Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 EKSPLORASI PARASITOID TELUR (S. PADA BERBAGAI VARIETAS TANAMAN JAGUNG DI DESA SUMBER MELATI DISKI. KABUPATEN DELI SERDANG Muhammad Hafizh Harahap1. Ameilia Zuliyanti Siregar2* Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara Jalan Dr. Sofian 3 Padang Bulan. Medan 20155 E-Mail: ameilia@usu. id (*Coresponden autho. Submit: 14-07-2023 Revisi: 16-02-2024 Diterima: 04-03-2024 ABSTRAK Eksplorasi Parasitoid Telur (S. Pada Berbagai Varietas Tanaman Jagung Di Desa Sumber Melati Diski. Kabupaten Deli Serdang. frugiperda merupakan salah satu hama penting pada pertanaman Upaya pengendalian hama S. frugiperda dilakukan melalui mengahdirkan musuh alami menggunakan parasitoid telur. Penelitian yang dilakukan sejak April sampai Juni 2023 di lahan Desa Sumber Melati Diski. Kecamatan Sunggal. Kabupaten Deli Serdang, dilanjutkan identifikasi serangga di Laboratorium Mikrobiologi. Rumah Sakit Djoelham. Binjai dan di Laboratoium Penyakit Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. Medan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan 2 faktor. Faktor 1 yaitu pola tanam . onokultur dan tumpangsar. faktor 2 yaitu varietas (BISI 2. PARAGON. Pioneer P. dengan 4 ulangan. Hasil yang diperoleh di lapangan teridentifikasi 1 genus parasitoid telur S. frugiperda yaitu Telenomus. Parasitasi tertinggi . ,18%) pada perlakuan pola tanam tumpangsari jagung varietas Bisi-2 (P1V. dan parasitasi terendah . ,04%) pada perlakuan pola tanam monokultur jagung varietas Paragon (P0V. Kata kunci : Parasitoid telur. Spodoptera frugiperda. Telenomus. ABSTRACT Exploration of Egg Parasitoids (S. on Various Varieties of Corn Plants in Sumber Melati Diski Village. Deli Serdang Regency. frugiperda is one of the important pests in corn crops. frugiperda pest control efforts can be through natural enemies, one of which is parasitoid eggs. This research was conducted from April to June, 2023 on land owned by residents in Sumber Melati Diski Village. Sunggal District. Deli Serdang regency, then continued with insect identification at the Microbiology Laboratory. DjoelhamHospital. Binjai and in the Disease Laboratory of the Faculty of Agriculture. University of Sumatera Utara. This study uses a randomized Group Design (RAK) factorial with 2 factors. Factor 1 is cropping pattern . onoculture and intercroppin. , factor 2 is variety (BISI 2. PARAGON. Pioneer P. with 4 replications. The results recorder 1 genus of egg parasitoid S. frugiperda,as Telenomus. Highest parasitism . 18%) in the treatment of intercultural planting pattern of corn varieties Bisi-2 (P1V0 and the lowest parasitation . 04%) in the treatment of monoculture planting pattern of corn varieties Paragon (P0V. Keywords : Egg parasitoid. Spodoptera frugiperda. Telenomus. PENDAHULUAN Jagung (Zea mays L. ) merupakan tanaman pangan yang penting . Manfaat jagung tidak hanya sebagai bahan pangan, tetapi juga bahan pakan hewan dan bahan Diperkirakan lebih dari 55% kebutuhan jagung dalam negeri digunakan untuk pakan hewan, 30% untuk konsumsi pangan selebihnya untuk kebutuhan industry dan bibit, hal ini kebutuhan This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Eksplorasi Parasitoid Telur A Harahap dan Siregar jagung terus mengalami peningkatan (Kasryno et al. , 2. Pengendalian serangan hama atau penyakit biasa dilakukan dengan menggunakan pestisida kimia sintetik. karena pestisida ini punya cara kerja yang cepat untuk menekan populasi hama sehingga dapat menekan kerugian hasil akibat serangan hama, lebih efektif dalam mengendalikan hama dan mudah Penggunaan pestisida kimia secara berlebih dalam jangka waktu yang lama akan menimbulkan dampak kerugian terhadap lingkungan (Riana. Secara umum serangga dibagi menjadi dua berdasarkan lingkungan yaitu serangga terestrial dan serangga akuatik. Serangga terestrial adalah serangga yang hidup