Ganesha Civic Education Journal Volume 7. Number 1. April 2025, pp. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 DOI: https://doi. org/10. 23887/gancej. Open Access: https://ejournal2. id/index. php/GANCEJ/index STRATEGI PENANGANAN PERILAKU MENYIMPANG SISWA TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA KELAS Vi SMP NEGERI 1 SAWAN I Putu Windu Mertha Sujana 1 * . Esther Hasanah 2. Ketut Siti Amerta Sari 3 1,2,3 Universitas Pendidikan Ganesha. Indonesia ARTICLE INFO ABSTRAK Article history: Received 2 Januari 2025 Accepted 17 Maret 2025 Available online 18 April Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui . faktor penyebab. minat belajar. strategi penanganan perilau menyimpang siswa kelas Vi SMP Negeri 1 Sawan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, penelitian kualitatif melibatkan pengumpulan data berbagai sumber seperti wawancara, observasi, dokumen dan rekaman. Subjek Kata Kunci: dalam penelitian ini adalah guru mata Pelajaran PPKn dan guru agama Strategi Penanganan. hindu di SMP Negeri 1 Sawan. Metode pengumpulan data penelitian ini Perilaku Menyimpang. Minat Belajar menggunakan instrument observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : . faktor penyebab perilaku menyimpang Keywords: yaitu melalui faktor eksternal . eluarga, masyarakat dan juga sekola. dan Coping Strategies. Deviant internal . iri sendir. secara umum minat belajar siswa yang Behavior. Interest in melakukan perilaku menyimpang sudah pasti menurun, dalam penurunan Learning minat belajar siswa lebih banyak siswa yang mengalami penurunan minat belajar dari faktor keluarga dan lingkungan. strategi yang dapat dilakukan untuk menangani perilaku menyimpang yang dilakukan oleh siswa untuk meningkatkan minat belajar yaitu dengan cara melakukan pendekatan terlebih dahulu kepada siswa yang mengalami penurunan minat belajar akibat perilaku menyimpang dan guru harus lebih kreatif didalam kelas dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis game agar siswa tidak bosan dan pembelajaran tidak monoton. ABSTRACT This research aims to determine . causal factors, . interest in learning and . strategies for handling deviant behavior in class Vi SMP Negeri 1 Sawan. This type of research is qualitative research, qualitative research involves collecting data from various sources such as interviews, observations, documents and The subjects in this research were PPKn subject teachers and Hindu religion teachers at SMP Negeri 1 Sawan. This research data collection method uses observation, interviews and documentation The results of the research show that: . the factors that cause deviant behavior are external . amily, community and schoo. and internal . in general, the interest in learning of students who engage in deviant behavior has definitely decreased. In decreasing interest in learning, more students experience a decrease in interest in learning due to family and environmental factors. strategies that can be used to deal with deviant behavior carried out by students to increase interest in learning, namely by first approaching students who experience decreased interest in learning due to deviant behavior and teachers must be more creative in the classroom by using game-based learning methods so that students are not bored and learning is not monotonous. This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2025 by Author. Published by Universitas Pendidikan Ganesha. * Corresponding author. E-mail addresses: windu. mertha@undiksha. Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. Pendahuluan Pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam pembangunan sebuah negara. Pada tingkat pendidikan dasar dan menengah, pembentukan karakter dan penanaman nilai-nilai positif pada siswa menjadi hal yang sangat penting (Sujana & Gunawijaya, 2. Namun, dalam beberapa kasus, terutama di lingkungan sekolah yang beragam, munculnya perilaku menyimpang pada siswa dapat menjadi tantangan serius dalam mencapai tujuan pendidikan yang berkualitas. SMP Negeri 1 Sawan, sebagai salah satu lembaga pendidikan menengah di wilayahnya, juga tidak lepas dari masalah perilaku menyimpang yang dihadapi oleh sebagian Perilaku menyimpang dapat mencakup berbagai hal, mulai dari penggunaan narkoba, kenakalan remaja, hingga intimidasi atau pelecehan sesama siswa. Salah satu dampak negatif dari perilaku menyimpang ini adalah penurunan minat belajar siswa. Minat belajar adalah faktor penting dalam keberhasilan akademik siswa. Siswa yang memiliki minat belajar yang tinggi cenderung lebih bersemangat untuk hadir di sekolah, berpartisipasi dalam proses pembelajaran, dan mencapai prestasi yang lebih baik. Minat belajar adalah faktor penting dalam proses pendidikan. Minat belajar yang tinggi dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan tekun dan mencapai prestasi akademik yang baik (Rochaniningsih, 2. Namun, anak-anak yang mengalami perilaku menyimpang cenderung memiliki minat belajar yang rendah, yang dapat berdampak negatif pada prestasi akademik Oleh karena itu, perlunya sebuah kajian yang mendalam untuk mengatasi masalah ini menjadi penting guna meningkatkan kualitas pendidikan dan pembentukan karakter siswa/siswi di SMPN 1 Sawan. Namun, istilah penyimpangan lebih mengarah pada perilaku yang dianggap aneh yang dapat memenuhi kebutuhan untuk memuaskan rasa ingin tahu. Beberapa sosiolog memiliki pendapat yang bergam tentang perilaku menyimpang. Damayanti . mengaitkan penyimpangan dengan evaluasi majemuk,pergeseran standar penilaian, dan ambivalensi moral. Penyimpangan sebagai cerminan upaya penyesuaian diri sebagian anggota masyarakat dalam mengatasi persoalannya, yang tidak jarang berbenturan denganstandar umum. Menurut Kartono . delinkuen merupakan produk konstitusi mental serta emosi yang sangat labil dan defektif sebagai akibat dari proses pengkondisian lingkungan buruk terhadap seseorang. Pendapat lain dikemukakan oleh Scott dan yang menyatakan bahwa yang terpenting dari ciri penyimpangan adalah adanya penilaian dari pihak lain yang menganggapnya memiliki perilaku Dengan demikian yang dimaksud dengan perilaku menyimpang adalah suatu tindakan yang tidak sesuai atau tidak dapat menyesuaikan diri dengan norma-norma yang berlaku di Tindakan perilaku menyimpang tersebut dilakukan baik secara sadar ataupun tidak Berdasarkan permasalahan pribadi yang dialami siswa/siswi ini menyebabkan perilaku menyimpang dan dampak psikologis atau mental yang terganggu. Penanganan perilaku menyimpang pada siswa menjadi tanggung jawab sekolah sebagai lembaga pendidikan (Juliardi. Menyadari pentingnya upaya penanganan ini. SMP Negeri 1 Sawan perlu merancang dan mengimplementasikan strategi penanganan yang efektif untuk mengatasi masalah ini. Namun, sebelum strategi tersebut dapat dikembangkan dan diterapkan, pemahaman yang mendalam tentang hubungan antara perilaku menyimpang dan penurunan minat belajar siswa harus Masalah perilaku menyimpang bisa muncul dari berbagai faktor, termasuk pengaruh dari lingkungan keluarga, teman sebaya, atau tekanan sosial. Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami penyebab dan dampak perilaku menyimpang pada siswa. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi munculnya perilaku menyimpang sangat kompleks dan melibatkan berbagai aspek kehidupan individu dan lingkungan sosial. Berikut adalah beberapa faktor yang dapat memengaruhi perilaku menyimpang. Pertama ialah faktor individu, yang dimana pada faktor individu ini memiliki beberapa point yaitu karakteristik pribadi, gangguan mental, tingkat pendidikan dan ketidakpuasan. Kedua faktor keluarga, pada faktor keluarga ini mencakup dinamika keluarga, keluarga broken home dan model peran orangtua. Ketiga ialah faktor lingkungan sosial, pada faktor ini mencakup tempeeramen lingkungan dan teman sebaya. Lalu GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. yang keempat ialah faktor ekonomi, dalam faktor ekonomi ini mencakup kemiskinan dan ketidaksetaraan ekonomi. Metode Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan datanya menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Bungin . menyatakan teknik observasi adalah teknik pengumpulan data yang mempunyai ciri spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lainnya. Dalam hal ini peneliti akan melaksanakan pengamatan kepada Peserta Didik kelas Vi. Guru dan Kepala Sekolah tentang strategi penaganan perilaku menyimpang siswa terhadap minat belajar. Teknik observasi ini dilaksanakan agar mendapatkan pengamatan yang lebih spesifik dan mencatat sistematis terhadap permasalahan di lapangan. Teknik wawancara adalah teknik yang digunakan untuk mengumpulkan informasi atau data dengan cara berbicara langsung dengan responden atau subjek penelitian. Teknik wawancara ini nantinya akan dilakukan kepada responden atau narasumber yang dituju, yaitu Guru mata pelajaran PPKn dan Agama Hindu di SMP Negeri 1 Sawan. Teknik dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang menggunakan dokumentasi seperti mengambil gambar atau foto dan mengadakan pencatatan dengan Dokumentasi merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dalam penelitian kualitatif. Dalam metode ini nantinya peneliti akan memfokuskan kepada siswa dan guru kelas Vi SMP N 1 Sawan, karena didalam penelitian ini permasalahan yang diteliti adalah perilaku menyimpang siswa terkait minat belajar siswa kelas Vi SMP N 1 Sawan, sehingga metode ini dapat menunjang teknik pengumpulan data wawancara. Hasil dan pembahasan Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaiaman strategi penanganan perilaku menyimpang siswa terhadap minat belajar siswa kelas Vi SMP Negeri 1 Sawan. Penelitian ini berjalan sejak November 2023 hingga Januari 2024. Subjek penelitian ini adalah guru PPKn dan Agama Hindu SMP Negeri 1 Sawan. Ada pun hasil dari penelitian ini, yaitu : faktor penyebab terjadinya perilaku menyimpang pada siswa kelas Vi SMP Negeri 1 Sawan, minat belajar siswa SMP Negeri 1 Sawan kelas Vi yang melakukan perilaku menyimpang dan strategi penanganan perilaku siswa kelas Vi SMP Negeri 1 Sawan. Faktor Terjadinya Perilaku Menyimpang pada Siswa Kelas Vi SMP N 1 Sawan bahwa ada beberpaa faktor terjadinya perilaku menyimpang. Faktor keluarga sangatlah berperan penting dalam perilaku anak yang dimana jika anak tidak merasa nyaman dirumah dikarenakan kondisi keluarga yang kurang membaik maka anak akan merasakan ketidaknyamanan dirumah dan akan mencari kenyamanan diluar rumah tanpa diawasi oleh kedua orangtua. Peran keluarga dalam perilaku menyimpang remaja sangat signifikan, karena keluarga adalah lingkungan pertama di mana remaja belajar tentang nilai-nilai, norma sosial, dan cara berinteraksi dengan dunia luar. Faktor lingkungan masyarakat juga berperan dalam memepengaruhi faktor perilaku menyimpang anak. Faktor lingkungan masyarakat memiliki dampak besar pada perilaku menyimpang remaja (Ajung, dkk, 2. Lingkungan masyarakat mencakup budaya, normanorma sosial, ekonomi, kebijakan publik, serta akses terhadap sumber daya dan layanan. Dalam mempengaruhi perilaku menyimpang faktor sekolah juga berperan penting. Faktor sekolah yang dimaksud disini ialah masih ada beberapa guru yang mecontohkan yang baik kepada siswa maka dari itu siswa mengikuti apa yang guru lakukan. Guru merupakan role model siswa disekolah selama beberapa jam, tidak jarang siswa akan mencontohkan apa yang guru perbuat disekolah. Minat Belajar SMP Negeri 1 Sawan yang Melakukan Perilaku Menyimpang Dalam penelitian ini minat belajar yang dialami oleh siswa SMP Negeri 1 Sawan yang melakukan perilaku menyimpang sangat menurun. Minat belajar yang menurun ini bisa disebabkan beberapa alesan yaitu gangguan fokus dan konsentrasi. Perilaku menyimpang seringkali mengarah pada gangguan pada