Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia, 6 . , 2026 p-ISSN: 2774-6291 e-ISSN: 2774-6534 Available online at http://cerdika. id/index. php/cerdika/index Gajah Sebagai Simbolik Perlawanan Deforestasi Hutan:Analisis Netnografi terhadap Kampanye #Savetessonilo Pardianto. Andiani Herlina Putri Dega. Putri Daudia Arini. Ovalia Universitas Bakrie. Indonesia e-mail. joepardii99@gmail. com*, andianihpd30@gmail. com, daudiarini@gmail. rukmana@bakrie. Abstrak Kampanye digital #SaveTessoNilo menjadi salah satu bentuk aktivisme lingkungan paling signifikan dalam beberapa bulan terakhir di Indonesia, khususnya terkait isu deforestasi dan konflik manusiaAegajah di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Kerusakan kawasan hutan yang masif akibat perluasan perkebunan sawit ilegal, lemahnya pengawasan, serta fragmentasi habitat telah berdampak pada peningkatan intensitas konflik antara manusia dan Gajah Sumatera. Dalam konteks tersebut, gajah terutama figur AuDomangAy dan ibunya AuRiaAy mengalami transformasi makna dalam ruang digital, tidak hanya sebagai satwa liar yang terancam punah, tetapi sebagai simbol perlawanan ekologis terhadap deforestasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana simbolisme gajah dibentuk, dinegosiasikan, dan disirkulasikan dalam kampanye #SaveTessoNilo melalui metode netnografi. Data dikumpulkan melalui observasi interaksi netizen, analisis video dokumenter, komentar publik di media sosial, liputan berita, dan konten informasional dari lembaga konservasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi digital memainkan peran penting dalam membangun konstruksi sosial mengenai krisis ekologis. gajah direpresentasikan sebagai korban ketidakadilan struktural akibat eksploitasi hutan. Selain itu, kampanye digital memperkuat kesadaran moral publik, menciptakan solidaritas ekologis, dan menggeser isu deforestasi dari persoalan lingkungan menjadi persoalan etika dan politik. Studi ini mempertegas bahwa aktivisme digital dapat menjadi instrumen efektif dalam mendorong respons negara dan mempengaruhi opini publik dalam isu konservasi. Penelitian ini juga memberikan kontribusi teoretis pada kajian netnografi, ekologi politik, dan komunikasi lingkungan di era digital. Kata kunci: gajah. tesso nilo. #savetessonilo. Abstract The digital campaign #SaveTessoNilo has emerged as one of the most significant environmental activism movements in recent months in Indonesia, particularly addressing deforestation and humanAeelephant conflict in Tesso Nilo National Park (TNTN). Massive forest destruction caused by illegal oil palm expansion, weak monitoring, and habitat fragmentation has intensified conflicts between humans and Sumatran elephants. In this context, elephants especially the figures AuDomangAy and his mother AuRiaAy undergo a transformation of meaning in digital spaces, not only as endangered wildlife but also as symbols of ecological resistance against deforestation. This study aims to analyze how the symbolism of elephants is constructed, negotiated, and circulated within the #SaveTessoNilo campaign using a netnographic approach. Data were collected through observation of online interactions, analysis of documentary videos, public comments on social media, news coverage, and informational content from conservation organizations. The findings indicate that digital narratives play a crucial role in shaping social constructions of the ecological crisis. elephants are represented as victims of structural injustice caused by forest exploitation. Moreover, the digital campaign strengthens public moral awareness, fosters ecological solidarity, and reframes deforestation from an environmental issue into an ethical and political concern. This study highlights that digital activism can serve as an effective instrument to influence state response and public opinion on conservation issues. The research also contributes theoretically to the study of netnography, political ecology, and environmental communication in the digital era. Keywords: elephants. Tesso Nilo. #SaveTessoNilo. PENDAHULUAN Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) terletak di wilayah Provinsi Riau merupakan kawasan hutan dataran rendah terpenting di Sumatera yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati sangat tinggi. Kawasan ini dikenal sebagai habitat utama Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranu. Harimau Sumatera, dan berbagai spesies flora serta fauna endemik yang saat ini berada dalam kategori terancam punah (Adiningsih, 2025. Aksibumi_idn, 2025. Amal et al. , 2. Dengan luas awal sekitar A 81. 