JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA http://jktp. com/jktp/index VOLUME 07 NOMOR 02 DESEMBER 2024 ISSN 2654 - 5756 ARTIKEL PENELITIAN KARAKTERISTIK DAN KOMORBIDITAS PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS CHARACTERISTICS AND COMORBIDITIES OF CHRONIC KIDNEY FAILURE PATIENTS Dwi Cahyo Teguh Prasetya1*. Sri Manovita Pateda1. Maimun Ihsan1. Muhammad N. Syukriani Yusuf1. Yuniarty Antu1 Fakultas Kedokteran. Universitas Negeri Gorontalo. Gorontalo. Indonesia Abstrak Article history Received date: 10 Oktober 2024 Revised date: 29 November 2024 Accepted date: 8 Desember 2024 *Corresponding author: Dwi Cahyo Teguh Prasetya Fakultas Kedokteran. Universitas Negeri Gorontalo. Gorontalo. Indonesia dwicahyoteguh9@gmail. Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan kondisi serius dengan prevalensi yang terus meningkat, terutama di negara berkembang. GGK sering dikaitkan dengan penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes mellitus, dan anemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi karakteristik pasien GGK dan riwayat komorbiditas di RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe. Penelitian deskriptif retrospektif dilakukan pada 272 pasien yang terdaftar di rumah sakit tahun 2023. Data dianalisis menggunakan distribusi frekuensi untuk variabel demografi dan penyakit Hasil penelitian menunjukkan mayoritas pasien adalah laki-laki . ,6%) dengan kelompok usia lansia . Ae65 tahun, 61,4%). Sebagian besar pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga . ,3%) dan memiliki pendidikan terakhir SMA . ,8%). 43,4% pasien berasal dari Kota Gorontalo. Hipertensi dan anemia merupakan kombinasi komorbiditas yang paling umum . ,9%). Sebanyak 17,9% Nefrolitiasis ditemukan pada riwayat penyakit penyerta pada kelompok kondisi lainnya pasien gagal ginjal kronik Pentingnya penyediaan layanan kesehatan yang mendukung deteksi dini dan manajemen penyakit penyerta pada pasien GGK. Kata Kunci: Gagal ginjal kronik, hipertensi, anemia, karakteristik pasien Abstract Copyright: A 2024 by the authors. This is an open access article distributed under the terms and conditions of the CC BY-SA. Chronic Kidney Disease (CKD) is a serious condition with a steadily increasing prevalence, particularly in developing countries. CKD is often associated with comorbidities such as hypertension, diabetes mellitus, and anemia. This study explores CKD patients' characteristics and comorbidity history at RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe. A retrospective descriptive study was conducted on 272 patients registered at the hospital in 2023. Data were analyzed using frequency distribution for demographic variables and comorbidities. The results showed that most patients were male . 6%) and belonged to the elderly age group . Ae65 years, 61. 4%). Most patients were housewives . 3%) and had a high school education as their highest level of education . 8%). A total of 43. 4% of patients originated from Gorontalo City. Hypertension and anemia were the most common comorbidity combination . 9%). Additionally, 17. 9% of nephrolithiasis cases were identified in the comorbidity history of CKD patients in the 'other conditions' category. The importance of providing healthcare services that support early detection and management of comorbidities in CKD patients is highlighted. Keywords: Chronic kidney disease, hypertension, anemia, patient characteristics PENDAHULUAN Gagal ginjal adalah suatu kondisi di mana fungsi ginjal tidak dapat mempertahankan volume dan keseimbangan cairan tubuh selama lebih dari tiga bulan. Pada awal perjalanan klinis gagal ginjal kronis, terjadi penurunan fungsi ginjal tanpa gejala yang jelas, dan kadar kreatinin serta urea dalam serum tetap dalam rentang Gejala mulai muncul pada tahap 4 atau 5 dari gagal ginjal kronis (Rahmawati, 2. Gagal ginjal kronik merupakan keadaan klinis di mana laju filtrasi glomerulus/glomerular filtration rate (GFR) yang diperkirakan atau diukur adalah <60 mL/min/1. 