di darat seperti padang rumput, dan Serangga akuatik adalah serangga yang menghabiskan sebagian besar atau seluruh fase hidupnya di perairan seperti sungai dan sebagainya, serangga memiliki fungsi ekosistem sebagai predator, fitofag, pollinator, parasitoid serta mengatur populasi tanaman dengan sifat herbivora, serangga yang bersifat predator dapat menjadi pengatur populasi serangga hama (Agustinawati et al. , 2. Tumpang sari berguna untuk mengurangi risiko usahatani, dan menjamin kelangsungan pendapatan Dilakukan . hususnya lahan-lahan datar/landa. , dan menggunakan tanaman penaung produktif. Jenisnya disesuaikan dengan kebutuhan para petani, peluang pasar, nilai ekonomi (Tim Karya Mandiri. Parasitoid telur Telenomus remus memiliki kelimpahan yang tinggi serta mempunyai peluang yang besar untuk kemampuannya mengendalikan populasi hama dari fase telur hinga imago, bersifat polifag, dan mudah dikembangbiakkan pada inang pengganti (Gupta et al. , 2. METODA PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Sei Semayang. Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang, di Laboratorium Mikrobiologi Rumah Sakit Djoelham Binjai. Laboratorium Penyakit. Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, mulai bulan April 2023 sampai dengan Juni 2023. Bahan dan Alat Bahan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sekelompok telur S. frugiperda, benih jagung Bisi 2, benih jagung Paragon, benih jagung Pioneer, benih kedelai Anjasmoro, daun jagung, kain kasa, kertas label, karet, alkohol kadar 70%, kapas, dan etil asetat. Sedangkan alat yang digunakan cangkul, bak persemaian, polybag, paranet, label unit percobaan, tali raffia, hand sprayer kecil, ember, gayung, meteran, alat tulis dan kamera. Rancangan Penelitian Penelitian dilaksanakan dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan 2 faktor, yaitu: Faktor 1: Pola Tanam (P) P0 : Monokultur P1 : Tumpangsari Faktor 2 : Varietas jagung (V) V0 : BISI 2 V1 : Paragon V2 : Pioneer P35 dengan 6 kombinasi. Prosedur Pelaksanaan Penelitian Persiapan lahan Persiapan melakukan survei ke lahan yang ingin ditanami jagung secara monokultur dan tumpangsari di Desa Sumber Melati. Kec. Sunggal. Kabupaten Deli Serdang, work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. Sumatera Utara. Dengan luas lahan 5 x 18 meter untuk lahan monokultur dan luas 5 x 18 meter untuk lahan tumpangsari, terdiri dari 12 plot setiap masing masing lahan, masing masing berukuran panjang 3,5 meter dan lebar 1,2 meter. Penanaman Penanaman dengan 2 cara yaitu dengan Tumpangsari dan monokultur. Pada tanaman Tumpang sari menggunakan tanaman kacang kedelai varietas Anjasmoro. Pada tanaman jagung menggunakan 3 varietas yaitu varietas BISI 2. Paragon dan Pioneer P35. Benih jagung ditanam, setelah memasuki 1 Minggu Setelah Tanam (MST) benih kedelai ditanam di lahan tumpangsari. Jarak tanam yaitu 70x30 cm. Pengambilan Kelompok Telur S. Pengambilan telur S. dilakukan pada saat umur pada jagung 1549 . dengan interval diambil sampel telur 7 hari sekali sehingga akan dilakukan sebanyak 6 kali kali pengambilan sampel Kegiatan pengambilan sampel kelompok telur dilakukan pada saat pagi hari yaitu pukul 08:00-09:00 WIB, daun jagung yang ada kelompok telurnya, digunting dan dimasukkan ke dalam ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 tabung yang berukuran 270 ml, pengambilan kelompok telur dilakukan pada semua pertanaman jagung Pemeliharaan Kelompok telur S. Kelompok telur S. frugiperda yang sudah dimasukkan kedalam tabung ukuran 270 ml yang ditutup dengan kain kasa sampai telur S. frugiperda menetas jika ada parasitoid yang muncul akan Pengamatan Kelompok telur S. Parasitoid yang telah muncul di kelompok telur S. frugiperda dipindahkan ke botol awetan dan diidentifikasi di bawah mikroskop. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Identifikasi Parasitoid Penelitian parasitoid telur S. frugiperda yang dilakukan di dua lahan . umpangsari dan monokultu. sebanyak 6 kali teridentifikasi Ordo Hymenoptera, famili Schelionidae dengan genus Telenomus dideskripsikan pada Tabel 1 berikut ini. Tabel 1. Parasitoid telur S. frugiperda teridentifikasi di lahan jagung. Famili/ Genus Schelionidae / Telenomus Antena 10-12 ruas bentuk siku Menurut Cave . Telenomus (Hymenoptera: Scelionida. merupakan genus parasitoid telur Amerika Latin Morfologi serangga Sayap Sayap belakang lebih kecil . ,28m. dari sayap depan . ,40 m. Abdomen. Thorax Abdomen dan Thorax berwarna hitam memiliki kemampuan reproduksi yang tinggi dan mudah dikembangbiakkan. Ciri-ciri Parasitoid genus Telenomus diuraikan pada Gambar 1, 2, 3, 4 sebagai berikut: Gambar 1 (A) mendeskripsikan caput betina memiliki antena 10-12 ruas This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Eksplorasi Parasitoid Telur A Harahap dan Siregar yang panjang, betina memiliki antena berbentuk mengada ke ujung (Clavat. sedangkan Gambar 1 (B) mendeskripsikan caput jantan memiliki antena 10-12 ruas, jantan memiliki antena berbentuk bulat bulat kecil . Selanjutnya. Gambar 2(A) mendeskripsikan thorax, yang berwarna hitam sampai ke abdomen 2(B). Gambar 3(A) mendeskripsikan sayap depan memiliki panjang 0,28mm, gambar 3(B) sayap belakang lebih panjang daripada sayap depan dengan ukuran 0,40-0,50 Gambar 4(A) mendeskripsikan imago Telenomus betina, yang dibawah abdomen ada terdapat ovipositor yang dimana berguna untuk peletakan telur. Gambar 4(B) mendeskripsikan imago Telenomus jantan yang dimana alat kelamin berada di bawah abdomen. Gambar 1. Caput betina. Caput Jantan Gambar 2. Thorax. Abdomen Gambar 3. Sayap depan. Sayap Belakang work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 Gambar 4. Imago Betina. Imago jantan Parasitoid telur S. frugiperda yang didapat di lahan penelitian merupakan dari genus Telenomus. Inang Telenomus yang memarasit telur S. frugiperda di lahan jagung termasuk kelompok Ordo Lepidoptera. Ordo Hemiptera. Ordo Diptera dan Ordo Neuroptera (Jauharlina. Persentase Parasitasi Parasitoid Telur Banyaknya kelompok telur di lapangan dan banyaknya kelompok telur terparasit di lahan monokultur dan tumpangsari dengan rataan persentase parasitasi dideskripsikan pada Tabel 2. Tabel 2. Banyaknya kelompok telur di lapangan dan banyaknya kelompok telur terparasit di lahan monokultur dan tumpangsari. Perlakuan P0V0 P0V1 P0V2 Jumlah P1V0 P1V1 P1V2 Jumlah Banyaknya telur yang terdapat di Banyaknya telur yang terparasit di Keterangan: PO = monokultur P1= Tumpangsari VO= Bisi-2 V1= Paragon formulasi (Baehaki, 1. Dari Tabel 2 dihitung jumlah kelompok telur terbanyak terdapat di lahan tumpang sari . agung dengan kedela. dengan total kelompok telur sebesar 18 kelompok telur dan yang paling banyak terparasit di lahan tumpangsari jagung dengan kedelai yaitu 11 kelompok telur yang terparasit. Manakala tanaman monokultur dengan jagung teridentifikasi terdapat 7 kelompok telur yang terparasit Pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa parasitasi rendah dikarenakan tanaman Rataan parasitasi (%) 13,55 4,04 14,44 32,03 26,18 15,18 21,47 62,83 V21= Pioneer P35 Sumber monokultur memiliki keragaman yang rendah, hal ini sesuai dengan Kusnadi . menyatakan bahwa jika keragaman yang rendah di suatu ekosistem maka bisa ditandai dengan 0,00 < E < 0,50 yang bisa diartikan keragaman yang rendah. Varietas jagung Bisi-2 ditanam pada lahan tumpang sari dengan persentase parasitasi kelompok telur tertinggi . ,18%. PIV. Hal ini menunjukkan bahwa varietas jagung Bisi-2 berdampak This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Eksplorasi Parasitoid Telur A Harahap dan Siregar positif terhadap musuh alami. Menurut Heonget pemanfaatan tanaman jagung sebagai habitat musuh alami yang mendukung pengelolaan hama terpadu tepat guna. Terbukti dari pengamatan di