793 hektar. TNTN seharusnya menjadi benteng terakhir bagi kelestarian ekosistem dataran rendah Sumatera. Namun, dalam dua dekade terakhir kawasan ini mengalami degradasi yang serius akibat meningkatnya aktivitas perambahan, pembukaan lahan ilegal, perluasan kebun sawit, serta lemahnya penegakan hukum terhadap pelaku perusakan hutan (Campos-Arceiz & Blake, 2011. Fadhilla & Pasaribu. Beberapa data sumber menunjukkan hanya sebagian kecil kawasan yang masih berupa hutan alami, sementara mayoritasnya telah beralih fungsi menjadi kebun monokultur dan permukiman tidak resmi (Hapsari, 2. Pada tahun 2025, kasus Taman Nasional Tesso Nilo menjadi contoh nyata kegagalan kebijakan konservasi. Meskipun kawasan tersebut telah ditetapkan sebagai taman nasional, hanya sekitar 15% hutan yang tersisa akibat maraknya perambahan, pembangunan jalan ilegal, dan aktivitas pembakaran hutan . com, 2025. Youtube. com, 2. Kehadiran infrastruktur ilegal yang dibangun secara bertahap menunjukkan bahwa pelanggaran tersebut berlangsung dalam rentang waktu panjang, sehingga seharusnya dapat dicegah apabila mekanisme pengawasan berjalan efektif (K. Indonesia, 2004. Kehutanan, 2. Kasus ini memperlihatkan lemahnya penegakan hukum dan absennya tindakan korektif yang memadai dari pemerintah (Mardiana, 2025. Youtube. com, 2. Menurut pakar ekologi sekaligus Ketua Kelompok Keilmuan Ekologi SITH ITB. Prof. Dr. Tati Suryati Syamsudin, konflik manusia gajah di Tesso Nilo merupakan konsekuensi dari rusaknya habitat dan fragmentasi hutan yang menghilangkan ruang hidup alami satwa (P. Indonesia, 2025. Palupi, 2024. Pratiwi et al. , 2. Gajah yang memasuki pemukiman bukanlah penyebab utama konflik, melainkan indikator kegagalan tata kelola ekosistem hutan. Tanpa pemulihan habitat dan penegakan hukum terhadap perusakan kawasan konservasi, konflik akan terus berulang dan mengancam keberlanjutan ekosistem Tesso Nilo. Mardiana. Kondisi ekologis yang semakin kritis telah menyebabkan penyempitan ruang jelajah gajah, yang pada akhirnya meningkatkan intensitas konflik antara manusia dan satwa liar. Kehilangan sumber pakan alami mendorong gajah memasuki kebun masyarakat, sehingga merusak dan memakan tanaman serta memicu ketegangan dengan warga (Putri & Priandi. Rifaie et al. , 2. Di sisi lain, masyarakat lokal yang tinggal di sekitar kawasan konservasi juga menghadapi tekanan ekonomi dan struktural, yang membuat mereka semakin rentan terlibat konflik dengan satwa liar. Dalam situasi seperti ini, gajah liar sering kali dilabeli sebagai AuhamaAy, meskipun pada hakikatnya ruang hidup mereka telah tergerus dan dialihfungsikan oleh aktivitas manusia (RI, 1990. Suryadi, 2. Pelabelan gajah sebagai hama sesungguhnya mengabaikan peran ekologisnya yang sangat fundamental. Secara ekologis, gajah merupakan ecosystem engineer yang berfungsi sebagai AupetaniAy sekaligus Auarsitek hutanAy. Melalui aktivitas makannya, gajah menyebarkan biji-bijian dari berbagai spesies tumbuhan dalam jarak yang luas, sehingga berkontribusi pada regenerasi dan keragaman vegetasi hutan (W. Indonesia, 2. Selain itu, pergerakan tubuhnya yang masif membuka kanopi, membentuk jalur alami dan menciptakan mosaik habitat yang memungkinkan tumbuhnya vegetasi baru serta mendukung keberlangsungan spesies lain. Dengan demikian, keberadaan gajah tidak hanya menopang keseimbangan ekosistem, tetapi juga menjaga produktivitas dan ketahanan hutan dalam jangka panjang. Hilangnya gajah dari suatu lanskap hutan berpotensi memicu degradasi ekologis yang bersifat sistemik dan konflik yang berlarut-larut tersebut tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga berdampak serius bagi satwa liar, yang sering kali mengalami luka-luka atau bahkan kematian akibat jerat, tembakan, maupun racun (Garsetiasih, 2. Ketimpangan relasi ekologis ini kemudian menjadi salah satu pemicu utama munculnya gelombang kemarahan publik di media sosial, terutama setelah beredar luas video tentang mahout . awang gaja. dan kisah kedekatan mereka dengan gajah-gajah binaan, seperti Ria dan Domang. Video-video tersebut menggugah empati publik dengan memperlihatkan dimensi emosional hubungan manusia-satwa dan beban kerja mahout dalam menghadapi tekanan ekologi dan sosial. Menguatnya fenomena diatas mencapai titik intens melalui munculnya kampanye digital bertagar #SaveTessoNilo yang menyebar secara masif di berbagai platform media sosial, seperti Instagram. TikTok. X dan YouTube. Kampanye ini tidak hanya merepresentasikan seruan publik untuk pelestarian hutan, tetapi juga berfungsi sebagai simbol artikulasi gerakan moral yang lebih luas, yang menyoroti persoalan ketidakadilan ekologis, lemahnya tata kelola kehutanan, serta dimensi kemanusiaan yang melibatkan masyarakat adat, petugas lapangan konservasi termasuk mahout gajah dan petugas taman nasional. Lebih lanjut, di dalam kampanye #SaveTessoNilo terdapat salah satu aspek paling menonjol dalam kampanye tersebut adalah menguatnya representasi gajah Sumatera sebagai simbol sentral dalam narasi perlawanan ekologis. Melalui visual, cerita personal mahout, serta penyebaran kisah tentang individu gajah seperti Domang, gajah dikonstruksikan tidak semata sebagai satwa liar, tetapi sebagai subjek penderitaan ekologis yang merepresentasikan kehancuran sistemik habitat hutan. Sehingga representasi ini membentuk makna sosial baru, di mana gajah tidak lagi dipahami dalam kerangka konflik manusiaAesatwa semata, melainkan sebagai korban sekaligus penanda ketidakadilan struktural akibat ekspansi industri ekstraktif dan pembiaran negara. Proses simbolisasi ini menjadi penting untuk dianalisis karena menunjukkan bagaimana makna ekologis diproduksi melalui interaksi digital dan bagaimana emosi publikAiseperti empati, kemarahan, dan solidaritasAidiorganisasi untuk membangun legitimasi moral gerakan. Dalam kerangka tersebut, penelitian ini menempatkan ruang digital sebagai medan kontestasi simbolik, di mana makna tentang gajah, hutan, dan keadilan ekologis diproduksi dan Pendekatan netnografi memungkinkan peneliti menelusuri bagaimana simbolisme gajah sebagai ikon perlawanan ekologis yang dibangun secara kolektif melalui narasi visual, interaksi emosional, dan pengalaman live experience para aktor lapangan. Dengan fokus ini, penelitian tidak hanya menjawab bagaimana gajah dikonstruksikan sebagai simbol perlawanan ekologis, tetapi juga bagaimana pola interaksi dan emosi publik dalam kampanye #SaveTessoNilo membentuk kesadaran kolektif serta tekanan publik terhadap kegagalan tata kelola dan penegakan hukum di Taman Nasional Tesso Nilo. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat memperkaya literatur komunikasi lingkungan dan netnografi dengan mengungkap bagaimana persoalaan ekologis direpresentasikan menjadi simbol-simbol, seperti representasi gajah dalam kampanye digital digunakan untuk membangun empati, solidaritas kolektif, dan tekanan publik. Dengan menempatkan kampanye digital sebagai objek kajian, penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang bagaimana narasi, simbol, dan emosi kolektif di ruang digital mampu mengubah persoalan ekologis menjadi gerakan sosial di ruang siber dan mampu membentuk kesadaran publik serta mendorong tekanan sosial terhadap praktik pengelolaan lingkungan yang tidak Dalam kerangka tersebut, penelitian ini menempatkan ruang digital sebagai medan kontestasi simbolik, di mana makna tentang gajah, hutan, dan keadilan ekologis diproduksi dan Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana simbolisme gajah dibentuk, dinegosiasikan, dan disirkulasikan dalam kampanye digital #SaveTessoNilo, serta bagaimana pola interaksi dan emosi publik dalam kampanye tersebut membentuk kesadaran kolektif dan tekanan publik terhadap tata kelola Taman Nasional Tesso Nilo. Pendekatan netnografi memungkinkan peneliti menelusuri bagaimana simbolisme gajah sebagai ikon perlawanan ekologis dibangun secara kolektif melalui narasi visual, interaksi emosional, dan pengalaman live experience para aktor lapangan. Manfaat teoritis penelitian ini adalah memperkaya kajian netnografi, ekologi politik, dan komunikasi lingkungan di era digital. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pegiat lingkungan dan pembuat kebijakan dalam merancang kampanye digital konservasi yang lebih efektif. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode netnografi, yaitu adaptasi etnografi untuk mengkaji budaya, interaksi, dan konstruksi makna yang berkembang di ruang digital (Kozinets, 2. , pendekatan ini dipilih karena relevan untuk menganalisis kampanye digital #SaveTessoNilo yang berlangsung secara daring dan melibatkan partisipasi aktif netizen melalui media sosial, seperti YouTube. Instagram. TikTok, dan X. Sumber data berasal dari data digital yang diperoleh dari berbagai platform media daring. Pengumpulan data digital dilakukan melalui beberapa sumber utama: video kampanye viral tentang Tesso Nilo. konten wawancara Menteri Kehutanan dan para mahout. komentar publik di YouTube. Instagram. TikTok, dan X serta artikel berita dan laporan NGO (WWF & Mongaba. Selain itu, penelitian ini menggunakan teknik observasi non-partisipatif yaitu peneliti hanya dapat melakukan pengamatan yang sifatnya terlihat jelas dan kasat mata (Sugiyono, 2017:145-. , di mana peneliti tidak terlibat langsung dalam interaksi daring, melainkan mengamati aktivitas dan dinamika komunikasi netizen dalam kampanye digital #SaveTessoNilo. Observasi difokuskan pada pola interaksi netizen, termasuk bentuk respons, intensitas keterlibatan, serta relasi antar pengguna di berbagai platform media sosial. Melalui proses ini, peneliti mengidentifikasi simbol-simbol yang digunakan, narasi yang dominan, serta ekspresi emosi publik yang muncul, seperti empati, kemarahan, dan kritik terhadap praktik perusakan Analisis data dilakukan dengan bantuan perangkat lunak NVivo 15. Viplikes . dan IG Exporter & Scraper. Proses analisis diawali dengan pengkodean data, dengan kategori awal meliputi representasi gajah sebagai korban ketidakadilan ekologis, narasi perlawanan ekologis, representasi kehadiran negara, peran masyarakat, serta isu ekspansi sawit Selanjutnya, kode-kode tersebut dianalisis secara interpretatif untuk menarik pola-pola makna dan memahami dinamika wacana yang berkembang dalam kampanye digital #SaveTessoNilo. Keabsahan data dalam penelitian ini dijaga melalui triangulasi data, dengan mengkombinasikan temuan dari observasi digital dan berbagai sumber dokumenter. Data interaksi netizen dan konten kampanye digital dibandingkan dengan artikel berita serta laporan resmi dari lembaga pemerintah dan organisasi non-pemerintah untuk memastikan konsistensi dan kredibilitas informasi. Pendekatan ini dilakukan guna meminimalkan bias interpretasi dan memperkuat validitas temuan penelitian. Penelitian ini dilaksanakan dalam rentang waktu dari November 2025 hingga Desember 2025, sehingga data yang dianalisis merepresentasikan dinamika wacana digital pada periode tersebut. HASIL DAN PEMBAHASAN Lanskap Distribusi dan Dominasi Platform Penelitian ini menggunakan pendekatan netnografi melalui observasi digital terhadap percakapan publik mengenai kampanye #SaveTessoNilo di media sosial selama November 2025 sampai Desember 2025. Data dikumpulkan melalui unggahan, komentar, thread percakapan, dan artikel daring yang membahas konflik antara gajah, masyarakat, dan ekspansi perkebunan sawit di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo. Observasi non-partisipan memungkinkan peneliti menangkap pola narasi publik tanpa melakukan intervensi langsung. Sejalan dengan itu, analisis terhadap data kampanye digital #SaveTessoNilo, tercatat bahwa tagar tersebut muncul sebanyak 5. 977 kali di berbagai platform media sosial. Distribusi kemunculan menunjukkan dominasi yang sangat kuat pada Twitter/X, dengan 5. 