebab itu, segala sesuatu yang berkaitan tentang penyimpangan seks tidak dibenarkan menurut Alkitab. Adapun penyimpangan seks yang juga pernah dijelaskan di dalam Perjanjian Baru terdapat dalam I Korintus 6:9-11. AuAtau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita. Ay Perilaku homoseksualitas adalah dosa yang dikutuk Allah (Imam. 18:22. Roma 1:26-27. 1Kor. Analisis dan Interpretasi Data tentang Peran Orang Tua dalam Pendidikan Seks bagi Anak Usia 4-6 tahun Seluruh data yang didapat dari survei selama di lapangan akan dianalisa. Adapun hasil dari analisa data tersebut antara lain yaitu: Dari pertanyaan nomor 1 diketahui bahwa yang dimaksud dengan seks itu ialah Seks adalah alat kelamin menjawab 15 anak atau 75%. Hal ini berarti para orang tua mengerti pengertian seks secara benar. Pada pertanyaan nomor 2 dengan pertanyaan apakah pendidikan seks perlu diberikan orang tua kepada anak usia 4-6 tahun, maka para orang tua sebanyak 25 atau 75% menyatakan perlu dan penting. Dari data didapatkan bahwa pendidikan seks sebaiknya diberikan pada adak usia 4-6 tahun sebanyak 10 orang atau 50%. Hal ini berarti para orang tua menjawab dengan benar, pendidikan seks harus diberikan sejak dini usia 4-6 tahun. Demikian pertanyaan nomor 4: pendapat seorang psikolog yang mengatakan bahwa seksualitas sudah ada dan dirasakan oleh anak sejak anak masih bayi. Diketahi ada 10 orang tua atau 50% setuju, karena Allah telah memberikan dorongan seks sejak anak dalam Pertanyaan nomor 5 bahwa 10 orang tua menjawab sebaiknya tempat yang tepat untuk mengajarkan dan memberikan pendidikan seks itu kepada anak di sekolah. Dan 10 orang tua atau 50% menjawab sebaiknya tempat yang tepat untuk mengajarkan dan memberikan pendidikan seks itu kepada anak di rumah. Dan hal inilah yang paling tepat karena keluarga adalah tempat utama dalam segala pendidikan. Karena lingkungan pendidikan terkecil ialah di keluarga. Orang yang paling bertanggung jawab memberikan pendidikan seks kepada anak ialah ayah dan ibu, bukan guru dan pendeta. Pada pertanyaan nomor 6 para orang tua menjawab hal ini merupakan tugas orang tua. Ada 10 orang tua atau 50% menjawab orang tua. Pendidikan seks sebaiknya diajarkan setiap saat dan waktu kepada anak, bukan hanya pada saat bertanya. Dan cara yang baik menjelaskan pendidikan seks itu dengan menggunakan gambar dan buku. Dan 15 atau 75% orang tua sudah mengetahuinya. Ini berarti orang tua tersebut memahami pendidikan seks yang benar. Dan pihak-pihak pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab untuk memberikan dan mengajarkan pendidikan seks kepada Anak ialah orang tua, pendeta, dan guru karena keluarga adalah pendidikan yang terkecil. Pertanyaan nomor 9: 6 menjawab masyarakat. Pemerintah, dan orang tua, 6 menjawab pendeta, pemerintah, dan Guru dan 8 menjawab Orang tua. Pendeta, dan guru. Di sini terlihat peranan orang tua dalam pendidikan seks sangat baik. Dari data yang didapatkan bahwa pertanyaan nomor 10: anak mendapatkan pendidikan seks melalui media elektronik dan majalah-majalah merupakan hal yang tidak baik karena PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 pendidikan seks yang ditawarkan oleh media tidak selamanya baik. Dari data pertanyaan nomor 11 diketahui bahwa pelecehan seksual yang menimpa anak-anak usia 4-6 tahun diakibatkan karena adanya oknum yang tidak bertanggung jawab melakukan hal yang tidak Kejadian tersebut terjadi bukan hanya karena faktor dari si anak tetapi karena adanya pelaku. Salah satu manfaat yang didapat anak setelah menerima pendidikan seks yang benar dari orang tuanya dapat menghilangkan keraguan dan kebingungan anak seputar masalah seks serta dapat mengantisipasi anak menjadi pelaku penyimpangan seks di kemudian hari. Orang tua selayaknya sudah berubah paradigma tentang pendidikan seks serta menerimanya. Sesuai dengan pertanyaan nomor 13 yang dilakukan oleh orang tua pada saat anak bertanya mengenai seks ialah menjawab sesuai porsi pertanyaan anak. Sikap orang tua dalam memberikan pendidikan seks kepada anaknya harus penuh perhatian, mendidik, membina serta mengontrol