VISIONER: Jurnal Manajemen dan Bisnis Website: https://ejurnal. id/jmbv Volume : 14 No. 1 Bulan April, 2025 Doi: https://doi. org/jmbvV14. ISSN: 2252-4835 / EISSN: 2597-7474 Halaman : 60-76 Studi Empiris tentang Hubungan Kecerdasan Multidimensi serta Locus of Control pada Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi STIE Balikpapan Anita De Grave1. Riswan2 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Balikpapan anita@stiebalikpapan. Artikel Masuk: 20 Mei 2025 | Artikel di revisi: - | Artikel Di terbitkan : 21 Mei 2025 Visioner : Jurnal Manajemen dan Bisnis by STIE Balikpapan is licensed under CC BY 4. ABSTRAK Studi ini mengeksplorasi secara empiris konstelasi faktor kognitif dan afektif yang memengaruhi manifestasi perilaku etis di kalangan calon akuntan. Dengan mengambil sudut pandang yang holistik, penelitian ini menyelidiki peran kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional, serta keyakinan individu terhadap kendali atas peristiwa . ocus of contro. Survei terhadap 70 mahasiswa akuntansi angkatan 2020 di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Balikpapan menjadi basis data primer untuk analisis ini. Melalui pemodelan regresi linier berganda dengan dukungan perangkat lunak SPSS versi 29, terungkap bahwa ketajaman intelektual dan kedalaman spiritual secara substansial berkorelasi positif dengan kecenderungan perilaku etis. Sementara itu, kecerdasan emosional tidak menunjukkan dampak yang terukur secara statistik terhadap komitmen etis Lebih lanjut, meskipun orientasi locus of control internal tampak searah dengan perilaku etis yang lebih baik, pengaruhnya tidak signifikan secara individual dalam model regresi. Temuan ini mengimplikasikan bahwa pengembangan kapasitas kognitif dan spiritual memegang peranan krusial dalam menanamkan fondasi etika yang kuat bagi para profesional akuntansi masa depan. Kata Kunci: Kecerdasan Intelektual. Kecerdasan Spiritual. Kecerdasan Emosional. Locus Of Control. Perilaku Etis ABSTRACT This investigation delves into the empirical interplay between distinct facets of intelligenceAicognitive prowess, spiritual depth, and emotional acuityAialongside the influence of personal control beliefs, in shaping the moral compass of accounting Centered on the 2020 cohort within the Accounting Program at STIE Balikpapan, the study garnered firsthand insights from 70 participants. Employing multiple linear regression via SPSS 29, the analysis revealed a compelling positive link between both intellectual and spiritual intelligence and students' ethical conduct. Conversely, emotional intelligence appeared to exert no discernible influence, positive or negative, on their ethical choices. While an internal locus of control trended positively, its individual impact did not reach statistical significance. Collectively, these findings underscore the salient roles of cognitive maturation, spiritual grounding, and internal self-governance in cultivating ethical perspectives among future accounting professionals, while the contribution of emotional intelligence remains an open question warranting deeper scrutiny Keyword: Intellectual Intelligence. Spiritual Intelligence. Emotional Intelligence. Locus Of Control. Ethical Behavior PENDAHULUAN Perguruan tinggi memegang fungsi sentral selaku institusi yang mengakselerasi kematangan sumber daya manusia, utamanya para mahasiswa, menuju insan-insan paripurna dan kompeten guna merespons keperluan kancah pekerjaan. Output dari institusi ini diharapkan memiliki kepakaran dalam disiplin ilmunya, bersikap profesional, dan berpegang teguh pada etika serta moralitas. Ekosistem pembelajaran turut berkontribusi esensial dalam mematri watak dan tabiat mahasiswa yang bermutu, terutama lantaran Anita De Grave dan Riswan Studi Empiris tentang Hubungan Kecerdasan Multidimensi serta Locus of Control pada Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi STIE Balikpapan VISIONER: Jurnal Manajemen dan Bisnis Volume : 14 No. 1 Bulan April, 2025 ISSN: 2252-4835 / EISSN: 2597-7474 Website: https://ejurnal. id/jmbv Doi: https://doi. org/jmbvV14. Halaman : 60-76 urgensi etika yang begitu kentara dalam dunia akuntansi. Dengan demikian, mahasiswa jurusan akuntansi, sebagai generasi terdidik, idealnya memiliki kejujuran diri, kecakapan akademis yang andal, dan memperlihatkan perilaku yang koheren dengan kaidah etika yang dianut masyarakat. Griffin . Perilaku etis adalah Perilaku etis merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia karena memberikan arah mengenai tindakan yang seharusnya dilakukan dan dihindari. Nilai-nilai etika menjadi dasar seseorang dalam menentukan sikap dan keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks pendidikan tinggi, khususnya di kalangan mahasiswa, perilaku etis sangat menentukan integritas Sayangnya, praktik ketidakjujuran akademik seperti plagiarisme, mencontek, atau manipulasi data masih sering ditemukan, terutama demi memperoleh nilai tinggi. Kondisi ini semakin diperburuk saat pandemi Covid-19 melanda, di mana proses pembelajaran harus dilakukan secara daring. Perkuliahan yang diselenggarakan melalui platform digital seperti WhatsApp. Google Classroom. Zoom. YouTube, dan Google Meet menghadapi berbagai tantangan, termasuk keterbatasan media pembelajaran serta kendala jaringan internet. Situasi ini memunculkan berbagai potensi pelanggaran etika akademik yang perlu menjadi perhatian dalam dunia pendidikan tinggi. Tindakan penyimpangan yang dilakukan oleh mahasiswa mencerminkan perilaku yang tidak sesuai dengan prinsip etika. Perilaku etis sendiri dapat dikenali melalui beberapa indikator, seperti kemampuan untuk mengidentifikasi dan memahami tindakan yang selaras dengan kode etik, kesediaan untuk bertindak sejalan dengan nilai serta keyakinan pribadi, keberanian untuk tetap berpegang pada norma meskipun menghadapi tantangan, serta komitmen untuk menjunjung nilai meskipun terdapat risiko atau konsekuensi yang besar Indikator perilaku etis mencakup kemampuan dalam mengidentifikasi serta memahami tindakan yang sesuai dengan prinsip-prinsip kode etik, menjalankan perilaku yang selaras dengan nilai-nilai dan keyakinan pribadi, tetap bertindak berdasarkan norma dan nilai yang diyakini meskipun dalam situasi yang menantang, serta mempertahankan integritas etis meskipun harus menghadapi risiko atau pengorbanan yang signifikan Gambar 1. Observasi Awal Grafik Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi Informasi yang disajikan pada tabel hasil observasi awal memberikan indikasi mengenai karakter perilaku etis mahasiswa akuntansi. Dari total 30 responden sebagai observasi awal yang diteliti, diperoleh data yang mencerminkan pola etika individu dalam lingkup akademik. Akuntansi Angkatan tahun 2020 STIEPAN menunjukkan hasil 0% responden memiliki perilaku etis yang sangat tinggi, 33% responden Anita De Grave dan Riswan Studi Empiris tentang Hubungan Kecerdasan Multidimensi serta Locus of Control pada Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi STIE Balikpapan VISIONER: Jurnal Manajemen dan Bisnis Volume : 14 No. 1 Bulan April, 2025 ISSN: 2252-4835 / EISSN: 2597-7474 Website: https://ejurnal. id/jmbv Doi: https://doi. org/jmbvV14. Halaman : 60-76 memiliki perilaku etis yang tinggi, sedangkan 67% responden memiliki perilaku etis yang rendah dan 0% atau nihil responden memilki perilaku etis yang sangat rendah. Berdasarkan dari hasil observasi di atas maka dapat disimpulkan bahwa masih banyak mahasiswa di kalangan STIEPAN yang memiliki Perilaku Etis yang rendah karena pada masa pandemi saat ini membuat mahasiswa kurang memiliki motivasi untuk belajar, hal tersebut terjadi dikarenakan mahasiswa seringkali kurang paham dengan materi yang telah dijelaskan oleh dosen pada saat perkuliahan sedang berlangsung. Hal-hal tersebutlah yang membuat mahasiswa kurang paham dengan apa yang telah dijelaskan oleh dosen. Tingkat perilaku etis mahasiswa dapat dipengaruhi oleh berbagai aspek psikologis dan kognitif, di antaranya kemampuan intelektual, kedalaman spiritual, stabilitas emosional, serta sejauh mana individu merasa memiliki kendali atas tindakannya . ocus of contro. Menurut Pranto . , kecerdasan intelektual merujuk pada kapasitas individu dalam menyerap informasi, berpikir secara abstrak, bernalar logis, serta mengambil tindakan yang tepat dan efisien. Potensi intelektual ini merupakan bawaan sejak lahir, namun dapat berkembang optimal jika didukung oleh lingkungan yang kondusif dan tersedianya peluang belajar. Kecerdasan intelektual lebih menekankan pada bagaimana seseorang menggunakan kemampuan berpikirnya, yang dipengaruhi oleh latihan serta pengalaman yang diperoleh sepanjang hidup Kemampuan intelektual tidak bisa diukur hanya melalui satu jenis tes saja. Umumnya, pengukuran kecerdasan intelektual dilakukan dengan menilai tiga aspek utama, yaitu kemampuan verbal, kemampuan numerik, dan kemampuan spasial. Dalam konteks mahasiswa, kecerdasan intelektual yang tinggi berperan penting dalam membedakan antara perilaku yang tepat dan yang tidak pantas. Ini menunjukkan bahwa peningkatan dalam kapasitas intelektual seseorang berbanding lurus dengan kecenderungannya untuk bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip etika. Temuan ini diperkuat oleh hasil penelitian Suryaningsih . Ibrahim . AoAomenyatakan bahwa kecerdasan spiritual merupakan kemampuan seseorang dalam mengelola nilai-nilai moral, norma