JURNAL COMM-EDU ISSN : 2622-5492 (Prin. 2615-1480 (Onlin. Volume 7 Nomor 3. September 2024 PEMBELAJARAN DALAM MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL SANTRI BERBASIS TOTAL QUALITY MANAGEMENT DI PESANTREN Cucu Samsudin1. Nandang Rukanda2 IKIP Siliwangi. Cimahi. Jawa Barat. Indonesia cucu@gmail. com, 2nandangrukanda@ikipsiliwangi. Received: Agustus, 2024. Accepted: September, 2024 Abstract The order of human life in the hierarchy of character has a lot of decline in the values of morality and discipline, which results in low morals and a loss of manners. The increasingly advanced conditions of technology have encouraged the development of intellectual intelligence with technical knowledge but ironically with the understanding of religious knowledge. In fact, religious knowledge can influence the formation of human character through psychomotorism. His cognition is filled with religious knowledge and his affection is filled with faith. Psychomotor skills are the most important biological part of the process of forming morals through character education. By using the Islamic boarding school learning model in the form of a total quality management model. The aim is to improve the quality of educational products so that they achieve results that comply with quality standards. The expected indicator in Islamic boarding school education is to have a standard standard of quality achievement in the form of noble morals. Keywords: Learning Model. Emotional Intelligence. Character Education Abstrak Tatanan kehidupan manusia dalam hirarki budi pekerti banyak mengalami kemerosotan nilai-nilai moralitas dan kedisiplinan yang berakibat pada rendahnya akhlak dan hilangnya sopan santun. Kondisi teknologi yang semakin maju telah mendorong berkembangnya kecerdasan intelektual dengan pengetahuan teknis namun ironisnya dengan pemahaman pengetahuan agama. Padahal, pengetahuan agama dapat mempengaruhi pembentukan karakter manusia melalui psikomotorik. Kognisinya diisi dengan pengetahuan agama dan afeksinya diisi dengan keimanan. Kemampuan psikomotorik merupakan bagian biologis terpenting dalam proses pembentukan akhlak melalui pendidikan karakter. Dengan menggunakan model pembelajaran pesantren yang berupa model total quality management. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas produk pendidikan sehingga mencapai hasil yang sesuai dengan standar mutu. Indikator yang diharapkan dalam pendidikan pesantren adalah memiliki standar baku pencapaian mutu berupa akhlak mulia. Kata Kunci: Model Pembelajaran. Kecerdasan Emosional. Pendidikan Karakter How to Cite: Samsudin. Cucu. & Rukanda. Pembelajaran Dalam Meningkatkan Kecerdasan Emosional Santri Berbasis Total Quality Management Di Pesantren. Comm-Edu (Community Education Journa. , 7 . , 280-285 PENDAHULUAN Karakter anak bangsa pada zaman sekarang kondisinya sangat jauh dari norma-norma kehidupan yang bermoral. Permusuhan, pertikaian, narkotika, pergaulan bebas dan hilangnya rasa hormat merupakan fenomena yang sering terjadi di dalam hirarki kehidupan sosial yang mencerminkan rendahnya nilai-nilai akhlak. Sedangkan pendidikan akhlak di zaman society 0 sangat tidak sebanding perkembangannya dengan pendidikan IPTEK yang jauh lebih maju. Menurut pendapat Thomas Lickona . - seorang profesor pendidikan dari Cortland Volume 7. No. September 2024 pp 280-285 University mengungkapkan bahwa ada sepuluh tanda zaman yang kini terjadi dan harus diwaspadai karena dapat membawa bangsa menuju jurang kehancuran, yaitu: Meningkatnya prilaku kekerasan dan merusak dikalangan remaja atau pelajar. Penggunaan kata atau bahasa yang cenderung memburuk . eperti ejekan, makian, celaan, bahasa slank dan lain-lai. dan pengaruh teman itu jauh lebih kuat dari pada bimbingan orang tua dan guru, meningkatnya prilaku penyalahgunaan sex dan obat-obat terlarang dikalangan pelajar dan remaja, merosotnya prilaku moral dan meningkatnya egoisme pribadi, menurunnya rasa cinta terhadap bangsa dan rendahnya rasa hormat terhadap tanah air (Patriotism. , terhadap orang tua, guru dan orang