Davar: Jurnal Teologi ISSN 2722-905X (online), 2722-9041 (print) Vol. 1, No. 2 (2020): 101–112 http://e-journalsangkakala.ac.id/index.php/DJT Etika Terapan Dalam Misi Global Hasiholan Sihaloho, Martina Novalina, Mario Alberto Manodohon STT Ekumene Jakarta Email: martina@sttekumene.ac.id Abstract Awareness of the realities of challenges in the world of mission arises because of the many developing global issues. How to respond correctly to these challenges is regulated in an applied ethics. This article aims to look at the role of applied ethics in global missions and produce a finding of the attitudes that Christian missioners should take. The method used is qualitative research with a literature review. The result is that in relation to applied ethics, a holistic mission does not merely pursue soul winning as the end of the Christian life. On the contrary, the commissioning to make them My disciples according to Christian ethics necessitates a process of transformation; on the one hand self-transformation and on the other social transformation. Mission must be accompanied by the application of the correct Christian ethics, so that every behavior that is created shows the face of Christ himself. Keywords: applied ethics, global mission, global issues. Abstrak Kesadaran akan realitas tantangan di tengah dunia misi muncul karena banyaknya isu-isu global yang berkembang. Bagaimana meresponi dengan benar tantangan tersebut diatur dalam sebuah etika terapan. Artikel ini bertujuan untuk melihat peran etika terapan dalam misi global dan menghasilkan sebuah temuan sikap yang harus dilakukan oleh penggiat misi Kristen. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan literature review. Hasil yang didapat adalah bahwa dalam hubungan dengan etika terapan, misi yang holistik tidak sekedar mengejar pemenangan jiwa sebagai akhir dari kehidupan Kristen. Sebaliknya, pengutusan untuk menjadikan mereka murid-Ku sesuai dengan etika Kristen mengharuskan suatu proses transformasi; di satu pihak transformasi diri dan di pihak yang lain transformasi sosial. Misi harus disertai dengan penerapan etika Kristen yang benar, sehingga setiap perilaku yang tercipta menampilkan wajah Kristus itu sendiri. Kata kunci: etika terapan, misi global, isu-isu global. Pendahuluan Dunia modern ditandai dengan begitu banyak tantangan yang mungkin tidak pernah terbayangkan beberapa tahun sebelumnya. Di satu sisi, laju perubahan teknologi menegaskan kepintaran manusia, di sisi lain, kemiskinan global yang tetap bertahan menjadi tantangan tersendiri bagi rasa keadilan. Sebuah penelitian menyatakan bahwa 101 fenomena hoaks justru kerap muncul di era revolusi industri 4.0.1 Belum lagi tantangan munculnya radikalisme agama membuat orang harus berpikir ulang bagaimana menghadirkan kedamaian dan kebenaran di tengah kondisi keagamaan yang tidak kondusif; permainan politik yang kotor mendapatkan kendaraan yang ampuh dalam kedok keagamaan.2 Rekam jejak penindasan atas perempuan pun telah begitu lama terjadi dan tersebar begitu luas sehingga ada kebutuhan untuk memperbaiki dan memulihkannya oleh masyarakat yang didominasi oleh laki-laki.3 Seorang penulis feminis Janet Radcliffe Richards berpendapat bahwa perempuan menderita ketidakadilan sosial yang sistematis karena jenis kelaminnya. Sedangkan Germaine Greer berpendapat bahwa perempuan adalah mayoritas yang sungguh-sungguh tertindas. Jati diri mereka didefinisikan oleh laki-laki dengan cara yang paling merendahkan, terutama ketika perempuan dipandang oleh laki-laki sebagai objek seksual.4 Padahal, dalam Alkitab, kesetaraan didasarkan pada penciptaan (Kej. 1:26-28). Nas Alkitab tidak memberi kesan bahwa salah satu dari kedua seks itu lebih besar keserupaannya dengan Allah daripada yang lain, atau bahwa salah satu dari kedua seks lebih bertanggung jawab atas bumi daripada yang lain. Kesetaraan itu menjadi rusak karena kejatuhan manusia. Namun kesetaraan ditegaskan oleh Yesus (Luk. 8:1, dst; Mrk. 15:41; Yoh. 8:1, dst; Luk. 7:36, dst) dan dijunjung tinggi oleh Paulus (Gal. 3:28). Perbedaan jenis kelamin ini merupakan kelengkapan dari karya agung dan merupakan