Volume 2 Nomor 2 Bulan : Oktober 2025 MJ BAHRAIN : JURNAL KEUANGAN ISLAM DAN AKUNTANSI PRESEPSI KENYAMANAN PADA PENGGUNAAN SITEM PEMBAYARAN DIGITAL DI MADRASAH TSANAWIYAH BAHRUL ULUM TAJINAN Dewi Rahmawati1 Perbankan SyariAoah. Universitas Islam Raden Rahmat Malang. Malang. Indonesia ABSTRAK Transformasi digital dalam sektor pendidikan telah mendorong banyak lembaga, termasuk Madrasah Tsanawiyah Bahrul Ulum Tajinan, untuk mengadopsi sistem pembyaran digital guna meningkatkan efisiensi dan transparansi keuangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi wali murid terhadap implementasi sistem pembayaran digital di madrasah tersebut. Dengan menggunakan pendeakatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif terhadap wali murid yang terlibat langsung dalam penggunaan sistem ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar wali murid menyambut positif penggunaan sistem pembayaran digital karena kemudahan akses, efesiensi waktu, dan transaparasi transaksi. Namun, terdapat pula kekhawatiran terkait keamanan data dan keterbatasan pemahaman teknologi bagi sebagian wali murid. Temuan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pihak madrasah dalam meningkatkan sosialisasi dan pelatihan penggunaan sistem pembayaran digital, serta bagi pengembang teknologi untuk menciptakan solusi yang lebih inklusif dan aman bagi semua KATA KUNCI Persepsi Kenyamanan. Pembayaran Digital. Madrsasah Tsanawiyah. Transformasi Digital. Pendidikan ABSTRACT The digital transformation in the education sector has encouraged many institutions, including Madrasah Tsanawiyah Bahrul Ulum Tajinan, to adopt digital payment systems to enhance financial efficiency and transparency. This study aims to analyze parents' perceptions of the implementation of digital payment systems at the Using a descriptive qualitative approach, data were collected through indepth interviews and participatory observation involving parents who directly use the system. The findings indicate that most parents positively welcome the use of digital payment systems due to their accessibility, time efficiency, and transaction However, there are also concerns regarding data security and limited technological literacy among some parents. These findings are expected to serve as a reference for the school in improving socialization and training on the use of digital payment systems, as well as for technology developers in creating more inclusive and secure solutions for all users. KEYWORDS Perception of comfort. Digital Payment. Madrasah Tsanawiyah. Digital Transformation. Education CONTACT: Ajurnal. mj-bahroin@uniramalang. JOURNAL HOMEPAGE: https://ejournal. id/index. php/mj-bahrain MJ Bahrain : Jurnal Keuangan Islam dan Akuntansi A. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat di era digital saat ini telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk di bidang pendidikan. Transformasi digital tidak hanya mengubah cara pengajaran dan pembelajaran, tetapi juga merambah ke aspek-aspek administratif, salah satunya adalah sistem pembayaran di institusi pendidikan. Dengan kemudahan akses internet dan berbagai aplikasi pembayaran digital yang semakin berkembang, sistem pembayaran digital mulai diterapkan di berbagai lembaga pendidikan sebagai solusi atas keterbatasan dan kendala yang ada pada sistem pembayaran konvensional (Sofira, 2. Penggunaan sistem pembayaran digital di lingkungan pendidikan diyakini dapat memberikan berbagai manfaat. Mulai dari kemudahan transaksi, pengurangan risiko kehilangan uang tunai, hingga transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan. Di tengah kebutuhan akan efisiensi dan modernisasi, berbagai madrasah dan sekolah mulai beralih ke sistem ini. Namun demikian, keberhasilan penerapan sistem pembayaran digital tidak hanya bergantung pada kesiapan teknologi yang digunakan oleh