JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. , 2025, 175-187 http://jurnal. id/index. php/jp2m PENGEMBANGAN LKPD BERBASIS CULTURALLY RESPONSIVE TEACHING UNTUK KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA SMA Miftah Muthmainna Rasylin 1*. Effie Efrida Muchlish 2. Hanifah 3 1,2,3 Magister Pendidikan Matematika. Pascasarjana. Universitas Bengkulu. Jalan WR. Supratman. Kandang Limun Bengkulu, 38371. Indonesia. e-mail: 1*miftahrasylin@gmail. com, 2effie_efrida@unib. id ,3hanifahmat@unib. *Penulis Korespondensi Diserahkan: 26-12-2024. Direvisi: 16-01-2025. Diterima: 04-02-2025 Abstrak: Pada era abad ke-21, siswa diharapkan memiliki berbagai kompetensi seperti kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah, kreativitas, keterampilan komunikasi, serta kemampuan berkolaborasi. Pendidikan abad ke-21 dan kurikulum merdeka menekankan pentingnya peran guru dalam mengintegrasikan pendekatan pembelajaran yang menghargai keberagaman budaya, salah satunya adalah Culturally Responsive Teaching (CRT). Tujuan penelitian ini untuk mengembangkan lembar kerja peserta didik (LKPD) berbasis Culturally Responsive Teaching (CRT) guna meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa SMA. Penelitian ini dilaksanakan pada 14 hingga 26 Oktober 2024 di SMAN 4 Rejang Lebong dengan melibatkan siswa kelas X. Jenis penelitian Research & Development (R&D) dengan model pengembangan ADDIE. LKPD yang dikembangkan divalidasi oleh para ahli di bidang matematika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LKPD yang dihasilkan memenuhi kriteria kelayakan yang sangat baik, dengan skor validasi aspek konstruksi sebesar 92%, aspek materi 92%, dan aspek bahasa 89%. Uji coba terbatas pada siswa kelas X menunjukkan respons positif sebesar 96%. Tingkat efektivitas LKPD pada kelas X. 7 dengan 35 siswa mencapai 73%, sedangkan pada kelas X. 8 dengan 34 siswa mencapai 77%, yang keduanya termasuk dalam kategori efektif. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa LKPD valid, praktis, dan efektif, sehingga layak untuk digunakan. Kata Kunci: berpikir kreatif matematis. Culturally Responsive Teaching (CRT). LKPD Abstract: In the 21st century, students are expected to have various competencies such as critical thinking and problem-solving skills, creativity, communication skills, and collaboration skills. 21st century education and independent curriculum emphasize the importance of the teacher's role in integrating learning approaches that respect cultural diversity, one of which is Culturally Responsive Teaching (CRT). The purpose of this study was to develop a student worksheet (LKPD) based on Culturally Responsive Teaching (CRT) to improve the creative thinking skills of secondary school students in mathematics. This research was conducted from 14 to 26 October 2024 at SMAN 4 Rejang Lebong involving grade X students. The type of research is Research & Development (R&D) with the ADDIE development model. The LKPD developed was validated by experts in the field of mathematics. The study findings showed that the LKPD produced met the eligibility criteria very well, with a validation score of 92% for the construction aspect, 92% for the material aspect, and 89% for the language aspect. A limited trial on grade X students showed a positive response of 96%. The level of effectiveness of LKPD in class X. 7 with 35 students reached 73%, while class X. 8 with 34 students reached 77%, both included in the effective category. Based on the results of the study, it can be concluded that LKPD is valid, practical, and effective, making it suitable for use. Keywords: mathematical creative thinking ability. CRT. LKPD Kutipan: Rasylin. Miftah Muthmainna. Muchlish. Effie Efrida & Hanifah. Pengembangan LKPD Berbasis Culturally Responsive Teaching Untuk Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa SMA. JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. Vol. 11 No. 1, . https://doi. org/10. 29100/jp2m. This is an open access article under the CCAeBY license. https://doi. org/10. 