KESEHATAN PEKERJA INFORMAL DITINJAU DARI PENDIDIKAN. UPAH DAN KETERSEDIAAN LAPANGAN PEKERJAAN Heru kurniawan1. Imam Abdullah2. Dewi Pranitamotik3 Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Bahjah Cirebon Jln. Pangeran Cakrabuana Blok. Jln. Gudang Air No. Kabupaten Cirebon. Jawa Barat Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon Jln. Widarasari i. Sutawinangun. Kabupaten Cirebon. Jawa Barat 45153 . 246215 E-mail : herukurniawan@staialbahjah. id (Korespondin. Abstract: Informal workers are of particular concern because they face the greatest health risks, so research needs to be conducted to see whether education, wages and employment opportunities can address the health dynamics of informal workers. This study uses multiple regression with panel data to determine the distribution of the impact of independent The results of this study indicate that when education and wages increase, the health quality of informal workers also improves, and vice versa. However, employment opportunities do not have a significant impact because health is a prerequisite for obtaining job opportunities. Provinces with an average decline in health are those with low education levels and high mobility. The government needs to improve education and raise wage standards in provinces with high health risks, as well as implement policies related to the provision of healthcare facilities at the workplace Keywords: Informal Worker. Wage. Education. Healt Tingkat kesehatan di Indonesia menduduki posisi ke 4 di Asia Tenggara dengan nilai 6 dari sekala 1 hingga 100. Namun secara global indonesia berada di urutan 13 dengan nilai 50 point yang masih berada diatas ratarata nilai Global Healt Security Index (GHSI) yakni 38,9 Point. ttps://ghsindex. org/). Indeks kesehatan yang berada diatas rata-rata global merupakan sebuah motivasi dan evaluasi untuk terus meningkatkan kualitas kesehatan khususnya individu yang masuk dalam angkatan kerja nasional. Salah satu standar yang digunakan dalam mengukur GHSI adalah standar lingkungan. Pentingnya kesehatan pekerja inforrmal telah disampaikan oleh Neagu . & Hamidov & Khasanov . dimana mereka menjelaskan bahwa Manusia merupakan modal yang memilki peran penting terhadap ekonomi dilakukan oleh masyarakat yang memiliki kesehatan yang baik dalam melakukan pekerjaanya disektor formal dan informal dimana keduanya memiliki kontribusi yang besar terhadap produksi barang dan jasa. Kesehatan pekerja pertumbuhan ekonmi sebuah negara, baik itu negara maju maupun berkembang. Kondisi memprihatinkan terutama penyaakit kronis perkembangan hasil tenaga kerja (Gaulke. Data pada gambar 1 terlihat penyakit kangker menjadi penyakit yang paling tinggi terjadi di dunia disusul dengan liver dan penyakit pernapasan menjadi yang terendah dalam hal penyakit kronis. Gambar 1. Data Penyakit Kronis Sumber : Gaulke. Kesehatan Pekerja Informal Ditinjau Dari Pendidikan. Upah dan Ketersediaan Lapangan Pekerjaan (Heru kurniawan. Imam Abdullah. Dewi Pranitamoti. Tingginya penyakit kronis dapat mengancam kesimbangan tenaga kerja khususnya di sektor informal, dengan jumlah pekerja yang mencapai 2 milyar di seluruh dunia (Bonet, 2. Sedangkan di Indonesia mengalami penurunan sebesar 0,87% dari 56,98% pada tahun 2018 menjadi 59,11% pada tahun 2023 namun pekerja informal masih menjadi mayoritas tenaga kerja di hal ini terlihat pada Gambar 2 yang menunjukan