Berkala Ilmiah Pendidikan Volume 4 Nomor 3. November 2024 scidac plus PROBLEMATIKA KUALITAS IMAM PADA MASJID BAKTI DESA BAILANGU KEC. SEKAYU KAB. MUSI BANYUASIN Lesti Febrianti*. Anang Walian Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Indonesia lestifebrianti080201@gmail. Abstrak Penelitian ini berjudul AuPromblematika Kualitas Imam pada Masjid Bakti Desa Bailangu Kec. Sekayu Kab. Musi BanyuasinAy. Penelitian ini dilatarbelakang oleh fenomena hasil penelitian pendahulu yang menyimpulkan kurangnya kualitas imam pada masjid Bakti Desa Bailangu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengarui kualitas imam dan bagaimana upaya pihak pengelola masjid dalam meningkatkan kualitas imam di masjid Bakti Desa Bailangu. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan destkiftif. Adapun teknik pengumpulan data meliputi teknik ovservasi, wawancara dan dokumentasi dengan menggunakan sumber data primer dan Sedangkan dalam teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian bahwa masih kurangnya kulalitas imam pada masjid Bakti Desa Dailangu Kec. Sekayu Kab. Musi Banyuasin, yang disebabkan adanya beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas imam baik berupa kehandalan . , daya tanggap . , jaminan . , empati . , dan bukti fisik . Selain itu adapun upaya pihak pengelola masjid dalam meningkatkan kualitas imam di Masjid Bakti Desa Bailangu berupa mengadakan pelatihan dan program pengembangan profesional bagi imam. Serta menyediakan pendampingan atau mentoring oleh pengurus masjid atau imam senior kepada imam baru selain itu memastikan fasilitas dan sarana yang memadai untuk mendukung pelaksanaan ibadah. Kata Kunci :Problematika. Kualitas Imam. Masjid Bakti Abstract This research is entitled AuPromblematics of Imam Quality at the Bakti Mosque in Bailangu Village. District. Sekayu District Musi BanyuasinAy. This research was motivated by a phenomenon resulting from previous research which concluded that there was a lack of quality of imams at the Bakti mosque in Bailangu Village. The aim of this research is to find out the factors that influence the quality of the imam and how the mosque management attempts to improve the quality of the imam at the Bakti Mosque in Bailangu Village. The approach used in this research is a qualitative method with a descriptive approach. The data collection techniques include observation, interviews and documentation techniques using primary and secondary data Meanwhile, the data analysis techniques used are data reduction, data presentation and drawing Based on the research results, there is still a lack of quality priests at the Bakti Mosque in Dailangu Village. District. Sekayu District Musi Banyuasin, which is caused by several factors that influence the quality of priests in the form of reliability, responsiveness, assurance, empathy and physical evidence. Apart from that, there are efforts by the mosque management to improve the quality of imams at the Bakti Artikel ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 International License A 2024 Lesti Febrianti. Anang Walian Mosque in Bailangu Village in the form of holding training and professional development programs for imams. As well as providing assistance or mentoring by mosque administrators or senior imams to new imams in addition to ensuring adequate facilities and means to support the implementation of worship Keywords: Problems. Imam Quality. Bakti Mosque PENDAHULUAN Masjid adalah tempat di mana umat Islam berkumpul untuk melaksanakan ibadah, memperdalam pemahaman agama, dan berinteraksi sosial. Kata masjid berasal dari kata sajada. AubersujudAy yang memiliki arti masjid didirikan sebagai tempat untuk bersujud (Hidayat, 2. mencerminkan esensi tempat ini sebagai tempat ibadah dan penghormatan kepada Allah SWT. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat shalat, tetapi juga sebagai pusat pendalaman agama, sosialisasi, serta berbagai kegiatan sosial dalam komunitas Dalam praktik ibadah sehari-hari, shalat adalah rukun utama dalam Islam, dan melaksanakannya dengan baik adalah suatu kewajiban. Salah satu syiar yang agung dalam Islam adalah shalat berjamaah di Orang-orang muslim sepakat bahwa melaksanakan shalat fardhu di masjid merupakan salah satu ketaatan yang sangat dianjurkan dan ibadah yang paling besar untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan, shalat fardhu di masjid dengan berjamaah merupakan syiar yang paling besar dan paling tampak dalam islam. Shalat berjamaah dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW dan memiliki nilai yang tinggi dalam Islam. Imam, sebagai pemimpin shalat, memiliki peran sentral dalam menentukan kualitas pelaksanaan shalat Shalat menurut bahasa adalah doa (Hawwas. Sayyed, & Wahhab, 2. Sedangkan menurut istilah syaraAo adalah suatu aktifitas yang terdiri dari beberapa ucapan dan pekerjaan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, dengan beberapa syarat tersebut. Jadi, shalat yang dimaksud adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang sebagai bentuk kepatuhan seorang hamba kepada penciptanya dengan cara shalat yaitu ibadah yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir, diakhiri dengan salam, dan memenuhi beberapa syarat yang ditentuka. Sedangkan pengertian shalat berjamaah secara etimologi adalah shalat yang dikerjakan secara bersama-sama, paling sedikit dikerjakan oleh dua orang, yang satu berdiri didepan sebagai imam yang memimpin sholat berjamaah dan yang satu lagi berdiri dibelakang imam sebagai makmum yang mengikuti Kata shalat, jamaknya adalah shalawat yang berarti menghadapkan segenap pikiran untuk bersujud, bersyukur, dan memohon bantuan (Rajab, 2. Sedangkan Kata jamaah diambil dari kata al-ijtimaA yang berarti kumpul (As-Syafi"i, p. Sedangkan jamaah berarti sejumlah orang yang dikumpulkan oleh satu Pengertian shalat berjamaah secara etimologi adalah shalat yang dikerjakan secara bersama-sama, paling sedikit dikerjakan oleh dua orang, yang satu berdiri didepan sebagai imam yang memimpin sholat berjamaah dan yang satu lagi berdiri dibelakang imam sebagai makmum yang mengikuti imam (Anas & dkk. Shalat berjamaah hukumnya adalah sunnah muakkad . angat dianjurka. , terdapat banyak hadits yang menjelaskan tentang keutamaan shalat berjamaah, salah satu haditsnya yaitu : Artinya AuDari Abdullah Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sholat berjama'ah itu lebih utama dua puluh tujuh derajat dari pada sholat " (Muttafaq Alaih. (Sabiq, 2. Imam adalah setiap orang yang diikuti sebagi panutan atau pemimpin. Dan menunjuk imam adalah sebuah kewajiban SyarAi dan termasuk hal-hal yang wajib menurut kesepakatan ulama dengan disyaratkan seorang imam itu adalah seorang muslim, merdeka, laki-laki, berakal, balig, dan berasal dari suku Quraisy. Namun tidak disyaratkan bani Hasyim atau dari keturunan Ali r. (Az-Zuhaili, 2. Menjadi imam adalah tugas agama yang penting. Pada masa Rasulullah dipegang oleh beliau sendiri. Setelah beliau wafat tugas tersebut dipegang langsung oleh para khulafaur Rasyidin. Abu Bakar as-Sidiq. Umar bin Khatab. Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Yang paling layak menjadi imam adalah orang yang bacaan al-qurAoan paling baik, yaitu orang mengetahui makhraj-makhraj . empat-tempat kelua. huruf, mampu melafalkanya dengan tanpa kesalahan, dan mampu menerapkan kaidah-kaidah tajwid dalam membaca al-qurAoan tanpa dipaksakan. Di samping itu, juga mengetahui fikih shalat dan hal-hal yanng harus dipenuhi di dalamnya seperti syaratsyarat, rukun-rukun, kewajiban-kewajiban serta semua yang membatalkan shalat. Masjid Bakti Desa Bailangu adalah salah satu masjid yang terletak di Kecamatan Sekayu. Kabupaten Musi Banyuasin. Provinsi Sumatra Selatan. Masjid Bakti sebagai salah satu pusat ibadah penting dalam komunitas muslim Desa Bailangu yang memiliki peran sentral dalam menjaga keutamaan agama dan moralitas masyarakat setempat, seperti shalat jumAoat, shalat lima waktu, salat idul fitri dan idul adha, shalat tarawih, pengajian dan menjadi tempat berlangsungnya akad nikah. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan pengurus masjid Desa Bailangu. Menurut Netral, sebagaimana keadaan yang terjadi di Masjid Bakti Desa Bailangu, ada beberapa oknum yang berlomba-loma menjadi imam dengan rasa percaya diri seakan tanpa beban memimpin shalat berjamaah jamaAoah untuk menghadap Penguasa langit dan bumi. Tapi bacaan dan gerakan shalatnya masih ada kesalahan ataupun kekeliruan (Netral, 2. Menurut Dedi, ada yang menjadi imam yang usia nya sudah cukup tua hingga pelafasan bacannya kurang jelas. Hal ini menciptakan rasa ketidak puasan di kalangan jamaah dan menimbulkan ketidak pastian tentang kualitas pelaksanaan shalat berjemaah di masjid. (Dedi, 2. Penelitian yang relevan dengan judul penelitian ini: pertama penelitian dari Bambang Sutrisno, tahun 2023 dengan judul jurnal AuMeningkatkan Kemakmuran Masjid Melalui Regulasi Pemilihan Ketua BTM Dan ImamAy. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: . faktor-faktor yang mempengaruhi kemakmuran masjid, . upaya pemerintah dalam memakmurkan masjid, dan regulasi pemilihan ketua BTM dan Imam untuk memakmurkan masjid. Hasil penelitian : . Faktor-faktor yang menpengaruhi kemakmuran masjid di Sulawesi Utara antara lain: . Sarana prasarana. Teknologi. Kepengurusan takmir masjid. Pendanaan. Program dan kegiatan. Partisipasi jamaah. Pemerintah menganut pola simbiotik, tidak bermaksud mengatur masjid sebagai tempat suci umat Islam dengan segala peran dan fungsinya. Tetapi dalam upaya memakmurkan masjid, pemerintah melalui Kementerian Agama berupaya menertibkan pengelolaan masjid melalui penerbitan: . Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 54 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Masjid. Kepdirjen No. Tahun 2017 tentang Penetapan Standar Imam Tetap Masjid. Kepdirjen No. DJ. II/802 Tahun 2014 tentang Standar Pembinaan Manajemen Masjid. Kepdirjen No. 948 Tahun 2018 tentang Pedoman Pembinaan Remaja dan Pemuda Masjid. Adapun persamaan penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif dan membahas tentang masjid dan imam. Namun perbedaan peneliti terdahulu dengan penelitian ini adalah lokasi dan fokus yang lebih spesifik yaitu kualitas imam. (Sutrisno, 2. Kedua penelitian Muhammad Fadhil, tahun 2018 dengan judul skripsi AuStandarisasi Imam Menurut Bimbingan Masyarakat Islam Kementrian Agama (Bimas Islam Kemena. Dan Reqalisasinya Di MasjidMasjid Kec. Batang Kuis Kab. Deli SeredangAy tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui standarisasi imam masjid yang ditetapkan oleh Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama serta realisasinya di masjidmasjid Kec. Batang Kuis Kab. Deli Serdang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masjid yang dimaksud oleh Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama dalam penetapan standar imam tetap masjid terbagi menjadi tujuh tipe masjid, dan standar imam masjid disesuaikan dengan tipologi masjid karena setiap tipe masjid berbeda standarisasinya. Di Kecamatan Batang Kuis terdapat lima masjid yang termasuk kedalam tipologi masjid Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama dalam penetapan standar imam masjid dan hanya tiga masjid yang memiliki imam tetap yang sesuai dengan standar imam masjid Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, sedangkan pada dua masjid lainya belum memiliki imam tetap yang sesuai dengan standar imam masjid Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama. Terlaksana