Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Terakreditasi No: 79/E/KPT/2023 (Sinta . http://w. stt-tawangmangu. id/e-journal/index. php/fidei Vol. 8 No. 2 (Des. hlm: 377-394 Diterbitkan Oleh: Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu e-ISSN: 2621-8135 p-ISSN: 2621-8151 DOI: https://doi. org/ 10. 34081/fidei. Munus Triplex Transformatif: Reinterpretasi Jabatan Kristus Menjawab Usulan Ekspansi Sahabat-Pelayan dari Moltmann dan Nugent Janrio Fernando Siagian. * . Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta. Indonesia *) Email: janrio. siagian@stftjakarta. Diterima: 14 Mei 2025 Direvisi: 24 Agustus 2025 Disetujui: 11 September 2025 Abstract The concept of the triplex munus. Christ as prophet, priest, and king, has been a dominant paradigm since the Reformation through the thought of John Calvin. The changing landscape of the church has prompted a reconsideration of its Jyrgen Moltmann and John C. Nugent have suggested expanding it to a quadruplex munus by adding friend and servant, but this article critiques this approach for its tendency to reinforce the framework of tradition and shift attention from spiritual depth to a purely social orientation. Based on qualitative methods and an intertheological synthesis of classical and contemporary sources, this study proposes a transformative triplex munus that maintains the classical structure while enriching its meaning through two inter-office dimensions: relational . and actional . The results show that the transformative triplex munus maintains doctrinal continuity while encouraging participatory, egalitarian, and context-sensitive church praxis without the addition of a fourth office. The relational dimension guides liberating proclamation, while the actional dimension directs priesthood and kingship as concrete services to many. This framework provides operational guidelines for contemporary church proclamation, reconciliation, and leadership. Keywords: Christ. King. Munus Quadruplex. Munus Triplex. Priest. Prophet. Abstrak Konsep munus triplex, yakni Kristus sebagai nabi, imam, dan raja, telah menjadi paradigma dominan sejak Reformasi melalui pemikiran Yohanes Calvin. Perubahan lanskap gereja mendorong peninjauan ulang relevansinya. Jyrgen CopyrightA2025. Janrio Fernando Siagian. Lisensi karya ini di bawah: Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License (CC BY-SA 4. | 377 Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. Moltmann dan John C. Nugent mengusulkan perluasan menjadi munus quadruplex dengan menambahkan sahabat dan pelayan, namun artikel ini mengkritisi pendekatan tersebut karena berisiko mengaburkan kerangka tradisi dan menggeser perhatian dari kedalaman spiritual ke orientasi sosial semata. Berbasis metode kualitatif melalui sintesis interteologis atas sumber klasik dan kontemporer, penelitian ini menawarkan munus triplex transformatif yang mempertahankan struktur klasik sekaligus memperkaya makna melalui dua dimensi lintas jabatan: dan aksional . Hasil penelitian menunjukkan bahwa munus triplex transformatif mampu menjaga kesinambungan doktrinal sambil mendorong praksis gereja yang partisipatif, egaliter, dan peka konteks tanpa penambahan jabatan keempat. Dimensi relasional menuntun pewartaan yang membebaskan, sedangkan dimensi aksional mengarahkan keimaman dan kerajaan sebagai pelayanan yang nyata bagi banyak orang. Kerangka ini memberi pedoman operasional bagi pewartaan, pendamaian, dan kepemimpinan gereja kontemporer. Kata-Kata Kunci: Imam. Kristus. Munus Quadruplex. Munus Triplex. Nabi. Raja. Pendahuluan Munus triplex . eran Kristus sebagai nabi, imam, dan raj. 1 telah menjadi paradigma utama dalam teologi Kristen sejak Reformasi. Model ini dipopulerkan oleh Yohanes Calvin dan diadopsi dalam tradisi Reformed serta Katolik. 2 Namun, beberapa teolog kontemporer, seperti Jyrgen Moltmann dan John C. Nugent, mengusulkan perluasan ke munus quadruplex dengan menambahkan peran Kristus sebagai sahabat 3 dan pelayan. 4 Secara khusus. Nugent dalam karyanya The Fourfold Office of Christ memberikan argumen kuat tentang perlunya penambahan peran AupelayanAy, dengan tujuan mengarahkan gereja menjadi agen perubahan sosial yang aktif, berbeda dari Moltmann yang lebih menitikberatkan pada aspek relasional yang inklusif melalui konsep persahabatan. Kedua konsep tersebut Dalam penelitiannya. Pakphan menyadari bahwa penyebutan urutan terhadap munus triplex di sepanjang zaman tidak konsisten. Terkadang nabi, imam, dan raja. terkadang raja, imam, dan Senada dengan Pakpahan, maka penelitian ini juga secara konsisten menggunakan nabi, imam, dan raja. Lih. Binsar Jonathan Pakpahan dan Gunawan Simatupang. AuAnalisis Konsep Teologis Jabatan Imam. Raja, dan Nabi yang dilekatkan kepada Pendeta HKBP,Ay Voice Of Wesley 5, no. : 46, doi:10. 36972/jvow. Glenn R Kreider. AuJesus the Messiah as Prophet. Priest, and King,Ay Bibliotheca Sacra 176, 702 . : 174Ae75. Lih. Joas Adiprasetya. AuRevisiting Jyrgen MoltmannAos Theology of Open Friendship,Ay International Journal for the Study of the Christian Church 21, no. Maret 2. : 2, doi:10. 