Jurnal Satyagraha. Vol. No. Pebruari Ae Juli 2020 ISSN :2620-6358 KONTRIBUSI WISATA BUDAYA AuMEGIBUNGAy TERHADAP PENGEMBANGAN PARIWISATA DESA ADAT ASAK Ni Wayan Ari Sudiartini1 Ni Ketut Murdani2 I Dewa Nyoman Usadha3 dan Agustina Nae Taek4 Program Studi Manajemen . Fakultas Ekonomi. Universitas Mahendradatta Bali Jl. Ken Arok No. 12 Peguyangan Denpasar Utara. Bali 80115 info@mahendradattauniversity. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tradisi megibung serta untuk mengetahui sejarah megibung. Tradisi Megibung diperkenalkan oleh Raja Karangasem yaitu I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem sekitar tahun 1614 Caka atau 1692 Masehi. Tradisi ini dibawa oleh I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem saat menang perang dalam menaklukan kerajaan-kerajaan di Sasak. Lombok. Dahulu, saat prajurit sedang makan. Sang Raja membuat aturan makan bersama dalam posisi melingkar yang dinamakan Megibung. Bahkan. Sang Raja ikut makan bersama dengan para prajuritnya Tata cara megibung yaitu warga menyiapkan makanan di atas nampan yang sudah dialasi daun Nasi utih yang diletakkan di wadah itu disebut gibungan, sedangkan lauk dan sayurnya disebut karangan atau selaan. Dari hasil penelitian yang sudah di lakukan yaitu bahwa tradisi megibung ini terdapat beberapa nilai yang terkandung yaitu terdiri dari . Nilai kekeluargaan. Nilai kebersamaan,. Nilai relegius,dan . Nilai toleransi Kata Kunci : Desa Asak. Megibung. Wisata Budaya ABSTRACT This study was aimed to determine the megibung tradition and to know the history of megibung. The Megibung tradition was introduced by Raja Karangasem namely I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem around 1614 Caka or 1692 AD. This tradition was brought by I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem when he won the war in conquering the kingdoms in Sasak. Lombok. In the past, when the soldiers were eating, the King made the rules of eating together in a circular position called the Megibung. In fact, the King joined in the meal with his soldiers. The megibung procedure is that the residents prepare food on a tray covered in banana leaves. Utih rice placed in the container is called a roll, while the side dishes and vegetables are called garlands or interrupts. From the results of research that has been done is that the megibung tradition there are several values Ni Wayan Ari Sudiartini . Ni Ketut Murdani. I Dewa Nyoman Usadha dan Agustina Nae Taek Jurnal Satyagraha. Vol. No. Pebruari Ae Juli 2020 ISSN :2620-6358 contained, consisting of. Family values . Value of togetherness, . Religious value, and . Tolerance value Keywords: Asak Village. Megibung. Cultural Tourism Nomor 3 Tahun 2001 dan mengalami PENDAHULUAN perubahan menjadi Peraturan Daerah Bali Nomor 3 tahun 3003 tentang Desa Dalam peraturan daerah Bali telah Pakraman. Peraturan daerah ini pada dibuatkan peraturan khusus mengenai dasarnya tetap berpegang pada falsafah Tri Hita Karana, sebagai landasan dalam memperkuat kedudukan dan landasan pembuatan peraturan daerah di Bali. Dan eksistensi desa pakraman. Peraturan selanjutnya, istilah desa yang digunakan daerah tersebut yaitu Peraturan Daerah di Bali adalah desa pakraman sesuai Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2003 dengan maksud Peraturan Daerah Bali tentang Perubahan Kedua Peraturan Nomor 3 tahun 2003. Dalam Perda