atau tidaknya ketentuan standarisasi imam Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama disebabkan oleh faktor pendukung dan faktor yang menjadi kendala terlaksananya ketentuan standar imam tersebut di masjid-masjid Kec. Batang Kuis. Adapun persamaan penelitian ini sama-sama mengunakan metode kualitatif dan membahas imam masjid. Namun terdapat perbedaan pada peneliti terdahulu yaitu menggunakan bebrapa masjis sebagi objek penelitian untuk menganalisis standarlisasi kualitas imam yang di tetapkan oleh Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Kec. Batang Kuis Kab. Dei Serdang. Sedangkan penulis menjadikan masjid bakti desa bailangu sebagai (Fadhil, 2. Ketiga penelitian Riski Rabe, tahun 2019 dengan judul skripsi AuKualitas Bacaan Al-QurAoan Imam Masjid Di Kecamatan Ciputat TimurAy Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas bacaan AlQurAan imam-imam masjid di Kecamatan Ciputat Timur dan untuk mengetahui latar belakang pengetahuan imam tentang ilmu tajwid. Berdasarkan Hasil penelitian dan analisa penulis bahwa kualiatas bacaan AlQurAan yang mencapai kategori sangat baik yakni hampir sesuai dengan Metode Maisyry dan dilihat dari 15 standar permasalahan ada 5 masjid yaitu imam masjid At-Taqwy . idak terdapat kesalahan bacaa. , imam masjid Baiturrahmah . erdapat 1 kesalahan bacaa. , imam masjid An-Nyr Griya Mandiri . erdapat 1 kesalahan bacaa. , imam masjid Al-Muhyjiryn . erdapat 2 kesalahan bacaa. dan imam masjid Al-Ikhlys . erdapat 3 kesalahan bacaa. Kualitas bacaan Al-QurAan kategori baik yaitu beberapa bacaan Al-QurAan imam belum sesuai dengan Metode Maisyry. Yang mencapai kategori tersebut hanya 1 masjid yaitu imam masjid An-Nyr . erdapat 5 kesalahan bacaa. Kualitas bacaan Al-QurAoan kategori cukup yaitu sebagian besar bacaan Al-QurAan imam tidak sesuai dengan Metode Maisyry. Yang mencapai kategori tersebut ada 2 masjid yaitu imam masjid Nyrul yamyn . erdapat 10 kesalahan bacaa. dan imam masjid Al-Istiqymah . erdapat 14 kesalahan bacaa. Persamaan penelitian ini dengan yang terdahulu yaitu objek penelitian yaitu imam. Sedangkan perbedaannya terletak pada objek permasalahannya dalam skripsinya peneliti fokus kepada kualitas bacaan Al-QurAan imam-imam masjid yang ada di Kecamatan Ciputat Timur, sedangkan penulis hanya fokus kepda problematika kualitas imam. (Rabe, 2. Keempat penelitian Maryani, tahun 2020 dengan judul skripsi AuStrategi Imam Dalam Meningkatkan Kualitas Dan Kuantitas Jama'ah Di Masjid Darussalam Desa Air Kemuning Kecamatan Sukaraja Kabupaten SelumaAy. Adapun Hasil penelitian Strategi Dakwah Imam Masjid Darussalam Air Kemuning Kecamatan Sukaraja Kabupaten Seluma Dalam Meningkatkan Jamaah adalah dengan melakukan pengajian setiap bulannya di Masjid Darussalam dan terbuka untuk umum baik agi masyarakat setempat maupun di luar lingkungan tersebut tanpa terkecuali baik bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak, dan remaja. Selanjutnya. Imam Masjid Darussalam juga memilih khatib berkualitas dari pengalaman dan juga materi agar masyarakat lebih tertarik lagi untuk salat berjamaah di Masjid tekhusus saat Jumat. Strategi yang terakhir yaitu dengan melakukan kultum sesuai salat maghrib yang biasanya dibawakan oleh Imam Masjid Darussalam Faktor Pendukung Imam Masjid Darussalam dalam Meninggatkan Jamaah yaitu respon baik yang diberikan oleh pemerintah desa yakni dengan adanya keselarasan program dari pengurus dan pemerintah desa sehingga pengurus Masjid Darussalam merasa sangat terbantu dengan dukungan tersebut. Sedangkan faktor penghambat Imam Masjid Darussalam dalam meningkatkan jumlah jamaah yaitu karena kurangnya pastisipasi dari pemuda setempat serta bacaan Imam yang panjang yang membuat masyaakat sedikit jenuh untuk melaksanakan salat berjamaah di Masjid. Adapun Persaman penelitian maryani