Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik (JIFFK) Vol. No. Juni 2024. Hal. ISSN: 1693-7899 e-ISSN: 2716-3814 PENGARUH INFORMASI KEMANFAATAN PENGGUNAAN OBAT TRADISIONAL DAN SUPLEMEN TERHADAP KEMAUAN MEMBAYAR DALAM PENCEGAHAN PENYAKIT TIDAK MENULAR DI KOTA YOGYAKARTA Arisa Mardiani. Eliza Dwinta. Raden Jaka Sawadharmana. Imram Radne Rimba. Prodi Farmasi. Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan. Universitas Alma Ata. Yogyakarta. Indonesia. Prodi Administrasi Rumah Sakit. Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatn. Universitas Alma Ata. Yogyakarta. Indonesia. *Email: elizadwinta@almaata. Received: 03-05-2023 Accepted:07-12-2023 Published:30-06-2024 INTISARI Kejadian Non Communicable Diseases (NCD. saat ini tidak hanya menyerang kalangan lanjut usia . saja, namun juga pada usia yang lebih muda. Upaya pencegahan perlu dilakukan sedini mungkin, salah satunya dengan mengkonsumsi obat tradisional (OT) dan suplemen. Informasi kemanfaatan kedua produk dapat diperoleh melalui label kemasan, namun masih banyak masyarakat kurang memperhatikannya sehingga belum memahami pemanfaatan OT dan suplemen yang baik dan Willingness to pay (WTP) atau kemauan membayar, beriringan dengan informasi kemanfaatan yang diperoleh. Masyarakat yang memahami dan yakin mengenai manfaat suatu produk, maka WTP masyarakat akan meningkat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh informasi kemanfaatan penggunaan OT dan suplemen terhadap WTP dalam pencegahan NCDs di Kota Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan cross sectional dan dilakukan selama 1 bulan di 4 Kecamatan Kota Yogyakarta, yaitu Kecamatan Danurejan. Gondomanan. Mantrijeron dan Umbulharjo dengan responden sebanyak 107 orang. Teknik sampling menggunakan accidental sampling dan instrumen penelitian berupa kuesioner WTP. Hasil penelitian memperoleh nilai signifikansi sebesar 0,225 (OT) dan 0,094 . > 0,. , dengan demikian informasi manfaat penggunaan OT dan suplemen pada label kemasan tidak berpengaruh terhadap WTP dalam pencegahan NCDs di Kota Yogyakarta. Kata Kunci: Informasi kemanfaatan. NCDs. OT, suplemen. WTP. ABSTRACT The current incidence of Non Communicable Diseases (NCD. can not only attack the elderly but also younger age. The prevention needs to be as early as possible by consuming traditional medicines (TM) and supplements. The information of the benefits of both products obtained through packaging labels but many people still pay no more attention, so they do not understand the proper and correct use of TM and supplements. Willingness to pay (WTP) balances with the benefit information If the communities understand the benefit and price of the product, the community's WTP will increase. This study aimed to determine the effect of information on the benefits of using TM and supplements on WTP in preventing NCDs in Yogyakarta. This research as quantitative research with a cross-sectional study design conducted for one month in 4 sub-districts of Yogyakarta City, namely Danurejan. Gondomanan. Mantrijeron. Umbulharjo, and Wirobrajan sub-districts with 107 The sampling technique used by accidental sampling, and a WTP questionnaire for the research instrument. The results obtained the significance values for 0. 