ini Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tahun diuraikan pengertian desa pakraman 2001 Tentang Desa Pakraman dan sebagai kesatuan masyarakat 6arma adat Lembaga Adat. Sebelumnya,istilah yang diProvinsi Bali yang mempunyai satu digunakan adalah desa adat sesuai kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 1986 masyarakat umat Hindu secara turuntentang Kedudukan. Fungsi,dan Peranan temurun dalam ikatan Kahyangan Tiga Desa Adat sebagai Kesatuan Masyarakat atau Kahyangan Desa yang mempunyai Hukum Adat dalam Provinsi Daerah wilayah tertentu dan harta kekayaan Tingkat I Bali. Desa adat sebagai desa sendiri serta berhak mengurus rumah dresta adalah kesatuan masyarakat 6arma tangganya sendiri. Dengan demikian adat di Provinsi Daerah Tingkat I Bali keberadaan desa pakraman telah diakui yang mempunyai satu kesatuan tradisi secara formal menurut perundangdan tata krama pergaulan hidup undangan Negara Kesatuan Republik masyarakat umat Hindu secara turun Indonesia dan menjadi landasan desa temurun dalam ikatan Kahyangan pakraman yang ada di Bali. Tiga(Kahyangan Des. yang mempunya Berdasarkann uraian latar belakang di tertentu,harta atas maka dapat di tarik beberapa sendiri,dan berhak mengurus rumah rumusan masalah sebagai berikut : Namun,Peraturan Seperti apa proses upacara megibung Daerah 6 Tahun 1986 tentang di laksanakan ? Kedudukan,Fungsi,dan Peranan Desa Bagaimana pengaruh megibung Adat sebagai 31Kesatuan Masyarakat terhadap pariwisata di Desa Adat Hukum Adat Provinsi Asak ? DaerahTingkat I Bali kemudian dianggap Aspek apa saja yang terkandung tidak sesuai lagi dengan perkembangan dalam upacara megibung ? zaman sehingga pada tahun 2001 diganti menjadi Peraturan Daerah Provinsi Bali Ni Wayan Ari Sudiartini . Ni Ketut Murdani. I Dewa Nyoman Usadha dan Agustina Nae Taek Jurnal Satyagraha. Vol. No. Pebruari Ae Juli 2020 KAJIAN TEORI Pengertian Megibung Megibung merupakan kegiatan yang dimiliki oleh masyarakat Karangasem yang daerahnya terletak di ujung timur Pulau Dewata. Tanpa disadari Megibung menjadi suatu maskot atau ciri khas Kabupaten Karangasem yang ibu kotanya Amlapura ini. Tradisi Megibung sudah ada sejak jaman dahulu kala yang keberadaannya hingga saat ini masih kerap kali kita dapat jumpai. Bahkan sudah menjadi sebuah tradisi bagi Masyarakat Karangasem itu sendiri didalam melakukan suatu kegiatan baik dalam upacara Keagamaan. Adat maupun kegiatan sehari-hari masyarakat apabila sedang bercengkrama maupun berkumpul dengan sanak saudara. Saat ini kegiatan megibung kerap kali dapat berlangsungnya Upacara Adat dan Keagamaan di suatu tempat di Karangasem. Seperti misalnya dalam Upacara Dewa Yadnya. Pitra Yadnya. Bhuta Yadnya. Rsi Yadnya dan Manusa Yadnya. Pada kegiatan ini biasanya yang punya acara memberikan undangan kepada kerabat serta sanak saudaranya guna menyaksikan prosesi kegiatan upacara keagamaan tersebut. Sehingga prosesi upacara dapat berlangsung Proses penyembelihan babi pun dilakukan sebagai salah satu menu di dalam mempersiapkan hidangan yang disebut Gibungan ini. Daging babi diolah sedemikian rupa dan di kasi bumbu tertentu sehingga daging yang mentah ISSN :2620-6358 menggugah selera seperti sate, lawar, soup . Gegubah/lempyong, pepesan serta yang lainnya. Menu yang dihidangkan dalam Megibung tidaklah harus daging babi, namun dading ayam, kambing serta daging sapi pun tidaklah Pengertian Pariwisata Menurut KBBI. Pariwisata