dengan penelitian ini adalah sama-sama menggunakan jenis peneelitian kualitatif. Perbedaan penelitian terdahulu berfokus kepada strategi imam dalam meningkatkan jumlah jamaah di masjid. Sedangkan penelitian ini fokus terhadap kualitas (Maryani, 2. Kelima penelitian Hafniya Turohmah, tahun 2019 dengan judul AuPemahaman Tokoh Agama Terhadap Hadis Tentang Kriteria Imam Salat (Studi Di Desa Mandiraja Wetan Kab. Banjarnegar. Ay. Penelitian ini merupkan Field Research (Penelitian lapanga. , dengan observasi dan wawancara. Hasil Penelitian Para tokoh agama Desa Mandiraja Wetan memahami hadits tentang kriteria imam tersebut dengan kondisional, para tokoh agama juga telah mengetahui beberapa hadits lainnya tentang karater imam shalat. Dan terdapat banyak perbedaan pemahamaannya. Perbedaan pendapat sangat dimaklumi selagi tokoh agama tersebut mempunyai dalil atau pedoman sendiri. Karena adanya perbedaan pemahaman tersebutlah yang menjadi salah satu faktor adanya permasalahan tersebut. Adapun keterkaitan pemahaman tokoh agama dengan prakteknya, hampir sudah sesuai/selaras. Akan tetapi, ada salah satu Imam Masjid yang dirasa sudah tidak layak dijadikan sebgai imam, melihat kondisi fisiknya yang sudah tidak mumpuni sehingga menimbulkan keresahan para warga, hal tersebut mengakibatkan para jamah di Masjid menjadi berkurang di setiap harinya. Takmir masjid tersebut melihat kemudharatan yang berdampak besar itu, memutuskan akan segera melaksanakan musyawarah pergantian imam. Supaya keresahan warga berkurang dan harapannya warga-pun kembali melaksanakan shalat berjamah di Masjid. Persamaan dengan peneliti yaitu membahas tentang karakter imam dan sama-sama menggunakan metode kualitatif. Adapun perbedaan peneliti terdahulu membahas tentang pemahaman tokoh agama terhadap hadis Kriteria imam shalat dan praktek ibadah salat berjamaAoah. Sedangkan penelitian ini memfokuskan pada kualitas imam di masjid. (Turohmah, 2. METODE Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menganalisis kehidupan sosial dengan menggambarkan dunia sosial dari sudut pandang atau interprestasi individu . dalam latar alami (Sugiyono, 2. Selain itu, penelitian kualitatif deskriptif adalah penelitian yang dilakukan dengan cara mendeskripsikan perbandingan antara teori dan praktek secara langsung, dilanjutkan dengan analisis untuk memperoleh kesimpulan dan rekomendasi. Penelitian ini mengguanakan sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer merupakan sumber data yang berasal dari pengamatan dan analisa terhadap pokok yang dipilih untuk dikaji kembali kesesuainnya antara teks dan realitas berdasarkan berbagai tinjauan ilmiah dann dan teknik pengumpulan data observasi, melakukan wawancara langsung bersama ketua masjid, imam shalat di masjid Bailangu dan pengurus masjid dan dokumentasi (Sumaryono, 2. Sedangkan, sumber data sekunder merupakan sumber data yang berasal dari orang lain atau dalam artian sebagai pelengkap dari data primer, karena data ini tidak didapatkan secara langsung pada responden dalam penelitian, data berupa data-data dari jurnal, buku-buku, artikel serta catatan yang bersangkutan dengan topik. Teknik pengumpulan data yang dilakukan penulis yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kemudian, teknik analisis data yang dilakukan penulis yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Faktor-Faktor Yang Mempengaruihi Kualitas Imam Di Masjid Bakti Desa Bailangu Kehandalan reliabilit. Kehandalan (Reliabilit. adalah kemampuan dalam memberikan pelayanan yang meliputi ketepatan waktu, kesiapan saat diperlukan dan keterampilan dalam memenuhi tugas (Jasfar, 2. Dalam kontek imam mengacu pada kemampuan imam untuk diandalkan secara konsisten dalam menjalankan tugasnya, seperti kemampuan bacaan Al-Quran salah satu faktor penting . Imam yang memiliki bacaan yang baik dan fasih