ANALISIS KONTRASTIF KALIMAT PASIF DALAM BAHASA INDONESIA DAN BAHASA ARAB Muhamad Hilal AdriyansyahA. Siti Elza Al HumaerohA. SaniaturrohmahA UIN Sunan Gunung Djati Bandung hilaladriyan27@gmail. comA, sitielzaalhumaeroh@gmail. Sania120902@gmail. ABSTRAK This study aims to analyze the comparison between passive sentences in Indonesian and Arabic using a contrastive linguistic approach. Passive sentences in these two languages show significant differences in structure and usage, although both serve to emphasize the object of an action. The method used includes a descriptive analysis of a corpus of passive sentences from Indonesian and Arabic sources. The results of the study indicate that passive sentences in Indonesian tend to be more flexible in terms of structure, while Arabic has stricter rules regarding verb and subject changes. The implications of these findings are important for language teaching and translation, as well as for further comparative linguistic studies. Keywords: passive voice, contrastive linguistics, syntax ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan antara kalimat pasif dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab menggunakan pendekatan linguistik kontrastif. Kalimat pasif dalam kedua bahasa ini menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam struktur dan penggunaan, meskipun keduanya berfungsi untuk menekankan objek dari suatu tindakan. Metode yang digunakan meliputi analisis deskriptif terhadap korpus kalimat pasif dari sumbersumber bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kalimat pasif dalam bahasa Indonesia cenderung lebih fleksibel dalam hal struktural, sementara bahasa Arab memiliki aturan yang lebih ketat terkait dengan perubahan kata kerja dan subjek. Kesan dari penemuan ini penting untuk pengajaran bahasa dan penerjemahan, serta untuk studi linguistik komparatif lebih lanjut. Kata kunci: kalimat pasif, linguistik kontrastif, sintaksis PENDAHULUAN Penelitian tentang kalimat pasif memiliki pentingnya tersendiri dalam kajian linguistik, khususnya dalam memahami bagaimana suatu tindakan yang ditekankan pada objek dapat bervariasi antara satu bahasa dengan bahasa lainnya. Kalimat pasif digunakan secara luas dalam berbagai bahasa untuk menekankan objek atau penerima tindakan, bukannya pelaku tindakan itu sendiri. Dalam konteks bahasa Indonesia dan bahasa Arab, meskipun kedua bahasa ini memiliki fitur sintaksis yang memungkinkan penggunaan kalimat pasif, terdapat perbedaan signifikan dalam cara pembentukan dan penggunaannya. Penelitian ini relevan dengan studi linguistik kontrastif yang bertujuan membandingkan struktur bahasa yang berbeda untuk mengidentifikasi kesamaan dan perbedaan yang dapat memberikan wawasan lebih dalam tentang mekanisme linguistik di balik setiap bahasa. Dalam hal ini, penelitian ini mencoba memecahkan permasalahan mengenai bagaimana kalimat pasif dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab berbeda dalam struktur dan penggunaannya, serta implikasi dari perbedaan ini dalam konteks pengajaran bahasa dan penerjemahan. Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 136 Pertanyaan penelitian yang diajukan dalam penelitian ini adalah: Bagaimana perbandingan struktur dan penggunaan kalimat pasif dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab? Apa saja kesamaan dan perbedaan utama di antara kedua bahasa tersebut dalam hal Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis secara mendalam struktur dan penggunaan kalimat pasif dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab, serta untuk mengidentifikasi kesamaan dan perbedaan yang signifikan antara kedua bahasa tersebut. Penelitian ini memiliki signifikansi akademis dan praktis yang penting. Secara