atau turisme adalah suatu perjalan untuk rekreasi atau liburan dan juga persiapan yang dilakukan untuk aktivitas ini. Pariwisata perjalanan dengan tujuan memperoleh ,memperbaiki kesehatan, menunaikan tugas, berziarah (James J. Spillane,1. Pariwisata merupakan kegiatan perjalanan yang di lakukan oleh sementara waktu dari tempat tinnggal awal ke daerah tujuan dengan alasan bukan untuk menetap atau mencari nafkah melainkan hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu, menghabiskan waktu senggang maupun libur dan bisa sajas menghabiskan uang yang terlalu . oen Meyers,2. Pengertiann Wisata Budaya Wisata budaya adalah perjalanan yangdi lakukan oleh seseorang atau kelompok dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi,atau mempelajari daya Tarik budaya dengan memanfaatkan potensi budaya dari tempat yang di kunjungi. Tujuan dari wisata budaya ini yaitu :untuk alam,lingkungan,dan sumber daya. Untuk memajukan kebudayaan. Untuk Ni Wayan Ari Sudiartini . Ni Ketut Murdani. I Dewa Nyoman Usadha dan Agustina Nae Taek Jurnal Satyagraha. Vol. No. Pebruari Ae Juli 2020 mengangkat citra bangsa. Untuk memupuk rasa cinta tanah air. Untuk memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa,dan persahabatan antar bangsa. METODE PENELITIAN Metode Pengumpulan Data Dalam penyusunan tulisan ini di pakai metode penelitian lapangan (Field Researsc. yaitu :penelitian yang mendapatkann data langsung dari masyarakat setempat. Dengan penelitian ini, penullis berusaha mendapatkan data yang ada kaitanya dengan permasalahan yang di bahas. Dalam rangka penelitian lapangan, penulis menggunakan Teknik pengumpulan data interview atau wawancara yaitu proses tanya jawab secara lisan, dan Teknik pengumpula data observasi atau pengamatan secara langsung dengan obyek yang diteliti. Metode Analisis Data Dalam tahap ini penulis menggunakan teknik analisi data statistika yaitu teknik bagaimana cara-cara mengumpulkan data atau fakta,mengolah,menyajikan, dan menganalisa,penarikan kesimpulan serta pembuatan keputusan yang cukup beralasan berdasarkan fakta dan penganalisaan yang di lakukan HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Berdasarkan hasil wawancara dengan Ketut Sumetra selaku warga di Desa Adat Asak diperoleh informasi secara lisan maupun tertulis sebagai berikut: Menurut Bendesa Desa Adat Asak, tradisi megibung sudah dilakukan sejak jaman ISSN :2620-6358 dahulu oleh para leluhur dimana dalam mengandung nilai-nilai kesopanan, etika, perilaku yang secara implisit ada Megibung merupakan tradisi makan bersama dalam satu wadah dengan posisi duduk melingkar yang biasanya berjumlah 6-8 orang yang dilaksanakan secara turun temurun oleh masyarakat Karangasem. Mengenai asal muasal megibung yang dilaksanakan di Bali khususnya di Karangasem . ebagian di Lombok khususnya Lombok Bara. AuMegibung pemerintahan Kerajaan Karangasem yang pada waktu itu berhasil kerajaan-kerajaan Sasak, (Lombok sekaran. Kemudian beliau memberikan penghargaan dan selalu menekankan rasa kebersamaan untuk mencapai tujuan dan salah satunya perintah beliau adalah melalui makan bersama yang sampai saat ini disebut megibungAy Mustika, 2. Kalau disimak atau diperhatikan pelaksanaan mengandung pendidikan moral dan etika yang sangat dalam, ini tercermin dari menghidangan, dan menyantap/makan sampai selesainya Megibung dimaksud dilakukan secara tertib dan teratur sebagaimana dalam