ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 PENGARUH PENGALAMAN AUDITOR. KEAHLIAN AUDITOR. INDEPENDENSI, TEKANAN KETAATAN. DAN KOMPLEKSITAS TUGAS TERHADAP AUDIT JUDGEMENT Nadya Vincent Universitas Multimedia Nusantara vincent@umn. Maria Stefani Osesoga Universitas Multimedia Nusantara stefani@umn. Diterima 5 Mei 2019 Disetujui 30 Juni 2019 Abstract-This research aims to determine the effect of auditor's experience, auditor's expertise, independence, compliance pressure, and task complexity on audit judgement. The data used in this study was primary data. This research was conducted by distributing questionnaires to auditors working in Public Accounting Firm located in Jakarta and Tangerang in 2018-2019. Auditors who become respondents were auditors with work experience of more than three years and educated at least bachelor degree (S. in There were 208 questionnaires distributed for this research, but only 166 questionnaires were returned and 104 questionnaires were used in this research using multiple linear regression. The result of this research are . auditorAos experience has no effect on audit judgement, . auditorAos expertise has a significant effect on audit judgement, . independence has a significant effect on audit judgement, . compliance pressure has no effect on audit judgement, . task complexity has a significant effect on audit judgement, and . auditorAos experience, auditorAos expertise, independence, compliance pressure, and task complexity have a significant effect on audit judgement. Keywords: Audit compliance pressure, independence auditorAos auditorAos Pendahuluan Profesi akuntan publik dibutuhkan dalam dunia bisnis untuk meyakinkan para pengguna laporan keuangan bahwa laporan keuangan perusahaan telah disusun dengan wajar sesuai dengan standar. Profesi akuntan publik menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 2011 tentang Akuntan Publik merupakan suatu profesi yang jasa utamanya adalah jasa asurans dan hasil pekerjaannya digunakan secara luas oleh publik sebagai salah satu pertimbangan penting dalam pengambilan keputusan. Jasa asurans ini meliputi jasa audit atas informasi keuangan historis, jasa reviu atas informasi keuangan historis, dan jasa asurans Akuntan publik memberikan pendapatnya lewat laporan audit yang berisi opini auditor mengenai kewajaran laporan keuangan perusahaan. Opini yang didukung oleh bukti audit yang memadai dan sesuai dengan kondisi perusahaan akan mengarah kepada pengambilan keputusan yang tepat. Maka dari itu, auditor memiliki tanggung jawab yang penting dalam melindungi kepentingan publik yang tidak terbatas pada kepentingan klien, namun juga para pengguna laporan keuangan. | 58 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Dalam proses penetapan opini, auditor melakukan berbagai prosedur audit untuk memperoleh keyakinan mengenai kewajaran laporan keuangan perusahaan. Salah satu cara memperoleh keyakinan mengenai kewajaran laporan keuangan adalah dengan mengumpulkan bukti audit. Pengumpulan bukti ini membutuhkan pertimbangan auditor untuk mengevaluasi dan memutuskan apakah bukti audit yang tersedia telah cukup memadai untuk mendukung pendapatnya atas kewajaran laporan keuangan. Semakin tinggi risiko salah saji dan risiko rendahnya internal control, maka bukti audit yang harus dikumpulkan harus semakin banyak. Pertimbangan auditor dapat menjadi kurang tepat jika auditor mudah percaya dengan klien yang sedang diaudit dan cepat puas dengan bukti yang telah dikumpulkannya. Hal ini dapat merugikan auditor seperti kasus pemberian sanksi oleh Public Company Accounting Oversight Board (PCAOB) kepada auditor Ernst and Young (EY) Ae Indonesia pada 9 Februari PCAOB adalah perusahaan nonprofit yang bertujuan untuk melindungi investor dan kepentingan publik dengan laporan keuangan yang informatif, akurat, dan independen. Sanksi diberikan kepada EY-Indonesia karena opini audit yang diterbitkan untuk PT Indosat Tbk. tidak didukung oleh bukti yang cukup mengenai perhitungan 4. 000 menara seluler. EY-Indonesia telah mengevaluasi kelemahan kontrol PT Indosat Tbk dalam mengklasifikasikan leasing menara seluler sebagai kelemahan yang signifikan, tetapi tidak Sebagai tanggapan, direktur praktik profesional mengijinkan partner perikatan untuk merilis laporan audit dengan opini wajar tanpa pengecualian terhadap laporan keuangan 2011 PT Indosat Tbk . ttp://pcaobus. Keputusan auditor EY-Indonesia untuk menerbitkan laporan audit wajar tanpa pengecualian tanpa bukti yang mendukung menjerumuskan auditor dalam tindakan-tindakan menyimpang lain seperti perumusan opini yang tidak tepat serta pemalsuan kertas kerja setelah laporan audit rilis. Atas kegagalan audit tersebut. PCAOB memberi denda EY-Indonesia sebesar satu juta Dolar Amerika Serikat. Selain itu. PCAOB juga memberi sanksi kepada partner EYIndonesia. Roy Iman Wirahardja yaitu denda sebesar $20. 000 dan tidak lagi menjadi asosiasi EY-Indonesia, serta memberi sanksi denda kepada James Randall Leali, mantan direktur EY wilayah Asia Pasifik sebesar $10. 000 dan dilarang memberikan jasa sebagai partner perikatan . ttp://pcaobus. Seharusnya auditor mempertimbangkan terlebih dahulu kecukupan dan kelayakan bukti audit, lalu melaksanakan perumusan opini agar auditor tidak mengalami sanksi tersebut. Tindakan tegas PCAOB dalam memberikan sanksi kepada EY-Indonesia membuktikan bahwa kesalahan dalam mempertimbangkan kecukupan bukti audit bukan merupakan perkara kecil seperti yang dikatakan ketua PCAOB. James R. Doty yaitu audit yang andal sangat penting untuk memberikan dasar keyakinan bagi investor untuk berpartisipasi di pasar modal. Setiap perusahaan audit yang mendaftarkan diri pada PCAOB harus memastikan bahwa anggotanya mematuhi dan dapat bekerjasama dengan inspeksi dan investigasi PCAOB . ttp://pcaobus. Kegagalan auditor dalam memperoleh bukti yang memadai seperti yang dialami oleh EYIndonesia tersebut seharusnya dihindari karena kegagalan audit dapat memberikan dampak yang merugikan banyak pihak. Yusriwarti . mengatakan bahwa kasus kegagalan audit tidak hanya berakibat pada menurunnya kepercayaan investor terhadap integritas penyajian laporan keuangan, tetapi juga berakibat pada reputasi auditor yang berdampak pada hilangnya kepercayaan publik. Dalam pencegahan terjadinya kasus-kasus gagal audit, auditor dituntut | 59 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 untuk bersikap profesional. Sikap profesionalisme auditor dapat dicerminkan oleh ketepatan auditor dalam membuat judgement dalam penugasan auditnya (Ayudia, 2. Berdasarkan Standar Audit (SA) 200, judgement atau pertimbangan profesional adalah penerapan pelatihan, pengetahuan, dan pengalaman yang relevan, dalam konteks standar audit, akuntansi, dan etika, dalam membuat keputusan yang diinformasikan tentang tindakan yang tepat sesuai dengan kondisi dalam perikatan audit (IAPI, 2. Nugraha dan Januarti . mengatakan bahwa judgement merupakan kegiatan yang selalu digunakan auditor dalam setiap proses audit, untuk itu auditor harus terus mengasah judgement mereka. Tepat atau tidaknya judgement seorang auditor akan menentukan kualitas dari hasil audit dan juga opini yang akan dikeluarkan oleh auditor. Audit judgement merupakan salah satu cara pandang auditor dalam menanggapi informasi yang mempengaruhi dokumentasi