akademis, temuan dari penelitian ini akan memperkaya studi linguistik kontrastif dan memberikan kontribusi berharga untuk pemahaman yang lebih mendalam tentang sintaksis kalimat pasif dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dalam pengajaran bahasa, terutama dalam mengajarkan kalimat pasif kepada penutur asli maupun penutur asing dari kedua bahasa tersebut, serta dalam konteks penerjemahan, di mana pemahaman yang tepat tentang struktur kalimat pasif sangat diperlukan. TINJAUAN PUSTAKA Kalimat pasif dalam bahasa Indonesia adalah konstruksi sintaksis di mana subjek menerima tindakan, sementara pelaku tindakan . bisa disebutkan atau dihilangkan. Struktur dasar kalimat pasif biasanya melibatkan perubahan bentuk kata kerja aktif menjadi bentuk pasif dengan penambahan prefiks Audi-Au atau kata kerja dasar dalam bentuk pasif, seperti AudimakanAy dari AumakanAy. Misalnya, kalimat aktif AuAnak itu makan apelAy berubah menjadi kalimat pasif AuApel itu dimakan oleh anak ituAy. Dalam beberapa kasus, agen dapat dihilangkan, misalnya AuApel itu dimakanAy (Sneddon et al. , 2. Studi Indonesia mengidentifikasi beberapa variasi dalam struktur dan penggunaan. Misalnya. Alwi . menunjukkan bahwa selain bentuk pasif prefiks Audi-Au, bahasa Indonesia juga memiliki bentuk pasif menggunakan kata Auter-Au yang menunjukkan kejadian spontan atau tidak sengaja, seperti dalam AuPintu itu terbukaAy. Lebih lanjut. Musgrave . menyatakan bahwa pemilihan bentuk pasif dalam bahasa Indonesia sering dipengaruhi oleh konteks pragmatis dan gaya bahasa, di mana bentuk pasif lebih sering digunakan dalam bahasa tulis dan formal dibandingkan dengan bahasa lisan dan informal. Kalimat pasif dalam bahasa Arab dikenal sebagai Aual-jumlah al-majhulaAy, di mana subjek tindakan tidak diketahui atau tidak disebutkan. Struktur dasar kalimat pasif dalam bahasa Arab melibatkan perubahan bentuk kata kerja aktif . iAol maAolu. menjadi bentuk pasif . iAol majhu. dengan modifikasi pada pola vokal kata kerja. Sebagai contoh, kata kerja aktif Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 137 AukatabaAy . berubah menjadi AukutibaAy . dalam bentuk pasif. Dalam kalimat pasif, pelaku tindakan biasanya dihilangkan atau digantikan dengan frase preposisional jika perlu disebutkan (Ryding, 2. Studi-studi terkait kalimat pasif dalam bahasa Arab telah mengkaji berbagai aspek struktur dan fungsi. Holes . menjelaskan bahwa bentuk pasif dalam bahasa Arab sering digunakan dalam konteks formal dan sastra, sementara dalam bahasa sehari-hari bentuk ini kurang umum digunakan dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Menurut Badawi. Carter, dan Gully . , penggunaan kalimat pasif dalam bahasa Arab juga dapat dilihat dalam teksteks agama dan hukum, di mana anonimitas pelaku tindakan sering kali lebih diutamakan. Linguistik kontrastif adalah cabang linguistik yang berfokus pada perbandingan antara dua atau lebih bahasa untuk mengidentifikasi kesamaan dan perbedaan struktural, semantis, dan pragmatis. Prinsip dasar linguistik kontrastif adalah bahwa dengan memahami perbedaan dan persamaan antara bahasa, kita dapat mengantisipasi kesulitan yang mungkin dihadapi oleh pembelajar bahasa kedua dan mengembangkan materi pengajaran yang lebih efektif (Lado, 1. Analisis kontrastif melibatkan dua pendekatan utama: analisis kontrastif prediktif dan analisis kontrastif deskriptif. Analisis kontrastif prediktif bertujuan untuk meramalkan kesalahan yang mungkin dilakukan oleh pembelajar berdasarkan perbedaan antara bahasa pertama dan kedua. Sementara itu, analisis kontrastif deskriptif lebih menekankan pada deskripsi rinci tentang perbedaan dan persamaan antara bahasa tanpa mencoba untuk membuat prediksi tertentu (James, 1. Metode dalam analisis