bagaimana pergerakan pekerja informal selama 5 tahun terakhir. Gambar 2. Perkembangan pekerja informal Jumlah isi oleh pekerja dengan usia 16 sd 30 Tingginya angka pekerja informal yang didominasi oleh lansia dan pekerja di bawah 30 tahun merupakan effek perkembangan teknologi dan tingkat Usia lansia cenderung mengalami kendala dalam hal teknologi sedangkan pekerja dengan usia di bawah 30 tahun cenderung memiliki pendidikan tertinggi SMA (Heru, 2. Chung & Lee . memberikan bukti bahwa perubahana teknologi memberikan resiko pemutusan hubungan kerja yang pasti terhadap pekerja laki-laki yang beranjank lansia, namunn masih bersifat relatif bagi pekerja muda. Hal ini terlihat oleh Gambar 3. Gambar 3. Lapangan kerja informal menurut usia Sumber: BPS data diolah Tingginya angka pekerja informal pendidikan hanya memberikan manfaat pada awal pendaftaran bekerja namun tidak menjadi jaminan untuk masuk pada sektor Standar pendidikan yang tinggi menimbulkan kesenjangan yang tinggi antara tingkat pendidikan SMP dengan SMA dan Perguruan tinggi. Dari ketiga jenjang tersebut tamatan SMA mempunya resiko yang lebih besar untuk masuk pada tenaga kerja informal (Kurniawan & Yunisvita, 2. Meningkatnya tenaga ketiadaan kepemilikina jaminan kesehatan para pekerja yang akan menurunkan tingkat pentingnya kesehatan (Satriawan, 2. Jumlah Indonesia di dominasi oleh uisa 50 tahun keatas menurut data BPS tahun 2023 yang menunjukan 62,7% sedangkan sisanya di Jurnal Daya Saing (Vol. XI. No. i Oktober 2. Sumber: BPS data diolah Tingginya partisipasi lansia dalam sektor informal dikarenakan beberapa faktor, seperti faktor pendidikan yang rendah, minimnya asset yang di simpan, dominan tinggal di pedesaan, tidak menjadi kepala rumah tangga dan (Rahayuwati, 2. Upah pekerja informal yang berada di bawah pekerja sektor formal mengakibatkan kesenjangan pendapatan diberbagai angkatan kerja (Satarudin. Bargain et al. , 2014. Hakansa. Hakayawa, 2025 & Liu et al. Kesenjangan pendapatan ini berdampak pada menurunya anggaraan kesehatan pekerja dan melahirkan ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Kesehatan Pekerja Informal Ditinjau Dari Pendidikan. Upah dan Ketersediaan Lapangan Pekerjaan (Heru kurniawan. Imam Abdullah. Dewi Pranitamoti. Gambar 3. Upah pekerja informal berdasarkan tingkat pendidikan Sumber: BPS data diolah Gambar 3 menunjukan bahwa tahun 2024 menunjukan pendapatan pekerja informal berada di angka 1, 2 Juta yang merupakan angka rata-rata trendah dan 2,2 juta merupakan angka rata-rata tertinggi selama 5 tahun terakhir (BPS, 2. Tamatan perguruan tinggi yang memperoleh upah di bawah tamatan SMA menunjukan bahwa sektor informal tidak menjadikan pendidikan sebagai indikator upah. Masalah kesehatan kini menjadi tantangan bagi pekerja informal. Jika penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Liu et al. Ronconi et al. Lund et al. lebih berfokus pada faktor Linkungan Infrastruktur mengakibatkan guncangan sosial ekonomi yang kuat pada pekerja dan keluarganya, sedangkan Johannes Hasibuan . & Gaulke . lebih berfokus kepada aspek penyakit individu dimana Pencernaan dan struk adalah penyakit yang paling berdampak pada produktivitas pekerja dengan jangka waktu paling lama. kedua penelitian ini belum menyentuh aspek pendidikan yang akan mempengaruhi upah, serta jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia sebagai akibat dari terserapnya