lapangan bahwasanya parasitoid suka hinggap di tanaman tumpangsari jagung dan kedelai varietas Bisi-2. Tinggi rendahnya parasitoid di lapangan dipengaruhi oleh telur S. frugiperda di lahan penelitian monokultur ataupun tumpangsari Parasitoid memiliki perilaku dalam mencari inang hal ini sesuai dengan yang dinyatakan Cave . , imago betina parasitoid mampu menemukan habitat inang melalui senyawa kimia yang terdapat dalam telur frugiperda yaitu (Z)-9- tetradeceno-1-ol asetat dan (Z)-9-dodeceno-1-ol asetat. Parasitoid memiliki indera penciuman untuk mendeteksi keberadaan inang. Dari Tabel 3 menunjukkan persentasi parasitoid telur S. analisis sidik ragam menunjukkan perlakuan pola tanam berpengaruh nyata terhadap persentase parasitoid telur S. frugiperda pada pengamatan 3 atau 28 umur jagung. Tabel 3. Rataan persentase parasitasi parasitoid telur S. frugiperda terhadap perlakuan jagung pola tanam monokultur dan tumpangsari dengan tiga varietas jagung. Pengamatan Monokultur Tumpangsari (P. Bisi-2 (V. Paragon (V. Pioneer P35 (V. (P. 0,28 0,00 0,00 0,44 0,30 0,99 1,11 0,43 0,39 0,19a 1,15b 0,79 1,12 0,08 0,00 0,24 0,00 0,00 0,37 0,17 0,13 0,26 0,00 0,15 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 Keterangan: Angka-angka yang diikuti notasi yang berbeda pada kolom dan waktu pengamatan yang sama . menunjukkan perbedaan yang nyata pada uji Duncan taraf 5%. Pola tanam berpengaruh nyata terhadap persentase parasitoid didukung pendapat Karyawatii . menyatakan bahwa dengan adanya pola tanam tumpang sari mampu mengundang parasitoid dikarenakan adanya tempat berlindung ataupun makanan di pola tanam tumpangsari. Tabel 3 menunjukkan bahwa pola tanam tumpangsari jagung dan kedelai berbeda nyata dengan perlakuan monokultur jagung. Bunga tanaman kacang kedelai berwarna ungu dan Sebagian tumpangsari memberikan peran penting untuk menarik serangga parasitoid seperti Telenomus sebagai sumber makanan untuk datang dan memparasitasi telur S. Pada pengamatan ke 6 pada kedua perlakuan menunjukkan rataan persentase 0,00 karena kelompok telur S. tidak ditemukan di lahan penelitian dikarenakan umur tanaman jagung sudah memasuki umur 49 hst atau memasuki fase generatif. Faktor Fisik Faktor fisik diukur dilahan penelitian, terdiri dari suhu, kelembapan, dan berpengaruh terhadap populasi parasitoid telur S. Kisaran suhu selama penelitian 28EE-32,6EE sedangkan kelembapan 66%-99%. Hal ini sesuai dengan Assefa dan Ayalew . menyatakan suhu sekitar 30AC dengan lingkungan yang lembab seperti hujan lebat bisa memicu perkembangan S. work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. frugiperda, penyebabnya adalah hama ini tidak dapat berkembangbiak dibawah suhu 10Ac. Sedangkan parasitoid Telenomus mampu memparasitasi telur S. dengan baik di lahan penelitian di suhu 28EE-32,6EE, hal ini sesuai dengan Damayanti . yang menyatakan bahwa peletakan telur dan kemunculan imago parasitoid Telenomus meningkat pada suhu 15EE-30EE, tapi parasitasi menurun jika suhu tinggi sekitar 35AC. Telenomus, pada kelembapan >50% Telenomus memarasit telur inang dengan baik. Hasil penelitian yang dilakukan Chen . pada pada uji perkembangan dan parasitisme Telenomus pada telur S. frugiperda dan S. litura menunjukkan kelembapan lebih besar dari 50% sehingga Telenomus berkembang pada kedua telur inang pada semua suhu yang diukur. KESIMPULAN Ditidentifikasi parasitoid telur S. frugiperda di lahan tumpangsari dan monokultur yaitu Telenomus. Rataan tertinggi . ,18%) pada perlakuan tumpangsari jagung varietas Bisi-2 (PIV. sedangkan yang terendah yaitu . ,18%) pada perlakuan pola tanam tumpangsari jagung varietas Paragon (P1V. Rataan tertinggi . ,44%) pada perlakuan monokultur jagung varietas Pioneer (P0V. , sedangkan yang terendah yaitu . ,04%) pada perlakuan pola tanam monokultur jagung varietas Paragon (P0V. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 DAFTAR PUSTAKA