Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. 2 No. Bulan Oktober Tahun 2022 ISSN: e 2776-785X Upaya Pembentukan Kepribadian Islami Santri Anak Usia Dini di Rumah Tahfidz Al-Fikri Kebun Bunga Permai Kota Palembang Andini Sarina1A. Yanti Karmila Nengsih2 1,2 Pendidikan Masyarakat. Universitas Sriwijaya Email : andinisarina1999@gmail. com1 , yantikarmila@gmail. Article history: Received: 2022-07-25 Revised: 2022-07-29 Accepted: 2022-10-29 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan upaya pembentukan keperibadian islami santri anak usia dini di Rumah Tahfidz Al-Fikri Kebun Bunga Permai Kota Palembang. Jenis penelitian ini deskriptif dengan pendekatan kualitatif, dan teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara, observasi dan Adapun subjek pada penelitian ini adalah ketua pengurus yayasan Tahfidz Al-Fikri, ustadz dan ustadzah, orang tua santri dan santri. Hasil penelitian menunjukan bahwa pembentukan kepribadian islami santri anak usia dini di Tahfidz Al-Fikri dilakukan dengan menanamkan Pendidikan Agama Islam yang baik kepada santri melalui beberapa cara yaitu dengan pemberian pendidikan nilai, latihan, metode pemberian contoh . , dan metode pembiasaan. Melalui cara dan metode pembentukan kepribadian islami tersebut maka terbentuk pribadi santri anak usia dini di Tahfidz Al-Fikri yaitu sopan dan taat aturan, rajin, jujur, disiplin waktu dan tertib belajar, rapi dan bersih, bisa membaca, menulis huruf hijayyah dan hafal doa sehari-hari, bisa melaksanakan shalat, paham pendidikan agama islam, dan mampu berkomunikasi dengan baik. Kata kunci : Pembentukan. Kepribadian islami. Santri. Anak Usia Dini. ABSTRACT This study aims to describe efforts to establish Islamic personality for early childhood students at the Tahfidz Al-Fikri House. Permai Flower Garden. Palembang City. This type of research is descriptive with a qualitative approach, and data collection techniques are carried out by interview, observation and documentation methods. The subjects in this study were the chairman of the board of the Tahfidz Al-Fikri foundation, ustadz and ustadzah, parents of students and students. The results showed that the formation of the Islamic personality of early childhood students in Tahfidz Al-Fikri was carried out by instilling good Islamic Religious Education in students through several ways, namely providing value education, exercises, methods of giving examples . , and habituation methods. Through this method of forming an Islamic personality, the personality of early childhood students in Tahfidz Al-Fikri is formed, namely polite and obeying the rules, diligent, honest, time discipline and orderly learning, neat and clean, able to read, write hijayyah letters and memorize daily prayers, can carry out prayers, understand Islamic religious education, and are able to communicate well. Keywords : Formation. Islamic personality. Santri. Early Childhood. UPAYA PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ISLAMI SANTRI ANAK USIA DINI DI RUMAH TAHFIDZ AL-FIKRI KEBUN BUNGA PERMAI KOTA PALEMBANG Andini Sarina1A. Yanti Karmila Nengsih2 PENDAHULUAN Manusia adalah makhluk yang telah diberikan oleh Allah SWT dengan sifat baik dan sifat Sekaligus manusia memiliki sejumlah potensi atau kemampuan di dalam dirinya sebagai anugerah yang diberikan oleh Allah SWT. Sehingga untuk mengembangkan potensi tersebut manusia memerlukan pendidikan (Yuliana, 2. Pendidikan merupakan cara pengembangan potensi yang dimiliki oleh manusia. Pendidikan menjadi media bagi pemuliaan manusia dengan berkembanganya kemampuan yang dimiliki manusia ( Suryana, 2. Pendidikan merupakan salah satu cara membentuk kepribadian anak melalui lingkungan belajar yaitu misalnya dengan memberikan pengetahuan tentang keagamaan. Menurut Jalaluddin dalam ( Yuliana, 2. pengenalan agama sejak dini sangat berpengaruh dalam pembentukan kesadaran dan pengalaman agama pada anak akan membentuk budi pekerti, perasaan, cita rasa dan kepribadian positif yang sangat penting bagi kehidupan anak selanjutnya baik secara personal maupun interpersonal. Menurut Sjarkawi . , kepribadian personality adalah sifat dan tingkah laku khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain. Integrasi karakteristik dari struktur, pola tingkah laku, minat, pendirian, kemampuan dan potensi yang dimiliki seseorang. Kepribadian adalah seluruh sikap, ekspresi, perasaan, tempramen, ciri khas, dan juga perilaku seseorang. Kepribadian bersifat dinamis atau berubah sesuai dengan kematangan tertentu. Kepribadian akan berkembang pesat pada masa anak usia dini, karena