Moderasi : Journal of Islamic Studies | Page : 815-838 Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | e-ISSN/p-ISSN : 2809-2872/2809-2880 Konsep Pendidikan Abuya Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam Menghadapi Degradasi Moral di Era Digital Rugayyah Alwi Assaggaf1 Universitas Islam Internasional Darullughah Wadda'wah (UII Dalw. Indonesia. saggafqeidun@gmail. Submit : 20/11/2025 | Review : 02/12/2025 s. d 21/12/2025 | Publish : 24/12/2025 Abstract Era digital telah menghadirkan perubahan besar dalam pola interaksi dan akses informasi, namun sekaligus menimbulkan tantangan serius bagi moral masyarakat, khususnya melalui fenomena dekadensi dan degradasi moral di media sosial. Penelitian ini bertujuan mengkaji pemikiran Abuya Sayyid Muhammad bin AoAlawi al-Maliki dalam kitab Syaraf al-Ummah al-Muuammadiyyah sebagai paradigma pendidikan profetik yang relevan untuk menjawab krisis moral di era digital. Isu pokok penelitian mencakup kemerosotan nilai akibat perilaku ekstrem di ruang digital serta pergeseran standar etika yang tampak dalam praktik cyberbullying dan budaya partisipasi toksik. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan analisis isi terhadap sumber primer berupa karya Abuya al-Maliki dan sumber sekunder berupa literatur pendukung tentang pendidikan spiritual dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa dekadensi dan degradasi moral bukan sekadar masalah individu, melainkan konsekuensi dari sistem algoritmik dan budaya populer yang memberi penghargaan pada perilaku ekstrem. Paradigma pendidikan profetik Abuya menekankan iman, amar maAoruf, dan nahi munkar sebagai fondasi pembentukan karakter kolektif umat, serta menawarkan solusi rekonstruksi pendidikan spiritual-moral untuk membentuk generasi berintegritas, beriman, dan peduli sosial. Dengan demikian, pemikiran Abuya relevan sebagai kerangka konseptual dalam merumuskan strategi pendidikan Islam kontemporer guna menghadapi tantangan moral di era digital. Keywords : Abuya Al-Maliki, pendidikan profetik, degradasi moral, era digital, khaira ummah. Pendahuluan Era digital membawa perubahan besar dalam cara berinteraksi dan mengakses informasi. Namun, kemajuan teknologi ini juga membawa tantangan baru dalam upaya menjaga moral masyarakat. Media sosial dalam satu dekade terakhir telah menciptakan lanskap budaya baru yang (Rugayyah Alwi Assagga. Konsep Pendidikan Abuya Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam Menghadapi Degradasi Moral di Era Digital mengubah nilai, norma, dan perilaku masyarakat. Platform seperti TikTok. Instagram, dan Facebook bukan sekedar ruang berbagi, melainkan arena performatif untuk membangun identitas dan mencari pengakuan. Dalam ruang digital ini muncul dua fenomena utama: . Dekadensi moral: kemerosotan nilai dan hilangnya kontrol diri, tampak dalam live streaming ekstrem yang menabrak norma demi atensi dan hadiah digital. Degradasi moral: penurunan standar etika, terlihat dalam praktik cyberbullying anonim yang dipicu oleh anonimitas dan budaya partisipasi Kedua fenomena ini tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan logika algoritma, struktur sosial, dan budaya populer yang memberi penghargaan pada perilaku ekstrem. Media sosial bukan hanya cermin kondisi moral, tetapi juga mesin yang mempercepat kemerosotan nilai. Dalam konteks media sosial, dekadensi muncul ketika pengguna rela menabrak norma sosial, etika, dan bahkan keamanan dirinya demi memperoleh atensi, viewer, atau hadiah digital. Aksi live streaming yang ekstrem, mulai dari tindakan vulgar, membahayakan diri, hingga eksploitasi konflik, menunjukkan bahwa performa digital kini lebih dominan daripada nilai moral agama dan budaya. Dekadensi ini bukan sekadar tindakan individu yang Aukehilangan arahAy, tetapi reaksi terhadap sistem digital yang memberi penghargaan pada perilaku ekstrem. Sementara itu, degradasi moral merujuk pada pergeseran standar etika ke arah yang lebih rendah, terutama ketika kekerasan simbolik, penghinaan, dan perundungan menjadi sesuatu yang lumrah (Nugroho, 2. Fenomena kebangkitan dan kemunduran umat Islam merupakan tema klasik yang terus menjadi perhatian para pemikir sepanjang sejarah. Dinamika peradaban Islam tidak hanya ditentukan oleh faktor politik dan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas pendidikan yang membentuk karakter kolektif umat. Pendidikan dalam perspektif Islam sejak awal dipandang bukan sekadar proses transmisi pengetahuan, melainkan instrumen pembentukan iman, akhlak, dan kesadaran sosial. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 816 (Rugayyah Alwi Assagga. Konsep Pendidikan Abuya Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam Menghadapi Degradasi Moral di Era Digital Mengenai konteks ini, banyak ulama turats menekankan bahwa keruntuhan umat terdahulu, seperti Bani Israil, berakar pada melemahnya sistem pendidikan moral dan spiritual. Hilangnya keberanian menolak kemungkaran, kecenderungan pada dunia, serta ketidakpedulian terhadap nilai-nilai profetik menjadi sebab utama kehinaan mereka. Sebaliknya, umat Muhammad dijanjikan keberkahan dan pertolongan ilahi selama tetap berpegang pada prinsip-prinsip pendidikan kenabian. Apabila kemerosotan moral dibiarkan secara terus menerus atau bahkan mulai dianggap biasa maka akan menimbulkan kekacauan yang dapat menimbulkan kehancuran bangsa dan agama. fenomena ini adalah tantangan yang harus segera dijawab oleh lembaga pendidikan Islam (Muhaimin, 2. Degradasi moral bukan hanya masalah individu, tetapi juga masalah kolektif yang dapat berdampak serius pada tatanan sosial dan masa depan suatu bangsa. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang fenomena ini sangat penting untuk dapat merumuskan solusi yang Salah satu tokoh yang menyoroti persoalan ini adalah Abuya Sayyid Muhammad bin AoAlawi al-Maliki, seorang ulama besar Makkah yang dikenal dengan karya-karyanya dalam bidang tasawuf dan pendidikan spiritual. Dalam kitab Syaraf al-Ummah al-Muuammadiyyah, beliau merumuskan paradigma pendidikan profetik yang menempatkan iman, amar maAoruf, dan nahi munkar sebagai fondasi utama pembentukan peradaban. Paradigma ini menegaskan bahwa kebangkitan umat tidak dapat dicapai melalui kemajuan material semata, melainkan melalui rekonstruksi pendidikan spiritual-moral yang menjadi inti ajaran kenabian. Namun, kajian akademik terhadap pemikiran Abuya al-Maliki dalam perspektif filsafat pendidikan Islam di era digital masih relatif terbatas. Padahal, gagasan beliau menawarkan relevansi besar bagi pengembangan kurikulum pendidikan Islam kontemporer, terutama dalam membentuk generasi yang beriman, berintegritas, dan peduli terhadap perbaikan sosial khsususnya di era digital. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 817 (Rugayyah Alwi Assagga. Konsep Pendidikan Abuya Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam Menghadapi Degradasi Moral di Era Digital menyingkap tema utama pemikiran Abuya al-Maliki melalui telaah tekstual terhadap Syaraf al-Ummah al-Muuammadiyyah, dengan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dan analisis isi untuk menunjukkan degradasi moral yang terjadi saat ini sebagai dampak dari era digital dan juga memberikan penjelasan dari perspektif abuya dalam bagaimana menyikapi adanya degradasi moral yang terjadi saat ini sebagai dampak dari era digital. BAHAN DAN METODE Penelitian ini mengadopsi pendekatan studi kepustakaan . ibrary researc. , dengan pengumpulan data yang bersumber dari berbagai literatur yang relevan. Sumber-sumber tersebut mencakup ayat-ayat AlQurAoan. Hadits, buku-buku referensi, artikel jurnal ilmiah, dokumen resmi, serta sumber digital yang dapat dipertanggungjawabkan (Hadi, 1. Khususnya yang berkaitan dengan pemikiran Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki. Penelitian ini mengumpulkan data deskriptif melalui kajian terhadap buku, jurnal, dan karya ilmiah lainnya yang menggambarkan pengalaman dan pandangan para tokoh. Data yang digunakan dibagi menjadi dua, yaitu data primer yang bersumber langsung dari karya Abuya seperti Syaraful Ummah Al-Muhammadiyyah, serta data sekunder berupa literatur pendukung lain yang mengkaji pendidikan spiritual dan perspektif Penggunaan dokumen pribadi sebagai personal document juga menjadi bagian penting untuk menggali lebih dalam makna dari teks yang Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan dan Studi kepustakaan mencakup pencarian, analisis, dan sintesis berbagai referensi dari perpustakaan dan database ilmiah, sedangkan dokumentasi digunakan untuk meneliti dokumen historis, baik berupa arsip, catatan, maupun karya monumental lain. Proses ini pengklasifikasian data sesuai dengan rumusan masalah. Selanjutnya, analisis data dilakukan melalui reduksi data dan content analysis untuk Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 818 (Rugayyah Alwi Assagga. Konsep Pendidikan Abuya Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam Menghadapi Degradasi Moral di Era Digital mengidentifikasi konsep dan tema utama yang relevan. Dengan pendekatan ini, penelitian bertujuan memahami keterkaitan antara ajaran Abuya dan pengembangan pendidikan spiritual melalui telaah mendalam terhadap teks-teks yang dipilih. HASIL DAN PEMBAHASAN Definisi Degradasi Moral Degradasi dapat diartikan sebagai penurunan derajat, pangkat, dan Degradasi juga biasa diartikan sebagai perubahan yang mengarah kepada kerusakan di muka bumi. Menurut Daryanto, degradasi adalah penurunan mutu atau kemerosotan kedudukan. Adapun degradasi yang dimaksudkan sebagai penurunan kualitas maupun kemerosotan moral (MaAorufah et al. , 2. Kata moralitas berasal dari kata latin mores. Mores sendiri berasal dari kata mos yang berarti kesusilaan, watak atau tingkah laku. Sjarkawi menyatakan moral adalah nilai kebaikan manusia sebagai manusia (Machmud, 2. Kaelan mengatakan bahwa moralitas adalah ajaran, saran, standar, kumpulan aturan lisan dan tertulis tentang bagaimana orang harus hidup dan bertindak untuk menjadi orang baik (Kaelan, 2. Dengan demikian Degradasi merupakan bentuk dari melemahnya suatu nilai budaya yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat yang mengarah pada terbentuknya benturan budaya baru. Moral merupakan perilaku yang memiliki kesesuaian dengan aturan yang berlaku di Menurut para ahli degradasi moral adalah perilaku individu atau kelompok yang dianggap sebagai penurunan nilai-nilai budaya karena menyimpang dari kebiasaan dan adat pada Masyarakat (Mulyatno, 2. Moral menurut Shaffer dinyatakan sebagai aturan norma dan pranata yang mampu mengatur perilaku individu dalam menjalani suatu hubungan dengan masyarakat. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia degradasi adalah kemunduran atau kemerosotan. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa degradasi moral adalah penurunan tingkah laku manusia akibat Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 819 (Rugayyah Alwi Assagga. Konsep Pendidikan Abuya Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam Menghadapi Degradasi Moral di Era Digital kurangnya kesadaran diri terhadap melakukan sosialisasi dengan lingkungan di Masyarakat (Hamid, 2. Dampak Degradasi Moral di Era Digital Sebagaimana kita sadari bahwa era digital membawa pengaruh terhadap kehidupan baik positif maupun negatif. Banyak hal positif yang ditunjukan pada era digital ini antara lain kemudahan akses informasi sehingga mudah didapat, memudahkan interaksi antar orang dengan orang lainnya meskipun berbeda waktu dan tempat, membuat orang semakin paham akan teknologi, diantara hal positif tersebut terdapat dampak negatif dari kemajuan teknologi pada era digital ini yang menyebabkan menurunnya norma-norma di masyarakat yang berakhir pada munculnya degradasi moral pada anak bangsa. Hal ini ditunjukkan dengan timbulnya dampak pada semua kalangan, dari yang muda hingga yang tua bahkan kepada berbagai kalangan baik itu usia remaja, pejabat publik, public figure, masyarakat biasa dan bahkan tokoh agama. Ditengah arus digitalisasi, degradasi moral melanda masyarakat akibat perkembangan zaman, secara khusus kaum milenial dalam lingkungan pendidikan remaja saat ini bukan hanya area sekolah saja. Remaja bisa dengan mudahnya membagi tubuh dan pikirannya seperti tubuhnya bisa saja di area sekolah tetapi pikirannya ada di dunia lain hanya sekedar melihat atau bahkan berinteraksi dengan menggunakan media teknologi (Muthohar, 2. Pakar psikologi asal kanada. Albert Bandura mengatakan bahwa anak akan membentuk perilakunya dari mencontoh dan meniru apa yang dilihat dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan demikian, sangat mungkin jika teknologi dengan segala isinya dapat memberikan pengaruh pada anak, baik pengaruh positif maupun negatif (Herawati & Rusmana, 2. Moral yang seharusnya menjadi pengendali dalam bertingkah laku kian hari kian terkikis oleh kemajuan Ilmu Pengetahuan dan teknologi (IPTEK) abad 21 (Suradarma, 2. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 820 (Rugayyah Alwi Assagga. Konsep Pendidikan Abuya Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam Menghadapi Degradasi Moral di Era Digital Masa muda dalam Al Quran digambarkan sebagai fase yang memiliki fisik yang kuat dan tangguh, dibandingkan dengan fase-fase sebelum dan sesudahnya. Hal tersebut dijelaskan dalam QS Ar-Rum ayat 54: yang artinya AuAllah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan . setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan . setelah kuat itu lemah . dan Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui. Maha KuasaAy. Peran anak muda dalam sejarah Islam yang sangat luar biasa digambarkan oleh sosok Muhammad al-Fatih. Muhammad al-Fatih adalah seorang sultan Kerajaan Utsmani. Di umur yang masih belia yaitu 23 tahun, berhasil menaklukkan Kekaisaran Romawi Timur yang telah berkuasa selama 11 abad. Masa remaja ialah masa-masa pencarian jati diri masa dimana pencarian sosok yang akan menjadi panutan dalam contoh bagaimana menjalani masa transisi menuju kedewasaan, dimana keingintahuan yang tinggi terhadap segala informasi didukung oleh kemajuan teknologi yang semakin maju pada era digital terkadang justru bukan hanya mendapatkan hal yang positif tetapi juga yang negatif karena kurangnya filter informasi. Semangat yang menggebu-gebu dalam melakukan suatu hal dan terkadang tidak memikirkan apakah yang dilakukannya adalah suatu hal yang benar sesuai dengan aturan agama dan masyarakat atau justru malah melanggar aturan yang berakhir pada kemerosotan moral dikalangan Begitu banyaknya para remaja melakukan penyimpanganpenyimpangan sosial seperti ketika sekolah datang terlambat, seragam sekolah yang tidak layak dipakai oleh seorang remaja, pergaulan bebas, mengonsumsi obat-obatan terlarang, minum-minuman keras, melakuan tawuran, membuat gank-gank antar kelompok, bahkan sampai melakukan Hal tersebut menunjukkan bahwa remaja mengalami degradasi moral. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 821 (Rugayyah Alwi Assagga. Konsep Pendidikan Abuya Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam Menghadapi Degradasi Moral di Era Digital Peran keluarga dan lembaga pendidikan sangat krusial dalam mencegah penurunan moral pada remaja. Keluarga berfungsi sebagai fondasi awal dalam membentuk karakter dan nilai-nilai remaja. Dengan memberikan dukungan emosional, pendidikan, dan pengawasan yang memadai, keluarga dapat membimbing remaja dalam menghadapi berbagai masalah dan tantangan sehari-hari. Selain itu, sekolah juga memiliki peran penting dalam membentuk moral remaja. Program rehabilitasi, pelatihan keterampilan, mentoring, dan kegiatan komunitas di sekolah dapat membantu remaja membuat pilihan yang positif. Melalui kerjasama antara keluarga, sekolah, dan lingkungan, masa depan remaja dapat dibentuk menjadi lebih stabil, memiliki pola pikir positif, dan penuh potensi (Bobyanti, 2. Konsep Pendidikan Abuya Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki dalam menghadapi Degradasi Moral Biografi singkat Prof. Sayyid Muhammad bin AoAlawi al-Maliki alHasani Prof. Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki (Abuy. adalah seorang ulama besar Ahlus Sunnah wal Jamaah dari Makkah yang dikenal sebagai ulama, cendekiawan dan pakar dalam berbagai disiplin ilmu Islam, terutama ilmu hadis dan tasawuf. Beliau lahir pada tahun 1365 H . 