225 (TM) and 0. Journal homepage:http:/w. id/publikasiilmiah/index. php/ilmufarmasidanfarmasiklinik ISSN: 1693-7899 . >0. , so it concluded that information of the benefits from packaging labels of using TM and supplement did not affect WTP in preventing NCDs in the City of Yogyakarta. Keywords: Information on benefits. NCDs. TM, supplements. WTP. *corresponding author: Nama : Eliza Dwinta Institusi : Universitas Alma Ata Yogyakarta Alamat institusi : Jl. Brawijaya No. Jadan. Tamantirto. Kec. Kasihan. Kab. Bantul. DIY 55184 E-mail : elizadwinta@almaata. PENDAHULUAN Non Communicable Diseases (NCD. atau penyakit tidak menular (PTM) merupakan penyakit yang tidak dapat ditularkan dari manusia ke manusia melalui bentuk apa pun dan merupakan penyakit kronis . (Hamzah B et al. , 2. Lemahnya pengendalian faktor risiko dapat mempengaruhi peningkatan kasus tiap tahunnya (Kemenkes, 2. Kasus NCDs yang terjadi saat ini tidak hanya menyerang kalangan lanjut usia . , namun juga dapat menyerang usia muda yaitu usia produktif antara 15-59 tahun. Hal ini dapat disebabkan karena gaya hidup yang kurang sehat sehingga meningkatkan resiko NCDs (Nuraisyah et al. , 2. Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2020, 7 diantara 10 penyebab kematian tertinggi di dunia didominasi oleh NCDs, dengan penyakit kardiovaskular sebanyak 17,9 juta orang/tahunnya, diikuti oleh kanker sebanyak 9,3 juta, penyakit pernapasan 4,1 juta, dan diabetes 1,5 juta (WHO, 2. NCDs di Indonesia mengalami peningkatan terutama penyakit kanker . ,4% naik 1,8%), diabetes melitus (DM) . ,9% naik 8,5%) dan hipertensi . ,8% naik 34,1%) (Riskesdas, 2. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menempati urutan ke-4 sebagai Provinsi dengan kasus prevalensi hipertensi tertinggi . ,01%) yang melebihi angka nasional . ,8%) (DIY, 2. Profil Kesehatan Kota Yogyakarta tahun 2021 menurut Surveilans Terpadu Penyakit (STP) Puskesmas menyatakan, hipertensi dan DM masuk dalam 10 penyakit yang sering muncul di tahun 2021. Data tersebut sesuai dengan STP rumah sakit yaitu kasus kematian akibat hipertensi sebanyak 848 jiwa (DIY, 2. Pencegahan NCDs perlu segera dilakukan, salah satunya pengendalian faktor risiko dengan memperbaiki gaya hidup sehat serta didukung dengan konsumsi obat, baik modern, tradisional (OT) dan suplemen (Rahajeng, 2020. Kemenkes, 2. Menurut Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018, 48% masyarakat Indonesia cenderung memilih pengobatan OT (Riskesdas, 2. WHO juga merekomendasikan penggunaan OT untuk pencegahan penyakit terutama penyakit kronis, degeneratif, dan kanker. Penggunaan suplemen dengan kandungan antioksidan seperti vitamin C dapat mencegah penyakit degeneratif yang termasuk dalam NCDs (Purwaningtyastuti et al. , 2018. Elsayed Azab et al. , 2. Risiko efek samping jangka panjang lebih minim dan biaya lebih murah jika dibandingkan dengan obat modern (Siregar et al. , 2. OT terbagi dalam 3 bentuk sediaan yaitu jamu, obat herbal terstandar (OHT), dan fitofarmaka (BPOM, 2. Perolehan informasi penggunaan OT dan suplemen perlu memperhatikan kredibilitas sumber dan kebaruan (Oktarina and Abdullah, 2. , supaya mengurangi kesalahan pemahaman masyarakat dalam penggunaanya sebagai pencegahan NCDs. Informasi kemanfaatan tersebut dapat berasal dari keluarga, teman