lebih dipercaya dan dihormati oleh jamaah. Selain itu imam juga harus memiliki Pemahaman yang mendalam tentang fiqih, sunnah ketepatan waktu imam menunjukkan bahwa kedisiplinan dan penghargaan terhadap waktu shalat maupun jamaah, serta mencerminkan kesiapan imam yang matang saat memimpin shalat dan keseriusan dalam menjalankan tugas keagamaan. Dengan kesiapan yang matang imam dapat menghadapi berbagai situasi yang mungkin mengganggu jalannya ibadah dengan sikap sabar, kesabaran, dan penyesuaian. Seorang imam juga perluh membangun hubungan yang baik dengan jamaah dan menciptakan lingkungan ibadah yang teratur dan khusyuk. Daya Tanggap (Responsivenes. Daya tanggap imam mengacu pada kemampuannya untuk menghadapi situasi atau tantangan yang mungkin muncul selama ia memimpin ibadah, seperti shalat. Daya tanggap imam dalam melayani jamaah ini mencakup respons terhadap gangguan teknis, gangguan lingkungan, atau kekurangan dari jamaahnya yang dapat mengganggu kekhusyukan ibadah. Untuk mewujutkan dan merealisasikan hal tersebut, maka kualitas layanan daya tanggap imam Masjid Bakti Desa Bailangu sangat lah penting. Termasuk kemampuan mengatasi kesalahan. Imam harus cepat tanggap dalam mengatasi kesalahan, baik kesalahan sendiri maupun makmum. Jika terjadi kesalahan saat shalat, seorang imam harus mampu mengoreksi dengan tenang dan yakin, baik dengan mengulang bacaan yang benar, memberi isyarat kepada jamaah untuk ikut memperbaiki kesalahan dan selesai shalat dapat memberikan penjelasan. Berdasarkan hasil wawancara peneliti kepada ketua masjid dan pengurus, bahwa imam Masjid Bakti sudah cukup tanggap dalam merespons masukan atau keluhan dari jamaah terkait pelaksanaan shalat berjamaah dengan sikap terbuka, mendengarkan dengan seksama, dan berupaya untuk menemukan solusi yang terbaik untuk semua pihak. Dengan mengadakan forum musyawarah atau pertemuan khusus untuk mendengarkan masukan jamaah, mengevaluasi apa yang bisa diperbaiki, dan melakukan tindakan perbaikan atau penyesuaian yang diperlukan. Jaminan (Assuranc. Jaminan adalah sikap ramah dan sopan dalam beberikan pelayanan, sikap dapat dipercaya dan adanya pengetahuan luas serta kemampuan dalam mengatasi permasalahan konsumen. Jaminan imam dalam konteks shalat merujuk pada keyakinan dan kepercayaan bahwa imam yang memimpin shalat akan melaksanakan tugasnya dengan baik dan sesuai dengan tuntunan agama. Hal ini mencakup pemahaman yang kuat terhadap tata cara shalat, bacaan-bacaan yang benar, serta kemampuan untuk mengoreksi kesalahan jika terjadi. Jaminan imam juga mencakup aspek konsentrasi, ketenangan, dan tanggung jawab yang tinggi dalam memimpin ibadah shalat secara kolektif bagi jamaah. Seorang imam memberikan jaminan terhadap kualitas bacaan Al-Qur'an dan pelaksanaan shalat berjamaah kepada jamaah dengan cara memperdalam pemahaman tajwid dan makna ayat, melalui latihan yang terus-menerus untuk memperbaiki bacaan, konsistensi dalam mengikuti tuntunan sunnah, memberikan instruksi yang jelas sebelum shalat dimulai, memastikan tata cara shalat diikuti dengan benar, serta menciptakan suasana yang tenang dan khusyuk selama shalat. Dengan demikian, imam dapat memberikan kepercayaan kepada jamaah bahwa shalat yang dipimpinnya dilakukan dengan kualitas yang baik dan sesuai dengan ajaran agama. Empati (Empath. Empati (Empath. kemampuan membangun komunikasi yang baik dalam memberikan informasi dan perhatian terhadap konsumen. Empati imam dalam konteks keagamaan merujuk pada kemampuan seorang imam untuk merasakan dan memahami perasaan, kebutuhan, serta kondisi jamaahnya dengan penuh pengertian dan kasih sayang. Imam harus bisa beromunikasi yang baik, imam yang mampu berkomunikasi dengan baik dan memberikan perhatian kepada jamaah menunjukkan empati yang tinggi. Penting bagi seorang imam untuk memperhatikan dan merespons kebutuhan