sosial, dan esensi hidup dengan memanfaatkan potensi dari alam bawah sadar, yang sering disebut sebagai suara hati. Kecerdasan ini berperan dalam membentuk pola pikir yang lebih mendalam, sehingga individu mampu memahami makna sejati dari keberadaan dan tujuan hidup manusiaAoAo Teori Theory of Reasoned Action (TRA) menyatakan bahwa kecerdasan spiritual adalah bentuk kecerdasan yang digunakan manusia untuk menjalin hubungan dengan Tuhan. Premis dasarnya adalah, jika seseorang mampu membangun hubungan yang baik dengan Sang Pencipta, maka ia juga akan mampu membina hubungan positif dengan sesama. Hal ini mengindikasikan bahwa penguatan aspek spiritual dalam diri mahasiswa berkontribusi pada meningkatnya kecenderungan untuk berperilaku etis Pernyataan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Riyana . Menurut Fitria . AoAokecerdasan emosional mencerminkan kapasitas individu dalam mengenali dan memahami emosi, memanfaatkan emosi tersebut untuk menunjang proses berpikir, serta mengelola dan mengendalikan perasaan secara mendalam. Kemampuan ini berperan penting dalam mendukung keseimbangan perkembangan emosional dan intelektual seseorangAoAo TRA juga menekankan bahwa sikap merupakan bagian dari aspek afektif yang memengaruhi niat seseorang untuk bertindak. Sikap dapat membentuk kemampuan seseorang dalam memahami, mengelola, dan memberi makna terhadap berbagai situasi sosial. Dengan demikian, sikap menjadi faktor penting dalam Anita De Grave dan Riswan Studi Empiris tentang Hubungan Kecerdasan Multidimensi serta Locus of Control pada Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi STIE Balikpapan VISIONER: Jurnal Manajemen dan Bisnis Volume : 14 No. 1 Bulan April, 2025 Website: https://ejurnal. id/jmbv Doi: https://doi. org/jmbvV14. ISSN: 2252-4835 / EISSN: 2597-7474 Halaman : 60-76 membentuk persepsi terhadap perilaku etis, termasuk pada mahasiswa akuntansi. Kecerdasan emosionalAi yang meliputi kemampuan mengenal dan mengatur emosi diri, mengendalikan emosi, memotivasi diri sendiri, berempati, serta menjalin hubungan sosialAijuga memainkan peran dalam membentuk perilaku etis Hal ini sejalan dengan temuan Oktaviana . Fajar . mengartikulasikan locus of control sebagai konstruk psikologis yang merefleksikan keyakinan subjektif individu mengenai pusat kendali atas kehidupannya, terutama dalam kaitannya dengan kemampuan memengaruhi hasil. Esensinya, konsep ini menyoroti bagaimana individu mempersepsikan sumber kekuasaan dalam menentukan jalannya peristiwa. Pada satu kutub spektrum, individu dengan internal locus of control meyakini bahwa arah dan konsekuensi hidup mereka secara fundamental dibentuk oleh pilihan dan tindakan personal. Di sisi lain, mereka yang memiliki eksternal locus of control cenderung mengatribusikan hasil kepada faktor-faktor di luar kapasitas kontrol diri, seperti lingkungan, takdir, atau kekuatan eksternal lainnya yang dianggap lebih dominan dalam membentuk realitas mereka. Disamping itu, adanya pengaruh locus of control mencerminkan bahwa semakin kuat persepsi kendali diri seseorang, semakin besar pula potensi mereka dalam mempertahankan perilaku etis. Mahasiswa akuntansi yang memiliki pengendalian diri internal yang kuat cenderung tidak menyetujui tindakan yang melanggar etika, dan lebih mungkin menunjukkan perilaku yang sesuai dengan norma. Sebaliknya, mereka yang memiliki locus of control eksternal lebih cenderung menerima tindakan yang menyimpang dari nilai-nilai etis. Temuan ini konsisten dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Putra dan Wardhana . , yang menunjukkan arah kesimpulan serupa II. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini mencakup seluruh mahasiswa angkatan 2020 Program Studi Akuntansi di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Balikpapan, dengan jumlah total responden sebanyak 70 orang. Teknik pemilihan sampel yang digunakan adalah sampel jenuh, di mana setiap individu dalam populasi dijadikan sampel, mengingat jumlahnya yang terbatas dan dapat dijangkau secara keseluruhan. Data utama yang digunakan dalam penelitian ini bersifat primer, yang diperoleh langsung dari para mahasiswa sebagai responden. Proses pengumpulan data dilakukan dengan membagikan kuesioner yang berisi pertanyaan tertulis yang disusun untuk mengumpulkan informasi yang sesuai dengan fokus dan tujuan penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel Pengujian Validitas Pengujian Validitas Perilaku Etis variable Perilaku Etis Sumber: Hasil Penelitian . Anita De Grave dan Riswan Studi Empiris tentang Hubungan Kecerdasan Multidimensi serta Locus of Control pada Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi STIE Balikpapan VISIONER: Jurnal Manajemen dan