kontrastif meliputi perbandingan elemen-elemen linguistik seperti fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik antara bahasa yang dianalisis. Sebagai contoh. Ellis . menunjukkan bahwa perbandingan struktur kalimat pasif antara dua bahasa dapat mengungkapkan perbedaan signifikan dalam hal pembentukan dan penggunaan, yang dapat memberikan wawasan berharga untuk pengajaran dan Corder . juga menekankan pentingnya pendekatan pragmatis dalam analisis kontrastif, di mana konteks penggunaan bahasa dan faktor-faktor sosial-budaya juga harus dipertimbangkan. Dengan demikian, melalui teori-teori dan studi sebelumnya ini, penelitian tentang perbandingan kalimat pasif dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab dapat memberikan kontribusi penting bagi pengajaran bahasa dan studi linguistik komparatif. METODE Metode ini juga disebut Auanalisis kontrastifAy, yaitu studi perbandingan antara dua bahasa atau lebih, atau dialek-dialek yang berbeda, baik yang berasal dari keluarga bahasa yang sama maupun dari keluarga bahasa yang berbeda, untuk menemukan persamaan dan perbedaan di antara mereka secara umum atau dalam aspek linguistik tertentu. Tujuan utama Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 138 penggunaannya adalah untuk memanfaatkan hasilnya dalam berbagai bidang, seperti penyusunan dan pengembangan materi pelajaran dan kurikulum pengajaran bahasa asing. Metode ini muncul selama Perang Dunia II . di Amerika Serikat, ketika ada kebutuhan mendesak untuk belajar dan mengajar bahasa lain sebagai bahasa kedua atau bahasa asing. karena tentara Amerika bertempur di berbagai belahan dunia, para pemimpin dan perwira intelijen mereka perlu memahami bahasa masyarakat tempat mereka berada dan, jika mungkin, berkomunikasi dalam bahasa tersebut. Para peneliti membandingkan bahasa-bahasa tersebut dengan bahasa Inggris menggunakan metode ini yang terbukti Namun, beberapa peneliti berpendapat bahwa metode ini sudah ada jauh sebelumnya, dengan jejaknya dimulai di Inggris ketika para ahli bahasa mulai membandingkan pola-pola tata bahasa Inggris dengan bahasa Latin. Sementara peneliti lain berpendapat bahwa metode ini dimulai pada akhir abad ke-19 ketika para ahli bahasa tertarik pada linguistik komparatif (Philology Comparativ. , dalam upaya menemukan hubungan antara berbagai bahasa di dunia pada tingkat struktural dan historis, dengan tujuan mengklasifikasikan mereka ke dalam keluarga bahasa. Metode ini mencapai puncak kematangannya pada tahun 1960-an, dan para peneliti mulai menggunakannya untuk menjelaskan masalah-masalah yang muncul dalam proses belajar dan mengajar bahasa lain sebagai bahasa kedua atau bahasa asing, serta untuk menghindari kesalahan umum yang menyertai proses tersebut. Minat terhadap metode ini meningkat pada tahun 1970-an ketika para peneliti Eropa membandingkan bahasa mereka dengan bahasa Inggris. Metode ini bermanfaat dalam klasifikasi keluarga bahasa di dunia, serta penerapan hasilnya untuk mengembangkan materi, kurikulum, dan metode pengajaran bahasa, yang membantu menghindari kesalahan bahasa yang disebabkan oleh pengaruh bahasa pertama pada bahasa kedua, dengan menyoroti persamaan dan perbedaan pada semua tingkatan: fonetis, morfologis, sintaksis, semantis, dan pragmatis. Selain itu, metode ini sangat membantu dalam studi penerjemahan, dengan menghindarkan penerjemah dari banyak kesalahan seperti penerjemahan literal dari struktur, bentuk, dan makna, melalui pemahaman menyeluruh dan akurat terhadap aspek-aspek teks yang akan diterjemahkan pada berbagai Metode ini juga memudahkan para kritikus penerjemahan untuk mengevaluasi kualitas dan menemukan kekuatan atau kelemahan terjemahan tersebut. Sebagai contoh penerapan metode ini, para peneliti menemukan bahwa perbandingan antara bahasa Arab dan bahasa Inggris menunjukkan banyak perbedaan struktural pada semua tingkatan linguistik: Fonem seperti Aoain, haAo, ghain, dan khaAo dalam bahasa Arab tidak memiliki padanan dalam bahasa Inggris. Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 139 Beberapa bentuk kata kerja dalam bahasa Arab seperti bentuk AufaAoalaAy tidak memiliki padanan dalam bahasa Inggris. Kata AupamanAy dan AubibiAy dalam bahasa Arab memiliki satu padanan dalam bahasa Inggris, dan beberapa istilah kekerabatan dalam bahasa Arab sama sekali tidak memiliki padanan dalam bahasa Inggris. Sifat . mendahului kata benda dalam bahasa Inggris sementara dalam bahasa Arab kata benda mendahului sifat. Kata penghubung . elative pronou. dapat muncul setelah kata benda tak tentu . ndefinite nou. dalam bahasa Inggris, tetapi tidak diperbolehkan dalam bahasa Arab. Melalui contoh-contoh ini, dapat diharapkan bahwa pembelajar yang bahasa pertamanya adalah bahasa Inggris akan menghadapi kesulitan dalam beberapa fenomena ini ketika mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa kedua, sehingga materi pembelajaran dapat disusun untuk menghadapi kesulitan-kesulitan ini sebelum mulai mengajarkan bahasa baru ini kepada pembelajar tersebut. HASIL DAN PEMBAHASAN Kalimat pasif dalam bahasa Indonesia ditandai oleh penggunaan prefiks Audi-Au yang dilekatkan pada kata kerja dasar. Misalnya, kata kerja AumakanAy menjadi AudimakanAy dalam kalimat pasif. Struktur kalimat pasif umumnya adalah Objek Kata Kerja Pasif Agen . Contohnya adalah AuApel itu dimakan oleh anak ituAy, di mana AuApel ituAy adalah objek. AudimakanAy adalah kata kerja pasif, dan Auoleh anak ituAy adalah agen. Dalam banyak kasus, agen bisa dihilangkan, terutama ketika tidak penting siapa yang melakukan tindakan, seperti dalam AuApel itu dimakanAy. Selain prefiks Audi-Au, bahasa Indonesia juga menggunakan prefiks Auter-Au untuk menunjukkan kejadian yang tidak disengaja atau spontan, misalnya AuterjatuhAy dalam AuBuku itu terjatuhAy. Alwi . menunjukkan bahwa penggunaan kalimat pasif dalam bahasa Indonesia sangat dipengaruhi oleh konteks pragmatis, terutama dalam situasi formal dan tulisan, di mana kalimat pasif lebih sering digunakan untuk memberikan kesan objektivitas dan ketidakberpihakan. Selain prefiks Audi-Au, bahasa Indonesia juga mengenal penggunaan prefiks Auter-Au dan Auke-anAy dalam membentuk kalimat pasif. Prefiks Auter-Au sering digunakan untuk menyatakan suatu kejadian yang terjadi secara tidak sengaja atau tanpa disadari oleh pelakunya. Misalnya. AuterjatuhAy dalam kalimat AuBuku itu terjatuh dari meja. Ay Di sini, prefiks Auter-Au menunjukkan bahwa jatuhnya buku adalah kejadian yang tidak disengaja. Prefiks Auke-anAy digunakan untuk menyatakan suatu keadaan atau situasi yang dialami oleh subjek, seperti dalam AuKebanjiranAy pada kalimat AuKota itu kebanjiran. Ay Dalam hal ini, prefiks Auke-anAy menekankan pada kondisi yang dialami oleh kota tersebut, yaitu banjir. Kedua prefiks ini Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 140 memperkaya struktur kalimat pasif dalam bahasa Indonesia dan memberikan variasi makna yang lebih kompleks. Dalam struktur kalimat pasif bahasa Indonesia, posisi agen sering kali bersifat opsional dan fleksibel. Agen, atau pelaku tindakan, dapat disebutkan dengan menggunakan preposisi AuolehAy seperti dalam AuRumah itu dibangun oleh ayah. Ay Namun, sering kali agen dihilangkan terutama ketika fokus utama adalah pada tindakan atau hasil dari tindakan tersebut, bukan pada siapa yang melakukannya. Contohnya. AuRumah itu dibangun dengan Ay Penghilangan agen ini sering terjadi dalam teks-teks formal, berita, atau laporan, di mana penekanan pada tindakan atau hasil lebih