prakteknya yang sering kita lihat pada acara-acara Tradisi Megibung mengandung philosofi yang sangat tinggi yang diajarkan oleh leluhur terdahulu . Selalu mengutamakan/mempersembahkan Ni Wayan Ari Sudiartini . Ni Ketut Murdani. I Dewa Nyoman Usadha dan Agustina Nae Taek Jurnal Satyagraha. Vol. No. Pebruari Ae Juli 2020 terlebih dahulu kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sebagai sujud bakti dan astiti. ,Pendidikan moral . tika, tata tertib, sopan santun,kesabaran, rasa kebersamaan, kekeluargaan dan saling . Proses sesama manusia, yang awalnya tidak saling mengenal,maka pada saat megibung kita mendapat sahabat, dan persaudaraan menjadi luas. Melalui megibung tidak terjadi kastalisasi artinya kedudukan kita sama tidak memandang megibung(Mustika. Dengan demikian tradisi megibung sarat mengandung pendidikan moral yang sejak awal kita diajarkan untuk beretika , dimana hanya persoalan makan saja sudah seharusnya mengikuti sopan santun, apalagi perilaku lainnya yang menghormati yang lebih tua. Pembahasan Megibung merupakan salah satu tradisi leluhur,dimana merupakantradisi makan bersama dalam satu wadah. Selain makan bisa sampai puas tanpa rasa sungkan, megibung penuh nilai kebersamaan, bisa sambil bertukar pikiran,saling mengenal, lebih mempererat persahabatan sesame warga. Makan bersama atau megibung ini, dalam setiap satu wadah 6-8orang, merupakan wujud kebersamaan tidak ada perbedaan antara orang kaya maupun miskin juga perbedaan kasta ataupun warna, semua duduk berbaur dan makan bersama, tapi pada perkembangan berikutnya antara laki dan perempuan ISSN :2620-6358 dipisahkan, tapi kalau masih dalam satu keluarga ataupun tetangga, mereka memilih bergabung. Tradisi megibung sering digelar berkaitan dengan berbagai jenis upacara adat dan agama (Hind. , seperti upacara potong gigi,otonan anak, pernikahan, ngaben, pemelaspasan, dan piodalan di Pura. Seiring dengan kemajuan teknologi di berbagai bidang saat ini, tradisi megibung mengalami pergeseran dimana masyarakat mencari aspek kepraktisan dengan mengadopsi tata cara makan secara nasional yaitu Strategi dalam penelitian ini adalah suatu kesatuan rencana yang komprehensif dan terpadu untuk mencapai keunggulan bersaing dalam mencapai tujuan yang diwujudkan dalam program-program Siagian ,. Dalam hal ini pengembangan tradisi megibung untuk mampu dilestarikan sebagai bagian dari pelestarian budaya yang adiluhung ( Hurlock. , 1. (Setiawan, 2. Proses Upacara Megibung Persiapan (Tahap Mempersiapka. Pekerjaan awal yang perlu dilakukan sebelum tradisi megibung adalah Yadnya runtutannya yang perlu disiapkan karena akan terkait dengan ulam banten . aca Be Karanga. sebagai kelengkapan Banten, stelah diketahui baru menentukan Kerabat/kerama yang akan terlibat dalam menyiapkan sesaji itu sehingga mendapat perhitungan pasti berapa keperluan daging dan kelengkapan lainnya . ermasuk menyiapkan nas. , cara pengerjaannyapun dilakukan secara bersama-sama Ni Wayan Ari Sudiartini . Ni Ketut Murdani. I Dewa Nyoman Usadha dan Agustina Nae Taek Jurnal Satyagraha. Vol. No. Pebruari Ae Juli 2020 kekeluargaan dan kegotongroyongan yang tercermin mulai saat menyiapkan peralatan sampai membagi pekerjaan atau tugas Tata Cara Makan /Megibung Posisi megibung adalah melingkar yang menurut tradisi terdiri dari 8 . orang sesuai arah mata angin dan ditengah adalah hidangan . Kalau diperhatikan secara philosofi dapat