ide dahsyat dari Sang Khalik yang mengagumkan.5 Tantangan kohabitasi dan perceraian ikut serta mewarnai dunia modern ini. Kohabitasi adalah praktek hidup bersama sebagai suami-istri tanpa perkawinan. Orang yang memutuskan untuk menjalani kohabitasi mungkin karena alasan yang mereka anggap terbaik, misalnya mungkin mereka tidak ingin mengulangi kesalahan perkawinan orang tua mereka. Kohabitasi dapat dikatakan sebagai percobaan perkawinan karena hakikatnya hanya sementara.6 Sedangkan perceraian bisa terjadi karena disebabkan berbagai faktor, yaitu perbedaan pendapatan, perbedaan strata pendidikan, dan perbedaan kebudayaan serta sikap kukuh seseorang terhadap ajaran keagamaan. Adanya salah tafsir Mark Phillips Eliasaputra, Martina Novalina, and Ruth Judica Siahaan, “Tantangan Pendidikan Agama Kristen Di Era Revolusi Industri 4.0 Dan Pasca Kebenaran,” BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 1, no. 1 (June 15, 2020): 1–22, accessed December 31, 2020, www.jurnal.sttissiau.ac.id/Volume. 2 Obet Nego, “Teologi Multikultural Sebagai Respon Terhadap Meningkatnya Eskalasi Politik Identitas Di Indonesia,” PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 16, no. 2 (November 2020): 121–139; Martina Novalina, “Spiritualitas Orang Kristen Dalam Menghadirkan Kerajaan Allah Di Tengah Tantangan Radikalisme,” Jurnal Teologi Kontekstual Indonesia 1, no. 1 (June 2020): 26. 3 John Stott, Isu-Isu Global (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2015). 4 Germaine Greer, “The Female Eunuch,” in Sex and Destiny, The Politics of Human Fertility (London: Secker & Warburg, 1971); Janet Radcliffe Richards, The Sceptical Feminist (Harmondsworth: Penguin, 1982). 5 Erastus Sabdono, Doktrin Keselamatan (Jakarta: Rehobot Literature, 2019). 6 William D. Bramlett, Matthew D., dan Mosher, “Cohabitation, Marriage, Divorce and Remarriage in the United States.” 1 102 terhadap Matius 19:9 mengenai perceraian karena zinah pun kerap menjadi alasan orang Kristen melegalkan perceraian. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Pelita Hati Surbakti mengatakan bahwa ayat tersebut kerap menjadi perdebatan. Ada yang menafsir bahwa Yesus membenarkan suami menceraikan istrinya, namun ada juga yang menafsirkan sebaliknya. Dengan menggunakan hakikat retorika injil Matius sebagai bingkai penafsiran maka secara implisit didapati bahwa Yesus tidak membenarkan seorang suami menceraikan istrinya yang berzinah.7 Namun di atas semua itu, alasan terbesar terjadinya perceraian ialah merosotnya iman Kristen dan hilangnya komitmen terhadap pemahaman Kristen tentang kesucian dan nilai kekal perkawinan. Tantangan aborsi, euthanasia, hubungan sesama jenis, perpecahan keluarga, pelaku bom bunuh diri, dan permasalahan lainnya membuat orang Kristen benar-benar harus berpikir keras: apakah perlu melibatkan diri dalam dunia seperti ini? Masihkah perlu untuk memberitakan Kristus? Atau mengambil jalan berdiam seolah-olah itu bukanlah masalah dalam diri. Keterlibatan orang Kristen memiliki banyak dimensi yang bisa ditelusuri, salah satunya adalah dengan menjalankan misi global. Kendati demikian, pelaksanaan misi global tentunya tidak bisa dilakukan secara serampangan. Ada etika kekristenan yang menjadi pagar penjaga agar semua pelayanan misi yang dilakukan tetap berada dalam koridor kebenaran dan kehendak Allah. Artikel ini hendak melakukan kajian tentang bagaimana penerapan etika Kristen itu memadai dalam pelaksanaan misi global di tengah isu-isu yang ada. Metode Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif menggunakan literature review. Dimana, pemaparan akan fenomena yang ditemukan dijadikan sebagai latar belakang masalah, yang kemudian akan dibahas secara mendalam melalui kajian literatur dari buku-buku, jurnal, maupun sumber-sumber lain yang berkaitan dengan topik bahasan. Pendekatan literature review ini dilakukan mengingat permasalahan yang akan dikaji hanya bisa dijawab melalui penelitian pustaka, dimana kajian mengenai etika terapan dan misi ada dalam Alkitab maupun buku-buku, serta jurnal pendukung lainnya. Peneliti juga melihat bahwa data pustaka dianggap tetap andal untuk memberikan jawaban terhadap persoalan penelitian yang memuat informasi data empiris yang diteliti oleh orang lain namun tetap dapat digunakan sebagai sumber-sumber literature review.8 Pelita Hati Surbakti, “Jangan Menceraikan Istri Yang Berzinah: Penafsiran Terhadap Matius 19:9,” Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat 4, no. 1 (January 2020): 79. 