bukti serta pembuatan keputusan pendapat auditor atas laporan keuangan suatu entitas. Berdasarkan SA 200, pelaksanaan pertimbangan profesional dalam kasus tertentu didasarkan pada fakta dan kondisi yang diketahui oleh auditor. Pertimbangan profesional diperlukan terutama dalam membuat keputusan tentang (IAPI, 2. Materialitas dan risiko audit. Sifat, saat, dan luas prosedur audit yang digunakan untuk memenuhi ketentuan SA dan mengumpulkan bukti audit. Pengevaluasian tentang apakah bukti audit yang cukup dan tepat telah diperoleh, dan apakah pengevaluasian lebih lanjut dibutuhkan untuk mencapai tujuan SA dan tujuan keseluruhan auditor. Pengevaluasian tentang pertimbangan manajemen dalam menerapkan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku bagi entitas. Penarikan kesimpulan berdasarkan bukti audit yang diperoleh, sebagai contoh, penilaian atas kewajaran estimasi yang dibuat oleh manajemen dalam menyusun laporan keuangan. Audit judgement memiliki peranan yang penting dalam proses audit secara keseluruhan. Menurut Idris . dalam Ariyantini, et al. dalam setiap proses audit digunakan Ketepatan judgement auditor akan mempengaruhi kualitas hasil audit dan opini Audit judgement yang tepat akan meminimalkan risiko audit dan memberikan hasil audit yang berkualitas. Jika seorang auditor melakukan judgement yang kurang tepat, dan berpengaruh terhadap ketepatan opini akhir mengenai kewajaran laporan keuangan. Dampak merugikan yang menyangkut harga diri, moral organisasi, hubungan bisnis, dan reputasi dalam masyarakat jauh lebih besar dibanding nilai uang yang dikeluarkan dalam pembelaan atas tuntutan tersebut (Puspitasari, 2011 dalam Fitriana, et al. , 2. Audit judgement merupakan penerapan pelatihan, pengetahuan, dan pengalaman yang relevan dalam proses audit. Menurut Drupadi dan Sudana . , audit judgement merupakan suatu pertimbangan atas persepsi dalam menanggapi informasi laporan keuangan yang diperoleh, ditambah dengan faktor-faktor dari dalam diri auditor, sehingga menghasilkan suatu dasar penilaian dari auditor. Auditor dikatakan memiliki judgement yang tepat jika auditor dapat mendeteksi kecurangan klien. Auditor juga dapat mengevaluasi apakah bukti audit yang cukup dan tepat telah diperoleh. Selain itu, auditor juga dapat membuat keputusan yang tepat mengenai materialitas dan auditor dapat menarik kesimpulan berdasarkan bukti audit yang diperoleh dan menyampaikan salah saji material dalam laporan keuangan auditan yang | 60 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Audit judgement dipengaruhi oleh banyak faktor, namun dalam penelitian ini faktor-faktor yang diteliti adalah pengalaman auditor, keahlian auditor, independensi, tekanan ketaatan, dan kompleksitas tugas. Menurut Singgih dan Bawono . dalam Alamri . , pengalaman audit adalah pengalaman yang dimiliki oleh seorang auditor dalam melakukan pemeriksaan dari banyaknya penugasan yang berbeda yang pernah dilakukan dan juga lamanya auditor menjalankan profesinya serta dapat menambah pengetahuannya mengenai pendeteksian Pengalaman seorang auditor akan bertambah seiring dengan lamanya auditor menjalankan profesinya dan juga banyaknya penugasan audit yang telah dilakukan. Semakin lama menjadi auditor, auditor semakin mengerti bagaimana menghadapi entitas atau obyek pemeriksaan dalam memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan, auditor dapat mengetahui informasi yang relevan untuk mengambil pertimbangan dalam membuat Semakin banyak tugas pemeriksaan yang dihadapi auditor, auditor semakin cermat dan teliti dalam menyelesaikan tugasnya dan mendapatkan kesempatan untuk belajar dari kegagalan dan keberhasilan yang pernah dialami. Dengan demikian, auditor dapat mendeteksi kecurangan klien serta mengvaluasi dan memperluas bukti yang membuat audit judgement yang dihasilkan juga lebih tepat. Hasil penelitian Ariyantini, et al. menyatakan bahwa pengalaman auditor berpengaruh signifikan terhadap audit judgement. Selain pengalaman auditor, faktor yang mempengaruhi audit judgement adalah keahlian Keahlian audit menurut Artha, et al. adalah kemampuan dan pengetahuan auditor akan dunia audit itu sendiri yang berasal dari pendidikan formalnya dan ditunjang dengan pengalaman dalam praktik audit. Keahlian auditor dapat ditingkatkan dengan pendidikan formal dan pelatihan mengenai auditing serta sertifikasi. Auditor dikatakan memiliki keahlian yang baik jika auditor memahami Standar Akuntansi Keuangan (SAK) dan Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) dan memahami akuntansi dan proses audit, sehingga auditor dapat mendeteksi kecurangan klien dan memperluas pengujian bukti audit yang membuat audit judgement yang dihasilkan juga lebih tepat. Dengan demikian, semakin tinggi keahlian auditor, maka audit judgement yang dihasilkan menjadi semakin tepat. Hasil penelitian Drupadi dan Sudana . menyatakan bahwa keahlian auditor berpengaruh signifikan terhadap audit judgement. Faktor lain yang juga mempengaruhi audit judgement ialah independensi. Independensi adalah sikap yang bebas dari pengaruh pihak lain . idak dikendalikan dan tidak bergantung pada pihak lai. , secara intelektual bersikap jujur, dan objektif . idak memiha. dalam mempertimbangkan fakta dan menyatakan opininya (Mulyadi, 2008 dalam Drupadi dan Sudana, 2. Auditor yang memiliki independensi tinggi akan melakukan pelaporan yang bebas dari usaha pihak lain dan akan menolak permintaan klien untuk tidak mencantumkan temuan dalam laporan audit walaupun auditor telah mendapatkan fee yang besar. Jika auditor menemukan kesalahan pencatatan yang disengaja oleh klien, auditor akan tetap melaporkan kesalahan dan tidak dipengaruhi oleh hubungannya dengan klien. Dengan demikian, auditor dapat melakukan proses audit secara objektif dan dapat menyampaikan salah saji klien dalam laporan auditnya sehingga audit judgement yang dihasilkan oleh auditor akan semakin tepat. Maka dari itu, semakin tinggi independensi, audit judgement akan semakin tepat. Hasil penelitian Drupadi dan Sudana . menyatakan bahwa independensi berpengaruh signifikan terhadap audit judgement. | 61 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Tekanan ketaatan merupakan faktor yang juga berpengaruh terhadap audit judgement. Praditaningrum . dalam Ariyantini, et al. menjelaskan bahwa tekanan ketaatan adalah tekanan yang berasal dari atasan atau dari auditor senior ke auditor junior dan tekanan yang berasal dari entitas yang diperiksa untuk melaksanakan penyimpangan terhadap standar yang telah ditetapkan. Tekanan ketaatan dapat mengakibatkan auditor berperilaku menyimpang dari standar profesional akuntan publik untuk menaati klien atau atasannya. Ketika auditor tidak memenuhi keinginan klien dan tidak menaati perintah atasan untuk berperilaku menyimpang dari standar profesional dengan risiko auditor akan mendapat masalah dengan klien, objektivitas auditor semakin meningkat dan auditor dapat menyampaikan salah saji klien dalam laporan auditor sehingga berdampak pada audit judgement yang tepat. Dengan demikian, jika tekanan ketaatan rendah, maka audit judgement yang dibuat semakin tepat. Hasil penelitian Ayudia . menyatakan bahwa tekanan ketaatan berpengaruh signifikan terhadap audit judgement. Faktor lain yang mempengaruhi audit judgement adalah kompleksitas tugas. Kompleksitas tugas adalah persepsi individu tentang kesulitan suatu tugas yang disebabkan oleh terbatasnya kapasitas dan daya ingat serta kemampuan untuk mengintegrasikan masalah yang dimiliki oleh seorang pembuat keputusan (Irwanti, 2011 dalam Fitriana, et al. , 2. Kompleksitas tugas yang rendah membuat auditor mengetahui dengan jelas tugas mana yang harus dikerjakan dan cara mengerjakan setiap tugasnya, sehingga auditor dapat mendeteksi kecurangan yang terjadi selama proses audit serta dapat memperluas bukti dan berdampak pada audit judgement yang semakin tepat. Dengan demikian, semakin rendah kompleksitas tugas, audit judgement menjadi semakin tepat. Hasil penelitian Fitriana, et al. menyatakan bahwa kompleksitas tugas berpengaruh signifikan terhadap audit judgement. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini Apakah pengalaman auditor berpengaruh terhadap audit judgement? Apakah keahlian auditor berpengaruh terhadap audit judgement? Apakah independensi berpengaruh terhadap audit judgement? Apakah tekanan ketaatan berpengaruh terhadap audit judgement? Apakah kompleksitas tugas berpengaruh terhadap audit judgement? II. Tinjauan Literatur dan Hipotesis Audit Menurut Agoes . , auditing adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis, oleh pihak yang independen terhadap laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen, beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya, dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut. Menurut Standar Audit (SA) 200 paragraf 3, tujuan suatu audit adalah untuk meningkatkan tingkat keyakinan pengguna laporan keuangan yang dituju. Hal ini dicapai melalui pernyataan suatu opini oleh auditor tentang apakah laporan keuangan disusun, dalam semua hal yang material, sesuai dengan suatu kerangka pelaporan keuangan yang berlaku. Dalam hal kebanyakan kerangka bertujuan umum, opini tersebut adalah tentang apakah laporan keuangan disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, sesuai dengan kerangka. Suatu audit yang dilaksanakan berdasarkan SA dan ketentuan etika yang relevan memungkinkan auditor untuk merumuskan opini (IAPI, 2. | 62 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 2011 tentang Akuntan Publik Pasal 25 Ayat . , akuntan publik dalam memberikan jasanya wajib melalui Kantor Akuntan Publik (KAP), mematuhi dan melaksanakan Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) dan kode etik profesi, serta peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan jasa yang diberikan, dan membuat kertas kerja dan bertanggung jawab atas kertas kerja tersebut. SPAP adalah acuan yang ditetapkan menjadi ukuran mutu yang wajib dipatuhi oleh akuntan publik dalam pemberian jasanya. Sedangkan Kode Etik Profesi Akuntan Publik menurut Saputra . dalam Ningtyas dan Aris . adalah aturan etika yang harus diterapkan oleh anggota Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) dan staf profesional . aik yang menjadi anggota IAPI maupun yang bukan anggota IAPI) yang bekerja pada suatu kantor akuntan publik. Pada akhir proses audit, seperti yang dijelaskan dalam SA 700 paragraf 10, auditor harus merumuskan suatu opini tentang apakah laporan keuangan disusun, dalam semua hal yang material, sesuai dengan kerangka pelaporan yang berlaku. Perumusan opini auditor dibagi menjadi dua bentuk, yaitu opini tanpa modifikasian dan opini dengan modifikasian. Opini tanpa modifikasian Auditor harus menyatakan opini tanpa modifikasian bila auditor menyimpulkan bahwa laporan keuangan disusun, dalam semua hal yang material, sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku. Opini dengan modifikasian Auditor harus memodifikasi opininya dalam laporan auditor berdasarkan SA 705 jika auditor: Menyimpulkan bahwa, berdasarkan bukti audit yang diperoleh, laporan keuangan secara keseluruhan tidak bebas dari kesalahan penyajian material. Tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk menyimpulkan bahwa laporan keuangan secara keseluruhan bebas dari kesalahan penyajian material. Audit Judgement Berdasarkan Standar SA 200, judgement atau pertimbangan profesional adalah penerapan pelatihan, pengetahuan, dan pengalaman yang relevan, dalam konteks standar audit, akuntansi, dan etika, dalam membuat keputusan yang diinformasikan tentang tindakan yang tepat sesuai dengan kondisi dalam perikatan audit. Menurut Tantra . dalam Drupadi dan Sudana . , audit judgement adalah suatu pertimbangan atas persepsi dalam menanggapi informasi laporan keuangan yang diperoleh, ditambah dengan faktor-faktor dari dalam diri auditor, sehingga menghasilkan suatu dasar penilaian dari auditor. SA 200 pada paragraf 16 juga menyebutkan bahwa pada saat merencanakan, melaksanakan dan melaporkan hasil audit atas laporan keuangan, auditor harus menggunakan pertimbangan profesionalnya. Audit judgement diperlukan karena audit tidak semuanya dilakukan terhadap seluruh bukti. (Nadhiroh, 2010 dalam Nugraha dan Januarti, 2. Pertimbangan atau judgement tergantung pada kedatangan informasi yang tidak hanya mempengaruhi pilihan yang akan diambil, tetapi juga mempengaruhi bagaimana cara pilihan itu dibuat. Semakin banyak informasi baru yang datang maka akan muncul pertimbangan dan keputusan atau pilihan baru. Dalam menanggapi informasi yang ada, setiap auditor memiliki cara pandang yang berbeda antara auditor satu dengan auditor lainnya. Cara pandang terhadap informasi tersebut akan menentukan judgement apa yang akan dibuatnya (Ayudia, 2. | 63 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Professional judgement dapat dan harus diterapkan dalam semua tahap proses audit. Yang paling menonjol adalah dalam menilai standar akuntansi yang diterapkan oleh perusahaan yang laporan keuangannya diaudit oleh auditor independen dan dalam menerapkan standar profesi akuntan publik. Jadi, professional judgement sangat erat hubungannya dengan penerapan standar akuntansi . leh manajemen perusahaa. dan evaluasi dan pelaporan mengenai penerapan standar akuntansi . leh audito. (Tuanakotta, 2. Berdasarkan SA 200, pelaksanaan pertimbangan profesional dalam kasus tertentu didasarkan pada fakta dan kondisi yang diketahui oleh auditor. Pertimbangan profesional diperlukan terutama dalam membuat keputusan tentang (IAPI, 2. Materialitas dan risiko audit. Sifat, saat, dan luas prosedur audit yang digunakan untuk memenuhi ketentuan SA dan mengumpulkan bukti audit. Pengevaluasian tentang apakah bukti audit yang cukup dan tepat telah diperoleh, dan apakah pengevaluasian lebih lanjut dibutuhkan untuk mencapai tujuan SA dan tujuan keseluruhan auditor. Pengevaluasian tentang pertimbangan manajemen dalam menerapkan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku bagi entitas. Penarikan kesimpulan berdasarkan bukti audit yang diperoleh, sebagai contoh, penilaian atas kewajaran estimasi yang dibuat oleh manajemen dalam menyusun laporan keuangan. SA 200 menjelaskan bahwa karakteristik untuk pertimbangan profesional yang diharapkan dari seorang auditor adalah pertimbangan yang dibuat oleh seorang yang pelatihan, pengetahuan, dan pengalamannya telah membantu pengembangan kompetensi yang diperlukan untuk mencapai pertimbangan-pertimbangan wajar yang dibuatnya (IAPI, 2. SA 200 paragraf A26-A27 juga menyatakan bahwa pertimbangan profesional dapat dievaluasi berdasarkan apakah pertimbangan yang dibuat