6 M) di Makkah, dalam keluarga yang dikenal sebagai penjaga tradisi keilmuan dan dakwah Islam. Ayahnya. Sayid Alwi bin Abbas al-Maliki, adalah seorang ulama besar di masjidil Haram. Abuya meneruskan jejak ayahnya dalam mengajar dan mendidik para ulama dari berbagai penjuru dunia di masjidil Haram. Beliau juga dikenal sebagai guru dari banyak ulama di Indonesia dan memiliki hubungan erat dengan pesantren-pesantren di Nusantara. Mayoritas murid beliau berasal dari Indonesia. Beliau wafat pada 15 Ramadhan tahun 1425, bertepatan dengan 30 Oktober 2004. Prestasi keilmuan Prof. Sayid al-Maliki cukup bersinar. Gelar doktornya diperoleh di Universitas al-Azhar Kairo dalam bidang hadis di Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 822 (Rugayyah Alwi Assagga. Konsep Pendidikan Abuya Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam Menghadapi Degradasi Moral di Era Digital usia yang sangat muda, 25 tahun. Tidak sampai dua tahun setelah kelulusan doktoral, beliau dikukuhkan sebagai guru besar (Profeso. dalam bidang ilmu hadis dan ushuluddin di Universitas Ummul Qura Makkah. Beliau kemudian mengundurkan diri, dan berkonsentrasi mengajar di Masjidil Haram dan di rumah beliau. Rusaifah. Menurut catatan beliau menulis karya sebanyak 100 kitab dalam bidang. akidah, hadis, ulumul quran, sirah, fiqih dan ushul fiqih (Hasib, 2. Perjalanan Studi Pendidikan pertamanya adalah madrasah Al-Falah. Makkah, dimana ayah beliau Sayyid Alawi sebagai guru agama di sekolah tersebut yang merangkap juga sebagai pengajar halaqoh di Masjidil Haram Mekkah. Abuya telah belajar ilmu Nahwu. Fiqh. Tafsir. Hadits dan Hifdzul QurAoan dari ayahnya dan beliau dididik dan diasuh sehingga menjadi seorang yang cerdas dan piawai dalam masalah masalah keagamaan. Beliau masyhur diantara kawan-kawannya dengan ketekunan, kebaikan dan akhlak yang Beliau juga belajar kepada ulama-ulama Mekkah terkemuka lainnya seperti Sayid Amin Kutbi. Hassan Masshat. Muhammad Nur Sayf Yamani dan lain-lain (Majelis Khoir Murottilil Quran Wattahfidh, 2. Sayyid Muhammad mendapatkan gelar Ph. D-nya dalam studi hadits dengan penghargaan tertinggi dari JamiAo Al-Azhar Mesir pada saat berusia dua puluh lima tahun. Kemudian pada usia 26 tahun, beliau dikukuhkan sebagai guru besar ilmu hadits pada Universitas Ummul Quro, beliau kemudian melakukan perjalanan dalam rangka mengejar studi hadits ke Afrika utara. Timur Tengah. Turki. Yaman dan juga anak benua Indo-Pakistan, dan memperoleh sertifikasi mengajar . dan sanad dari Imam Habib Ahmad Mashur Al-Haddad. Syaikh Hasanayn Makhluf. Ghumari bersaudara dari Maroko. Syaikh DyaAouddin Qodiri di Madinah. Maulana Zakaria Kandihlawi dan guru-guru yang lainnya. Sayyid Muhammad ketika berumur 15 tahun sudah mendapatkan ijazah penuh dari ayahnya mengenai ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadanya seperti ilmu nahwu, fiqh, tafsir dan hadits. Pada usia tujuh tahun. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 823 (Rugayyah Alwi Assagga. Konsep Pendidikan Abuya Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam Menghadapi Degradasi Moral di Era Digital beliau hafal Al-quran, kemudian pada usia lima belas tahun beliau hafal kitab Al-Muwao karya Imam Malik. Perjalanan menuntut ilmu yang dilakukan Sayyid Muuammad merupakan tradisi yang telah dilakukan oleh leluhur-leluhur beliau sejak dulu. Dengan mengunjungi para ulama dan belajar kepada mereka. Sayyid Muuammad mendapatkan banyak wawasan dan mengumpulkan banyak kitab langka dan manuskrip. Dari hal tersebut. Sayyid Muuammad mendapatkan banyak ijazah keilmuan dari 200 ulama. Guru-guru beliau yang paling mashur adalah yang sangat berpengaruh pada pemikiran beliau antara lain Ayah beliau Sayyid AoAlawy bin AoAbbAs al-MAliki. Shaikh Muuammad YahyA Aman al-Makki. Shaykh Muuammad Al-AoArabi al-TabbAni dan Shaikh Muuammad al-HAfidh al-TijAni, guru besar ilmu Hadis al-AzhAr. Degradasi Moral Sebagai Gejala Kemunduran Umat AuI IEEIIO EOI O ONEI AC AO OA OINI O O EAE OEEO E OA AIIO OA ENO O O O EOI OACO O O O EO EI IEOAA AO EINO I IEIE OIE OIO EO EI ON EOI uEEIA Abuya menegaskan bahwa kemunduran umat terjadi ketika: Umat Meninggalkan Agama Dan Syariat. Menurut pandangan Abuya, degradasi moral umat terjadi ketika menjauhi nilai-nilai agama, meninggalkan shalat, memakan riba, dan larut dalam syahwat, mengikuti petunjuk syaithan, terpecah belah, dan meninggalkan amar maAoruf nahi munkar. Era digital memperparah keadaan ini dengan marakanya: konten pornografi, normalisasi maksiat, hedonisme. Judol. Pinjol, dan gaya hidup instan. A O EA. AE EINI OEIOI O I IE NEE O I OE NEE AEO NEE EON OEIA AEINI E EONI EA EO EIO AIACO O IEO O EO AE EONI EEI AEA Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 824 (Rugayyah Alwi Assagga. Konsep Pendidikan Abuya Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam Menghadapi Degradasi Moral di Era Digital AEEI C CE OE O CI OE EO OO EA O IEIO OE O EOA AEI O IECA Permasalahan yang signifikan muncul ketika otoritas hukum maupun pemuka agama tidak lagi menunjukkan konsistensi dalam menegakkan prinsip-prinsip hukum Islam. Abuya menekankan bahwa sebagian besar ulama pada masa kini terjebak dalam ambisi duniawi sehingga kehilangan integritas moral, bahkan terjerumus dalam sikap munafik. Mereka cenderung menggunakan retorika yang manipulatif atau memilih diam ketika menghadapi kemungkaran, sehingga pada akhirnya berada di bawah dominasi para penguasa. Kondisi ini mengakibatkan hilangnya keberanian untuk menyuarakan kebenaran, runtuhnya batasan-batasan agama yang seharusnya ditegakkan, serta absennya sanksi terhadap pihak-pihak yang Lebih jauh, tidak terdapat reaksi yang memadai atas pelanggaran terhadap kehormatan dan kesucian agama. Ketika hal ini terjadi sesungguhnya mereka telah mengganti keadaan dari kebaikan menjadi keburukan dan Allah memberi kuasa atas mereka pihak-pihak yang tidak menyegani maupun kasih sayang terhadap mereka, karena Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum kecuali mereka sendiri yang lebih dahulu mengubah keadaan mereka. Apabila mereka kembali kepada manhaj . etode/jala. kebenaran, niscaya apa yang hilang dari mereka akan kembali, seandainya mereka mengimani janji Allah, niscaya kepercayaan akan kembali diberikan kepada mereka. Jika mereka menolong agama Allah, maka Allah akan menolong mereka, dan apabila mereka menepati amanat yang telah diwariskan, maka Allah sungguh akan menunaikan janji-Nya kepada mereka. Hilangnya Fungsi Amar Makruf Nahi Munkar Abuya menjelaskan bahwa ketika umat meninggalkan kewajiban amar maAoruf nahi munkar terlebih pada era digital, hal ini tampak pada: . pembiaran konten buruk, pelanggraran syariat besar-besaran, maraknya laki-laki bergaya seperti perempuan, istri melawan suami, anak berani menentang orang tua, kriminalisasi guru dan ulama dll. padahal setiap Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 825 (Rugayyah Alwi Assagga. Konsep Pendidikan Abuya Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam Menghadapi Degradasi Moral di Era Digital aktivitas dan postingan di media sosial memiliki konsekuensi dan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. Alih-alih berfungsi sebagai sarana amal jariyah yang mendatangkan pahala, konten-konten negative tersebut justru berpotensi menjadi sarana jariyah yang menimbulkan dosa. Rasulullah saw. telah mengingatkan dalam sabdanya: AOA AO OA AaI eI a acI OOA eO OA AA OI eIA e A aOAUAa aaNA e A Aa EaNa AUUAIaA a A I eI a eO a eI Oa eI aCAUa a aI eI aI aE aa a e aNA a AuE e aEI aIacU aA A aOaI eI a acI OA eOAUUAaoN eI aOA UA aE aI aEaeO ON OOe aaN aO OOe a aI eI a OI aE Oaa OI eI a e ONOAUUAuE e aEOI aIacU aOaA a AOA ) A ( ON IEIA. UAA OI eI eaOa OON eI a eOA a AI eI a eO a eI Oa eI aCA Artinya: AuBarangsiapa yang membuat sunnah hasanah dalam Islam maka dia akan memperoleh pahala dan pahala orang yang mengikutinya, dengan tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang membuat sunnah sayyiAoah dalam Islam maka ia akan mendapatkan dosa dan dosa orang yang mengikutinya, dengan tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun,Ay (HR Musli. Hadits ini sangat pantas kita renungkan terlebih di era digitalisasi yang sarat dengan kemudahan penyebaran kebaikan maupun keburukan. budaya komentar toxic, tertuang dalam Al-Quran dan Hadits bagaimana cara umat Islam untuk berhati-hati dalam berbicara terlebih dalam mengungkap dan mengomentari suatu fakta terlebih fitnah/hoak. era digital sisi positif dengan segala fasilitas kemudahan yang ditawarkan juga tidak dapat dipungkiri sisi negatif yang kian hari makin marak dengan mudahnya melontarkan kata-kata keji, hate comment, adu domba, fitnah hingga pembunuhan karakter. hilangnya kontrol sosial dan rasa malu, dimana algoritma dan viewer lah yang berkuasa mengalahkan rasa malu dan mengabaikan norma sosial budaya hingga agama. dalam beberapa Hadits Rasulullah saw. menyatakan bahwa tidak beriman orang yang tidak punya rasa malu, juga Allah tidak melihat pada penampilan seseorang baik fisik, harta, kedudukan Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 826 (Rugayyah Alwi Assagga. Konsep Pendidikan Abuya Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam Menghadapi Degradasi Moral di Era Digital terkenal atau tidak, yang Allah lihat adalah hati yang merupakan tempat tumbuhnya keimanan. Maka ketika umat meninggalkan amar maAoruf nahi munkar, umat akan mengalami kehancuran dan keruntuhan sebagaimana dalam ayat 79 dari surat Al-Maidah menerangkan bahwa salah satu alasan kenapa Allah tidak merahmati sebagian Bani Israil adalah karena mereka melecehkan kewajiban melarang orang lain berbuat kejahatan (Muthahhari, 1. AEIO E OINOI I IIE AEON E I EIO OAEOIA Artinya: AuMereka saling tidak melarang tindakan munkar apa pun yang mereka perbuatAy Pelaksanaan amar maAoruf nahi munkar memiliki landasan yang sangat kuat baik dalam Al-QurAoan maupun dalam al- Sunnah. Adapun nash Al-QurAoan yang memerintahkan menegakkan amar maAoruf nahi munkar sangat banyak, diantarnya: Pertama (Al-Ghazali, n. AOA AeEaeO OaOeIO aI OEeI OA AOA AE aN aIA a AOA aOOa eI aN eO aI a OI E aeII aE O o aOaOaEaOA ae a a a a e A aOEea aEI II aE eI acaIU Oa e aO aI uaEA AE aeI eAEO aO aIA Artinya: AuDan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang maAoruf dan mencegah dari yang munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Ay (QS. 3: . AOA ANI a OI EeII aE O O aOO acE aNEaI EacO OA e A aO aOa OaI aEaeO ON aIA a AeEaaOA a a e a AaO aeI aaNI OE aeI e aOA aOOa eI aNA a a Artinya: AuIa (Nab. menyuruh mereka mengerjakan yang maAoruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar, dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik-baik dan mengharamkan bagi mereka segala sesuatu yang jelek atau keji. Ay (QS. 199: . Adapun Sunnah-Sunnah yang menyatakan tentang amar maAoruf nahi munkar Juga amat banyak, di antaranya hadits-hadits yang terdapat dalam Al- Kutub al- Sittat seperti dikutip oleh Abuya Sayyid Muhammad dalam kitab At-Targhib wa-Attarhib pertama (Al-Maliki, n. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 827 (Rugayyah Alwi Assagga. Konsep Pendidikan Abuya Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam Menghadapi Degradasi Moral di Era Digital A EA OEA EO O A:ACEO OI C EOC O OE NEE CE AEO NEE EON OEIA AEEI OEI IEOA O EINO I IEIEA Artinya: AuMereka . ara sahaba. Apa sajakah hak jalan itu wahai Rasulullah? Nabi menjawab. menahan pandangan, meniadakan gangguan, menjawab salam, menyerukan yang maAoruf dan mencegah yang munkar. Ay (HR. Abu SaAoid Al- Khudri radiallahu Aoanhu . Amar maAoruf nahi munkar merupakan salah satu prinsip dalam manajemen dakwah dan kewajiban yang harus dijalankan oleh umat Islam. Kewajiban disini maksudnya, setiap umat Islam mempunyai tanggung pertanggungjawaban kelak terhadap apa yang diperintahkan Allah, yaitu tersebarnya ajaran Islam dan berkembangnya perbuatan maAoruf serta hilangnya segala bentuk kemungkaran di tengah kehidupan manusia (Ilyas. Dikuasi Musuh Akibat Lemahnya Iman Dan Tidak Menjaga Amanah Menurut Abuya umat ditundukkan oleh musuh ketika mereka meninggalkan amanah, kelurusan dan kebenaran. Padahal Allah Swt. Nabi Muhammad saw. Keistimewaan ini mencakup aspek-aspek kekhususan, kemuliaan, dan keunggulan yang tidak ditemukan dalam umat-umat Sebagian dari keistimewaan tersebut bersifat eksklusif bagi umat ini, sementara sebagian lainnya merupakan bentuk penyempurnaan dari anugerah yang pernah diberikan kepada umat sebelumnya. Dengan demikian, keunggulan umat Nabi Muhammad saw. tidak hanya terletak pada keberadaan keistimewaan itu sendiri, tetapi juga pada tingkat kelengkapan dan kesempurnaannya. Di atas fondasi inilah dibangun seluruh keutamaan dan kemuliaan yang menjadi ciri khas umat ini dalam sejarah peradaban Islam. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 828 (Rugayyah Alwi Assagga. Konsep Pendidikan Abuya Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam Menghadapi Degradasi Moral di Era Digital Diantara kekhususan umat ini adalah dijadikan sebaik-baiknya umat dengan nash Al-QurAoan: AOA Oa eI NO aI a OI EeII aE O Oa eOIIaO aI O acOA AOA A EOEI OA AacEEA e AO acaI s a e O aA e a a Aac a aeI aO aI OE aeI e aA a a a e A aEIa eI aA Artinya: AuKalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang maAoruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Ay (QS: Al-Imran:. Dan nash dari Sunnah (Hadit. AII OAOI IO I II ON OEIN EO NEE OEA Artinya: AuKalian mengungguli tujuh puluh umat . Di antara . kalian yang terbaik dan termulia dalam pandangan Allah Azza waJalla. Ay (Diriwayatkan oleh Ahmad. Turmudzl dan dinilai baik oleh Ibnu Maja. Pada prinsipnya setiap umat Islam terbebani dengan tugas amar maAoruf nahi munkar, akan tetapi beban tugas ini tergantung kepada kemampuan seseorang, maka fardu kifayah hukumnya bagi orang yang mampu untuk itu di kalangan mereka, dan farduAoin bagi seseorang yang memiliki kekuasaan, pengaruh, atau kedudukan, karena dalam amar maAoruf nahi munkar terdapat pendidikaan dan penekanan bagi masyarakat Islam, baik bagi kelompok-kelompok atau individu-individu untuk mempraktikkan perintah-perintah syaraAo dan menjauhkan dari yang diharamkan (Al-Syathiri. Allah Swt. menyebut dalam firman-Nya beberapa di antara sifat-sifat khairu ummah, yaitu menegakkan perintah berbuat kebajikan dan mencegah kemungkaran, yang wajib dilakukan oleh kaum khawas . dan kaum awam . yaitu dengan firman-Nya: AuKalian memerintahkan berbuat baik dan mencegah kemungkaranAy. Hal ini berkedudukan sebagai syarat bagi umat ini untuk dapat menjadi umat terbaik. AoUmar bin AlKhaththab ra. pada saat menunaikan ibadah haji, ia menyebut ayat: Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Kemudian ia berkata. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 829 (Rugayyah Alwi Assagga. Konsep Pendidikan Abuya Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam Menghadapi Degradasi Moral di Era Digital AuSiapa benar-benar ingin menjadi seorang dari umat terbaik hendaklah ia menunaikan persyaratan yang ditetapkan oleh Allah mengenai itu. Ay Sifat mulia ini disyaratkan pula oleh Rasulullah saw. dalam sebuah hadits masyhur: AE E A II IO NOI EO EC E ONI II EANI O aOO I NEEA Artinya: AuSelagi masih ada segolongan dari umatku yang teguh berpegang pada kebenaran, niscaya orang-orang yang menentang mereka tidak akan membahayakan mereka hingga saat datangnya ketentuan Allah. Ay Hari ini AumusuhAy dapat bertransformasi berupa: . arus globalisasi, melahirkan krisis akhlak dan moralitas akibat pengaruh budaya asing yang masuk melalui globalisasi yang menyebabkan pergeseran nilai dan krisis moral di kalangan umat Islam, seperti meningkatnya penyalahgunaan narkoba, perselingkuhan, kriminalitas, dan korupsi. kapitalisme digital. Kapitalisme digital memperluas logika kapitalisme klasik, tapi dengan penetrasi lebih halus karena ia bekerja melalui interaksi sehari-hari yang tampak AugratisAy namun sebenarnya penuh biaya tersembunyi . ata, privasi, . algoritma media sosial yang mengendalikan perilaku tanpa Algoritma bukan sekadar teknologi netral, melainkan instrumen ekonomi-politik. demi keuntungan platform, meski konsekuensinya adalah manipulasi perilaku dan degradasi kualitas demokrasi. Musuh-musuh Islam memanfaatkan peluang untuk menghancurkan umat Islam secara diam-diam namun konsisten. Mereka menggunakan berbagai media untuk melemahkan keyakinan para generasi millenial. Mereka gaungkan nilai-nilai sekularisme, liberalisme, dan atheisme, baik di bidang pendidikan, ekonomi, maupun hukum. Mereka bentuk mindset generasi millenial yang jauh dari Al-QurAoan dan As-Sunnah, agar agama tidak lagi menjadi pijakan dalam keseharian hidup mereka. Karena mereka meyakini bahwa Islam merupakan musuh terbesar dan tembok penghalang bagi mereka untuk menguasai dunia. Gladstone berkata. AuSelama AlQurAoan masih berada di hati umat Islam. Barat tidak akan bisa menguasai Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 830 (Rugayyah Alwi Assagga. Konsep Pendidikan Abuya Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam Menghadapi Degradasi Moral di Era Digital Timur, pun tak akan bisa merasakan ketenangan dan kedamaianAy (Al-Battar. Hal ini seperti firman Allah dalam QS At-Taubah . ayat 32: AuMereka hendak memadamkan cahaya . Allah dengan mulut . Allah menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukaiAy. Abuya