8 Agustin Soewitomo Putri, “Tips Dan Trik Pemilihan Dan Penyusunan Literatur Review,” in Strategi Menulis Jurnal Untuk Ilmu Teologi, ed. Sonny Eli Zaluchu (Semarang: Golden Gate Publishing, 2020), 49–50. 7 103 Hasil dan Pembahasan Etika Terapan Sebagaimana manusia adalah mahluk yang diciptakan segambar dengan Allah (Imago Dei), manusia adalah citra dan mahkota dari segala ciptaan Allah. Dikatakan segambar dengan Allah, jelas mengindikasikan bahwa manusia memiliki keberadaan dan kemampuan seperti Allah. Dalam diri manusia dilengkapi komponen-komponen yang tidak ada di dalam makhluk lain, di mana komponen-komponen tersebut juga ada di dalam diri Allah.9 Maka manusia pun merupakan pribadi yang memiliki moral. Moral manusia meliputi tanggung jawab untuk mengambil keputusan atau bertindak sesuai pertimbangan-pertimbangan etisnya. Kualitas manusia memberi peran yang sangat dominan terhadap keadaan manusia dalam segala aspeknya, itulah mengapa perlu adanya fondasi yang benar untuk membangun kualitas ini. Fondasi itu harus dilandaskan pada firman Tuhan (Rm. 12:2), yang pada akhirnya mengubah dan membangun kualitas manusia yang unggul. Dalam mempelajari etika, yang harus diperhatikan adalah bagaimana agar etika yang ditampilkan bukan sekedar ilmu yang menyelidiki tingkah laku manusia, tetapi etika harus tampil sebagai ilmu yang memberi motivasi seseorang untuk mengambil keputusan yang tepat. Etika terapan pun dapat menjadi alat untuk mewujudkan apa yang dikehendaki oleh Tuhan, yaitu agar orang percaya menjadi sempurna seperti Bapa di Surga (Mat. 5:48). Landasan dalam memecahkan kasus-kasus etis bagi orang Kristen adalah Alkitab. Seorang perumus etis (rohaniwan, konselor, pembina rohani, pembicara) harus cakap menguasai isi Alkitab dengan menggunakan metode hermeneutik yang benar. Selain itu, mereka pun harus memiliki sikap hati dan pola hidup yang benar, sesuai dengan kebenaran Alkitab. Firman dipelajari bukan untuk sekedar dipahami tetapi diperagakan. Firman yang diperagakan akan menjadi milik abadi seseorang. Teologi yang tidak menuntut siswanya untuk menjadi pelaku adalah ateologi. Para perumus etis maupun orang percaya harus memiliki kehidupan yang dipimpin oleh roh. Berkenaan dengan istilah dipimpin roh, pemahaman orang percaya tidak boleh salah. Dipimpin oleh roh maksudnya adalah berjalan seirama dengan roh. Istilah ini mengacu kepada penyesuaian jiwa manusia terhadap kehendak rohnya. Roh disini bisa roh manusia itu sendiri (Gal. 5:18). Dengan cara begitulah, seseorang dapat mengambil keputusan etis menurut Tuhan. Orang percaya yang memberi diri dipimpin oleh roh, pasti bisa mendengar suara Tuhan. Mendengar suara Tuhan ini hanya bisa ditujukan kepada orang-orang Kristen yang sudah keluar dari pola kekristenan yang oportunis dan manipulatif. Mereka adalah 9 Erastus Sabdono, “Mencapai Kesucian” (Jakarta: Rehobot Literature, 2019). 104 orang Kristen yang dewasa. Interaksi orang Kristen dengan Allah dalam sebuah hubungan mendengar dan berbicara, ini adalah bagian dari persahabatan dengan Allah (Willard, 2017). Cara agar orang Kristen bisa mendengar suara Tuhan dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya: seseorang harus percaya bahwa Allah adalah Allah yang hidup; mereka harus aktif mencari kehendak Allah dengan rasa haus dan lapar akan kebenaran. Dibutuhkan sebuah sikap rendah hati sebagai pangkal kesadaran bahwa manusia membutuhkan Tuhan. Seseorang harus hidup suci,dan juga berjalan dalam kebenaran (Yes. 59:2), dimana Alkitab dijadikan sebagai tuntunan hidup satu-satunya. Pelayanan yang benar adalah usaha agar jemaat berada dalam pertumbuhan yang benar (Ef. 4:11-15). Seorang pelayan jemaat yang selalu menghadapi persoalan-persoalan jemaat akan selalu dipertemukan dengan pertanyaan-pertanyaan