1080/1474225X. Lih. John C Nugent. The Fourfold Office of Christ: A New Typology for Relating Church and Word (Eugene. OR: Cascade Books, 2. , 14. Munus Triplex Transformatif, . (Janrio Fernando Siagia. A(Petrus Yuniant. munus triplex dengan tantangan gereja masa kini yang . elasional Santy Sahartia. dan aksional dibandingkan model kepemimpinan yang hierarkis. Moltmann mengkritik model kepemimpinan gereja yang cenderung hierarkis dan eksklusif. Baginya, hal tersebut disebabkan oleh konsep munus triplex, yang berasal dari masyarakat otoriter. Nilai-nilai simbolis dari metafora yang digunakan pun tertransfer kepada Yesus. 5 Meminjam penelitian Susanta, kritik terhadap model kepemimpinan tersebut diperjelas oleh Moltmann dalam Trinity and the Kingdom, di mana ia menyebut bahwa gereja sering kali lebih menyerupai struktur kekuasaan dibandingkan komunitas persahabatan. 6 Maka, ia mengajukan perluasan peran Kristus, yakni sebagai sahabat. Tujuannya untuk membangun komunitas yang terbuka dan menolak pola kepemimpinan elitis. Hal ini sejalan dengan Yohanes 15:15, di mana Yesus menyatakan bahwa hubungan-Nya dengan para murid bukan berdasarkan ketundukan relasi tuan-hamba, tetapi persahabatan. 7 Sebaliknya. Nugent berpendapat bahwa kepemimpinan Kristus lebih baik dipahami dalam dimensi pelayanan. 8 Ia mengajukan penambahan peran sebagai pelayan, yang menempatkan Kristus dalam solidaritas dengan kaum tertindas, sebagaimana terlihat dalam Markus 10:45. Meskipun gagasan penambahan tersebut menarik, terdapat beberapa tantangan teologis dan praktis yang perlu dievaluasi. Apakah munus quadruplex memiliki dasar teologis dan historis yang kuat? Bagaimana pengaruhnya terhadap struktur kepemimpinan gereja? Apakah model ini mempermudah gereja dalam menjawab tantangan sosial modern, atau justru menciptakan ambiguitas dalam kepemimpinan Kristen? Tiga pertanyaan tersebut mengindikasikan adanya ketegangan antara pemeliharaan struktur teologis klasik dan upaya kontekstualisasi gereja masa kini. Beberapa penelitian terdahulu di atas menempuh sedikitnya tiga arus untuk merelevansikan munus triplex. Pertama, memperluasnya menjadi munus quadruplex: Moltmann menambahkan AusahabatAy. Kedua, menambahkan AupelayanAy sebagai jabatan yang terlupakan, jejaknya tampak pada Kraemer 9 dan dibangun tipologis oleh Nugent. Ketiga, mengganti susunan klasik dengan munus triplex Jyrgen Moltmann. The Open Church: Invitation to a Messianic Lifestyle, trans. oleh M. Douglas Meeks (London: SCM Press, 1. , 54. Yohanes Krismantyo Susanta. AuMenjadi Sesama Manusia: Persahabatan sebagai Tema Teologis dan Implikasinya bagi Kehidupan Bergereja,Ay DUNAMIS 2 . : 107. Moltmann. The Open Church: Invitation to a Messianic Lifestyle, 56. Nugent. The Fourfold Office of Christ: A New Typology for Relating Church and Word, 23. Joas Adiprasetya. Berteologi dalam Iman: Dasar-dasar Teologi Sistematika-Konstruktif (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 182. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. baru: sahabat-pelayan-orang asing, lalu menempatkannya secara dialektis berhadapan dengan triplex klasik. 10 Bahkan, ada juga literatur yang menyinggung perluasan lain seperti hakim, kesatria, gembala, dan orang bijak. 11 Namun semua arus itu berpijak pada penambahan atau penukaran jabatan, sehingga menyisakan celah: belum ada kerangka yang secara eksplisit mempertahankan tiga jabatan klasik sambil memperlakukan Ausahabat-pelayanAy sebagai dimensi lintas-jabatan . elasional-aksiona. Sehingga, penelitian ini bertujuan merespons celah tersebut melalui reinterpretasi munus triplex yang tetap menjaga kerangka klasik, namun membacanya ulang melalui lensa relasional dan aksional, sehingga mampu menjawab kebutuhan eklesiologis zaman ini tanpa harus menambah jabatan baru. Penelitian ini berargumen, dalam konteks ketegangan antara warisan klasik dan tantangan kontemporer, munus triplex transformatif sebagai hasil reinterpretasi dengan lensa relasional . dan aksional . memberikan alternatif yang konstruktif untuk menjaga kontinuitas doktrinal sekaligus mendorong praksis gereja yang partisipatif, tanpa perlu menambah jabatan keempat. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan konstruktifteologis, yang tidak hanya mendeskripsikan fenomena teologis, tetapi juga menyusun konsep teologi baru yang relevan dengan konteks zaman. Pendekatan ini sejalan dengan tujuan penelitian, yaitu mereinterpretasi konsep munus triplex tanpa menambah jabatan baru, namun dengan mengintegrasikan nilai relasional dan aksional dari gagasan Moltmann dan Nugent. Penelitian ini menggunakan sintesis interteologis, yaitu menggabungkan berbagai pandangan lintas tradisi (Reformed. Katolik. Ekumeni. dan lintas periode . ari era klasik hingga moder. Pendekatan lintas-sumber ini dipakai sebagai dasar untuk mengembangkan kerangka teologis alternatif yang tetap menjaga kontinuitas doktrinal klasik sembari merespons konteks kini. Sintesis ini menghubungkan perspektif Yohanes Calvin dalam Institutio Christianae Religionis, dokumen Lumen Gentium dari Konsili Vatikan II, serta The Church: Toward a Common Vision dari WCC. Pendekatan ini menjaga kesetiaan pada ortodoksi teologis sambil terbuka pada pembaruan makna yang Dengan demikian, konsep munus triplex transformatif tidak menggantikan struktur klasik, tetapi memperkaya maknanya dengan dimensi Ibid. Kreider. AuJesus the Messiah as Prophet. Priest, and King,Ay 175. Munus Triplex Transformatif, . (Janrio Fernando Siagia. A(Petrus Yuniant. Prosedur penelitian mencakup tiga tahap. Tahap pertama, dan pelayan. ( Santy Sahartia. kajian historis terhadap akar biblis dan perkembangan teologis