institusi pendidikan, tetapi juga pada penerimaan dan persepsi dari para pengguna, terutama wali murid. Wali murid merupakan pemegang peranan penting dalam proses pendidikan karena mereka bertanggung jawab atas pembayaran biaya pendidikan dan pengelolaan administrasi lainnya (Nugraheni & Fakhruddin, 2. Madrasah Tsanawiyah Bahrul Ulum Tajinan, sebagai salah satu institusi pendidikan tingkat menengah di Kabupaten Malang, telah mulai mengadopsi sistem pembayaran digital dalam rangka meningkatkan efisiensi dan transparansi pengelolaan keuangan madrasah. Sistem ini mencakup pembayaran SPP, iuran kegiatan, hingga administrasi lainnya yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar. Namun, penerapan teknologi baru ini membawa tantangan tersendiri, khususnya terkait dengan adaptasi dan penerimaan wali murid yang memiliki latar belakang sosial, ekonomi, dan tingkat literasi digital yang berbeda-beda (Prihantono, 2. Persepsi wali murid terhadap sistem pembayaran digital menjadi hal yang sangat krusial untuk diteliti, karena persepsi ini akan memengaruhi tingkat penggunaan dan keberhasilan sistem tersebut. Apabila wali murid memiliki persepsi positif terhadap sistem ini, maka kemungkinan besar mereka akan lebih mudah menerima dan menggunakan sistem tersebut secara Sebaliknya, jika terdapat persepsi negatif, misalnya karena kekhawatiran akan keamanan data pribadi, kurangnya pemahaman teknologi, atau keraguan terhadap keandalan sistem, maka hal tersebut dapat menjadi hambatan dalam proses digitalisasi pembayaran (Sofira, 2. Selain itu, faktor-faktor seperti tingkat pendidikan wali murid, akses internet, pengalaman penggunaan teknologi, dan dukungan dari pihak madrasah juga sangat mempengaruhi persepsi dan kenyamanan mereka dalam menggunakan sistem pembayaran digital (Nugraheni & Fakhruddin. Oleh karena itu, diperlukan penelitian yang komprehensif untuk memahami bagaimana persepsi wali murid terhadap penggunaan sistem pembayaran digital di Madrasah Tsanawiyah Bahrul Ulum Tajinan. Penelitian ini bertujuan untuk menggali faktor-faktor pendukung dan penghambat, serta memberikan gambaran tentang tingkat penerimaan wali murid terhadap pembayaran digital. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dan masukan bagi madrasah dalam mengoptimalkan penggunaan sistem pembayaran digital, meningkatkan sosialisasi dan pelatihan bagi wali murid, serta sebagai referensi dalam pengembangan sistem yang lebih inklusif dan Selain itu, penelitian ini juga dapat menjadi acuan bagi lembaga pendidikan lain yang hendak menerapkan sistem pembayaran digital, sehingga dapat meminimalisir kendala yang mungkin muncul di lapangan. Dengan demikian, penelitian ini sangat relevan untuk dilakukan mengingat pentingnya peran wali murid dalam mendukung keberhasilan pendidikan serta kebutuhan mendesak akan digitalisasi di bidang administrasi pendidikan yang semakin berkembang. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk memahami pandangan wali murid terhadap penggunaan sistem pembayaran digital di Madrasah Tsanawiyah Bahrul Ulum Tajinan. Penelitian dilakukan selama MaretAeApril 2025 di madrasah yang sudah menggunakan sistem ini kurang dari satu tahun. Sampel terdiri dari 10 wali murid yang dipilih secara purposif, yaitu mereka yang aktif dan berpengalaman menggunakan sistem. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan Pengumpulan data dilakukan dengan izin madrasah, wawancara terjadwal, observasi, serta pencatatan hasil. Data dianalisis melalui teknik Keabsahan data dijaga dengan triangulasi . awancara, observasi. Etika penelitian dijaga dengan merahasiakan identitas responden dan menggunakan data hanya untuk kepentingan akademik. Hasilnya, wali murid menilai sistem ini memudahkan dan lebih transparan, meski ada kekhawatiran soal keamanan data dan kesulitan teknis, terutama bagi yang kurang paham teknologi. Mereka menyarankan agar madrasah rutin mengadakan pelatihan dan pendampingan. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini mengungkapkan bahwa persepsi wali murid terhadap penggunaan sistem pembayaran digital di Madrasah Tsanawiyah Bahrul Ulum Tajinan secara umum cenderung positif, meskipun masih terdapat beberapa tantangan dan kekhawatiran yang perlu menjadi perhatian pihak madrasah dan pengembang sistem. Persepsi positif ini terutama dipengaruhi oleh kemudahan dan efisiensi yang ditawarkan oleh sistem pembayaran digital, yang memungkinkan wali murid melakukan transaksi kapan saja dan di mana saja tanpa harus datang langsung ke madrasah. Hal ini tercermin dari pernyataan beberapa informan : AuMenurut saya, sistem pembayaran digital ini sangat membantu. Saya bisa bayar SPP dari rumah pakai HP anak saya, jadi nggak perlu ninggalin toko. Tapi saya masih agak takut kalau salah pencet atau salah transfer. Saya juga sempat dengar soal data orang bisa disalahgunakan, jadi belum sepenuhnya percaya. Ay . nforman 1, latar belakang pedagang keci. AuSaya sebenarnya kurang ngerti soal teknologi, tapi karena anak saya yang ajarin, lama-lama jadi bisa juga. Saya juga sempat tanya ke madrasah, data pembayaran kita aman nggak? Mereka bilang aman, tapi saya tetap waspada. Ay . nforman 2, latar belakang buruh tan. AuSaya sangat mendukung sistem ini karena lebih praktis dan bisa dicek ulang. Tapi saya ingin tahu juga siapa yang bisa akses data kita? Karena ini menyangkut data keuangan dan pribadi anak-anak, saya pikir penting ada perlindungan khusus. Ay . nforman 3, ibu rumah tangg. Untuk memperjelas hasil wawancara terhadap persespi wali murid. Tabel 1 berikut merangkum tema-tema utama sub-tema yang muncul berdasarkan data lapangan : Tabel 1. Temuan Penelitian (Thematic Ma. Tema Utama Sub-Temuan dari Wawancara - Bisa bayar dari rumah Kemudahan Akses - Tidak perlu antre di loket - Proses cepat Efisiensi Waktu - Tidak tergantung jam sekolah Transparansi Transaksi Kekhawatiran Keamanan - Ada bukti digital - Riwayat transaksi jelas - Takut data bocor - Risiko salah transfer - Sulit mengoperasikan apps Literasi Digital Rendah - Perlu bantuan anak/guru Berdasarkan Tabel 1, terlihat bahwa kemudahan akses menjadi tema dominan yang disampaikan oleh mayoritas responden, diikuti oleh efisiensi waktu dan transparansi transaksi. Faktor kemudahan ini sesuai dengan prinsip dalam Technology Acceptance Model (TAM) yang menyatakan bahwa persepsi kemudahan penggunaan . erceived ease of us. merupakan faktor utama yang memengaruhi tingkat penerimaan teknologi oleh pengguna (Davis, 1. Gambar 2 berikut menggambarkan alur logis penerimaan teknologi berdasarkan TAM yang menjadi kerangka dasar penelitian ini: Gambar 2. Alur Model TAM dalam penelitian Menghemat waktu (Ada bukti pemayaran Mulai menggunakan aplikasi pembayaran secara aktif Variabel Eksternal (Literasi Digital. Dukungan Anak. Keamanan Dat. Mudah digunakan . isa dibayar dari rumah, tidak perlu datang ke Telah digunakan untuk SPP, daftar ulang, dll Gambar ini menggambarkan alur penerimaan teknologi oleh wali murid berdasarkan model TAM Dengan sistem digital, wali murid menghindari antrian panjang dan waktu tunggu yang biasanya terjadi pada sistem pembayaran manual, sehingga kegiatan administrasi menjadi lebih efisien dan hemat waktu. Selain itu, efisiensi pembayaran juga berkontribusi pada pengurangan kesalahan administrasi dan keterlambatan pembayaran. Dalam wawancara, beberapa wali murid mengungkapkan bahwa sistem digital membantu mereka mengingat jadwal pembayaran dan mengurangi risiko kehilangan bukti pembayaran karena semuanya tercatat secara otomatis. Hal ini meningkatkan rasa nyaman dan kepuasan mereka dalam bertransaksi. Temuan ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa sistem pembayaran digital dapat meningkatkan akurasi dan transparansi