e-ISSN: 2654-8488 Jurnal Riset Akuntansi Aksioma https://aksioma. Vol. 23 No. Juni 2024 PENGARUH MOOD. PEMBERIAN REWARD DAN KOMITMEN RELIGIUS TERHADAP NIAT MELAKUKAN WHISTLEBLOWING Ester Sabatini1 1Fakultas Bisnis. Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Indonesia, sabatini@ukwms. Riwayat Artikel: Received: 24 Mei 2024 Revised: 31 Mei 2024 Accepted: 04 Juni 2024 Publlished: 15 Juni 2024 Corresponding Author: Nama: Ester Sabatini Email: ester. sabatini@ukwms. DOI: 10. 29303/aksioma. A 2024 The Authors. This open access article is distributed under a (CC-BY Licens. Abstract: Many countries, including Indonesia, face serious socio-economic problems due to fraud in various forms, including corruption. Whistleblowing is one way to restore public trust, especially in terms of preventing fraud. This research aims to explore how big the relationship between mood, the influence of rewards, and a person's religious commitment has on the desire or intention to carry out whistleblowing. In this quantitative research, primary data was collected through a questionnaire distributed using Google Form. The purposive sampling method was used to select 70 respondents. Analysis was carried out using the multiple linear regression method. This research will contribute to management by considering factors that have the potential to influence an Research findings show that mood, giving rewards, and religious commitment each influence a person's willingness to carry out whistleblowing. Keywords: mood, religious commitment, reward. Abstrak: Banyak Indonesia, menghadapi masalah sosial ekonomi yang serius akibat kecurangan dalam berbagai bentuk, termasuk korupsi. Whistleblowing adalah salah satu cara untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat, terutama dalam hal pencegahan kecurangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi seberapa besar keterkaitan antara mood, pengaruh reward, dan komitmen religius yang dimiliki seseorang terhadap keinginan atau niat untuk melakukan Dalam penelitian kuantitatif ini, data primer dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan dengan google form. Metode purposive sampling digunakan untuk memilih 70 responden. Analisis dilakukan menggunakan metode regresi linear berganda. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi manajemen untuk mempertimbangkan faktor-faktor yang berpotensi memengaruhi keinginan individu untuk Sabatini: Pengaruh Mood. Pemberian. melaporkan kecurangan melalui tindakan whistleblowing. Temuan penelitian menunjukkan bahwa mood, pemberian reward, dan komitmen religius masing-masing memiliki melakukan whistleblowing. Kata kunci: komitmen religius, mood, pemberian reward. PENDAHULUAN Dalam beberapa dekade terakhir, jumlah skandal kasus keuangan seperti penipuan terus meningkat di sektor swasta dan privat, menarik perhatian banyak orang. Kecurangan dalam berbagai bentuknya, termasuk korupsi, telah menjadi masalah sosialekonomi yang serius di banyak negara, termasuk Indonesia. Kasus korupsi yang melibatkan tata niaga komoditas timah di wilayah IUP PT Timah Tbk selama periode 2015-2022 merupakan insiden korupsi terbaru yang terjadi di Indonesia. Kasus korupsi tersebut mengakibatkan kerugian kerusakan hutan hingga 271 triliun, kerugian ekologis sebesar 157 triliun dan kerugian ekonomi lingkungan sebesar 5 triliun (CNBC Indonesia Berdasarkan informasi yang dipublikasikan oleh Transparency International mengenai rilis Indeks Persepsi Korupsi 2023 Indonesia menempati peringkat 115 dari 180 negara yang disurvei . ttps://ti. id/corruption-perceptions-index-2. Skor yang turun pada CPI pada tahun 2023 menunjukkan bahwa respon terhadap praktik korupsi masih mungkin lamban dan mungkin terus memburuk sebagai akibat dari kurangnya dukungan dari pemangku kepentingan. Kecurangan seperti kasus korupsi ini memiliki dampak yang merugikan pada stabilitas ekonomi, pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, distribusi