munus Tahap kedua, analisis kritis terhadap model munus quadruplex Moltmann dan Nugent. Tahap ketiga, formulasi konstruktif yang menyatukan elemen relasional dan aksional dalam kerangka klasik. Pendekatan konstruktif semacam ini sejalan dengan pandangan Joas Adiprasetya bahwa teologi konstruktif adalah usaha membangun Aurumah imanAy dengan bahan-bahan dari tradisi dan konteks sosial, bersifat naratif, relasional, interdisipliner, dan terbuka terhadap sumber nonteologis. Teologi konstruktif ibarat AubricolageAy, yaitu merakit makna dari reservoir tradisi dan pengalaman umat. Ia bersifat interpretif, artistik, dan menolak klaim universal-objektif atas satu bentuk teologi. Oleh karena itu, seperti disampaikan Adiprasetya, teologi haruslah historis, lokal, dan multitekstual. Menyuarakan iman yang hidup melalui keterlibatan sosial dan pembacaan yang kreatif terhadap teks dan realitas. Hasil dan Pembahasan Akar Biblis dan Historis Munus Triplex Yohanes Calvin, dalam Institutio Christianae Religionis, menegaskan bahwa munus triplex merupakan fondasi utama dalam memahami karya penyelamatan Kristus. Menurut Calvin, konsep tersebut mencerminkan bagaimana Kristus berbicara atas nama Allah . , menjadi perantara manusia dan Allah . , serta memimpin umat-Nya sebagai raja yang adil dan penuh kasih. 13 Dalam tradisi Katolik, munus triplex juga diadopsi, terutama setelah Konsili Vatikan II . 2Ae Dokumen Lumen Gentium menekankan bahwa tiga jabatan ini tidak hanya diterapkan pada hierarki gereja, tetapi juga pada seluruh umat beriman. Perluasan definisi awam yang dibahas dan dituangkan oleh Katolik dalam Lumen Gentium ini patut diapresiasi. Meskipun konsep ini diterima secara luas, kritik mulai bermunculan terkait penerapannya dalam gereja. Anastasia Wendlinder menunjukkan bahwa dalam praktiknya, munus triplex sering kali lebih berfungsi sebagai justifikasi hierarki gereja daripada sebagai prinsip kepemimpinan yang Lih. Adiprasetya. Berteologi dalam Iman: Dasar-dasar Teologi Sistematika-Konstruktif, 24Ae37. Yohanes Calvin. Institutio: Pengajaran Agama Kristen, trans. oleh Winarsih dkk. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 117. R Hardawiryana, penerj. Lumen Gentium (Terang Bangsa-bangs. (Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1. , 62Ae63. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. 15 Artinya, secara doktrinal Lumen Gentium telah menunjukkan keterbukaan dan pemerataan, tapi secara nyata belum diejawantahkan secara Munus triplex sering dipahami sebagai refleksi dari figur-figur dalam Perjanjian Lama yang memiliki peran serupa. Misalnya. Musa sebagai nabi. Harun sebagai imam, dan Daud sebagai raja, semuanya dianggap sebagai gambaran tipologis dari Mesias pemimpin ideal umat Israel. 16 Kristus sebagai penggenapan munus triplex menunjukkan bahwa ketiga jabatan ini bukan sekadar simbolisme teologis, tetapi juga mencerminkan aspek esensial dari misi penyelamatan Kristus. Dalam pemikiran Kreider. Kristus bukan hanya memenuhi peran sebagai nabi, imam, dan raja, tetapi juga memulihkan potensi manusia yang hilang akibat kejatuhan dosa. 17 Dalam kerangka berpikir demikian. Kreider tidak melihat tipologi-tipologi tersebut berpotensi menimbulkan masalah dikemudian hari. Perjanjian Lama menyaksikan akar mendalam dari munus triplex. Salah satu aspek penting yang sering diabaikan dalam diskusi teologi modern adalah fakta bahwa ketiga jabatan ini bukan sekadar peran, tetapi juga jabatan yang secara khusus diurapi oleh Allah. Dalam tradisi Israel, pengurapan . ashach dalam bahasa Ibran. adalah tindakan simbolis yang menunjukkan bahwa seseorang telah dipilih secara ilahi untuk tugas tertentu. Tiga kelompok utama yang menerima pengurapan adalah nabi, imam, dan raja. Imam diurapi untuk melaksanakan tugas perantara antara manusia dan Allah. Mereka ditahbiskan melalui ritual pengurapan minyak sebagai tanda kekudusan dan pemisahan untuk tugas pelayanan di hadapan Tuhan (Kel. 30:30. Im. Raja menerima pengurapan sebagai tanda bahwa ia dipilih oleh Allah untuk memerintah Israel dengan keadilan dan hikmat. Contohnya adalah pengurapan Saul . Sam. dan Daud . Sam. Nabi tidak selalu diurapi dengan minyak seperti imam dan raja, tetapi mereka diurapi dengan Roh Allah untuk menyampaikan firman Allah dan menegur umat, termasuk imam dan raja, yang menyimpang (Yes. 61:1, 1Raj. Makna pengurapan dalam konteks munus Anastasia Wendlinder. AuEmpowered as King. Priest and Prophet: The Identity of Roman Catholic Laity in the People of God,Ay New Blackfriars, 9 Maret 2014, 175, doi:10. 1111/j. Kreider. AuJesus the Messiah as Prophet. Priest, and King,Ay 175. Namun perlu dicatat, kendati Yesus dianggap sebagai penggenapan munus triplex, yang merupakan wakil Allah memimpun umat (PL). Yesus Kristus adalah pribadi Allah itu sendiri. Lih. Raidin Sinaga. AuImamat dan Kenabian,Ay Logos 12, no. : 35. Kreider. AuJesus the Messiah as Prophet. Priest, and King,Ay 179. Sinaga. AuImamat dan Kenabian,Ay 34. Munus Triplex Transformatif, . (Janrio Fernando Siagia. A(Petrus Yuniant. ini menjadi kunci dalam pembahasan lebih lanjut. Kristus tidak hanya ( Santy Sahartia. tiga peran: nabi, imam, dan raja. Ia juga diurapi secara unik oleh Allah sebagai Mesias (Christos dalam bahasa Yunani, yang berarti AuYang DiurapiA. Perjanjian Baru menegaskan bahwa Yesus menggenapi ketiga jabatan yang diurapi ini: sebagai nabi. Yesus datang untuk menyampaikan firman Allah. Sebagai imam. Yesus menjadi pengantara antara manusia dan Allah serta mempersembahkan diri-Nya sebagai korban penebusan dosa. Sebagai raja. Yesus menerima otoritas dari Allah untuk memerintah dunia dalam kebenaran dan Dengan memahami dimensi pengurapan ini, terlihat bahwa munus triplex bukan sekadar tiga fungsi yang dijalankan Yesus, tetapi merupakan tiga dimensi dari satu pengurapan ilahi yang unik. Hal ini juga menjadi dasar mengapa gereja sejak awal memahami Yesus sebagai Mesias yang diurapi untuk menjalankan ketiga jabatan ini secara sempurna. Pada awal dipopulerkannya. Yohanes Calvin melihat ketiga jabatan Kristus ini sebagai aspek fundamental dari karya penyelamatan Kristus, yang harus dipahami secara holistik. 