73 m yang ada setidaknya selama tiga bulan dengan atau tanpa bukti kerusakan ginjal, atau dapat didefinisikan sebagai kerusakan ginjal dengan atau tanpa penurunan laju filtrasi glomerulus (GFR) yang ada setidaknya tiga bulan (CKD, 2. Gagal ginjal kronis telah menjadi penyebab utama kematian selama dua dekade terakhir di seluruh dunia, dengan meningkatnya angka kematian dari tahun ke tahun. Menurut laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah kematian akibat gagal ginjal meningkat dari 813. 000 pada tahun 2000 menjadi 1,3 juta pada tahun 2020, menaikkan peringkat kematian akibat penyakit ini dari urutan ke-13 menjadi ke-10 (Kovesdy, 2. Hasil Dwi Cahyo Teguh Prasetya. Sri Manovita Pateda. Maimun Ihsan. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 7 . , 2024: 147-154 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. Riskesdas Kementerian Kesehatan Indonesia tahun 2023 menemukan 0,18% . 646 jiw. penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas didiagnosis menderita gagal ginjal kronis oleh dokter (Kemenkes RI, 2023. Provinsi Gorontalo merupakan daerah dengan gagal ginjal kronis tertinggi di Indonesia, dengan prevalensi kasus 0,29%, lebih tinggi dari rata-rata nasional (Kemenkes RI, 2023. Gagal ginjal kronis sangat erat kaitannya dengan penyakit seperti hipertensi, diabetes mellitus, dan penyakit kardiovaskular (Morales & Handelsman, 2023. Said & Hernandez, 2. Kondisi ini menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas yang signifikan. Sebagian besar penderita gagal ginjal kronis juga mengalami penyakit penyerta, dengan tingkat komorbiditas lebih dari 40 kali lipat dibandingkan individu tanpa gagal ginjal kronis (MacRae et al. , 2. Penyakit gagal ginjal kronis merupakan kondisi kompleks yang disebabkan oleh berbagai faktor, dan faktor-faktor ini dapat bervariasi secara signifikan tergantung pada banyak faktor. Meskipun hipertensi, diabetes, dan penyakit metabolik sering diidentifikasi sebagai penyebab tradisional dari gagal ginjal kronis, namun beberapa tahun terakhir data telah menunjukkan peningkatan dalam kasus-kasus di mana pasien mengidap kondisi ini tanpa adanya riwayat gejala atau penyakit penyerta sebelumnya. Letak geografis juga merupakan salah satu faktor yang penting dan multifaktor dalam kasus MeN. Penyakit ini cenderung lebih sering terjadi di wilayah dataran rendah (O500 mdp. , daerah dengan iklim hangat, dan terutama di wilayah di mana pekerjaan dilakukan di luar ruangan, terutama dalam sektor pertanian. Zona dengan insiden MeN yang lebih besar ditemukan di wilayah yang sangat spesifik dengan ketinggian rendah di atas permukaan laut (Valdys-Rodryguez et al. , 2. Gap utama dalam literatur terletak pada minimnya penelitian yang memetakan karakteristik dan komorbiditas pasien GGK berdasarkan data lokal yang terperinci. Sebagai contoh, sebagian besar penelitian internasional fokus pada populasi di negara maju dengan akses layanan kesehatan yang relatif baik (Chartier et , 2. Padahal, memahami profil pasien di tingkat lokal sangat penting untuk mengembangkan intervensi yang efektif dan berbasis bukti. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik dan komorbiditas pasien gagal ginjal kronis RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe berdasarkan data rekam medis tahun 2023 METODE Desain penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif untuk memberikan gambaran fakta mengenai beberapa karakteristik Penderita gagal ginjal kronis (GGK) berdasarkan data sekunder yang tercatat dalam rekam medis pasien tahun 2023. Penelitian dilakukan di RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe. Gorontalo. Data dikumpulkan pada bulan Juni-Agustus 2024. Sampel Sampel penelitian adalah penderita gagal ginjal kronis yang terdaftar di rekam medis RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe tahun 2023 yang berjumlah 272 orang. Kriteria inklusi dalam penelitian ini mencakup pasien yang menjalani rawat inap dan rawat jalan di RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe tahun 2023, pasien dengan diagnosis gagal ginjal kronik, serta pasien yang memiliki data lengkap terkait jenis kelamin, usia, pekerjaan, pendidikan terakhir, dan penyakit penyerta. Kriteria eksklusi meliputi rekam medis yang tidak lengkap, yaitu rekam medis yang tidak mencantumkan satu atau lebih data penting seperti jenis kelamin, usia, pekerjaan, pendidikan terakhir, atau adanya penyakit penyerta. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini mencakup jenis kelamin, umur, pekerjaan, pendidikan terakhir, tempat tinggal, dan riwayat penyakit penyerta. Jenis kelamin didefinisikan secara operasional sebagai perbedaan jenis kelamin pasien sesuai dengan rekam medis mereka. Umur didefinisikan secara operasional sebagai durasi hidup seseorang, dihitung dari tanggal kelahiran hingga saat penelitian. Umur dibagi menjadi enam kategori yaitu balita . -5 tahu. , kanak-kanak . -11 tahu. , remaja . -25 tahu. , dewasa . -45 tahu. , lansia . -65 tahu. , manula (>65 tahu. Pekerjaan didefinisikan secara operasional sebagai jenis pekerjaan yang dilakukan pasien sesuai dengan rekam medis. Pekerjaan dibagi menjadi tujuh kategori yaitu PNS, swasta, wiraswasta, petani, nelayan. IRT dan tidak bekerja. Variabel pendidikan terakhir. Pendidikan terakhir didefinisikan secara operasional sebagai jenjang pendidikan tertinggi yang telah diselesaikan, ditandai dengan kelulusan atau perolehan ijazah. Pendidikan terakhir dibagi menjadi tujuh kategori yaitu Sekolah dasar. Sekolah menengah dan Pendidikan tinggi. Tempat tinggal didefenisikan sebagai lokasi geografis di mana seseorang menetap secara permanen atau semipermanen selama minimal enam bulan terakhir. Tempat ini dapat berupa rumah, apartemen, atau jenis tempat tinggal lainnya yang dihuni oleh individu atau keluarga. Riwayat penyakit penyerta didefenisikan sebagai pembagian penyakit pasien dengan gagal ginjal kronis berdasarkan riwayat penyakit penyerta. Pengumpulan data Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode data sekunder yang diperoleh dari rekam medis pasien dengan diagnosis gagal ginjal kronik di RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe tahun 2023. Instrumen utama yang digunakan adalah rekam medis, yang berisi informasi relevan untuk analisis penelitian. Data yang dikumpulkan meliputi variabel-variabel seperti jenis kelamin, usia, pekerjaan, pendidikan terakhir, tempat tinggal, dan riwayat penyakit penyerta. Rekam medis pasien yang memenuhi kriteria inklusi dicatat secara sistematis ke dalam form master tabel yang telah disiapkan sebelumnya. Form ini dirancang untuk memastikan semua data yang diperlukan tercatat secara terstruktur dan terorganisasi dengan baik. Pemeriksaan rekam medis dilakukan Dwi Cahyo Teguh Prasetya. Sri Manovita Pateda. Maimun Ihsan. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 7 . , 2024: 147-154 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. langsung oleh peneliti guna memastikan keakuratan data dan meminimalkan risiko kesalahan dalam pencatatan. Rekam medis yang tidak lengkap atau tidak memenuhi kriteria eksklusi tidak dimasukkan dalam analisis. Analisis Data Analisis data dilakukan menggunakan software SPSS (SPSS Inc. Chicago. USA) versi 26. Analisis meliputi pengolahan data secara deskriptif untuk menggambarkan karakteristik responden, seperti jenis kelamin, usia, pekerjaan, pendidikan terakhir, tempat tinggal, dan riwayat penyakit penyerta. Distribusi frekuensi dan persentase digunakan untuk menyajikan data dalam bentuk yang lebih terstruktur. Etika Penelitian Prosedur informed consent dalam penelitian ini dilakukan dengan memastikan bahwa penggunaan data rekam medis telah mendapatkan izin dari pihak rumah sakit sesuai aturan yang berlaku. Kerahasiaan data pasien tetap dijaga dengan baik, di mana identitas pasien disamarkan dan hanya digunakan untuk keperluan penelitian sesuai tujuan yang telah disetujui oleh rumah sakit. HASIL Tabel 1. Karakteristik data responden pasien gagal ginjal kronis di RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe tahun 2023 Karakteristik Jenis kelamin Laki Ae laki Perempuan Umur . Balita ( 0 - . Kanak-kanak . - . Remaja . Ae . Dewasa . Ae . Lansia . Ae . Manula ( > 65 ) Pekerjaan PNS Swasta Wiraswasta Petani Nelayan Ibu rumah tangga Tidak bekerja Pendidikan terakhir Sekolah dasar Sekolah menengah pertama Sekolah menengah atas Diploma 3 Sarjana Magister Doktor Tempat tinggal Kab. Boalemo Kab. Bone Bolango Kab. Gorontalo Kab. Gorontalo Utara Kab. Pohuwatu Kota Gorontalo Kab. Bolaang Mongondow. Sulawesi Barat Kab. Bolaang Mongondow Selatan. Sulawesi Utara Kota Manado. Sulawesi Utara Kab. Bolaang Mongondow Utara. Sulawesi Utara Kab. Minahasa Tenggara. Sulawesi Utara Kab. Banggai. Sulawesi Tengah Kab. Buol,Sulawesi Tengah Kab. Tojo Una-Una. Sulawesi Tengah Kab. Morowali Utara. Sulawesi Tengah Riwayat penyakit penyerta Diabetes mellitus Hipertensi Dwi Cahyo Teguh Prasetya. Sri Manovita Pateda. Maimun Ihsan. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 7 . , 2024: 147-154 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. Anemia Diabetes mellitus dan lainnya Hipertensi dan lainnya Anemia dan lainnya Diabetes mellitus dan hipertensi Diabetes mellitus dan anemia Hipertensi dan anemia Diabetes mellitus, hipertensi, dan anemia Diabetes mellitus, hipertensi, dan lainnya Diabetes mellitus, anemia, dan lainnya Hipertensi, anemia, dan lainnya Diabetes mellitus, hipertensi, anemia, dan lainnya Kondisi lainnya Tanpa Penyerta Tabel 1 menunjukkan bahwa mayoritas pasien gagal ginjal kronik dalam penelitian ini adalah laki-laki . ,6%) dengan kelompok umur lansia . -65 tahu. ,4%). Sebagian besar pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga . ,3%) dan memiliki pendidikan terakhir di tingkat SMA . ,8%). Berdasarkan daerah asal, mayoritas pasien berasal dari Kota Gorontalo . ,4%). Riwayat penyakit penyerta yang paling sering ditemukan adalah hipertensi dan anemia yang sekitar 16,9% pasien. Berdasarkan Tabel 1 yang menunjukkan distribusi pasien gagal ginjal menurut penyakit penyerta, terdapat 23 pasien tanpa penyakit penyerta, yang mewakili 8,5% dari total populasi. Meskipun angka ini lebih rendah dibandingkan dengan kelompok-kelompok lain yang terkait dengan etiologi tradisional gagal ginjal kronis, tetap ada 23 pasien yang mengalami gagal ginjal kronis tanpa adanya penyakit yang diduga sebagai pemicu kondisi Pada kelompok ini terdapat 14 kategori penyakit yang tidak terkait dengan penyebab gagal ginjal kronik Tabel 2. Karakteristik data responden pasien gagal