sumber daya yang adil, dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan institusi swasta. Whistleblowing adalah salah satu cara untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat, terutama dalam hal pencegahan kecurangan. Whistleblowing merujuk pada tindakan yang diambil oleh individu untuk mengungkap tindakan yang tidak semestinya yang dilakukan oleh atasan atau pimpinan (Della dkk. , 2. Whistleblowing terjadi ketika seorang anggota organisasi, baik saat ini maupun mantan anggota, menginformasikan kepada pihak manajemen yang lebih tinggi, otoritas hukum, atau publik tentang kegiatan yang tidak etis atau ilegal yang dapat merugikan karyawan, konsumen, investor, atau masyarakat umum. Tujuan whistleblowing adalah untuk membongkar praktek-praktek yang melanggar etika atau hukum (Bouville 2007. Esther Whistleblower adalah orang yang melakukan whistleblowing. Whistleblower harus memiliki sifat seperti kinerja yang baik, rendah hati, dan etis. Menurut Teori Perilaku Terencana (TPB) yang dikembangkan oleh Ajzen . , terdapat korelasi antara sikap individu terhadap suatu perilaku dan kecenderungan mereka untuk Sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku adalah tiga komponen utama yang menurut teori ini memengaruhi perilaku seseorang (Subaki, 2. Bagaimana seseorang melihat whistleblowing akan memengaruhi seberapa sering mereka melaporkan pelanggaran. Jika seseorang memiliki sikap positif terhadap whistleblowing, yaitu mereka percaya bahwa melaporkan pelanggaran adalah tindakan yang benar dan bertanggung jawab, maka mereka lebih mungkin untuk melakukan Norma subjektif dalam konteks whistleblowing mencakup persepsi individu tentang dukungan atau penolakan dari orang-orang di sekitar mereka terhadap tindakan whistleblowing. Jika individu percaya bahwa rekan-rekan kerja atau atasan mereka mendukung whistleblowing, mereka cenderung lebih termotivasi untuk melaporkan pelanggaran. Kasus-kasus whistleblowing terjadi ketika seseorang di dalam sebuah organisasi atau lembaga mengungkapkan informasi tentang ketidakpatuhan, penyelewengan, atau Vol. No. Juni 2024 kegiatan ilegal yang terjadi di tempat kerja atau di lembaga tersebut. Whistleblowers atau pelapor kecurangan seperti John Barnett, yang melaporkan kecurangan terhadap perusahaan Boeing . ompas, 2. Sebuah peristiwa lain di Indonesia melibatkan Nurhayati, seorang staf administrasi keuangan di Desa Citemu. Kabupaten Cirebon, yang mengungkap dugaan korupsi oleh kepala desa senilai 800 juta rupiah . Kasus-kasus seperti ini menyoroti pentingnya peran whistleblowers dalam mengungkapkan informasi yang mungkin tidak akan terungkap secara alami dan dalam mempertahankan integritas dan transparansi di dalam institusi dan organisasi. Tanpa keberanian mereka untuk mengungkapkan informasi yang sensitif atau tidak senonoh, praktik-praktik yang merugikan atau tidak etis mungkin akan tetap tersembunyi, berpotensi menyebabkan dampak negatif yang luas dan merugikan bagi masyarakat atau pihak-pihak yang terlibat. Whistleblowers dapat membantu mencegah korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, pelanggaran hukum, atau bahkan bahaya bagi kesehatan dan keselamatan publik dengan membawa ke dalam cahaya informasi yang sebelumnya tidak diketahui atau disembunyikan. Tindakan mereka juga dapat memicu perubahan positif dalam kebijakan, regulasi, atau praktik-praktik perusahaan atau lembaga yang memungkinkan untuk lebih akuntabel dan bertanggung jawab. Meskipun whistleblowers seringkali menghadapi risiko dan tekanan besar dalam mengambil langkah-langkah tersebut, mereka memberikan kontribusi yang sangat berharga bagi kepentingan umum dan penting bagi kesehatan demokrasi dan tata kelola yang baik. Sekitar setengah kasus kecurangan ditemukan oleh whistleblower, menurut data dari Association of Certified Fraud Examiner (Ahyaruddin 2. Audit internal menyumbang seperempat penemuan kasus, dan proses kontrol internal menyumbang seperempat