angkatan kerja baru. Perbedaan dari sumber masalah ini menjadi tantangan bagi penulis untuk melihat dari kedua aspek tesebut, penulis melihat kesempatan untuk meneliti bagaimana aspek internal dan eksternal dalam hal ini adalah pendidikan pekerja yang akan mempengaruhi pendapatan pekerja informal dan lapangan pekerjaan yang tersedia terhadap kesehatan pekerja informal, mengingat setiap provinsi Jurnal Daya Saing (Vol. XI. No. i Oktober 2. di indonesia memiliki upah yang beragam dan rata-rata sekolah yang berbeda maka penelitian ini perlu dilakukan untuk mengukur sejauhmana aspek pendidikan, upah dan lapangan pekerjaan akan berkontribusi terhadap kesehatan pekerja di 34 provinsi di Indonesia Dalam penelitian ini peneliti menggunakan Kesehatan pekerja yang diukur melalui angka harapan hidup. Menurt Arofah & Rohima . Semakin besar angka harapan hidup di setiap wilayah berpengaruh besar terhadap pembangunan modal manusia, dan semakin tinggi modal manusianya maka semakin meningkat perekonomi di wilayah tersebut. METODE Untuk menjawab masalah diatas penulis mencoba menggunakan metode penelitian kuantitatif, karena Penelitian kuantitatif perlu dilakukan untuk menguji dan mengonfirmasi hipotesis yang di ajukan (Sardana et al. , 2. Objek pada penelitian ini adalah data sekunder yang di peroleh dari badan Pusat Statistik Indonesia tahun 2015 hingga 2024. Teknik analisis data penel dilakukan diantaranya, menentukan model yang akan dipilih dengan melakukan uji Cow. Hausman dan LM Test untuk mengetahui model Common Effect Model (CEM). Random Effect Model (REM) atau Fixed Effect Model (FEM) yang akan di gunakan. Setelah di ketuin model mana yang sesuai selanjutnya di lakukan uji asumsi klasik. Dalam beberapa literatur terdapat beberapa versi, diantaranya Gujarati . yang mengatakan bahwa pada data penel uji asumsi klasik tidak selalu wajid digunakan, hal ini karena data panel dengan sendirinya dapat meminimalisir bias yang muncul dari hasil analisis. Sedangkan menurut Rosadi . data panel tetap memerlukan uji asumsi klasik hak ini karena dalam data penel terdatap data time series yang memungkinkan terjadinya bias. ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Kesehatan Pekerja Informal Ditinjau Dari Pendidikan. Upah dan Ketersediaan Lapangan Pekerjaan (Heru kurniawan. Imam Abdullah. Dewi Pranitamoti. HASIL Dalam menentukan persamaan atau model yang terbaik maka dilakukan uji pemilihan model diantaranya adalah uji cow, uji hausman dan Uji LM Test. Tabel 1. Uji Cow dan Hausman Uji Pemilihan Model Redundant Fixed Effects Tests Correlated Random Effects Hausman Test Chi-Sq. Statistic Probabilitas Sumber : Hasil Output Eviews 12, 2025 Hasil Uji Cow dan Hausman pada tabel 1 menunjukan bahwa kedua uji pemilihan Fixed Effect Model dan Random Effect Model tersebut memilih Fixed Effect Model (FEM) sebagai model yang akan digunakan pada penelitian ini, hal ini terlihat dari nilai masing-masing probabilitas pengujian sebesar 0. 