ginjal kronik tanpa riwayat penyakit penyerta di RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe tahun 2023 Karakteristik Jenis kelamin Laki Ae laki Perempuan Umur . Remaja . Ae . Dewasa . Ae . Lansia . Ae . Manula ( > 65 ) Pekerjaan Swasta Wiraswasta Petani Nelayan Ibu rumah tangga Tidak bekerja Pendidikan terakhir Sekolah dasar Sekolah menengah pertama Sekolah menengah atas Sarjana Tempat tinggal Kab. Bone Bolango Kab. Gorontalo Kab. Gorontalo Utara Kab. Pohuwatu Kota Gorontalo Kab. Buol. Sulawesi Tengah Kab. Morowali. Utara Sulawesi Tengah Tabel 2 menunjukkan bahwa sebagian besar pasien gagal ginjal kronik tanpa riwayat penyakit penyerta adalah laki-laki . ,2%) dalam kelompok umur lansia . -65 tahu. ,6%). Berdasarkan pekerjaan, mayoritas pasien berasal dari kelompok yang tidak bekerja, ibu rumah tangga, dan pekerja swasta . ,8%). Sebagian besar pasien memiliki pendidikan terakhir di tingkat SMA . ,1%), dan mayoritas berasal dari Kota Gorontalo . ,5%). Dwi Cahyo Teguh Prasetya. Sri Manovita Pateda. Maimun Ihsan. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 7 . , 2024: 147-154 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. Tabel 3 menunjukkan persentase penyakit penyerta pada kelompok kondisi lain, penyakit yang paling sering ditemukan adalah nefrolitiasis . ,9%), diikuti oleh acute heart failure . ,3%), dan acute decompensated heart failure . ,7%). Beberapa penyakit lainnya sekitar 7,1%, seperti apendisitis, chronic heart failure acute heart failure, infeksi saluran kemih dan nefrolitiasis, cholecystitis, dan coronary artery disease. Sedangkan penyakit seperti gout arthritis, osteoarthritis genu, stroke, bronkopneumonia, gastroenteritis dan difteri, serta TBC dan gastroenteritis akut sekitar 3,6%. Tabel 3. Distribusi riwayat penyakit penyerta pada kelompok kondisi lainnya pasien gagal ginjal kronik di RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe Tahun 2023 Penyakit Apendisitis Acute decompensated heart failure Chronic heart failure acute heart failure Acute heart failure Infeksi Saluran Kemih Dan Nefrolitiasis Gout arthritis Cholecystitis Osteoarthritis genu Stroke Bronkopneumonia Coronary artery disease Nefrolitiasis Gastroenteritis dan difteri TBC dan gastroenteritis akut PEMBAHASAN Penelitian ini menemukan sebanyak 59,6% pasien gagal ginjal kronik adalah laki-laki Taruna et al. menyatakan dalam penelitiannya bahwa PGK lebih banyak diderita oleh pasien laki-laki yaitu sebesar . ,6%). Siamben et al. juga menyatakan dalam penelitiannya bahwa sebanyak 60,9% subjek penelitian yang berjenis kelamin laki laki yang menjalani hemodialis. Pasien yang berjenis kelamin laki laki mempunyai resiko lebih tinggi dari pada yang berjenis kelamin perempuan, hal ini dikarenakan perempuan memiliki hormone estrogen yang lebih banyak daripada laki laki. Hormon estrogen sendiri menghambat pembentukkan cytokin yang dapat menghambat osteoklas agar tidak berlebihan menyerap tulang sehingga kadar kalsium seimbang. Kalsium mempunyai efek protektif yang mencegah penyerapan oksalat yang bisa membentuk batu ginjal yang merupakan salah satu penyebab penyakit ginjal kronik (Damanik, 2. Estrogen pada wanita berperan melindungi ginjal, dengan meningkatkan aliran darah ke ginjal melalui pelepasan nitrat oksida yang berfungsi sebagai vasodilator. Estrogen juga mempengaruhi sistem renin-angiotensin, yang mengatur tekanan darah. Sebelum menopause, estrogen diketahui menurunkan sintesis renin dan aktivitas enzim pengubah angiotensin (ACE), yang pada gilirannya mengurangi pembentukan angiotensin II, vasokonstriktor utama tubuh (Garcya et al. , 2. Disisi lain, saluran kemih laki-laki