21 Calvin menyusun konsep munus triplex untuk menguraikan misi penebusan Kristus secara holistik, serta menjadi dasar yang kuat bagi iman yang bertumpu pada karya kenabian, keimaman, dan kerajaan Kristus. AuTherefore, in order that faith may find a firm basis for salvation in Christ, and thus rest in him, this principle must be laid down: the office enjoined upon Christ by the Father consists of three parts. For he was given to be prophet, king, and priest. Ay22 Calvin melihat bahwa peran Kristus sebagai nabi adalah yang menyampaikan firman Allah dan mengajarkan kebenaran kepada manusia. Sebagai imam. Kristus mempersembahkan diri-Nya sebagai korban untuk menghapus dosa umat manusia, dan sebagai raja. Kristus memerintah dan memimpin umat-Nya menuju 23 Bagi Jonathan Pratt, dalam konteks reformasi, ia menilai Calvin mengembangkan konsep munus triplex tidak hanya untuk memperjelas identitas dan peran Kristus sebagai pusat kehidupan rohani, tetapi juga sebagai bentuk kritik Kreider. AuJesus the Messiah as Prophet. Priest, and King,Ay 179. Ibid. , 187. Anthony Ekpo. AuThe Sensus Fidelium and the Threefold Office of Christ: A Reinterpretation of Lumen Gentium No. 12,Ay Theological Studies 76, no. Maret 2. : 333. Hugh Thomson Kerr, ed. A Compend of the Institutes of the Christian Religion by John Calvin (Philadelphia: Presbyterian Board of Christian Education, 1. , 78. Calvin. Institutio: Pengajaran Agama Kristen, 117. Calvin. Institutio: Pengajaran Agama Kristen, 118Ae20. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. terhadap Gereja Katolik yang dianggap telah mengalami korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. 24 Sehingga, sembari meletakkan dasar iman Kristen. Calvin juga hendak mengangkat ke permukaan fungsi kenabian Kristus untuk menegaskan otoritas pengajaran yang murni dan benar, mengingat Gereja Katolik dianggap telah menyimpangkan pengajaran untuk kepentingan kekuasaan gereja. Fungsi imamat Kristus melalui pengorbanan-Nya yang sempurna, berlawanan dengan praktik imamat Katolik yang sering kali dipandang ritualistik dan korup, serta lebih berfokus pada upacara daripada makna spiritual yang sejati. Selain itu, fungsi peran Kristus sebagai raja menunjukkan otoritas untuk mengatur dan membebaskan umat dari kendali gerejawi yang otoriter, yang kerap menindas kebebasan umat dalam beriman dan berelasi dengan Allah. Dalam tradisi Katolik, munus triplex diadopsi secara teologis terutama sejak Konsili Vatikan II melalui dokumen Lumen Gentium, yang menegaskan bahwa ketiga jabatan Kristus berlaku bagi seluruh umat beriman, bukan hanya bagi hierarki gereja. 25 Lebih rinci disebutkan demikian: AuYang dimaksudkan dengan istilah AoawamAo di sini ialah semua orang beriman kristiani kecuali mereka yang termasuk golongan imam atau status religius yang diakui dalam Gereja. Jadi kaum beriman kristiani, yang berkat Baptis telah menjadi anggota Tubuh Kristus, terhimpun menjadi Umat Allah, dengan cara mereka sendiri ikut mengemban tugas imamat, kenabian, dan rajawi Kristus, dan dengan demikian sesuai dengan kemampuan mereka melaksanakan perutusan segenap Umat kristiani dalam Gereja dan di dunia. Ay26 Selain Gereja Katolik melalui Lumen Gentium, pemahaman mengenai munus triplex juga diadopsi dalam dokumen resmi Dewan Gereja-gereja Sedunia (World Council of Churches. WCC). Melalui refleksi panjang dan dialog lintas denominasi selama lebih dari dua dekade . elibatkan gereja Ortodoks. Protestan. Anglikan. Evangelikal. Pantekosta, hingga Katolik Rom. WCC menghasilkan dokumen penting berjudul The Church: Toward a Common Vision . Dokumen ini merefleksikan upaya bersama dalam memahami jati diri, tujuan, dan misi gereja secara global, partisipatif, dan ekumenis. Pada bagian II paragraf 17-19. WCC menegaskan bahwa seluruh umat Allah dipanggil untuk menghidupi tiga dimensi panggilan yang menyatu: sebagai umat profetik yang menyuarakan firman Allah. Jonathan Pratt. AuProphets. Priests, and Kings: A Contested Framework for Church Leadership,Ay Reformed Theological Review 79, no. : 187. Wendlinder. AuEmpowered as King. Priest and Prophet: The Identity of Roman Catholic Laity in the People of God,Ay 116. Hardawiryana. Lumen Gentium (Terang Bangsa-bangs. , 62Ae63. Munus Triplex Transformatif, . (Janrio Fernando Siagia. A(Petrus imamatYuniant. yang mempersembahkan hidup sebagai kurban rohani dalam ( Santy Sahartia. Kristus, dan umat rajani yang menghadirkan pelayanan demi terwujudnya pemerintahan Allah di dunia. 