29100/jp2m. JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. , 11. , 2025 Miftah Muthmainna Rasylin. Effie Efrida Muchlish. Hanifah Pendahuluan Pendidikan berperan dalam mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi berbagai tantangan di era modern. Sistem pendidikan yang berkualitas tidak hanya mendorong pola pikir yang lebih baik, tetapi juga berkontribusi dalam meningkatkan kualita sumber daya manusia. Dalam hal ini, satuan pendidikan memegang peran penting dalam menentukan dan meningkatkan mutu pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan akan tercapai melalui kegiatan pembelajaran yang terlaksana secara efektif serta berjalan dengan optimal. Hal ini sejalan tujuan pendidikan nasional, siswa tidak hanya dibekali dengan kemampuan dalam aspek pengetahuan, pemahaman, dan penerapan, tetapi juga didorong untuk mengembangkan keterampilan yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan (Umihani et al. , 2. Oleh karena itu, setiap sekolah seharusnya dapat merencanakan serta mempersiapkan kegiatan pembelajaran dengan optimal serta selalu mempertimbangkan kebutuhan setiap siswa (Yati & Amini, 2. Dalam dunia pendidikan di Indonesia. Kurikulum Merdeka menyoroti pentingnya penguasaan konsep yang mendalam sebagai dasar untuk mengasah keterampilan berpikir, kemampuan memecahkan masalah, dan beradaptasi dengan dinamika perubahan. Pelajaran yang berperan sangat penting dalam mengembangkan dan meningkatkan kemampuan berpikir tersebut salah satunya adalah Matematika. Matematika tidak berdiri sendiri, namun juga berperan penting sebagai fondasi bagi berbagai bidang ilmu lainnya serta perkembangan zaman dan teknologi modern. (Asih & Imami. Tutiareni et al. , 2. Dari uraian tersebut dapat kita artikan bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang penting untuk dipelajari mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, serta dapat melatih dan mengembangkan kemampuan seperti berpikir kreatif. Di abad ke-21, siswa diharapkan memiliki empat kompetensi utama yaitu berpikir kritis dan pemecahan masalah, kreativitas, keterampilan komunikasi, serta kemampuan berkolaborasi. Hal ini sejalan dengan hadirnya Kurikulum Merdeka yang diharapkan dapat kualitas pendidikan di Indonesia. Kemampuan berpikir, seperti berpikir kreatif, berpikir kritis, dan pemecahan masalah, menjadi keterampilan penting yang harus dimiliki siswa. Pesatnya perkembangan teknologi dan digitalisasi mendukung aktivitas pembelajaran serta membentuk daya saing siswa dengan keterampilan berpikir kritis, kreatif, logis, dan sistematis. Melalui berbagai inovasi pembelajaran, keterampilan ini dapat diperoleh dengan mempelajari matematika (Syam, 2020. Subakti et al. , 2021. Ramal et al. , 2. Sesuai uraian di atas maka kemampuan yang harus ada pada pembelajaran matematika salah satunya merupakan kemampuan berpikir kreatif. Keterlibatan siswa dalam memecahkan masalah matematika yang ditandai dengan banyaknya solusi memberikan kontribusi yang substantif terhadap pengembangan dan peningkatan kreativitas siswa tersebut (Ibrahim & Widodo, 2020. Shaw et al. Kemampuan untuk berpikir kreatif dapat diartikan sebagai kemampuan individu untuk mengemukakan atau menciptakan ide atau konsep baru guna memahami suatu masalah matematika. (Wulandari & Siswono, 2. Berpikir kreatif matematis adalah proses menemukan ide dan solusi lebih dari satu ketika memecahkan masalah yang pada akhirnya mengarah pada solusi yang tepat. (Sari et al. , 2024. Febrianingsih, 2. Sesuai uraian tersebut bisa diartikan kemampuan berpikir kreatif artinya suatu kemampuan dalam menyampaikan solusi, pandangan baru, gagasan, atau konsep lebih dari satu dengan benar. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan hasil bahwa kemampuan siswa berpikir kreatif matematis masuk kategori rendah. Faktor penyebabnya kondisi tersebut salah satunya adalah siswa belum terbiasa mengerjakan soal-soal terbuka yang memiliki berbagai alternatif penyelesaian. Selain itu, tanpa bimbingan intensif dari guru, siswa cenderung kurang termotivasi untuk menyelesaikan soal. Pola penyelesaian soal yang digunakan siswa pun seringkali hanya meniru langkah-langkah yang dicontohkan oleh guru atau yang tertera dalam buku cetak atau panduan. (Ika Pratiwi et al. , 2. Kemudian berdasarkan hasil PISA 2022 menurut (OCDE, 2. , skor rata-rata Indonesia pada PISA Copyright