diutamakan daripada pelaku tindakan. Hal ini juga memberikan kesan lebih objektif dan impersonal dalam komunikasi, sesuai dengan konteks pragmatis dan tujuan komunikatif dari kalimat tersebut. Selain faktor pragmatis, penggunaan kalimat pasif dalam bahasa Indonesia juga dipengaruhi oleh struktur informasi dalam kalimat. Kalimat pasif memungkinkan penutur atau penulis untuk mengatur ulang elemen-elemen kalimat sesuai dengan kebutuhan informasi yang ingin disampaikan. Dalam banyak kasus, objek yang menjadi fokus atau topik utama ditempatkan di awal kalimat, sementara informasi tentang pelaku tindakan bisa ditempatkan kemudian atau dihilangkan. Misalnya, dalam laporan ilmiah atau akademik, kalimat seperti AuPenelitian ini dilakukan oleh tim peneliti dari universitasAy lebih sering digunakan daripada AuTim peneliti dari universitas melakukan penelitian iniAy karena fokus utama adalah pada penelitian itu sendiri, bukan pada tim yang melakukannya. Dalam konteks pengajaran bahasa, pemahaman tentang kalimat pasif sangat penting bagi pembelajar bahasa Indonesia. Para pembelajar sering kali mengalami kesulitan dalam memahami kapan dan bagaimana menggunakan kalimat pasif dengan benar, terutama karena perbedaan struktur dan penggunaan antara bahasa Indonesia dengan bahasa pertama mereka. Misalnya, penutur bahasa yang lebih sering menggunakan kalimat aktif mungkin merasa aneh atau kurang nyaman dengan struktur kalimat pasif yang umum dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, pengajaran yang efektif perlu menekankan pada latihanlatihan yang membantu pembelajar mengenali situasi-situasi di mana kalimat pasif lebih sesuai digunakan, serta memberikan contoh-contoh konkret dari teks-teks otentik yang menggunakan kalimat pasif. Dalam penelitian linguistik, analisis kalimat pasif juga memberikan wawasan penting tentang bagaimana bahasa Indonesia memanipulasi struktur sintaksis untuk mencapai berbagai tujuan komunikatif. Misalnya, penelitian oleh Sneddon et al. menunjukkan bahwa kalimat pasif sering digunakan dalam bahasa jurnalistik untuk memberikan laporan yang lebih objektif dan netral. Dalam konteks ini, kalimat pasif membantu menyembunyikan identitas pelaku tindakan atau menekankan hasil dari suatu tindakan tanpa memberikan penilaian subjektif. Hal ini penting dalam praktik jurnalistik di mana ketidakberpihakan dan Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 141 objektivitas merupakan nilai-nilai utama. Penelitian serupa juga menunjukkan bahwa kalimat pasif digunakan dalam bahasa hukum dan administratif untuk memberikan kesan formalitas dan ketidakberpihakan, yang esensial dalam dokumen-dokumen resmi. Secara keseluruhan, pemahaman yang mendalam tentang struktur dan penggunaan kalimat pasif dalam bahasa Indonesia tidak hanya penting dalam konteks linguistik teoritis, tetapi juga memiliki implikasi praktis yang luas dalam bidang pengajaran bahasa, penerjemahan, dan komunikasi profesional. Dengan memahami bagaimana dan kapan menggunakan kalimat pasif, penutur dan penulis bahasa Indonesia dapat lebih efektif dalam menyampaikan pesan mereka sesuai dengan tujuan komunikatif yang diinginkan. Selain itu, analisis kontrastif dengan bahasa lain, seperti bahasa Arab, dapat membantu mengidentifikasi perbedaan dan kesamaan yang signifikan, yang pada gilirannya dapat memperkaya studi linguistik komparatif dan meningkatkan efektivitas pengajaran bahasa bagi pembelajar asing. Kalimat pasif dalam bahasa Arab, atau Aual-jumlah al-majhulaAy, memiliki struktur yang berbeda dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Kata kerja dalam kalimat pasif diubah melalui modifikasi pola vokal internal. Sebagai contoh, kata kerja aktif AukatabaAy . berubah menjadi AukutibaAy . dalam bentuk