27 Ketiga dimensi ini tidak hanya mencerminkan jabatan Kristus, tetapi juga mendefinisikan identitas seluruh anggota gereja dalam keterlibatannya di dunia sebagai bagian dari misi Allah . issio De. Sebagaimana dicatat Adiprasetya. WCC secara eksplisit menyatukan visi munus triplex sebagai kerangka identitas seluruh umat Allah, bukan hanya tugas para pemimpin tertahbis, melainkan seluruh komunitas orang percaya yang terpanggil hidup profetik, imamat, dan rajani dalam konteks masing-masing. Munus Quadruplex dari Moltmann dan Nugent Beberapa teolog modern berpendapat bahwa munus triplex tidak cukup untuk menggambarkan kepemimpinan dan karya Kristus. Jyrgen Moltmann dan John C. Nugent mengusulkan bahwa Kristus tidak hanya berperan sebagai nabi, imam, dan raja, tetapi juga sebagai sahabat dan pelayan. Moltmann menekankan Kristus sebagai sahabat, dengan melihat bagaimana persahabatan menjadi elemen penting dalam kehidupan Yesus dan relasi-Nya dengan murid-murid-Nya. 28 Sementara itu. Nugent lebih menekankan Kristus sebagai pelayan, dengan mengkritik struktur kepemimpinan gereja modern yang lebih menyerupai sistem kekuasaan sekuler dibandingkan dengan model pelayanan Yesus. Moltmann mengusulkan perluasan menjadi munus quadruplex dengan menambahkan sahabat . ikenal dengan open friendshi. pada jabatan Yesus. Bagi Moltmann, penambahan AusahabatAy bukan hanya gelar atau jabatan keempat yang berdiri sendiri, tetapi merupakan lensa relasional yang mengubah cara memahami ketiga jabatan klasik tersebut. 29 Ia menafsirkan bahwa Yesus menjalankan fungsi kenabian, keimaman, dan kerajaan-Nya dalam wujud persahabatan. Sebagai nabi Kerajaan Allah bagi kaum miskin. Yesus menjadi sahabat para pendosa. Imam Agung. Ia mengorbankan diri demi hidup dan keselamatan orang lain, menyempurnakan kasih-Nya melalui kematian-Nya dalam persahabatan. Tuhan yang ditinggikan. Ia membebaskan manusia dari perbudakan dan menjadikan mereka sahabat Allah. Joas Adiprasetya, penerj. Gereja: Menuju Sebuah Visi Bersama (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 14Ae15. Moltmann. The Open Church: Invitation to a Messianic Lifestyle, 54. Jyrgen Moltmann. The Church in the Power of the Spirit: A Contribution to Messianic Ecclesiology, trans. oleh Margaret Kohl (London: SCM Press LTD, 1. , 115Ae17. Ibid. , 123Ae28. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. Melalui penafsiran ini. Moltmann ingin menjadikan Kristus lebih dekat secara relasional dengan umat-Nya, bukan sebagai figur agung yang jauh atau eksklusif bagi golongan tertentu. 31 Ia menilai bahwa peran Kristus sebagai nabi, imam, dan raja dalam tradisi Kristen sering kali menekankan otoritas dan hierarki, yang berpotensi menciptakan jarak antara Kristus dan umat-Nya. 32 Sebaliknya, dengan menekankan Yesus sebagai sahabat. Moltmann menghadirkan Kristus sebagai pribadi yang dekat, setara, dan akrab dengan komunitas orang percaya. Hal ini sejalan dengan konsep Augereja sahabat yang mengembaraAy yang digaungkan oleh Adiprasetya. Suatu konsep gereja yang terbuka kepada orang asing, yang rapuh dan terluka. Ini artinya. Moltmann hendak menghadirkan Yesus Kristus bersifat Hakikat dan karya Kristus dipahami dalam kategori relasi kasih, persahabatan, dan penerimaan timbal balik yang tidak berbasis pada struktur Bahkan, gagasan open friendship menjadi sentral dalam model teologi Moltmann tentang Allah Tritunggal dan eklesiologi gereja. Dalam pemikirannya, persahabatan ilahi ini bukan hanya menyangkut hubungan antar pribadi, tetapi juga menjadi dasar bagi keterlibatan gereja dalam dunia secara transformatif. Berbeda dari Moltmann. Nugent mengembangkan pendekatan yang bersifat aksional atau fungsional. Nugent memperkenalkan AuThe Fourfold Office of Christ,Ay yaitu tipologi baru dalam relasi gereja dan dunia yang mencakup nabi, imam, raja, dan pelayan . 35 Ia menambahkan kategori pelayan ke dalam model klasik munus triplex, setidaknya dengan dua alasan mendasar. Pertama, mengikuti gagasan beberapa teolog Reformed sebelumnya yang menilai bahwa pelayan merupakan jabatan yang terlupakan dalam gereja. Kedua, ia tidak mengubahnya, tapi menambahkannya, karena munus triplex . mam, raja, dan nab. telah lama dihidupi dan mudah juga untuk diingat. Namun, berbeda dengan Moltmann yang menyoroti siapa Yesus bagi Gereja. Nugent lebih menekankan bagaimana Gereja menjalankan misinya di dunia dengan Adiprasetya. AuRevisiting Jyrgen MoltmannAos Theology of Open Friendship,Ay 5Ae6. Peter Slade. Open Friendship in a Closed Society: Mission Mississippi and a Theology of Friendship (New York: Oxford University Press, 2. , 15Ae17. Adiprasetya. Berteologi dalam Iman: Dasar-dasar Teologi Sistematika-Konstruktif, 297Ae Moltmann. The Open Church: Invitation to a Messianic Lifestyle, 64. Nugent. The Fourfold Office of Christ: A New Typology for Relating Church and Word, 14Ae15. Ibid. , 14. Munus Triplex Transformatif, . (Janrio Fernando Siagia. A(Petrusperan-peran Yuniant. Kristus tersebut. 37 Setiap jabatan Kristus dimaknai sebagai ( Santy Sahartia. sosial gereja. Model kerajaan menggarisbawahi kepemimpinan Kristus atas budaya dan struktur sosial. 38 Model pelayanan menekankan diakonia atau tindakan kasih dalam masyarakat. 39 Model kenabian menekankan pewartaan kebenaran dan kritik terhadap ketidakadilan. 