lebih kecil sehingga berisiko untuk terjadinya batu ginjal. Faktor lain yang mempengaruhi adalah pola gaya hidup laki-laki yang memiliki kebiasaan merokok. Laki-laki perokok lebih berisiko terkena gangguan ginjal kronik dikarenakan adanya rokok dapat membuat tekanan pada ginjal sehingga kerja ginjal harus lebih kuat lagi (Agustini, 2. Hormon testosterone pria juga berpengaruh untuk terjadinya gangguan ginjal. Sejalan dengan bertambahnya usia, laki-laki dapat mengalami penurunan kadar hormon testosteron. Kadar hormone testoteron yang rendah menjadi penyebab terjadinya gagal ginjal kronik (Kurita et al. , 2. Penurunan kerja ginjal adalah tahap normal untuk setiap orang sejalan dengan bertambahnya usia. Penurunan kerja ginjal dapat dipengaruhi oleh sebagian faktor risiko dimana bisa membuat ketidaknormalan penurunan kerja ginjal secara progesif yang akan menciptakan beragam dari ringan hingga berat, keadaan seperti ini disebut penyakit ginjal kronis. Selain usia, penyakit ginjal kronik dipengaruhi oleh faktor komorbid . erutama penyakit kardiovaskula. (Ji et al. , 2. Usia yang mendominasi pasien GGK pada penelitian ini berkisar antara 46 sampai 65 tahun. Usia juga erat kaitannya dengan prognosis penyakit dan harapan hidup mereka yang berusia di atas 55 tahun. Kecenderungan untuk terjadi berbagai komplikasi yang memperberat fungsi ginjal sangatlah besar apabila dibandingkan dengan usia di bawah 40 tahun. Saat memasuki usia 40 tahun ke atas, ginjal akan mengalami penurunan laju filtrasi glomerulus secara progresif hingga usia 70 tahun, kurang lebih 50% dari normalnya (Puspanegara, 2. Pada usia di atas 55 tahun, arteri kehilangan elastisitasnya, yang menyebabkan peningkatan tekanan darah dan dapat mengarah pada sklerosis pembuluh darah ginjal. Sklerosis ini menyebabkan vasokonstriksi dan obstruksi, merusak glomerulus dan mengakibatkan atrofi tubulus yang berujung pada gagal ginjal (Cahyo et al. , 2. Ginjal mulai kehilangan beberapa nefron, yaitu penyaring penting dalam ginjal. Sehingga fungsi penyerapan makanan telah jauh berkurang dan ditambah fungsi ginjal mulai mengalami penurunan sehingga dapat menyebabkan terjadinya penyakit gagal ginjal (Tampake & Doho, 2. Ibu rumah tangga sering kali menjadi kelompok yang rentan terhadap gagal ginjal kronik (GGK) karena berbagai faktor sosial dan gaya hidup. Pada umumnya ibu rumah tangga tidak memiliki waktu yang cukup dalam Dwi Cahyo Teguh Prasetya. Sri Manovita Pateda. Maimun Ihsan. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 7 . , 2024: 147-154 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. memperhatikan kesehatannya karena sibuk mengurus pekerjaan rumah tangga. (Pranandhira et al. , 2. Selain itu, stres yang berkepanjangan akibat beban pekerjaan rumah tangga yang tak kunjung selesai dan ketegangan emosional dalam mengurus keluarga dapat memperburuk kondisi kesehatan fisik mereka. Penelitian menunjukkan bahwa stres psikologis berperan dalam memperburuk kondisi kronis seperti hipertensi dan diabetes, yang keduanya merupakan faktor risiko utama terjadinya GGK (Garcya et al. , 2. Faktor psikososial, gaya hidup yang kurang aktif dan pola makan yang tidak sehat juga berkontribusi pada peningkatan risiko gagal ginjal. Kurangnya aktivitas fisik, seperti olahraga teratur, dapat menyebabkan peningkatan berat badan dan penurunan fungsi ginjal secara bertahap. Obesitas dan hipertensi yang tidak terkontrol merupakan penyebab utama penurunan fungsi ginjal pada jangka panjang. Faktor lain yang memengaruhi adalah ketidakmampuan untuk mengakses layanan kesehatan, yang disebabkan oleh keterbatasan waktu dan tenaga, serta kurangnya pengetahuan tentang pentingnya deteksi dini penyakit ginjal (WHO, 2. Tingkat pendidikan merupakan salah satu unsur yang sering dilihat hubungannya dengan angka kesakitan dan kematian, karena hal tersebut dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan termasuk pemeliharaan kesehatan (Titah et al. , 2. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka diharapkan keterpaparan terhadap penyakit juga bisa menurun, akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya (Dame et al. , 2. Penelitian menunjukkan bahwa faktor pendidikan memainkan peran penting dalam kesadaran dan pengelolaan kesehatan, termasuk dalam mengelola kondisi seperti GGK. Apriani et al. mengungkapkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin besar pula kemungkinan mereka untuk memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang kondisi kesehatannya, termasuk diet yang perlu diikuti untuk mencegah atau mengelola penyakit Sebaliknya, individu dengan pendidikan lebih rendah mungkin kurang memiliki pengetahuan terkait perawatan diri yang dapat mengurangi risiko GGK. Penelitian oleh Desy et al. pada pasien gagal ginjal kronik di Rumah Sakit Swasta Denpasar juga menunjukkan bahwa sebagian besar pasien dengan gagal ginjal kronik memiliki pendidikan terakhir SMA. Ini menggambarkan pentingnya tingkat pendidikan dalam memahami literasi kesehatan, yang mencakup kemampuan untuk memperoleh dan memproses informasi kesehatan, yang berkontribusi pada keputusan medis yang lebih baik, termasuk dalam pengelolaan penyakit ginjal. Kota Gorontalo, yang terletak di garis khatulistiwa, memiliki iklim tropis dengan suhu tinggi sepanjang tahun. Salah satu faktor yang memengaruhi tingginya prevalensi gagal ginjal kronis di kota ini adalah keberadaan RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe, yang berlokasi di pusat Kota Gorontalo. Rumah sakit ini merupakan salah satu pusat layanan hemodialisis utama di Provinsi Gorontalo, sehingga data prevalensi gagal ginjal kronis lebih banyak berasal dari pasien di Kota Gorontalo. Hal ini menunjukkan adanya kemungkinan bias lokasi pengambilan data, mengingat jumlah pasien yang tercatat mencapai 118 orang, atau 43,4% dari total pasien yang terdiagnosis. Selain itu, kondisi geografis Kota Gorontalo yang berada langsung di sepanjang garis khatulistiwa menyebabkan kota ini menerima radiasi matahari secara langsung, yang berdampak pada tingginya suhu lingkungan. Suhu maksimum yang tercatat di kota ini mencapai 35,6AC pada September 2018, menjadikannya sebagai kota dengan suhu terpanas di Provinsi Gorontalo (BMKG Gorontalo, 2. Fenomena urban heat island (UHI) juga memengaruhi peningkatan suhu di pusat kota, di mana aktivitas manusia dan pembangunan infrastruktur menyebabkan suhu di daerah perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah sekitarnya. Paparan suhu panas yang tinggi dapat menyebabkan dehidrasi kronis, yang berkontribusi pada penurunan aliran darah ke ginjal dan mengganggu fungsi penyaringan ginjal, sehingga meningkatkan risiko gangguan fungsi ginjal dalam jangka panjang (Mardiani et al. Polusi udara yang berasal dari kendaraan dan aktivitas industri di Kota Gorontalo turut berkontribusi pada tingginya prevalensi gagal ginjal kronis. Partikel PM2. 