diartikan bahwa pengaturan tempat duduk sudah mengandung nilai tinggi yaitu 8 terkait dengan astadala ditambah di tengah menjadi Sembilan . yang artinya kita selalu ingat akan Sembilan kekuatan yang disebut Dewata Nawa Sanga yang menciptakan keseimbangan dan keharmonisan alam semesta ini artinya sebelum kita memulai menyantap makanan/hidangan gibungan itu, selalu didahului dengan memohon kehadapan Beliau yang telah menciptakan alam dengan segala isinya, memberikan kesejahteraan bagi mahluk yang ada di buana . Artinya setiap pelaksanaan tradisi megibung harus didahului dengan memohon keselamatan alam beserta isinya kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Namun seiring perkembangannya sekarang jumlah anggota dalam satu sela terdiri dari 6 orang , dengaan alasan factor kenyamanan duduk berenam, walaupun secara etika tidak mengurangi arti atau makna megibung itu sendiri. Dari penataan tempat duduk yangmelingkar ISSN :2620-6358 itu yang terdiri dari 8 . orang ada keunikan dan etika di dalamnya yaitu: Diantara 8 . orang yang duduk melingkar itu kemungkinan belum saling kenal. Tradisi yang masih kental di golongangolongan /strata sosial tertentu, dimana tempat duduk di saat megibung kondisi strata tidak berlaku. Bagi golongan tertentu yang dianggap tinggi atau krama yang dianggap lebih tua selalu dipersilahkan duduk terlebih dahulu dan posisinya di arah utara atau timur tepatnya timur laut sebagai penghormatan. Krama yang lainnya dipersilahkan duduk selanjutnya menempati posisi yang sudah tersedia. Anggota yang duduk di posisi timur laut berperan sebagai pengenter artinya yang bertugas mengisi lauk pauk perjenis lauk ke atas nasi gibungan sesuai urutan/tahapannya, dilanjutkan dengan mengucapkan sampun sayaga . udah siap untuk menikmat. Menikmati hidangan didahulukan orang yang lebih tua, dilanjutkan oleh anggota yang lain. Pada saat mulai megibung ada aturan-aturan yang harus nurunkan/membagikan daging karangan didahului dengan sayur, adonan lawar, daging/balung, terakhir sate. Pada saat makan tidak boleh menaruh sisa makanan tersebut di atas tempat gibungan,melainkan dibawah/ di muka tempat duduk makanan tidak boleh berserakan, apalagi lewat ke tempat duduk di Nasi atau daging hanya boleh Ni Wayan Ari Sudiartini . Ni Ketut Murdani. I Dewa Nyoman Usadha dan Agustina Nae Taek Jurnal Satyagraha. Vol. No. Pebruari Ae Juli 2020 diambil yang ada dihadapan kita dan tidak boleh mengambil makanan di tempat atau wewidangan orang lain di sebelah kita. Membagi daging/lauk tidak boleh menggunakan mulut. Air minum yang disediakan pada kendi (Carata. , pada saat minum, bibir tidak boleh menyentuh mulut kendi. Setelah selesai megibung tidak boleh mendahului bangun atau pergi, melainkan harus terlebih dahulu menunggu semua kelompok yang megibung sudah selesai makan,artinya mulai bersama-sama, selesaipun bersama-sama. Pengaruh Megibung Terhadap Pariwisata Sampai saat ini tradisi megibung masih dipertahankan dari generasi ke generasi. Walaupun dalam perjalanannya tradisi megibung ini mengalami perubahanperubahan. Perubahanperubahan seperti halnya peralatan yang digunakan pada masa lalu dan masa kini mengalami perubahan yang sangat pesat. Meskipun di beberapa desa di luar Desa Adat Asak tradisi megibung sudah mulai terkikis karena adanya pola makan yang lebih modern seperti makan prasmanan yang sedang trend di masyarakat saat ini. Makan dengan