lain, sebaliknya meningkat prilaku jelek, menjadi pribadi yang tidak jujur, tumbuh berkembangnya rasa saling curiga, membenci dan memusuhi diantara sesama warga Negara. Biasanya hal yang demikian itu, di karenakan memiliki penyakit mental . ental bloc. , yaitu cara cara berfikir dan berperasaan yang terhalang oleh ilusi-ilusi yang sebenarnya membuat diri terhambat untuk melangkah menuju kesuksesan. Gejala-gejala penyakit mental . ental bloc. tersebut antara lain: . Suka mengeluh. Memiliki virus perusak. Konflik batin. Tidak ada perubahan kehidupan, dan . Tidak mau mengambil resiko. Mental block tersebut terjadi disebabkan, antara lain: . Karena pandangan yang buruk terhadap kemampuan diri sendiri . ad self imag. Pengalaman yang buruk . ad experienc. Lingkungan yang buruk . ad environmen. Rujukan yang buruk . ad referenc. Pendidikan yang buruk . ad educatio. Prinsip-prinsip dalam memahami Kesehatan Mental telah diungkap oleh Schneiders sejak tahun 1964, yang mencakup tiga hal, yaitu . Prinsip yang didasari atas sifat manusia. Prinsip yang didasari atas hubungan manusia dengan lingkungan. Prinsip yang didasari atas hubungan individu dengan Tuhan. Tiga hal tersebut merupakan bagian dari aplikasi sebuah karakter individu yang berkenaan dengan prinsip, kebiasaan dan langkah-langkah yang di ambilnya melalui proses asosiasi. seorang tokoh aliran asosiasi yang terkenal adalah Jhon Locke berpendapat bahwa pada permulaannya jiwa anak itu adalah bersih semisal selembar kertas putih, yang kemudian sedikit demi sedikit terisi oleh pengalaman atau empiris. Dengan demikian, perkembangan prilaku Manusia diperlukan adanya perhatian khusus mengenai halhal sebagai berikut: . Proses pematangan kognitif. proses belajar. pembawaan atau Ketiga hal tersebut, maka prilaku manusia perlu di lakukan suatu pengarahan, bimbingan, pelatihan atau pendidikan. Menurut Trianto . , model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam kegiatan pembelajaran di kelas atau tutorial. Secara eksplisit model pembelajaran itu tidak hanya sebatas menggunakan pola dalam kegiatan belajar tetapi meliputi bimbingan belajar. Menurut Joyce & Weil . , model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk sebuah kurikulum, merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau lingkungan belajar Menurut Arends . Istilah model pembelajaran mengarah pada pendekatan tertentu terhadap instruksi yang terdiri dari tujuan, sintaks . ola urutan atau alu. , lingkungan, dan sistem pengelolaan secara keseluruhannya. Tetapi model pembelajaran menurut Adi . merupakan kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur dalam mengorganisasikan pengalaman pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran pesantren menurut UU No 20 tahun 2003 pasal 26 ayat . sebagai pendidikan nonformal yang diselenggarakan untuk warga masyarakat berfungsi sebagai pengganti, penambah atau pelengkap pendidikan formal. Pesantren sebagai tempat pendidikan untuk proses pendidikan sepanjang hayat yang melibatkan penduduk warga dengan terus 282 Samsudin & Rukanda. Pembelajaran Dalam Meningkatkan Kecerdasan Emosional Santri Berbasis Total Quality Management Di Pesantren berkelanjutan atau ESD (Education Suistainble Developmen. Secara folosofis pesantren dapat diistilahkan sebagai tempat para santri untuk mengaji al-QurAoan dan belajar ilmu pengetahuan Menurut Zarkasy, asal pesantren berasal dari kata AysantriAy yang mendapat imbuhan awalan AypeAy dan akhiran AyanAy yang menunjukkan tempat, maka artinya adalah tempat para Terkadang pula pesantren dianggap sebagai gabungan dari kata AysantriAy . anusia bai. dengan suku kata AytraAy . uka menolon. sehingga kata pesantren dapat diartikan tempat pendidikan manusia baik-baik (Zarkasy, 1998: . Pendidikan pesantren menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman prilaku sehari-hari untuk memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama agar menjadi manusia yang baik-baik. Kurikulum yang digunakan dalam satuan mata pelajaran pendidikan yaitu : A Tauhid - Kitab Tizan A Fiqih - Kitab