40 Model keimaman menyoroti peran gereja sebagai mediator keselamatan melalui ibadah dan doa. Menurut Nugent, empat jabatan ini mewakili cara gereja memahami perannya di dunia dan membingkai tanggung jawabnya terhadap masyarakat. Dengan demikian, gagasan Nugent berfokus pada aksi konkret, di mana gereja bertindak sebagai perpanjangan tangan Kristus dalam membangun keadilan sosial dan melayani kebutuhan dunia secara nyata. Dalam bukunya tersebut, ia menggambarkan gereja profetik sebagai gereja yang berani menegur penguasa publik yang menyimpang . ungsi kenabia. , sedangkan gereja pelayan adalah komunitas yang aktif menjawab kebutuhan sosial yang mendesak . ungsi Melalui pendekatan ini. Nugent membentuk paradigma Augereja harus bertindakAy, di mana gereja tidak hanya menjadi komunitas persahabatan internal, tetapi juga komunitas yang berperan secara aktif dalam mengubah dunia. Pendekatan Moltmann jelas menekankan dimensi relasional dalam Dengan metafora Yesus sebagai sahabat. Moltmann membayangkan gereja sebagai komunitas persahabatan yang terbuka menerima siapa pun. Ia secara kritis mengamati bahwa persahabatan konvensional bisa bersifat eksklusif, hanya mengikat mereka yang sejenis. 43 Oleh karena itu, ia menegaskan perlunya persahabatan terbuka yang melampaui sekat sosial dan kultural. Sebaliknya, pendekatan Nugent lebih menonjolkan tindakan konkret dan pelayanan sebagai ekspresi relasi gereja dengan dunia. Tipologi fourfold office Nugent adalah kerangka aksi, di mana gereja ditantang untuk menjalankan keempat fungsi Kristus dalam dunia sesuai dengan konteks yang dihadapi. Fokusnya bukan pada pembentukan komunitas internal . eperti persahabatan dalam model Ibid. , 24. Ibid. , 26Ae47. Ibid. , 48Ae69. Ibid. , 70Ae99. Ibid. Ibid. , 53Ae54. Moltmann. The Church in the Power of the Spirit: A Contribution to Messianic Ecclesiology, 60Ae62. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. Moltman. , tetapi bagaimana komunitas itu bertindak bagi dunia sesuai teladan Kristus. Dengan kata lain, kelebihan gagasan Moltmann yang menampilkan Kristus sebagai sahabat terletak pada upayanya mengembalikan keakraban antara Kristus dan Gereja, dengan menekankan relasi yang setara antara Yesus dan umat-Nya. Hal ini mendorong lahirnya visi gereja yang partisipatif dan egaliter, tanpa sekat-sekat status sosial maupun spiritual. Namun demikian. Moltmann tidak memberikan arahan praktis yang memadai mengenai bagaimana prinsip persahabatan terbuka ini dapat diimplementasikan dalam masyarakat yang kompleks dan plural. Bahkan. Adiprasetya berpendapat bahwa Moltmann tidak secara signifikan mengembangkan gagasan ini dalam kurun waktu empat dekade sejak pertama kali ia cetuskan. Misalnya, dalam perbandingan Adiprasetya antara The Church in the Power of the Spirit . dan The Living God and the Fullness of Life . , terlihat jelas bahwa Moltmann konsisten menggunakan konsep persahabatan terbuka, namun minim dalam elaborasi praktis yang mendetail mengenai implementasinya dalam struktur eklesiologis atau praksis pastoral konkret. Sedangkan Nugent berhasil menawarkan model gereja yang aktif dan kontekstual, yang relevan dengan kebutuhan sosial masa kini. 46 Ia juga menawarkan kerangka yang seimbang antara pewartaan, pelayanan, kepemimpinan, dan peribadatan, yang dapat diterapkan dalam berbagai konteks Kelemahan gagasannya terletak pada berisiko terjebak dalam aktivisme gerejawi, sehingga relasi internal dan kehidupan spiritual dapat terabaikan. Untuk menjaga relevansi munus triplex dan quadruplex, sintesis dapat dilakukan dengan mengintegrasikan aspek relasional Moltmann dan aspek aksional Nugent. Adiprasetya menawarkan pendekatan dialektis, di mana ia menggabungkan imamsahabat, nabi-orang asing, dan raja-pelayan menjadi cara baru memahami Kristus dan misi gereja. 47 Dengan demikian, gereja dapat menjadi komunitas persahabatan yang melayani, yang tidak hanya membangun relasi internal yang kuat, tetapi juga aktif menjawab tantangan dunia dengan kasih dan keadilan. Tidak hanya itu, kritik terhadap munus quadruplex adalah tidak adanya dukungan dari sejarah perkembangan gereja awal. Para Bapa Gereja seperti Agustinus. Athanasius, dan Gregorius Agung semuanya menulis tentang munus triplex, tetapi tidak ada yang pernah menyebutkan jabatan tambahan sebagai Nugent. The Fourfold Office of Christ: A New Typology for Relating Church and Word, 63. Adiprasetya. AuRevisiting Jyrgen MoltmannAos Theology of Open Friendship,Ay 1. Nugent. The Fourfold Office of Christ: A New Typology for Relating Church and Word, 69. Adiprasetya. AuRevisiting Jyrgen MoltmannAos Theology of Open Friendship,Ay 10. Munus Triplex Transformatif, . (Janrio Fernando Siagia. A(Petrus Yuniant. Pada zaman Patristik . bad ke-2 hingga ke-5 M), beberapa atau pelayan. ( Santy Sahartia. Bapa Gereja seperti Irenaeus. Tertulianus, dan Gregorius Agung, telah menyinggung tentang peran Kristus sebagai nabi, imam, dan raja meskipun belum menggunakan istilah munus triplex secara eksplisit, yang kemudian disistematisasi oleh Calvin. Irenaeus dalam Against Heresies menggambarkan Kristus sebagai guru dan raja yang membawa pengenalan akan Allah dan kehidupan kekal. Gregorius Nazianzus melihat Kristus sebagai pengantara dan pengajar, mencerminkan peran kenabian dan imamat Kristus. Para Bapa Gereja ini sering menekankan otoritas pengajaran dan kepemimpinan Kristus dalam tulisan mereka, memberikan landasan bagi konsep munus triplex yang kemudian lebih dikenalkan dan dipopulerkan dalam teologi Reformasi. 