633 unggahan atau sekitar 93,61% dari total percakapan, diikuti oleh TikTok sebanyak 247 unggahan. Instagram sebanyak 77 unggahan, serta kontribusi yang sangat terbatas dari YouTube . Facebook . , dan Threads . Pola ini menegaskan bahwa Twitter/X berperan sebagai ruang utama advokasi dan mobilisasi isu lingkungan, khususnya dalam membangun wacana kritis dan tekanan publik terkait deforestasi di Taman Nasional Tesso Nilo. Sementara itu. TikTok dan Instagram lebih berfungsi sebagai media pendukung berbasis visual dan ekspresi emosional, meskipun keterlibatannya secara kuantitatif relatif Lebih lanjut, distribusi konten di Twitter/X menunjukkan bahwa sebagian besar unggahan bersifat retweet, yang mengindikasikan bahwa gerakan #SaveTessoNilo merepresentasikan pola networked digital activism, di mana penyebaran pesan lebih mengandalkan mekanisme amplifikasi solidaritas kolektif dibandingkan produksi narasi Dengan demikian, tagar #SaveTessoNilo tidak hanya berfungsi sebagai penanda teknis percakapan digital, tetapi juga sebagai simbol kolektif perlawanan ekologis yang merepresentasikan kesadaran, empati, dan tekanan publik terhadap isu deforestasi di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo. Gambar 1. Unggahan tagar #SaveTessoNilo di X/Twitter Gambar 2. Unggahan tagar #SaveTessoNilo di Instagram Gambar 3. Unggahan tagar #SaveTessoNilo di Tiktok Tabel 1. Video Dokumenter dan Wawancara di Youtube Aspek Keterangan Judul: 1 Link: Channel: Tanggal Tayang: Jumlah Penonton: Jumlah Komentar: Krisis Habitat: Gajah dan Manusia dalam Pertarungan di Sumatra - National Geographic Indonesia https://w. com/watch?v=2AEECFsuS9E NATIONAL GEOGRAPHIC INDONESIA 15 November 202 84,7rb Judul: 2 Link: Channel: Tanggal Tayang: Jumlah Penonton: Jumlah Komentar: Hidup Berdampingan. Suku Pedalaman Sang Penjaga Satwa https://w. com/watch?v=liQZ0lZ9Rb0 DAAI TV Indonesia 31 Oktober 2025 69,4rb Judul: 3 Link: Channel: Tanggal Tayang: Jumlah Penonton: Jumlah Komentar: Sang Penjaga Raksasa Lembut https://w. com/watch?v=aPPY-gsrI7M CNN Indonesia 17 November 2025 Judul: 4 HUTAN DIBABAT HABISAa GAJAH DIR*CUNAa TESSO NILO H4NCURAa MENHUT : SEKALI2 KITA PERLU DI L_UDAHIAa https://w. com/watch?v=v6lBxLsiQvM CURHAT BANG Denny Sumargo 3 Desember 2025 1,3M Link: Channel: Tanggal Tayang: Jumlah Penonton: Jumlah Komentar: 8,3rb Pola interaksi dalam kampanye #SaveTessoNilo memperlihatkan dinamika wacana yang kompleks, di mana media sosial berfungsi sebagai ruang deliberasi sekaligus mobilisasi. Komentar publik, unggahan ulang . , serta diskursus lintas platform menunjukkan terbentuknya kesadaran kolektif yang mengaitkan penderitaan gajah, masyarakat adat Talang Mamak (Youtube. Hidup Berdampingan. Suku Pedalaman Sang Penjaga Satw. , dan para penjaga hutan dengan kegagalan sistemik dalam penegakan hukum kehutanan. Emosi publik yang dimediasi secara digital tidak hanya memperkuat identitas bersama sebagai Aupembela hutanAy, tetapi juga menciptakan tekanan simbolik terhadap negara dan aktor korporasi yang dipersepsikan sebagai pihak dominan dalam relasi kuasa pengelolaan sumber daya alam. Dengan demikian, kampanye ini berfungsi sebagai mekanisme advokasi berbasis wacana yang berupaya memaksa perubahan kebijakan melalui opini publik. Hierarcy Chart Dalam NVivo, hierarchy chart berfungsi sebagai alat visualisasi untuk menampilkan struktur dan distribusi data kualitatif secara hierarkis berdasarkan node . dan sub-node Gambar 4. Hierarcy Chart Hasil visualisasi treemap menunjukkan bahwa wacana kampanye digital #SaveTessoNilo didominasi oleh tema AugajahAy sebagai pusat percakapan, yang merepresentasikan gajah Sumatera sebagai simbol utama penderitaan akibat deforestasi dan ekspansi perkebunan sawit. Narasi yang muncul secara konsisten mengaitkan alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit dengan semakin menyempitnya ruang hidup gajah, hilangnya habitat, serta meningkatnya tekanan terhadap satwa liar. Penggunaan istilah seperti AurumahAy. Auberhak hidupAy dan Aukehilangan habitatAy mencerminkan adanya personifikasi terhadap gajah, di mana satwa liar diposisikan sebagai subjek yang memiliki hak hidup dan tempat tinggal, sehingga membangun framing emosional dan moral dalam wacana kampanye. Selain itu, kemunculan tema AumanusiaAy dengan narasi keserakahan menegaskan adanya kritik terhadap aktor manusia sebagai penyebab utama kerusakan ekologis, yang memperlihatkan pola oposisi antara manusia sebagai pelaku perusakan dan gajah sebagai korban. Secara keseluruhan, treemap ini mengindikasikan bahwa