masalah kehidupan aktual yang sedang berlangsung. Pelayan jemaat harus memberi jawaban yang akurat Alkitabiah. Tetapi kalau seorang pelayan jemaat berhenti belajar maka jemaat akan menjadi korban pikiran mendadak. Ini adalah penyesatan. Oleh sebab itu seorang pelayan tidak boleh berhenti belajar. Ia harus selalu menambah wawasan berpikirnya dari pembacaan Alkitab dan doa pribadi, mendengarkan rekan hamba Tuhan lain yang mengajar dengan benar, membaca literature yang bermutu, belajar teologi dari sekolah teologi, baik bergelar maupun non gelar. Sementara pelayanan sebagai pelayan jemaat bergulir, hendaknya ia terus belajar untuk meningkatkan kualitas profesional pelayanannya. Tidak ada waktu berhenti belajar, kecuali setelah dikubur. Sepanjang umur hidup harus terus belajar teologi, yaitu pengenalan akan Tuhan. Perangkat yang digunakan sebagai sarana untuk menyusun suatu pokok-pokok tentang etika sistematis adalah: (a) Roh kudus; yang membawa orang percaya kepada segala kebenaran (Yoh. 16:13). Kehidupan yang dipimpin Roh Kudus dapat dialami kalau seseorang hidup dalam kesucian dan menghargai Tuhan serta persekutuan dalam doa yang ketat. (b) Alkitab; harus dimengerti secara benar. (c) Dokumen; tulisan mengenai etika para pendahulu-pendahulu yang telah belajar banyak dari fakta empiris kehidupan ini. (d) Pikiran; pikiran yang diterangi oleh Roh Kudus. Rasio harus digunakan secara optimal untuk mengeksplorasi kebenaran-kebenaran Tuhan yang bertalian dengan hukum-Nya. Etika Kristen mempunyai segi-segi yang bersentuhan atau menyinggung bermacam-macam ilmu pengetahuan lainnya, misalnya dengan ilmu medis yang 105 membahas operasi transeksual 10, dengan ilmu sipil 11, perihal berbusana 12, ekologi 13, dan ilmu-ilmu lainnya. Hal ini bertujuan agar etika tidak salah dalam memberikan pandangan etisnya yang berkenaan dengan masalah-masalah yang menyangkut kedokteran, atau masalah-masalah bidang lainnya. Etika Kristen bertemu dengan berbagai kultur, budaya, cara hidup bermacam-macam suku bangsa. Etika Kristen dituntut untuk mengkomunikasikan perintah Tuhan dengan segala suku bangsa yang memiliki bermacam-macam kultur, budaya dan cara hidup, yaitu bagaimana seseorang menjalani hidupnya. Di dalam etika, dituntut mengambil pilihan sebagai keputusan atas hukum yang ditawarkan. Hal ini pun berlaku dalam pelayanan misi. Bagaimana ketepatan tindakan dalam setiap pelayanan menggunakan kaidah-kaidah etika Kristen. Sebagai umat pilihan memecahkan suatu masalah bukanlah tujuan hidup, itu hanya bagian dari persoalan kecil yang dihadapi orang percaya. Namun, masalah sekecil apapun menjadi besar dan berarti jika dikorelasikan dengan maksud penyelamatan Allah atas umat pilihan-Nya. Melalui berbagai persoalan Tuhan menyempurnakan orang percaya atau melatih orang percaya untuk memiliki sikap atau manusia batiniah yang benar (Rm. 8:18). Melalui segala pengalaman hidup seseorang hendak didewasakan sehingga dapat melakukan kehendak Bapa.14 Berbagai persoalan hidup yang dialami orang percaya di berbagai bidang yang digeluti merupakan ‘sekolah kehidupan’ yang mahal dan sangat bernilai yang tidak pernah terulang untuk selamanya, sebab kesempatan manusia hidup hanya satu kali saja.15 Hidup di dunia ini adalah pelatihan untuk mengenakan model atau gaya hidup yang Tuhan kehendaki. Jadi, kalau seseorang menolak gaya hidup tersebut berarti menolak keselamatan, sebab keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya semula. Rancangan semula Allah adalah menciptakan mahluk yang mengerti apa yang diinginkan oleh Allah Bapa; segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia harus sesuai dengan pikiran-Nya. Itulah tujuan manusia diciptakan serupa dengan diri-Nya, manusia tanpa tekanan hukum dan peraturan dan bertindak sesuai dengan keinginan-Nya atau sekualitas dengan Allah Bapa 16. Kalau etika terapan berangkat dari prinsip ini barulah menjadi etika yang benar. Dalam mengambil keputusan etis, orang percaya harus menemukan kehendak Allah dengan tepat dan sempurna. 10 I Wayan Purnama and Simon Alexander Tarigan, “Tinjauan Etika Kristen Terhadap Operasi Transeksual,” Jurnal Jaffray (2011). 