49 Demikian juga Jonathan Pratt, yang mengamati perlu penambahan gelar kepada Yesus, seperti hakim dan orang bijak. Dalam sistem gereja abad pertengahan, teologi munus triplex berkembang sebagai cara memahami peran Kristus dalam gereja, yang kemudian diterapkan pada pola kepemimpinan. Timothy Paul Jones mengambil posisi korektif. mengakui munus triplex sebagai kebenaran kristologis, tetapi menolak pemakaiannya sebagai tipologi kepemimpinan, karena pengelompokan pemimpin menjadi nabi, imam, dan raja tidak berangkat dari pembacaan eksegetis yang Perjanjian Baru menampilkan keimaman dan kerajaan sebagai identitas komunal umat yang bersatu dengan Kristus, bukan kapasitas individual. Perjanjian Lama menempatkan fungsi mengajar terutama pada imam dan orang Lewi, sehingga penyamaan peran sering kali keliru. Dengan demikian, bagi Jones, tipologi nabi, imam, dan raja tidak alkitabiah. 51 Implikasinya, memperluasnya menjadi Aumunus quadruplexAy sebagai tipologi kepemimpinan pun tidak menyelesaikan problem dasarnya. Munus Triplex Transformatif: Suatu Sintesis Menuju Reinterpretasi Pendekatan Moltmann dan Nugent menawarkan fokus yang berbeda. Moltmann menekankan Kristus sebagai sahabat, membayangkan gereja sebagai Alexander Roberts dan James Donalson, ed. Ante-Nicene Fathers: The Writings of the Fathers down to A. Volume 1: (New York: Christian Literature Publishing Co. , 1. , 344Ae Philip Schaff, ed. Nicene and Post-Nicene Fathers: Second Series. Volume VII, vol. Volume VII (London: Parker & Company, 1. , 205. Pratt. AuProphets. Priests, and Kings: A Contested Framework for Church Leadership,Ay 190. Timothy Paul Jones. AuProphets. Priests, and Kings Today? Theological and Practical Problems with the Use of the Munus Triplex as a Leadership Typology,Ay Perichoresis 16, no. : 66, doi:10. 2478/perc-2018-0017. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. komunitas yang terbuka di mana relasi egaliter mendahului. 52 Sebaliknya. Nugent memperkenalkan konsep The Fourfold Office of Christ . rophet-priest-king plus servan. , menekankan dimensi aksi sosial Kristus dalam kepemimpinan gereja . ereja sebagai agen perubaha. 53 Dilema muncul ketika relasi persahabatan tanpa kerangka operasional yang jelas berisiko mereduksi kepemimpinan gereja menjadi tanpa struktur. sedangkan orientasi pelayanan sosial yang dominan dapat menggeser keseimbangan dari aspek rohani komunitas. Keduanya menggarisbawahi kebutuhan Gereja masa kini akan sintesis yang menghargai keterbukaan persahabatan dan aksi nyata, sekaligus berakar pada fondasi teologis Selain itu, dua dokumen besar gereja, baik Lumen Gentium dari Konsili Vatikan II maupun The Church: Toward a Common Vision dari Dewan Gerejagereja Sedunia, secara eksplisit tetap mempertahankan struktur munus triplex dalam pemahaman mereka tentang identitas dan perutusan umat Allah. Hal ini menunjukkan bahwa dalam sejarah teologi eklesiologis, kerangka munus triplex tidak ditinggalkan, tetapi terus diperluas maknanya dalam terang zaman. Gereja Katolik menegaskan bahwa seluruh umat beriman ambil bagian dalam jabatan kenabian, imamat, dan rajani Kristus, demikian pula WCC yang menekankan panggilan profetik, imamat, dan rajani bagi semua anggota gereja dalam misi Allah di dunia. Artinya, tanpa menambahkan jabatan baru, gereja global justru memilih untuk merelevansikan peran-peran klasik ini dalam kerangka partisipatif dan Di sinilah letak argumen utama untuk tidak mengubah munus triplex menjadi munus quadruplex: bukan karena menolak nilai sahabat dan pelayan, tetapi karena transformasi teologis dapat dicapai melalui reinterpretasi dan pendalaman tiga jabatan yang sudah memiliki legitimasi biblis, historis, dan ekumenis yang Oleh karena itu, munus triplex transformatif ditawarkan sebagai jawaban Konsep ini mempertahankan struktur tradisional munus triplex . abi, imam, dan raj. yang telah disistematisasi oleh Yohanes Calvin, berakar pada Perjanjian Lama, digenapi dalam Perjanjian Baru, dan terus aktualisasikan sampai Kemudian, munus triplex transformatif ini mereinterpretasi maknanya secara Gambaran ini semakin menegaskan bahwa munus triplex bukan sekadar 48Ae50. Adiprasetya. AuRevisiting Jyrgen MoltmannAos Theology of Open Friendship,Ay 1. Nugent. The Fourfold Office of Christ: A New Typology for Relating Church and Word. Munus Triplex Transformatif, . (Janrio Fernando Siagia. A(Petrus tetapiYuniant. panggilan sakral yang berakar dalam sejarah keselamatan umat ( Santy Sahartia. Allah. Kreider menegaskan warisan tafsiran lama bahwa Kristus menyempurnakan jabatan nabi, imam, dan raja sebagai Mesias. Munus triplex transformatif mengambil landasan ini: tidak menambah jabatan baru, tetapi meresapi setiap jabatan klasik dengan dimensi relasional . dan aksional . Secara eksplisit, dimensi relasional tampak kuat dalam kenabian, ketika Yesus mengajar dalam persekutuan yang akrab dan memerdekakan (Yoh. Dimensi aksional mengarahkan keimaman dan kerajaan, sebab perantaraan keselamatan dan bentuk kepemimpinan Kristus hadir sebagai pelayanan nyata bagi banyak orang (Mrk. Dengan demikian, reinterpretasi munus triplex secara transformatif tidak mengganti struktur klasik, melainkan memperluas maknanya secara relevan untuk konteks gereja kontemporer. Implikasinya, reinterpretasi ini tidak berhenti pada pelabelan tiga jabatan. Reinterpretasi ini membaca setiap jabatan Kristus dalam dua modus lintas-jabatan: dan pelayanan . Karena itu, kenabian dijalankan sebagai pewartaan yang bersahabat, yang