Jurnal AGRINIKA. September-2022. : 240-251 Kontribusi Financial Technology Bidang Pertanian dalam Meningkatkan Permodalan guna Meningkatkan Produktivitas Usahatani Padi di Kabupaten Bandung Afif Ahmad Rifai1*. Eliana Wulandari1 1Fakultas Pertanian. Universitas Padjadjaran. Jatinangor. Indonesia *Korespondensi: afif18001@mail. Diterima 05 Januari 2022 / Direvisi 27 Agustus 2022 / Disetujui 10 September 2022 ABSTRAK Perkembangan teknologi terus mengalami perubahan, salah satu bidang yang mengadopsi unsur teknologi adalah bidang keuangan yang disebut dengan financial Tujuan dari financial technology adalah salah satunya membantu masyarakat dalam memperoleh pinjaman baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun permodalan Petani merupakan profesi yang kerap kesulitan mendapatkan bantuan modal. Kabupaten Bandung yang mempunyai luas lahan tanaman padi dapat ditingkatkan produktivitasnya dengan meningkatkan input, salah satunya adalah permodalan. Penelitian dilakukan dengan tujuan mempelajari kontribusi financial technology dalam meningkatkan produktivitas usahatani padi. Desain penelitian adalah deskriptif kualitatif. Analisis menunjukkan bahwa bentuk kontribusi yang dapat diberikan oleh fnancial technology bidang pertanian untuk meningkatkan produktivitas usahatani padi di Kabupaten Bandung adalah melalui peningkatan permodalan, pendampingan oleh tenaga ahli dan kemudahan akses pemasaran. Kata kunci : Financial Technology. Permodalan. Usahatani Padi ABSTRACT Technological developments continue to change, one of the fields adopting elements of technology is the financial sector, which is well known as financial technology. One of the purposes of financial technology is to help the community in obtaining loans for both daily needs and business capital. Farming is a profession that often difficult to get capital Bandung District which has an area of rice plantations can increase its productivity by increasing inputs, one of which is capital. This study aimed to discover the contribution of financial technology in agriculture in increasing the capital of farmers to increase the productivity of rice farming. The research method was descriptive qualitative research with the secondary data source. The data collection techniques were literature studies and documentaries from various trusted references. This study employed a qualitative descriptive research design. The results indicated that the form of financial technology contribution in agriculture to increase the productivity of rice farming in Bandung District included capital increase, assistance from experts, and easy access to Keywords: Capital. Financial Technology. Rice Farming PENDAHULUAN Kehidupan manusia terus bergerak secara dinamis dan terus menghasilkan inovasi yang berdampak terhadap berubahnya kegiatan sehari-hari pada masyarakat umum. Perubahan tersebut tidak dapat dihindari, terlebih pada perubahan yang melibatkan unsur teknologi di dalamnya. Perubahan Afif Ahmad Rifai & Eliana Wulandari. Kontribusi Financial Technology A bidang teknologi berkonotasi positif, yang berarti membawa perbaikan dan kemajuan untuk manusia modern seperti sekarang ini. Setiap perubahan yang mengandung unsur teknologi umumnya dibarengi dengan hal kemudahan di dalamnya, salah satu hal kemudahan akibat dari inovasi teknologi adalah pada bidang keuangan atau finance. Perkembangan dengan masuknya Financial Technology (Fintec. Fintech merupakan hasil dari penemuan zaman modern yang menggabungkan antara (Crismastiano, 2. Clayton . inovasi bidang finance tentunya memiliki suatu tujuan yang jelas, seperti fintech yang diciptakan untuk memudahkan transaksi di segala lini keuangan dan penekanan pada biaya transaksi (Ansori. Pada dasarnya, inovasi muncul menjelma menjadi sebuah