5, seperti yang tercatat oleh IQAir . ), mengandung logam berat yang dapat merusak struktur ginjal, meningkatkan prevalensi penyakit ginjal kronis, dan memperburuk kondisi kesehatan ginjal (Xu et al. , 2. Meskipun data dan penelitian menunjukkan kontribusi fenomena suhu tinggi dan polusi udara terhadap meningkatnya prevalensi gagal ginjal kronik di Kota Gorontalo, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami pengaruh pasti faktor-faktor ini, termasuk bias data yang mungkin timbul karena konsentrasi pasien di RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe. Hipertensi dapat merusak pembuluh darah ginjal, mengurangi aliran darah, dan merusak nefron, yang mengganggu fungsi ginjal, yang sering kali mengarah pada dialisis atau transplantasi ginjal. Tekanan Darah tinggi . merupakan penyakit komorbid . enyakit penyert. terbanyak pada pasien gagal ginjal kronis stage 5. Hipertensi merupakan unsur inisiasi kegagalan ginjal serta unsur progresif yang dapat menurunkan fungsi kerja ginjal (Sukandar, 2. Sementara itu, anemia sering terjadi sebagai komplikasi dari gagal ginjal kronis, akibat penurunan produksi hormon eritropoietin yang mengatur produksi sel darah merah dan penurunan kadar zat besi akibat hemodialisis (Desy et al. , 2022. Lee, 2. Pembentukan hemoglobin memerlukan berbagai nutrisi penting untuk mendukung metabolisme tubuh, dan jika cadangan serta penyerapan zat besi rendah, tubuh akan menghasilkan lebih sedikit sel darah merah dengan kadar hemoglobin yang rendah, yang dapat menyebabkan anemia (Inayah et al. , 2. IMPLIKASI DAN KETERBATASAN Penelitian ini memberikan implikasi yang penting dalam bidang kedokteran, terutama dalam pencegahan dan pengelolaan gagal ginjal kronik (GGK). Temuan ini menunjukkan bahwa penyuluhan kesehatan yang lebih intensif dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang faktor risiko GGK, serta pentingnya pola hidup sehat Dwi Cahyo Teguh Prasetya. Sri Manovita Pateda. Maimun Ihsan. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 7 . , 2024: 147-154 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. dan pemeriksaan medis rutin. Pendidikan kesehatan yang lebih baik, seperti pengelolaan stres, olahraga teratur, dan pola makan sehat, sangat penting untuk mengurangi prevalensi GGK, terutama pada kelompok rentan seperti ibu rumah tangga dan lansia. Selain itu, perhatian terhadap faktor lingkungan, seperti paparan suhu ekstrem dan polusi udara, perlu ditingkatkan dalam upaya pencegahan penyakit ginjal. Penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya dehidrasi, paparan polusi, dan pentingnya deteksi dini dapat menjadi langkah penting dalam mengurangi dampak GGK. Upaya penyuluhan ini, bersama dengan peningkatan akses layanan kesehatan, dapat berperan besar dalam mitigasi dan pengelolaan GGK, mendorong perubahan perilaku yang lebih sehat di masyarakat. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yaitu ketersediaan data rekam medis yang terbatas, data rekam medis yang tidak lengkap, ketiadaan data kontaminasi polusi logam berat, jumlah data yang besar dan banyaknya variabel penelitian. KESIMPULAN Mayoritas pasien adalah laki-laki, berusia lansia . Ae65 tahu. , bekerja sebagai ibu rumah tangga, dan memiliki pendidikan terakhir SMA. Hipertensi dan anemia menjadi kombinasi penyakit penyerta yang paling umum ditemukan pada pasien GGK. Temuan ini menunjukkan pentingnya penyediaan layanan kesehatan yang mendukung deteksi dini dan manajemen penyakit penyerta pada pasien GGK. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi hubungan antara faktor risiko spesifik dengan kejadian GGK melalui desain analitik, seperti studi kasus kontrol atau kohort. Studi juga dapat difokuskan pada pengaruh faktor lingkungan, efektivitas intervensi edukasi kesehatan, dan analisis longitudinal untuk memahami tren perubahan karakteristik pasien. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kepada Rsud Prof. Dr. Aloei Saboe yang bersedia memberikan data rekam medik pasien yang menjadi sumber data dalam penelitian ini. REFERENSI