ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia Vol. 10 No. 04 Desember 2024 id/index. php/andharupa MAKNA BHTA KALA PADA DESAIN KEMASAN KOPI AuLEAK BALIAy DI BALI Arya Pageh Wibawa1. I Wayan Swandi2. I Putu Udiyana Wasista3. I Made Dwiarya Swandi4 1,2,3, Institut Seni Indonesia Denpasar Jl. Nusa Indah. Denpasar. Bali 80235 Politeknik Bali Maha Werdhi Jl. Raya Silakarang. Singapadu Kaler. Sukawati. Gianyar. Bali Corresponding author: Arya Pageh Wibawa1 Abstrak Secara etimologi, kata Bhta Kala terdiri dari dua kata yaitu Bhta yang bermakna sesuatu yang ada dan kala yang bermakna kekuatan atau energi. Kata Bhta juga dapat diartikan sebagai unsur-unsur alam yang terdiri dari lima elemen yang disebut dengan Panca Maha Bhta yaitu unsur tanah, air, api, udara, dan ether . Masyarakat Hindu Bali memiliki berbagai ritual keagamaan yang berhubungan dengan Bhta Kala yang disebut dengan Bhta Yadnya. Tujuan Bhta Yadnya adalah untuk menjaga keharmonisan antara manusia dengan alam. Dalam perkembangannya. Bhta Kala ini digunakan dalam produk-produk yang dikonsumsi oleh Salah satunya adalah produk kopi AuLeak BaliAy. Hal ini disebabkan oleh pariwisata yang menyebabkan terjadi pergeseran makna pada simbol-simbol tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna Bhta Kala dalam kehidupan masyarakat Bali dan makna Bhta Kala dalam kemasan produk kopi Auleak BaliAy. Manfaat penelitian ini adalah untuk melihat pergeseran makna Bhta Kala dalam kehidupan masyarakat Bali. Metodologi yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis menggunakan teori semiotika dari Roland Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna Bhta Kala dalam kehidupan masyarakat Bali adalah kekuatan, penjaga, dan hukum alam. Makna denotasi Bhta Kala dalam kemasan kopi Auleak BaliAy adalah janda, makna konotasi kekuatan ilmu sihir, dan makna mitologinya adalah produk yang nikmat. Kata kunci: Bhta Kala, kemasan, kopi leak bali, makna. Roland Barthes ABSTRACT Etymologically, the word Bhta Kala consists of two words. Bhta, which means something that exists, and Kala, which means power or energy. The word Bhta can also be interpreted as the elements of nature consisting of five elements called Panca Maha Bhta, namely the elements of earth, water, fire, air, and ether . Balinese Hindus have various religious rituals related to Bhta Kala called Bhta Yadnya. The purpose of Bhta Yadnya is to maintain harmony between humans and nature. In its development. Bhta Kala is used in products consumed by humans. One of them is the coffee product AuLeak BaliAy. This is caused by tourism, which causes a shift in the meaning of these symbols. This study aims to determine the meaning of Bhta Kala in the lives of Balinese people and the meaning of Bhta Kala in the packaging of Auleak BaliAy coffee The benefit of this research is to see the shift in the meaning of Bhta Kala in the lives of Balinese people. The methodology used is qualitative, with analysis using semiotic theory from Roland Barthes. The results showed that the meaning of Bhta Kala in Balinese life is power, guardian, and natural law. The denotation meaning of Bhta Kala in Auleak BaliAy coffee packaging is a widow, the connotation meaning is the power of witchcraft, and the mythological meaning is a delicious product. Keywords: Bhta Kala, packaging. Leak Bali Coffee, meaning. Roland Barthes Available online at: do/andharupa 30 Desember 2024 Received: 30 September 2024 Revised: 15 November 2024 Accepted: 27 Desember 2024 Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Wibawa et al. Makna Bhta Kala pada A 535-549 PENDAHULUAN Bhta Kala merupakan kata yang sudah tidak asing lagi dalam kehidupan masyarakat Bali. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri dari dua kata yaitu Bhta dan kala. kata Bhta berasal dari suku kata AubhuAy yang memiliki makna menjadi, gelap, berbentuk, dan makhluk. Selanjutnya, kata ini berkembang menjadi Bhta yang memiliki makna berwujud atau menjadi. Kata Bhta selanjutnya juga dapat dimaknai sebagai unsurunsur atau elemen-elemen yang menyusun alam semesta yang terdiri dari unsur tanah, air, api, udara, dan either. Kelima elemen atau unsur ini selanjutnya disebut dengan Panca Maha Bhta. Dalam beberapa lontar kuno yang ada menyebutkan bahwa kata Bhta diartikan sebagai sesuatu yang ada. Sedangkan kata AuKalaAy memiliki makna waktu. Kala juga dapat diartikan kekuatan atau energi. Sehingga kata Bhta Kala memiliki makna ruang dan waktu serta memiliki energi. Masyarakat Hindu Bali memiliki berbagai ritual keagamaan yang berhubungan dengan Bhta Kala. Salah satu bentuk ritual yang berhubungan dengan Bhta Kala disebut dengan Bhta Yadnya. Bhta Yadnya adalah sebuah bentuk upacara ritual keagamaan yang ditujukan kepada Bhta Kala. Contoh ritual keagamaan Bhta Yadnya seperti Caru. Tawur Agung, dan Segehan. Caru atau biasa dikenal dengan mecaru adalah upacara ritual keagamaan yang memiliki tujuan untuk menjaga hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam. Masyarakat Bali percaya dan meyakini bahwa alam dan lingkungan sekitar adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Kerusakan yang terjadi pada alam dan lingkungan dapat berakibat kehancuran pada kehidupan manusia. Sehingga manusia diharapkan untuk selalu menjaga dan merawat alam dan lingkungan sekitarnya. Dalam pelaksanaannya, upacara ini mempergunakan kurban suci yang disebut dengan caru. Biasanya kurban suci ini berwujud hewan. Selain hewan, upacara mecaru biasanya menggunakan nasi dan tuak. Upacara ini secara umum dilaksanakan sehari sebelum hari raya nyepi . ilent da. yaitu bertepatan dengan Tilem Sasih Kesanga dalam perhitungan kalender Bali. Selain upacara mecaru, segehan adalah salah satu bentuk Bhta Yadnya dalam tingkatan Sedangkan untuk tingkat yang lebih besar disebut dengan tawur. Kata segehan sendiri berasal dari kata AusegaAy dan mendapat akhiran AuanAy. Kata AusegaAy memiliki kesamaan dengan kata AusegoAy dalam bahasa Jawa, sehingga kata AusegaAy memiliki arti Dalam pembuatan segehan ini memang lebih didominasi oleh nasi sebagai isinya dengan bentuk-bentuk yang beragam. Bentuk-bentuk nasi yang biasanya dibuat adalah nasi cacahan yaitu nasi utuh yang dikeringkan, nasi kepelan yaitu nasi yang dibentuk dengan cara diremas-remas, dan tumpeng yaitu nasi yang berbentuk kerucut dengan ukuran kecil-kecil. Selain nasi, segehan biasanya dilengkapi juga dengan lauk pauk. Pada proses penyajian segehan, bagian bawah beralaskan daun pisang atau janur, selanjutnya diisi dengan nasi dan bahan-bahan sederhana lainnya seperti bawang merah, jahe, garam, dan lain-lainnya. Makna lain dari segehan adalah menyuguhkan . yang dalam hal ini dihaturkan kepada para Bhta Kala agar tidak menghalangi kegiatan upacara ritual yang sedang dilakukan. Segehan yang dihaturkan diharapkan dapat menghilangkan pengaruh-pengaruh negatif yang berasal dari kekotoran pikiran, perkataan, dan perbuatan manusia. Dengan menghaturkan segehan, diharapkan manusia dapat mengendalikan diri dari sifat-sifat yang kurang baik. Segehan juga dapat Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Wibawa et al. Makna Bhta Kala pada A 535-549 dimaknai sebagai bentuk hubungan yang harmonis antara manusia dengan semua ciptaan Tuhan . Disamping upacara ritual keagamaan, masyarakat Bali juga memiliki kesenian yang berkaitan dengan Bhta Kala. Kesenian yang dimaksud diantaranya adalah dramatari calonarang dan tari leak bali. Kesenian ini biasanya dipertunjukkan pada waktu-waktu tertentu dan pada tempat-tempat tertentu. Dramatari calonarang sebagai salah satu tarian sakral yang memuat cerita tentang pertempuran antara kebaikan . dan keburukan . Dramatari ini mengisahkan tentang seorang tokoh perempuan yang bernama Rangdeng Dirah (Calonaran. dan Mpu Baradah. Kisah dramatari calonarang diambil dari masa pemerintahan raja Airlangga pada abad ke IX yang berkuasa di kerajaan Kediri. Jawa Timur. Petunjukkan dramatari calonarang tidak dapat ditentukan waktunya. Adakalanya pementasannya dilakukan setiap tahun sekali atau pada hari khusus tertentu berdasarkan petunjuk dari alam niskala . yang diterima oleh pemuka agama setempat. Adegan-adegan yang ditampilkan memuat berbagai unsur magis sehingga menarik dan memiliki kharisma tersendiri di mata penontonnya. Tari leak Bali adalah salah satu tarian yang memiliki sarat akan nilai mitologi dan spiritual. Sebagai salah satu tarian sakral, biasanya tarian ini dipentaskan dalam suasana upacara ritual keagamaan. Tari leak memiliki gerakan yang sangat indah dan juga sarat akan nilai Pada umumnya, tarian ini ditarikan oleh sekelompok pria dengan mengenakan topeng yang menyeramkan dan busana yang berwarna serba hitam. Topeng dan busana yang digunakan dipercaya sebagai gambaran dari roh-roh halus atau makhluk gaib. Pada beberapa wilayah di Bali, masyarakatnya mempercayai bahwa tari leak memiliki kekuatan magis untuk melindungi masyarakat dari gangguan roh jahat. Tujuan dari pementasan tarian ini adalah untuk melindungi serta memberikan kesejahteraan pada Tari leak merupakan warisan budaya Bali yang telah diturunkan dari generasi ke generasi. Dalam perkembangan di era saat ini, terjadi fenomena-fenomena pergeseran dalam penggambaran Bhta Kala. Hal ini diakibatkan oleh adanya globalisasi yang utamanya adalah pariwisata. Pariwisata telah membawa perubahan sudut pandang dalam melihat Masyarakat Bali yang sebelumnya merupakan masyarakat yang religius telah berubah menjadi masyarakat yang konsumtif akibat adanya pariwisata. Obyek-obyek yang sebelumnya dianggap sakral telah banyak berubah menjadi profan. Hal yang sama juga terjadi pada simbol Bhta Kala. simbol Bhta Kala telah berubah menjadi penghias pada beberapa obyek untuk dikonsumsi. Berikut adalah salah satu obyek yang dihias dengan simbol Bhta Kala untuk diperjualbelikan. Berdasarkan hal tersebut tentunya telah terjadi perubahan makna Bhta Kala dalam kehidupan masyarakat