Bisnis Website: https://ejurnal. id/jmbv Volume : 14 No. 1 Bulan April, 2025 ISSN: 2252-4835 / EISSN: 2597-7474 Doi: https://doi. org/jmbvV14. Halaman : 60-76 Berdasarkan table uji validitas diatas terhadap 10 indikator dalam instrumen penelitian, diperoleh bahwa seluruh Nilai r yang dihitung lebih tinggi dibandingkan nilai r tabel, dengan nilai sebesar 0,2352. samping itu, seluruh nilai signifikansi (Si. berada di bawah batas p < 0,05, menandakan bahwa korelasi antara setiap item pertanyaan dan total skor memiliki tingkat signifikansi statistik. Secara rinci, indikatorindikator memiliki nilai r hitung yang berkisar antara 0,267 hingga 0,585, dan seluruhnya menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,001 hingga 0,004. Oleh karena itu, semua indikator yang diuji dinyatakan valid, artinya setiap item dalam instrumen mampu mengukur variabel yang dimaksud secara tepat. Dengan begitu bahwa instrumen kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini layak untuk dilanjutkan ke tahap analisis berikutnya karena memenuhi syarat validitas Pengujian Validitas variable Kecerdasan Intelektual Tabel 2. Hasil Uji Validitas Sumber: Hasil Penelitian . Hasil uji terhadap 10 indikator menunjukkan bahwa nilai r hitung yang diperoleh untuk setiap indikator lebih tinggi daripada nilai r tabel yang bernilai 0,2352. Nilai signifikansi (Si. juga menunjukkan angka yang sangat kecil . < 0,. , yaitu antara 0,001 hingga 0,004. Nilai r hitung berkisar dari 0,267 hingga 0,585. Nilai signifikansi setiap indicator berada di bawah 0,05. Dengan demikian, seluruh indikator dinyatakan valid karena memenuhi dua kriteria utama, yaitu: . r hitung lebih dari r tabel dan . Sig < 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa setiap item dalam instrumen layak digunakan karena mampu secara signifikan mengukur variabel penelitian yang dimaksud Pengujian Validitas variable Kecerdasan Spiritual Tabel 3. Hasil Uji Validitas Sumber: Hasil Penelitian . Anita De Grave dan Riswan Studi Empiris tentang Hubungan Kecerdasan Multidimensi serta Locus of Control pada Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi STIE Balikpapan VISIONER: Jurnal Manajemen dan Bisnis Website: https://ejurnal. id/jmbv Volume : 14 No. 1 Bulan April, 2025 ISSN: 2252-4835 / EISSN: 2597-7474 Doi: https://doi. org/jmbvV14. Halaman : 60-76 Analisis terhadap sembilan indikator menghasilkan nilai r hitung yang lebih besar daripada nilai r tabel sebesar 0,2352, dengan seluruh nilai signifikansi (Si. tercatat di bawah tingkat signifikansi 0,05 . < 0,. Nilai r hitung berkisar antara 0,289 hingga 0,558, dan nilai signifikansi seluruh indikator berada pada angka 0,001 hingga 0,004. Hal ini menunjukkan bahwa setiap indicator terdapat korelasi yang signifikan sehinggan dinyatakan valid. Dengan demikian, seluruh item dalam instrumen dinyatakan layak digunakan karena telah memenuhi kriteria validitas, yaitu: r hitung > r tabel . ,2. , dan Sig < 0,05 Dengan demikian semua indicator tersebut dapat digunakan pada penelitian ini Pengujian Validitas variabel Kecerdasan Emosional Tabel 4. Hasil Uji Validitas Berdasarkan hasil analisis terhadap 10 indikator, diketahui bahwa sebagian besar nilai r hitung lebih besar dari r tabel sebesar 0,2352, serta seluruh nilai signifikansi (Si. berada di bawah ambang batas 0,05 . < 0,. Secara rinci, nilai r hitung berkisar antara 0,234 hingga 0,509, dan nilai signifikansi berkisar antara 0,001 hingga 0,003. Meskipun indikator ke-2 menunjukkan nilai r hitung . yang sangat mendekati r tabel . ,2. , nilai signifikansinya sebesar 0,003 tetap menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik. Oleh karena itu, seluruh indikator dalam instrumen dinyatakan valid, karena memenuhi salah satu atau kedua kriteria berikut: Nilai r hitung > r tabel, dan Nilai Sig < 0,05. Dengan demikian, semua item pertanyaan dalam instrumen layak digunakan untuk mengukur variabel penelitian karena telah memenuhi syarat validitas. Pengujian Validitas variable Locus of Control Tabel 5. Hasil Uji Validitas Anita De Grave dan Riswan Studi Empiris tentang Hubungan Kecerdasan Multidimensi serta Locus of Control pada Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi STIE Balikpapan VISIONER: Jurnal Manajemen dan Bisnis Website: https://ejurnal. id/jmbv Volume : 14 No. 1 Bulan April, 2025 Doi: https://doi. org/jmbvV14. ISSN: 2252-4835 / EISSN: 2597-7474 Halaman : 60-76 Berdasarkan tabel, seluruh 10 indikator yang diuji memiliki nilai r hitung lebih besar dari r tabel sebesar 0,2352, dengan nilai signifikansi (Si. yang berada di bawah 0,05 . < 0,. Nilai r hitung berkisar antara 0,334 hingga 0,744, dan semua nilai signifikansi berada pada angka 0,001 hingga 0,004, yang