solusi yang berawal dari permasalahan yang sudah kian lama berada dalam hidup masyarakat, salah satunya adalah prosedur perbankan yang dinilai cukup panjang, ketatnya peraturan ditambah dengan pemenuhan syarat yang cukup Pihak perbankan juga dinilai menjangkau masyarakat pada daerah tertentu (Ansori, 2. Dampak yang diberikan fintech dipercaya dapat dirasakan oleh segala jenis masyarakat, dimulai dari pengguna itu sendiri hingga kepada pelaku bisnis, yang lambat laun akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Waktu ke waktu pengguna fintech di Indonesia terus meningkat secara nyata dan ditampilkan pada Tabel 1, kenaikan pengguna fintech berdasarkan jumlah transaksi selalu mengalami kenaikan pada tiga tahun terakhir. Tabel 1. Sebaran akumulasi jumlah akun transaksi borrower Lokasi Pulau Jawa Banten DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Luar Jawa Jumlah Sumber: OJK, 2018-2020 Data menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan pengguna fintech terbesar. Kenaikan dari tahun 2019 ke tahun 2020 lebih dari tiga kali Hal itu menunjukkan pengguna fintech di Jawa Barat mengalami kenaikan yang sangat pesat. Melesatnya masyarakat yang menggunakan fintech berbanding lurus dengan jumlah total dana yang dipinjam oleh masyarakat, hal tersebut terlihat pada Tabel 2 yang menunjukkan kenaikan jumlah dana tiap provinsi dalam tiga tahun terakhir. Page 241 of 251 Afif Ahmad Rifai & Eliana Wulandari. Kontribusi Financial Technology A Tabel 2. Sebaran akumulasi penyaluran pinjaman (Miliar Rp. Lokasi Pulau Jawa Banten DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Luar Jawa Jumlah 617,45 048,61 666,06 590,65 592,84 084,89 052,13 294,67 909,41 889,59 906,86 497,51 382,62 265,64 768,22 578,38 048,24 658,54 063,60 519,93 902,55 Sumber: OJK, 2018-2020 Pada Tabel 2 terlihat total dana yang dipinjam oleh para borrower di Jawa Barat mengalami kenaikan yang cukup pesat. Tahun 2019 menuju Tahun 2020, total dana yang dipinjam mengalami kenaikan hampir 50%. Meskipun jumlah kenaikan total dana tidak sebanyak kenaikan akun borrower dalam hal persentase, namun total dana yang dipinjam oleh pengguna Jawa Barat tetap lebih banyak dibandingkan dengan total dana yang pinjam oleh para borrower di luar pulau jawa. Perusahaan mengeluarkan produk fintech terus melihat peluang yang ada. Munculnya beberapa fintech yang dibuat khusus untuk membantu profesi tertentu, yang dinilai mengalami kesulitan dalam hal keuangan terutama modal. Profesi tersebut salah satunya adalah petani. Menurut Pohan & Hakim . bidang pertanian merupakan salah satu mengalami kesulitan dalam memperoleh Hal merupakan usaha yang menghasilkan produk dengan umur simpan yang relatif pinjaman kredit ragu ditakutkan produk yang dihasilkan tidak laku di pasaran dan tidak mampu pula disimpan dalam waktu yang lama hingga konsumen membutuhkan produk tersebut sewaktuwaktu. Permasalahan akhirnya lahir fintech yang dikhususkan untuk membantu permodalan para petani, tentunya dengan kemudahan sebagai penawaran utamanya. Otoritas Jasa Keuangan mengungkapkan bahwa per tanggal 10 Juni 2021 jumlah fintech yang terdaftar mencapai 125 platform, namun fintech pertanian hanya terdapat tiga fintech yaitu iGrow. TaniFund dan Crowde, yang merupakan sebuah platform Ketiga platform ini bersifat peerto-peer menyejahterakan para petani dengan cara membantu permodalannya (OJK. Sektor pertanian masih menjadi sektor yang diperhitungkan di Indonesia, mengingat sektor pertanian menjadi unggulan sebagai donatur paling besar untuk Produk Domestik Bruto (PDB) setelah sektor industri dan perdagangan. Di samping itu, penyerapan tenaga kerja pada sektor pertanian tidak sedikit. Tahun 2017 sebanyak 31,86% dari total penduduk Indonesia merupakan tenaga kerja bidang pertanian, jika