menjelaskan bagaimana cara agar umat selamat dan mendapatkan pertolongan Allah untuk melawan musuh-musuhnya dan mengingatkan bahwasanya Allah telah menjamin kemenangan untuk umat dalam memerangi musuh-musuhnya selagi mereka berpegang teguh pada dua pokok amanah utama sesuai dengan diisyaratkan oleh Allah dalam AlQurAoan yang pertama: A IIOI NEEA: beriman kepada Allah Yang kedua: )A EO uaE eEO ( aIOI IEOA O INIOI I IEIEA: mengajak pada kebaikan Dua poin ini lah yang akan menyelamatkan umat dari serangan musuh yang menyebabkan degradasi moral khususnya di era digitalisasi sekaligus akan mengembalikan kejaayaan umat yang pernah diraih oleh para pendahulu yang shaleh serta memenangkan mereka dari tipu daya musuh Islam dari kalangan Yahudi dan sekutunya dengan syarat ikhlas beribadah kepada Allah dan mengamalkan sunnah-sunnah Nabi-Nya berpegang teguh pada ajaran-ajaran yang telah ditetapkan dalam kitab-Nya serta mempersiapkan persiapan yang matang untuk menyongsong peradaban masa depan agar tidak tertipu dan terperangkap dalam serangan-serangan musuh-musuh Islam. Konsep Pendidikan Menurut Abuya dalam Menghadapi Degradasi Moral Ada empat fondasi pendidikan yang sangat jelas menonjol dalam pemikiran Abuya untuk mencegah kerusakan umat. Pendidikan Iman sebagai Pondasi Moral Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 831 (Rugayyah Alwi Assagga. Konsep Pendidikan Abuya Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam Menghadapi Degradasi Moral di Era Digital Abuya menekankan bahwa kemenangan hanya datang bagi: AuA AyEOI IIO NEEAyaitu yang iman mereka benar dan kokoh. Dalam konteks Pendidikan modern: menanamkan aqidah sejak dini, memperkuat spiritualitas di tengah distraksi digital, menghidupkan dzikir, tadabbur, dan ibadah. Era digital membutuhkan detox spiritual agar hati tidak mati. Pendidikan Akhlak Berbasis Amar MaAoruf Nahi Munkar Abuya menyebut bahwa umat menjadi umat terbaik karena: "A"aIOI IEOA OINOI I IEIEA Ini adalah konsep inti pendidikan akhlak di era digital: literasi digital harus dirangkai dengan literasi akhlak, siswa diajari adab bermedia, kewajiban mengingatkan teman dari konten merusak, bukan hanya diam. Abuya menyatakan bahwa ketika amar maAoruf nahi munkar hilang. AuAAyNEEOA . ereka hancu. Ini adalah peringatan keras terhadap pendidikan tanpa Pendidikan Tanggung Jawab dan Amanah Abuya menggambarkan keruntuhan umat sebagai akibat: hilangnya amanah, ketidak jujuran, dan lemahnya kontrol diri. Di era digital: hoaks, identitas merupakan bentuk kegagalan amanah. Pendidikan menurut Abuya harus mengembalikan: kontrol moral, kejujuran, adab terhadap sesama. Pendidikan Kesadaran Umat sebagai Khairu Ummah Abuya mengutip: AuA AyEII O IAdan menjelaskan sifat-sifat umat terbaik. Artinya pendidikan harus membangun kesadaran bahwa: umat Islam memiliki misi, generasi muslim harus menjadi teladan di tengah kegelapan digital, bukan sekadar konsumen teknologi, tetapi pemimpin moral dalam Menurut Abuya, tiga unsur ini bukan sekadar ritual. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 832 (Rugayyah Alwi Assagga. Konsep Pendidikan Abuya Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam Menghadapi Degradasi Moral di Era Digital melainkan identitas pendidikan umat Islam yang membentuk kesadaran moral, sosial, dan spiritual. Filsafat pendidikan yang dapat ditarik dari sini adalah bahwa pendidikan Islam harus melahirkan manusia yang mampu memperbaiki diri dan masyarakat, bukan hanya berorientasi pada pengetahuan. Konsep khairu ummah menjadi identitas pendidikan moral. Kebangkitan Umat di Era Digital Menurut Abuya, kebangkitan akan terjadi bila dua syarat terpenuhi: Iman yang benar Kembali kepada tauhid yang lurus adalah sumber kekuatan moral. Amar maAoruf nahi munkar yang ditegakkan Inilah benteng terakhir terhadap: arus liberalisme, dekadensi digital, normalisasi maksiat di internet. Abuya menekankan bahwa tugas amar maAoruf nahi munkar adalah ciri kenabian yang diwariskan kepada umat Nabi Muhammad. Maka pendidikan yang ideal adalah pendidikan profetik, pendidikan yang meniru misi para nabi: . membangun akhlak, . menegakkan kebenaran . menghilangkan kemunkaran, . memberi rahmat bagi masyarakat. Ini berarti dalam pandangan Abuya, pendidikan Islam bukan hanya mengajarkan materi, tetapi menghidupkan misi kenabian di tengah umat. Pendidikan modern harus mengintegrasikan konsep ini: kurikulum spiritualAemoral, program pembinaan karakter digital, lingkungan pendidikan yang menghidupkan nasihat dan kontrol sosial. Kesadaran Kolektif sebagai Pilar Pendidikan Umat Abuya menafsirkan Auukhrijat li al-nAsAy . ikeluarkan untuk manusi. bahwa umat Islam harus menjadi agen transformasi sosial. Ini relevan sekali dengan filsafat pendidikan Islam: pendidikan tidak berhenti pada individu, tetapi diarahkan untuk perubahan masyarakat, melalui nilai, etika, dan keteladanan. Dengan demikian, menurut al-Maliki, umat terbaik bukan karena jumlahnya, tetapi karena kontribusinya bagi perbaikan sosial. Amar MaAoruf Nahi Munkar sebagai Kurikulum Pendidikan Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 833 (Rugayyah Alwi Assagga. Konsep Pendidikan Abuya Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam Menghadapi Degradasi Moral di Era Digital Abuya menyatakan bahwa pendidikan umat terbaik mencakup: mengajarkan kebaikan, mencegah kemungkaran, menegakkan iman. Ini menunjukkan bahwa dalam perspektif Abuya, kurikulum pendidikan Islam harus mencakup: . Pendidikan Akhlak (Ethical Educatio. Berbasis pada nilai-nilai QurAoani tentang kebaikan. Pendidikan Sosial (Social