0000 < 0. Hasil uji kedua model memilih FEM maka uji LM Test pada Common Effect Model tidak perlu Setelah diketahui hasil terbaik adalah Fixed Effect Model selanjutknya dilakukan uji asumsi klasik. Tabel 2. Uji Asumsi Klasik Normalitas (Jarque-Ber. Multikolinierita (Pair Wise Correlatio. Heteroskedastis (Glejse. JarqueBera Log(WAG Probabilit Log(EDC) R-Squered F-Statistic Log(EMIN Prob. Independe > 0,05 Sumber : Hasil Output Eviews 12 2025 Tabel 2 diatas mejelaskan hasil uji asumsi klasik data panel. Basuki & Yuliadi . menjelaskan uji asumsi klasik pada data panel khususnya yeng menggunakan metode OLS hanya menggunakan dua uji Multikolinearitas Dalam melakukan Uji pendekatan Pair Wise Correlation, hasilnya menunjukan data terbebas dari penyakit multikolinearitas karena nilai masing-masing variabel bebas dibawah 80. Pengujian asumsi heteroskedastistas, dimana dalam uji ini Jurnal Daya Saing (Vol. XI. No. i Oktober 2. menggunakan pendekatan Glejser dengan melakukan regresi pada nilai absolut Hasil uji ini menunjukan independen tidak signifikan yang artinya terbebas dari heteroskedastisitas, hal ini di tandai dengan nilai R-Square dan FStatistik yang rendah yakni sebesar 438943 dan 2. Uji normalitas Jaque-Bera menunjukan bahwa data terdistribusi normal hal ini dapat di lihat dari nilai Jarque-Bera sebesar 0. 828029 dengan prob. 0,660991. Fixed effect Model lolos dari semua uji asumsi klasik, selanjutnya dilakukan uji parsial dimana dalam uji ini akan dijelaskan bagaimana peran masing-masing variabel EDC. EMINF dan WAGE terhadap kesehatan pekerja informal muslim. Tabel 3. Hasil Estimasi Variable Log(WAGE) Log(EDC) Log(EMINF) Adjusted R-squared Coefficient Prob. Sumber: Hasil Output Eviews 12, 2025 Hasil regresi data diatas dituangkan dalam bentuk persamaan Log(Heal. = 3. 109*Log(Wag. 229*Log(Ed. 007*Log(Emin. Tabel 3 menunjukan bahwa terdapat dua variabel independen memiliki peran yang signifikan terhadap Kesehatan pekerja Pada persamaan 2 terlihat seluruh variabel memberikan dampak positif terhadap kesehatan para pekerja informal, diantaranya adalah variabel pendidikan (EDC) yang memberikan dampak terhadap peningkatan Kesehatan tenaga kerja sebesar 22% sedangkan lapangan pekerjaan (EMINF) memberikan dampak positif terhadap kesehatan sebesar 0. 007% serta Variabel kesehatan (WAGE) memberikan dampak positif terhadap Kesehatan sebesar 10 %. Kesehatan akan meningkat 3. ketika peran dari seluruh variabel ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Kesehatan Pekerja Informal Ditinjau Dari Pendidikan. Upah dan Ketersediaan Lapangan Pekerjaan (Heru kurniawan. Imam Abdullah. Dewi Pranitamoti. independent bernilai nol. Secara keseluruha variabel EDC. EMINF dan WAGE berperan secara signifikan terhadap tingkat kesehatan pekerja informal, hal ini terlihat dari nilai FStatistik 1476. 960 dengan nilai Prob. Uji koefisien diterminasi dalam penelitian ini menjelaskan bahwa ketiga variabe independen diatas dapat menjelaskan peranya dalam mempengaruhi upah sebesar 99,7%, sedangakan 0,3% nya dijelaskan oleh variabel lain diluar penelitian ini. PEMBAHASAN Upah memberikan dampak yang signifikan terhadap kesehatan pekerja, peran upah terhadap kesehatan pekerja melalui gaya hidup, tekanan psikologis ekonomi dan pola konsumsi. Pekerja dengan upah tinggi cenderung akan masuk pada 2 jalur yakni jalur pertama meningkatnya konsumsi makanan yang tidak teratur menyebabkan obesitas dan penyakit lainya dan jalur kedua yakni kesehatana mental akibat dari terpenuhinya kebutuhan hidup dan rendahnya Lenhart menunjukan bahwa upah minimum sangat mempengaruhi keshatan mental dan fisik pekerja, pekerja dengan upah yang lebih tinggi cenderung mempunyai akses yang lebih besar terhadap asuransi dan fasilitas kesehatan lainya. Walaupun menurut Buszkiewicz . upah minimum tidak memiliki korelasi