Bali. Bhta Kala merupakan sebuah gagasan yang hadir dalam kehidupan masyarakat Bali yang dipercaya dan diyakini bahwa manusia selalu hidup berdampingan dengan Bhta Kala. Sehingga Bhta Kala memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Bali. Perilaku-perilaku yang ditunjukkan adalah dengan adanya upacaraupacara suci untuk menjaga keharmonisan kehidupan antara manusia dan Bhta Kala. Gambaran Bhta Kala yang diwujudkan dalam bentuk topeng yang mengerikan dengan gigi bertaring dan wajah menyeramkan tentunya menimbulkan pertanyaan yaitu . Apa Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Wibawa et al. Makna Bhta Kala pada A 535-549 makna Bhta Kala dalam masyarakat Bali ?. apa makna Bhta Kala dalam kemasan kopi Auleak BaliAy ?. METODE PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan makna Bhta Kala dalam pandangan masyarakat Bali dengan menggunakan metode kualitatif. Metode kualitatif adalah metode untuk mencari kebenaran berdasarkan data kualitatif (Kumar, 2. Sumber data primer penelitian ini adalah wawancara yang berhubungan dengan makna Bhta Kala. Sumber data sekunder penelitian ini berupa foto, video, jurnal penelitian yang telah dihasilkan oleh peneliti sebelumnya, sastra-sastra kuno seperti lontar-lontar Bali dan dikumpulkan melalui penelitian kepustakaan. Data sekunder dalam penelitian kualitatif dapat dikumpulkan melalui studi pustaka (Kumar, 2. Data primer berhasil dikumpulkan melalui observasi dan studi kepustakaan. Observasi dikenal sebagai teknik observasi cermat yang berguna dalam merekam data visual (Berg & Lune, 2. Observasi dalam penelitian ini dioperasionalkan dengan pencarian pada media internet. Semua data yang dikumpulkan melalui teknik observasi dan studi kepustakaan kemudian dijabarkan dengan data sekunder dengan bantuan teori. Teori yang digunakan adalah mitologi yang dikembangkan oleh Roland Barthes. HASIL DAN PEMBAHASAN Bhta Kala dalam Budaya Masyarakat Bali Honingmann menjelaskan bahwa kebudayaan terdiri dari tiga bagian, yaitu ide/gagasan, pola tingkah laku, dan artefak. Ide adalah nilai atau sistem nilai yang dipercaya oleh masyarakat, pola tingkah laku adalah praktik yang berasal dari ide, dan artefak adalah hasil budaya yang dibuat berdasarkan ide dan pola tingkah laku (Koentjaraningrat, 2003:74-. Dalam masyarakat Hindu Bali, ketiga wujud kebudayaan ini tercermin dalam tattwa, etika . , dan cara . Tattwa berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti hakekat, kebenaran, atau kenyataan, dan menjadi dasar keyakinan dalam agama Hindu. Tattwa berfungsi sebagai landasan untuk menjalankan ajaran agama berdasarkan kitab suci Weda dan sastra agama, sehingga sejalan dengan konsep ide/gagasan. Kata "etika" berasal dari bahasa Yunani ethos, yang berarti watak, sikap, atau tata krama. Bentuk jamak dari ethos adalah taetha, yang artinya adat kebiasaan. Oleh karena itu, etika dapat diartikan sebagai ilmu tentang adat kebiasaan. Dalam agama Hindu, etika yang baik meliputi pemikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik, yang dikenal sebagai Tri Kaya Parisudha. Cara (Upacar. adalah kegiatan keagamaan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang menjadi asal dan tujuan hidup manusia. Kegiatan ini didasarkan pada ajaran kitab suci Weda dan sastra agama. Upacara juga berfungsi sebagai cara mendidik, memelihara, dan menyucikan spiritual seseorang sejak dalam kandungan hingga akhir Dalam upacara, terdapat banyak simbol agama sebagai bentuk penghayatan umat Hindu terhadap Tuhan. Selain itu, ada simbol-simbol lain yang tidak terkait langsung dengan upacara, seperti Bhta Kala, yang diambil dari karya sastra masyarakat Bali. Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Wibawa et al. Makna Bhta Kala pada A 535-549 Kata AulontarAy dalam bahasa Bali berhubungan dengan bahan dasar pembuatannya yang berasal dari rontal/daun ental/tal yaitu sejenis daun palma dengan nama ilmiahnya borassus flabelliformis. Lontar adalah sebuah karya sastra yang dituliskan dalam aksara Bali, memiliki makna filosofis yang mendalam dan menjadi gambaran akan nilai-nilai dari tradisi budaya Bali. Warisan budaya yang berbentuk teks berbentuk huruf Bali merupakan gambaran pemikiran masyarakat Bali yang sangat filosofis tentang kehidupan manusia. Bagi masyarakat Bali, lontar diyakini sebagai tempat bersthananya . Sang Hyang Aji Saraswati yang merupakan manifestasi Tuhan sebagai sumber ilmu pengetahuan. Bentuk penghormatan kepada Beliau biasanya dilakukan pada setiap sabtu kliwon wuku watugunung berdasarkan perhitungan kalender Bali untuk menghormati turunnya ilmu pengetahuan. Pada hari tersebut dibuatkan bebantenan . arana upacar. berdampingan dengan lontar. Upacara ini biasanya jatuh setiap 6 . bulan sekali. Setelah upacara ritual keagamaan tersebut, keesokan harinya yaitu minggu umanis wuku watugunung dilaksanakan upacara banyu pinaruh sebagai wujud penyambutan akan turunnya ilmu pengetahuan. Lontar yang memiliki hubungan