dihitung total mencapai 39,68 juta jiwa. Berdasarkan hal tersebut, masih layak dikatakan Page 242 of 251 Afif Ahmad Rifai & Eliana Wulandari. Kontribusi Financial Technology A bahwa sektor pertanian merupakan sektor vital di Indonesia (Rahman & Octaviani, 2. Menurut Soekartawi . , padi merupakan tanaman penting karena penghasil bahan baku makanan pokok Mengingat hal tersebut, maka tidak heran jika Indonesia merupakan negara dengan jumlah populasi terbesar petani padi dunia (Putra et al. , 2. Provinsi dengan jumlah lahan dan produksi beras terbesar di Indonesia salah satunya adalah Jawa Barat, data tersebut dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik tahun 2020. Tabel 3. Luas lahan, produktivitas, dan produksi tanaman padi di Indonesia Produktivitas Luas Panen Produksi (Ton/H. (Juta H. (Juta To. Provinsi 2018 2019 2020 2018 2019 2020 2018 2019 2020 Jawa 5,83 5,63 5,67 1,75 1,70 1,75 10,20 9,58 9,94 Timur Jawa 5,76 5,75 5,70 1,82 1,68 1,67 10,50 9,65 9,49 Tengah Jawa 5,65 5,75 5,69 1,71 1,58 1,59 9,65 9,08 9,01 Barat Sulawesi 5,02 5,00 4,82 1,18 1,01 0,98 5,95 5,65 4,71 Selatan Sumatera 5,15 4,83 4,97 0,58 0,54 0,55 2,99 2,60 2,74 Selatan Lampung 4,86 4,66 0,51 0,46 0,54 2,49 2,16 2,65 Sumber: Badan Pusat Statistik . Terlihat pada tabel di atas bahwa Jawa Barat merupakan provinsi dengan produktivitas tertinggi, luas panen terluas, dan produksi terbesar urutan ketiga di Indonesia. Data tersebut membuktikan bahwa provinsi Jawa Barat selain turut andil dalam hal Kabupaten Bandung di Jawa Barat yang mempunyai produksi padi cukup besar. Pada tahun 2020. Kabupaten Bandung memproduksi padi 654,80 ton dengan luas panen seluas 51. 980 Ha (BPS Kabupaten Bandung, 2. Luas panen padi yang tidak sempit di Kabupaten Bandung seharusnya dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memperoleh produktivitas yang Cara memperoleh produktivitas yang tinggi adalah dengan memasukkan unsur inovasi di dalamnya, yang dinilai dapat mampu menaikkan produktivitas. Unsur yang berperan penting dalam Modal kerap kali menjadi hal yang sulit dipenuhi oleh para petani ketika menjelang musim tanam, sehingga para petani masih sering meminjam kepada menggunakan sistem ijon yang tidak menguntungkan bagi para petani. Seiring berbagai macam fintech yang khusus menangani profesi petani. Macam-macam ditujukan untuk bidang pertanian yang telah diberikan izin oleh OJK mendapat perhatian baik di kalangan petani. Hal tersebut dibuktikan dengan jumlah Page 243 of 251 Afif Ahmad Rifai & Eliana Wulandari. Kontribusi Financial Technology A pinjaman dana kepada tiga fintech pertanian, yaitu TaniFund. Crowde, dan IGrow semakin hari terus mengalami Dimulai sejak awal didirikan hingga saat ini, jumlah dana yang tersalurkan melalui TaniFund mencapai Rp. 394,88 Miliar. Crowde mencapai Rp. 142,747 Miliar, dan pada IGrow mencapai Rp. 445,4 Miliar, serta Tingkat Keberhasilan 90 (TKB. pada ketiganya berkisar 97-99%. Hal menunjukkan bahwa fintech bidang pertanian sangat berpengaruh dalam produktivitas usahatani. Penyaluran dana yang lancar dan jumlah peminjam yang terus bertambah menjadi salah satu bukti bahwa fintech bidang pertanian telah berkontribusi dalam menyejahterakan para petani melalui pemberian pinjaman modal. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ditujukan untuk mempelajari kontribusi fintech bidang pertanian dalam meningkatkan permodalan para petani demi meningkatkan produktivitas usahatani, terutama para petani padi di Kabupaten Bandung. BAHAN DAN METODE Penelitian deskriptif kualitatif. Paradigma kualitatif berfokus pada masalah kehidupan sosial berdasarkan kondisi sesungguhnya yang menyeluruh dan terperinci (Indiarto dan Supomo, 1. Data sekunder penelitian, yaitu data yang diambil perantara yang sebelumnya telah dicatat oleh pihak lain. Data ini dapat berupa catatan atau laporan historis yang telah dipublikasikan maupun tidak (Indiarto dan Supomo, 1. Teknik penelitian adalah studi literatur dan dokumenter. Studi pencarian data melalui membaca dan mencatat yang berkaitan dengan masalah yang dibicarakan (Nazir, 1. Dokumenter merupakan proses mencari, membaca laporan sebelumnya, ataupun artikel lain yang berkaitan baik yang bersumber dari internet, buku, maupun Dokumen tersebut dihimpun dan dipilih serta disesuaikan dengan tujuan penelitian (Martino et al. , 2. Metode ini dilakukan oleh penulis dengan cara memindahkan data yang masih relevan dengan penelitian dari berbagai sumber yang dapat dipercaya. HASIL DAN PEMBAHASAN Financial Technology Perubahan merupakan salah satu akibat dari semakin menjamurnya inovasi dengan basis teknologi. Kemunculan inovasi tersebut dalam bidang keuangan dikenal dengan istilah Financial Technology (Fintec. (Hadad, 2. Gabungan jasa keuangan yang dipadukan dengan teknologi menurut Bank Indonesia (BI) juga dapat disebut dengan fintech, di mana tercipta bisnis baru yang lebih Peraturan 19/12/PBI/2017 bahwasanya fintech merupakan layanan keuangan yang diadaptasi dari sistem inovasi baru pada model bisnis yang akan memberikan dampak yang baik peningkatan kepercayaan masyarakat karena transaksi jauh lebih aman. Rahma . mengungkapkan bahwa fintech bukan produk asli perbankan, melainkan sebuah model bisnis yang baru dengan tujuan utama Page 244 of 251 Afif Ahmad Rifai & Eliana Wulandari. Kontribusi Financial Technology A memudahkan keseharian masyarakat Secara kasat mata, fintech memiliki kesamaan dengan bank, namun ada unsur yang menjadikan fintech berbeda bahkan dianggap spesial, yaitu fintech tidak perlu membuka rekening guna menjalankan Fintech lahir membawa sebuah solusi dan jawaban atas segala masalah dan pertanyaan dari para pengguna jasa keuangan. Keamanan fintech juga sudah terjamin, karena ketika perusahaan mengeluarkan produk fintech, maka harus di daftarkan terlebih dahulu melalui BI dan OJK dengan tujuan agar OJK dapat memberikan keamanan kepada para pengguna fintech tersebut. Hsueh Kuo berkembang dimulai dari berevolusinya kehidupan dunia. Perkembangan fintech disebut juga dengan Revolusi Fintech. Revolusi fintech yang terjadi sudah mengalami empat tahapan. Revolusi Fintech 1. 0 yang diawali pada tahun 1866 dengan ditandai oleh pemasangan kabel bawah laut trans altantik, untuk mentransformasikan informasi, masa sekarang dikenal dengan inovasi keuangan telex dan diners. Revolusi Fintech 2. 0, dikenal dengan dua aktor utamanya, yaitu komputer dan data Pada masa ini, sekitar tahun 1967. ATM pertama kali diperkenalkan di Inggris. OJK bekerja melakukan regulasi agar transaksi di Indonesia tidak Revolusi Fintech 3. 0, masa ini muncul dengan tanda bahwa bisnis elektronik yang memanfaatkan data jaringan dalam transaksi semakin Revolusi Fintech 4. ditandai dengan menjamurnya inovasi bidang keuangan yang bersinergi dengan teknologi terbaru. Akibatnya, perubahan terjadi cukup pesat pada lini bidang keuangan, seperti pembayaran, perencanaan keuangan, peminjaman, serta pembiayaan. Menurut Hsueh & Kuo . fintech dapat digolongkan menjadi tiga tipe, yaitu Third-party Peer-to-Peer Lending, dan Crowdfunding. Perkembangan Indonesia dimulai pada tahun 2006, namun pada masa itu fintech belum mendapatkan tempat di hati masyarakat. Fintech mendapatkan hati masyarakat dimulai dengan berdirinya Asosiasi Fintech Indonesia (AFI) pada tahun Sejak mencapai lebih dari 120 perusahaan (OJK, 2. Tahun 2016-2017, awal mula munculnya perusahaan fintech yang difokuskan pada bidang pertanian. TaniHub. Crowde, iGrow merupakan tiga fintech yang telah OJK mendapatkan tempat di hati masyarakat. Fintech bidang pertanian, umumnya berdiri