lainnya, atau bahkan secara tidak sengaja ditemukan (Ahyaruddin 2. Oleh karena itu, untuk melindungi pemangku kepentingan, whistleblowers menjadi bagian penting dalam mengidentifikasi kecurangan yang terjadi dalam organisasi. Faktor-faktor seperti suasana hati, pemberian reward atau insentif, dan komitmen agama dapat memengaruhi kecenderungan seseorang untuk melakukan whistleblowing. Suasana hati adalah kondisi emosional yang berlangsung dalam periode tertentu tanpa penyebab yang jelas (Huu Son, 2. Suasana hati individu dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis: positif, negatif, dan netral. Mood positif mendorong dan meningkatkan kreatifitas (Wardani 2. Mood negatif, atau tidak, adalah merusak dan tidak kreatif. Berbagai aspek kehidupan seseorang, seperti perilaku, keputusan, dan interaksi sosial, dipengaruhi oleh mood. Dalam konteks terkait dengan niat melakukan whistleblowing, mood bisa menjadi faktor yang penting. Orang yang berada dalam mood positif mungkin lebih terbuka untuk bertindak sesuai dengan keadilan dan integritas, termasuk melaporkan pelanggaran atau ketidakpatuhan yang mereka saksikan di lingkungan kerja mereka. Mood positif dapat meningkatkan rasa kewajiban moral dan empati, yang pada gilirannya dapat mendorong individu untuk bertindak demi kebaikan bersama, seperti melakukan whistleblowing untuk mengungkap kecurangan atau ketidakpatuhan yang merugikan. Mood yang negatif seperti frustrasi, marah, atau kesal dapat meningkatkan kemungkinan seseorang untuk melakukan whistleblowing karena mereka mungkin merasa lebih termotivasi untuk mengungkapkan kecurangan atau ketidakadilan yang mereka saksikan. Affective Events Theory (AET) juga menjelaskan bahwa peristiwa-peristiwa afektif di tempat kerja dapat memengaruhi keputusan individu untuk melaporkan pelanggaran atau tindakan ilegal (Pratama 2. Terdapat beberapa penelitian yang mengakui bahwa mood dapat mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan. Lowe . menyatakan bahwa seorang karyawan yang memiliki mood negatif akan cenderung takut atau enggan melaporkan kecurangan atau whistleblowing. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Indriaty et al . , hasil menunjukkan bahwa individu dengan suasana hati yang positif mungkin memiliki kemampuan untuk mengingat lebih banyak informasi yang menunjukkan risiko Sabatini: Pengaruh Mood. Pemberian. kesalahan penyampaian yang lebih rendah, dan mereka cenderung mengambil sikap konfrontatif dalam membuat keputusan. Penelitian sebelumnya mengenai hubungan mood, seperti yang dilakukan oleh Kartini et al . , menemukan bahwa mood dapat mempengaruhi keputusan investasi. Namun, hasil studi yang dilakukan oleh Pratama . dan Wardani . menunjukkan bahwa mood tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan audit. Jika seseorang percaya bahwa whistleblowing akan dihargai atau dihargai dengan insentif, baik itu dalam bentuk penghargaan finansial, promosi, atau pengakuan atas kontribusi mereka terhadap kebaikan organisasi, maka mereka mungkin lebih cenderung untuk mengambil langkah tersebut. Namun, kekurangan sistem pemberian reward yang jelas atau bahkan potensi risiko hukuman atau balasan dapat menghalangi seseorang untuk melaporkan pelanggaran. Memberikan insentif sebagai imbalan untuk tindakan yang benar dapat menjadi alat objektif untuk menegaskan bahwa seseorang telah bertindak sesuai dengan nilai-nilai positif (Febianti et al. , 2. Pemberian reward dapat menjadi faktor yang memengaruhi keputusan seseorang untuk melaporkan pelanggaran atau ketidakpatuhan. Jika seseorang mengetahui bahwa melaporkan pelanggaran atau ketidakpatuhan dapat mengancam atau mengurangi peluang mereka untuk mendapatkan reward, hal ini dapat menghalangi mereka untuk melakukannya. Mawarni . menunjukkan bahwa penghargaan meningkatkan pengungkapan kecurangan: semakin tinggi penghargaan, semakin termotivasi seseorang untuk mengungkapkan atau mengungkapkan kecurangan. Dalam