prasmanan dianggap lebih modern dan lebih tinggi status Masyarakat yang mengadakan acara yadnya, yang menghidangkan makan pada para tamunya dianggap kuno dan ketinggalan jaman, serta memiliki status sosial yang rendah. Sebaliknya masyarakat yang mengadakan acara ISSN :2620-6358 yadnya yang menyuguhkan makan dengan cara prasmanan dianggap sebagai keluarga pejabat yang modern serta memiliki status sosial yang tinggi. Anggapananggapan seperti itu tentu saja akan mengancam eksistensi tradisi megibung. Karena, akan dapat menyebabkan tradisi ini ditinggalkan masyarakat. Akan tetapi hal tersebut tidak terjadi dalam masyarakat Desa Adat Asak, hal tersebut terbukti sampai saat ini tradisi megibung masyarakat Desa Adat Asak. Setiap dalam upacra keagamaan seperti upacara dewa yadnya, pitra yadnya, maupun Berdasarkan hasil pengamatan bahwa dalam megibung melalui beberapa proses yaitu proses persiapan, proses pengolahan, dan proses megibung. Adapun upaya pemerintah desa mempertahankan tradisi megibung dari segi sebagai penentu kebijakan kepada kelihan banjar dinas agar menyampaikan kepada masyarakat bahwa megibung adalah tradisi yang harus dijaga dan dilestarikan untuk mempererat persatuan dan kesatuan Usaha-usaha yang sudah masyarakat Desa Adat Asak untuk diantaranya dengan terus mengadakan masyarakat, sehingga secara tidak langsung megibung sudah menjadi kebiasaan di masyarakat. Adapun upayaupaya kepada masyarakat untuk menghimbau Ni Wayan Ari Sudiartini . Ni Ketut Murdani. I Dewa Nyoman Usadha dan Agustina Nae Taek Jurnal Satyagraha. Vol. No. Pebruari Ae Juli 2020 Tidak ada kendala dan tidak ada ancaman dalam pelestarian tradisi Aspek Yang Terkandung Dalam Upacara Mengibung Nilai kekeluargaan Pelaksanaan megibung telah memupuk nilai kekeluargaan di dalam kehidupan masyarakat Desa Adat Asak. Hal tersebut terlihat dari proses megibung yang pengerjaannya selalu dilakukan secara Semua proses pembuatan gibungan mulai dari persiapan sampai selesai megibung dilakukan untuk masyarakat Desa Adat Asak. Dalam megibung orang tidak memandang status sosial, tidak membedakan kaya atau miskin, ganteng atau cantik, berkasta atau tidak. Semua orang duduk menjadi satu dan makan makanan yang sama dalam satu wadah. Dengan cara seperti itu akan menghindarkan seseorang dari rasa ego yang dapat menjadi jurang pemisah di masyarakat karena adanya perbedaan status sosial dan mempererat rasa kesatuan di dalam masyarakat. Nilai kebersamaan Semangat gotong royong sangat kental terlihat dalam pelaksanaan megibung, nilai kebersamaan tersebut terpancar sejak mulai dari persiapan bahan dan alat sampai pada proses selesaI megibung. Ketika pelaksanaan upacara yadnya masyarakat Desa Adat Asak. membahu serta bekerjasama guna menyiapkan bahan dan alat yang akan digunakan untuk membuat gibungan. Semangat kerja keras dari masyarakat Desa Adat Asak. tersebut dilaksanakan secara tulus dan tanpa mengharapkan Setelah semua persiapan ISSN :2620-6358 selesai, maka gibungan akan disebar mencari tempat yang luas dan tuan rumah akan mempersilahkan undangan untuk megibung, kemudian para undangan akan saling mengingatkan untuk makan dan masing-masing undangan akan membagi diri membentuk kelompok menjadi delapan orang dan ecara bergilir Sementara undangan yang belum dapat giliran makan secara sukarela akan melayani semua permintaan yang diperlukanoleh undangan yang sudah dapat giliran makan seperti air