dengan kesehatan pekerja dewasa secara keseluruhan namun memilki hubungan kuat dengan kesehatan fisik dan mental pada pekerja dengan kulit putih, seperti wanita berpotensi mengalami obesitas namun kesehatan mental lebih baik daripada laki-laki. Dampak kesehatan pekerja informal memberikan effek yang positif dimana semakin tinggi pendidikan pekerja walaupun di sektor informal maka semakin tinggi tingkat kesadaranya terhadap pentingnya kesehatan. Viju Raghupathi1 Wullianallur Raghupathi2 . memberikan bukti di india bahwa pekerja dengan pendidikan tinggi dapat menekan angka kematian bayi Jurnal Daya Saing (Vol. XI. No. i Oktober 2. dan memperpanjang angka harapan hidup pekerja, sehungga pekerja yang memiliki pendidikan tinggi cenderung memilki tingkat keshatan yang lebih baik di bandingkan rekan kerja dengan pendidikan Selain itu Shahid et al. mengkorelasikan pendidikan dengan tingkat literasi kesehatan, dimana pekerja dengan literasi kesehatan yang tinggi akan sering mengunjungi pusat kesehatan untuk dibandingkan dengan pekerja dengan pendidikan dan literasi rendah. Lapangan pekerjaan tidak memiliki pengaruh terhadap kesehatan pekerja walaupun tingkat eror dinaikan menjadi 10%, hal ini terjadi karena fenomena menunjukan bahwa untuk meningkatkan perekonomian melalui penyerapan tenaga kerja membutuhkan sumberdaya manusia yang unggul termasuk dalam hal keshatan. Hult. Pietila Saramen mengungkapkan bahwa lapangan pekerjaan tidak memberikan pengaruh terhadap kesehatan namun sebaliknya, lapangan kerja membutuhkan pekerja yang sehat dan produksinya, keshatan yang optimal merupakan unsur penting dalam menunjang kemampuan kerja yang optimal yang pada akhirnya di butuhkan oleh para pencari Walaupun penelitian ini berbeda dengan Adams . yang menyebutkan berpengaruh terhadap kesehatan. Hal ini dilandaskan pada kesejahteraan yang akan diperoleh individu melalui lapangan pekerjaan serta aktifitas positif yang akan menurunkan tingkat stres serta angka kematian, bahkan tekanan psikologis pasca menganggur akan hilang setelah individu memperoleh pekerjaan. Walaupun demikian menurut penulis kebutuhan akan pekerja di tentukan oleh pendidikan, keterampilan dan kesehatan, pendapat adams tersbut akan berlaku kepada pekerja yang memenuhi kriteria yang di butuhkan oleh pemberi kerja, sehingga perlu memperhatikan effek output yang tidak maksimal hasil dari ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Kesehatan Pekerja Informal Ditinjau Dari Pendidikan. Upah dan Ketersediaan Lapangan Pekerjaan (Heru kurniawan. Imam Abdullah. Dewi Pranitamoti. Tabel 4 Informal Kondisi No. Provinsi Effect Aceh SUMUT SUMBAR Riau Jambi SUMSEL Bengkulu Lampung Kep. BABEL Kep. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DIY Jawa Timur Banten Bali Kesehatan Pekerja No. Provinsi Effect NTB NTT KALBAR KALTENG KALSEL Bali KALTIM KALUT SULUT SULTENG SULSEL Sulawesi Tenggara Gorontalo SULBAR Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Tabel 4. Menunjukan tingkat kesehatan pekerja informal di 34 Provinsi. Terdapat 19 Provinsi yang akan mengalami penurunan tingkat kesehatan pekerja informal jika instrumen pendidikan, upah dan lapangan pekerjaan dalam keadaan stagnan. Provinsi yang paling terdampak adalah Maluku. Sulawesi barat dan maluku utara. Sumatra Utara. Kep. Riau dan Papua barat. Serta terdapat 15 Provinsi yang tetap akan mengalami peningkatan kesehatan pekerja