A 2017. JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. ISSN 2460-7800 . | 2580-3263 . JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. , 11. , 2025 Miftah Muthmainna Rasylin. Effie Efrida Muchlish. Hanifah (Programme for International Student Assessmen. yaitu turun 13 poin dari skor 379 sehingga menjadi 366 pada edisi sebelumnya. Angka ini juga lebih rendah 106 poin dibandingkan dengan skor rata-rata Penelitian yang dilakukan oleh (Maharani & Kusno, 2. menunjukkan bahwa siswa Indoensia berada pada tingkat yang masih cukup rendah untuk kemampuan siswa dalam berpikir kreatif. Kemudian, penelitian tersebut mengungkapkan bahwa sekitar 45% siswa pada level kemampuan berpikir kreatif yang rendah. Permasalahan ini, menjadi alasan penting bagi peneliti untuk melakukan studi lebih lanjut untuk kemampuan berpikir kreatif matematis siswa sehingga dapat dilatih serta Hal ini didukung oleh penelitian (Komarudin et al. , 2. yang menunjukkan pentingnya pemilihan materi serta perangkat ajar berupa bahan ajar dan lain sebagainya yang sesuai dan tepat untuk kemampuan yang diukur dan memperhatikan pembagian waktu kegiatan pembelajaran agar hasil pembelajaran dapat optimal dapat tercapai. Dengan demikian, penelitian ini akan menggunakan materi pelajaran yang sesuai dengan kemampuan berpikir kreatif matematika siswa dan memperhatikan pembagian waktu. Selain itu, pembelajaran abad 21 menuntut para siswa dapat berkomunikasi serta berkolaborasi dengan baik serta. Tentunya hal ini harus diperhatikan, karena dengan adanya perbedaan antar individu salah satunya adalah perbedaan kebudayaan. Pendidikan di Indonesia tidak hanya bertujuan untuk mengembangkan kemampuan kognitif, tetapi juga untuk membentuk generasi muda yang mampu menjadi agen perubahan, memiliki karakter yang kuat, dan tanggap budaya dalam menghadapi tantangan di masa mendatang. (Rahmawati et al. , 2. Untuk menghadapi tantangan tersebut, pendekatan pembelajaran yang adaptif dan berbasis budaya menjadi pilihan yang tepat, mengingat keberagaman budaya di Indonesia membentuk karakteristik siswa yang beragam dan unik. Sistem pendidikan nasional tidak hanya dituntut untuk meningkatkan kemampuan kognitif siswa, tetapi juga harus mampu membentuk generasi yang berkarakter, berbudaya, dan siap bersaing di tingkat global. Budaya merupakan konsep penting yang membentuk proses berpikir individu dan merupakan kekuatan dinamis yang mendasari perilakunya. Saat menganalisis perilaku individu, dinamika yang membentuk konteks budaya dan sosial harus dipertimbangkan (Karatas, 2. Menghubungkan budaya lokal dengan materi pembelajaran merupakan salah satu kompetensi penting yang perlu dikuasai dan dikembangkan oleh siswa agar mampu bersaing di era globalisasi seperti saat ini (Niam et al. , 2. Sejalan dengan perkembangan teknologi dan tuntutan pendidikan di era abad ke-21, guru berperan penting dalam mengintegrasikan metode pembelajaran yang peka terhadap keberagaman budaya, seperti Culturally Responsive Teaching (CRT). Pedekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) adalah pendekatan pendidikan yang mengakui dan menghargai latar belakang budaya semua siswa. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar di mana siswa dari berbagai latar belakang budaya merasa dihargai dan dihormati. Dengan mengintegrasikan referensi budaya siswa ke dalam semua aspek pembelajaran. CRT bertujuan untuk meningkatkan hasil pendidikan dan mendorong terciptanya suasana kelas yang lebih inklusif (Ashrafova, 2. Konsep pengajaran ini sebagai menggunakan pengetahuan budaya, pengalaman sebelumnya, kerangka acuan, dan gaya kinerja siswa yang beragam secara etnis untuk membuat pertemuan belajar lebih menonjol bagi mereka (Gay, 2. Penerapan CRT memerlukan terciptanya lingkungan belajar yang aman, inklusif dan toleran di mana keberagaman dihormati untuk memotivasi semua siswa untuk belajar akan berdampak positif terhadap perkembangan akademik dan afektif mereka (Soylu et al. , 2020. Karatas, 2. Pendekatan ini tidak hanya membantu siswa memahami keberagaman budaya, tetapi juga meningkatkan keterlibatan dan pembelajaran yang bermakna. Penelitian yang mendukung adalah penelitian (Hardikarini & Selviari, 2. yang