menunjukkan bahwa hubungan antara setiap item dengan total skor bersifat signifikan secara statistik. Dengan demikian, seluruh indikator dalam instrumen dinyatakan valid, karena memenuhi kedua kriteria: r hitung > r tabel . ,2. , dan Sig < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh item dalam instrumen penelitian memiliki validitas yang baik dan dapat digunakan untuk mengukur variabel penelitian secara Uji Realibilitas Tabel 6. Hasil Uji Reliabilitas Berdasarkan analisis reliabilitas menggunakan koefisien Cronbach's Alpha, dapat disimpulkan bahwa seluruh instrumen pengukuran variabel dalam penelitian ini menunjukkan tingkat konsistensi internal yang dapat diterima. Variabel Perilaku Etis (Y) menghasilkan nilai Alpha sebesar 0,622, diikuti oleh Kecerdasan Intelektual (XCA) dengan 0,678. Kecerdasan Spiritual (XCC) sebesar 0,645. Kecerdasan Emosional (XCE) dengan 0,712, dan Locus of Control (XCE) sebesar 0,708. Seluruh nilai Alpha ini melampaui batas minimum yang umum diterima untuk menunjukkan reliabilitas instrumen, sehingga mengindikasikan bahwa setiap set pertanyaan yang digunakan untuk mengukur masing-masing variabel secara internal konsisten dalam menangkap konstruk yang dimaksud. Dengan demikian, data yang terkumpul dianggap andal untuk analisis lebih lanjut Pengujian Statistik Deskriptif Tabel 7. Hasil Uji Statistik Deskriptif Minimu Maximu Mean Std. Deviation Kecerdasan Intelektual 70 31,70 3,503 Kecerdasan Spiritual 28,93 2,422 Kecerdasan Emosional 70 29,63 2,420 Locus of Control 31,81 4,557 Perilaku Etis 32,57 3,693 Variabel Valid N . 70 Tabel di atas menunjukkan bahwa untuk variabel Rata-rata kecerdasan intelektual adalah 31,7 dengan variasi yang cukup besar . tandar deviasi 3,. Ini menunjukkan bahwa meskipun nilai rata-rata Anita De Grave dan Riswan Studi Empiris tentang Hubungan Kecerdasan Multidimensi serta Locus of Control pada Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi STIE Balikpapan VISIONER: Jurnal Manajemen dan Bisnis Website: https://ejurnal. id/jmbv Volume : 14 No. 1 Bulan April, 2025 Doi: https://doi. org/jmbvV14. ISSN: 2252-4835 / EISSN: 2597-7474 Halaman : 60-76 berada di tengah rentang, ada perbedaan yang signifikan antar individu. Rentang yang lebar . mencerminkan adanya variasi yang cukup besar dalam kelompok ini. Rata-rata kecerdasan spiritual adalah 28,93, sedikit lebih rendah dari kecerdasan intelektual. Standar deviasi yang lebih kecil . menunjukkan bahwa sebagian besar data terkonsentrasi di sekitar nilai ratarata, dengan variasi yang lebih kecil. Rentangnya . juga menunjukkan distribusi yang lebih sempit dibandingkan kecerdasan intelektual. Rata-rata kecerdasan emosional adalah 29,63, hampir setara dengan kecerdasan spiritual. Standar deviasi yang juga kecil . menunjukkan bahwa data sebagian besar tersebar di sekitar nilai rata-rata, dengan variasi yang relatif rendah. Rentang yang kecil . menandakan konsistensi yang lebih tinggi dalam kelompok ini. Locus of control menunjukkan rata-rata yang sedikit lebih tinggi . dibandingkan dengan kecerdasan intelektual, namun dengan standar deviasi yang lebih besar . Hal ini mengindikasikan bahwa data memiliki variasi yang lebih besar dan rentang yang lebih lebar . , yang mengindikasikan perbedaan yang cukup mencolok antara individu dalam hal locus of control. Rata-rata perilaku etis adalah yang tertinggi . , dan memiliki standar deviasi 3,693. Ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar nilai perilaku etis berada di sekitar nilai rata-rata, variasi antar individu cukup signifikan. Rentang yang cukup besar . menunjukkan adanya perbedaan yang cukup besar dalam tingkat perilaku etis dalam kelompok ini Hasil Uji Normalitas Data Tabel 8. Hasil Uji Normalitas Berdasarkan hasil Uji Kolmogorov-Smirnov Satu Sampel, sebuah analisis statistik yang bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian distribusi data residual yang tidak terstandarisasi dengan distribusi normal, dapat ditarik beberapa poin krusial. Jumlah data (N) yang dianalisis adalah 00, yang mengindikasikan adanya potensi masalah dalam ukuran sampel atau input data. Parameter distribusi normal yang diestimasi dari data menunjukkan rata-rata sebesar 0,0000000 dan deviasi standar sebesar 3,21706609. Perbedaan ekstrem antara distribusi kumulatif empiris data dan distribusi kumulatif teoritis normal tercatat sebesar 0,082 untuk perbedaan absolut dan positif, serta -0,077 untuk perbedaan negatif. Nilai statistik uji Kolmogorov-Smirnov (Test Statisti. adalah 0,082. Signifikansi asimptotik . -taile. dari uji ini adalah 0,200. Mengacu pada tingkat signifikansi konvensional . isalnya, =0,. , nilai signifikansi 0,200 yang lebih besar dari 0,05 mengimplikasikan