studi sebelumnya mengenai insentif, penelitian yang dilakukan oleh Haliah et al. menunjukkan bahwa insentif memengaruhi kecenderungan untuk melaporkan pelanggaran, namun temuan ini tidak sejalan dengan hasil studi oleh Arwata . , yang menemukan bahwa insentif tidak berpengaruh terhadap kecenderungan untuk melaporkan pelanggaran. Komitmen religius seseorang juga dapat mempengaruhi keinginan mereka untuk melakukan whistleblowing, seperti halnya faktor seperti mood dan reward yang Pemahaman individu terhadap doktrin agama atau keyakinan yang dipeluknya disebut sebagai komitmen religius (Harahap 2. Sebaliknya. Dewi et al. menyatakan bahwa religiusitas seseorang akan berdampak pada kinerja mereka. Selain itu, komitmen religius seseorang atau prinsip moral dan etis yang mendasari keyakinan agama mereka dapat memengaruhi keinginan mereka untuk melakukan whistleblowing. Orang-orang yang sangat religius merasa didorong oleh prinsip-prinsip moral atau etika mereka untuk menunjukkan ketidakpatuhan atau ketidakadilan yang mereka lihat di tempat kerja. Komitmen religius dapat mendorong seseorang untuk bertindak sesuai dengan keyakinan mereka, meskipun ada risiko atau konsekuensi. Orang-orang yang sangat religius mungkin lebih cenderung mengutamakan kejujuran, keadilan, dan kebenaran, bahkan jika hal tersebut melibatkan risiko atau dampak negatif bagi mereka Semakin kuat komitmen religius seseorang, semakin besar kemungkinan mereka akan mengungkapkan kecurangan atau whistleblowing. Studi sebelumnya, seperti Pulungan . , menemukan bahwa religiusitas mempengaruhi keinginan untuk melaporkan kecurangan atau whistleblowing. Namun, penelitian Harahap . menemukan bahwa tingkat komitmen religius seseorang tidak mempengaruhi keinginan mereka untuk melaporkan kecurangan atau whistleblowing. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi sejauh mana hubungan atau dampak dari mood, pengaruh reward, dan komitmen religius seseorang terhadap niat untuk melakukan whistleblowing. Kebaruan dari penelitian ini dengan mengaitkan variabel mood terhadap niat untuk melakukan tindakan whistleblowing. Puruwita . telah melakukan penelitian terdahulu terkait dengan mood untuk mengukur sejauh mana pengaruh mood terhadap audit judgement. Harapannya, penelitian ini dapat memberikan wawasan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan seseorang untuk melakukan whistleblowing. Selain itu, diharapkan bahwa penelitian ini akan Vol. No. Juni 2024 meningkatkan pemahaman tentang bagaimana nilai-nilai agama memengaruhi moralitas dan integritas profesional. Penelitian ini akan memberikan kontribusi sebagai literatur tambahan dan sumber informasi yang berguna. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat menjadi dasar untuk penelitian selanjutnya mengenai whistleblowing. Hipotesis-hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini berdasarkan pemaparan tentang mood, pengaruh reward, dan komitmen religius dalam konteks niat melakukan H1: Mood meningkatkan niat untuk melakukan tindakan whistleblowing H2: Pemberian suatu reward meningkatkan niat untuk melakukan tindakan H3: Komitmen religius meningkatkan niat untuk melakukan whistleblowing Mood (MOD) Pemberian Reward (RWD) Whistleblowing (WBW) Komitmen Religius (KRG) Gambar 1. Kerangka Konseptual Sumber: olahan penulis, 2024 METODE Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan menggunakan jenis penyelidikan kausalitas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan mood, pemberian reward, dan komitmen religius terhadap whistleblowing. Kategori penelitian ini adalah penelitian deskriptif verifikatif, yang menunjukkan adanya upaya untuk mendeskripsikan fenomena yang diamati dengan tujuan memverifikasi hipotesis atau menjawab pertanyaan penelitian yang telah diajukan. Data primer digunakan melalui kuesioner dalam penelitian ini. Kuesioner disebarkan melalui internet menggunakan Google Forms. Scale of Positive and Negative Affect (PANAS) dari