mereka masih belum memiliki kepribadian yang matang, yaitu masa pembentukan kepribadian. Maka perlu adanya pembentukan kepribadian dan penanaman nilai-nilai akhlak dan nilai agama pada diri anak, salah satunya dengan membiasakan anak beramal sholih dan mempelajari ilmu agama serta taat beribadah kepada Tuhan. Anak usia dini adalah sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan pesat dan fundamental bagi kehidupan selanjutnya. Pada usia tersebut anak-akan mulai melompat, berlari, dan bermain sepanjang hari, anak-akan sibuk memahami dan mengenal apa yang belum dia mengerti, dunia kecilnya meluas dengan bertambahnya tempat dan orang-orang baru. Proses pembelajaran sebagai bentuk perlakuan yang diberikan pada anak harus memperhatikan karakteristik yang dimiliki setiap tahapan perkembangan anak (Yuliani, 2. Berdasarkan pasal 1 UU Sisdiknas tahun 2003 dalam (Mayenti, 2. menyatakan di antara tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan ahlak mulia. berdasarkan undang-undang ini, kita dapat menemukan bahwa garis besar dari tujuan pendidikan nasional adalah selain mencerdaskan peserta, juga terciptanya kepribadian baik peserta didik yang beriman, mandiri, dan berahlak mulia. Jika demikian, dengan melihat projek-projek dunia pendidikan saat ini, bisa dikatakan sistem pendidikan nasional sudah gagal memenuhi tujuan undang-undang tersebut. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ameliola, dkk . dikutip pada New York Times, dan dibahas dalam jurnal penelitian Mayenti . mengenai sebuah kasus seorang anak yang ketergantungan pada iPad. Anak tersebut sibuk dengan iPadnya sehingga timbul kepribadian yang individualis dan sulit bergaul dengan orang sekitarnya. Selain itu dalam jurnal penelitian Chusna . dikutip dari hasil seminar yang berjudul AuPengaruh Gadget Terhadap Perkembangan AnakAy, 127 | P a g e Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. 2 No. Bulan Oktober Tahun 2022 ISSN e 2776-785X dijelaskan bahwa perilaku anak sekarang harus menjadi perhatian guru dan orang tua, penggunaan gadget bagi anak harus diwaspadai karena menimbulkan dampak negatif, karena tidak semua yang anak lihat di media sosial baik dan boleh diterima dan dilakukan, anak suka meniru apa yang ia lihat atau tonton dari akun media sosial yang dibuka, seperti meniru ucapan dan perilaku yang ia lihat, hal ini dapat merusak karakter dan pribadi anak. Anak menjadi terbiasa berbicara kasar, tidak sopan, dan sulit menerima pelajaran ketika di kelas, yakni anak menjadi tidak suka bergaul dan bermain di luar rumah bersama teman sebayanya, anak berani berbohong dan curi-curi kesempatan bermain game, mengganggu kesehatan dan perkembangan otak pada anak. Mengenai hasil penelitian tersebut dapat kita ketahui bahwa seiring berkembangnya zaman dan majunya teknologi modern, lingkungan bermain anak sudah berbeda dan semakin canggih, dan kepribadian anak akan terbentuk mengikuti apa yang sering ia lihat dan pelajari setiap harinya. Hilangnya karakter dan sifat pribadi yang baik pada anak disebabkan oleh beragam hal, salah satunya salah pergaulan, salah pendidikan atau kurang bimbingan yang diberikan orang tua dan keluarga di lingkungan kecilnya, bebasnya penggunaan media sosial sehingga anak bisa membuka tayangantanyangan video dan foto yang dapat merusak kepribadian pada anak. Oleh karenanya orang tua harus memahami bagaimana cara agar anak agar terhindar dari perilaku-perilaku menyimpang tersebut dengan cara penanaman nilai-nilai akhlak dan kepribadian yang benar melalui pendidikan Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di Rumah Tahfidz Al Fikri saat melakukan survey tempat penelitian, peneliti dapat melihat bahwa santri usia dini di Rumah Tahfidz Al-Fikri memiliki sifat dan kepribadian yang baik, hal ini bertentangan dengan yang dilakukan oleh anak usia dini yang pada umumnya cenderung suka bermain, sibuk dengan dunia fantasinya dan sulit untuk Santri usia dini di Rumah Tahfidz Al-Fikri dimulai dari usia 5 sampai 8 tahun, yang mana santrinya memiliki sifat kepribadian yang sopan, disiplin waktu dan kegiatan, mampu berkomunikasi dengan baik bersama teman sebayanya maupun yang lebih tua, memahami ilmu agama seperti bisa membaca huruf hijayyah dengan baik, bisa melaksanakan shalat, mampu menghafal doAoa pendek, dan mengerti pada aturan ketika belajar di kelas. Rumah Tahfiz Al-Fikri merupakan sebuah lembaga dakwah untuk membaca dan menghafal Al-QurAoan yang berada di Komplek Kebun Bunga Permai Kota Palembang Sumatera Selatan. Penanaman nilai agama di sini menajdi prioritas utama dalam pembelajaran. Materi agama