bahwa kita gagal menolak hipotesis nol. Dalam konteks uji Anita De Grave dan Riswan Studi Empiris tentang Hubungan Kecerdasan Multidimensi serta Locus of Control pada Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi STIE Balikpapan VISIONER: Jurnal Manajemen dan Bisnis Website: https://ejurnal. id/jmbv Volume : 14 No. 1 Bulan April, 2025 Doi: https://doi. org/jmbvV14. ISSN: 2252-4835 / EISSN: 2597-7474 Halaman : 60-76 Kolmogorov-Smirnov, hipotesis nol menyatakan bahwa distribusi data sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal. Dengan demikian, berdasarkan hasil uji ini, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat bukti statistik yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa distribusi residual yang tidak terstandarisasi menyimpang secara signifikan dari distribusi normal. Dengan kata lain, asumsi normalitas distribusi residual, yang seringkali penting dalam analisis regresi dan teknik statistik lainnya, tampaknya terpenuhi dalam konteks data ini. Namun, penting untuk dicatat kembali ukuran sampel (N=. yang tidak lazim dan perlu diverifikasi lebih lanjut untuk memastikan validitas interpretasi ini Hasil Uji Multikolinearitas Tabel 9. Hasil Uji Multikolinearitas Coefficientsa Model Collinearity Statistics Tolerance VIF (Constan. Kecerdasan Intelektual 0,926 1,080 Kecerdasan Spiritual Kecerdesan Emosional 0,974 0,945 1,027 1,058 Locus of Control 0,961 Dependent Variable: perilaku etis mahasiswa 1,041 Berdasarkan analisis multikolinearitas yang tersaji dalam tabel koefisien, dapat dievaluasi tingkat interkorelasi antar variabel prediktor dalam model penelitian ini. Indikator utama untuk mendeteksi multikolinearitas adalah nilai Tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF). Nilai Tolerance untuk setiap variabel prediktor adalah sebagai berikut: Kecerdasan Intelektual sebesar 0,926. Kecerdasan Spiritual sebesar 0,974. Kecerdasan Emosional sebesar 0,945, dan Locus of Control sebesar 0,961. Seluruh nilai Tolerance ini mendekati 1 dan jauh di atas ambang batas kritis yang umumnya digunakan . isalnya, 0,. , mengindikasikan bahwa proporsi varians setiap variabel prediktor yang tidak dapat dijelaskan oleh variabel prediktor lainnya adalah tinggi. Dengan kata lain, setiap variabel prediktor memiliki kontribusi unik yang signifikan dalam menjelaskan varians variabel dependen (Perilaku etis mahasisw. Lebih lanjut, nilai VIF untuk setiap variabel prediktor adalah sebagai berikut: Kecerdasan Intelektual sebesar 1,080. Kecerdasan Spiritual sebesar 1,027. Kecerdasan Emosional sebesar 1,058, dan Locus of Control sebesar 1,041. Seluruh nilai VIF ini sangat rendah dan jauh di bawah ambang batas yang umumnya mengindikasikan adanya masalah multikolinearitas . isalnya, 5 atau . Nilai VIF yang mendekati 1 menunjukkan bahwa peningkatan varians koefisien regresi akibat adanya korelasi antar prediktor sangat Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat indikasi adanya masalah multikolinearitas yang signifikan di antara variabel Kecerdasan Intelektual. Kecerdasan Spiritual. Kecerdasan Emosional, dan Locus of Control dalam memprediksi Perilaku etis mahasiswa. Setiap variabel prediktor memberikan kontribusi independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen, dan korelasi antar prediktor tidak Anita De Grave dan Riswan Studi Empiris tentang Hubungan Kecerdasan Multidimensi serta Locus of Control pada Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi STIE Balikpapan VISIONER: Jurnal Manajemen dan Bisnis Volume : 14 No. 1 Bulan April, 2025 ISSN: 2252-4835 / EISSN: 2597-7474 Website: https://ejurnal. id/jmbv Doi: https://doi. org/jmbvV14. Halaman : 60-76 cukup tinggi untuk mengganggu stabilitas atau interpretasi model regresi. Hasil ini memperkuat validitas penggunaan model regresi linier berganda untuk menganalisis pengaruh variabel-variabel tersebut terhadap Perilaku etis mahasiswa Hasil Uji Heteroskedastisitas Tabel 10. Hasil Uji Heteroskedastisitas Berdasarkan hasil uji heteroskedastisitas, dapat dilihat bahwa tidak terdapat pola yang teratur, dengan titik-titik yang tersebar secara acak di atas dan di bawah nilai 0 pada sumbu Y. Oleh karena itu, berdasarkan metode grafik ini, dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas dalam model regresi yang digunakan. Hasil Analisis regresi Liniar Berganda Y = 29,059 0,243 X1 0,396 X2 - 0,009 X3 0,223 X4 9,375 Dari persamaan regresi linear berganda tersebut dapat dijelaskan pengertian sebagai berikut: Konstanta (Constan. Nilai konstanta sebesar 29,059 dengan t-statistik 3,147 dan nilai signifikansi . -valu. 0,002. Ini menunjukkan bahwa nilai konstanta secara signifikan berbeda dari nol pada tingkat signifikansi 0,05, yang