pembayaran (Susanto & Goodwin, 2. Untuk menunjukkan distribusi persesepsi secara visual. Gambar 1 menyajikan grafik batang berdasarkan kecenderungan sikap wali murid terhadap sistem yang diterapkan: Gambar 3. Diagram Persepsi Wali Murid Diagram Persepsi Wali Murid Jumlah Responden Series 1 Column1 Column2 Gambar 3 menunjukkan bahwa sebagian besar wali murid . %) memiliki persepsi positif terhadap penggunaan sistem ini, yang menandakan adanya penerimaan yang baik terhadap transformasi digital. Dari segi transparansi dan akuntabilitas, penggunaan sistem pembayaran digital memberikan dampak positif terhadap tingkat kepercayaan wali murid kepada madrasah. Wali murid merasa lebih yakin bahwa dana yang mereka bayarkan tercatat secara jelas dan dapat dipertanggungjawabkan oleh pihak madrasah. Fitur notifikasi dan bukti transaksi yang otomatis diterima melalui aplikasi atau email menjadi salah satu faktor penguat kepercayaan ini. Dengan demikian, sistem digital bukan hanya mempermudah proses pembayaran, tetapi juga meningkatkan transparansi pengelolaan keuangan di madrasah. Kondisi ini sangat penting dalam konteks pendidikan, di mana kepercayaan orang tua terhadap lembaga pendidikan menjadi faktor krusial dalam kelangsungan dan keberlangsungan proses belajar mengajar (Putra & Damanik, 2. Namun, penelitian ini juga menemukan sejumlah hambatan yang dialami oleh wali murid dalam menggunakan sistem pembayaran digital. Salah satu hambatan utama adalah kekhawatiran terhadap aspek keamanan data pribadi dan risiko kesalahan transaksi. Beberapa wali murid merasa was-was terkait kemungkinan kebocoran data atau penyalahgunaan informasi pribadi Kekhawatiran semacam ini memang menjadi kendala umum dalam adopsi teknologi digital, khususnya bagi pengguna yang belum memiliki pemahaman mendalam mengenai keamanan siber (Tarantang et al. , 2. Hal ini menuntut pihak madrasah dan pengembang sistem untuk lebih transparan dan aktif dalam mensosialisasikan mekanisme perlindungan data dan keamanan sistem kepada para wali murid agar kekhawatiran tersebut dapat Selain isu keamanan. Rendahnya tingkat literasi digital menjadi kendala utama, khususnya di kalangan wali murid yang lebih lanjut usia atau kurang terbiasa dengan teknologi. Faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan atau kegagalan implementasi sistem pembayaran digital dirangkum dalam Tabel 2 Tabel 2. Faktor Pendukung dan Penghambat Faktor Pendukung Faktor Penghambat Bisa diakses kapan saja melalui - Kekhawatiran terhdap keamanan Tidak perlu datang langsung ke - Kesulitan mengoperasikan aplikasi - Koneksi internet terbatas Proses cepat dan efisien Hal ini membuat mereka membutuhkan bantuan dari orang lain untuk menggunakan sistem pembayaran digital secara optimal. Kesulitan ini menyebabkan mereka harus bergantung pada anggota keluarga lain atau petugas madrasah untuk membantu proses pembayaran. Hal ini menunjukkan bahwa faktor kemampuan teknis dan pemahaman terhadap teknologi menjadi persyaratan penting dalam keberhasilan implementasi sistem digital di lingkungan pendidikan. Penelitian ini sejalan dengan pandangan Van Dijk . yang menyebutkan bahwa literasi digital merupakan faktor utama yang menentukan akses dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi secara efektif. Dalam menghadapi kendala tersebut, peran aktif madrasah dalam memberikan pelatihan, sosialisasi, dan pendampingan teknis sangat penting. Madrasah yang secara konsisten melakukan edukasi kepada wali murid mengenai cara menggunakan sistem pembayaran digital, serta menyediakan layanan bantuan teknis yang responsif, mampu meningkatkan tingkat kepercayaan dan kenyamanan pengguna. Hal ini terlihat dari respon wali murid yang merasa lebih terbantu dan yakin menggunakan sistem setelah mendapatkan pendampingan langsung. Pendekatan human-centered seperti ini perlu menjadi bagian dari strategi