Volume 4. Issue 1. Mei 2025 Journal of Citizenship E-ISSN 2829-6028 Spiritualitas sebagai Prediktor Resiliensi Santri Pesantren Indra Wijaya1. Hasyim Haddade2. Ulfiani Rahman3 Ahmad Afif4 1Universitas Indonesia Timur, 234Universitas Islam Negeri Alauddin Korespondensi Email : indra. wijaya@uit. Abstract Pesantren as a traditional Islamic educational institution requires students to live a disciplined, independent, and intense religious routine. This condition has the potential to cause psychological pressure that requires resilience. Spirituality is believed to be one of the important internal factors that can strengthen the resilience of students. This study aims to examine the influence of spirituality on the resilience of students in Islamic boarding schools in the South Sulawesi region. A quantitative approach is used with a correlational survey design. The research sample consisted of 416 high school students who were selected through the multistage cluster random sampling technique from 12 Islamic boarding schools. The instruments used were the Spirituality Scale . dapted from the Spiritual Orientation Inventory/Elkins, with a reliability of = 0. and the Resilience Scale . ased on Reivich & Shatty's theory, with a reliability of = 0. Data analysis was carried out using Structural Equation Modeling (SEM) with Mplus The results showed that spirituality had a significant positive effect on the resilience of students ( = 0. 341, z = 6. 718, p < 0. This finding confirms that the higher the level of spirituality, the stronger the psychological resilience of students in facing the pressures of pesantren life. This study concludes that the spiritual development program in pesantren has an important contribution in strengthening the resilience of students. Further research is recommended to expand the study area and add external factors such as family support and pesantren climate. Keywords: spirituality, resilience, students, pesantren. South Sulawesi Abstrak Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional mengharuskan mahasiswa untuk menjalani rutinitas keagamaan yang disiplin, mandiri, dan intens. Kondisi ini berpotensi menimbulkan tekanan psikologis yang membutuhkan ketahanan. Spiritualitas diyakini sebagai salah satu faktor internal penting yang dapat memperkuat ketahanan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh spiritualitas terhadap ketahanan siswa di pondok pesantren di wilayah Sulawesi Selatan. Pendekatan kuantitatif digunakan dengan desain survei korelasional. Sampel penelitian terdiri dari 416 siswa SMA yang diseleksi melalui teknik multistage cluster random sampling dari 12 pondok pesantren. Instrumen yang digunakan adalah Skala Spiritualitas . iadaptasi dari Inventarisasi Orientasi Spiritual/Elkins, dengan reliabilitas = 0,. dan Skala Ketahanan . erdasarkan teori Reivich & Shatty, dengan reliabilitas = 0,. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan software Mplus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spiritualitas memiliki efek positif yang signifikan terhadap ketahanan siswa ( = 0,341, z = 6,718, p < 0,. Temuan ini menegaskan Volume 4. Issue 1. Mei 2025 Journal of Citizenship E-ISSN 2829-6028 bahwa semakin tinggi tingkat spiritualitas, semakin kuat ketahanan psikologis mahasiswa dalam menghadapi tekanan kehidupan pesantren. Penelitian ini menyimpulkan bahwa program pengembangan rohani di pesantren memiliki kontribusi penting dalam penguatan ketahanan Penelitian lebih lanjut direkomendasikan untuk memperluas wilayah penelitian dan menambah faktor eksternal seperti dukungan keluarga dan iklim pesantren. Kata kunci: spiritualitas, ketahanan, mahasiswa, pesantren. Sulawesi Selatan Pendahuluan Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang memegang peranan penting dalam membentuk