pasif. Struktur dasar kalimat pasif dalam bahasa Arab adalah Kata Kerja Pasif Subjek. Sebagai contoh. AuKutiba al-kitabAy berarti AuBuku itu ditulisAy. Pelaku tindakan . jarang disebutkan dalam kalimat pasif bahasa Arab, karena fokusnya lebih pada tindakan itu sendiri. Namun, jika perlu, agen dapat disebutkan menggunakan preposisi Aubi-Au atau AuminAy diikuti oleh pelaku, seperti dalam AuKutiba al-kitab biqalam al-muAoallimAy (Buku itu ditulis oleh pena gur. Holes . mencatat bahwa penggunaan kalimat pasif dalam bahasa Arab lebih umum dalam teks-teks formal dan sastra, serta dalam konteks agama dan hukum di mana anonimitas pelaku sering diutamakan. Kalimat pasif dalam bahasa Arab dikenal sebagai Aual-jumlah al-majhulaAy dan merupakan salah satu konstruksi sintaksis yang kompleks namun penting dalam bahasa Perbedaan utama antara kalimat pasif dalam bahasa Arab dan bahasa Indonesia terletak pada cara pembentukan kata kerja pasif. Dalam bahasa Arab, perubahan dari bentuk aktif ke bentuk pasif terjadi melalui modifikasi pola vokal internal pada kata kerja. Misalnya, kata kerja aktif AukatabaAy . berubah menjadi AukutibaAy . dalam bentuk pasif. Perubahan ini melibatkan penggantian vokal AuaAy dalam AukatabaAy dengan vokal AuuAy dan AuIAy dalam AukutibaAy. Modifikasi pola vokal ini adalah karakteristik khas dari sistem morfologi Semitik, yang membedakan bahasa Arab dari bahasa-bahasa lain seperti bahasa Indonesia. Struktur dasar kalimat pasif dalam bahasa Arab terdiri dari kata kerja pasif yang diikuti oleh subjek. Dalam konstruksi ini, kata kerja pasif ditempatkan di awal kalimat dan diikuti oleh subjek yang menerima tindakan. Misalnya, dalam kalimat Aukutiba al-kitabAy . uku itu dituli. AukutibaAy adalah kata kerja pasif yang berarti AuditulisAy, dan Aual-kitabAy adalah subjek yang menerima tindakan penulisan. Struktur ini menunjukkan bahwa dalam bahasa Arab, fokus Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 142 utama dari kalimat pasif adalah pada tindakan yang dilakukan, bukan pada pelaku tindakan Hal ini berbeda dengan bahasa Indonesia, di mana agen atau pelaku tindakan sering disebutkan dalam kalimat pasif. Pelaku tindakan atau agen dalam kalimat pasif bahasa Arab jarang disebutkan, karena fokus utama adalah pada tindakan itu sendiri. Namun, jika perlu untuk menyebutkan agen, bahasa Arab menggunakan preposisi Aubi-Au atau AuminAy yang diikuti oleh pelaku. Sebagai contoh, dalam kalimat Aukutiba al-kitab bi-qalam al-muAoallimAy . uku itu ditulis oleh pena gur. , preposisi Aubi-Au digunakan untuk menunjukkan alat atau medium yang digunakan oleh pelaku Penggunaan preposisi ini memberikan fleksibilitas dalam menyebutkan agen tanpa mengubah fokus utama dari kalimat pasif, yaitu tindakan itu sendiri. Penggunaan kalimat pasif dalam bahasa Arab lebih umum ditemukan dalam teks-teks formal dan sastra. Holes . mencatat bahwa kalimat pasif sering digunakan dalam literatur klasik, teks-teks keagamaan, dan dokumen hukum. Anonimitas pelaku dalam konteks-konteks ini sering kali lebih diutamakan untuk memberikan kesan objektivitas dan Misalnya, dalam Al-Quran, banyak ayat menggunakan bentuk pasif untuk menyampaikan perintah dan hukum tanpa menyebutkan pelaku tertentu, yang mencerminkan pentingnya tindakan dan dampaknya daripada siapa yang melakukannya. Selain dalam teks-teks formal dan sastra, kalimat pasif juga digunakan dalam konteks pendidikan dan penulisan akademis dalam bahasa Arab. Dalam makalah ilmiah, misalnya, kalimat pasif sering digunakan untuk mendeskripsikan proses penelitian atau eksperimen tanpa menyebutkan peneliti secara spesifik. Ini membantu dalam mempertahankan fokus pada hasil dan metode penelitian daripada individu yang melaksanakannya. Sebagai contoh. Aufumiya