fokus dan konsentrasi siswa. Mereka mungkin lebih terlibat dalam aktivitas yang melanggar aturan daripada fokus pada pelajaran di sekolah. Terlihat bahwa siswa yang menunjukkan perilaku menyimpang cenderung memiliki minat belajar yang rendah I Putu Windu Mertha Sujana. Esther Hasanah. Ketut Siti Amerta Sari / Strategi Penanganan Perilaku Menyimpang Siswa Terhadap Minat Belajar Siswa Kelas Vi SMP Negeri 1 Sawan Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. terhadap materi pelajaran yang diajarkan. Mereka mungkin menunjukkan sikap acuh tak acuh terhadap pelajaran, kurangnya partisipasi dalam diskusi kelas, dan kurangnya motivasi untuk menyelesaikan tugas. Selain itu, observasi juga menunjukkan bahwa faktor-faktor di luar sekolah, seperti masalah keluarga atau tekanan dari teman sebaya, juga dapat memengaruhi minat belajar siswa yang kemudian berdampak pada perilaku menyimpang. Lingkungan yang tidak mendukung di rumah atau di lingkungan sekitar juga dapat mengurangi minat belajar Strategi Penanganan Perilaku Menyimpang Siswa untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas Vi SMP Negeri 1 Sawan Faktor terjadinhya perilaku menyimpang ialah dari faktor eksternal dan faktor internal, faktor eksternal disini yang dimaksud ialah faktor dari keluarga, lingkungan sekitar sampai faktor sekolah sedangkan faktor dari internal ialah faktor dari diri anak tersebut. Karena perilaku menyimpang yang dilakukan anak tersebut bisa memberikan dampak penurunan minat belajarnya disekolah. Maka dari itu hasil penelitian memberikan strategi penanganan kepada siswa yang memiliki perilaku menyimpang siswa untuk meningkatkan minat belajar siswa. Strategi penanganan merujuk pada serangkaian langkah atau tindakan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mengatasi masalah, mengelola situasi, atau mencapai tujuan tertentu. Ini melibatkan pemikiran yang terorganisir dan pemilihan pendekatan yang tepat untuk menyelesaikan masalah atau menghadapi tantangan tertentu. Hampir semua siswa yang melakukan perilaku menyimpang sudah dipastikan mengalami penurunan minat belajar. Setiap guru memiliki strategi yang berbeda jika dikelas menemukan siswa yang minat belajarnya kurang dikarenakan perilaku menyimpang tersebut. Beberapa guru menggunakan metode pendekatan dengan siswa agar mengetahui apa yang dibutuhkan siswa Pendekatan yang dimaksud ialah mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa. Setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda. Mencoba untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar individu dan mencari cara untuk menyesuaikan pengajaran agar lebih sesuai dengan gaya belajar mereka. Disetiap kelas banyak sekali ditemui siswa yang membutuhkan tempat untuk bertukar pikiran baik mengenai akademik maupun nonakademik. Kebanyakan siswa yang mengalami penurunan minat belajar terutama siswa yang mempunyai kasus melakukan perilau menyimpang disini dikarenakan siswa kurang menyukai pelajarannya atau siswa tidak menyukai guru yang mengajarnya mata pelajaran tersebut. Maka dari itu jika jam pelajaran dimulai siswa tersebut lebih banyak mengobrol, tidak memperhatikan guru bahkan sampai jail kepada teman sekelasnya. Berdasarkan observasi didalam kelas guru harus membangun hubungan dengan siswa. Berusaha membangun hubungan yang positif dan mendukung dengan Hal ini bisa membantu mereka merasa lebih nyaman dalam berbicara tentang masalah yang mereka hadapi dan mendorong mereka untuk lebih terbuka terhadap bantuan. Penelitian ini menghasilkan bagaimana strategi penanganan perilaku menyimpang terhadap penurunan minat belajar Perilaku menyimpang muncul karena beberapa faktor yang meliputi: . Keluarga, di mana keluarga yang tidak berfungsi dengan normal . eperti broken home atau quasi broken hom. dan situasi di mana jumlah anggota keluarga kurang mendukung dapat menjadi pemicu perilaku menyimpang. Ada beberapa faktor keluarga yang dapat