karakter, akhlak, serta ketahanan psikologis santri. Kehidupan di pesantren menuntut kedisiplinan tinggi, kepatuhan terhadap jadwal kegiatan yang padat, keterbatasan akses terhadap teknologi, serta keterpisahan dari keluarga. Situasi ini sering kali memunculkan tekanan psikologis, seperti stres, kejenuhan, dan bahkan perilaku menyimpang apabila tidak ditangani secara tepat (Prasetyaningrum et al. , 2. Dalam kondisi demikian, resiliensi menjadi kemampuan krusial yang harus dimiliki oleh santri karena spiritualitas terbukti berperan dalam meningkatkan daya tahan psikologis remaja terhadap tekanan hidup(Wright et , 2. Resiliensi, sebagai kapasitas individu untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit dari tekanan hidup, menjadi penentu penting dalam keberhasilan santri menjalani kehidupan pesantren. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat ketangguhan . santri masih berada pada kategori sedang (Karimah et al. , 2. Hal ini menunjukkan perlunya penguatan faktor-faktor internal yang dapat meningkatkan daya tahan psikologis Salah satu faktor internal yang diyakini berkontribusi besar terhadap resiliensi adalah spiritualitas. Menurut Elkins et al. , . , spiritualitas mencakup pencarian makna hidup, kesadaran transendental, dan hubungan dengan Tuhan. Frankl . , melalui konsep logoterapi, menyatakan bahwa individu yang memiliki spiritualitas tinggi lebih mampu menemukan makna dalam penderitaan serta bangkit dari kesulitan. Dalam kehidupan pesantren, spiritualitas tidak hanya terwujud dalam praktik ibadah, melainkan juga menjadi sumber motivasi, ketenangan batin, dan kerangka berpikir positif dalam menghadapi tekanan. Sejumlah studi empiris memperkuat peran sentral spiritualitas dalam membangun ketahanan psikologis santri. Spiritualitas pesantren berkontribusi dalam pembentukan kesadaran multikultural dan karakter moderasi beragama (Mashuri et al. , serta membentuk ketangguhan spiritual melalui praktik living Sufism, seperti salat tahajud, dzikir, dan tilawah Al-QurAoan (Fitriyani et al. , 2. Pesantren juga berperan sebagai arena penguatan resiliensi sosial untuk mencegah radikalisme melalui internalisasi nilai-nilai spiritual yang moderat (Abubakar & Hemay, 2. Selain itu, pendidikan pesantren terbukti mampu meningkatkan kecerdasan spiritual santri, yang tercermin dalam sikap ibadah, moralitas, dan toleransi antaragama (Putra, 2. Praktik sufistik yang berkembang di pesantren juga berfungsi sebagai sarana revolusi spiritual yang mendukung kesehatan mental dan pemulihan trauma (Farhan & Hadisaputra. Pada kasus khusus, santri korban bullying menunjukkan ketahanan yang kuat berkat dukungan sosial dan nilai religius yang terinternalisasi dalam lingkungan pesantren (Solicha et al. , 2. Dalam dimensi kepemimpinan, spiritualitas kiai dan pengasuh pesantren berfungsi sebagai model ketahanan psikologis yang turut memengaruhi ketangguhan Volume 4. Issue 1. Mei 2025 Journal of Citizenship E-ISSN 2829-6028 santri (Rahmatullah, 2. Lebih jauh lagi, spiritualitas terbukti sebagai faktor utama dalam pembentukan identitas religius sekaligus peningkatan resiliensi akademik santri, terutama jika didukung oleh iklim pesantren yang kondusif dan peran keluarga yang aktif (Afifah, 2024. Defianty et al. , 2. Meskipun berbagai studi telah menyoroti peran spiritualitas dalam membangun resiliensi, penelitian yang secara khusus menguji pengaruh langsung spiritualitas terhadap resiliensi santri di wilayah Sulawesi Selatan masih sangat terbatas. Padahal, wilayah ini memiliki kekhasan budaya dan praktik keagamaan lokal yang potensial memengaruhi bentuk serta ekspresi spiritualitas santri. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah belum ada bukti empiris yang mengungkap langsung bagaimana spiritualitas memengaruhi resiliensi santri dalam konteks lokal tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh spiritualitas terhadap resiliensi santri di pesantren-pesantren di Sulawesi Selatan, sekaligus mengidentifikasi praktik spiritual yang paling signifikan dalam memperkuat ketahanan santri. Literatur Review Resiliensi dipahami sebagai kemampuan individu untuk bangkit kembali, beradaptasi, dan bertahan menghadapi tekanan hidup. Reivich & Shatty, . menjelaskan resiliensi melalui tujuh dimensi utama, yakni regulasi emosi, kontrol impuls, optimisme, analisis kausal, empati, efikasi diri, dan kemampuan untuk mencari dukungan . eaching ou. Dalam konteks pesantren, resiliensi sangat penting karena santri menghadapi rutinitas padat, keterbatasan akses teknologi, serta keterpisahan dari Penelitian menunjukkan bahwa santri umumnya memiliki tingkat hardiness atau ketangguhan sedang, sehingga masih diperlukan penguatan faktor-faktor internal maupun eksternal yang mendukung resiliensi mereka (Karimah et al. , 2. Faktor internal yang berpengaruh meliputi spiritualitas, kepribadian proaktif, regulasi emosi, dan optimisme, sementara faktor eksternal mencakup iklim pesantren yang kondusif, dukungan sosial teman sebaya, keterlibatan keluarga, serta keteladanan kiai dan nyai sebagai pemimpin spiritual (Afifah, 2024. Solicha et al. , 2. Sementara itu, spiritualitas dipandang sebagai orientasi hidup yang berhubungan dengan pencarian makna, kesadaran transendental, dan hubungan dengan Tuhan Elkins et al. , . Frankl, . menekankan bahwa spiritualitas membantu individu menemukan makna dalam penderitaan dan menjadi fondasi untuk bangkit dari Instrumen yang banyak digunakan untuk mengukur spiritualitas adalah Spirituality Orientation Inventory (SOI), yang diadaptasi dan diuji validitasnya di Indonesia oleh Wahyuningsih . Penelitian tersebut menemukan enam dimensi utama spiritualitas, yaitu makna dan tujuan hidup, transendensi atau keyakinan, kesucian hidup, altruisme, idealisme, serta kesadaran akan penderitaan. Dimensidimensi ini terbukti memiliki reliabilitas tinggi sehingga relevan digunakan dalam penelitian psikologi pendidikan, termasuk pada santri pesantren. Faktor-faktor yang memengaruhi spiritualitas santri mencakup lingkungan religius pesantren yang sarat tradisi ibadah, keteladanan kiai dan ustaz, praktik sufistik seperti tahajud, dzikir, tilawah, dan tirakat, serta pengalaman hidup yang mengajarkan kesabaran dan makna penderitaan. Selain itu, tradisi keagamaan lokal seperti tarekat dan budaya sufistik Nusantara turut memperkuat orientasi spiritual santri (Mashuri et al. Fitriyani et al. , 2024. Rahmatullah, 2021. Farhan & Hadisaputra, 2. Volume 4. Issue 1. Mei 2025 Journal of Citizenship E-ISSN 2829-6028 Sejumlah penelitian menegaskan bahwa spiritualitas memiliki peran protektif dalam memperkuat resiliensi. Santri dengan spiritualitas tinggi cenderung lebih mampu mengelola stres, menghadapi konflik sosial, serta menjaga kesejahteraan psikologis (Putra, 2019. Ratodi et al. , 2025. Hasanah & Haris, 2. Spiritualitas juga berfungsi sebagai benteng terhadap radikalisme dengan menumbuhkan nilai moderasi dan resiliensi sosial di lingkungan pesantren (Abubakar & Hemay, 2020. Nasution et al. Dengan demikian, dimensi-dimensi spiritualitas seperti makna hidup, transendensi, dan altruisme berhubungan erat dengan dimensi resiliensi seperti optimisme, efikasi diri, dan regulasi emosi. Keduanya saling melengkapi dalam membentuk ketangguhan santri menghadapi tantangan hidup di pesantren, sekaligus menjadi dasar penting untuk dikaji dalam konteks pesantren di Sulawesi Selatan. Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional tertua di Indonesia yang berfungsi sebagai pusat pembelajaran agama sekaligus pembinaan moral dan sosial Sejak awal berdirinya, pesantren memiliki elemen utama berupa kiai, santri, masjid, serta pengajaran kitab kuning, dan berkembang menjadi institusi yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama tetapi juga ilmu pengetahuan umum dan keterampilan hidup (Budiharso et al. , 2023. Ningsih et al. , 2023. Fitri & Ondeng, 2. Dalam konteks modern, pesantren dipandang sebagai pilar peradaban Islam di Indonesia karena berperan dalam melestarikan nilai-nilai keislaman sekaligus menjawab tantangan perubahan zaman (Azizah et al. , 2. Lebih jauh, pesantren juga menjadi arena multikultural yang mendukung keragaman masyarakat Indonesia dengan membentuk karakter santri yang moderat, nasionalis, dan religious (Bustomi et al. , 2. Santri adalah peserta didik yang menuntut ilmu di pesantren dengan tinggal di asrama, menjalani rutinitas keagamaan, dan belajar membangun kemandirian serta akhlak (Choirur Rois et al. , 2. Secara historis, santri memiliki kontribusi besar dalam perjalanan bangsa Indonesia, baik dalam bidang pendidikan, sosial, maupun perjuangan kemerdekaan (Amin & Anshory, 2. Dalam perkembangannya, santri tidak hanya berperan sebagai murid, tetapi juga sebagai bagian dari sistem sosial pesantren yang berinteraksi dengan kiai, guru, dan masyarakat sekitar, sehingga membentuk identitas religius sekaligus nasionalis (AssaAoidi, 2. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei korelasional untuk menguji pengaruh spiritualitas terhadap resiliensi santri pesantren di Sulawesi Selatan. Populasi penelitian adalah seluruh santri tingkat SMA yang berada di bawah naungan pesantren dengan jumlah 2. 621 orang, sementara sampel penelitian ditentukan sebanyak 416 santri melalui teknik multistage cluster random sampling dari 12 pesantren yang dipilih secara proporsional. Instrumen penelitian terdiri dari dua skala psikologis, yaitu Skala Spiritualitas yang disusun berdasarkan Spiritual Orientation Inventory (SOI) oleh Elkins dan diadaptasi oleh Wahyuningsih . , terdiri atas 31 item valid dengan reliabilitas = 0,93 yang mengukur lima aspek utama yaitu makna hidup, transendensi, misi hidup, altruisme, dan buah spiritualitas. serta Skala Resiliensi yang dikembangkan berdasarkan teori Reivich dan Shatty . , terdiri dari 25 item valid dengan reliabilitas = 0,79 yang mengukur tujuh aspek yaitu regulasi emosi, kontrol impuls, optimisme, analisis kausal, empati, self-efficacy, dan reaching out. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan bantuan perangkat lunak Mplus, untuk menguji model pengaruh langsung spiritualitas terhadap Volume 4. Issue 1. Mei 2025 Journal of Citizenship E-ISSN 2829-6028 resiliensi dengan mempertimbangkan validitas konstruk dan reliabilitas instrumen yang Hasil Pembahasan Tabel 1 menyajikan statistik deskriptif dari variabel spiritualitas dan resiliensi pada santri. Rata-rata skor spiritualitas sebesar 112,7 (SD = 9,. dan resiliensi sebesar 72,38 (SD = 7,. Berdasarkan rentang skor dan distribusi item, keduanya menunjukkan tingkat yang moderat hingga tinggi. Tabel 1. Statistik Deskriptif Variabel Penelitian Variabel Mean (M) Rentang Skor Spiritualitas 52 Ae 124 Resiliensi 43 Ae 97 Sumber: Peneliti, 2025 Analisis validitas dan reliabilitas konstruk dilakukan untuk memastikan kesesuaian model pengukuran. Nilai Comparative Fit Index (CFI). Tucker-Lewis Index (TLI), dan Root Mean Square Error of Approximation (RMSEA) menunjukkan bahwa kedua konstruk berada dalam kategori model fit yang baik (CFI dan TLI > 0,90. RMSEA < 0,. sesuai rekomendasi Hu & Bentler . Nilai Composite Reliability (CR) dan CronbachAos Alpha juga menunjukkan reliabilitas tinggi (> 0,. , baik untuk spiritualitas maupun Tabel 2. Uji Validitas dan Reliabilitas Konstruk Variabel CronbachAos CFI TLI RMSEA Alpha () Spiritualitas 0. Resiliensi Composite Reliability (CR) Keterangan Valid & Reliabel Valid & Reliabel . odel fit setelah Sumber: Peneliti, 2025 Analisis