menunjukkan bahwa penerapan pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) yang didukung oleh media pembelajaran Canva mampu meningkatkan keberhasilan belajar dari siswa. Kemudian, penelitian (Fitriah et al. , 2. menunjukkan hasil Copyright A 2017. JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. ISSN 2460-7800 . | 2580-3263 . JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. , 11. , 2025 Miftah Muthmainna Rasylin. Effie Efrida Muchlish. Hanifah observasi mengindikasikan bahwa siswa lebih aktif terlibat dalam proses pembelajaran ketika diterapkan pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT). Para siswa tampak lebih berani bertanya, antusias, dan partisipasi untuk menjawab pertanyaan yang diberikan rekannya ketika berdiskusi atau diberikan oleh guru. Selain itu, pendekatan CRT dianggap efektif jika berhasil menumbuhkan rasa saling menghargai terhadap keberagaman budaya, baik budaya mereka sendiri maupun budaya orang lain. Siswa juga menunjukkan minat dan semangat yang lebih tinggi dalam belajar, terutama ketika materi yang diajarkan berkaitan dengan keberagaman di lingkungan sekolah. Temuan ini mengonfirmasi adanya dampak positif dari penerapan pendekatan CRT dalam Berdasarkan permasalahan yang ada maka perlunya ada perhatian yang cukup untuk mengatasi permasalah tersebut. Pemilihan bahan ajar yang sesuai menjadi jalan keluar untuk mengatasi permasalahan tersebut. LKPD salah satu produk yang dapat dikembangkan sehingga dapat mengatasi permasalahan yang ada. Hal ini didukung dengan hasil penelitian (Choirudin et al. , 2. yang menyatakan bahwa dalam konteks pendidikan, salah satu hasil produk yang dapat dikembangkan atau dibuat oleh guru adalah LKPD. Selain itu. LKPD berfungsi sebagai salah satu fasilitas belajar dan sumber belajar yang efektif untuk siswa, karena dapat menyampaikan informasi mengenai konsep yang dipelajari melalui kegiatan pembelajaran yang terstruktur dan menarik. LKPD ini mencakup informasi praktis, soal atau latihan, serta tes yang dapat dikerjakan siswa secara mandiri atau dalam kelompok, dan juga menyediakan materi untuk diskusi serta berbagai informasi yang mendorong keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar. Dengan demikian. LKPD berperan penting dalam meningkatkan partisipasi siswa dan mengurangi ketidakaktifan mereka. Berdasarkan penjelasan tersebut, penelitian bertujuan mengembangkan LKPD yang berbasis pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) agar sesuai dengan kebutuhan siswa dan dapat melatih serta menunjang peningkatan kemampuan siswa berpikir kreatif matematis. Metode Jenis penelitian R&D (Research and Developmen. menggunakan model pengembangan ADDIE ( Analysis. Design. Development. Implementation, & Evaluatio. Tujuan penelitian buat menghasilkan produk berupa Lembar Kerja peserta didik (LKPD) yg berbasis Pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) y melatih dan meningkatkan kemampuan siswa SMA dalam berpikir kreatif matematis. Penelitian ini telah dilakukan di SMA N 4 Rejang Lebong pada tanggal 14 sampai dengan 26 bulan Oktober tahun ajaran 2024/2025 untuk semester ganjil. Subjek penelitian adalah beberapa siswa kelas X SMA N 4 Rejang Lebong, pada penelitian diambil 2 kelas yaitu kelas X. berjumlah 34 siswa dan kelas X. 8 berjumlah 35 pesserta didik. Teknik pengambilan data melalui lembar validasi LKPD. Lembar Kepraktisan. Wawancara, dan Hasil Tes Siswa. Penilaian LKPD ini berupa angket berskala Likert menurut (Rikani. Istiqomah, 2. Skor Tabel 1. Penskoran dengan Skala Likert Kategori Kelayakan TS (Tidak Setuj. KS (Kurang Setuj. CS (Cukup Setuj. S (Setuj. SS (Sangat Setuj. Pengolahan data akhir hasil validasi dari validator dianalisis dalam yaitu skala 0-100. Nilai validitas = Skor yang diperoleh Skor Maksimum x 100% Kemudian menginterpretasikan data berdasarkan tabel berikut: Copyright A 2017. JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. ISSN 2460-7800 . | 2580-3263 . JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. , 11. , 2025 Miftah Muthmainna Rasylin. Effie Efrida Muchlish. Hanifah Tabel 2. Kategori Validitas (Khair et al. , 2. Tingkat Pencapaian (%) Kategori Sangat Valid 80 O nilai O100 Valid 60 O