ataupun lingkungan sekitar dan bahkan dari label kemasan obat. Label kemasan obat memuat tulisan, gambar, atau kombinasi keduanya yang memberikan informasi menyeluruh dari isi kemasan produk tersebut (Widyaningrum, 2. Label kemasan obat juga memuat beberapa informasi penting lainnya yaitu indikasi, dosis, bentuk sediaan, metode pemberian, efek samping, penyimpanan (Kemenkes, 2. Jika masyarakat telah memperoleh informasi yang dibutuhkan, maka terdapat kecenderungan untuk membeli produk tersebut yang dikaitkan dengan kemauan Willingness to Pay (WTP) atau kemauan membayar sejumlah uang untuk berbagai hal misalnya perawatan medis. Beberapa faktor yang mempengaruhi WTP masyarakat dalam pelayanan kesehatan yaitu pendapatan, tingkat pengetahuan, dan kesadaran pelayanan kesehatan (Audureau et Pengaruh Informasi KemanfaatanA(Mardiani dkk. , 2. ISSN: 1693-7899 , 2. Tingkat pengetahuan individu, keluarga, dan masyarakat memiliki pengaruh signifikan terhadap permintaan atau kesediaan membayar pelayanan kesehatan khususnya mengenai biaya jasa layanan medis dan non-medis (Taswin et al. , 2. Penelitian sebelumnya melakukan studi pendahuluan yang telah dilakukan di Kota Yogyakarta tepatnya di Pasar Beringharjo. Sebagian masyarakat yang didominasi usia 20 tahun mengkonsumsi OT dan suplemen kesehatan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Responden pada usia 30 tahun menggunakan OT dan suplemen kesehatan sebagai pencegahan penyakit sedangkan responden usia 40-50 tahun menggunakan OT dan suplemen kesehatan untuk mencegah penyakit dan meningkatkan daya tahan tubuh. Peningkatan daya tahan tubuh masyarakat diharapkan dapat menghindari risiko NCDs sedangkan kemauan membayar (WTP) masyarakat yang bersedia membayar lebih jika sesuai dengan manfaat yang diperoleh. Berdasarkan uraian tersebut, peneliti tertarik untuk mengetahui pengaruh antara informasi kemanfaatan OT dan suplemen terhadap WTP dalam pencegahan NCDs di Kota Yogyakarta. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan analisis kuantitatif dengan rancangan cross sectional, berlokasi di Kota Yogyakarta dan dimulai dari Bulan November Ae Desember 2022. Populasi penelitian adalah masyarakat Kota Yogyakarta yang pernah atau sedang menggunakan OT dan/atau suplemen serta tidak memiliki riwayat NCDs baik terdahulu maupun saat ini. Sampel yang digunakan sebanyak 107 responden dengan teknik sampling accidental sampling. Terdapat 2 variabel yang dianalisis dalam penelitian ini yaitu variabel bebas . nformasi kemanfaatan penggunaan OT dan suplemen dari label kemasa. dan variabel terikat yaitu WTP. Instrumen penelitian pada variabel bebas diadopsi dan dimodifikasi dari artikel (Siahaan et al. , sedangkan pada variabel WTP menggunakan kuesioner yang telah dirancang oleh peneliti. Adapun kuesioner-kuesioner tersebut sudah dilakukan uji validitas dan reliabilitas oleh responden yang memiliki kemiripan kriteria dengan sampel penelitian . Jumlah seluruh poin pernyataan/pertanyaan adalah sebanyak 15 item, terdiri dari 10 pernyataan variabel informasi kemanfaatan dan 5 pertanyaan variabel WTP. Kuesioner WTP dinyatakan valid dan reliabel jika nilai r hitung > r tabel . dan nilai CronbachAos alpha . diperoleh 0,877 > 0,60. Analisis data dalam penelitian ini terdiri atas analisis univariat, bertujuan untuk melihat karakteristik responden dan analisis bivariat menggunakan uji statistik kendall tau yang digunakan untuk melihat pengaruh antara informasi kemanfaatan penggunaan OT dan suplemen terhadap WTP. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Karakteristik responden meliputi usia, jenis kelamin, status pernikahan, pendidikan, pekerjaan, pendapatan dan pengeluaran/bulan. Kriteria inklusi penelitian adalah masyarakat yang pernah atau sedang mengkonsumsi OT dan/ suplemen, berdomisili di Kota Yogyakarta dan berusia 18-55 tahun. Jumlah responden yang diperoleh yaitu 116 responden namun setelah menyesuaikan kriteria inklusi dan eksklusi diperoleh sebanyak 107 responden. Adapun dikeluarkannya 9 responden memiliki riwayat NCDs, baik terdahulu maupun sekarang yang menderita hipertensi atau asam urat dan berdomisili di luar Kota Yogyakarta yang ditunjukkan pada tabel I. Berdasarkan jenis kelamin, didapatkan responden laki-laki sebanyak 56 . ,3%) dan perempuan 51 . ,7%). Hasil tersebut sejalan dengan penelitian Dewi dan Ratna . yang menyatakan bahwa sebagian besar masyarakat yang mengkonsumsi OT didominasi oleh laki-laki. Hal ini dikarenakan laki-laki lebih banyak beraktifitas diluar rumah, sehingga mengkonsumsi OT dan suplemen untuk menambah stamina ataupun mengurangi rasa kelelahan yang dialami. Jumlah tertinggi pada usia responden adalah 18-25 tahun sebanyak 53 . ,5%) dan jumlah terendah pada usia 46-55 tahun sebanyak 10 . ,3%) orang. Berdasarkan klasifikasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, rentang usia 18-25 tahun termasuk dalam usia remaja akhir. Tahap remaja akhir telah memiliki karakteristik dan memandang dirinya sebagai orang dewasa serta menunjukkan pemikiran, sikap, perilaku yang matang dan dapat memilih cara hidup yang dipertanggungjawabkan terhadap diri sendiri, orangtua, maupun masyarakat (Fajarini and Khaerani. Hal tersebut membuat responden menentukan apa yang dapat dilakukan dirinya dalam mencegah NCDs salah satunya dengan mengkonsumsi OT dan suplemen. JIFFK Vol. No. Juni 2024. Hal. ISSN: 1693-7899 Tabel I. Karakteristik Responden Karakteristik Responden Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Usia 18-25 tahun 26-45 tahun 46-55 tahun Status Pernikahan Belum menikah Sudah menikah Pendidikan SMP/sederajat SMA/sederajat Diploma (D1/D2/D. Sarjana (S. Magister (S. Jenis Pekerjaan Mahasiswa Petani/Nelayan/Pedagang Pendapatan/bulan < Rp 500. 000,00 Rp 500. 000,00 - Rp 1. 000,00 Rp 1. 000,00 - Rp 2. 000,00 Rp 2. 000,00 - Rp 3. 000,00 Rp 3. 000,00 - Rp 4. 000,00 Rp 4. 000,00 - Rp 5. 000,00 > Rp 5. 000,00 Frekuensi . Persentase (%) Adapun pada status pernikahan, mayoritas adalah belum menikah sebanyak 59 . ,1%) dan sudah menikah berjumlah 48 . ,9%) responden. Hal ini karena dominan masyarakat berpikir bahwa menikah dapat meningkatkan stress. Sesuai dengan penelitian Prautami . , bahwa dalam sampel orang dewasa, tingkat stress disumbangkan sebanyak 23% karena kesenjangan gender dan 20% dari status pernikahan (Prautami and Ramatillah, 2. Pendidikan terakhir responden paling banyak adalah SMA/sederajat sebanyak 52 . ,6%) dan paling rendah di tingkat SD yaitu 3 . ,8%) responden. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pendidikan terakhir responden cukup baik dan berada di kelas menengah, sehingga ketika mencari informasi terkait kemanfaatan penggunaan OT dan Suplemen sebagai pencegahan NCDs maka diharapkan lebih memperhatikan sumber yang diperoleh dan apabila berasal dari label kemasan maka mudah memahami aturan yang tertera disana. Sesuai dengan penelitian Sandra, et al. yang menyatakan bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan yang diperoleh (Sandra et al. , 2. Berdasarkan pekerjaannya, mayoritas responden adalah mahasiswa sebanyak 31 . ,0%) dan minoritas adalah Petani/Nelayan/Pedagang dan pelajar sebanyak 3 . ,8%) dan 0 . ,0%) responden. Mayoritas dari mahasiswa sumber penghasilannya berasal dari uang saku yang diberikan tiap bulan oleh orangtuanya sehingga pengeluarannya pun harus menyesuaikan jumlah uang saku tersebut. Adapun harga dari OT dan Suplemen yang bisa lebih murah jika dibandingkan dengan obat modern, dapat menjadi pilihan alternatif mahasiswa apabila ingin melakukan pencegahan NCDs. Hal tersebut sesuai dengan penelitian Wola . yang memaparkan bahwa pekerjaan berkaitan dengan status ekonomi, yang mana masyarakat berpenghasilan rendah biasanya akan memilih OT dibandingkan dengan obat modern (Wola, 2. Pendapatan dan pengeluaran responden tiap bulan, jumlah terbanyak berada pada angka yang sama yaitu Rp 1. 000,00 - Rp 2. 000,00 sebanyak 30 . ,0%) dan 36 . ,6%). Jumlah terkecil berada di angka > Rp 5. 000,00 sebanyak 3 . ,8%) dan 2 . ,9%) pada pendapatan dan Pengaruh Informasi KemanfaatanA(Mardiani dkk. , 2. ISSN: 1693-7899 Jika dibandingkan dengan UMK Kota Yogyakarta tahun 2022 yaitu sebesar Rp 970,00 maka pendapatan responden masih di bawah UMK Kota Yogyakarta. Hal ini dikarenakan mayoritas responden adalah mahasiswa yang pendapatannya berasal dari orangtua. Menurut Ismail . masyarakat dengan pendapatan rendah lebih memilih menggunakan obat herbal atau pengobatan alternatif lainnya untuk mengobati penyakit berdasarkan pengetahuan turuntemurun (Ismail, 2. Adanya pendapatan yang tinggi dapat meningkatkan jumlah pengeluaran seseorang begitupun sebaliknya, sesuai dengan penelitian Siburian . yang menyatakan bahwa semakin tinggi pendapatan maka semakin tinggi juga konsumsinya sehari-hari dan mengakibatkan makin tingginya pengeluaran (Siburian, 2. Keterpaparan Informasi Kemanfaatan Penggunaan Obat Tradisional (OT) dan Suplemen dalam Pencegahan NCDs Hasil yang didapatkan terkait perilaku responden dalam memperhatikan bentuk sediaan sebelum membeli OT dan suplemen, yaitu responden lebih banyak memilih jawaban kadang . ,2%) dibandingkan dengan selalu . ,4%). Hal ini dikarenakan tingkat pengetahuan masyarakat mengenai bentuk sediaan OT dan suplemen yang masih rendah ataupun karena perolehan informasi selain dari label kemasan obat. Menurut penelitian Siahan, et al. , aspek perilaku responden dalam membaca label kemasan pada bentuk sediaan sebesar 6,7% untuk OT dan suplemen (Siahaan et al. Hal tersebut dapat terjadi karena masyarakat kurang memperhatikan golongan obat yang diminumnya dan mengira bahwa obat dengan bentuk tablet bukan termasuk obat tradisional (Oktaviani et al. , 2. Sedangkan pada penggunaan suplemen masih banyak masyarakat menggunakan obat tersebut sesuai rekomendasi dari keluarga, teman ataupun pencarian melalui jejaring internet