mempengaruhi perilaku menyimpang pada anak: model perilaku orang tua. Orang tua adalah model utama bagi remaja dalam mengembangkan perilaku dan sikap. Jika orang tua terlibat dalam perilaku menyimpang seperti kekerasan dalam rumah tangga, penyalahgunaan narkoba, atau tindakan kriminal, remaja cenderung menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang wajar atau dapat diterima. Kualitas hubungan anak dengan orang tua juga sangat mempengaruhi perilaku menyimpang anak. Hubungan yang sehat antara orang tua dan anak memiliki dampak positif pada perkembangan remaja, termasuk perilaku. Keluarga yang memberikan dukungan emosional, komunikasi terbuka, dan rasa keamanan cenderung memiliki remaja yang lebih sedikit terlibat dalam perilaku menyimpang. Pengawasan orang tua dalam hal ini berperan penting juga, tingkat pengawasan dan kontrol yang dilakukan oleh orang tua terhadap aktivitas dan teman sebaya remaja dapat memengaruhi tingkat keterlibatan mereka dalam perilaku menyimpang. Pengawasan yang ketat dan pengarahan yang jelas dari orang tua dapat membantu mencegah remaja terlibat dalam GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. perilaku berisiko. Faktor kestabilan keluarga, keluarga yang mengalami konflik, perceraian, atau ketidakstabilan lainnya cenderung menciptakan lingkungan yang tidak mendukung untuk perkembangan remaja. Remaja dalam keluarga semacam ini mungkin mencari dukungan diluar keluarga, termasuk dari teman sebaya yang mungkin memperkenalkan mereka pada perilaku . Pendidikan formal . , termasuk perlakuan tidak adil dari guru, hukuman atau sanksi yang tidak mendukung pencapaian tujuan pendidikan, ancaman yang berkelanjutan dengan disiplin yang terlalu ketat, ketidakharmonisan antara siswa dan pendidik, serta kurangnya keterlibatan dalam belajar di rumah. Dalam mempengaruhi perilaku menyimpang faktor sekolah juga berperan penting. Faktor sekolah yang dimaksud disini ialah masih ada beberapa guru yang mecontohkan yang baik kepada siswa maka dari itu siswa mengikuti apa yang guru lakukan. Guru merupakan role model siswa disekolah selama beberapa jam, tidak jarang siswa akan mencontohkan apa yang guru perbuat disekolah. Masyarakat, di mana kesenjangan antara kekayaan dan kemiskinan dapat mengakibatkan risiko yang signifikan bagi kesejahteraan manusia. Beberapa anak miskin mungkin merasa rendah diri dalam masyarakat dan berusaha meniru gaya hidup remaja yang kaya. Faktor lingkungan masyarakat juga berperan dalam memepengaruhi faktor perilaku menyimpang anak. Faktor lingkungan masyarakat memiliki dampak besar pada perilaku menyimpang remaja. Lingkungan masyarakat mencakup budaya, norma-norma sosial, ekonomi, kebijakan publik, serta akses terhadap sumber daya dan layanan. Minat Belajar SMP Negeri 1 Sawan yang Melakukan Perilaku Menyimpang sudah dipastikan menurunnya minat belajar. Penurunan minat belajar sebagai akibat dari perilaku menyimpang siswa merupakan masalah serius yang mempengaruhi prestasi akademik dan kesejahteraan siswa secara keseluruhan. Perilaku menyimpang, seperti kenakalan remaja atau ketidakpatuhan terhadap aturan sekolah, seringkali menjadi tanda-tanda dari ketidakmampuan atau ketidaknyamanan siswa dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah atau tekanan Penurunan minat belajar bisa menjadi manifestasi dari ketidakmampuan siswa untuk merasa terhubung atau relevan dengan materi pelajaran, yang bisa disebabkan oleh faktor- faktor seperti ketidaknyamanan emosional, stres, atau ketidakpuasan dengan lingkungan sekolah. Dimana menurunnya minat belajar ini mecakup beberapa faktor yang memicu penurunan minat belajar yang disebakan oleh perilaku menyimpang. Penurunan minat belajar pada remaja bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, faktor internal seperti kurangnya motivasi atau rasa tertarik yang menurun terhadap materi pelajaran. Remaja mungkin merasa bosan, tidak terhubung, atau tidak melihat