dengan konsep Bhta Kala adalah lontar kala tattwa. Teks-teks yang terkandung dalam lontar kala tattwa mengajarkan tentang filsafat dan yadnya yang terkandung didalamnya. Setiap yadnya yang dilaksanakan oleh masyarakat Hindu Bali sangat terkait dengan lontar kala tattwa. Dilihat dari asal usul kata, yadnya berasal dari bahasa Sansekerta yang memiliki arti pemujaan atau pengorbanan suci yang tulus dan ikhlas. Yadnya sendiri berasal dari akar kata AuYajAy yang berarti memuja. Filosofi dari pelaksanaan yadnya adalah kitab suci veda. Upacara yadnya adalah cara umat Hindu dalam upayanya untuk mendekatkan dirinya dengan Ida Sang Hyang Widhi (Tuha. Dalam kepercayaan umat Hindu, salah satu cara untuk mendekatkan diri dengan Tuhan adalah dengan melaksanakan catur marga yang terdiri dari Bhakti Marga. Karma Marga. Jnana Marga, dan Raja Marga. Bhakti Marga adalah usaha untuk mendekatkan diri dengan Tuhan dengan jalan melakukan sujud bhakti kehadapanNya. Upacara yadnya merupakan salah satu cara dari Bhakti marga. Berikut akan diuraikan tentang lontar Kala Tattwa yang membahas tentang makna Bhta Kala dalam kehidupan masyarakat Bali. Lontar Kala Tattwa Lontar kala tattwa merupakan lontar yang banyak memberikan gambaran tentang Bhta Kala. Lontar ini merupakan sebuah naskah sastra yang bersifat siwaistik yang secara spesifik bercerita tentang kelahiran Bhta Kala, perjalanan kehidupannya, dan anugerahanugerah yang diterimanya dari orang tuanya yaitu Bhatara Siwa dan Bhatari Giri Putri (Um. Dalam lontar dikisahkan Bhatara Siwa bersama Bhatari Giri Putri sedang berjalanjalan melihat keindahan laut samudra. Ketika itu angin bertiup cukup kencang. Ketika Bhatara Siwa dan Bhatari Giri Putri sampai di samudra yang dituju, tanpa sengaja tersingkaplah kain Bhatari Giri Putri. Hal ini membuat nafsu seksual Bhatara Siwa tibatiba muncul dan ingin melakukan hubungan badan dengan Bhatari Giri Putri. Tetapi karena sadar bahwa mereka adalah dewata dan ini bukan perilaku dewata. Bhatari Giri Putri menolak permintaan Bhatara Siwa dengan berkata AuDuhai junjungan hamba, janganlah berperilaku seperti itu karena itu bukan perilaku dewataAy. Mendengar perkataan Bhatari Giri Putri. Bhatara Siwa menjadi marah dengan berkata AuWahai Bhatari, janganlah engkau berkata demikian. Keinginanku ini tidak dapat aku kendalikan. Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Wibawa et al. Makna Bhta Kala pada A 535-549 Jika engkau tidak memberikannya maka aku merasa tidak senangAy. Pada akhirnya keduanya saling bertengkar. Belum sampai keinginan Bhatara Siwa terpenuhi kepada Bhatari Giri Putri, tiba-tiba air mani Beliau keluar terlebih dahulu dan jatuh ke laut. Air Mani itu bercahaya, dan membuat kaget Bhatara Brahma dan Bhatara Wisnu. Selanjutnya Bhatari Siwa dan Bhatari Giri Putri pergi ke sorga bersama. Selanjutnya tidak diceritakan tentang Bhatara Siwa dengan permaisuriNya. Bhta Kala bermakna kekuatan Lontar Kala Tattwa juga menceritakan tentang kekuatan dari Bhta Kala. Diceritakan setelah air mani Bhatara Siwa jatuh ke laut, lautan menjadi terguncang-guncang seperti Melihat kejadian itu. Bhatara Brahma dan Bhatara Wisnu melakukan yoga Dengan yoga semadi, air mani tersebut sedikit demi sedikit menyatu dan berubah menjadi wujud raksasa yang besar dan dengan suara yang meraung-raung bagaikan singa yang membuat bumi bergetar dan sorga juga bergoyang. Hal ini membuat para Dewata Nawa Sangha seluruhnya keluar dan melihat kejadian yang sebenarnya. Mereka semua melihat raksasa yang sangat besar dan luar biasa berteriak-teriak. Hal ini membuat Dewata Nawa Sangha murka dan berperang dengan raksasa tersebut. Dewata Nawa Sangha dalam kepercayaan masyarakat Bali adalah dewata yang menguasai sembilan penjuru mata angin. Dewata Nawa Sangha dengan membawa senjata mereka masing-masing berusaha untuk menyerang raksasa tersebut secara bersama-sama. Raksasa tersebut kemudian mengatakan kalau dirinya merasa sangat bahagia bisa bertemu dengan Dewata Nawa Sangha. Karena pada saat kelahirannya, dia tidak melihat siapapun ada di sampingnya. Suasana sepi dan sunyi. Itulah yang menyebabkan ia berteriak-teriak seperti singa. Raksasa tersebut melanjutkan perkataannya. Aujanganlah engkau menyerangku, aku hanya meminta kebenaranAy. Kemudian Dewata Nawa Sangha menjawab Aujangan banyak bicara, engkau adalah raksasa yang amat jauh, engkau bakal matiAy. Pertempuran dahsyat pun terjadi antara keduanya. Tetapi raksasa tersebut tidak mengalami cedera sama sekali. Karena merasa kewalahan menghadapi raksasa tersebut. Dewata Nawa Sangha berhamburan lari menuju kehadapan Bhatara Siwa. Diceritakan selanjutnya, akhirnya Dewata Nawa Sangha sampai kehadapan Bhatara Siwa. Mereka menceritakan pertempurannya dengan sosok raksasa. Merekapun menceritakan kalau raksasa tersebut tidak dapat dilukai. Apabila raksasa tersebut tidak dapat dikalahkan maka kahyangan akan hancur. Mereka meminta Bhatara Siwa untuk ikut berperang menghadapi raksasa