jika instrumen pendidikan, upah dan lapangan pekerjaan dalam keadaan stagnan. Provinsi yang mengalami peningkatan cukup tinggi diantaranya Jawa tengah. Jawa Barat. DIY. Kalimantan Barat dan Jawa Timur. Dari Beberapa provinsi yang mengalami penurunan kesehatan ketika ke-tiga variabel independen tersebut bersifat stagnan, sebagai contoh DKI jakarta adalah kota besar dengan tingkat mobilitas yang tinggi, stagnanya pendidikan dan tidak adanya peningkatan upah dan lapangan kerja baru akan Jakarta meningkatkan mobilitas di sektor informal, akibat lainya adalah meningkatnya stresor akibat tekanan ekonomi dan polusi udara kendaraan, serta rendahnya kesadaran masyarakat terkait kesehatan, beberapa faktor tersebut berpotensi dapat menurunkan kualitas kesehatan pekerja di wilayah Pekerjaan informal berdampak negatif pada wilayah dengan tahap Jurnal Daya Saing (Vol. XI. No. i Oktober 2. kesejahteraanya rendah terutama pada sampel dengan tingkat pendidikan rendah, sumberdaya keuangan yang terbatas dan wilayah dengan industri, di wilayahwilayah industri pekerja informal dituntut untuk meningkatkan jam kerja sehingga kepuasan kerjaa mengalami penurunan (Zhou. Zhang & Li . SIMPULAN Penting kualitas hidup pekerja melalui perbaikan kesehatan, provinsi dengan potensi menghadapai penurunan kualitas kesehatan pekerja di dominasi oleh provinsi yang memiliki tingkat mobilitas tinggi, tingkat perekonomian yang belum maju serta ratarata sekolah rendah. Untuk kualitas kesehatan pekerja informal, maka pemerintah perlu meningkatkan kualitas pendidikan serta upah yang layak bagi Sedangkan bagi sebuah lembaga peningkatan kesehatan pekerja maka perlu Penyediaan Faskes di tempa kerja, memantai lingkungan kerja, malakukan pemeriksaan kesehatan sevara berkala, mengadakan pendidikan terkait kesehatan dan mengadakan bimbingan konseling DAFTAR RUJUKAN Adams. Improving individual and community health through Health Affairs Forefront. Arofah. , & Rohimah. Analisis jalur untuk pengaruh angka harapan hidup, harapan lama sekolah, rata-rata lama sekolah terhadap indeks pembangunan manusia melalui pengeluaran Riil Per Kapita di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jurnal Saintika Unpam: Jurnal Sains Dan Matematika Unpam, 2. , 76. ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Kesehatan Pekerja Informal Ditinjau Dari Pendidikan. Upah dan Ketersediaan Lapangan Pekerjaan (Heru kurniawan. Imam Abdullah. Dewi Pranitamoti. Bargain. , & Kwenda. The informal sector wage gap: New evidence using quantile estimations Economic Development Cultural Change, 63. , 117-153. Buszkiewicz. Hajat. Hill. Otten. , & Drewnowski. Racial, ethnic, and gender differences in the association between higher state minimum wages and health and mental wellbeing in US adults with low Social Science & Medicine, 322, 115817. Duncan. Panel surveys: uses https://doi. org/10. 1016/B978-0-08097086-8. Gaulke. Individual and family labor market impacts of chronic IZA World of Labor. Hyukansta. Gunn. Kreshpaj. Matilla-Santander. Wegman. Hogstedt. , . & Lewchuk. What is the role of minimum wages in addressing precarious employment in the informal and formal sectors? Findings from a International Journal of Social Determinants of Health and Health Services, 55. Hamidov. , & Khasanov. The Correlation Between Economic Development And Human Capital. American Journal Education And Learning, 3. , 