relevansi antara pembelajaran dengan kehidupan mereka. Kedua, tekanan psikologis atau emosional seperti stres, kecemasan, atau depresi juga bisa menyebabkan penurunan minat belajar. Ketiga, faktor eksternal seperti lingkungan sekolah yang tidak kondusif, kurangnya dukungan dari guru atau teman sebaya, atau pengalaman negatif dalam pembelajaran juga dapat mempengaruhi minat belajar remaja. Selain itu, pengaruh dari lingkungan sosial, seperti teman sebaya yang kurang mendukung atau adanya gangguan dari lingkungan sekitar, juga dapat memengaruhi minat belajar. Ketika remaja mengalami penurunan minat belajar, mereka mungkin menjadi kurang termotivasi untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi pencapaian akademis mereka dan kesejahteraan secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting bagi pendidik dan orang tua untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi minat belajar remaja dan mencari cara untuk memotivasi dan mendukung mereka agar tetap bersemangat dalam belajar. Strategi Penanganan Perilaku Menyimpang Siswa untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas Vi SMP Negeri 1 Sawan. Penuruna minat belajar akan terjadi dikarenakan perilaku menyimpang siswa (Wahyuni, dkk, 2. Mengetahui kesulitan belajar oleh siswa yang melakukan perilaku menyimpang, penyebab menurunnya minat belajar. Ketika motivasi belajar lemah, hal ini akan berdampak negatif pada pencapaian akademik siswa. Menurunnya motivasi belajar atau minat belajar banyak sekali terjadi pada siswa yang melakukan perilaku Siswa yang melakukan perilaku menyimpang dan mengalami minat belajar yang menurun dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: lingkungan keluarga yang tidak kondusif: Faktor lingkungan keluarga yang tidak kondusif dapat memiliki dampak besar pada I Putu Windu Mertha Sujana. Esther Hasanah. Ketut Siti Amerta Sari / Strategi Penanganan Perilaku Menyimpang Siswa Terhadap Minat Belajar Siswa Kelas Vi SMP Negeri 1 Sawan Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. menurunnya minat belajar siswa yang melakukan perilaku menyimpang. Kurangnya perhatian dan dukungan emosional: Anak yang tidak mendapatkan perhatian dan dukungan emosional yang cukup dari orang tua cenderung merasa tidak dihargai atau tidak penting. Kurangnya komunikasi dan interaksi positif. Lingkungan keluarga yang tidak kondusif sering kali ditandai oleh kurangnya komunikasi dan interaksi positif antara anggota keluarga. Ketidakstabilan keluarga: Anak-anak yang tinggal dalam lingkungan keluarga yang tidak stabil, seperti keluarga yang sering bertengkar atau mengalami perceraian, cenderung mengalami gangguan dalam perkembangan emosional dan akademis mereka. Faktor lingkungan sekolah yang tidak kondusif juga salah satu faktor minat belajar yang menurun. Faktor lingkungan sekolah yang tidak kondusif dapat berperan penting dalam menurunnya minat belajar siswa yang melakukan perilaku menyimpang. Berbagai faktor-faktor diatas yang mencakup dari perilaku menyimpang siswa memberikan dampak penurunan minat belajar. Maka dari itu pembahasan ini membahas strategi penganan untuk menangani perilaku menyimpang siswa untuk meningkatkan minat belajar siswa. Startegi dalam hal ini yaitu guru sebagai role model disekolah. Guru harus bisa membawa mata pelajaran dengan baik agar siswa menyukai pelajaran tersebut. Guru melakukan pendekatan kepada siswa terutama siswa yang melakukan perilaku menyimpang dan sangat menurun minat belajarnya. Membuat pelajaran yang inovatif agar tidak monoton maka siswa bisa terlibat aktif dalam mengikuti pembelajaran di kelas (Sari, dkk, 2. Pernyataan tersebut sama seperti penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Maliah & Pandin . bahwa strategi dalam menangani perilaku menyimpang yang menyebabkan menurunnya minat belajar siswa ialah guru menjadi role model untuk siswanya. Simpulan dan Saran Perilaku menyimpang muncul karena