nilai < 80 Cukup Valid 40 O nilai < 60 Kurang Valid 20 O nilai < 40 Tidak Valid 0 O nilai < 20 Perhitungan data akhir hasil validasi konstruk, materi dan bahasa LKPD dianalisis dalam skala 0-100. Pemberian nilai akhir validasi dari semua validator berdasarkan rumus berikut: Nilai validitas = Skor yang diperoleh dari ketiga validator Skor Maksimum x 100% Analisis efektivitas bahan ajar yang dikembangkan dapat dilakukan melalui beberapa tahapan. Efektivitas LKPD dapat dianalisis dari hasil tes yang diberikan. Tes ini dilaksanakan dengan memberikan soal pre test dan post test berbentuk uraian yang berfokus pada materi SPLTV. Selanjutnya, hasil tes tersebut akan diolah menggunakan rumus perhitungan data akhir dan disajikan skala 0-100 untuk kemudian dilihat kategori keefektifannya . Pemberian nilai validasi dengan rumus Nilai = Skor rataOerata yang diperoleh Skor Maksimum x 100% Kemudian menginterpretasikan data berdasarkan tabel berikut: Tabel 3. Kategori Keefektifan (Khair et al. , 2. Tingkat Pencapaian (%) Kategori Sangat efektif 80 O nilai O100 Efektif 60 O nilai < 80 Cukup efektif 40 O nilai < 60 Kurang efektif 20 O nilai < 40 Tidak efektif 0 O nilai < 20 Kemampuan berpikir kreatif matematis siswa dapat digolongkan berdasarkan kategori berikut: Tabel 4. Kategori Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis menurut (Rolia, et al. , 2. Tingkat Pencapaian (%) Kategori Tinggi 80 O nilai O100 Sedang 60 O nilai < 80 Rendah 40 O nilai < 60 Tabel 5. Pedoman Penskoran Tes Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis (Fitriarosah, 2. Indikator Respon Skor Siswa tidak dapat menyelesaikan masalah atau memberi jawaban yang salah Kelancaran Siswa memberikan sebuah jawaban, ide, atau gagasan namun tidak sesuai dengan permasalahan Siswa memberikan sebuah jawaban, ide, atau gagasan yang sesuai namun jawaban tersebut tidak tepat atau salah Siswa memberikan beberapa jawaban, ide, atau gagasan yang sesuai namun jawaban masih tidak tepat dan salah Siswa memberikan beberapa jawaban, ide, atau gagasan yang sesuai dan penyelesaiannya benar dan jelas Siswa tidak dapat menyelesaikan masalah atau memberi jawaban yang salah Fleksibel/ Siswa memberikan jawaban hanya satu cara tetapi jawaban tidak tepat atau Keluwesan Siswa memberikan jawaban hanya satu cara namun memberikan jawaban Siswa memberikan jawaban lebih dari satu cara atau beragam namun hasilnya ada beberapa yang salah dalam proses perhitungan Siswa memberikan jawaban lebih dari satu cara atau beragam, proses Copyright A 2017. JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. ISSN 2460-7800 . | 2580-3263 . JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. , 11. , 2025 Miftah Muthmainna Rasylin. Effie Efrida Muchlish. Hanifah Orisinalitas Elaborasi perhitungan dan hasilnya benar Siswa tidak dapat menyelesaikan masalah atau memberi jawaban yang salah Siswa memberikan jawaban dengan caranya atau hasil pemikiran sendiri namun tidak dapat dipahami Siswa memberikan jawaban dengan cara sendiri atau hasil pemikiran, proses perhitungan sudah terarah namun tidak selesai Siswa memberikan jawaban dengan cara sendiri atau hasil pemikiran namun terdapat kekeliruan dalam proses perhitungan sehingga hasilnya salah Siswa memberikan jawaban dengan cara sendiri atau hasil pemikiran, proses perhitungan dan hasil benar Siswa tidak dapat menyelesaikan masalah atau memberi jawaban yang salah Siswa memberikan jawaban tetapi terdapat kesalahan dalam menjawab serta tidak dengan perincian Siswa memberikan jawaban tetapi terdapat kesalahan dalam jawaban namun disertai dengan perincian yang kurang detail Siswa memberikan jawaban tetapi terdapat kesalahan dalam jawaban namun disertai dengan perincian yang rinci Siswa memberikan jawaban yang benar, tepat, dan rinci Untul mengukur kemampuan siswa berpikir kreatif matematis secara individu, menggunakan rumus sebagai berikut ini: ycU R = ycU y 100% Keterangan: R = Kemampuan siswa berpikir kreatif matematis tiap individu X = Jumlah total skor tiap individu Y = Jumlah skor maksimum tiap individu Rumus untuk mengukur kemampuan siswa berpikir kreatif secara keseluruhan sebagai berikut : ycI= Ocycu Ocyc y 100% Keterangan: S : Persentase kemampuan siswa berpikir kreatif matematis secara keseluruhan Oc ycu : Jumlah total skor yang diperoleh siswa Oc yc : Jumlah otal skor maksimum siswa Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Proses dan hasil pengembangan LKPD tersebut dijabarkan berdasarkan tahap-tahap ADDIE ( Analysis. Design. Development. Implementation, and Evaluatio. Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dengan pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) pada materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel (SPLTV) untuk kemampuan berpikir kreatif matematis siswa SMA kelas X. Analysis (Analisi. Pada tahap analisis dilakukan penelitian yang meliputi analisis kurikulum, analisis kebutuhan, serta analisis karakter siswa. Dari hasil analisis kebutuhan diperoleh bahwa bahan ajar yang digunakan menunjukkan bahwa bahan ajar yang tersedia berupa seperti buku cetak dan lembar kerja peserta didik (LKPD), namun LKPD yang tersedia hanya berisi latihan. Sehingga. LKPD yang dikembangkan harus lengkap dan mudah dipahami oleh siswa. LKPD untuk kemampuan berpikir kreatif masih kurang, sehingga bahan ajar berupa LKPD yang dikembangkan dirancang dapat melatih serta meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa. Pada bagian analisis kurikulum. SMA Negeri 4 Rejang Copyright A 2017. JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. ISSN 2460-7800 . | 2580-3263 . JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. , 11. , 2025 Miftah Muthmainna Rasylin. Effie Efrida Muchlish. Hanifah Lebong sudah berpedoman pada kurikulum merdeka. Hal ini dilakukan untuk mengindetifikasi dan merinci materi pembelajaran matematika SMA serta sebagai acuan dalam pembuatan LKPD yang akan dikembangkan. Dari hasil analisis. LKPD yang dikembangkan harus berpedoman pada kurikulum merdeka, penelitian dilakukan pada semester ganjil dengan materi SPLTV untuk kelas X. Pada bagian analisis karakter siswa dilakukan observasi dengan melihat sikap siswa terhadap pembelajaran matematika, latar belakang budaya siswa, gaya belajar, dan karakteristik siswa lainnya. Hal ini dilakukan supaya pengembangan yang dilakukan sesuai dan memenuhi kebutuhan dan karakteristik siswa. Hasil dari analisis adalah siswa dalam proses penggunaan LKPD yang tersedia yaitu siswa kurang tertarik, sebagian siswa malas dalam mengerjakan soal, selain itu ketika proses pembelajaran siswa kurang perduli dengan lingkungan sekitar, masih individual, masih kurang menghargai perbedaan, jarang berdiskusi, kurang aktif, kemampuan dalam berpikir kreatif matematis masih kurang, serta masih banyak siswa yang kurang mengenal budaya sendiri. Sehingga. LKPD yang telah dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan siswa berpikir kreatif matematis serta berbasis pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) serta dihubungkan permasalah kontekstual yang tedapat dalam kehidupan siswa sehari-hari. Design (Perancanga. Pada tahap perencanaan dilakukan proses perancangan LKPD disesuaikan dengan hasil analisis yang telah diperoleh. LKPD yang dirancang berbasis pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) untuk kemampuan berpikir kreatif matematis siswa. LKPD dibuat menyesuaikan capaian pembelajaran dan tujuan pembelajaran pada kurikulum merdeka. Berikut rancangan LKPD Gambar. 1 Hasil Rangana LKPD Pada bagian orientasi masalah yang diberikan adalah permasalahan yang melatih kemampuan siswa dalam berpikir kreatif matematis serta terdapat penerapan pendekatan CRT yaitu tentang budaya batik basurek yang merupakan kain batik khas Bengkulu. Copyright A 2017. JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. ISSN 2460-7800 . | 2580-3263 . JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. , 11. , 2025 Miftah Muthmainna Rasylin. Effie Efrida Muchlish. Hanifah Gambar 2. Hasil Rancangan LKPD Pada bagian menganalisis dan mengevaluasi terdapat penerapan pendekatan CRT yaitu tentang makanan khas Bengkulu dan permasalahan yang dapat melatih siswa dalam berpikir kreatif Development (Pengembanga. Tahapan Design (Perancanga. selesai, dilanjutkan ke tahap Development (Pengembanga. Pada tahap ini dilakukan penjumlahan dan mencari rata-rata hasil validasi dari ketiga validator baik dari