sehingga masyarakat kurang memperhatikan bentuk sediaan suplemen yang dikonsumsi dalam label kemasan. Hal ini didukung dengan penelitian AAoyuna, et al. yang memperoleh hasil bahwa pada sumber informasi dari keluarga . %), teman . %) dan internet atau media sosial . %) lebih banyak dibanding dengan sumber informasi lainnya (AAoyuna. Annisao and Dianingati, 2. Kategori keterpaparan informasi kemanfaatan penggunaan OT dan suplemen responden terbagi menjadi 3 kategori yaitu kurang, cukup dan baik. Kategori informasi kemanfaatan yang cukup memiliki jumlah terbanyak yaitu 70 . ,4%) responden sesuai pada table II. Hal ini dapat dikaitkan dengan tingkat pendidikan terakhir yang cukup baik yaitu mayoritas berada di SMA/sederajat, dimana pada pendidikan tersebut pola pikir seseorang sudah semakin berkembang sehingga dapat menangkap dan memahami suatu informasi lebih baik dan mudah. Sejalan dengan penelitian Sandra, et al. yaitu tingkat pendidikan berperan dalam mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan yang diperoleh (Sandra. Sudirman and Hartono, 2. Selain itu, menurut penelitian Ridha . menyatakan bahwa Indonesia masih tercatat sebagai negara dengan minat baca yang rendah. Minat membaca diiringi dengan kemampuan literasi masyarakat, yang mana tidak hanya kemampuan membaca dan menulis melainkan juga kemampuan mengaplikasikan hasil membaca dan menulis dalam kehidupan sehari-hari (Ridha, 2. Berdasarkan hal tersebut, upaya yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan supaya keterpaparan informasi kemanfaatan responden menjadi lebih baik adalah dengan melakukan sosialisasi mengenai pentingnya penandaan label kemasan OT dan suplemen sehingga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih memperhatikan informasi yang terkandung pada label kemasan. Kemampuan dan kemauan seseorang dalam membaca akan mempengaruhi pengetahuan serta keterampilan seseorang, seperti dalam hal memahami suatu informasi yang diperoleh. Orang yang membaca akan memiliki kualitas melebihi orang yang tidak menaruh minat pada kegiatan membaca (Prasrihamni. Zulela and Edwita, 2. Keterpaparan informasi kemanfaatan dengan kategori cukup dapat dikaitkan dengan tingkat pendidikan terakhir yang mayoritas berada di tingkat SMA/sederajat. Pada pendidikan tersebut pola pikir seseorang sudah semakin berkembang sehingga dalam menangkap dan memahami suatu informasi dapat lebih baik dan mudah. Sesuai dengan penelitian Sandra, et al. yang mengemukakan bahwa tingkat pendidikan berperan dalam mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan yang diperoleh salah satunya dari label kemasan (Sandra. Sudirman and Hartono, 2. Selain itu menurut Nazmi, et al. adat atau tradisi dan bahasa yang digunakan dalam menyampaikan atau berkomunikasi juga berperan dalam perolehan informasi kemanfaatan yang diperoleh individu (Nazmi et al. , 2. Penggunaan obat dapat JIFFK Vol. No. Juni 2024. Hal. ISSN: 1693-7899 dikatakan tepat dan benar jika konsumen cermat dan kritis terhadap apa yang dikonsumsi, supaya obat dapat menghasilkan efek yang optimal serta meminimalkan potensi risiko. Tabel II. Kategori Keterpaparan Informasi Kemanfaatan (Azwar, 2. Kategori (Sko. Kurang (Skor < . Cukup (Skor 25-. Baik (Skor > . Frekuensi . Persentase (%) Willingness to Pay (WTP) Obat