mengangkat martabat mereka yang jauh dan terasing, serta sebagai pewartaan yang melayani melalui pembebasan dan pemulihan nyata (Yoh 15:15. Luk 4:18-. Keimaman dijalankan sebagai pengantaraan yang penuh simpati dan dekat dengan kelemahan manusia, serta sebagai pelayanan yang mewujud dalam pemberian diri demi banyak orang (Ibr 4:15. Mrk 10:. Peran rajawi dijalankan sebagai kepemimpinan yang bersahabat, yang lembut, komunikatif, dan memberi ruang, serta sebagai kepemimpinan yang melayani dengan teladan kerendahan hati yang memerdekakan (Mat 21:5. Yoh 18:37. Luk 22:. Munus triplex transformatif mempertemukan kekayaan doktrinal dengan konteks kekinian. Ia menerjemahkan dukungan persahabatan Kristus . elasi dan partisipas. dan teladan pelayanan Kristus . galiter dan keadilan sosia. ke dalam tugas nabi, imam, raja tanpa mengorbankan struktur sakral mereka. Dengan Kreider. AuJesus the Messiah as Prophet. Priest, and King,Ay 178. Gagasan ini senada dengan desakan untuk mengingatkan kembali para pempimpin, bahwa Paulus dan Yesus adalah diakonos Agustin Soewitomo Putri dan Elkana Chrisna Wijaya. AuKonstruksi Teologia Persahabatan Melalui Pemaknaan Koinonia dalam Bingkai Moderasi Beragama,Ay Jurnal Teologi Gracia Deo 4, no. : 395, doi:10. 46929/graciadeo. Konstruksi ini juga dipertegas oleh Besly Mesakh, yang menghubungan persahabatan Yesus untuk hadir memulihkan, menghibur, dan melayani dengan rendah hati, khususnya dalam pelayanan pastoral gereja. Lih. Besly Yermy Tungaoly Messakh. AuMenjadi Sahabat bagi Sesama: Memaknai Relasi Persahabatan dalam Pelayanan Pastoral,Ay GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian 5, no. : 9Ae10, doi:10. 21460/gema. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. demikian, gereja diharapkan menjadi komunitas persahabatan yang aktif melayani membangun relasi batin yang kuat sekaligus menjawab tantangan dunia dengan kasih dan keadilan. 56 Gereja sebagai sahabat dunia tidak bertindak memaksa, melainkan meneladani Kristus yang mempersuasi, bukan mendominasi, dan membuka ruang partisipatif dalam kasih yang rela menderita. 57 Dapat dikatakan bahwa integrasi relasional-aksional dalam munus triplex transformatif menawarkan kerangka yang kaya secara doktrinal, kontekstual dalam penerapan, dan menyeimbangkan perhatian spiritual sekaligus sosial. Upaya untuk mempertahankan struktur klasik munus triplex melalui reinterpretasi juga dilakukan oleh Gregory John Liston. Dalam terang teologi eskatologis-pneumatologis, pendekatan ini menemukan dimensi kekuatan baru. Liston menegaskan bahwa melalui karya Roh Kudus, ketiga jabatan Kristus . abi, imam, dan raj. mengalir dari waktu ilahi ke dalam realitas gereja masa kini. Jabatan nabi membawa pewahyuan rekonsiliasi, imam menghadirkan persekutuan ontologis, dan raja mengarahkan pada transformasi menuju kepenuhan masa depan Allah. 58 Dengan demikian, munus triplex transformatif bukan hanya mempertahankan kontinuitas historis, tetapi juga menghadirkan partisipasi gereja dalam gerakan kasih dan kekudusan Allah yang terus bekerja di dalam sejarah. Gereja, dalam hal ini, tidak sekadar menerima warisan jabatan Kristus, melainkan diundang untuk menghidupinya secara dinamis melalui Roh Kudus. Simpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa reinterpretasi munus triplex transformatif melalui lensa relasional . dan aksional . menawarkan koreksi terhadap kecenderungan ekspansi jabatan pada Moltmann dan Nugent tanpa menambah jabatan baru. Pertama, gagasan munus quadruplex memiliki dukungan patristik relatif terbatas, sedangkan triplex berakar pada sumber biblis, historis, dan oleh karena itu perluasan makna lebih tepat daripada penambahan Reinterpretasi jabatan Kristus sebagai raja dan imam dalam terang persahabatan tidak menihilkan fungsi kenabian. Justru seperti yang ditunjukkan oleh Adiprasetya. Gereja dipanggil untuk tampil dengan wajah ganda: sebagai nabi yang mengkritik empire dan sebagai sahabat yang merengkuh korban empire. Lih. Joas Adiprasetya. AuNabi dan Sahabat: Teologi Publik sebagai Keterlibatan Simbolis,Ay BIA 5, no. : 296Ae97. Joyada Eliezer Hasian Gultom. AuKristus Sang Undangan Ae Redefinisi Allah sebagai Sahabat yang Persuasif dan Bukan Memaksa,Ay Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika 6, no. : 347, doi:10. 34081/fidei. Gregory John Liston. AuEschatology and the Munus Triplex: The Threefold Anointing of the Spirit in Time,Ay Journal of Reformed Theology 14, no. : 342Ae43, doi:10. 1163/15697312-bja10006. Munus Triplex Transformatif, . (Janrio Fernando Siagia. A(Petrus Yuniant. Kedua, pada tataran kepemimpinan, dimensi relasional mengoreksi ( Santy Sahartia. hierarkis yang kaku, sedangkan dimensi aksional menata kerja pelayanan secara terarah seraya menjaga batas otoritas liturgis . konsekrasi tetap dijalankan oleh pelayan tertahbi. Ketiga, kerangka ini mengurangi ambiguitas praksis melalui orientasi yang konkret: pewartaan bersahabat yang memerdekakan . , pengantaraan yang solider dan memulihkan . , serta kepemimpinan yang melayani dan membentuk habitus keadilan . Ketika AusahabatAy dan AupelayanAy dipahami sebagai modus yang meresapi ketiga jabatan, kontinuitas doktrinal terpelihara sekaligus memperluas ruang praksis umat. Karena itu, lahir kerangka kerja yang dapat diterapkan bagi pewartaan, pelayanan pendamaian, dan kepemimpinan gereja pada konteks masa Daftar Pustaka