11 Sonny Zaluchu, “Sudut Pandang Etika Kristen Menyikapi Pembangkangan Sipil (Civil Disobedience),” DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani (2018). 12 Evi Prasti, “Pandangan Etika Kristen Tentang Berbusana Bagi Wanita Kristen,” Jurnal Teologi Berita Hidup (2019). 13 Jefri Hina Remikatu, “Teologi Ekologi: Suatu Isu Etika Menuju Eskatologi Kristen,” CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika (2020). 14 Sabdono, Doktrin Keselamatan. 15 Erastus Sabdono, New Paradigm of Christian Living (Jakarta: Rehobot Literature, 2019). 16 Erastus Sabdono, “Hidup Menurut Roh,” Jakarta: Rehobot Literature (2017). 106 Mengerti kehendak Tuhan bukan hanya karena aturan hukum-hukum yang ada tetapi memiliki kepekaan terhadap pikiran dan perasaan Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan mengutus Roh Kudus kepada orang percaya. Namun, kalau orang percaya tidak merespon karya Roh Kudus, maka orang tersebut tidak akan mengerti kehendak Allah.17 Hukum yang diberikan Tuhan hanya menjadi ‘tutor’ sementara, sebab akhirnya tanpa tekanan dan bayang-bayang hukum seseorang bisa memiliki kelakuan bukan saja tidak melanggar hukum tetapi sesuai dengan kehendak Allah sendiri. Kualitas moral seperti inilah yang Allah Bapa kehendaki untuk dimiliki oleh Anak-anak-Nya.18 Maksud etika terapan adalah bagaimana seorang anak Allah memiliki tatalaksana kehidupan yang benar. Inilah sebenarnya bentuk atau warna hidup ideal yang dikehendaki oleh Allah untuk dikenakan dalam hidup setiap manusia. Tentu saja dari semula Allah sudah merancang bagaimana seharusnya manusia menyelenggarakan hidupnya. Namun sayangnya, tatalaksana ini tidak dimiliki oleh manusia sebab Adam belum pernah mencapai kualitas kehidupan seperti yang dikehendaki oleh Allah. Kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah, yang berarti manusia menjadi tidak berkualitas. Manusia tidak lagi bisa memahami kehendak Tuhan dengan tepat dan sempurna dan pada akhirnya tidak memiliki tatalaksana kehidupan yang ideal menurut Allah. Seharusnya mereka menjadi manusia Allah, dalam pengertian memiliki kualitas moral seperti Allah.19 Halangan terbesar dalam mengenakan tatalaksana kehidupan yang benar adalah diri sendiri. Manusia harus berjuang keras untuk bisa mengenakan tatalaksana kehidupan yang benar. Hidup bukanlah sesuatu yang gratis, semua ada harganya. Pertanggung jawaban harus diberikan di akhir kehidupan ini (Roma 14:12; 2 Kor. 5:9-10). Kematian Yesus di kayu salib bukanlah upaya yang membuat manusia menghindarkan dirinya dari tanggung jawab. Anugerah keselamatan justru menempatkan orang-orang percaya untuk hidup sebagai anak-anak Allah yang sempurna, hal inilah yang membuat hidup orang percaya menjadi berat. Orang percaya dinyatakan sebagai orang-orang yang berhutang untuk hidup menurut roh bukan menurut daging (Rm. 8:12). Dalam mengambil keputusan harus didasari pikiran ini bahwa orang percaya berhutang melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah. Hal ini dimaksudkan agar tidak ada keputusan yang diambil hanya untuk kesenangan dan keuntungan diri sendiri. Begitu pula dengan pengambilan keputusan etis. Semua keputusan harus didasarkan kepada kehendak dan kesenangan Allah, sehingga pada akhirnya semua solusi akan masalah yang ada haruslah bermuara kepada kepentingan/kesenangan Allah. Dalam hal ini, Kristuslah yang menjadi role modelnya. 17 Ibid. Sabdono, “Mencapai Kesucian.” 19 Sabdono, Doktrin Keselamatan. 18 107 Misi Global Misi Kristen dalam dunia adalah memenuhi panggilan Kristus untuk memberitakan Injil-Nya kepada dunia yang terhilang melalui hikmat dan kekuatan Allah. Setelah kematian dan kebangkitan Kristus, Ia memerintahkan para murid-Nya untuk memberitakan Injil, pesan dari penebusan-Nya; “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat. 28:1920). Dalam pemuridan, setiap orang yang masuk dalam komunitas iman pada Kristus, diterima dengan tanpa membedakan mereka.20 Amanat Agung ini pun berlaku hingga kekristenan zaman sekarang. Mematuhi panggilan-Nya bukanlah sebuah beban namun membawa sukacita dan upah dalam Kerajaan Surga. Mematuhi panggilan-Nya