kampanye #SaveTessoNilo tidak hanya berfungsi sebagai ruang penyebaran informasi lingkungan, tetapi juga sebagai arena aktivisme digital yang mengintegrasikan simbolisme satwa, kritik struktural terhadap ekspansi sawit, serta wacana etika lingkungan dalam upaya membangun kesadaran dan solidaritas publik terhadap isu Word Cloud Word Cloud di NVivo berfungsi untuk menampilkan kata-kata yang paling sering muncul dalam data yang telah dikumpulkan. Tabel 2. Presentase kata yang dominan Word Length Count Weighted Percentage (%) #savetesonilo #savETtnn #kamibersamatessonilo 21 #savegajah #stopdeforestation Visualisasi word cloud memperlihatkan bahwa wacana kampanye #SaveTessoNilo berpusat pada tagar #savetessonilo . ,24%) dan gajah . ,81%) sebagai subjek utama yang terdampak langsung oleh kerusakan lingkungan di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo. Kata habitat . ,14%), rumah . ,25%), hidup . ,96%), hutan . ,48%) dan ruang . ,46%) muncul untuk menunjukkan perhatian publik terhadap hilangnya ruang hidup satwa akibat alih fungsi lahan dan ekspansi perkebunan sawit. Kehadiran kata manusia, serakah, ilegal, bersalah dan tagar #westandfortessonilo menandakan adanya kritik terhadap perilaku manusia serta praktik ekonomi dan kebijakan yang dianggap menjadi penyebab utama degradasi ekosistem. Selain itu, munculnya kata tolong, kasian, selamatkan, serta tagar #selamatkangajahsumatra mencerminkan framing emosional dan normatif yang kuat, di mana gajah diposisikan sebagai korban ketidakadilan ekologis yang membutuhkan perlindungan segera. Secara keseluruhan, word cloud ini menegaskan bahwa kampanye #SaveTessoNilo berfungsi sebagai arena aktivisme digital yang menggabungkan simbolisme satwa, kritik terhadap kerusakan struktural, serta seruan moral kolektif untuk mendorong perlindungan habitat dan reformasi kebijakan Gajah sebagai Simbol Ketidakadilan Ekologis Hasil netnografi menemukan bahwa narasi yang paling dominan dalam kampanye #SaveTessoNilo adalah representasi gajah sebagai korban kerusakan lingkungan. Kisah mengenai gajah AuDomangAy menjadi ikon kampanye yang mempersonifikasikan penderitaan Publik menggambarkan Domang bukan hanya sebagai satwa liar, tetapi juga sebagai simbol moral dan metafora atas kehancuran ekosistem Tesso Nilo. Publik tidak membicarakan Domang sebagai sekadar satwa liar, tetapi sebagai subjek moral yang patut dibela, misalnya melalui unggahan: AuSemoga dengan tayang nya video ini langsung ada tindakan tegas dari pemerintah agar populasi gajah di taman nilo tetep lestari. Ay @LAPAKWDCARIDIGOOGLE-i6i - HUTAN DIBABAT HABISAa GAJAH DIRCUNAa TESSO NILO A*. YouTube. https://w. com/watch?v=v6lBxLsiQvM AuDalam konservasi gajah di Riau dilakukan beberapa aktivitas diataranya edukasi, patroli dan restorasi. Ay Zulhusni. Rimba Satwa Foundation - Krisis Habitat: Gajah dan Manusia dalam Pertarungan Sumatra. YouTube. https://w. com/watch?v=2AEECFsuS9E AuYuk bisa, kita sama2 teriakkan untuk pembuatan koridor gabungan dari para pengelola kawasan di sana. Joint corridor adalah bentuk kompromi manusia dan satwa, model tata kelola yang berpihak pada lingkungan hidup. Ay @didikasim2047 - Krisis Habitat: Gajah dan Manusia Pertarungan Sumatra. YouTube. https://w. com/watch?v=2AEECFsuS9E AuLindungi gajah, gajah akan lindungi hutan untuk manusia Terimakasih sudah melakukan hal istimewa untuk gajah. Ay @RidhoIlahi-kb4cb - Krisis Habitat: Gajah dan Manusia Pertarungan Sumatra. YouTube. https://w. com/watch?v=2AEECFsuS9E AuSatwa dijaga, hutan dijaga mereka hanya mengambil hasil hutan tanpa menebang keren, indonesia keren. Tetap hidup suku talang mamakAy @meimasuharnati8878 - Hidup . YouTube. https://w. com/watch?v=liQZ0lZ9Rb0 Kemudian pembelaan moral terhadap gajah ini tidak terlepas dari peran para aktor pelindung hutan, khususnya mahout gajah dan masyarakat adat Talang Mamak, yang selama ini berada di garis depan perlindungan ekosistem. Mahout tidak hanya berfungsi sebagai pawang atau pengendali gajah, tetapi sebagai penjaga relasi etis antara manusia dan satwa, yang merawat, melindungi, dan membangun ikatan emosional dengan gajah dalam kondisi ekologis yang semakin terdesak. AuAwal jadi mahout karena cinta