membantu petani sebagai platform peer-to-peer lending (P2P Platform ini diawasi oleh OJK karena adanya metode pemberian pinjaman dengan cara mempertemukan langsung antara calon investor dengan calon peminjam. Calon investor tidak hanya sebuah institusi melainkan perseorangan pun bisa dilakukan. Fintech berkomitmen membantu para petani untuk hidup lebih sejahtera. Bantuan tersebut didapatkan oleh para petani ketika petani tersebut menjadi mitra dari fintech tersebut. Berikut beberapa kontribusi yang dapat diberikan oleh meningkatkan kualitas usahatani para Page 245 of 251 Afif Ahmad Rifai & Eliana Wulandari. Kontribusi Financial Technology A Peningkatan Permodalan Modal menjadi masalah yang kerap kali dihadapi para petani. Pola usahatani yang menghasilkan produk yang bersifat perishable, menjadikan petani kesulitan mendapatkan bantuan akses permodalan. Pemerintah sudah cukup sering mengeluarkan program yang dinilai mampu mengatasi masalah tersebut, sebut saja Koperasi Unit Desa (KUD) dan Kredit Usaha Rakyat (KUR. Program tersebut tidak begitu membantu para petani, pasalnya alur birokrasi yang berbelit-belit masih menjadi kendala Menurut Maria & Adi . para petani terutama di daerah Kabupaten Bandung mengandalkan lingkaran keluarga dan kerabat dekat untuk memenuhi urusan permodalan, namun tidak selamanya mereka mampu membantu para petani yang kesulitan dalam permodalan. Pada Bulan April tahun 2021. Dinas Perkebunan Jawa Barat melakukan pembinaan akses modal bagi para pelaku usahatani. Terdapat catatan yang menyebabkan pelaku usahatani permodalan, seperti kesuksesan pelaku usahatani dalam memperoleh akses kredit modal dari pihak perbankan hanya berkisar diangka 10%, dan sisanya tidak berhasil mendapatkan. Berbagai hal menjadi alasan, di antaranya gagal dalam proses BI Checking atau berkaitan dengan syarat umur calon debitur yang harus minimal 21 tahun. Tak hanya itu, calon debitur juga kerap kali mendapatkan permasalahan lain ketika akan mengakses kredit usaha, seperti umur usahataninya masih di bawah 6 tahun, nilai kelayakan memadai, atau bahkan berbedanya informasi yang disampaikan oleh pihak perbankan melalui media masa dengan petugas perbankan di lapangan yang menangani langsung urusan pencairan kredit usaha. Hal tersebut yang berstatus sebagai calon debitur tidak mampu mencairkan kredit usaha sebagai bantuan modal. Angsuran tiap bulan yang harus dibayarkan oleh para petani juga menjadi suatu kendala, karena para petani kebanyakan hanya mampu membayar angsuran ketika atau setelah masa panen. Fintech hadir untuk membantu para petani. Terdapat unsur pembeda ketika para petani memutuskan untuk menjadi mitra fintech dibandingkan dengan mitra program pemerintah. Unsur pendaftaran menjadi mitra fintech yang dirasa mudah dan cepat, hanya memerlukan kartu identitas berupa KTP dan NPWP. Fintech terutama pada bidang pertanian merupakan instansi yang belum lama beroperasi, namun cara pendekatannya kepada para petani dirasa cukup berhasil. Proses pencairan dana pinjaman yang diajukan kepada fintech juga cukup cepat, berkisar antara 3-10 hari kerja dengan ajuan dana hingga Rp. 100 juta, bahkan ada fintech yang bisa mengajukan dana hingga Rp. 1 Miliar. Hal tersebut tentunya harus melewati tahap verifikasi Rencana Anggara Belanja (RAB) yang diberikan oleh petani mitra. Ketika RAB telah disetujui, maka RAB akan diunggah ke marketplace Pihak berupaya melakukan proses promosi untuk menarik minat calon investor agar memberikan bantuan dana kepada proyek tersebut. Calon investor dapat mengenai proyek tersebut, seperti Page 246 of 251 Afif Ahmad Rifai & Eliana Wulandari. Kontribusi Financial Technology A besaran pinjaman yang dibutuhkan, tanaman yang akan dibudidayakan, waktu pengembalian, hingga gambaran hasil dari proyek tersebut. Tak