serta masukan dari jamaah. Contoh keluhan yang diungkapkan oleh sebagian jamaah terkait pemilihan surat yang panjang yang menyulitkan jamaah yang sudah tua dengan lutut yang sakit menjadi sebuah masukan yang berharga. Sebagai imam, respons yang diberikan imam masjid Bakti Desa Bailangu adalah dengan memilih surat yang lebih singkat atau mengatur tempo bacaan agar lebih sesuai dengan kemampuan jamaah yang memiliki keterbatasan fisik. Para imam juga terlibat dalam berbagai aktivitas yang memperkuat hubungan dengan jamaah dan mendukung kesejahteraan komunitas. Aktivitas yang dilakukan mencakup kegiatan keagamaan seperti pengajian, tadarus Al-Quran, diskusi keagamaan, serta acara-acara khusus seperti Maulid Nabi dan Isra' Mi'raj. Selain itu, mereka juga aktif dalam kegiatan sosial seperti gotong royong, membantu warga yang membutuhkan, dan mengunjungi jamaah yang sakit. (Tarmizi, 2. Bukti Fisik (Tangible. Bukti fisik seorang imam dapat mencakup berbagai hal yang dapat diamati secara langsung oleh jamaah dalam konteks pelaksanaan ibadah di masjid. Bukti fisik ini memberikan gambaran nyata kepada jamaah mengenai kualitas seorang imam dalam memimpin ibadah dan memberikan pelayanan Hal ini juga dapat memberikan kepercayaan dan keyakinan kepada jamaah untuk lebih mendukung dan aktif dalam kegiatan keagamaan di masjid. Imam Masjid Bakti Desa Bailangu sudah cukup memastikan dengan baik untuk mengenai pakaian yang bersih, rapi, dan sesuai dengan adab beribadah, seperti baju koko, jubah, atau gamis, serta menata rambut dan mengenakan penutup kepala seperti peci. Selain penampilan, kesopanan dalam bersikap dan bertindak juga menjadi prioritas utama. Selain kerapian pakaian dan kesopanan, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan menilai kualitas imam yaitu kualitas suara, postur tubuh dan kebugaran, serta kehadiran fisik yang tenang dan berwibawa merupakan faktor fisik penting untuk bahan pertimbangan dalam menilai kualitas imam shalat di Masjid Bakti. Upaya Pihak Pengelola Masjid Dalam Meningkatkan Kualitas Imam Masjid Bakti Desa Bailangu Diskusi dan Belajar Membaca Al-QurAoan Bersama Diskusi dan pembelajaran ini juga menciptakan lingkungan pembelajaran yang kolaboratif di mana para imam dan jamaah Masjid Bakti Desa Bailangu saling memotivasi dan saling memberi masukan, yang dapat berdampak positif pada kualitas pelayanan keagamaan di Masjid. Langkah-langkah yang telah dilakukan oleh pihak pengelola masjid Bakti untuk meningkatkan kualitas imam yaitu dengan cara pengajian bersama dan belajar Al-QurAoan memastikan bahwa aspek fundamental seperti tajwid diperkuat. Belajar bacaan Al-Quran adalah proses pendidikan dan pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam membaca, memahami, dan melafalkan ayatayat Al-Quran dengan benar. Pelatihan ini mencakup pengajaran tajwid . lmu tentang tata cara membaca Al-Quran dengan baik dan bena. , makharijul huruf . empat keluarnya huru. , serta penghafalan dan pemahaman arti dari ayat-ayat Al-Quran. Dan forum diskusi juga sangat bermanfaat bagi para imam dan jamaah untuk saling bertukar pengetahuan dan solusi atas masalah yang dihadapi, sementara kelompok belajar kecil mendorong imam dan jamaah dalam belajaran secara berkelanjutan untuk menciptakan imam-imam yang berkualitas dengan lingkungan yang mendukung dan bersahabat. Pengelola Masjid mengundang Imam dari Luar Mengundang Imam dari Luar untuk memberikan pelatihan kepada Imam Masjid Bakti Desa Bailangu. Undangan imam-imam luar memberikan kesempatan bagi para imam di Masjid Bakti untuk mendapatkan pandangan baru dan variasi dalam pembelajaran. para imam dapat berdiskusi membahas maslah-masalah yang dihadapi dalam memimpin shalat berjamaah dan mencari soluasi bersama, serta menambah pengetahuan mengenai berbagai aspek keagamaan dan Imam yang diundang juga biasanya memberikan