Velten Model digunakan sebagai referensi untuk pertanyaan kuesioner yang berkaitan dengan mood (Wardani 2. Pertanyaan kuesioner terkait pemberian reward mengacu pada penelitian (Aliyah 2. dan pertanyaan kuesioner komitmen religius mengacu pada penelitian (Putri 2. Sampel penelitian ini terdiri dari mahasiswa S1 Jurusan Akuntansi di sebuah perguruan tinggi swasta di Surabaya yang sedang mengambil mata kuliah pengauditan, dengan syarat minimal telah menyelesaikan empat hingga lima semester. Penelitian melibatkan 70 responden. Variabel yang digunakan terdiri dari faktor-faktor yang memengaruhi dan hasil yang dipengaruhi. Variabel independen meliputi mood, insentif, dan komitmen agama atau religiusitas, sementara variabel dependen adalah tindakan whistleblowing. Penelitian ini memanfaatkan skala Likert yang meliputi penilaian dari 1 hingga 5. Proses analisis dilakukan dengan metode uji regresi linier berganda, dengan menggunakan perangkat lunak Statistical Package for the Social Sciences versi 26. HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Validitas Validitas diuji menggunakan korelasi Product Moment Pearson. Metode evaluasi validitas instrumen adalah dengan membandingkan koefisien korelasi yang dihitung . dengan nilai korelasi tabel . Jika koefisien korelasi yang dihitung Sabatini: Pengaruh Mood. Pemberian. melebihi nilai korelasi tabel . , maka instrumen dianggap valid. Tabel 1 menunjukkan hasil pengujian validitas kuesioner untuk keempat variabel penelitian. Variabel MOD RWD KRG WBW Tabel 1. Hasil Uji Validitas Indikator MOD. MOD. MOD. MOD. MOD. MOD. MOD. MOD. MOD. MOD. MOD. MOD. MOD. MOD. MOD. MOD. MOD. MOD. MOD. MOD. RWD. RWD. RWD. RWD. RWD. RWD. KRG. KRG. KRG. KRG. KRG. WBW. WBW. WBW. WBW. WBW. WBW. r hitung Sumber: Olahan penulis, 2024 koefisien korelasi yang dihitung . lebih tinggi daripada nilai korelasi tabel, dengan nilai signifikansi pada tingkat 5% sebesar 0,235. Oleh karena itu, disimpulkan bahwa setiap pertanyaan terkait keempat variabel penelitian ini dianggap valid dan sesuai untuk digunakan sebagai instrumen pengukuran. Uji Reliabilitas Reliabilitas instrumen diuji dengan menghitung koefisien Cronbach Alpha untuk setiap variabel. Jika koefisien Cronbach Alpha instrumen melebihi 0,6, instrumen Vol. No. Juni 2024 tersebut dianggap memiliki tingkat keandalan yang memadai. Hasil uji reliabilitas kuesioner untuk keempat variabel penelitian ini ditunjukkan di bawah ini. Tabel 2. Hasil Uji Reliabilitas Variabel CronbachAos Alpha MOD RWD KRG WBW Sumber: Olahan penulis, 2024 Semua pertanyaan yang diajukan untuk setiap variabel penelitian ini memiliki nilai Cronbach Alpha melebihi 0,6, menyiratkan bahwa semua pertanyaan untuk setiap variabel dapat dianggap dapat diandalkan. Kesimpulan ini didasarkan pada tabel uji Analisis Statistik Deskriptif Statistik deskriptif berperan dalam memberikan gambaran atau penjelasan mengenai karakteristik sekumpulan data tanpa menyimpulkan secara umum (Ghozali Berikut adalah hasil analisis statistik deskriptif dari penelitian ini. Tabel 3. Statistik Deskriptif Variabel MOD RWD KRG WBW Mean Std Variance Sumber: Olahan penulis, 2024 Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk mengevaluasi apakah distribusi nilai residual mengikuti distribusi normal (Sunjoyo, 2. Dalam penelitian ini, metode KolmogorovSmirnov digunakan untuk melakukan uji normalitas. Data dianggap normal jika nilai Asymp. Sig lebih besar dari 0,05. Hasil uji normalitas dalam penelitian ini ditampilkan pada tabel berikut. Tabel 4. Hasil Uji Normalitas Asymp Sig Sig Sumber: Olahan penulis, 2024 Tabel 4 di atas menunjukkan signifikansi adalah 0. 