al-maAojuunAy . ampuran itu dipanaska. adalah konstruksi pasif yang umum digunakan dalam laporan eksperimen untuk menjelaskan prosedur tanpa menyebutkan siapa yang melakukan tindakan tersebut. Dalam bahasa Arab modern standar (MSA), yang digunakan dalam media, pendidikan, dan komunikasi formal, kalimat pasif tetap relevan dan sering digunakan. Misalnya, dalam laporan berita, kalimat pasif digunakan untuk menyampaikan informasi tentang kejadian tanpa menyebutkan sumber atau pelaku secara langsung. Hal ini memungkinkan penyampaian informasi dengan netralitas dan tanpa bias. Contoh dari penggunaan ini adalah Auuqila ar-rajulAy . ria itu ditangka. , di mana tindakan penangkapan adalah fokus utama tanpa menyebutkan siapa yang melakukan penangkapan Dalam dialek-dialek Arab, penggunaan kalimat pasif cenderung lebih jarang dibandingkan dengan bahasa Arab standar. Dialek-dialek Arab, seperti dialek Mesir. Levant, dan Maghreb, lebih sering menggunakan bentuk aktif dengan struktur yang diubah untuk menyampaikan makna yang sama. Misalnya, dalam dialek Mesir, kalimat seperti Auel-kitab Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 143 itkatabAy . uku itu dituli. sering digunakan, yang menggabungkan elemen bentuk pasif dengan struktur dialektal yang lebih familiar bagi penutur asli. Studi-studi linguistik telah menunjukkan bahwa penggunaan kalimat pasif dalam bahasa Arab tidak hanya bervariasi berdasarkan konteks, tetapi juga berdasarkan genre teks. Misalnya, dalam analisis teks hukum, kalimat pasif sering digunakan untuk menyatakan peraturan dan hukum dengan cara yang impersonal dan netral. Sebaliknya, dalam teks naratif atau fiksi, kalimat pasif mungkin digunakan untuk memberikan efek tertentu, seperti menyoroti objek atau hasil dari suatu tindakan daripada pelaku tindakan itu sendiri. Dalam konteks pembelajaran bahasa Arab sebagai bahasa kedua, pemahaman tentang struktur dan penggunaan kalimat pasif sangat penting. Pelajar bahasa Arab sering kali mengalami kesulitan dalam mempelajari bentuk pasif karena perbedaan signifikan dalam morfologi dan sintaksis dibandingkan dengan bahasa ibu mereka. Oleh karena itu, pengajaran yang efektif tentang kalimat pasif harus mencakup latihan intensif dalam mengenali dan menggunakan bentuk-bentuk pasif, serta memahami konteks di mana bentuk-bentuk ini paling tepat digunakan. Dengan demikian, pemahaman mendalam tentang struktur dan penggunaan kalimat pasif dalam bahasa Arab tidak hanya penting bagi penutur asli, tetapi juga bagi penutur bahasa kedua dan penerjemah. Pengetahuan ini membantu dalam menghasilkan terjemahan yang akurat dan alami, serta dalam mengajarkan bahasa Arab dengan cara yang efektif dan Kesadaran akan perbedaan dan kesamaan dengan bahasa lain, seperti bahasa Indonesia, juga dapat memperkaya perspektif linguistik dan meningkatkan kemampuan komunikasi lintas bahasa dan budaya. Meskipun kedua bahasa memiliki mekanisme untuk membentuk kalimat pasif, terdapat perbedaan signifikan dalam struktur dan penggunaannya. Dalam bahasa Indonesia, kalimat pasif dibentuk dengan prefiks Audi-Au atau Auter-Au pada kata kerja, sementara dalam bahasa Arab, bentuk pasif dicapai melalui perubahan pola vokal dalam kata kerja. Agen dalam kalimat pasif bahasa Indonesia dapat disebutkan atau dihilangkan, sedangkan dalam bahasa Arab agen jarang disebutkan dan lebih sering dihilangkan. Penggunaan kalimat pasif dalam kedua bahasa juga dipengaruhi oleh konteks: dalam bahasa Indonesia, kalimat pasif lebih sering muncul dalam situasi formal dan tulisan, sementara dalam bahasa Arab, kalimat pasif lebih umum digunakan dalam teks-teks formal, sastra, agama, dan hukum. Temuan penelitian ini memiliki implikasi teoretis dan praktis yang penting. Secara teoretis, penelitian