segi konstruk, materi, dan bahasa yang , kemudian dicocokan dengan kriteria validasi. Tabel 6. Hasil Validasi ketiga validator Aspek Validator Konstruk Materi Rata-rata (%) Bahasa Dari hasil validitas LKPD menghasilkan LKPD yang berbasis Culturally Responsive Teaching (CRT) untuk kemampuan siswa berpikir kreatif matematis dengan materi SPLTV yang valid. Valid berdasarkan konstruk, materi dan bahasa yang dilakukan oleh para ahli. Berdasarkan hasil validasi yang diperoleh secara keseluruhan aspek bagian konstruk LKPD 92%, bagian materi 92%, dan bagian bahasa 89%. Sehingga LKPD dapat diuji coba terbatas yang akan dilakukan pada siswa kelas X SMA Negeri 4 Rejang Lebong pada materi SPLTV. Pada saat uji coba terbatas pada siswa akan dilihat kepraktisan LKPD berdasarkan hasil penilaian kepraktisan dari angket respon yang diisi oleh siswa dan dilihat keefektifan LKPD pada hasil tes setelah proses pembelajaran. Implementation ( Implementas. Pada tahap implemetasi LKPD yang telah direvisi dan dinyatan valid sehingga layak digunakan berdasarkan hasil validasi oleh validator. LKPD tersebut di uji coba terbatas kepada beberapa siswa kelas X SMA Negeri 4 Rejang Lebong. Berikut uji coba pada tahap implemtasi. Uji Coba Kepraktisan LKPD dan Respon Siswa Sebelum pembelajaran siswa diberikan pre test, kemudian siswa melakukan pembelajaran menggunakan LKPD yang telah dikembangkan, kemudian siswa diberi lembar angket respon. Berdasarkan data yang diperoleh dan dilakukan perhitungan kemudian dicocokkan dengan kriteria kepraktisan diperolah tingkat kepraktisan 96% dapat disimpulkan LKPD masuk kategori sangat Respon siswa terhadap LKPD berbasis Culturally Responsive Teaching (CRT) yang dikembangkan bernilai positif. Adapun data kualitatif pada tahap ini LKPD tidak mengalami revisi lagi, kemudian dilihat dari hasil kegiatan wawancara. Hasil wawancara menunjukkan bahwa sebagian Copyright A 2017. JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. ISSN 2460-7800 . | 2580-3263 . JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. , 11. , 2025 Miftah Muthmainna Rasylin. Effie Efrida Muchlish. Hanifah besar siswa jarang mengerjakan soal-soal dengan jawaban lebih dari satu, siswa cukup kesulitan untuk memahami dan mencari solusi lebih dari satu. Namun, setealah pembelajaran dengan bantuan LKPD ini mereka cukup terbantu dan mulai berlatih untuk mencari solusi lebih dari satu jawaban. Selain itu, siswa dapat mengerti apa yang dimaksud oleh petunjuk, materi, soal, pernyataan, dan alur dari LKPD yang dikembangkan tersebut sehingga tidak terlalu banyak hambatan dalam memahami dan mengerjakan soal pada LKPD. Respon siswa menunjukkan bahwa keterbacaan LKPD oleh siswa sudah bagus, dapat disimpulkan dari hasil wawancara dan pengisian angket kepraktisan siswa. LKPD berbasis CRT sudah masuk kategori praktis. Uji Keefektifan Setelah LKPD dinyatakan valid dan praktis, dilanjukan dengan tahap uji coba terbatas untuk Analisis hasil uji kefektifan LKPD yang dikembangkan untuk mengetahui efektifitas LKPD berbasis CRT dengan materi SPLTV untuk kemampuan siswa berpikir matematis . Berikut hasil uji keefektifan. Kelas Kelas X. Kelas X. Tabel 7. Nilai Keefektifan Nilai Keefektifan Kategori Efektif Efektif Berdasarkan hasil nilai tes kemampuan kognitif siswa setelah pembelajaran dengan menggunakan LKPD menunjukkan bahwa LKPD yang digunakan efektif dengan nilai keefektifan pada kelas X. 7 dengan jumlah 35 siswa yaitu 73 % dan kelas X. 8 dengan jumlah 34 siswa yaitu 77 % masuk kategori efektif. Tabel 8. Rekapitulasi Persentase Setiap Kategori Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Kelas X. Kategori Jumlah Responden Jumlah Persentase Memperoleh Kategori Responden Tinggi Sedang Rendah Dari tabel rekapitulasi di atas memperlihatkan banyaknya siswa pada setiap kategori dan Pada kategori tinggi terdapat 6 siswa atau sebanyak 17%. Pada kategori sedang terdapat 13 siswa atau sebanyak 37%. Pada kategori rendah terdapat 16 siswa atau 46%. Tabel 9. Rekapitulasi Persentase Setiap Kategori Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Kelas X. Kategori Jumlah Responden Jumlah Persentase Memperoleh Kategori Responden Tinggi Sedang Rendah Dari tabel rekapitulasi di atas