929936. Hayakawa. Keola. Sudsawasd. , & Yamanouchi, . International bridges and informal Journal Comparative Economics. Hult. Pietily. , & Saaranen. Improving employment opportunities of the unemployed by health and work ability promotion in Finland. Health international, 35. , 518-526. Jurnal Daya Saing (Vol. XI. No. i Oktober 2. Lenhart. Pathways between minimum wages and health: the roles of health insurance, health care access and health care Eastern Economic Journal, 46. , 438-459. Liu. Zhou. Kong. Yang. , & Song. Decoding the mental health of informal workers in the Global South: An integrated State-Neighborhood-individual Applied Geography, 179, 103627. Lund. Alfers. , & Santana. Towards an inclusive occupational health and safety for informal New Solutions: A Journal Environmental Occupational Health Policy, 26. Neagu. Measuring the Effects of Human Capital on Growth in the Case of Romania. Annals of the University Dunarea de Jos of Galati: Fascicle: I. Economics & Applied Informatics, 18. Pi. Liu. , & Yin. The impacts of privatization on employment, wages, and welfare in the presence of an informal The Annals of Regional Science, 74. , 35. Raghupathi. , & Raghupathi. The influence of education on health: an empirical assessment of OECD countries for the period 1995Ae2015. Archives of public health, 78. , 20. Ronconi. Anchorena. , & Paz. The incidence and severe consequences of occupational injuries among informal workers in International Journal of Occupational Safety Ergonomics, 31. , 560-567. Sardana. Shekoohi. Cornett. & Kaye. Qualitative and quantitative research methods. In Substance use and addiction ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Kesehatan Pekerja Informal Ditinjau Dari Pendidikan. Upah dan Ketersediaan Lapangan Pekerjaan (Heru kurniawan. Imam Abdullah. Dewi Pranitamoti. Academic Press. https://doi. org/10. 1016/B9780-323-98814-8. Satarudin. Suprianto. , & Sujadi. Survey Pekerja Sektor informal Dan Sektor Formal Era Revolusi Industri Kota Mataram. Journal of Economics and Business, 7. , 175-194. Satriawan. Pitoyo. & Giyarsih. Cakupan Kesehatan Universal (UHC) pekerja sektor informal di Indonesia. Tata Loka, 22. , 556-572. Shahid. Shoker. Chu. Frehlick, . Ward. , & Pahwa. Impact of low health literacy on patientsAo health outcomes: a multicenter cohort study. BMC health services research, 22. Zhou. Zhang. , & Li. Impact of informal employment on individualsAo psychological wellbeing: China. International Journal of Mental Health Systems, 18. , 29 Kurniawan. The Role of Technology Mastery Quality of Human Capital and Wage Rate on Labour Demand Java Island. Journal Economics Bussines Ethics, 1. , https://doi. org/10. 24235/jiesbi. Kurniawan. , & Yunisvita. The Informal WorkersAo Wage Levels and Factors Influencing Them. Proceeding International Conference on Economic and Social Sciences, 2, 611Ae625. Retrieved https://icess. id/index. php/1/article/view/ Chung. , & Lee. Technological Change. Job Characteristics, and Employment of Elderly Workers: Evidence from Korea. Bank of Korea WP, 14. Jurnal Daya Saing (Vol. XI. No. i Oktober 2. https://dx. org/10. 2139/ssrn. Gujarati. , & Porter. Dasar-dasar ekonometrika (Vol. Salemba Empat. Rosadi. Ekonometrika & Runtut Waktu Terapan Dengan Evviews: Aplikasi Untuk Bidang Ekonomi. Bisnis Dan Keuangan Edisi. ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356