ini memperkaya studi linguistik kontrastif dengan memberikan wawasan mendalam tentang perbedaan dan persamaan dalam struktur kalimat pasif antara bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Hal ini juga membantu dalam memahami bagaimana masingmasing bahasa memanfaatkan kalimat pasif untuk mencapai tujuan komunikatif yang Secara praktis, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dalam Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 144 pengajaran bahasa, khususnya dalam mengajarkan kalimat pasif kepada penutur asli maupun penutur asing dari kedua bahasa tersebut. Misalnya, materi pengajaran bahasa dapat disesuaikan untuk mengatasi kesulitan yang mungkin dihadapi oleh pembelajar yang bahasa pertamanya adalah bahasa Indonesia atau bahasa Arab dalam mempelajari kalimat pasif dari bahasa kedua. Selain itu, dalam konteks penerjemahan, pemahaman yang lebih baik tentang struktur kalimat pasif dalam kedua bahasa dapat membantu penerjemah menghindari kesalahan terjemahan yang disebabkan oleh perbedaan struktural dan penggunaan antara bahasa Indonesia dan bahasa Arab. KESIMPULAN Penelitian ini mengungkapkan perbedaan mendasar antara struktur dan penggunaan kalimat pasif dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Dalam bahasa Indonesia, kalimat pasif dibentuk dengan prefiks Audi-Au atau Auter-Au yang ditempelkan pada kata kerja dasar, sementara dalam bahasa Arab, perubahan terjadi melalui modifikasi pola vokal internal pada kata kerja. Struktur dasar kalimat pasif bahasa Indonesia terdiri dari Objek Kata Kerja Pasif Agen . , sedangkan dalam bahasa Arab, struktur dasarnya adalah Kata Kerja Pasif Subjek, dengan agen jarang disebutkan. Penggunaan kalimat pasif dalam bahasa Arab lebih umum dalam teks-teks formal, sastra, dan konteks agama atau hukum, di mana anonimitas pelaku sering diutamakan untuk memberikan kesan objektivitas dan universalitas. Sebaliknya, dalam bahasa Indonesia, kalimat pasif juga sering ditemukan dalam situasi formal dan tulisan untuk memberikan kesan Perbedaan ini menunjukkan bagaimana masing-masing bahasa memanfaatkan kalimat pasif untuk mencapai tujuan komunikatif yang berbeda. Implikasi dari temuan ini sangat penting bagi pengajaran bahasa dan penerjemahan. Pemahaman mendalam tentang struktur dan penggunaan kalimat pasif dapat membantu pengajar bahasa menyusun materi yang lebih efektif dan membantu penerjemah menghasilkan terjemahan yang lebih akurat. Penelitian ini juga memperkaya studi linguistik kontrastif dengan memberikan wawasan mendalam tentang perbedaan dan persamaan dalam struktur kalimat pasif antara bahasa Indonesia dan bahasa Arab. REFERENSI Alwi. Tata bahasa baku bahasa Indonesia. Arifin. , & Junaiyah. Morfologi: bentuk, makna, dan fungsi. Jakarta: Grasindo. Badawi. ES. Carter. , & Gully. Bahasa Arab tulis modern: Tata bahasa Routledge. Ellis. Akuisisi bahasa kedua. Amerika Serikat: Oxford , 98 . Hartati. KAJIAN TINDAK TUTUR WACANA yC eBUAT AKTA USIA DEWASAyC KORAN TRIBUN PONTIANAK. Jurnal Pendidikan Bahasa, 4. , 243-252. Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 145 Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan. Analisis kontrastif. http://w. Pribadi. Unijena. Dari/ mu65qev/papdf/CA. Bahasa Indonesia: pdf . Muslich. Fonologi Indonesia: Survei deskriptif tentang tata suara Indonesia . Karakter Bumi. Ramdiani. Sintaksis Bahasa Arab (Sebuah Kajian Deskripti. El-Hikam, 7. Ryding. A reference grammar of modern standard Arabic. Cambridge university Simega. Similarity-INTERPRETASI MAKNA BAHASA TORAJA DALAM INDUSTRI KREATIF KAOS OBLONG. Sudrajat. Pengajaran Nihongo Doushi Te-Kei Di Fakultas Bahasa Dan Seni. Dinamika Pembelajaran, 2. Wijana. , & Rohmadi. Sosiolinguistik: Kajian teori dan analisis. Pustaka