implementasi teknologi agar adopsi dapat berjalan lancar dan inklusif, terutama bagi pengguna yang kurang familiar dengan teknologi. Pembahasan lebih lanjut, analisis data juga mengungkap bahwa walaupun banyak wali murid yang merasakan manfaat sistem pembayaran digital, masih ada beberapa yang merasa kurang puas dengan fitur atau antarmuka aplikasi yang digunakan. Beberapa wali murid menginginkan sistem yang lebih sederhana, intuitif, dan memiliki fitur reminder pembayaran yang lebih efektif. Hal ini mengindikasikan perlunya pengembangan sistem secara berkelanjutan yang mempertimbangkan umpan balik pengguna sebagai sumber penting dalam proses peningkatan kualitas layanan digital. Dengan demikian, sistem pembayaran digital yang efektif bukan hanya soal teknologi, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut dirancang sesuai kebutuhan dan karakteristik pengguna. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan penerapan sistem pembayaran digital di Madrasah Tsanawiyah Bahrul Ulum Tajinan tidak hanya bergantung pada aspek teknis semata, tetapi juga pada faktor manusia seperti literasi digital, kepercayaan, dan dukungan institusi. Madrasah perlu terus membangun sinergi dengan wali murid melalui komunikasi yang terbuka dan program pendampingan yang berkelanjutan. sisi lain, pengembang teknologi juga harus memperhatikan aspek keamanan data dan kemudahan penggunaan sebagai prioritas utama dalam merancang sistem pembayaran digital. Dengan berbagai temuan ini, diharapkan pihak madrasah dapat mengambil langkah strategis untuk meningkatkan kualitas dan jangkauan sistem pembayaran digital sehingga dapat diterima secara luas dan memberikan manfaat maksimal bagi seluruh wali murid. Selain itu, penelitian ini juga membuka peluang bagi studi lanjutan untuk mengkaji aspek psikologis dan sosial yang memengaruhi penerimaan teknologi dalam konteks pendidikan Islam, khususnya di madrasah yang memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda-beda. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi wali murid terhadap penggunaan sistem pembayaran digital di Madrasah Tsanawiyah Bahrul Ulum Tajinan sebagian besar bersifat positif. Sistem pembayaran digital dianggap memudahkan proses administrasi keuangan dengan memberikan kemudahan akses, efisiensi waktu, dan transparansi transaksi yang lebih baik dibandingkan metode manual. Hal ini memperkuat kepercayaan wali murid terhadap pengelolaan keuangan madrasah. Namun, ada beberapa kendala yang masih dihadapi, seperti kekhawatiran mengenai keamanan data pribadi dan kurangnya literasi digital di kalangan sebagian wali murid, terutama mereka yang berusia lebih tua atau kurang terbiasa dengan teknologi. Hambatan ini berpotensi memperlambat adopsi sistem digital secara optimal. Oleh karena itu, diperlukan upaya dari madrasah untuk memberikan edukasi, pelatihan, serta pendampingan teknis secara berkelanjutan agar semua wali murid dapat menggunakan sistem dengan nyaman dan percaya diri. Selain itu, pengembangan sistem yang responsif terhadap kebutuhan pengguna, dengan antarmuka yang sederhana dan fitur-fitur yang relevan, sangat penting untuk meningkatkan kepuasan dan keterlibatan wali murid. Dukungan penuh dari institusi madrasah dan komunikasi yang efektif antara pengelola sistem dengan pengguna akan menjadi faktor kunci keberhasilan implementasi sistem pembayaran digital ini. Secara keseluruhan, penggunaan sistem pembayaran digital di Madrasah Tsanawiyah Bahrul Ulum Tajinan berpotensi meningkatkan kualitas layanan administrasi keuangan dan menjadi langkah strategis dalam digitalisasi pendidikan di era modern. Penelitian ini memberikan rekomendasi bagi madrasah dan pengembang sistem untuk terus berinovasi dan memperhatikan aspek keamanan, kemudahan penggunaan, serta literasi digital guna mencapai hasil yang maksimal dan inklusif. DAFTAR PUSTAKA