tersebut. Akhirnya Bhatara Siwa mengabulkan permintaan mereka untuk ikut berperang melawan raksasa tersebut. Beliau selanjutnya keluar menemui raksasa tersebut dan berkata AuWahai engkau raksasa, engkau sudah melakukan dosa besar. Matilah engkau sekarang olehkuAy. Raksasapun menjawab Aubaiklah, kemarilah, dan hadapilah aku sekarangAy. Selanjutnya terjadi perang tanding yang sangat dahsyat antara Bhatara Siwa dengan raksasa dengan saling serang, tetapi Bhatara Siwa merasa kewalahan dan melarikan diri, dikarenakan raksasa tersebut sangat sakti dan bahkan tidak dapat dilukai dengan senjata bajra. Selanjutnya raksasa tersebut mengejar Bhatara Siwa. Bhatara Siwa terus menghindar dan melarikan diri dari Beliau merasa gemetar, lalu beristirahat sambil mengipaskan badannya sesampainya di tempat yang jauh. Secara etimologi, kata Audewata nawa sanghaAy berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri dari AudewataAy. AunawaAy. AusanghaAy. Kata AuDewataAy atau AuDewaAy memiliki akar kata AuDivAy Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Wibawa et al. Makna Bhta Kala pada A 535-549 yang berarti sinar. Kata AunawaAy artinya sembilan, dan Kata AuSanghaAy yang artinya Sehingga kata Audewata nawa sanghaAy dapat diartikan sebagai manifestasi Tuhan dalam wujud sembilan dewa penguasa, sembilan sakti, dan sembilan senjata di sembilan penjuru mata angin. Kesembilan manifestasi Tuhan tersebut yaitu Dewa Isvara dengan saktinya Sang Hyang Rawi dan senjatanya Bajra. Dewa Maheswara (Mahisor. dengan saktinya Dewi Kunda Kasih dan senjatanya Dupa. Dewa Brahma dengan saktinya Dewi Saraswati dan senjatanya Gada. Dewa Rudra dengan saktinya Dewi Durga dan senjatanya Moksala. Dewa Mahadewa dengan saktinya Dewi Parwati dan senjatanya Nagapasa. Dewa Sangkara dengan saktinya Dewi Mahadewi dan senjatanya Angkus. Dewa Wisnu dengan saktinya Dewi Sri dan senjatanya Cakra. Dewa Sambu dengan saktinya Dewi Suci dan senjatanya Trisula, dan Dewa Siwa dengan saktinya Dewi Ratih dan senjatanya Padma. Dalam lontar tutur kanda sangalukun, kesembilan dewa ini disebutkan satu persatu secara lengkap. Tabel dibawah ini menguraikan tentang kesembilan dewa tersebut. Tabel 1. Dewata Nawa Sangha dalam lontar tutur kanda sangalukun Nama Dewa Sang Hyang Isvara Sang Hyang Mahisora Sang Hyang Brahma Sang Hyang Rudra Sang Hyang Mahadewa Sang Hyang Sangkara Sang Hyang Wisnu Sang Hyang Sambu Sang Hyang Siwa Mata Angin Timur Sakti Senjata Warna Tubuh Manusia Sang Hyang Rawi Bajra Putih Dupa Jingga Gada Merah Barat Daya Barat Dewi Kunda Kasih Dewi Saraswati Dewi Durga Papusuh (Jantun. , yehnyom . ir ketuba. , dan Peparu . aru-par. dan bagian pusar Hati Moksala Oranye Usus Dewi Parwati Nagapasa Kuning Ungsilan (Ginja. Barat Laut Utara Dewi Mahadewi Dewi Sri Angkus Hijau Sumsum. Limpa Cakra Hitam Empedu Timur Laut Tengah Dewi Suci Trisula Biru Dewi Ratih Padma Panca . ima Jajaringan . emak pembungkus usu. Untek . jung kerongkonga. dan ubun-ubun . iwa Tenggara Selatan Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Wibawa et al. Makna Bhta Kala pada A 535-549 Gambar 1. Dewata nawa sangha, senjata, warna, dan letak di dalam tubuh . umber: Swadharma, 2. Dewata nawa sangha sangat dihormati dan dipuja oleh masyarakat Hindu Bali. Masyarakat Hindu Bali menganggap bahwa dewata nawa sangha yang membuat alam semesta ini berjalan harmonis, selaras, dan serasi. Dalam kesehariannya, masyarakat Bali memuja dewata nawa sangha melalui wujud pengider bhuwana. Pengider bhuwana merupakan kosmologi religius umat Hindu di Bali. Simbol kosmologi Pengider bhuwana menjelaskan tentang kekuasaan dewa beserta shaktiNya, senjata, wahana, warna. Bhta, aksara di seluruh arah mata angin. Pengider bhuwana juga menjelaskan tentang urip, triwara, caturwara, pancawara, sadwara, saptawara, astawara, sangawara, wuku, sasih, dan bhuwana alit. Secara etimologi, kata AuPengider BhuwanaAy terbagi menjadi dua kata yaitu AuPengiderAy dan AuBhuwanaAy. Menurut kamus Bali-Indonesia, kata AuPengiderAy diambil dari kata AuiderAy yang memiliki arti sama dengan AuedarAy. Apabila kata AuedarAy ditambahkan dengan awalan AuberAy sehingga menjadi kata AuberedarAy yang memiliki arti berputar, berkeliling, dan memutar. Hal yang sama dilakukan jika kata AuiderAy mendapatkan awalan AupeAy akan menjadi kata Aupengider/pangiderAy yang memiliki arti berputar atau menjadikan sesuatu berputar atau berkeliling. Implementasi dari pengider bhuwana dapat dilihat pada kober atau lelontek . yang merujuk pada arah dan Gambar 2. Kober untuk upacara agama . umber: Gunarta, 2. Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Wibawa et al. Makna Bhta Kala pada A 535-549 Bhatara Siwa merupakan salah satu dari dewa trimurti dalam agama Hindu. Bhatara Siwa adalah manifestasi Tuhan sebagai pralina atau pralaya . engharmonisasikan kembali alam semest. Menurut Monier (Titib, 2003:. , kata AuSivaAy memiliki arti pemberi keberuntungan . , baik hati, ramah, suka memaafkan, menyenangkan, memberi banyak harapan, yang tenang, membahagiakan, dan sejenisnya. Menurut Sri Swami Sivananda . , kata AuSivaAy juga memiliki arti keabadian, tidak berwujud, tidak terkekang, ada dimana-mana, tiada duanya, tanpa awal, tanpa sebab, tanpa cacat, ada sendiri, selalu bebas, selalu murni. Ia tidak dibatasi oleh waktu, kebahagiaan, dan Kekalahan Dewata Nawa Sangha dan Bhatara Siwa dari Bhta Kala dalam lontar kala tattwa dimaknai sebagai kekuatan alam semesta. Bhta Kala mampu menghancurkan Dia merupakan simbol dari kekuatan alam semesta. Dalam realitas kehidupan manusia. Bhta Kala merupakan simbol ruang dan waktu yang selalu berjalan dalam alam semesta. Kelahiran manusia ke dalam alam semesta ini, telah memiliki unsur-unsur Panca Maha Bhta. Unsur-unsur tersebut terdiri dari unsur padat berupa tulang, jaringan otot, urat saraf, kulit, rambut, dan berbagai komponen tubuh yang memiliki sifat unsur cair berupa darah, kelenjar-kelenjar, dan berbagai bentuk cairan lain yang terdapat di dalam tubuh. unsur panas/api berupa hadir temperatur tubuh akibat metabolisme tubuh yang terjadi secara terus menerus dan memproduksi panas tubuh. unsur udara berupa berbagai gas yang ada di dalam tubuh termasuk oksigen yang dihirup dari udara. dan unsur akasa . berupa berbagai ruang kosong . yang ada tubuh manusia. Selain itu, manusia juga memiliki Dewata Nawa Sangha dalam tubuhnya. Organ-organ dalam tubuh manusia merupakan simbol-simbol dari Dewata Nawa Sangha sehingga manusia mampu melakukan gerak, berpikir, bekerja, dan sebagainya. Tetapi seiring berjalannya waktu . , semua yang dimiliki manusia lambat laun akan melemah dengan sendirinya. Melemahnya berbagai organ dalam tubuh manusia merupakan makna kekalahan dewata nawa sangha dari Bhta Kala. Lemahnya berbagai organ ini menyebabkan manusia menjadi tua dan tidak berdaya. Berbagai perubahan dalam tubuh manusia terjadi seperti rambut yang dulunya hitam menjadi putih. Mata yang dulunya mampu melihat dengan jelas, lama kelamaan akan rabun dan buta. Begitulah kekuatan dari Bhta Kala. Bhta Kala bermakna Penjaga Lontar kala tattwa juga menceritakan tentang makna Bhta Kala sebagai penjaga. Pada salah satu bagian diceritakan bahwa setelah Bhta Kala lahir akibat dari mantra Bhatara Brahma dan Bhatara Wisnu yang selanjutnya berubah menjadi sosok raksasa yang bertubuh besar dengan suara mengeram. Raksasa tersebut kemudian menanyakan tentang siapa orang tuanya. Bhatara Brahma dan Bhatara Wisnu memberikan petunjuk kepada raksasa bahwa Bhatara Siwa dan Bhatari Uma adalah orang tuanya. Dikisahkan selanjutnya bahwa pada akhirnya Bhatara Siwa berkenan mengakui bahwa raksasa itu sebagai putranya dan selanjutnya memperlihatkan dirinya secara utuh dengan syarat raksasa tersebut mau dipotong taringnya dan raksasa tersebut mau menurutinya. Akhirnya, raksasa tersebut dapat melihat orang tuanya. Selanjutnya. Bhatari Giri Putri Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Wibawa et al. Makna Bhta Kala pada A 535-549 (Um. memberikan anugerahnya dengan berkata AuWahai putraku, aku akan memberikan anugerahku kepadamu, mulai saat ini, aku meminta kepadamu untuk tidak mengembara kemanapun, pergilah dan masuklah engkau ke lingkungan desa pakraman, dan tinggallah engkau didalam pura Dalem. Disana engkau akan dinamai dengan Durga sebagai nama yang diberikan oleh Bhatari Uma, oleh sebab itu, engkau dikenal dengan nama Bhatara Durga. Ayahmu menganugrahkanmu nama Hyang Kala, ketika taringmu dipotongAy. Bhatari Giri Putri (Um. melanjutkan perkataannya bahwa Sang Hyang Kala merupakan dewa dari semua kala, durga, pisaca, wil, danuja, kingkara, raksasa dan segala macam bentuk penyakit, hama, serta berbagai macam bisa . , semua kekuatan gaib. Engkau dibenarkan untuk melenyapkan semua itu karena semua itu adalah makananmu. Di Pura Dalem, engkau akan diberi nama kalika dan duduk disebelahku dalam wujud Bhatari Durga Dewi. Engkau juga dinamai dengan Jutisrana ketika engkau berada di Pura Bale Agung. Semoga engkau menemukan keberhasilan dalam pikiranmuAy Berdasarkan teks sastra tersebut dapat dikatakan bahwa Sang Hyang Kala merupakan pemimpin dari semua kala, durga, pisaca, wil, danuja, dan kingkara sehingga wujud dari Sang Hyang Kala digambarkan sangat menyeramkan. Gambar 3. Sang Hyang Kala . umber: Maulida. Adelia, & Aisyadewi, 2. Sang Hyang Kala juga diberikan kesaktian oleh Bhatari Giri Putri (Um. untuk melindungi manusia dari segala macam penyakit, hama, racun, dan segala kekuatan gaib. Secara implisit, makna dari pernyataan tersebut adalah bahwa Sang Hyang Kala menjaga manusia dari berbagai hal diatas. Secara nyata, makna Bhta Kala sebagai penjaga dapat dilihat pada arca dvarapala. Kata AuDvarapalaAy merupakan serapan dari bahasa Jawa Kuno yang terbentuk dari dua suku kata yaitu AudvaraAy dan AupalaAy. Kata AudvaraAy memiliki arti pintu, dan kata AupalaAy memiliki arti penjaga. Sehingga dwarapala memiliki arti penjaga pintu. Dalam bahasa Sansekerta, kata AuDwarapalaAy . vyrapAl. memiliki arti Ausosok penjaga pintuAy. DvyrapAla juga diartikan sebagai sepasang patung penjaga pintu gerbang yang dipasangkan secara simetris di depan dan mengapit pintu gerbang. Patung dvarapala secara umum memiliki bentuk sosok prajurit atau raksasa asura yang menyeramkan dengan membawa senjata Pada masa dahulu di Bali, dvarapala memiliki makna sebagai penjaga pintu gerbang untuk bangunan suci, atau bangunan hunian bangsawan, atau bangunan hunian pendeta, tetapi pada masa sekarang mengalami pergeseran makna. Patung dvarapala Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Wibawa et al. Makna Bhta Kala pada A 535-549 kini banyak dijumpai dan diletakkan pada bagian pintu masuk bangunan rumah tinggal masyarakat umum (Ja'far. Kondra, & Tjokropramono, 2. Gambar 4. Arca Dwarapala (Sumber: Arya Pageh Wibawa, 2. Gambaran arca dvarapala yang memiliki mata melotot, telinga yang lebar, mulut yang terbuka lebar dengan gigi-gigi taring yang panjang serta lidah yang menjulur keluar merupakan bentuk perwujudan sebagai pelindung. Dalam kepercayaan masyarakat Hindu Bali, penggambaran arca ini banyak ditemui pada tempat-tempat suci atau rumahrumah tinggal tertentu seperti puri-puri, sebagai bentuk simbol penolak bala. Bhta Kala Bermakna Hukum Alam Kesaktian yang diberikan oleh Bhatari Giri Putri (Um. kepada Sang Hyang Kala tidak hanya memakan berbagai penyakit, hama, racun, dan berbagai kekuatan gaib. Bhatari Uma selanjutnya berkata. Auengkau dibenarkan untuk memakan orang yang tertidur pada waktu sore dan terbangun pada saat matahari terbenam, anak kecil yang menangis pada waktu tengah malam dan diikuti dengan perkataan orang tuanya, nah nah amah ne amah . a makan ini, makan in. Engkau juga dibenarkan memakan orang yang membaca kidung, kakawin, dan tutur utama di tengah jalan. Engkau juga boleh memakan orangorang yang berkumpul di jalanAy. Selain itu. Beliau juga dianugerahi kesaktian untuk melenyapkan orang yang lahir pada wuku wayang berdasarkan kalender Bali. Bhatari Giri Putri (Um. juga menekankan agar Sang Hyang Kala memberikan anugerah kepada orang yang mengetahui pemujaan kepada Sang Hyang Kala karena orang tersebut adalah manusia sejati dan menghukum orang yang tidak sesuai dengan kelahirannya. Tidur sore merupakan suatu kegiatan yang harus dihindari. Menurut ilmu kesehatan, tidur sore dapat menyebabkan masalah kesehatan. Tidur sore dapat menurunkan kesehatan dibandingkan dengan tidur siang. Menurut ahli kesehatan, tidur siang yang baik dimulai sebelum jam tiga atau delapan jam sebelum jam tidur malam. Kebiasaan tidur sore yang kurang tepat justru dapat merugikan kesehatan. Berikut akan diuraikan pengaruh buruk dari tidur pada sore hari. Pertama, kesulitan tidur pada malam hari. Ketika terbangun setelah tidur sore, sangat dimungkinkan akan mengalami kesulitan tidur pada malam harinya. Kedua, menderita sakit kepala. Pengaruh buruk lainnya adalah dapat membuat kepala menjadi sakit. Kemungkinan pengaruh ini dapat saja cepat hilang, tetapi tidak menutup kemungkinan pengaruh ini akan terjadi dalam waktu yang lama. Selain itu, pengaruh lain yang dirasakan akibat sakit kepala setelah bangun Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Wibawa et al. Makna Bhta Kala pada A 535-549 tidur adalah dapat berpengaruh terhadap mood. Ketiga, badan jadi lemas. Hal ini dikarenakan tubuh kurang mendapatkan asupan oksigen. Kondisi ini biasanya dapat terjadi hingga malam bahkan hingga keesokan harinya. Keempat, menurunnya daya Kelima, beresiko terkena diabetes. Hal ini dikarenakan produksi insulin dalam tubuh terganggu akibat kurang bergeraknya tubuh. Gerakan tubuh yang dinamis dapat membuat produksi insulin bekerja dengan baik karena siklus alami tubuh bekerja secara Hal ini berlawanan dengan orang yang tidur sore. Keenam, meningkatnya kadar kolesterol dalam darah. Hal ini disebabkan tingginya metabolisme tubuh tetapi tidak diimbangi dengan aktivitas yang cukup, maka kolesterol tubuh terjadi peningkatan (Sari, 2. Berdasarkan penjelasan tersebut diatas, makna memakan orang yang tidur sore adalah turunnya kesehatan orang tersebut. Pemaknaan ini menjelaskan bahwa Bhta Kala merupakan bahaya yang ditimbulkan apabila melakukannya. Apabila tidak melakukannya, maka orang tersebut akan terhindar dari bahaya yang ditimbulkan. Inilah makna hukum alam dari Bhta Kala. Hukum alam merujuk pada prinsip-prinsip atau aturan-aturan yang dianggap mengatur alam semesta dan perilaku alamiah didalamnya. Hukum alam tidak selalu berarti hukum-hukum tersebut bersifat mutlak atau tanpa Manusia seringkali menganggap hukum alam merupakan generalisasi yang disusun berdasarkan pengamatan dan eksperimen, dan mungkin bisa dilakukan revisi atau diperluas dengan penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan. Desain Kemasan Kopi Leak Bali Desain kemasan kopi "Leak Bali" menggunakan kata-kata dan gambar yang berhubungan dengan budaya Bali. Tujuannya adalah agar produk mudah diingat