hanya itu, informasi umum dari petani yang membuat proyek tersebut, seperti nama kelompok tani dan daerah asalnya. Sistem pengumpulan dana yang diterapkan adalah sistem crowdfunding, yang memungkinkan dana untuk satu proyek dapat terkumpul dari banyak calon investor. Dana yang telah terkumpul akan ditransferkan kepada petani melalui bank yang terdaftar sesuai dengan kesepakatan. Pendampingan Faktor yang tidak akan mungkin bisa lepas dari peningkatan produktivitas Biasanya, para petani mengenai budidaya maupun inovasi teknologi melalui peran penyuluh. Tertuang dalam UU No 16 Tahun 2006 Penyuluhan Pertanian. Perikanan, dan Kehutanan dijelaskan bahwa guna meningkatkan sektor terkait dibutuhkan peran serta SDM andal dalam hal manajerial, kewirausahaan dan organisasi bisnis sehingga pelaku usaha dapat mampu menjalankan usahanya dari hulu hingga ke hilir sehingga mempunyai daya saing tinggi. Penyuluhan yang dimaksudkan adalah sebuah proses pembelajaran yang dilakukan secara berkala, baik oleh lembaga swasta maupun pemerintah. Tujuannya agar petani paham, mau, dan mampu untuk mengadopsi suatu inovasi dalam bidang pertanian, sehingga terciptanya peningkatan produktivitas dan pendapatan usahatani. Kemajuan suatu penyuluhan dapat ditandai dengan perubahan karakteristik masyarakat dalam suatu desa, yang kemudian akan dikarenakan petani mampu menerima materi dengan baik dan menerapkan inovasi yang disampaikan penyuluh (Bahri, 2. Samsul Bahri . dalam Dampak Penyuluhan Pertanian Terhadap Produktivitas Padi Sawah menjelaskan hasil temuannya, bahwa terdapat dampak dalam hal produktivitas padi sawah akibat dari adanya penyuluhan. Sejalan dengan penelitian Samsul Bahri. Mardikanto . menyatakan aktor utama dalam kegiatan usahatani adalah petani, sehingga perlu dilakukannya kecerdasan, salah satunya melalui Menghadapi hal tersebut, fintech pada bidang pertanian berkomitmen bahwa pendampingan terhadap seluruh mitra petani perlu dilakukan, dari awal proses panen. Mengutip dari web resmi TaniFund menerangkan bahwa, salah satu permasalahan yang sulit dihindari oleh petani adalah faktor alam, namun hal tersebut bisa diatasi dengan kemajuan teknologi. Hal tersebutlah yang mengawali komitmen TaniFund dan fintech bidang pertanian lainnya agronomis sebagai tim lapangan yang akan terus mendampingi para petani. Tim lapangan yang merupakan bagian dari fasilitas yang didapatkan oleh pertani mitra akan bergerak dari awal mula petani mitra mengajukan kerja sama. Awalnya, tim lapangan akan merencanakan prospek usahatani yang akan dijalankan, kemudian tim lapangan akan mendatangi lahan milik petani mitra dan berdiskusi mengenai rencana Page 247 of 251 Afif Ahmad Rifai & Eliana Wulandari. Kontribusi Financial Technology A Pengurusan administrasi juga dikelola oleh pihak tim lapangan. Pada saat diskusi telah mencapai titik sepakat, kemudian pihak dari perusahaan akan mulai mengunggah kebutuhan petani mitra di aplikasi fintech yang melakukan kerja sama. Setelah dana terkumpul, tim lapangan akan mendampingi petani mitra selama proses budidaya, dengan tujuan agar produktivitas hasil panen lebih meningkat. Akses Pemasaran Dulu hingga sekarang, para petani masih menggunakan hubungan sosial dengan para tengkulak untuk menjual hasil panennya, termasuk petani di Kabupaten Bandung. Studi Sutisna . menyebutkan bahwa antara tengkulak dengan pihak petani menjalin kerja sama sebagai mitra usaha. Sebagai orang yang memiliki modal dalam jumlah besar, tengkulak mampu Sebaliknya, posisi petani berada di bawah tengkulak. Studi Hasanuddin . menyatakan bahwa akar penyebab kemiskinan petani adalah sifat ketergantungan petani yang tinggi kepada tengkulak, dikarenakan petani tidak mempunyai pilihan lain untuk menjual hasil panennya meskipun dengan harga jual yang