beberapa faktor yang meliputi: . Keluarga, di mana keluarga yang tidak berfungsi dengan normal . eperti broken home atau quasi broken hom. dan situasi di mana jumlah anggota keluarga kurang mendukung dapat menjadi pemicu perilaku menyimpang. Pendidikan formal . , termasuk perlakuan tidak adil dari guru, hukuman atau sanksi yang tidak mendukung pencapaian tujuan pendidikan, ancaman yang berkelanjutan dengan disiplin yang terlalu ketat, ketidakharmonisan antara siswa dan pendidik, serta kurangnya keterlibatan dalam belajar di rumah. Masyarakat, di mana kesenjangan antara kekayaan dan kemiskinan dapat mengakibatkan risiko yang signifikan bagi kesejahteraan Pengaruh perilaku menyimpang dapat mempengaruhi minat belaajr siswa dalam beberapa cara yang signifikan. Pertama, perilaku menyimpang seperti bolos sekolah, merokok, atau melakukan kegiatan yang melanggar aturan dapat mengalihkan perhatian siswa dari Ketika siswa lebih fokus pada perilaku menyimpang tersebut, mereka cenderung mengabaikan tugas- tugas akademis dan kegiatan belajar lainnya. Kedua, perilaku menyimpang dapat menciptakan lingkungan yang tidak kondusif untuk belajar di sekolah. Misalnya, jika terjadi konflik atau kekerasan di lingkungan sekolah, siswa mungkin merasa tidak aman dan tidak nyaman untuk belajar. Hal ini dapat mengurangi minat belajar mereka dan membuat mereka enggan datang ke sekolah. Ketiga, perilaku menyimpang sering kali berkaitan dengan masalah psikologis atau emosional, seperti depresi, kecemasan, atau gangguan perilaku. Maka dari itu anak yang melakukan perilaku menyimpang akan terjadi penurunan minat belajar. Dari beberapa faktor terjadinya perilaku menyimpang sampai dengan penurunan minat belajar siswa akibat perilaku menyimpang. Maka dari itu ada beberapa startegi untuk menangani perilaku menyimpang siswa untuk meningkatkan minat belajar. Guru harus bisa membawa mata pelajaran dengan baik agar siswa menyukai pelajaran tersebut. Guru melakukan pendekatan kepada xsiswa terutama siswa yang melakukan perilaku menyimpang dan sangat menurunds minat belajarnya. Membuat pelajaran yang inovatif agar tidak monoton maka siswa bisa terlibat aktif dalam mengikuti pembelajaran di kelas. GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. Daftar Rujukan Ajung. , dkk. Peran Guru PPKn dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pada Masa Pandemi Covid-19 Di SMA Negeri 2 Cibal (Studi Kasus di SMA Negeri 2 Cibal Kec. Cibal Barat Kab. Manggara. Ganesha Civic Education Journal, 4. , 9-15. Bungin. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rajawali Pers Damayanti. Nidya. Panduan Bimbingan Konseling. Yogyakarta: Araska Juliardi. Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Pendidikan Kewarganegaraan. Jurnal Bhinneka Tunggal Ika. Vol. 2 No 2. Kartono. Kenakalan Remaja. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Maliah. , & Pandin. Pancasila Education to Improve The Morale of The Millennial Generation. Ganesha Civic Education Journal, 6. , 49-58 Rochaniningsih. Dampak pergeseran peran dan fungsi keluarga pada perilaku menyimpang remaja. Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi, 2. Sari. W, dkk. Validitas Modul Berbasis Flipbook dalam Menunjang Proses Pembelajaran Pendidikan Pancasila Kelas X. Ganesha Civic Education Journal, 5. , 17-23 Sujana. , & Gunawijaya. Penguatan Karakter Generasi Digital Native Ditengah Arus Globalisasi. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha. Vol. 10 No. Wahyuni. , dkk. Implementasi Model Pembelajaran Problem Solving Terhadap Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Pembelajaran PPKn untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Kelas Vi Hatta di SMP N 4 Singaraja. Ganesha Civic Education Journal, 5. , 24-30. I Putu Windu Mertha Sujana. Esther Hasanah. Ketut Siti Amerta Sari / Strategi Penanganan Perilaku Menyimpang Siswa Terhadap Minat Belajar Siswa Kelas Vi SMP Negeri 1 Sawan