dan lebih menarik. Kemasan ini tidak hanya menarik bagi konsumen tetapi juga bermanfaat sebagai media untuk mengenalkan budaya Bali kepada anak-anak dan masyarakat. Elemen visual seperti pola, foto, dan ilustrasi dapat memengaruhi pilihan dan preferensi konsumen. Penggunaan atribut budaya, seperti kata "Leak" dan gambar "Rangda," diharapkan membuat produk ini lebih diterima oleh konsumen. Kata AuLeakAy dalam budaya Bali diartikan sebagai ilmu hitam. Pada kopi, kata leak ini memiliki arti yang berbeda. Menurut Perbekel Desa Munduk. I Nyoman Wintara, nama AuleakAy adalah singkatan dari AuLangsung Enak Anda KetagihanAy untuk memberikan kesan berbeda pada konsumen (Ariasih, 2. Menurutnya juga AuLeakAy dapat diartikan dengan AuLebih Enak Asli KopinyaAy. Kemasan kopi Auleak BaliAy juga dibubuhi dengan visual rangda dengan ilustrasi berupa topeng yang menyeramkan dengan mata yang membelalak, taringnya tajam keluar, dengan lidah yang menjulur panjang. Gambar dari kemasan kopi Auleak BaliAy dapat dilihat pada bagian dibawah ini. Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Wibawa et al. Makna Bhta Kala pada A 535-549 Gambar 5. Kemasan kopi Auleak BaliAy . umber: Ariasih, 2. Visual Rangda pada kemasan kopi menggambarkan Bhta Kala. Wajahnya yang menyeramkan, dengan mata melotot, taring tajam, dan lidah panjang mirip dengan deskripsi Bhta Kala dalam lontar Purwo Bumi Kemulan. Bhta Kala digambarkan dengan suara seperti singa mengaum, taring panjang, mulut lebar seperti jurang, mata seperti matahari kembar, hidung seperti sumur, telinga besar, rambut keriting, dan tubuh yang sangat tinggi. Rangda juga dikenal masyarakat Bali melalui tari tradisional, yang berasal dari cerita Calonarang dan sering ditampilkan dalam upacara keagamaan. Gambar 6. Rangda . umber: Oktalia, 2. Makna Bhta Kala dalam Kemasan Kopi Leak Bali Rangda merupakan simbol dari Bhta Kala. Secara bahasa, "rangda" berarti janda (Gautama & Sariani, 2009:527. Mardiwarsito, 1986:. Makna ini berasal dari cerita Calonarang, yaitu karya sastra sejarah berbentuk babad. Cerita ini memuat unsur sejarah seperti nama tokoh, tempat, kerajaan, dan peristiwa yang terkait. Dalam Calonarang. Rangda adalah janda penyihir dari Girah bernama Ni Calonarang, yang memiliki ilmu hitam luar biasa dan dikenal jahat karena menyakiti masyarakat Girah. Dalam budaya Bali, ilmu hitam ini disebut leak. Secara etimologi, kata AuleakAy dapat diartikan sebagai makhluk yang dipercaya oleh masyarakat Bali memiliki kemampuan untuk mengubah bentuknya menjadi hewan atau objek tertentu. Penggambaran leak pada umumnya adalah sosok perempuan yang cantik Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Wibawa et al. Makna Bhta Kala pada A 535-549 namun menyeramkan dengan rambut panjang terurai dan mata merah. Menurut kepercayaann masyarakat Bali, leak biasanya muncul selama bulan purnama dan melakukan ritual-ritual tertentu untuk memperkuat kekuatannya (Alfian, 2. Ilmu leak dipersepsi secara salah dalam masyarakat Bali sebagai ilmu hitam. Padahal, ilmu leak merupakan upaya memperoleh pengalaman dalam melampaui diri melalui meditasi, sedangkan ilmu hitam adalah metode dengan teknik atau cara yang merugikan orang lain. Makna sesungguhnya dari leak adalah menempatkan aksara suci ke dalam tubuh manusia (Wreta, 2. Leak merupakan juga dipercaya sebagai kekuatan sihir dari seseorang. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari mitos tentang Ni Calonarang yang memiliki ilmu sihir. Berdasarkan penjelasan di atas, kata AuRangdaAy memiliki dua makna. Secara denotasi. Rangda berarti janda dari desa Girah atau Rangdeng Girah. Secara konotasi. Rangda melambangkan kekuatan ilmu sihir. Makna ini kemudian dimanfaatkan dalam membangun citra produk kopi AuLeak BaliAy. Makna AuRangdaAy dipinjam untuk menggambarkan kopi AuLeak BaliAy sebagai produk yang sangat nikmat, bahkan membuat orang yang mencicipinya seakan tersihir untuk mencobanya lagi. Mitos tentang AuRangdaAy digunakan untuk meyakinkan konsumen bahwa kopi ini lebih unggul dibandingkan produk kopi lainnya. Dengan demikian. AuRangdaAy juga menjadi simbol kekuatan yang memikat, seperti Bhta Kala. Tabel 1. Makna Bhta Kala dalam Kopi AuLeak BaliAy Kata Rangda Makna Denotasi Janda Makna Konotasi Mitos Kekuatan ilmu Kekuatan KESIMPULAN Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa makna Bhta Kala bagi masyarakat Bali adalah kekuatan, penjaga, dan hukum alam. Makna-makna ini selanjutnya mengalami perubahan akibat adanya penggunaan ilustrasi pada produk kopi AuLeak BaliAy. Secara denotasi, makna Bhta Kala yang direpresentasikan dalam wujud Rangda adalah janda, sedangkan secara konotasi adalah kekuatan ilmu sihir. Secara mitologi, kopi AuLeak BaliAy diposisikan sebagai produk yang nikmat melebihi produkproduk yang lain. Sehingga perubahan makna Bhta Kala pada kopi AuLeak BaliAy adalah kekuatan yang memikat sehingga makna Bhta Kala yang sebelumnya adalah sakral menjadi profan. DAFTAR PUSTAKA