dengan gajah, cinta pertama dengan mamanya Domang. Ria. Bagi yang membuka kawasan hutan ini gajah itu hama, sementara gajah punya teritorial jalan setiap tahun akan melewati itu nyari makan. Yang masuk itu bukan gajah ke rumah orang tapi rumah orang masuk ke rumah gajah. Ay Atta Zuhri. Mahout Gajah - HUTAN DIBABAT HABISAa GAJAH DIRCUNAa TESSO NILO A*. YouTube. https://w. com/watch?v=v6lBxLsiQvM Di sisi lain, masyarakat adat Talang Mamak di Jambi memandang hutan sebagai entitas hidup yang memiliki nilai spiritual dan moral, sehingga keberadaan gajah dipahami sebagai bagian tak terpisahkan dari keseimbangan kosmologis dan sumber kehidupan bersama. Dalam kerangka ini, perjuangan membela gajah sesungguhnya merupakan bagian dari perjuangan mempertahankan keadilan ekologis, martabat manusia, dan keberlanjutan relasi etis antara manusia, satwa, dan hutan. AuBumi itu adalah Ibu jadi jika hutan itu rusak, ibu kita akan rusak. Gajah itu Datuk Gedang, kita ada hutan yang tidak boleh kita rubuhkan, dimana ada jalan gajah dan sering dilewati harimau tidak boleh berladang di daerah itu untuk berbagi ruang hidup. Ay Masyarakat Adat Talang Mamak - Hidup berdampingan, suku pedalaman sang penjaga satwa. YouTube. https://w. com/watch?v=liQZ0lZ9Rb0 Pemaknaan narasi-narasi publik diatas selaras dengan penjelasan Campos-Arceiz & Blake . bahwa gajah merupakan keystone species yang menjaga regenerasi hutan. Namun ketika habitatnya terfragmentasi dan ruang jelajahnya menyempit, gajah keluar ke lahan warga sehingga memicu konflik. Publik menafsirkan konflik ini sebagai akibat dari perubahan tata kelola ruang, bukan kesalahan gajah. Karena itu, narasi digital memosisikan satwa sebagai pihak yang menanggung konsekuensi dari pembangunan yang tidak adil. Hal ini memperkuat konsep ekologi politik (Hapsari, 2. yang memandang deforestasi bukan sekadar persoalan ekologis, tetapi sebagai fenomena politik sebagai produk dari kontestasi kuasa, kepentingan ekonomi, serta kebijakan negara. Gajah di sini menjadi tanda . ketidakadilan ekologis, merepresentasikan suara kelompok yang tidak dapat berbicara dalam politik formal dengan konsep simbolisme hewan (Fadhilla & Pasaribu, 2. yang menegaskan bahwa hewan dalam ruang sosial dapat menjadi tanda yang membawa pesan politik dan etis. Di dalam kampanye. Domang diposisikan sebagai metafora Auhutan yang dirampas,Ay sekaligus wajah penderitaan yang membuat publik merasakan kedekatan emosional dan tuntutan moral untuk bertindak. Deforestasi dan Ekologi Politik dalam Konteks Narasi Digital Dalam percakapan digital, publik menyalahkan ekspansi sawit ilegal sebagai akar kerusakan hutan. Banyak unggahan menuntut penertiban kebun sawit dan mempertanyakan pertanggungjawaban solusi pada negara. Konten kampanye yang menampilkan sawit ilegal, kepunahan habitat, dan kritik terhadap negara membuktikan bahwa isu Tesso Nilo tidak dipahami sebagai fenomena ekologis yang netral. Beberapa komentar menunjukkan kemarahan AuSawit ilegal dibiarkan, tapi gajah yang disalahkan. Negara ke mana?Ay (Thread X/Twitter, 3 Januari 2. Narasi ini sejalan dengan teori ekologi politik (Hapsari, 2. , narasi publik menunjukkan bahwa deforestasi dipahami sebagai praktik yang diproduksi oleh kepentingan ekonomi dan kekuasaan. Netizen dalam diskusi mengekspresikan kemarahan, menyalahkan lemahnya penegakan hukum, serta menuntut pertanggungjawaban pemerintah. Representasi gajah sebagai korban juga memperkuat pandangan ekologi politik bahwa pengetahuan lingkungan dapat menjadi alat perlawanan epistemologis, di mana kampanye digital berfungsi menantang definisi dan narasi negara yang cenderung mengabaikan kerusakan Temuan ini memperlihatkan bahwa kampanye #SaveTessoNilo tidak hanya mengkritik faktor ekonomi seperti korporasi sawit, tetapi juga menginterogasi epistemologi negara, yaitu pertanggungjawaban hak untuk mendefinisikan hutan, tempat tinggal, dan #SaveTessoNilo menjadi ruang di mana publik melakukan perlawanan epistemologis melalui narasi, visual, dan simbol. Konservasi Gajah. Fragmentasi Habitat, dan Pemaknaan Konflik Hasil pengamatan konten dan komentar menunjukkan bahwa publik menghubungkan penderitaan gajah dengan hilangnya habitat akibat ekspansi