Tradisional (OT) dan Suplemen dalam Pencegahan NCDs Variabel WTP memiliki 5 pertanyaan ditunjukkan pada table i dan table IV mencakup kemauan membayar OT dan suplemen, harga yang realistik dari produk OT dan suplemen dalam pencegahan NCDs dan kemauan membayar kedua produk tersebut. Untuk kesediaan membayar produk OT dan suplemen, sebagian besar responden menjawab Ya yaitu 102 . ,3%) dan 104 . ,2%) responden. Sedangkan harga realistik dari produk OT dan suplemen berdasarkan jumlah terbanyak berada di harga yang sama yaitu antara Rp 10. 000,00 Ae Rp 50. 000,00 atau termasuk dalam kategori harga obat cukup terjangkau 62 . ,9%) dan 58 . ,3%) responden. Penelitian yang dilakukan oleh Harlianti, et al. menyatakan bahwa Willingness to pay (WTP) merupakan salah satu metode untuk mengetahui preferensi seseorang terhadap kualitas Besaran mata uang dalam WTP tidak hanya menggambarkan harga tetapi juga menunjukkan nilai suatu barang atau jasa yang dinyatakan berdasarkan preferensi seseorang (Harlianti. Andayani and Puspandari, 2. Ketika seseorang bersedia membayar dengan harga yang rendah, berarti preferensinya terhadap nilai suatu barang atau jasa tersebut juga rendah atau bahkan tidak membutuhkannya sehingga permintaan . akan menurun. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat mengkonsumsi OT dan suplemen menyesuaikan biaya yang dimiliki serta benar-benar menggunakan produk tersebut apabila membutuhkannya. Sejalan dengan penelitian Siburian . yaitu semakin tinggi pendapatan seseorang maka semakin tinggi juga pemenuhan konsumsinya sehari-hari dan meningkatkan pengeluaran (Siburian, 2. Tabel i. Distribusi Frekuensi Kemauan Membayar Responden Pada Penggunaan Obat Tradisional dan Suplemen. Pokok Pertanyaan Obat Tradisional Kesediaan Harga Suplemen Kesediaan Harga Kategori jawaban Frekuensi . Persentase (%) Tidak < Rp 10. 000 (Harga obat terjangka. Rp 10. 000 Ae Rp50. 000 (Harga obat cukup terjangka. Rp 51. 000 -Rp 100. 000 (Harga obat cukup maha. Rp 101. 000 Ae Rp 300. 000 (Harga obat maha. > Rp 300. 000 (Harga obat sangat maha. Tidak < Rp 10. 000 (Harga obat terjangka. Rp10. 000 Ae Rp50. 000 (Harga obat cukup terjangka. Rp 51. 000 -Rp 100. 000 (Harga obat cukup maha. Rp 101. 000 Ae Rp 300. 000 (Harga obat maha. > Rp 300. 000 (Harga obat sangat maha. Pertanyaan terakhir yaitu mengenai kemampuan responden untuk membayar kedua produk tersebut, sebanyak 107 . 0%) responden menjawab Ya yang berarti responden mampu membayar produk OT dan suplemen dengan mayoritas memilih harga Rp 10. 000,00 Ae Rp 50. 000,00 . apat Pengaruh Informasi KemanfaatanA(Mardiani dkk. , 2. ISSN: 1693-7899 dilihat pada tabel IV). Hal ini juga dapat dikaitkan dengan pendapatan dan pengeluaran individu serta kebutuhan produk tersebut. Tabel IV. Distribusi Frekuensi Kemampuan Responden Membayar Produk Obat Tradisional dan Suplemen Pertanyaan Kemampuan responden untuk membayar produk tersebut Kategori jawaban Tidak Frekuensi . Persentase (%) Pengaruh Informasi Kemanfaatan Penggunaan Obat Tradisional (OT) dan Suplemen Terhadap Willingness to Pay (WTP) dalam Pencegahan NCDs di Kota Yogyakarta Hasil uji statistik Kendall tau tentang pengaruh informasi kemanfaatan penggunaan OT terhadap kemauan membayar, diperoleh harga koefisien korelasi sebesar 0,108 