minum, sayur, dan yang lainnya. Begitu juga sebaliknya, undangan yang sudah selesai makan akan melayani undangan yang belum mendapat giliran makan. Nilai religius Nilai lain yang juga terkandung di dalam tradisi megibung adalah nilai-nilai Nilai-nilai religius ini sangat kental terlihat dalam setiap tahapan maupun proses pelaksanaan megibung. Hal tersebut dikarenakan, secara tidak langsung tradisi megibung sangat berkaitan dengan upacara yadnya baik upacara manusia yadnya, pitra yadnya, maupun dewa yadnya. Dikatakan demikian karena kegiatan megibung biasanya dilaksanakan saat ada upacara Megibung tidak hanya sekedar makan bersama, dalam megibung terdapat banyak makna tersebut,oleh karena itu dalam setiap tahapan pembuatan gibungan selalu berpedoman pada ajaran agama hindu. Nilai-nilai religious tersebut terkandung dalam proses megibung, yaitu ngejot. Ni Wayan Ari Sudiartini . Ni Ketut Murdani. I Dewa Nyoman Usadha dan Agustina Nae Taek Jurnal Satyagraha. Vol. No. Pebruari Ae Juli 2020 Ngejot pelaksanaan megibung yakni dengan menghaturkan gibungan kepada para leluhur, para dewa, dan bhuta kala, sebagai wujud syukur kepada tuhan yang maha esa, ida sanghyang widhi wasa, karena telah diberikan rejeki yang Sebelum dilaksanakan, tuan rumah yang memiliki acara akan terlebih dahulu ngejot kepada para dewa dan leluhur serta bhuta kala agar mendapatkan pahala atau surga Nilai Toleransi Toleransi dalam tradisi megibung ialah saling menghargai antar sesama dan tidak membeda-bedakan status sosial yang ada dalam masyarakat tersebut dan saling Dengan adanya nilai toleransi maka tradisi megibung dapat dilaksanakan dengan baik. Kesimpulan Tradisi megibung adalah salah satu tradisi yang memiliki nilai Aenilai etika, moral, dan kesopanan yang tinggi yang sangat mulia yang di dalamnya banyak meningkatkan rasa kekeluargaan dan membedakan derajat, status sosial. Proses persiapan, pengolahan, dan penyajian hidangan megibung secara umum dilakukan bersama-sama oleh anggota banjar . utamanya krama laki-laki, dan dipimpin oleh seorang juru patus atau belawa, hal bermakna semangat gotong royong yang sangat Selanjutnya ISSN :2620-6358 masyarakat yang menganggap tradisi megibung kurang elegan atau kurang mewah dari sisi status sosial, kurang beralihnya pola makan bersama ke pola prasmanan, padahal sesungguhnya pola megibung jauh memiliki makna yang mendalam yang diajarkan secara tidak langsung oleh para leluhur terdahulu. Oleh karena itu sudah seharusnya menjadi kewajiban generasi muda untuk melestraikan, menjaga tradisi-tradisi yang luhur, syarat makna. Khusus di desa Adat Asak , tradisi megibung akan dimasukkan dalam prarem . wig-awig des. sebagai salah satu peraturan yang wajib dilaksanakan minimal pada acaraacara adat. Selain itu seiring kemajuan IPTEKS di era globalisasi saat ini, peranan media sosial, internet menjadi sangat penting. Oleh karena itu strategi lainnya yaitu melalui pengenalan tradisi megibung pada situs website, sehingga tradisi megibung bisa dikenal luas oleh masyarakat Bali secara khusus dan masyarakat lainnya secara umum. Dengan demikian tradisi ini akan tetap lestari sepanjang masa. Saran Seiring berjalannya waktu maka akan semakin banyak terjadi suatu perubahan, hal ini akan menjadi sebuah tantangan saran saya bagi masyarakat desa Adat Asak untuk tetap menjaga tradisi sehingga Tradisi megibung tidak menjadi tradisi yang punah Daftar Pustaka