083 atau p-value > 0. artinya data terdistribusi secara normal sehingga data penelitian ini dapat digunakan. Uji Multikolinieritas Tabel 5 menunjukkan hasil VIF dari variabel MOD. RWD dan KRG kurang dari 10 sehingga tidak terjadi adanya multikolinieritas. Berikut adalah hasil pengujian multikolinieritas pada penelitian ini. Sabatini: Pengaruh Mood. Pemberian. Tabel 5. Hasil Uji Multikolinieritas Variabel MOD RWD KRG Tolerance Variance Inflation Factor Sumber: Olahan penulis, 2024 Hasil pengujian multikolinieritas yang ditunjukkan pada tabel 5 mengindikasikan bahwa variabel mood, pemberian reward, komitmen religius, dan whistleblowing memiliki nilai toleransi yang lebih besar dari 0,1 serta nilai VIF yang lebih rendah dari Hal ini menandakan bahwa tidak terdapat multikolinieritas pada keempat variabel Uji Autokorelasi Tujuan dari uji autokorelasi adalah untuk mengevaluasi apakah terdapat korelasi antara error term pada periode t dengan error term pada periode t-1 atau periode sebelumnya dalam model regresi linier (Ghozali 2. Penelitian ini memanfaatkan Uji Durbin Watson untuk mendeteksi adanya autokorelasi. Durbin Upper Tabel 6. Hasil Uji Autokorelasi 4 Ae Durbin Upper Keterangan Tidak terjadi autokorelasi Sumber: Olahan penulis, 2024 Hasil analisis autokorelasi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat autokorelasi yang signifikan dalam setiap sampel variabel. Nilai Durbin Watson melebihi nilai Durbin Upper atau nilai batas bawah untuk total data 70 responden dengan tiga variabel independen. Selain itu, nilai Durbin Watson dalam penelitian ini lebih rendah dibandingkan dengan nilai 4-DU. Uji Hipotesis Uji koefisien determinasi digunakan untuk mengevaluasi sejauh mana suatu model mampu menjelaskan variasi dalam variabel dependen (Ghozali 2. Hasil dari analisis menunjukkan bahwa adjusted r square sebesar 56,3% dalam Tabel 7, yang berarti mood, pemberian reward, dan komitmen religius secara bersama-sama memberikan pengaruh sebesar 56,3% terhadap niat untuk melakukan tindakan Model Tabel 7. Hasil Uji Koefisien Determinasi R Square Adjusted R Square Error Sumber: Olahan penulis, 2024 Tabel 8 menunjukkan bahwa model layak untuk digunakan yang ditunjukkan signifikansi kurang dari 0. Tabel 8. Hasil Uji F Sig Sumber: Olahan penulis, 2024 Tabel 8 menampilkan hasil uji statistik F dengan nilai signifikansi F yang kurang dari 0,05, menandakan bahwa model regresi yang menguji pengaruh mood, pemberian reward, dan komitmen religius dapat diterima atau relevan untuk digunakan. Vol. No. Juni 2024 Tabel 9 menunjukkan pengujian hipotesis dari penelitian ini. Tabel 9. ANOVA Unstandardized Coefficients Std. Error (Constan. MOD RWD KRG Standardized Coefficients Beta Sumber: olahan penulis, 2024 Tabel 8 menunjukkan bahwa hasil uji statistik F menunjukkan tingkat signifikansi yang kurang dari 0,05. Ini mengindikasikan bahwa model regresi yang menguji dampak mood, pemberian hadiah, dan komitmen religius telah mendapat validasi untuk digunakan atau diterima. Jika kita mengasumsikan bahwa nilai variabel bebas lainnya tetap konstan atau nol, maka kenaikan atau penurunan nilai variabel terikat akan bergantung pada koefisien regresi variabel bebas. Dalam hal ini, jika mood, pemberian reward, dan komitmen religius semuanya bernilai nol, whistleblowing diperkirakan akan meningkat sebesar 2. 038 unit. WBW = 2. 111MOD 0. 188RWD 0. 490KG e Hasil perhitungan untuk hipotesis pertama, yang berkaitan dengan mood, mengungkapkan bahwa nilai signifikansi sebesar 0. 006 lebih kecil dari nilai = 0. Temuan ini mengindikasikan bahwa mood memiliki pengaruh terhadap niat untuk melakukan whistleblowing. Mood atau suasana hati seseorang bisa mempengaruhi persepsi, motivasi, dan keputusan mereka dalam situasi yang melibatkan whistleblowing. Orang yang berada dalam mood positif lebih terbuka untuk bertindak sesuai dengan keadilan dan integritas, termasuk melaporkan pelanggaran atau ketidakpatuhan pada lingkungan kerja mereka. Mood negatif seperti marah, frustrasi, atau kecewa juga dapat memicu seseorang untuk melakukan whistleblowing. Ketika seseorang merasa emosi tersebut, mereka mungkin merasa dorongan yang kuat untuk mengungkapkan kecurangan atau ketidakadilan yang mereka saksikan sebagai cara untuk menanggapi perasaan negatif tersebut (Satria et all 2. Hasil dari penelitian ini berbeda dengan temuan yang disajikan dalam penelitian Pratama . , dimana dalam penelitian tersebut, tidak ditemukan pengaruh mood terhadap keinginan untuk melakukan Hasil perhitungan untuk hipotesis kedua tentang pemberian reward menunjukkan bahwa nilai signifikansi sebesar 0. 