Responsibilit. Mendorong peserta didik menjadi agen perubahan. Pendidikan Keimanan (Spiritual Consciousnes. Menguatkan hubungan vertikal dengan Allah sebagai energi moral. Fungsi Kepemimpinan Umat dalam Pendidikan Umat terbaik harus memiliki: . keberanian moral, . komitmen terhadap kebenaran, . ketegasan dalam menegakkan nilai. Dalam filsafat pendidikan Islam, hal ini membentuk pendidikan kepemimpinan profetik, yaitu: . pemimpin yang berakhlak, . berani menegakkan kebenaran, . membawa masyarakat pada perbaikan. Ini sangat relevan dalam konteks dunia pendidikan pesantren, sekolah, maupun lembaga sosial. Pendidikan Berbasis Keteladanan (Uwah Hasana. Abuya mengutip hadits Nabi dan atsar sahabat bahwa identitas umat terbaik tampak melalui amal dan keteladanan, bukan hanya teori. Berarti pendidikan harus menekankan: praktik nyata, akhlak guru, budaya sekolah/pesantren. Inilah yang disebut taAodb . embentukan ada. yang merupakan inti pendidikan Islam dalam pandangan ulama Internasional seperti Abuya Muhammad Alawi al-Maliki. Relevansi Pemikiran Abuya bagi Era Digital Pemikiran Abuya sangat relevan karena: a. Menawarkan solusi moral, bukan sekadar teknis. Digitalisasi bukan hanya soal teknologi, tetapi krisis nilai. Menekankan peran guru sebagai pewaris nabi. Guru di era digital harus menjadi: teladan, pengarah, penjaga moralitas generasi. Mengembalikan pendidikan pada misi perbaikan umat. Karena hakikat Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 834 (Rugayyah Alwi Assagga. Konsep Pendidikan Abuya Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam Menghadapi Degradasi Moral di Era Digital degradasi digital adalah degradasi akhlak, bukan hanya degradasi Melalui pembahasan mendalam dalam jurnal ini, kita dapat menyimpulkan beberapa poin penting: Multifaktor Penyebab: Degradasi moral tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan hasil dari interaksi berbagai aspek seperti perubahan sosial, kemajuan teknologi, pergeseran nilai keluarga, dan pengaruh globalisasi. Dampak Luas: Fenomena ini berdampak pada berbagai aspek kehidupan, mulai dari tingkat individu hingga tatanan sosial yang lebih luas, termasuk stabilitas politik, pendidikan dan ekonomi suatu negara. Pendekatan Holistik: Mengatasi degradasi moral membutuhkan pendekatan yang komprehensif, melibatkan peran aktif keluarga, lembaga pendidikan, institusi keagamaan, pemerintah, dan masyarakat sipil. Pentingnya Pendidikan Karakter: Penguatan pendidikan karakter, baik di lingkungan formal maupun informal, menjadi kunci dalam membentuk generasi yang memiliki integritas moral yang kuat. Adaptasi di Era Digital: Diperlukan strategi khusus untuk menghadapi tantangan moral di era digital, termasuk literasi digital, penggunaan teknologi secara bijak, dan pemanfaatan media baru untuk menyebarkan nilai-nilai positif. Revitalisasi Nilai Agama dan Budaya: Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ajaran agama dan kearifan lokal perlu direvitalisasi dan diintegrasikan dalam kehidupan modern sebagai benteng moral. Peran Individu: Setiap individu memiliki tanggung jawab untuk menjaga integritas moral pribadi dan berkontribusi dalam menciptakan lingkungan sosial yang positif. Kerjasama Lintas Sektor: Diperlukan sinergi antara berbagai pihak, termasuk pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat sipil dalam upaya mengatasi degradasi moral secara sistematis. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 835 (Rugayyah Alwi Assagga. Konsep Pendidikan Abuya Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam Menghadapi Degradasi Moral di Era Digital . Evaluasi Berkelanjutan: Penting untuk terus melakukan evaluasi dan penyesuaian strategi dalam menghadapi perubahan dinamika sosial dan tantangan moral yang terus berkembang. Optimisme dan Aksi Nyata: Meskipun tantangan degradasi moral tampak berat, dengan komitmen bersama dan tindakan nyata, masih ada harapan untuk membangun masyarakat yang berintegritas dan bermoral Pada akhirnya, upaya mengatasi degradasi moral adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Diperlukan kesadaran kolektif dan tindakan konkret dari setiap individu, keluarga, dan institusi untuk menciptakan perubahan positif. Dengan memahami akar permasalahan, mengimplementasikan solusi yang tepat, dan terus beradaptasi dengan tantangan zaman, kita dapat berharap untuk membangun fondasi moral yang kuat bagi generasi mendatang. Hanya dengan demikian, kita dapat mewujudkan masyarakat yang tidak hanya maju secara teknologi dan ekonomi, tetapi juga unggul dalam karakter dan integritas moral. Kesimpulan Pendidikan menurut Abuya bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan, melainkan juga pembinaan akhlak dan spiritualitas. Dengan menekankan nilai-nilai agama, pendidikan diarahkan untuk membentuk manusia yang berkarakter, berilmu, dan berakhlak mulia sehingga mampu menjaga keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan moralitas dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, fenomena degradasi moral yang terjadi di masyarakat modern menunjukkan adanya kelemahan dalam sistem pendidikan yang kurang menekankan aspek nilai dan akhlak. Oleh karena itu, penerapan konsep pendidikan Abuya menjadi solusi penting untuk mengatasi krisis moral, melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga memiliki integritas, tanggung jawab, dan jati diri yang kuat dalam menghadapi tantangan zaman. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 836 (Rugayyah Alwi Assagga. Konsep Pendidikan Abuya Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam Menghadapi Degradasi Moral di Era Digital Referensi