sawit. Ini memperkuat perspektif konservasi Campos-Arceiz & Blake . bahwa gajah merupakan keystone species yang menjaga regenerasi hutan. Namun, fragmentasi habitat mendorong gajah memasuki ladang warga, memicu konflik manusiaAesatwa seperti dilaporkan Rifaie et al. Kampanye digital menggeser narasi lama yang menyalahkan gajah sebagai perusak, menjadi pemahaman baru bahwa konflik muncul karena perubahan tata kelola ruang yang tidak seimbang. Publik kemudian menempatkan gajah dan masyarakat lokal yang terdampak sebagai pihak yang samasama dirugikan oleh sistem ekonomi yang eksploitatif. Dinamika Konflik dan Tekanan Publik dalam Ruang Digital Hasil penelitian ini menunjukkan adanya berbagai bentuk media seperti video, foto, caption, dan meme, untuk kampanye #SaveTessoNilo yang telah menghadirkan ruang interaksi publik bukan hanya menyebarkan informasi, melainkan membangkitkan empati dan keterlibatan emosional. Hal ini menguatkan teori Putri & Priandi . bahwa kampanye digital mampu menjadi strategi efektif dalam menyampaikan isu dan memobilisasi dukungan. Penyampaian pesan melalui konten visual, meme, caption, dan video dapat memengaruhi opini Emosi menjadi mekanisme utama mobilisasi. Unggahan tentang Domang. Augajah yatim piatuAy. AutersesatAy. Aukehilangan habitatAy menjadi pemicu solidaritas publik. Fenomena ini menunjukkan bahwa keterlibatan emosional digital dapat membentuk kesadaran kolektif, meskipun belum banyak bertransformasi menjadi aksi offline. Dalam ruang digital, kampanye ini juga memperlihatkan pola konflik, yang tidak hanya konflik manusiaAesatwa, tetapi konflik sosial berbasis advokasi. Sesuai teori konflik (Soeharto. Bottomore, 1. , keterbatasan ruang dan perebutan sumber daya memunculkan garis batas sosial antara kelompok Aukorban ekologisAy dan Auaktor yang diidentifikasi bertanggung jawab,Ay seperti korporasi sawit ilegal dan aparatur negara yang dianggap diam. Kampanye digital berfungsi sebagai arena pertarungan makna, dimana netizen saling memperkuat identitas kolektif sebagai Aupenjaga hutanAy dan mengarahkan tekanan kepada pemerintah. Netnografi (Palupi, 2. membantu membaca bagaimana interaksi digital ini bekerja sebagai bentuk aksi sosial, bukan sekadar percakapan daring. KESIMPULAN Fenomena deforestasi di Taman Nasional Tesso Nilo merupakan salah satu contoh tekanan ekologis yang signifikan akibat pembukaan lahan sawit ilegal dan alih fungsi hutan yang berlangsung secara sistematis. Kawasan taman nasional yang semestinya berfungsi sebagai ruang konservasi justru mengalami degradasi serius, di mana puluhan ribu hektare hutan telah berubah menjadi kebun sawit ilegal. Kondisi ini tidak hanya menggerus habitat penting gajah Sumatera dan spesies lainnya, tetapi juga melemahkan fungsi ekologis hutan sebagai penyangga kehidupan, pengatur tata air, dan sumber penghidupan masyarakat sekitar. Merespons situasi tersebut. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kehutanan bersama Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH/Garuda Task Forc. telah melakukan langkah-langkah penegakan hukum, termasuk penertiban dan pemusnahan kebun sawit ilegal, penguasaan kembali kawasan hutan konservasi, serta penguatan patroli dan pengawasan untuk mencegah kerusakan ekologis lanjutan. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan agar pemerintah tidak berhenti pada respons simbolik, tetapi terus memperkuat penegakan hukum terhadap praktik sawit ilegal serta konsisten dalam penguatan konservasi untuk mewujudkan keadilan ekologis. Selain itu, organisasi pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan aktivis lingkungan perlu memaksimalkan ruang digital sebagai sarana kampanye, edukasi, pengawalan kebijakan, dan mobilisasi aksi nyata. Masyarakat juga diharapkan tidak berhenti pada simpati daring, tetapi turut berpartisipasi aktif melalui dukungan terhadap upaya konservasi, peningkatan literasi ekologis, dan keterlibatan berkelanjutan. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan dilakukan pengayaan data melalui wawancara lapangan dan studi komparatif agar analisis mengenai wacana ekologis dan konflik lingkungan dapat dikembangkan secara lebih mendalam dan DAFTAR PUSTAKA