berarti ada pengaruh signifikan dari variabel yang tidak disebutkan . elain variabel independe. terhadap perilaku etis. Kecerdasan Intelektual: Koefisien unstandardized (B) sebesar 0,243 dengan standar error 0,118 dan koefisien terstandarisasi (Bet. 0,230. Hasil uji t menunjukkan nilai t sebesar 2,066 dengan signifikansi 0,044. Nilai signifikansi ini lebih kecil dari 0,05, yang menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku etis. Kecerdasan Spiritual: Koefisien B yang diperoleh adalah 0,396 dengan standar error 0,167 dan nilai Beta sebesar 0,260. Nilai t yang didapatkan adalah 2,371 dengan signifikansi sebesar 0,021. Ini menunjukkan bahwa kecerdasan spiritual berpengaruh signifikan terhadap perilaku etis, dengan arah pengaruh yang Kecerdasan Emosional: Anita De Grave dan Riswan Studi Empiris tentang Hubungan Kecerdasan Multidimensi serta Locus of Control pada Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi STIE Balikpapan VISIONER: Jurnal Manajemen dan Bisnis Volume : 14 No. 1 Bulan April, 2025 Website: https://ejurnal. id/jmbv Doi: https://doi. org/jmbvV14. ISSN: 2252-4835 / EISSN: 2597-7474 Halaman : 60-76 Koefisien B sebesar -0,009 dengan standar error 0,183 dan Beta -0,005. Nilai t sebesar -0,048 dengan signifikansi 0,962. Nilai signifikansi yang jauh lebih besar dari 0,05 menunjukkan bahwa kecerdasan emosional tidak berpengaruh signifikan terhadap perilaku etis. Locus of Control: Koefisien B sebesar 0,223 dengan standar error 0,089 dan Beta 0,275. Nilai t sebesar 2,493 dengan nilai signifikansi 0,015. Nilai signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 menunjukkan bahwa locus of control memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku etis. Secara keseluruhan, kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, dan locus of control menunjukkan pengaruh signifikan terhadap perilaku etis, sedangkan kecerdasan emosional tidak menunjukkan pengaruh signifikan dalam model ini. Hasil Uji Koefisien Korelasi . Tabel 11. Hasil Uji Koefisien Korelasi Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai korelasi . ero orde. kecerdasan intelektual . kemudian dipengaruhi oleh kecerdasan spiritual sebesar . kemudian dipengaruhi oleh kecerdasan emosional sebesar (-0,. dan kemudian dipengaruhi oleh locus of control sebesar . Hasil Uji Koefisien Ganda (R. Tabel 12. Hasil Uji Koefisien Ganda Berdasarkan analisis varians yang dihasilkan, terungkap bahwa sekitar 51,2% variabilitas dalam perilaku etis mahasiswa dapat dijelaskan secara kolektif oleh keempat anteseden yang diteliti: kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional, dan locus of control. Angka ini, yang tercermin dalam nilai Adjusted R Square sebesar 0,512, mengindikasikan bahwa model regresi ini memiliki kemampuan moderat dalam memprediksi variasi perilaku etis berdasarkan kombinasi keempat konstruk Sebaliknya, hampir separuh . ,8%) dari variasi perilaku etis dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar kerangka konseptual penelitian ini, menyiratkan adanya potensi variabel-variabel lain yang belum teridentifikasi atau diukur dalam model ini yang juga berkontribusi signifikan terhadap pembentukan etika Dengan demikian, meskipun model ini memberikan pemahaman yang substansial mengenai Anita De Grave dan Riswan Studi Empiris tentang Hubungan Kecerdasan Multidimensi serta Locus of Control pada Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi STIE Balikpapan VISIONER: Jurnal Manajemen dan Bisnis Website: https://ejurnal. id/jmbv Volume : 14 No. 1 Bulan April, 2025 Doi: https://doi. org/jmbvV14. ISSN: 2252-4835 / EISSN: 2597-7474 Halaman : 60-76 determinan perilaku etis, masih terdapat ruang untuk eksplorasi lebih lanjut mengenai pengaruh faktor-faktor eksternal atau variabel psikologis lainnya Uji Parsial . Tabel 13. Hasil Uji Parsial Pengaruh Kecerdasan Intelektual Terhadap Perilaku Etis Berdasarkan analisis parsial melalui uji t, terungkap bahwa kecerdasan intelektual memiliki implikasi positif yang terbukti signifikan secara statistik terhadap pembentukan perilaku etis di kalangan Data yang terangkum dalam tabel 4. 