hendaknya tidak dilakukan dengan terpaksa namun karena kasih kepada-Nya (2 Kor. 5:14-21). Kata “misi” berasal dari bahasa Latin missio, yang berarti pengutusan, Missio Dei berarti pengutusan yang berasal dari atau kepunyaan Allah.21 Dalam bahasa Belanda dipakai dua istilah yaitu zending untuk pekabaran Injil Protestan dan missie yaitu untuk misi dari Gereja Roma Katolik, hal ini terjadi karena adanya polarisasi dahulu ketika orang membedakan atau memisahkan Gereja Protestan dan Gereja Katolik. Pengertian tentang misi telah berkembang sejalan dengan perkembangan sejarah misi itu sendiri, untuk melihat corak misi dengan wajah lama akan dipilah sebagai berikut:22 (1) Foreign Mission yang berwajah kolonial, misi semacam ini berkembang bersamaan dengan misi Kristen Barat yang berdampingan dengan kolonialisme modern. Pemahaman misi ini menekankan segi geografis dalam menafsirkan “Pergilah….” dari Matius 28:18-20 yang diartikan sebagai tugas mengkristenkan semua bangsa yang dianggap masih kafir dan menyembah berhala. (2) Misi “Civilization”, corak misi semacam ini menjadikan Gerejagereja di di Asia dan bagian Dunia Ketiga lainnya tidak berakar dalam kehidupan bermasyarakat. (3) Misi Penaklukan (penganut) agama-agama lain, pemahaman misi ini terhadap agama-agama lain adalah penganut agama lain harus ditaklukan. Pengaruh besar dalam usaha zending di Indonesia, termasuk sejarah Gereja-gereja Asia saat itu, hampir kelihatan hubungan yang bersifat permusuhan dengan agama-agama lain. (4) Misi sebagai Church Planting dan Church Growth, abad ke-19 sering disebut juga sebagai the great century mission. Pemahamannya adalah menumbuhkan gereja dengan penekanan pertambahan jumlah anggota (kuantitatif) merupakan aspek tujuan Allah sendiri untuk I Putu Ayub Darmawan, “Jadikanlah Murid: Tugas Pemuridan Gereja Menurut Matius 28:1820,” Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat 3, no. 2 (2019): 144–153, accessed March 3, 2020, https://journal.sttsimpson.ac.id/index.php/EJTI/article/view/138. 21 Emanuel Gerrit Singgih, Berteologi Dalam Konteks (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000). 22 Widi Artanto, Menjadi Gereja Missioner Dalam Konteks Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997). 20 108 memperluas Kerajaan Allah. (5) Misi Individualistis, pemahaman ini dibatasi oleh pengertian yang pietistis dan individualistis. Missionaris yang membawa pemahaman ini berkaitan dengan pemboncengan misi Kristen Barat dalam ekspansi kolonial sehingga tidak mengganggu misi “politis” yang dijalankan pemerintah penjajah. Misi Kristen tidak dapat dilakukan dengan kekuatan sendiri, Allah bekerja dalam hati orang-orang yang bertobat (2 Kor. 5:20-21). Namun, sekalipun pertobatan adalah karya Roh Kudus, orang-orang Kristen harus mengerti Injil dan memiliki hubungan yang kuat dengan Kristus.23 Hubungan intim dengan Tuhan menjaga mereka dari kemunafikan (1 Petrus 3:15-16). Misi Kristen adalah menaati Kristus, memberitakan Kristus, dan bersandar kepada Kristus. Allah mengirim para misionaris melalui gereja-gereja atau badan-badan misi kepada mereka yang belum terjangkau. Belajar dari Paulus dalam Kisah Para Rasul 16:13-40, ada beberapa strategi misi yang dapat dilakukan seperti: memenangkan jiwa di daerah asal, tidak kompromi dengan dosa, melakukan mujizat dan memenangkan orang-orang terpandang.24 Semua orang Kristen memiliki misi untuk menjangkau mereka. Allah bekerja melalui para misionaris dan orang-orang Kristen yang memberitakan Injil-Nya. Gereja bukan pemilik misi melainkan yang mendapat misi. Bukan hanya para rohaniawan saja, melainkan kaum awam juga mendapat tugas pengutusan.25 Hal ini dapat dilihat ketika mereka melakukan pelayanan sosial seperti mengunjungi orang sakit, memberi bantuan kepada korban bencana alam, dan sebagainya sebagai sebuah jembatan menyalurkan kasih Kristus kepada orang lain.26 Yesus memanggil orang-orang Kristen untuk bersaksi ke seluruh bangsa (Mat. 28:19), namun bukan hanya itu, panggilan ini pun ditujukan kepada sekumpulan orang, suku-suku dan daerah-daerah yang belum mengenal Injil. Misi Kristen bukan hanya dibatasi kepada misi antar