workshop singkat tentang tajwid, qiraat, dan fiqih shalat. Workshop ini dapat berupa sesi tanya jawab, koreksi bacaan, atau pembinaan secara langsung. Dengan cara ini, pengelola masjid berharap kualitas imam di Masjid Bakti terus meningkat dan dapat memberikan pelayanan terbaik bagi jamaah. Penyediaan Fasilitas Penunjang Pengelola Masjid Bakti Desa Bailangu telah mengambil langkah-langkah signifikan untuk meningkatkan kualitas imam melalui penyediaan fasilitas penunjang dan program pelatihan. Dengan koleksi buku-buku agama dan literatur Islam, yang mendukung pembelajaran Al-Qur'an, merupakan investasi yang penting dalam mendukung pengembangan kualitas imam masjid Bakti Desa Bailangu. Imam dapat memanfaatkan fasilitas ini untuk memperdalam pengetahuan dan keterampilannya dalam memimpin shalat dengan baik. Selain itu, adanya pelatihan dari Rumah Tahfiz dari Desa selama 6 bulan, yang di ikuti salah satu imam masjid Bakti Desa Bailangu mencakup sesi belajar tajwid dan qiraat, menunjukkan komitmen masjid dalam menciptakan imam yang berkualitas. Fasilitas dan program ini mencerminkan upaya serius pengelola masjid dalam mendukung pengembangan kompetensi imam dan meningkatkan pelayanan keagamaan bagi jamaah. Secara keseluruhan langkah-langkah ini menunjukkan bahwa upaya pengelola Masjid Bakti Desa Bailangu telah mencerminkan adanya dukungan dalam meningkatkan kualitas imam melalui penyediaan sarana pendidikan dan pelatihan yang cukup membantu imam memperdalam pengetahuannya serta meningkatkan pelayanan keagamaan pada jamaah. KESIMPULAN Setelah melalui pembahasan tentang problematika kualitas imam pada Masjid Bakti Desa Bailangu Kec. Sekayu Kab. Musi Banyuasin yang telah di jelaskan sebelumnya maka dapat diambil kesimpulan bahwa:Kualitas seorang imam dalam konteks agama Islam atau praktik keagamaan umumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor yang penting, antara lain : Kehandalan (Reliabilit. adalah kemampuan dalam memberikan pelayanan yang meliputi ketepatan waktu, kesiapan saat diperlukan dan keterampilan dalam memenuhi tugas. Daya tanggap (Responsivines. imam mengacu pada kemampuannya untuk menghadapi situasi atau tantangan yang mungkin muncul selama ia memimpin ibadah, seperti shalat. Jaminan imam (Assuranc. dalam konteks shalat merujuk pada keyakinan dan kepercayaan bahwa imam yang memimpin shalat akan melaksanakan tugasnya dengan baik dan sesuai dengan tuntunan agama. Empati (Empath. imam dalam konteks keagamaan merujuk pada kemampuan seorang imam untuk merasakan dan memahami perasaan, kebutuhan, serta kondisi jamaahnya dengan penuh pengertian dan kasih sayang. Bukti fisik (Tangible. ini memberikan gambaran nyata kepada jamaah mengenai kualitas seorang imam dalam memimpin ibadah dan memberikan pelayanan keagamaan. Hal ini menekankan bahwa kualitas seorang imam tidak hanya terkait dengan pengetahuan agama dan keterampilan teknisnya dalam memimpin ibadah, tetapi juga mencakup aspek-aspek seperti keandalan, daya tanggap, jaminan, empati, dan bukti fisik yang membentuk persepsi dan pengalaman jamaah terhadap pelayanan keagamaan yang diberikan oleh imam. Adapun upaya pengelola masjid dalam meningkatkan kualitas imam dapat dilakukan melalui beberapa langkah strategis. Pelatihan dan Pengembangan Profesional menyediakan pelatihan reguler dan pengembangan profesional bagi imam dalam bidang agama, komunikasi, manajemen masjid, dan keterampilan kepemimpinan. Pendampingan dan Mentoring. Memberikan pendampingan atau mentoring oleh pengurus masjid atau imam senior kepada imam baru atau yang membutuhkan bimbingan tambahan. Fasilitas dan Sumber Daya memastikan tersedianya fasilitas dan sumber daya yang memadai untuk mendukung kualitas pelayanan keagamaan yang diberikan oleh imam, termasuk sarana untuk pengajaran, administrasi, dan pelaksanaan ibadah UCAPAN TERIMA KASIH