mencerminkan suatu penerapan prinsip audit dan akuntansi yang kompeten dan tepat, serta konsisten dengan fakta dan kondisi yang diketahui oleh auditor hingga tanggal laporan auditor. Pertimbangan profesional perlu dilakukan sepanjang audit. Pertimbangan profesional juga perlu didokumentasikan dengan tepat. Dalam hal ini, auditor diharuskan untuk membuat dokumentasi audit yang cukup untuk memungkinkan seorang auditor lain yang berpengalaman, yang sebelumnya tidak memiliki hubungan dengan audit tersebut, memahami pertimbangan profesional signifikan yang dibuat dalam menarik kesimpulan atas hal-hal signifikan yang timbul selama audit. Pertimbangan profesional tidak untuk digunakan sebagai justifikasi untuk keputusan yang tidak didukung oleh fakta dan kondisi perikatan atau bukti audit yang tidak cukup dan tidak tepat (IAPI, 2. Pengalaman Auditor Singgih dan Bawono . dalam Alamri, et al. , . mendefinisikan pengalaman sebagai keterampilan dan pengetahuan yang diperoleh seseorang setelah mengerjakan sesuatu hal Sedangakan pengalaman audit adalah pengalaman yang dimiliki oleh seorang auditor dalam melakukan pemeriksaan dari banyaknya penugasan yang berbeda yang pernah dilakukan dan juga lamanya auditor menjalankan profesinya serta dapat menambah pengetahuannya mengenai pendeteksian kekeliruan. Menurut Margaret dan Raharja . , pengalaman membentuk seorang auditor menjadi terbiasa dengan situasi dan keadaan dalam setiap Puspaningsih . dalam Nugraha dan Januarti . menjelaskan bahwa | 64 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 pengalaman dapat memberikan peluang bagi seseorang untuk melakukan pekerjaan dengan lebih baik. Semakin luas pengalaman kerja seseorang, semakin terampil melakukan pekerjaan dan semakin sempurna pola berpikir dan sikap dalam bertindak untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Ningtyas dan Aris . mengatakan bahwa indikator pengalaman auditor adalah lamanya berkerja sebagai auditor dan banyaknya tugas pemeriksaan. Ariyantini, et al. , . menjelaskan bahwa semakin tinggi pengalaman auditor maka audit judgement yang dihasilkan akan semakin tepat. Seorang auditor berpengalaman akan mampu mengasah kepekaannya dalam memahami informasi, kecurangan dan kesalahan penyajian laporan keuangan yang berhubungan dengan pembuatan judgement. Pengalaman yang dimiliki auditor dapat membuat auditor belajar dari kesalahan di masa lalu agar bisa membuat judgement yang lebih baik lagi. Berdasarkan uraian yang telah disampaikan, maka dapat diajukan hipotesis yaitu: Ha1: Pengalaman auditor berpengaruh terhadap audit judgement. Keahlian Auditor Keahlian didefinisikan sebagai keberadaan dari pengetahuan tentang suatu lingkungan tertentu, pemahaman terhadap masalah yang timbul dari lingkungan tersebut dan keterampilan untuk memecahkan masalah tersebut (Asih, 2006 dalam Nugraha dan Januarti. Keahlian audit menurut Artha, et al. adalah kemampuan dan pengetahuan auditor akan dunia audit itu sendiri yang berasal dari pendidikan formalnya dan ditunjang dengan pengalaman dalam praktik audit. Selain itu, keahlian seorang auditor juga dapat mempengaruhi kemampuan prediksi dan deteksi auditor terhadap kecurangan maupun kekeliruan sehingga dapat mempengaruhi judgement. Syafitri . dalam Alamri, et al. menjelaskan bahwa persyaratan keahlian auditor dalam menjalankan profesinya, auditor harus telah menjalani pendidikan dan pelatihan teknis yang cukup dalam praktik akuntansi dan teknik audit. Indikator keahlian auditor dalam penelitian ini adalah pengetahuan auditor terkait proses audit dan standar audit yang diperoleh dari pendidikan formal, pelatihan, dan sertifikasi. Keahlian auditor menurut Fitriana, et al. mengacu pada keahlian dalam melakukan audit yang dimiliki oleh seorang auditor yang dapat menunjang kinerja sebagai auditor, baik yang didapat dari pendidikan formal maupun pelatihan di bidang yang digeluti. Drupadi dan Sudana . menyatakan bahwa seorang auditor yang memiliki keahlian tinggi akan mampu menghadapi tugas audit dan mengolah informasi yang relevan. Selain itu, keahlian seorang auditor juga dapat mempengaruhi kemampuan auditor mendeteksi kecurangan maupun kekeliruan sehingga berpengaruh terhadap judgement yang akan dihasilkan auditor (Drupadi dan Sudana, 2. Berdasarkan uraian yang telah disampaikan, maka dapat diajukan hipotesis yaitu: Ha2: Keahlian auditor berpengaruh terhadap audit judgement. Independensi Independensi adalah sikap yang bebas dari pengaruh pihak lain . idak dikendalikan dan tidak bergantung pada pihak lai. , secara intelektual bersikap jujur, dan objektif . idak memiha. dalam mempertimbangkan fakta dan menyatakan opininya (Mulyadi, 2008 dalam Drupadi | 65 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 dan Sudana, 2. Seorang akuntan publik dalam melaksanakan audit atas laporan keuangan tidak semata-mata bekerja untuk kepentingan kliennya, melainkan juga untuk pihak lain yang berkepentingan terhadap laporan keuangan audit (Astuti dan Resa, 2. De Angelo . dalam Drupadi dan Sudana . menyatakan selain kemampuan auditor, independensi adalah hal yang sangat penting artinya auditor harus memiliki pengetahuan dan didukung dengan sikap independensi dalam menjaring informasi yang dibutuhkan pada setiap proses audit saat pengambilan keputusan. Independensi diukur dengan menggunakan indikator pengaruh dari pihak lain, penerimaan imbalan jasa audit dan barang atau jasa dari klien, dan hubungan dengan klien. Independen berarti seorang auditor tidak bisa dipengaruhi, dimana seorang auditor tidak diperbolehkan memihak pada siapapun saat melakukan audit. Pada saat membuat judgement auditor tidak diperbolehkan memihak kepada siapapun, baik itu klien maupun pihak yang berkepentingan pada laporan keuangan yang diaudit. Auditor yang memiliki independensi yang tinggi akan cenderung menghasilkan audit judgement yang lebih akurat (Drupadi dan Sudana, 2. Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai Ha3: Independensi berpengaruh terhadap audit judgement. Tekanan Ketaatan Tekanan ketaatan adalah tekanan yang berasal dari atasan atau dari auditor senior ke auditor junior dan tekanan yang berasal dari entitas yang diperiksa untuk melaksanakan penyimpangan terhadap standar yang telah ditetapkan (Praditaningrum, 2. dalam Ariyantini, et al. , 2. Margaret dan Raharja . menjelaskan bahwa tekanan ketaatan membawa auditor dalam situasi konflik, dimana auditor berusaha untuk memenuhi tanggung jawab profesionalnya tetapi di sisi lain dituntut pula untuk mematuhi perintah dari entitas yang diperiksa maupun dari atasannya. Jamilah, et al. , . dalam Nugraha dan Januarti, . menjelaskan bahwa teori ketaatan menyatakan bahwa individu yang memiliki kekuasaan merupakan suatu sumber yang dapat mempengaruhi perilaku orang dengan perintah yang diberikannya. Hal ini dapat disebabkan oleh keberadaan kekuasaan atau otoritas yang merupakan bentuk dari legitimate power. Tekanan ketaatan diukur dengan indikator tekanan dari atasan dan tekanan dari klien (Drupadi dan Sudana, 2. Bila auditor mendapat perintah untuk berperilaku yang menyimpang, hal tersebut akan mempengaruhi auditor pada saat membuat judgement. Tinggi rendahnya tekanan ketaatan yang dimiliki oleh seorang auditor juga ajan berpengaruh saat menyatakan opini atas kewajaran laporan keuangan. Semakin tinggi tekanan yang dihadapi oleh auditor maka audit judgement yang dihasilkan akan tidak akurat karena masih sangat sedikit auditor yang akan mengambil risiko untuk dipecat dan kehilangan klien sebagai konsekuensi menentang perintah atasan dan keinginan klien yang menyimpang dari standar profesional. Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: Ha4: Tekanan ketaatan berpengaruh terhadap audit judgement. | 66 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Kompleksitas Tugas Kompleksitas tugas adalah persepsi individu tentang kesulitan suatu tugas yang disebabkan oleh terbatasnya kapasitas dan daya ingat serta kemampuan untuk mengintegrasikan masalah yang dimiliki oleh seorang pembuat keputusan (Irwanti, 2011 dalam Fitriana, et al. , 2. Kompleksitas tugas merupakan tugas yang tidak terstruktur, sulit untuk dipahami dan ambigu (Puspitasari, 2010 dalam Artha, et al. , 2. Kompleksitas tugas diukur melalui indikator mengenai kesulitan suatu tugas yang disebabkan oleh terbatasnya inforamsi dan kejelasan informasi tentang tugas tersebut, terbatasnya daya ingat, serta kemampuan untuk mengintegrasikan masalah yang dimiliki oleh pembuat keputusan (Jamillah, et al. , 2007 dalam Putra dan Rani, 2. Terkait dengan kegiatan pengauditan, tingginya kompleksitas audit ini dapat menyebabkan akuntan berperilaku disfungsional sehingga menyebabkan seorang auditor menjadi tidak konsisten dan tidak Sehingga dengan adanya kompleksitas tugas yang tinggi dapat merusak judgment yang dibuat oleh audit (Artha, et al. , 2. Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: Ha5: Kompleksitas tugas berpengaruh terhadap audit judgement. Berdasarkan uraian di atas, model penelitian yang akan dibuat dalam penelitian ini adalah: Gambar 1. Model Penelitian i. Metode Penelitian Objek penelitian ini adalah auditor yang bekerja di Kantor Akuntan Publik selama minimal tiga tahun yang berada di wilayah Jakarta dan Tangerang pada tahun 2018 dan 2019, serta memiliki jabatan minimal senior auditor dengan pendidikan terakhir minimal sarjana (S. jurusan akuntansi. Penelitian ini merupakan causal study yaitu studi penelitian yang dilakukan untuk menemukan hubungan sebab akibat di antara variabel. Penelitian ini menguji pengaruh variabel-variabel independen yang terdiri dari pengalaman auditor, keahlian auditor, independensi, tekanan ketaatan, dan kompleksitas tugas terhadap variabel dependen yaitu audit judgement. Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah audit judgement. Audit judgement ialah penerapan pelatihan, pengetahuan, dan pengalaman yang relevan, dalam konteks standar audit, akuntansi, dan etika, dalam membuat keputusan yang diinformasikan tentang tindakan yang tepat sesuai dengan kondisi dalam perikatan audit. Audit judgement dalam penelitian ini diukur menggunakan lima kasus mengenai pertimbangan auditor yang | 67 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 mengacu pada penelitian Yendrawati dan Mukti . dengan masing-masing dua buah pertanyaan untuk setiap kasus. Berdasarkan masing-masing kasus, responden diminta untuk menentukan judgement yang diberikan. Dalam kuesioner ini, terdapat lima pertanyaan positif pada nomor 1, 3, 6, 8, dan 10 serta lima pertanyaan negatif pada nomor 2, 4, 5, 7, dan 9. Variabel audit judgement diukur dengan skala interval menggunakan skala likert. Skala interval menurut Sekaran dan Bougie . adalah skala pengukuran yang dapat dikenakan operasi aritmatika tertentu terhadap data yang dikumpulkan dari responden dengan jarak yang sama antara titik skala. Terdapat empat indikator untuk mengukur variabel audit judgement, yaitu pendeteksian kecurangan, perluasan bukti, objektivitas auditor, dan penyampaian salah saji material. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari: Pengalaman Auditor Pengalaman auditor adalah pengalaman yang dimiliki oleh seorang auditor dalam melakukan pemeriksaan dari banyaknya penugasan yang pernah dilakukan dan lamanya auditor menjalankan profesinya. Pengalaman auditor diukur menggunakan 8 pertanyaan positif yang mengacu pada penelitian Ningtyas dan Aris . yang diukur diukur dengan skala interval menggunakan skala likert. Terdapat dua indikator untuk mengukur variabel pengalaman auditor, yaitu lamanya berprofesi menjadi auditor dan banyaknya tugas pemeriksaan yang dilakukan. Keahlian Auditor (KA) Keahlian auditor merupakan kemampuan dan pengetahuan auditor tentang audit yang berasal dari pendidikan formal dan ditunjang dengan praktik audit yang dilakukan. Keahlian auditor diukur menggunakan 6 pertanyaan positif yang mengacu pada penelitian Fitriana, et al. yang diukur dengan skala interval menggunakan skala likert Terdapat tiga indikator untuk mengukur variabel keahlian auditor, yaitu pengetahuan auditor, kemampuan melakukan audit, dan sertifikasi audit. Independensi (IN) Independensi merupakan sikap yang bebas dari pengaruh pihak lain dan secara intelektual bersikap jujur dalam mempertimbangkan fakta dan opininya. Independensi diukur menggunakan 5 pertanyaan . pertanyaan positif pada nomor 1, dan 4 pertanyaan negatif pada nomor 2, 3, 4, dan . yang mengacu pada penelitian Drupadi dan Sudana . yang diukur dengan skala interval meggunakan skala likert. Terdapat tiga indikator untuk mengukur variabel independensi, yaitu bebas dari pengaruh pihak lain, penerimaan imbalan jasa audit, dan hubungan dengan klien. Tekanan Ketaatan (TK) Tekanan ketaatan merupakan tekanan yang dialami oleh auditor dari pimpinan atau seniornya maupun dari klien untuk melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang dari kode etik dan standar profesional akuntan publik yang berlaku. Tekanan ketaatan diukur menggunakan 5 pertanyaan . pertanyaan positif pada nomor 2 dan 4, dan 3 pertanyaan negatif pada nomor 1, 3, dan . yang mengacu pada penelitian Drupadi dan Sudana . Variabel ini diukur dengan skala interval menggunakan skala Terdapat dua indikator untuk mengukur variabel tekanan ketaatan, yaitu tekanan dari klien dan tekanan dari atasan. Kompleksitas Tugas (KT) Kompleksitas tugas merupakan tingkat kesulitan tugas yang harus dilakukan oleh Kompleksitas tugas diukur menggunakan 6 pertanyaan positif yang mengacu | 68 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 pada penelitian Putra dan Rani . yang diukur dengan skala interval menggunakan skala likert. Terdapat dua indikator untuk mengukur variabel kompleksitas tugas, yaitu struktur tugas dan tingkat kesulitan tugas. Penelitian ini menggunakan data primer. Teknik pengumpulan data untuk penelitian ini adalah dengan personally administered questionnaires. Penyebaran kuesioner dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan menyerahkan langsung kepada auditor yang dikenal oleh peneliti untuk didistribusikan kepada rekan-rekannya dan dengan mendatangi secara langsung responden yang bekerja di Kantor Akuntan Publik (KAP) di wilayah Jakarta dan Tangerang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik convenience sampling. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistic deskriptif, uji validitas, uji reliabilitas, uji normmalitas, uji multikolonieritas, uji heteroskedastisitas, uji koefisien determinasi, uji pengaruh simultan, dan uji parsial. Rumus regresi linier berganda yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Persamaan 1. Model Persamaan Regresi AJ = a b1 PA b2 KA b3 IN b4 TK b5 KT e Keterangan: = Audit judgement = Konstanta b1, b2, b3, b4, b5 = Koefisien regresi = Pengalaman Auditor = Keahlian Auditor = Independensi = Tekanan Ketaatan = Kompleksitas Tugas = Error IV. Hasil dan Pembahasan Statistik Deskriptif Responden Penelitian ini menggunakan kuesioenr yang telah disebarkan dan diisi oleh responden yang selanjutnya diolah. Berikut adalah jumlah kuesioner yang didistribusikan dan tingkat pengembaliannya: Tabel 1. Sampel Penelitian dan Tingkat Pengembalian Jumlah Persentase 100,00% Jumlah kuesioner yang didistribusikan 79,81% kuesioner yang kembali 37,35% Kuesioner yang tidak dapat digunakan 62,65% Kuesioner yang dapat digunakan Statistik Deskriptif Statistik deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran suatu data yang dilihat dari nilai mean, standard deviation, maksimum, dan minimum. Berikut hasil pengolahan data: | 69 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Tabel 2. Statistik Deskriptif TOTALPA TOTALKA TOTALIN TOTALTK TOTALKT TOTALAJ Valid N . Range Minimum Maximum Mean Std. Deviation Sumber: data yang diolah Tabel 2 menunjukkan jumlah responden (N) sebanyak 104 responden. Pada variabel pengalaman auditor menunjukkan nilai min yaitu 26 dan max 40 dengan nilai mean 34,65 dan standar deviasi 4,379 yang berarti dari 8 buah pertanyaan, rata-rata responden memiliki pengalaman yang tinggi ditinjau dari lama bekerja sebagai auditor dan banyaknya tugas audit yang telah dilakukan. Variabel keahlian auditor menunjukkan nilai min yaitu 18 dan max 30 dengan nilai mean 25,37 dan standar deviasi 3,205 yang berarti dari 6 buah pertanyaan, ratarata responden memiliki keahlian yang tinggi ditinjau dari pengetahuan audit, kemampuan melakukan audit, dan sertifikasi. Variabel independensi menunjukkan nilai min yaitu 12 dan max 25 denga nilai mean 21,31 dan standar deviasi 3,079 yang berarti dari 5 buah pertanyaan, rata-rata responden memiliki independensi yang tinggi karena auditor bebas dari pengaruh pihak lain, pengaruh imbalan jasa audit, dan pengaruh hubungan baik dengan klien. Variabel tekanan ketaatan menunjukkan nilai min yaitu 5 dan max 17 dengan nilai mean 9,71 dan standar deviasi 2,701 yang berarti dari 5 buah pertanyaan rata-rata responden tidak mengalami tekanan ketaatan yang berasal dari atasan atau klien untuk berperilaku menyimpang dari standar audit dan kode etik profesi akuntan publik. Variabel kompleksitas tugas menunjukkan nilai min yaitu 6 dan max 20 dengan nilai mean 10,61 dan standar deviasi 2,682 yang rata-rata responden tidak mengalami kompleksitas tugas. Variabel audit judgement menunjukkan nilai min yaitu 30 dan max 50 dengan nilai mean 39,20 dan standar deviasi 4,634 yang berarti dari 10 buah pertanyaan rata-rata responden dalam membuat pertimbangan audit sesuai dengan standar audit dan kode etik profesi akuntan publik. Uji Validitas Uji validitas dilakukan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner dengan menggunakan metode Pearson Correlation. Berikut hasil uji validitas yang dilakukan: Tabel 3. Hasil Uji Validitas Variabel Sig . -taile. Keterangan Pengalaman Auditor 0,000 Valid Keahlian Auditor 0,000 Valid Independensi 0,000 Valid Tekanan Ketaatan 0,000 Valid Kompleksitas Tugas 0,000 Valid Audit Judgement 0,000 Valid Sumber: data yang diolah Hasil uji validitas pada Tabel 3 menunjukkan bahwa variabel pengalaman auditor, keahlian auditor, independensi, tekanan ketaatan, kompleksitas tugas, dan audit judgement memiliki | 70 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 nilai sig. -taile. 0,000 atau < 0,005. Hal ini menunjukkan bahwa semua pertanyaan pada penelitian ini adalah valid. Uji Reliabilitas Uji reliabilitas digunakan untuk mengukur tingkat kepercayaan dari suatu kuesioener dengan menggunakan metode CronbachAos Alpha. Berikut hasil uji reliabilitas yang dilakukan: Tabel 4. Hasil Uji Reliabilitas CronbachAos Alpha Based on Variabel Standardized Items 0,899 Pengalaman Auditor 0,855 Keahlian Auditor 0,857 Independensi 0,776 Tekanan Ketaatan 0,801 Kompleksitas Tugas 0,749 Audit Judgement Sumber: data yang diolah Berdasarkan hasil uji reliabilitas yang dilakukan, diperoleh hasil CronbachAos Alpha untuk variabel pengalaman auditor sebesar 0,899, keahlian auditor sebesar 0,855, independensi sebesar 0,857, tekanan ketaatan sebesar 0,776, kompleksitas tugas sebesar 0,801, dan audit judgement sebesar 0,749. Hal ini menunjukkan bahwa semua variabel yang diuji memiliki CronbachAos Alpha di atas 0,7 sehingga dikatakan reliable. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Metode yang digunakan adalah KolmogorovSmirnov Test. Berikut hasil uji normalitas yang dilakukan: Tabel 5. Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Normal Parameters Most Extreme Differences Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Monte Carlo Sig. -taile. Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Sig. 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound Unstandardized Residual Test distribution is Normal. Calculated from data. Lilliefors Significance Correction. This is a lower bound of the true significance. Based on 10000 sampled tables with starting seed 2000000. Sumber: data yang diolah Berdasarkan Tabel 5, nilai Monte Carlo Sig. -taile. adalah sebesar 0,934 . ebih besar dari 0,. yang menunjukkan bahwa seluruh variabel dalam model regresi terdistribusi normal. | 71 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Uji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik bertujuan untuk mengetahui, menguji, serta memastikan kelayakan model regresi yang digunakan. Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lain. Berikut hasil uji heteroskedastisitas yang dilakukan: Gambar 2. Hasil Uji Heteroskedastisitas Sumber: data yang diolah Gambar 2 menunjukkan bahwa titik-titik pada grafik scatterplot tidak membentuk pola dan menyebar secara acak baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y sehingga dapat disimpulkan bahwa pada model regresi dalam penelitian ini tidak terjadi Uji Multikolonieritas Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah di dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Berikut hasil uji multikolonieritas yang dilakukan: Tabel 6. Hasil Uji Multikolonieritas Coefficientsa Model 1(Constan. Collinearity Statistics Tolerance VIF TOTALPA TOTALKA TOTALIN TOTALTK TOTALKT Dependent Variable: TOTALAJ Sumber: data yang diolah Pada tabel 6 dapat dilihat bahwa seluruh variabel memiliki nilai tolerance di atas 0,1 dan nilai VIF kurang dari 10 yang menunjukkan bahwa tidak terdapat multikolonieritas di antara variabel independen. | 72 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Uji Hipotesis Uji hipotesis dilakukan untuk menguji apakah variabel independen berpengaruh secara simultan dan parsial terhadap variabel dependen. Uji Koefisien Determinasi Koefisien determinasi mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Berikut hasil uji koefisien determinasi yang dilakukan: Tabel 7. Hasil Uji Koefisien Determinasi Model Summaryb Adjusted R Std. Error of the Model R Square Square Estimate Predictors: (Constan. TOTALKT. TOTALKA. TOTALTK. TOTALPA. TOTALIN Dependent Variable: TOTALAJ Sumber: data yang diolah Tabel 7 menunjukkan bahwa nilai R sebesar 0,759 menandakan bahwa terdapat tingkat hubungan yang kuat antara variabel independen dan variabel dependen. Dari hasil pengujian ini juga, didapatkan nilai Adjusted R Square sebesar 0,554. Hal ini berarti sebesar 55,4% variabel audit judgement dapat dijelaskan oleh kelima variabel independen yaitu pengalaman auditor, keahlian auditor, independensi, tekanan ketaatan, dan kompleksitas tugas. Sedangkan sisanya sebesar 44,6% dijelaskan oleh variabel lain di luar model. Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F) Uji statistik F menunjukkan apakah semua variabel independen dalam model mempunyai pengaruh bersama-sama terhadap variabel independen. Berikut hasil uji signifikansi simultan yang dilakukan: Tabel 8. Hasil Uji Signifikansi Simultan ANOVAa Model Regression Residual Total Sum of Squares Mean Square Sig. Dependent Variable: TOTALAJ Predictors: (Constan. TOTALKT. TOTALKA. TOTALTK. TOTALPA. TOTALIN Sumber: data yang diolah Dari Tabel 8, dapat dilihat bahwa nilai F sebesar 26,640 dengan nilai Sig. sebesar 0,000. Uji statistik F memenuhi kriteria fit . oodness of fi. dengan melihat nilai F hitung sebesar 27,640. F tabel didapat dari degrees of freedom . sebagai berikut = 0,05, df regresi = 5, dan df residual = 98 yang berarti n1 = k = 5 dan n2 = n-k-1 = 104-5-1 = 98, maka F tabel = 2,31. Dengan demikian H0 ditolak dan Ha diterima karena F hitung > F tabel . ,640 > 2,. Nilai signifikansi sebesar 0,000 . urang dari 0,. menunjukkan bahwa variabel pengalaman auditor, keahlian auditor, independensi, tekanan ketaatan, dan kompleksitas tugas secara simultan berpengaruh signifikan terhadap audit judgement. Uji Signifikansi Parsial (Uji Statistik . Uji statistik t menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen. Berikut hasil uji signifikansi parsial yang dilakukan: | 73 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Tabel 9. Hasil Uji Signifikansi Parsial Coefficientsa Model (Constan. TOTALPA TOTALKA TOTALIN TOTALTK TOTALKT Unstandardized Coefficients Std. Error Standardized Coefficients Beta Sig. Sumber: data yang diolah Berdasarkan uji signifikansi parsial pada Tabel 9, dapat dilihat bahwa variabel pengalaman auditor memiliki nilai t sebesar 1,245 dan memiliki nilai signifikansi sebesar 0,215 . ebih besar dari 0,. yang berarti Ha1 ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengalaman auditor tidak berpengaruh terhadap audit judgement. Hal ini dikarenakan mayoritas responden sebanyak 85 orang atau 82% responden memiliki jabatan senior auditor, sedangkan sisanya memiliki jabatan di atas senior auditor yaitu supervisor, manajer, dan partner. Yang berarti mayoritas responden memiliki pengalaman yang Selain itu, berdasarkan hasil penelitian jawaban mengenai rata-rata jumlah penugasan audit dalam satu tahun tersebar hampir merata antara 4 sampai 7 tugas, 8 sampai 10 tugas, dan lebih dari 10 tugas. Sebanyak 37% responden menjawab memiliki rata-rata jumlah penugasan audit dalam satu tahun sebanyak 4 sampai 7 tugas, sebanyak 29% menjawab 8-10 tugas, dan sebanyak 31% menjawab lebih dari 10 tugas. Sedangkan, rata-rata skor pada pertanyaan mengenai audit judgement adalah 3,92 yang berarti ratarata responden dapat membuat audit judgement yang tepat sesuai dengan standar audit dan kode etik profesi akuntan publik. Dari hasil tersebut, dapat dikatakan bahwa mayoritas responden yang memiliki jabatan senior auditor belum memiliki banyak pengalaman dan juga responden yang memiliki penugasan yang banyak maupun sedikit sama-sama dapat membuat audit judgement tepat sehingga pengalaman auditor tidak berpengaruh terhadap audit judgement. Hal ini didukung oleh penelitian Alamri, et al. dan Putra dan Rani . yang menyatakan bahwa pengalaman auditor tidak berpengaruh terhadap audit judgement. Namun, hasil penelitian ini tidak konsisten dengan hasil penelitian Ariyantini, et al. dan Ayudia . yang menyatakan bahwa pengalaman auditor berpengaruh signifikan terhadap audit judgement. Variabel keahlian auditor memiliki nilai t sebesar 2,748 dan memiliki nilai signifikansi sebesar 0,007 . ebih kecil dari 0,. yang berarti Ha2 diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa keahlian auditor berpengaruh positif signifikan terhadap audit judgement. Auditor memiliki keahlian yang baik jika auditor memahami Standar Akuntansi Keuangan (SAK) dan Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) dan memahami akuntansi dan proses audit, sehingga auditor dapat mengevaluasi kecukupan bukti serta memperluas pengujian bukti audit yang membuat audit judgement yang dihasilkan juga lebih tepat. Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian Drupadi dan Sudana . Nugraha dan Januarti . , dan Artha, et al. yang menyatakan bahwa keahlian auditor berpengaruh signifikan terhadap audit judgement. | 74 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Variabel independensi memiliki nilai t sebesar 2,253 dan memiliki nilai signifikansi sebesar 0,026 . ebih kecil dari 0,. yang berarti Ha3 diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa independensi berpengaruh positif signifikan terhadap audit judgement. Auditor dengan independensi tinggi akan melakukan pelaporan yang bebas dari usaha pihak lain dan akan menolak permintaan klien untuk tidak mencantumkan temuan dalam laporan audit walaupun auditor telah mendapatkan fee yang besar. Jika auditor menemukan kesalahan pencatatan yang disengaja oleh klien, auditor akan tetap melaporkan kesalahan dan tidak dipengaruhi oleh hubungannya dengan klien, sehingga auditor dapat melakukan proses audit secara objektif dan audit judgement yang dihasilkan oleh auditor akan semakin tepat. Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian Drupadi dan Sudana . Alamri, et al. , dan Astuti dan Resa . yang menyatakan bahwa independensi berpengaruh signifikan terhadap audit judgement. Variabel tekanan ketaatan memiliki nilai t sebesar -969 dan memiliki nilai signifikansi sebesar 0,335 . ebih besar dari 0,. yang berarti Ha4 ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tekanan ketaatan tidak berpengaruh terhadap audit judgement. Hal ini dikarenakan sebanyak 85 responden . ,73%) tidak khawatir klien akan pindah ke KAP lain, jika auditor tidak menuruti keinginannya untuk berperilaku menyimpang dari standar profesional akuntan Arens, et al. mengatakan bahwa dalam suatu Kantor Akuntan Publik, pihak yang bertanggung jawab untuk mengelola hubungan dengan klien adalah manajer dan Sedangkan, dalam penelitian ini jumlah manajer hanya 3 orang atau 3% dari total responden dan partner hanya 3 orang atau 3% dari total responden. Maka dari itu, mayoritas responden tidak khawatir jika klien akan pindah ke KAP lain. Selain itu, alasan lain tekanan ketaatan tidak berpengaruh terhadap audit judgement adalah sebanyak 76 responden . ,08%) tidak mendapat tekanan dari beberapa pihak dalam menentukan pendapat atas laporan Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden tidak mengalami tekanan ketaatan dari atasan atau dari klien untuk berperilaku menyimpang dari standar profesional akuntan publik sehingga tekanan ketaatan tidak berpengaruh terhadap audit judgement. Hal ini didukung oleh penelitian Sari et al. yang menyatakan bahwa tekanan ketaatan tidak berpengaruh terhadap audit judgement. Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan hasil penelitian Ariyantini, et al. Drupadi dan Sudana . , dan Margaret dan Raharja . yang menyatakan bahwa tekanan ketaatan berpengaruh signifikan terhadap audit judgement. Variabel kompleksitas tugas memiliki nilai t sebesar -2,607 dan memiliki nilai signifikansi sebesar 0,011 . ebih kecil dari 0,. yang berarti Ha5 diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kompleksitas tugas berpengaruh negatif signifikan terhadap audit judgement. Kompleksitas tugas yang rendah membuat auditor mengetahui dengan jelas tugas mana yang harus dikerjakan dan cara mengerjakan setiap tugasnya, sehingga auditor dapat dengan mudah mendeteksi kecurangan yang terjadi selama proses audit dan audit judgement yang dibuat semakin tepat. Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian Fitriana, et al. Putra dan Rani . , dan Handani, et al. yang menyatakan bahwa kompleksitas tugas berpengaruh signifikan terhadap audit judgement. Dari hasil pengujian yang dilakukan, dapat dibuat persamaan regresi sebagai berikut: AJ = 22,186 0,138 PA 0,398 KA 0,359 IN Ae 0,160 TK Ae 0,372 KT Keterangan: AJ = Audit judgement PA = Pengalaman Auditor | 75 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 KA = Keahlian Auditor IN = Independensi TK = Tekanan Ketaatan KT = Kompleksitas Tugas Dari model persamaan regresi yang dilakukan, dapat dilihat bahwa pengalaman auditor memiliki koefisien sebesar 0,138 yang berarti setiap peningkatan satu satuan pengalaman auditor akan meningkatkan ketepatan audit judgement sebesar 0,138. Variabel keahlian auditor memiliki koefisien sebesar 0,398 yang berarti setiap satu peningkatan satuan keahlian auditor akan meningkatkan ketepatan audit judgement sebesar 0,398. Variabel independensi memiliki koefisien sebesar 0,359 yang berarti setiap peningkatan satu satuan independensi akan meningkatkan ketepatan audit judgement sebesar 0,359. Variabel tekanan ketaatan memiliki koefisien sebesar -0,160 yang berarti setiap peningkatan satu satuan tekanan ketaatan akan menurunkan ketepatan audit judgement sebesar 0,160. Variabel kompleksitas tugas memiliki koefisien sebesar -0,372 yang berarti setiap peningkatan satu satuan kompleksitas tugas akan menurunkan ketepatan audit judgement sebesar 0,372. Simpulan. Keterbatasan, dan Saran Simpulan Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pengalaman auditor, keahlian auditor, independensi, tekanan ketaatan, dan kompleksitas tugas terhadap audit judgement. Responden yang digunakan untuk penelitian ini adalah auditor yang bekerja di Kantor Akuntan Publik selama minimal tiga tahun yang berada di wilayah Jakarta dan Tangerang pada tahun 2018 dan 2019, serta memiliki jabatan minimal senior auditor dengan pendidikan terakhir minimal sarjana (S. jurusan akuntansi. Penelitian ini menggunakan data primer yaitu kuesioner. Kuesioner yang disebarkan sebanyak 208 kuesioner dan kembali sebanyak 166 kuesioner, tetapi kuesioner yang dapat digunakan hanya 104 kuesioner. Simpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini antara lain: Pengalaman auditor tidak berpengaruh terhadap audit judgement. Hal ini dibuktikan dengan nilai statistik t sebesar 1,245 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,216 atau lebih besar dari 0,05 sehingga Ha1 ditolak. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Alamri, et al. dan Putra dan Rani . yang menyatakan bahwa pengalaman auditor tidak berpengaruh terhadap audit judgement. Keahlian auditor berpengaruh terhadap audit judgement. Hal ini dibuktikan dengan nilai statistik t sebesar 2,748 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,007 atau lebih kecil dari 0,05 sehingga Ha2 diterima. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Drupadi dan Sudana . Nugraha dan Januarti . , dan Artha, et al. yang menyatakan bahwa keahlian auditor berpengaruh signifikan terhadap audit judgement. Independensi berpengaruh terhadap audit judgement. Hal ini dibuktikan dengan nilai statistik t sebesar 2,253 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,026 atau lebih kecil dari 0,05 sehingga Ha3 diterima. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Drupadi dan Sudana . Alamri, et al. , dan Astuti dan Resa . yang menyatakan bahwa independensi berpengaruh signifikan terhadap audit judgement. Tekanan ketaatan tidak berpengaruh terhadap audit judgement. Hal ini dibuktikan dengan nilai statistik t sebesar -0,969 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,335 atau lebih besar dari 0,05 sehingga Ha4 ditolak. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Sari et al. yang menyatakan bahwa tekanan ketaatan tidak berpengaruh terhadap audit judgement. | 76 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Kompleksitas tugas berpengaruh terhadap audit judgement. Hal ini dibuktikan dengan nilai statistik t sebesar -2,592 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,011 atau lebih kecil dari 0,05 sehingga Ha5 diterima. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Fitriana, et al. Putra dan Rani . , dan Handani, et al. yang menyatakan bahwa tekanan ketaatan berpengaruh signifikan terhadap audit judgement. Pengalaman auditor, keahlian auditor, independensi, tekanan ketaatan, dan kompleksitas tugas secara simultan berpengaruh signifikan terhadap audit judgement. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Drupadi dan Sudana . yang menyatakan bahwa keahlian auditor, tekanan ketaatan, dan independensi secara bersama-sama berpengaruh pada variabel audit judgement. Ariyantini, et al. yang menyatakan bahwa pengalaman auditor, tekanan ketaatan, dan kompleksitas tugas berpengaruh secara bersama-sama terhadap audit judgement, dan Alamri, et al. yang menyatakan bahwa keahlian, pengalaman, kompleksitas tugas, dan independensi secara bersama-sama berpengaruh terhadap audit judgement. Keterbatasan Penelitian ini memiliki keterbatasan sebagai berikut: Penyebaran kuesioner sebanyak 104 kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini belum cukup mewakili populasi auditor di wilayah Jakarta dan Tangerang sehingga tidak dapat digeneralisasi ke seluruh auditor yang bekerja di Kantor Akuntan Publik (KAP) di Indonesia. Penyebaran kuesioner dilakukan pada masa peak season . asa sibuk audito. sehingga dibutuhkan waktu yang lama untuk menunggu pengembalian kuesioner dan tingkat pengembalian kuesioner hanya 79,81%. Nilai adjusted R square dalam penelitian ini sebesar 0,554 yang berarti sebesar 55,4% variabel audit judgement dapat dijelaskan oleh kelima variabel yaitu pengalaman auditor, keahlian auditor, independensi, tekanan ketaatan, dan kompleksitas tugas. Sedangkan sisanya sebesar 44,6% dijelaskan oleh variabel lain di luar penelitian. Saran Berdasarkan simpulan dan keterbatasan yang ada, saran yang diberikan untuk peneliti selanjutnya adalah: Menambah jumlah sampel yang diteliti dan menyebarkan kuesioner tidak hanya terbatas di wilayah Jakarta dan Tangerang sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasi ke seluruh auditor yang bekerja di Kantor Akuntan Publik di Indonesia. Penyebaran kuesioner tidak dilakukan pada masa peak season agar responden dapat mengisi kuesioner dan mengembalikannya lebih cepat serta tingkat pengembalian kuesioner juga akan lebih tinggi. Menambahkan variabel lainnya untuk mengetahui faktor lain yang dapat mempengaruhi audit judgement seperti time budget pressure, gender, dan etika. VI. Referensi