disampaikan secara struktur dan sistematis mengikuti dengan kebutuhan santri sesuai dengan tahapan Selain fokus dalam hal membaca dan menghafal Al-QurAoan, di Rumah Tahfiz Al Fikri ini juga memperhatikan dari segi kepribadian santrinya. Berdasarkan hasil uraian di atas, peneliti tertarik untuk mempelajari atau mengkaji lebih jauh tentang upaya-upaya pembentukan kepribadian yang meliputi kepribadian islami anak, sifat, sikap, pola pikir dan emosi santri di Rumah Tahfiz Al-Fikri, khususnya kepribadian anak usia dini . Page 128 of 12 UPAYA PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ISLAMI SANTRI ANAK USIA DINI DI RUMAH TAHFIDZ AL-FIKRI KEBUN BUNGA PERMAI KOTA PALEMBANG Andini Sarina1A. Yanti Karmila Nengsih2 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan jenis metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif ini diarahkan untuk mendeskripsikan dan menganalisis secara mendalam tentang upaya pembentukan kepribadian islami santri anak usia dini di Rumah Tahfidz Al-Fikri Kebun Bunga Permai Kota Palembang yang meliputi sikap, perilaku, pribadi, pola pikir santri. Adapun pengumpulan data yang dilakukan secara langsung di lokasi penelitian, yang mana ditunjukkan untuk menganalisis dan menyajikan keadaan yang sebenarnya terjadi di lokasi penelitian. Langkah-langkah yang digunakan peneliti untuk memperoleh data atau informasi yang dibutuhkan dalam merealisasikan penelitian ini, yaitu dengan cara wawancara, observasi dan Wawancara yang dilakukan adalah dengan 7 orang subjek penelitian yaitu ketua Yayasan Tahfidz Al-Fikri, ustadz dan ustadzah, orang tua santri dan santri. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis yang bersifat kualitatif dengan deskriptif analisis. Analisis ini digunakan untuk mengungkap hasil penelitian yang berkenaan dengan upaya pembentukan kepribadian islami santri anak usia dini di Rumah Tahfidz Al-Fikri Kebun Bunga Kota Palembang. Proses analisis data tersebut dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data melalui beberapa tahapan mulai dari proses pengumpuan data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi atau penarikan kesimpulan. Adapun sumber data yang diperoleh peneliti dalam penelitian ini yaitu melalui data primer dan data sekunder. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan upaya-upaya yang dilakukan oleh Lembaga Rumah Tahfidz Al-Fikri khususnya oleh para tenaga pengajar dalam upaya pembentukan kepribadian islami santri anak usia dini. Hasil penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara dan Subjek pada penelitian ini berjumlah 7 orang yaitu ketua pengurus Yayasan Tahfidz Al-Fikri, ustadz dan ustadzah, orang tua santri dan santri. Adapun hasil yang diperoleh peneliti dalam penelitian ini berdasarkan indikator yang telah ditentukan, yaitu pemberian pendidikan nilai . , latihan . , metode pemberian contoh ( telada. dan metode pembiasaan. Selanjutnya diuraikan sebagai berikut: Pendidikan nilai ( Valu. Membentuk kepribadian santri dan memberikan pendidikan agama harus menggunakan cara yang baik dan menarik agar anak tidak bosan ketika menerima materi yang di sampaikan. Oleh karenanya ustadz dan ustadzah menggunakan cara dengan memberikan ceramah dan cerita kisahkisah islami tentang Nabi, sahabat dan kisah tauladan lainnya. Adapun ceramah-ceramah yang disampaikan kepada santri, yaitu tentang bagaimana tentang adab yang baik, perbuatan yang baik dan buruk, bagaimana cara menghormati orang tua, guru dan saudara, tentang siksa neraka dan azab, ceramah tentang larangan berbuat dzolim dan maksiat, larangan mencuri, larang berbohong, tidak boleh durhaka kepada orang tua dan guru, dan lain sebagainya. 129 | P a g e Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. 2 No. Bulan Oktober Tahun 2022 ISSN e 2776-785X Seperti yang dikatakan oleh Ustadzah SL pada 14 juni 2022 : Au Dalam materi pembelajaran setiap kelas berbeda-beda dan metode yang digunakan juga berbeda-beda. Materi dan metode pembelajaran diberikan sesuai dengan usia dan kemampuan tanggap anak. Adapun ceramah yang di sampaikan kepada anak-anak tidak seperti kita menyampaikannya kepada orang dewasa, materi ceramah disampaikan secara singkat dan mudah dipahami anak. Ceramah disampaikan bertujuan untuk memotivasi anak dan membuat anak tahu mana yang baik dan tidak baik, dan tahu mana yang harus dilakukan serta tidak boleh dilakukan dan perbuatan ini bisa tertanam dalam ingatan anak dan bisa membentuk kepribadian anak menjadi lebih baik dan paham ajaran agama islam yang benar. Ay Pernyataan yang serupa juga disampaikan oleh ketua pengurus Yayasan Al-Fikri Ibu SF pada 12 juni 2022, yaitu: Au Metode dan cara pembelajaran mengaji dilakukan sesuai dengan tahap pemahaman santri dan juga kemampuan santri. Metode yang digunakan kadang berubah-ubah, kalau metode satu tidak memberikan hasil yang baik terhadap hasil belajar santri, maka akan digunakan metode lain. Ay Sebelum memulai mengaji dan belajar di kelas masing-masing, setiap sesi anak-anak akan disuguhkan cerita-cerita islami tentang nabi, sahabat, dan kisah tauladan lainnya. Adapun kisah-kisah yang diceritkan kepada santri adalah kisah tentang Nabi Nuh AS. Nabi Musa AS. Nabi Daud AS. Nabi Ibrahim AS. Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Kisah-kisah disampaikan kepada santri agar mereka bisa mencontoh nilai-nilai positif yang ada pada cerita, bisa menjadikan cerita tersebut teladan dan juga motivasi untuk berbuat baik. Selain kegiatan mengaji di Tahfidz Al-Fikri juga sering melakukan kegiatan-kegiatan lain, jenis kegaiatan ada yang bersifat rutin yaitu kegiatan santri kader setiap hari jumat malam dan kegiatan SSA ( Santri Sabtu Aha. yang hanya diperuntukan bagi santri yang berusia 11 tahun keatas. Kegiatan yang bersifat tidak rutin ( sewaktu-wakt. , seperti mengadakan kegiatan memperingati harihari besar islam, acara yang dilakukan bermacam-macam, biasanya diadakan lomba-lomba Melalui pengamatan yang dilakukan oleh peneliti pada jumat 10 juni 2022, santri Al-Fikri yang sudah besar dan berusia belasan tahun datang pada sore hari ke Tahfidz, mereka melakukan kegiatan pembacaan surah Yasin dan pengiriman doa atas nama-nama yang sudah dicatat dikertas Kegiatan dimulai sebelum magrib, kemudian melakukan shalat magrib berjamaan, setelah itu mereka akan membuat barisan untuk mengaji, setelah mengaji biasanya santri akan menyantap makanan bersama yang diperoleh dari infaq wali santri itu sendiri. Dijelaskan bahwa pendidikan nilai . sangat penting bagi seseorang apalagi saat masih berusia dini. Pendidikan dilakukan untuk penanaman nilai-nilai karaker baik. Pembentukan kepribadian dalam islam diawali sejak anak berada dalam kandungan. Hal ini dilakukan dengan membacakan ayat-ayat suci dalam Al-QurAoan, shalawat dan ibu berperilaku yang baik seperti sabar, menahan emosi, rajin beribadah, dan berbuat baik kepada orang lain. Masa anak usia dini adalah masa peka, anak akan mudah menyerap berbagai informasi. Stimulasi penanaman nilai dapat Page 130 of 12 UPAYA PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ISLAMI SANTRI ANAK USIA DINI DI RUMAH TAHFIDZ AL-FIKRI KEBUN BUNGA PERMAI KOTA PALEMBANG Andini Sarina1A. Yanti Karmila Nengsih2 dilakukan dengan melalui metode bermain, bercerita, bernyanyi yang menyenangkan sehingga anak dapat menerima dengan baik tidak merupakan suatu paksaan dan sesuai dengan masa tumbuh kembang anak ( Setiyowati, 2. Latihan (Trainin. Mengajari santri untuk bisa mengingat dan memahami apa yang ustadz dan ustadzah ajarkan harus banyak melakukan latihan atau praktek. Karena hanya dengan memberi materi saja santri belum tentu paham bagaimana bentuk pengaplikasiannya. Jadi harus ada latihan-latihan atau praktek langsung yang diajarkan kepada santri agar mereka tahu. Seperti yang dijelaskan oleh Pengurus Yayasan Ibu SF pada 12 Juni 2022, bahwa: Au Ada waktu khusus yang disediakan bagi setiap kelas untuk mengulang-ulang materi yang telah Biasanya hari jumat santri akan bergilir untuk melakukan praktek wudhu dan itu langsung dibimbing satu-satu oleh ustadz dan ustadzahnya. Ay Hal yang serupa juga disampaikan oleh ustadzah SL pada 14 Juni 2022, yaitu: Au Setiap jumat setiap kelas itu akan digabungkan, nanti setiap ustadz atau ustadzah itu bergilir membimbing santri, kadang kami membuat kelompok kecil dalam bentuk lingkaran. Hari itu kami khusus mengulang doa-doa dan membenarkan bacaan surah pendek santri dan juga belajar bacaan shalat beserta gerakannya. Ay Selain mengajari santri untuk mengambil wudhu ustadz dan ustadzah juga mengajari santri tata cara shalat yang benar. Bacaan santri akan dibimbing mulai dari niat shalat, bacaan shalat hingga Setelah itu santri akan diajari membaca doa setelah shalat. Bacaan doa setelah shalat sudah disediakan oleh Rumah Tahfidz AL-Fikri dan dicetak, jadi akan memudahkan santri untuk belajar. Bagi santri usia dini yang belum bisa membaca maka akan dibantu melalui pelafalan secara lisan. Seperti yang dikatakan ustadzah SL pada 14 juni 2022: Au Setiap sesi kelas dan pelajaran kegiatan akan dimulai dengan praktek shalat terlebih dahulu. Hal ini sebagai bentuk latihan bagi anak-anak agar nanti terbiasa dengan gerakannya hingga hafal. Ay Hal yang serupa juga