memperlihatkan banyaknya siswa pada setiap kategori dan Pada kategori tinggi terdapat 8 orang peserta atau sebanyak 24%. Pada kategori sedang terdapat 16 siswa atau sebanyak 47%. Pada kategori rendah terdapat 10 siswa atau 29%. Tabel 10. Rekapitulasi Persentase Secara Keseluruhan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Kelas Nilai Keefektifan Kategori Kelas X. Sedang Kelas X. Sedang Copyright A 2017. JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. ISSN 2460-7800 . | 2580-3263 . JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. , 11. , 2025 Miftah Muthmainna Rasylin. Effie Efrida Muchlish. Hanifah Dari penjelasan uraian maka disimpulkan bahwa kemampuan siswa berpikir kreatif matematis masuk kategori sedang. Sehingga. LKPD berbasis CRT untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berpikir kreatif matematis yang telah dikembangkan sudah efektif. Sehingga LKPD yang dikembangkan efektif digunakan untuk siswa SMA. Berikut beberapa jawaban tes siswa yang telah Gambar 3. Jawaban Siswa Pada gambar 3 siswa dapat memodelkan masalah SPLTV berbasis budaya Bengkulu tentang makanan Tradisional yang merupakan penerapan pendekatan CRT untuk siswa dalam berpikir kreatif Pada bagian ini siswa dalam pemisalan yang berbeda-beda. Gambar 4. Jawaban siswa Pada gambar 4 siswa menjawab soal dengan jawaban lebih dari 1 ini menunjukkan siswa dapat berpikir kreatif dalam menyelesaian soal yang diberikan setelah proses pembelajaran dengan menggunakan LKPD berbasis pendekatan CRT. Copyright A 2017. JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. ISSN 2460-7800 . | 2580-3263 . JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematik. , 11. , 2025 Miftah Muthmainna Rasylin. Effie Efrida Muchlish. Hanifah Evaluation (Evaluas. Pada tahap ini diperoleh kesimpulan bahwa hasil pengembangan bahan ajar berupa LKPD untuk siswa kelas X dalam berpikir kreatif matematis materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel (SPLTV) berbasis Culturally Responsive Teaching (CRT) dinyatakan valid hal ini berdasarkan data yang diperoleh dari hasil validasi ketiga validator baik dari segi aspek konstruk LKPD, materi, dan Pengembangan LKPD ini juga mendapatkan respon positif dari siswa yang telah menggunakan LKPD yang dikembangkan. Hal ini terbukti dari hasil wawancara dan penilaian respon siswa terhadap LKPD berdasarkan hasil data kepraktisan yaitu angket sehingga diperoleh LKPD yang LKPD berbasis Culturally Responsive Teaching (CRT) pada materi SPLTV untuk siswa kelas X berpikir kreatif matematis dinyatakan efektif berdasarkan hasil tes pengetahuan. Berdasarkan penjelasan di atas diperoleh kesimpulan bahwa LKPD berbasis Culturally Responsive Teaching (CRT) pada materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel (SPLTV) untuk kemampuan berpikir kreatif matematis siswa kelas X yang dikembangkan telah masuk kategori valid, praktis, dan efektif. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMA Negeri 4 Rejang Lebong sejak tanggal pada 14 hingga 26 Oktober 2024 dapat disimpulkan bahwa penelitian menghasilkan LKPD dengan materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel (SPLTV) yang valid. Valid berdasarkan konstruk, materi dan bahasa. Berdasarkan hasil validasi oleh para ahli diperoleh secara keseluruhan aspek bagian konstruk LKPD 92%, bagian materi 92%, dan bagian bahasa 89%. Untuk respon siswa diperolah tingkat kepraktisan 96% dapat disimpulkan LKPD masuk kategori sangat praktis. Berdarkan hasil wawancara juga menunjukkan respon positif dari siswa. Selanjutnya, keefektifan terlihat dari nilai pada kelas X. 7 sebanyak 35 siswa yaitu 73 % dan kelas X. 8 sebanyak 34 siswa yaitu 77 % masuk kategori efektif. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka disarankan guru dapat menggunakan LKPD untuk kemampuan siswa dalam berpikir kreatif matematis berbasis Culturally Responsive Teaching (CRT) dan menjadikan LKPD menjadi referensi pembuatan LKPD serta bagi peneliti lain disarankan agar dapat melakukan pengembangan LKPD yang berbasis Culturally Responsive Teaching (CRT) untuk kemampuan siswa dalam berpikir kreatif matematis materi lain dan penelitian dapat dilakukan secara uji luas. Daftar Pustaka