bangsa; ketika orang-orang Kristen menjalani kehidupan mereka di lingkungan sekitarnya, mereka pun harus menjadi saksi di rumah (keluarga), lingkungan pekerjaan, teman-teman, dan komunitas.27 Gereja melayani umat Allah dan membangun komunitas yang menyaksikan dan merasakan kehadiran Kristus.28 Gereja harus hidup berbagi dalam masalah-masalah sekuler dari kehidupan manusia biasa, bukan dengan menguasai melainkan dengan membantu dan melayani. Untuk menghindari latar belakang “humanis liberal borjuis”, ungkapan ini dikemudian hari diubah menjadi “ the 23 Christopher J. H. Wright, The Mission of God’s People, Biblical Theology for Life: A Biblical Theology of the Church’s Mission, ed. Jonathan Lunde (Zondervan publisher, 2018). 24 Harming, Gilbert Yasuo Imanuel, and Yogi Darmanto, “Pelayanan Lintas Budaya: Sebuah Kajian Tentang Pelayanan Rasul Paulus Dalam Kisah Para Rasul 16:13-40,” VOX DEI: Jurnal Teologi dan Pastoral 1, no. 1 (June 2020): 78–89. 25 J B Banawiratma, “Misi, Globalisasi Dan Kaum Miskin Di Indonesia,” Jurnal Teologi Proklamasi, no. Ed. 8 (2006): 42. 26 Hannas Rinawaty, “Menerapkan Model Penginjilan Pada Masa Kini,” Kurios (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) 5, no. 2 (2019): 175–189. 27 Darmawan, “Jadikanlah Murid.” 28 Gernaida Krisna R. Pakpahan, “Karakteristik Misi Keluarga Dalam Perspektif Perjanjian Lama,” VOX DEI: Jurnal Teologi dan Pastoral 1, no. 1 (June 2020): 16–36. 109 church with others”. Gereja dilihat secara essensial sebagai misi dan keberadaan Gereja adalah demi misi.29 Misi Kristen tidak selesai kepada penebusan dosa dalam Kristus, namun misi tersebut dimaksudkan agar mereka menjadi murid Kristus - bukan orang-orang Kristen yang mandul, tidak berbuah. Misi Kristen bukan sekedar penginjilan namun termasuk pemuridan. “Menjadikan mereka murid-Ku” menandai kesadaran bahwa mereka adalah “murid dari guru-guru yang lain”.30 Dalam konteks tersebut, tidak mungkin terjadi suatu relasi yang bermakna apabila mereka yang diutus memberlakukan eksklusivisme yang kaku, dengan menganggap bahwa kepelbagian dalam konteks baru yang dihadapi hanyalah suatu tradisi non-Kristen, dan karenanya perlu dijadikan obyek evangelisasi. Pergumulan dewasa ini adalah bagaimana orang Kristen bertanggung jawab untuk menghadirkan misi Kristen dalam gereja masa kini khususnya di Indonesia agar dapat dimengerti, diterima dan hidup dalam masyarakatnya dengan memahami gereja dalam hubungannya dengan realita yang melingkunginya, pendekatan ini bersifat bottom-up.31 Dengan pendekatan ini akan menampakkan gereja menjadi komunitas yang disukai atau diterima oleh masyarakat karena dirasakan kehadirannya. Kesimpulan Dalam hubungan dengan etika terapan, misi yang holistik tidak sekedar mengejar pemenangan jiwa sebagai akhir dari kehidupan Kristen. Sebaliknya, pengutusan untuk menjadikan mereka murid-Ku sesuai dengan etika Kristen mengharuskan suatu proses transformasi; di satu pihak transformasi diri dan di pihak yang lain transformasi sosial. Jadi, menjadikan mereka murid-Ku adalah juga suatu proses kontekstualisasi nilai-nilai Kristen, sehingga komunitas manusia dalam lingkungan sosial, kultural, spiritual, dan politiknya harus dikaji dan diperhitungkan sebagai bagian yang esensial dari etika terapan. Pekerjaan yang besar ini membutuhkan pondasi yang kokoh, yaitu pemahaman yang sungguh-sungguh teliti, pertama-tama akan konteks dimaksud, terutama adalah konteks kekristenan sendiri, yaitu iman yang dewasa untuk melaksanakan panggilan mengadakan transformasi manusia dan masyarakat. Ini berarti merancang misi hanya untuk tujuan penginjilan saja hanya akan mengerdilkan Pengutusan Agung itu sendiri. Misi harus disertai dengan penerapan etika Kristen yang benar, sehingga setiap perilaku yang tercipta menampilkan wajah Kristus itu sendiri. 29 Artanto, Menjadi Gereja Missioner Dalam Konteks Indonesia. Darmawan, “Jadikanlah Murid.” 31 Aristarchus Sukarto, “Pemikiran Kembali Kristologi Untuk Menyongsong Dialog KristenIslam Di Indonesia,” Jurnal Teologi dan Gereja Penuntun Vol 4, No (1997): 23–24. 