disampaikan oleh wali santri Ibu S pada 15 Juni 2022: Au Kalau di rumah kami sering melakukan shalat berjamaah, jadi anak saya kan sering ikut memang sengaja kami ajak sebagai latihan biar nanti terbiasa. Apalagi sekarang sudah belajar mengaji di sini jadi saat mau shalat tidak susah lagi untuk mengajaknya, dianya langsung mau sendiri. Ay Selain melatih santri dalam sikap spiritualnya tenaga pengajar juga melatih santri dalam sikap sosialnya, seperti belajar berbagi sesama teman sekelasnya, sikap tolong menolong dan saling Seperti yang disampaikan oleh Ustadz MR pada 17 Juni 2022, yaitu: Au Santri yang mengaji di Al-Fikri ini memiliki latar belakang keluarga yang berbeda-beda, ada yang keluarganya orang punya ada juga yang bisa dikatakan berkecukupan bahkan kekurangan. Oleh karenanya kami selalu menyampaiakn kepada santri untuk tidak boleh saling mengejek atau mengatai temannya, karna takut anaknya minder dan malu untuk bermain bersama yang lain. Ay Selain itu juga santri dilatih untuk menjaga kebersihan kelas, santri akan diminta untuk membuang sampah pada tempatnya dan diperbolehkan izin keluar untuk membuang sampah pada saat jam 131 | P a g e Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. 2 No. Bulan Oktober Tahun 2022 ISSN e 2776-785X Selain dilatih untuk menjaga kebersihan santri juga dilatih untuk saling membantu. Seperti yang dikatakan oleh ustadzah SL pada 14 Juni 2022: Au Saat saya sedang menyimak santri yang mengaji, santri yang belum maju akan diminta untuk membantu menyimak temannya yang level iqronya di bawah dia, hal ini supaya santri tidak ribut dan juga santri yang menyimak bisa mengulang bacaannya. Ay Seperti menurut penjelasan (Setiyowati, 2. bahwa latihan ( trainin. mengajari anak untuk melakukan kegiatan yang dapat membentuk kepribadian islami. Kegiatan yang dilakukan antara lain melakukan shalat, sebagai upaya pengajaran yang baik untuk menanamkan kebiasaan yang baik dalam beribadah untuk menjadi pribadi yang baik dan islami. Metode Pemberian Contoh Memberikan materi saja dan memerintahkan santri untuk melakukan suatu hal tidak akan membuat anak menjadi lebih baik. Sebagai tenaga pengajar dan orang yang selalu berinteraksi dengan santri, maka ustadz dan ustadzah harus memberikan contoh yang baik bagi santri untuk dilihat dan ditiru. Misalnya mencontohkan dari segi berpakaian, ketika kita memerintahkan seseorang untuk melakukan suatu hal, maka kita harus lebih dahulu melakukannya, agar apa yang kita perintahkan diyakini dan dipercaya oleh anak itu serta layak untuk dilakukan. Oleh karenanya ustadz dan ustadzah di Al-Fikri selalu menggunakan pakaian yang rapi, bersih, dan sopan, hal ini agar menjadi contoh bagi santrisantrinya. Selain berpakaian hal yang dicontohkan adalah sikap, perilaku, cara berbicara, dan Ustadz dan ustadzah Al-Fikri diharuskan oleh Lembaga Yayasan untuk selalu menggunakan pakaian terbaik dan tampil menarik saat mengajar, menggunakan minyak wangi dan juga pakaian harus Hal ini dijelaskan oleh Pengurus Yayasan Ibu SF pada 12 juni 2022: Au Kerapian dan kebersihan ustadz dan ustadzah harus diperhatikan, karena jika santri akan melihat dan meniru apa yang ada pada diri ustadz dan ustadzahnya. Selain enak memandangnya ketika rapi dan bersih, santri belajar pun akan merasa nyaman. Santri tidak akan bosan berada di kelas saat melihat gurunya wangi, bersih dan rapi. Ay Selain dari segi penampilan tenaga pengajar juga harus mencontohkan sikap yang baik, ramah, penyayang dan tegas kepada santri. Kemudian Ibu SF kembali menyatakan bahwa : AuSebagai orang yang berperan penting dalam mendidik santri maka ustadz dan ustadzah harus memiliki perilaku yang pantas di contoh, mereka tidak boleh berbicara kasar, tidak boleh marahmarah tanpa adab dan etika, tidak boleh tidak berbuat sopan, tidak boleh memukul santri meskipun santri tersebut marah, dan tidak boleh pacaran. Ay Ibu SF menegaskan Kembali bahwa Au Sebagai tenaga pengajar dan orang yang selalu bertemu santri ustadz dan ustadzah harus memiliki etika yang baik dan harus menjadi contoh yang baik bagi Bahkan marahnya ustadz dan ustadzah juga harus menjadi contoh bagi santri, itu artinya segala apapun bentuk perbuatan, ucapan ustadz dan ustadzah harus sesuai dengan etika dan syariat, hal ini terutama saat berada di Rumah Tahfidz Al-Fikri. Page 132 of 12 UPAYA PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ISLAMI SANTRI ANAK USIA DINI DI RUMAH TAHFIDZ AL-FIKRI KEBUN BUNGA PERMAI KOTA PALEMBANG Andini Sarina1A. Yanti Karmila Nengsih2 Mencontohkan santri untuk selalu berbuat baik tidak hanya dilakukan oleh ustadz dan