rendah. Tidak semua tengkulak memiliki keuntungan sebesar-besarnya dari para Tetap terdapat tengkulak yang membantu petani untuk memberikan harga yang layak, serta membantu akses petani untuk mendapatkan pasar dengan jaringan sosial para tengkulak. Meskipun demikian, ketergantungan petani terhadap akses pasar yang dimiliki oleh para tengkulak tidak bisa Para tengkulak berjejaring luas dengan berbagai pihak, tidak hanya pengepul, namun juga pabrik hingga Bulog menerima pasokan hasil panen dari para tengkulak. Hal tersebut tidak akan dimiliki oleh petani secara individu. Petani umumnya minim akses ke pasar, pabrik, maupun Bulog. Hal ini karena pabrik dan Bulog hanya menerima pasokan dalam jumlah besar, sedangkan hasil panen dari petani tidak sebanyak yang diinginkan oleh pihak pasar. Fintech menyejahterakan petani dengan cara memberikan peluang pasar yang Pasalnya, fintech yang berfokus pada bidang pertanian, umumnya memiliki sebuah sistem perdagangan digital yang berbasis aplikasi dan web yang jelas akan memberi mitra akses dan peluang pasar. Kontribusi tersebut berupa bantuan akses pemasaran dari petani mitra kepada pelaku bisnis, maupun petani mitra kepada konsumen Berdasarkan hal itu, petani mitra tidak perlu lagi memikirkan nasib produknya dipasarkan ke mana. Tak hanya sampai di situ, keuntungan yang didapatkan oleh petani mitra adalah mengetahui kebutuhan pasar, contohnya adalah TaniSupply. TaniSupply merupakan bagian dari TaniHub, melalui TaniSupply yang perusahaan, yaitu TaniHub. Petani mitra mampu mengetahui kualitas produk yang dibutuhkan oleh para konsumen. Persaingan harga juga dibantu oleh pihak fintech. Petani mitra bisa mengakses web resmi perusahaan dan di sana petani mampu membandingkan harga pokok penjualan dengan harga jual di pasaran. Hal tersebut berbeda ketika petani tidak bermitra dengan perusahaan fintech pertanian. Petani cenderung menentukan harga pasar Page 248 of 251 Afif Ahmad Rifai & Eliana Wulandari. Kontribusi Financial Technology A dengan hanya menebak dan langsung memasarkan produk panennya ke pasar tersebut, atau ke pengepul. Tak jarang petani mendapatkan harga yang jauh di bawah HPP dan harapan petani, sehingga petani cenderung akan mengalami kerugian usaha. KESIMPULAN Modal kerap kali menjadi kendala bagi para pelaku usahatani, terutama Pada saat petani mempunyai lahan yang cukup luas, namun modal tidak mencukupi, maka para petani akan stuck pada hasil panennya dan tidak Inovasi kian hari kian menjamur, akibat dari terus berkembangnya teknologi. Hal yang ikut serta memasukkan unsur teknologi di dalamnya adalah bidang Financial Technology (Fintec. Pelaku usaha fintech terus gencar mencari konsumen dan pengguna ke berbagai kalangan, termasuk kalangan yang dinilai kerap sulit mendapatkan permodalan, yaitu petani. Menjamurnya fintech tidak hanya terhadap bidang terdapat fintech yang menjelma menjadi fintech spesifik, salah satunya fintech bidang pertanian. Fintech jenis ini merupakan sebuah platform jual beli hasil pertanian. Petani yang telah bermitra dengan fintech pertanian tidak hanya mendapatkan benefit berupa Petani tenaga ahli lapangan bidang agronomis selama masa budidaya, dan setelah panen petani mitra dapat memasarkan hasil panennya melalui pasar dengan bantuan koneksi dari perusahaan yang melakukan kerja sama, tentunya dengan jangkauan yang lebih luas. Berdasarkan hal tersebut, ketika petani padi di Kabupaten Bandung melibatkan fintech dalam usahataninya, akan lebih mendapatkan kejelasan Tak hanya itu, pemasaran pendampingan oleh tenaga ahli menjadi benefit tambahan. Pada saat petani padi di Kabupaten Bandung bermitra dengan fintech, maka dapat diproyeksikan bahwa fintech bidang pertanian dapat peningkatan produktivitas usahtani padi di Kabupaten Bandung. DAFTAR PUSTAKA