30 110 Ucapan Terima Kasih Ucapan terima kasih ini ditujukan kepada pihak Jurnal Davar yang telah memberikan kesempatan untuk memuat artikel ini. Juga kepada STT Ekumene Jakarta yang senantiasa mendukung peneliti sebagai dosen untuk mengembangkan potensinya, dalam hal ini mengembangkan penelitian yang didukung oleh dana dan sumber-sumber data yang terdapat dalam perpustakaan Ekumene Library. Rujukan Artanto, Widi. Menjadi Gereja Missioner Dalam Konteks Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997. Banawiratma, J B. “Misi, Globalisasi Dan Kaum Miskin Di Indonesia.” Jurnal Teologi Proklamasi, no. Ed. 8 (2006): 42. Bramlett, Matthew D., dan Mosher, William D. “Cohabitation, Marriage, Divorce and Remarriage in the United States.” Darmawan, I Putu Ayub. “Jadikanlah Murid: Tugas Pemuridan Gereja Menurut Matius 28:18-20.” Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat 3, no. 2 (2019): 144–153. Accessed March 3, 2020. https://journal.sttsimpson.ac.id/index.php/EJTI/article/view/138. Eliasaputra, Mark Phillips, Martina Novalina, and Ruth Judica Siahaan. “Tantangan Pendidikan Agama Kristen Di Era Revolusi Industri 4.0 Dan Pasca Kebenaran.” BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 1, no. 1 (June 15, 2020): 1– 22. Accessed December 31, 2020. www.jurnal.sttissiau.ac.id/Volume. Greer, Germaine. “The Female Eunuch.” In Sex and Destiny, The Politics of Human Fertility. London: Secker & Warburg, 1971. Harming, Gilbert Yasuo Imanuel, and Yogi Darmanto. “Pelayanan Lintas Budaya: Sebuah Kajian Tentang Pelayanan Rasul Paulus Dalam Kisah Para Rasul 16:1340.” VOX DEI: Jurnal Teologi dan Pastoral 1, no. 1 (June 2020): 78–89. Nego, Obet. “Teologi Multikultural Sebagai Respon Terhadap Meningkatnya Eskalasi Politik Identitas Di Indonesia.” PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 16, no. 2 (November 2020): 121–139. Novalina, Martina. “Spiritualitas Orang Kristen Dalam Menghadirkan Kerajaan Allah Di Tengah Tantangan Radikalisme.” Jurnal Teologi Kontekstual Indonesia 1, no. 1 (June 2020): 26. Prasti, Evi. “Pandangan Etika Kristen Tentang Berbusana Bagi Wanita Kristen.” Jurnal Teologi Berita Hidup (2019). Purnama, I Wayan, and Simon Alexander Tarigan. “Tinjauan Etika Kristen Terhadap Operasi Transeksual.” Jurnal Jaffray (2011). Putri, Agustin Soewitomo. “Tips Dan Trik Pemilihan Dan Penyusunan Literatur Review.” In Strategi Menulis Jurnal Untuk Ilmu Teologi, edited by Sonny Eli 111 Zaluchu, 49–50. Semarang: Golden Gate Publishing, 2020. R. Pakpahan, Gernaida Krisna. “Karakteristik Misi Keluarga Dalam Perspektif Perjanjian Lama.” VOX DEI: Jurnal Teologi dan Pastoral 1, no. 1 (June 2020): 16–36. Remikatu, Jefri Hina. “Teologi Ekologi: Suatu Isu Etika Menuju Eskatologi Kristen.” CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika (2020). Richards, Janet Radcliffe. The Sceptical Feminist. Harmondsworth: Penguin, 1982. Rinawaty, Hannas. “Menerapkan Model Penginjilan Pada Masa Kini.” Kurios (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) 5, no. 2 (2019): 175–189. Sabdono, Erastus. Doktrin Keselamatan. Jakarta: Rehobot Literature, 2019. ———. “Hidup Menurut Roh.” Jakarta: Rehobot Literature (2017). ———. “Mencapai Kesucian.” Jakarta: Rehobot Literature, 2019. ———. New Paradigm of Christian Living. Jakarta: Rehobot Literature, 2019. Singgih, Emanuel Gerrit. Berteologi Dalam Konteks. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000. Stott, John. Isu-Isu Global. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2015. Sukarto, Aristarchus. “Pemikiran Kembali Kristologi Untuk Menyongsong Dialog Kristen-Islam Di Indonesia.” Jurnal Teologi dan Gereja Penuntun Vol 4, No (1997): 23–24. Surbakti, Pelita Hati. “Jangan Menceraikan Istri Yang Berzinah: Penafsiran Terhadap Matius 19:9.” Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat 4, no. 1 (January 2020): 79. Wright, Christopher J. H. The Mission of God’s People, Biblical Theology for Life: A Biblical Theology of the Church’s Mission. Edited by Jonathan Lunde. Zondervan publisher, 2018. Zaluchu, Sonny. “Sudut Pandang Etika Kristen Menyikapi Pembangkangan Sipil (Civil Disobedience).” DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani (2018). 112