ustadzah saja, tetapi sebagai orang tua juga harus memberikan contoh yang baik, karena anak lebih banyak berinteraksi dan bertemu dengan orang tua di rumah daripada dengan ustadz dan ustadzah. Dikatakan oleh Ibu QN sebagai orang tua santri pada 24 juni 2022 bahwa: Au Sebagai orang tua menurut saya kita harus memberikan contoh yang baik, misalnya tidak boleh berbicara kasar, tidak boleh berbohong dan harus bersikap baik kepada anak dan orang sekitar. Karena nanti pasti akan dicontoh oleh anak kita. Ay Anak akan meniru dan mencontoh apa saja yang dilakukan oleh gurunya. Karena mereka menganggap bahwa guru adalah orang yang mengajarinya, apapun yang guru mereka contohkan maka itu lah yang mereka lakukan. Oleh sebabnya sebagai seorang guru dan juga orang tua harus memberikan contoh yang baik bagi anak. Seperti yang dikatakan oleh ustadz MR pada 17 Juni 2022: Au Saat melihat kita melakukan sesuatu anak pasti menganggap itu benar dan mereka akan menirunya apalagi anak yang masih usia dini. Mereka tidak mengerti apakah itu benar apakah salah, jadi apa yang mereka lihat itu lah yang akan mereka contoh. Makanya kita ini harus memberikan contoh yang baik bagi anak, baik itu ucapan, perbuatan, perilaku dan juga penampilan. Ay Memberikan contoh yang baik kepada anak dapat mempengaruhi anak untuk berbuat dan beramal baik pula, anak akan menghayati cara-cara melakukan ajaran agama. Seperti yang dikatakan dalam penelitian ( Aziz, 2. bahwa membiasakan anak-anak untuk berkata dan berbuat baik, mencegahnya dari perbuatan dan ucapan yang tidak pantas akan lebih berhasil apabila orang tua memberikan contoh dalam melakukan kebiasaan yang baik tersebut. Metode Pembiasaan Membentuk kepribadian seseorang memang sebaiknya dilakukan saat anak itu masih berusia Karena pada saat usia ini anak belum memiliki kepribadian yang sesungguhnya, anak masih banyak belajar dan melakukan segala sesuatu yang baru diketahui. Untuk membentuk kepribadian islami pada anak maka ustadz dan ustadzah melakukan metode pembiasaan dalam proses pendidikan yang dilakukan. Santri Al-Fikri dibiasakan untuk melakukan shalat berjamaah sebelum maupun setelah mengaji. Pembiasaan shalat ini sudah menjadi kewajiban bagi santri Al-Fikri, sebelum shalat santri dibiasakan untuk mengambil air wudhu terlebih dahulu. Seperti yang disampaikan oleh ustadz MR pada 17 juni 2022, yaitu: Au Membiasakan santri untuk mengerjakan shalat memang harus dilakukan sejak usia dini, agar anak terbiasa melakukannya hingga besar nanti. Ay Hal ini juga disampaikan oleh ketua pengurus Yayasan Al-Fikri. Ibu SF pada 12 juni 2022. Au Hal yang paling utama yang harus diajarkan kepada santri adalah shalatnya. Jadi setiap kegiatan mengaji harus diselingi dengan kegiatan shalat berjamaah dan dibimbing oleh ustadz ataupun ustadzah agar bacaan dan gerakan shalat santri benar. Ay Selain membiasakan santri shalat, santri juga dibiasakan untuk mengerjakan tugas dan melakukan kegiatan berupa: 133 | P a g e Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. 2 No. Bulan Oktober Tahun 2022 ISSN e 2776-785X Membiasakan santri untuk selalu menjaga kebersihan, yaitu membuang sampah pada tempatnya atau memungut sampah yang ada di kelas masing-masing. Membiasakan santri untuk selalu bershalawat setiap hari, baik itu bershalawat di rumah maupun di Tahfidz. Sebelum mulai mengaji santri akan di tanya apakah mereka sudah shalat dan Bagi santri yang belum shalat maka akan disuruh shalat dulu sebelum mengaji, dan bagi santri yang belum bershalawat akan disuruh shalawat di tempat duduknya. Membiasakan santri untuk berwudhu sebelum membaca iqro atau Al-QurAoan, hal ini agar santri terbiasa menjaga wudhunya dan terhindar dari perbuatan tidak baik yang membatalkan wudhu. Membiasakan santri untuk menggunakan pakaian yang sopan, bagi perempuan diwajibkan untuk berjilbab dan memakai baju yang menutup aurat. Membiasakan santri untuk membaca dan mengulang bacaan iqro atau Al-Qurannya, baik itu dilakukan di rumah maupun di Tahfidz. Hal ini bertujuan agar santri senantiasa membaca AlQurAoannya bahkan hingga ia dewasa nanti. Membiasakan santri untuk bersikap sopan kepada ustadz dan ustadzah serta orang yang lebih Seperti menyapa saat bertemu, mengucapkan salam, mencium punggung tangan ustadz bagi santri laki-laki, mencium punggung tangan ustadzah bagi santri perempuan. Membiasakan santri untuk tertib ketika berada di ruang kelas atau saat berkumpul. Pembiasaan dalam melakukan segala sesuatu maka akan menjadikan hal itu kepribadian bagi santri Karena sering melakukannya maka santri akan terbiasa sehingga kebiasaan tersebut akan menjadi