jalur menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) menunjukkan bahwa spiritualitas memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap resiliensi. Nilai koefisien jalur () sebesar 0,341 dengan nilai z = 6,718 dan p < 0,001, yang mengindikasikan bahwa spiritualitas merupakan prediktor positif terhadap peningkatan resiliensi santri. Interpretasi koefisien menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu satuan standar pada skor spiritualitas akan diikuti oleh peningkatan 0,341 satuan standar pada skor resiliensi. Volume 4. Issue 1. Mei 2025 Journal of Citizenship E-ISSN 2829-6028 Tabel 3. Hasil Uji Pengaruh Langsung (Path Analysi. Jalur Pengaruh Koefisien () SE Spiritualitas Ie Resiliensi 0. p-value Keterangan 718 < 0. 001 Signifikan positif Sumber: Peneliti, 2025 Hasil penelitian menunjukkan bahwa spiritualitas berpengaruh signifikan terhadap resiliensi santri ( = 0. 341, p < 0. Temuan ini mendukung argumentasi pada pendahuluan bahwa santri yang hidup di pesantren dengan tuntutan disiplin, jadwal padat, serta keterbatasan akses keluarga membutuhkan kekuatan internal berupa spiritualitas untuk tetap bertahan. Dimensi spiritualitas seperti makna hidup, transendensi, dan altruisme terbukti memberi santri landasan psikologis dalam memaknai tekanan sehari-hari sebagai bagian dari ujian yang bermakna. Hal ini konsisten dengan pandangan Frankl . bahwa individu dengan makna hidup yang kuat mampu bertahan dalam penderitaan, serta sejalan dengan kerangka Elkins et al. , . yang menekankan bahwa spiritualitas adalah orientasi hidup transendental yang menguatkan daya juang. Dalam kerangka Reivich & Shatty, . , spiritualitas memberi kontribusi langsung pada dimensi resiliensi seperti optimisme, regulasi emosi, dan self-efficacy. Dengan kata lain, spiritualitas memperkuat kapasitas santri untuk mengelola emosi, menahan dorongan negatif, dan tetap percaya diri menghadapi tantangan. Konteks pesantren menegaskan relevansi ini. Aktivitas ibadah rutin, dzikir, dan keteladanan kiai memberikan ruang bagi santri untuk menginternalisasi nilai-nilai transendental yang menjadi sumber ketenangan batin. Penelitian terdahulu juga mendukung hasil ini. Misalnya. Fitriyani et al. , . menemukan bahwa praktik living Sufism menumbuhkan resiliensi spiritual santri, sementara Mashuri et al. , . menegaskan bahwa basis spiritual pesantren memperkuat kesadaran multikultural dan Putra . juga menunjukkan bahwa spiritualitas meningkatkan kecerdasan emosional santri sehingga mereka lebih tangguh menghadapi konflik. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya mengonfirmasi pentingnya spiritualitas sebagai faktor protektif terhadap stres, tetapi juga menutup gap penelitian dengan menegaskan relevansinya dalam konteks pesantren Sulawesi Selatan. Spiritualitas menjadi fondasi internal yang menopang resiliensi santri, memungkinkan mereka bertahan dalam lingkungan yang penuh tuntutan sekaligus tumbuh menjadi individu yang berdaya lenting tinggi. Kesimpulan Penelitian ini menyimpulkan bahwa spiritualitas berpengaruh positif signifikan terhadap resiliensi santri pesantren di Sulawesi Selatan ( = 0. 341, p < 0. Semakin tinggi spiritualitas yang dimiliki santri, semakin tinggi pula tingkat resiliensinya dalam menghadapi tekanan kehidupan pesantren. Implikasi praktis dari penelitian ini adalah pentingnya program pembinaan spiritual yang terintegrasi dalam kurikulum pesantren sebagai strategi penguatan resiliensi santri. Keterbatasan penelitian ini adalah penggunaan instrumen self-report yang berpotensi bias serta cakupan wilayah yang terbatas. Penelitian selanjutnya disarankan memperluas cakupan geografis dan melibatkan faktor eksternal seperti dukungan keluarga dan iklim pesantren. Volume 4. Issue 1. Mei 2025 Journal of Citizenship E-ISSN 2829-6028 Referensi