Safinatun Najah A Muamalah - Kitab Bidayatul Hidayah A Aqidah akhlak - Kitab Aqidatul Awam A Tareh islam - Kitab Siroh Nabawiah Peningkatan menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) adalah proses, cara, perbuatan meningkatkan . saha, kegiatan dan sebagainy. Kecerdasan emosional menurut John Mayer & Salovey dan Daniel Goleman sering di sebut (EQ) Emotional Quotients . , mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai. AuHimpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakanAy. Pikiran dan tindakan secara psikologis merupakan bagian dari sebuah kecerdasan yang dimiliki manusia. Dan manusia adalah makhluk yang memiliki alternatif, makhluk yang memiliki pilihan sendiri. Sifat yang membedakan manusia yang satu dengan lainnya adalah intelegensi kecerdasan dalam mengolah pola pikir dan mengolah pola rasa individu. Total Quality Management (TQM) berasal dari kata "Total" yang berarti keseluruhan atau terpadu, dan "Quality" yang berarti kualitas, sedangkan "Management" maknanya telah disamakan dengan manajemen dalam Bahasa Indonesia yang berarti pengelolaan. Total Quality Management menurut terjemah bahasa Indonesia adalah Manajemen Mutu Terpadu (MMT). Menurut Hadari Nawawi . 5: . Manajemen Mutu Terpadu (MMT) adalah manejemen fungsional dengan pendekatan yang secara terus menerus difokuskan pada peningkatan kualitas, agar produknya sesuai dengan standar kualitas dari masyarakat yang dilayani dalam pelaksanaan tugas pelayanan umum . ublic servic. dan pembangunan masyarakat . ommunity developmen. Manajemen Mutu Terpadu pengelolaannya fokus terhadap kualitas yang harus di kerjakan secara keseluruhan atau totalitas, karena upaya dalam pengelolaannya akan menunjukan terhadap baik dan buruknya suatu kualitas manajemen. Pengukuran kinerja adalah model perbaikan dalam pendidikan agar kapabilitas sumber daya manusia memiliki penilaian prestasi tentang kemajuan atau perkembangan berdasarkan kualitas mutu. Pola kinerjanya mengambil model perbaikan dan model pengukuran yang di kemukakan oleh W. Edwards Deming . Pengukuran yang dilakukannya menggunakan empat komponen utama yang berkaitan dengan siklus plan, do, check dan act. METODE Penelitian ini dilakukan pada Pesantren Diniyah Barokatul Huda yang juga menjadi subjek penelitian ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode Volume 7. No. September 2024 pp 280-285 deskriptif yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena di lapangan sesuai dengan kondisi sebagaimana adanya, sehingga dapat menemukan implikasi dan kondisi yang ada di lapangan kemudian dibandingkan dengan konsep yang ada, sehingga dapat ditemukan kesenjangan dan analisis yang mendalam berkaitan dengan kondisi pelaksanaan pendidikan di Pesantren dengan mengembangkan Total Quality Management dalam membangun keterampilan spiritual emotional quotient. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman wawancara dan observasi. Sedangkan untuk teknik analisis data yang digunakan adalah dengan menggunakan display data, reduksi data, verifikasi dan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pesantren Diniyah Barokatul Huda memiliki landasan inspirasi kepada sejarah sepanjang Pertamakali adanya sebuah pendidikan adalah pendidikan agama yang tempatnya di Dan madrasah yang pertamakali di gunakan yaitu rumah Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam (Amin. Fajr Al Islam, 1. Tempat menimba ilmu pengetahuan dan amal saleh yang diajarkan secara terpadu oleh sang guru pertama yaitu Rasulallah Muhammad SAW. Dia sendiri (Rasulullah Muhammad SAW) yang mengajar dan mengawasi proses pendidikan di sana saat itu dan para As-Sabiqun al-Awwalun adalah merupakan murid-muridnya. Madrasah diniyah memiliki peranan yang sangat baik untuk membangun anak bangsa dalam pembelajaran di masyarakat berbasis agama yang berlandaskan islam. Karel Steenbrink . mengindikasikan bahwa pendidikan Islam berevolusi dari pesantren, madrasah dan kemudian sekolah, sebab itu madrasah di Indonesia dianggap sebagai perkembangan lanjut atau pembaharuan dari lembaga pendidikan pesantren dan surau. Pada undang-undang nomor 20 tahun 2003 yaitu sistem yang mengatur tentang Pendidikan Nasional. Pasal 1 ayat . Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Manusia akan memiliki kekuatan mental apabila di tunjang dengan motivasi spiritual Motivasi spiritual keagamaan tercantum dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 55 Tahun 2007 tentang pendidikan agama dan pendidikan keagamaan terutama pada pasal 8 ayat . yang memberikan penjelasan hubungan agama dengan akhlak yang mulia. Pada prakteknya pendidikan agama yang berhubungan dengan ahklak manusia dapat mewujudkan suatu kemampuan terhadap pembentukan watak serta peradaban untuk menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhannya, berbudi luhur, berahklak mulia, berilmu, cakap, pandai, kreatif, mandiri dan demokratis serta menjadi warga Negara yang bertanggung jawab. Esensinya pendidikan agama merupakan sebuah pendidikan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan tentang hakekat keislaman seutuhnya bagi masyarakat. Menteri Agama mengeluarkan Keputusan No. 372 tahun 1993, tentang kurikulum pendidikan dasar bercirikan khas Agama Islam. Peraturan Pemerintah No 55 tahun 2007 pasal 1 ayat . AuPendidikan keagamaan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama dan mengamalkan ajaran agamanyaAu. Pada pasal 5 ayat . AuPendidikan agama mendorong peserta didik untuk taat menjalankan ajaran agamanya dalam kehidupan seharihari dan menjadikan agama sebagai landasan etika dan moral dalam kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegaraAy. Pendidikan agama merupakan landasan pendidikan untuk mendorong santri agar memiliki moral sesuai konsep pembelajaran 284 Samsudin & Rukanda. Pembelajaran Dalam Meningkatkan Kecerdasan Emosional Santri Berbasis Total Quality Management Di Pesantren melalui pendidikan karakter. Adapun pendidikan karakter, menurut Thomas Licona adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti, yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang, yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras, dan sebagainya. Pendidikan karakter yang terbentuk pada kepribadian seseorang yang memiliki budi pekerti akan terlihat hasilnya dalam suatu tindakan nyata pada karakteristiknya atau sifat-sifat ciri khasnya. Doni Koesoema . , memahami karakter sama dengan kepribadian, yaitu ciri atau karakteristik, atau gaya, atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis Total Quality Management (TQM) memiliki kontribusi signifikan dalam meningkatkan kecerdasan emosional santri di pesantren. TQM, dengan fokus pada perbaikan berkelanjutan, partisipasi aktif, dan pendekatan sistematis, menjadi kerangka kerja yang efektif dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung pengembangan emosional. Kecerdasan emosional yang meliputi kemampuan memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi, serta membangun hubungan sosial yang baik, menjadi salah satu aspek penting dalam pendidikan karakter santri. Melalui penerapan prinsip TQM, pesantren dapat menyediakan pembelajaran yang komprehensif dan integratif, yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik tetapi juga pembentukan karakter santri. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pembelajaran berbasis TQM meningkatkan kecerdasan emosional santri melalui tiga komponen utama. Pertama, pengelolaan pembelajaran yang terstruktur memungkinkan santri memahami pentingnya kerja sama dan tanggung jawab. Kedua, pembinaan dan bimbingan dari pengasuh menciptakan suasana belajar yang harmonis, mendorong pengendalian emosi, dan membangun kepercayaan diri. Ketiga, evaluasi berkelanjutan terhadap proses pembelajaran memotivasi santri untuk terus memperbaiki diri dalam aspek emosional dan sosial. Dengan demikian, pembelajaran berbasis TQM dapat menjadi pendekatan strategis dalam mendukung pesantren sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan berilmu tetapi juga berkarakter unggul, siap berkontribusi positif dalam masyarakat. Volume 7. No. September 2024 pp 280-285 DAFTAR PUSTAKA