kehidupan anak. Antusiasme para orang tua jika diadakannya program pendidikan seks untuk anak di daerah saudara berdasarkan pertanyaan nomor 15. Setuju, untuk mempersiapkan generasi yang berpengetahuan cukup mengenai seks dan dapat mengurangi kejahatan-kejahatan yang terjadi di bidang seksual untuk menghilangkan pemahaman yang salah mengenai seksualitas. Dengan kata lain para orang tua memiliki pemahaman bahwa anak tidak mempunyai dorongan seksual adapun keinginan seksual di dalam dirinya sewaktu mereka masih kecil tetapi dorongan dan keinginan itu baru muncul ketika si anak akan beranjak remaja dan Pandangan atau pemahaman seperti ini adalah pemahaman yang salah. Berarti dapat disimpulkan bahwa para responden kurang memahami tujuan dari pemberian tujuan seks tersebut, maka dari hasil data diatas bahwasanya para responden harus mengubah pola pikirnya mengenai tujuan pemberian pendidikan seks dan mengarahkan serta mewajibkan mereka untuk memberikan pendidikan seks sedini mungkin kepada anak, khususnya usia 4-6 IV. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas, maka dapatlah disimpulkan bahwa pendidikan seks sejak dini merupakan hal yang wajar, normal dan indah. Seks bukanlah dosa atau sesuatu hal yang tabu, karena seks adalah anugerah atau pemberian Tuhan yang istimewa dan berharga kepada Dalam konteks ini, orang tua berkewajiban untuk mengajar pendidikan seks sejak dini usia 4-6 tahun. Usia dini 4-6 tahun adalah masa yang sangat tepat bagi para orang tua untuk membekali anak-anak dengan pendidikan seks sejak dini, dimana pada masa usia ini anak dipersiapkan untuk menerima hal-hal yang baru baik yang datang dari pengajaran atau langsung anak-anak yang langsung didapat dari lingkungannya, sehingga tidak mengaburkan pemahaman mereka tentang pendidikan seks yang benar. Pentingnya peranan orang tua untuk mengikuti serta mempelajari pendidikan seks, terutama pendidikan seks untuk anak-anak dan menguasai teknik pemberian atau penyampaian pendidikan itu kepada anak yang tergolong usia dini. Orang tua harus berusaha menanggalkan pemikiran-pemikiran kuno yang menyatakan bahwa seks merupakan sesuatu PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 hal yang tabu dan sebagainya serta sadar bahwa anak-anak juga berhak untuk tahu dan mempelajari pendidikan seks yang benar dari orang tua mereka sendiri. Pendidikan seks paling efektif pertama kali dilakukan dalam lingkungan keluarga, karena keluarga adalah lingkungan yang paling awal namun sangat menentukan bagi perkembangan anak. Pendidikan seks wajib diberikan kepada anak sejak dini yaitu usia 4-6 tahun. Sehingga kelak anak usia remaja atau dewasa maka akan terhindar dari perilaku seks bebas. Jika para orang tua dapat secara aktif dan bijaksana dalam memberikan pendidikan seks kepada anak remaja mereka maka anak akan menjadi pribadi yang siap untuk menyikapi permasalahan seks yang dialaminya. Sehingga arti seks itu sendiri menjadi sangat indah dan Pentingnya memberikan pendidikan seks bagi bagi remaja sudah seharusnya Karena pada dasarnya usia remaja merupakan masa transisi, masa terjadinya perubahan, baik fisik, emosional, maupun seksual. Dalam mendidik anak tentang seks sejak dini maka Alkitab harus sebagai sumber utama. Cara-cara yang dapat digunakan adalah dengan menyampaikan Firman Tuhan kepada anak, membaca firman Tuhan, mengajar berdoa, memuji Tuhan, bernyanyi lagu rohani. Penulis menyarankan agar para orang tua memberikan pendidikan seks sejak dini berlandaskan Alkitab yang adalah Firman Tuhan. Sebagai Orang tua wajib memberikan pendidikan seks sejak dini kepada anak mereka, agar anak bertumbuh dalam psikologi yang sehat. Pendidikan seks bukanlah sesuatu yang tabu melainkan sangat lazim dan relevan dilakukan karena bersifat positif. Alangkah baiknya apabila para orang tua melakukan pendidikan seks sejak dini kepada anak mereka, bukan hanya pada usia remaja namun usia sejak dini dimulai usia anak dalam kandungan. Para orang tua harus bekerja sama dengan instansi lain seperti Sekolah. Gereja dan pemerintah untuk bersama memberikan pendidikan seks bagi anak. Referensi