002, yang lebih kecil dari nilai = 0. Dengan demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian reward memiliki pengaruh terhadap keinginan untuk melakukan whistleblowing. Temuan dalam penelitian ini sejalan dengan hasil yang ditemukan oleh Haliah . , dimana ditemukan bahwa pemberian penghargaan memengaruhi keinginan untuk melakukan Hal ini mengindikasikan bahwa memberikan reward mungkin merupakan strategi yang efektif untuk mendorong whistleblowing, karena individu cenderung lebih termotivasi untuk melakukannya jika mereka merasa dihargai. Dengan kata lain, semakin besar jumlah reward yang diberikan, semakin tinggi kemungkinan niat untuk melakukan whistleblowing (Dewi et all 2. Hasil analisis hipotesis ketiga, yang berkaitan dengan komitmen religius, menunjukkan bahwa nilai signifikansi adalah 0. 000, yang lebih kecil dari nilai = 0. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa komitmen religius memiliki pengaruh terhadap keinginan untuk melakukan whistleblowing. Individu yang memiliki tingkat Sabatini: Pengaruh Mood. Pemberian. komitmen religius yang tinggi cenderung memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk mempertahankan prinsip-prinsip kebenaran dan integritas, yang kemudian meningkatkan niat mereka untuk melakukan whistleblowing. Individu dengan komitmen religius yang kuat didorong oleh keyakinan agama mereka untuk berani dan bertindak dalam hal-hal yang dianggap benar, meskipun itu bisa berisiko. Komitmen religius dapat memberi kekuatan moral dan keberanian untuk melangkah maju dan melaporkan pelanggaran, meskipun ada risiko yang terlibat (Lakaba et all 2. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya, seperti penelitian Pulungan . , yang menemukan bahwa religiusitas memengaruhi keinginan untuk melakukan SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa mood memengaruhi niat melakukan whistleblowing. Ini menunjukkan bahwa orang dalam mood yang lebih baik cenderung bertindak dengan adil dan jujur, termasuk melaporkan pelanggaran atau kecurangan. Kemudian, orang yang berada dalam mood negatif seperti marah, frustrasi, atau kecewa juga dapat memicu juga seseorang untuk melakukan whistleblowing. Ketika seseorang merasa emosi tersebut, mereka mungkin merasa dorongan yang kuat untuk mengungkapkan kecurangan atau ketidakadilan yang mereka saksikan sebagai cara untuk menanggapi perasaan negatif tersebut. Keinginan untuk melakukan whistleblowing meningkat dengan adanya pemberian reward. Pemberian reward membuat seseorang menjadi termotivasi untuk melakukan whistleblowing karena mereka merasa lebih dihargai sehingga mereka cenderung untuk melaporkan pelanggaran. Komitmen religius meningkatkan keinginan untuk Komitmen kepada prinsip-prinsip keagamaan dapat memberikan dorongan bagi seseorang untuk mengambil risiko melaporkan pelanggaran, dengan keyakinan bahwa mereka bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Diharapkan bahwa, sebagai tambahan literatur dan sumber informasi, penelitian ini akan memberikan beberapa manfaat bagi para peneliti yang akan datang. Penelitian tentang whistleblowing akan menjadi landasan yang kuat untuk penelitian lanjutan tentang masalah ini. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat memeriksa faktor-faktor yang mempengaruhi niat untuk melakukan tindakan whistleblowing dengan responden UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian ini. KONTRIBUSI AUTHOR Kontribusi secara keseluruhan untuk penulisan dilakukan oleh penulis tunggal. PENDANAAN Penelitian ini tidak didanai pihak manapun. KONFLIK KEPENTINGAN Tidak ada perbedaan atau konflik kepentingan. DAFTAR PUSTAKA