dengan signifikansi 0,225 . > 0,. (Tabel V). Hasil tersebut menunjukkan tidak terdapat pengaruh signifikan antara informasi kemanfaatan penggunaan produk OT terhadap WTP atau kemauan membayar masyarakat dalam pencegahan NCDs di Kota Yogyakarta. Menurut Trianggoro dan Wahjuni . literasi kesehatan merupakan kemampuan seseorang dalam mengakses, memahami, dan menggunakan informasi kesehatan dalam menjaga kesehatan pada kehidupan sehari-hari (Trianggoro and Wahjuni. Adanya literasi kesehatan yang baik diharapkan meningkatkan kualitas hidup, kemampuan bertindak dan mengontrol kesehatan sebagai seorang individu, keluarga dan masyarakat. Penelitian Roeifah dan Pertiwi . menyatakan, bahwa tingkat literasi pada aspek pemahaman informasi kesehatan adalah buruk sebesar 53,7% dan 46,3% baik (Roiefah and Pertiwi. Sebagian besar masyarakat pasti pernah membaca mengenai informasi kemanfaatan penggunaan OT dalam pencegahan NCDs namun tingkat pemahaman yang dimiliki masih tergolong Masih menurut Roeifah dan Pertiwi . , menyebutkan bahwa pemahaman merupakan kemampuan menafsirkan, menganalisa, dan menyimpulkan isi dan tujuan dari informasi kesehatan salah satunya mengenai NCDs. Hal ini ditandai dengan kemampuan memahami pengertian, faktor resiko dan perilaku pencegahannya (Roiefah and Pertiwi, 2. Sejalan dengan penelitian Dewati dan Saputro . bahwa 20% responden tidak setuju jika informasi mempengaruhi keputusan pembelian produk herbal, dikarenakan responden sudah mengetahui informasi tersebut dari sumber lain sehingga tidak membaca brosur produk (Dewati and Saputro, 2. Tabel V. Hasil Uji Statistik Kendall Tau Hubungan Keterpaparan Informasi Kemanfaatan Terhadap Willingness to Pay Produk Obat Tradisional dan Suplemen Variabel Informasi kemanfaatan terhadap Willingness to Pay Penggunaan obat tradisional Penggunaan suplemen Signifikansi Koefisien 0,225 0,094 0,108 0,146 Hasil analisis bivariat yang telah dilakukan pada penggunaan produk suplemen (Tabel V), diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,146 dan nilai signifikansi sebesar 0,094 > 0,05 sehingga dinyatakan tidak berkorelasi atau tidak ada pengaruh antara informasi kemanfaatan penggunaan produk suplemen dengan WTP atau kemauan membayar masyarakat dalam upaya pencegahan NCDs di Kota Yogyakarta. Hal tersebut sesuai dengan penelitian dari Rizkia, et al. yang mengatakan bahwa sumber informasi tidak memiliki hubungan yang bermakna terhadap persepsi dalam penggunaan obat suplemen sehingga mempengaruhi kemauan membayar masyarakat, hal ini dapat terjadi karena adanya informasi yang diperoleh sulit dipahami ataupun tidak lengkap yang menyebabkan kesalahan penggunaan obat (Rizkia et al. , 2. Sejalan dengan penelitian Dini dan Lestari . yang juga memaparkan bahwa biasanya masyarakat tidak membaca informasi pada kemasan obat yang dijual bebas secara keseluruhan, karena masyarakat kurang memahami bahasa maupun maksud yang tertulis (Dini and Lestari, 2. JIFFK Vol. No. Juni 2024. Hal. ISSN: 1693-7899 KESIMPULAN Informasi kemanfaatan penggunaan OT dan suplemen dari label kemasan ternyata tidak berpengaruh terhadap WTP atau kemauan membayar dalam pencegahan NCDs di Kota Yogyakarta, dibuktikan dengan nilai signifikansi 0,225 > 0,05 untuk produk OT dan 0,094 > 0,05 untuk produk DAFTAR PUSTAKA