pribadi dirinya. Seperti yang dikatakan oleh Ustadz MR pada juni 17 juni 2022, yaitu : Au Bahwa saat kita sering melakukan suatu perbuatan, hal itu akan menjadi terbiasa sehingga membentuk kepribadian bagi diri santri nantinya. Oleh sebab itu penting sekali untuk membiasakan santri melakukan hal-hal yang baik dan positif agar mereka memiliki kebiasaan melakukannya hingga terbentuk kepribadian yang baik pada anak. Ay Sebagai tenaga pengajar membimbing anak untuk menjadi pribadi yang baik adalah suatu kewajiban serta tanggung jawab yang harus dilakukan. Manusia memang terkadang suka lupa dan lalai akan suatu hal, apapun itu dan tentang apapun itu. Sebagai orang yang dewasa kita juga sering melakukan kesalahan dan kekhilafan saat berbuat, apalagi seorang anak yang masih belum mengerti apa-apa, anak-anak yang masih memiliki sikap dan kepribadian yang tidak tetap. Oleh karenanya kita harus sering memberi nasihat-nasihat yang baik kepada anak agar ia selalu ingat dan terarah untuk melakukan hal-hal yang baik. Pengurus Yayasan Ibu SF menyatakan pada 12 juni 2022, yaitu: Au Saat santri melakukan kesalahan kami akan memberikan nasihat kepada santri tersebut agar tidak diulangi lagi, nasihat biasanya akan diberikan oleh ustadz atau ustadzah, namun jika masalahnya sudah sampai kepada orang tua, maka saya sendiri yang akan mengurus dan ikut Ay Santri yang belajar di Tahfidz Al-Fikri tidak sepenuhnya selalu melakukan hal yang benar, akan tetapi ada juga beberapa santri yang suka melakukan kesalahan dan perbuatan yang melanggar Page 134 of 12 UPAYA PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ISLAMI SANTRI ANAK USIA DINI DI RUMAH TAHFIDZ AL-FIKRI KEBUN BUNGA PERMAI KOTA PALEMBANG Andini Sarina1A. Yanti Karmila Nengsih2 aturan ketika di Tahfidz. Santri biasanya suka bermain dan berlari ketika di kelas, ada yang lupa mengerjakan tugas, ada yang tidak mengikuti shalat berjamaah dan lain sebagainya. Kejadian ini terkadang suka terjadi namun hanya beberapa santri saja yang melakukannya. Ketika santri melakukan kesalahan maka ustadz dan ustadzah biasanya akan memberikan hukuman, yang mana hal ini bertujuan untuk membuat santri jera dan tidak mengulangi perbuatannya lagi. Namun hukuman yang diberikan bukan dalam bentuk hukuman fisik, tetapi lebih kepada hukuman lain seperti memungut sampah di kelas, bershalawat sebanyak seratus kali, membaca iqro berulang-ulang, berdiri sambal bersitighfar dan lain sebagainya. Seperti yang dijelaskan oleh ustadz MR pada 17 juni Au Bagi santri yang suka melanggar aturan kami akan memberikan sanksi atau hukuman, tetapi bukan hukuman fisik. Hukuman yang diberikan kepada santri lebih bertujuan untuk membiasakan santri untuk melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat. Karena jika dihukum fisik santri bukannya akan menjadi lebih baik akan tetapi bisa menjadi anak yang semakin nakal, pendiam dan penakut. Ay Peneliti juga mengamati pada 13 juni 2022 bahwa santri yang biasa dihukum adalah santri yang tidak memakai seragam yang rapi, santri yang suka bercerita saat ustadznya sedang berbicara dan santri yang suka bermain saat waktu mengaji. Hukuman yang diberikan berupa dzikir dan shalawat selama kegiatan mengaji berlangsung, santri akan berhenti shalawat dan dzikir saat melakukan simak an mengaji saja. Metode pembiasaan merupakan salah satu metode pendidikan yang sangat penting terutama bagi anak-anak, karena mereka belum menyadari apa yang disebut baik dan buruk dalam arti susila. Mereka juga belum mempunyai kewajiban-kewajiban yang harus dikerjakan seperti yang dilakukan oleh orang dewasa, sehingga mereka harus dibiasakan dengan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, dan pola pikir yang baik. Kemudian anak akan mengubah seluruh sifat-sifat baik menjadi kebiasaan sehingga akan mudah dilakukan (Yeni, 2. Berdasarkan apa yang telah diuraikan dan dideskripsikan peneliti mengenai upaya pembentukan kepribadian islami santri anak usia dini di Rumah Tahfidz Al-Fikri dengan menggunakan cara dan metode di atas, maka diketahui bahwa kepribadian islami santri anak usia dini di Tahfidz Al-Fikri meliputi kepribadian: Sopan dan taat aturan Berdasarkan dari hasil wawancara yang dilakukan pada proses penelitian, santri anak usia dini di Tahfidz Al-Fikri memiliki sikap dan kepribadian yang sopan terhadap gurunya, teman sebayanya dan santri yang lebih tua darinya. Selain sikapnya sopan santri usia dini juga taat akan aturan yang diberikan oleh ustadz dan ustadzahnya ketika belajar. Mereka akan mengikuti arahan yang diberikan dan mengerjakan apa yang diajarkan serta diperintahkan oleh ustadz dan Rajin Belajar mengaji di Tahfidz Al-Fikri bukan hanya kehendak dan keinginan orang tua santri, akan tetapi banyak santri yang memang pergi belajar di Thfidz Al-Fikri atas kemauan dirinya 135 | P a g e Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. 2 No. Bulan Oktober Tahun 2022 ISSN e 2776-785X Jujur Kejujuran sangat penting dalam melakukan segala hal, seseorang yang memiliki kepribadian yang jujur akan selalu dipercaya oleh orang lain. Belajar mengaji di Tahfidz Al-Fikri tidak hanya fokus membaca iqro dan Al-QurAoan saja, tetapi adanya pendidikan agama islam yang diajarkan seperti belajar shalat, wudhu, membaca doa, dan tentunya pembentukan kepribadian islami santri. Santri akan diberikan tugas di rumah yaitu selalu shalat lima waktu, membaca Al-QurAoan dan lain-lain, maka santri harus jujur melakukannya. Disiplin waktu dan tertib belajar Kegiatan mengaji di Tahfidz Al-Fikri terbagi menjadi empat waktu, yaitu pagi, siang, sore dan malam. Santri akan datang ke Tahfidz secara bergilir sesuai dengan jadwal masing-masing. Santri yang tiba di Tahfidz biasanya sebelum waktu mengaji di mulai, setelah itu mereka akan masuk kelas dan duduk membuat barisan rapi untuk membaca doa pembukaan mengaji bersama. Rapi dan bersih Rumah Tahfidz AL-Fikri dikenal dengan kerapian dan kebersihannya. Kerapian dan kebersihan sangat dijaga oleh pengurus Lembaga Tahfidz Al-Fikri, terutama pakaian dan tempat Santri Al-Fikri diharuskan untuk memakai pakaian yang rapi, bersih, dan sopan. Bisa membaca, menulis huruf hijayyah dan hafal doa sehari-hari Meskipun santri masih usia dini dan berumur dibawah delapan tahun bahkan dibawah enam tahun, tetapi mereka sudah bisa mengenal huruf hijayyah dengan baik. Mereka bisa melafalkan hurufnya dan bisa mengingatnya, bahkan ada santri yang berusia enam tahun tetapi sudah bisa membaca iqro tiga beserta tajwidnya. Memahami materi pendidikan agama islam Materi yang diajarkan oleh ustadz dan ustadzah ketika di kelas tidak hanya tentang belajar membaca iqro dan Al-QurAoan saja, tetapi banyak materi yang disampaikan salah satu materi pendidikan agama islam, seperti nama-nama malaikat dan tugasnya, nama-nama nabi dan jumlahnya, kisah rasul dan keluarganya, tentang hal yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. SIMPULAN Berdasarkan data yang diperoleh peneliti dan pembahasan terhadap data-data penelitian di Rumah Tahfidz Al-Fikri, maka peneliti menyimpulkan bahwa upaya-upaya pembentukan kepribadian islami santri anak usia dini yang dilakukan oleh Lembaga Rumah Tahfidz Al-Fikri khususnya oleh tenaga pengajar adalah dengan cara memberi pengetahuan pendidikan nilai . , latihan . , metode pemberian contoh . dan metode pembiasaan. Upaya pembentukan dilakukan sesuai dengan tahap perkembangan usia santri dan kemampuan pemahaman santri. Melalui hasil yang peneliti peroleh, dapat dikatakan bahwa upaya yang dilakukan untuk pembentukan kepribadian islami santri tersebut sudah cukup berhasil. Keberhasilan pembentukan kepribadian santri dapat dilihat dari sikap dan perilaku santri, meskipun santri masih berusia dini tetapi sudah memiliki kemampuan dalam memahami materi dan Page 136 of 12 UPAYA PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ISLAMI SANTRI ANAK USIA DINI DI RUMAH TAHFIDZ AL-FIKRI KEBUN BUNGA PERMAI KOTA PALEMBANG Andini Sarina1A. Yanti Karmila Nengsih2 pelajaran yang diberikan oleh tenaga pengajar, khususnya materi Pendidikan Agama Islam (PAI). Perilaku santri berupa sikap sopan, santun, disiplin, taat aturan, dan santri bisa membaca huruf hijayyah, menghafal doa sehari-hari serta bisa melaksanakan shalat beserta bacaannya. Sesuai dengan target utama Tahfidz Al-Fikri yaitu memperbaiki shalat santri dan mengajarkan santri shalat hingga benar, mulai dari gerakan hingga bacaan shalat. Hal ini didasari karena segala sesuatu yang dilakukan dilihat dari shalatnya, jika shalat seseorang sudah benar maka akan tertanam dalam dirinya sifat dan perilaku yang baik, seperti kejujuran, kedisiplinan, ketaqwaan, dan sebagainya. Oleh karenanya santri Al-Fikri wajib untuk belajar shalat dan melaksanakan shalat. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kemudahan bagi penulis dalam mengerjakan tugas yang ada selama menempuh pendidikan. Penulis juga tak lupa mengucakan terima kasih kepada Ibu Yanti Karmila Nengsih. Pd. yang telah banyak membantu dan memberikan saran kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan jurnal ini. Kemudian ucapan terima kasih kepada semua dosen yang telah memberikan sumbangsih ilmunya selama penulis menempuh pendidikan di kampus. REFERENSI