19 memperlihatkan bahwa nilai t-statistik untuk variabel ini mencapai 2,049, melampaui ambang batas kritis t-tabel sebesar 1,99714. Lebih lanjut, probabilitas signifikansi . -valu. yang tercatat sebesar 0,044 berada di bawah batas signifikansi konvensional 0,05. Konfigurasi statistik ini menegaskan penolakan terhadap hipotesis nol dan penerimaan hipotesis alternatif (H. Implikasinya, secara spesifik dalam konteks mahasiswa Akuntansi angkatan 2020 di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Balikpapan, tingkat kecerdasan intelektual yang lebih tinggi berkorelasi secara signifikan dengan kecenderungan untuk menunjukkan perilaku yang lebih etis. Dengan demikian, temuan ini memberikan dukungan empiris terhadap peran penting kapasitas kognitif dalam memengaruhi kompas moral mahasiswa. Penemuan ini sejalan dengan pandangan Marsuki . dan Pranto . , yang menyatakan bahwa kecerdasan intelektual adalah kemampuan bawaan individu sejak lahir, yang dapat diukur melalui tes yang melibatkan kemampuan verbal, matematika, dan ruang. Teori aksi rasional mendukung konsep ini, yang menganggap individu sebagai pengambil keputusan rasional yang mempertimbangkan dampak dari tindakan yang akan dilakukan. Dalam kerangka pemahaman ini, keunggulan dalam kecerdasan intelektual memberdayakan mahasiswa dengan ketajaman kognitif yang esensial untuk menavigasi kompleksitas dilema etika. Semakin terasah kapasitas intelektual seseorang, semakin besar pula kemampuannya untuk menginternalisasi dan mengejawantahkan prinsip-prinsip moral dalam tindakan nyata. Temuan studi ini selaras dengan jejak penelitian sebelumnya, sebagaimana dikemukakan oleh Suryaningsih . , yang juga mengidentifikasi adanya hubungan positif dan signifikan antara kecerdasan intelektual dan kecenderungan berperilaku etis. Dengan demikian, kapasitas analitis dan pemahaman konseptual yang kuat terbukti menjadi landasan penting bagi pengembangan etika individu. Anita De Grave dan Riswan Studi Empiris tentang Hubungan Kecerdasan Multidimensi serta Locus of Control pada Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi STIE Balikpapan VISIONER: Jurnal Manajemen dan Bisnis Volume : 14 No. 1 Bulan April, 2025 ISSN: 2252-4835 / EISSN: 2597-7474 Website: https://ejurnal. id/jmbv Doi: https://doi. org/jmbvV14. Halaman : 60-76 Pengaruh kecerdasan Spiritual Terhadap Perilaku Etis Temuan riset ini menyingkap bahwa kecerdasan spiritual memainkan peran penting dan terbukti secara statistik dalam membentuk lanskap etika mahasiswa. Analisis data yang tersaji dalam tabel 4. memperlihatkan bahwa nilai t-statistik untuk variabel kecerdasan spiritual mencapai 2,371, melampaui batas kritis yang ditetapkan oleh nilai t-tabel sebesar 1,99714. Lebih lanjut, tingkat signifikansi yang teramati adalah 0,021, yang secara konsisten berada di bawah ambang batas signifikansi 0,05. Konfigurasi hasil statistik ini memvalidasi penolakan terhadap hipotesis nol dan mendukung hipotesis alternatif (H. Implikasinya, dalam konteks mahasiswa Akuntansi angkatan 2020 di STIE Balikpapan, kedalaman dimensi spiritualitas individu berkorelasi positif dan signifikan dengan kecenderungan untuk mengadopsi perilaku yang lebih etis. Dengan demikian, studi ini menggarisbawahi kontribusi signifikan dari kecerdasan spiritual sebagai kompas internal yang memandu tindakan etis di lingkungan akademik. Kecerdasan spiritual, sebagaimana dijelaskan oleh Ibrahim . dan Ahmad . , berperan dalam mendalamkan pemahaman individu tentang aspek terdalam kemanusiaannya, serta mengintegrasikan kecerdasan intelektual dan emosional secara keseluruhan. Kecerdasan spiritual sangat diperlukan untuk membangun sikap kebaikan dalam diri seseorang, karena jika hubungan seseorang dengan Tuhan baik, maka hubungan dengan sesama manusia pun akan lebih baik. Dengan demikian, semakin tinggi kecerdasan spiritual yang dimiliki oleh seorang mahasiswa, semakin baik perilaku etis yang ditunjukkannya. Hasil ini sejalan dengan temuan yang diperoleh oleh Riyana . , yang juga mengidentifikasi adanya pengaruh positif dan signifikan antara kecerdasan spiritual dan perilaku etis. Namun, temuan ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Suryaningsih . , yang menemukan bahwa kecerdasan intelektual memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku etis Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Perilaku Etis Berdasarkan analisis statistik yang dilakukan, variabel kecerdasan emosional tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan maupun negatif terhadap perilaku etis mahasiswa. Pada tabel 4. 19, diperoleh nilai t-hitung sebesar -0,048, yang lebih rendah daripada t-tabel yang bernilai 1,99714. Selain itu, nilai signifikansi yang diperoleh adalah 0,962, yang jauh lebih besar dari tingkat signifikansi yang ditetapkan, yaitu 0,05. Oleh karena itu. HCA diterima dan HCa ditolak, yang berarti kecerdasan emosional tidak memberikan pengaruh signifikan atau negatif terhadap perilaku etis mahasiswa Akuntansi angkatan 2020 di STIE Balikpapan. Dengan demikian, hipotesis ketiga (H. dalam penelitian ini ditolak. Menurut pendapat Mangkunegara . dan Fitria . , yang menyatakan bahwa kecerdasan emosional adalah suatu kemampuan seseorang dalam mengenali dirinya sendiri dan orang lain dengan baik, serta memiliki kedewasaan dalam kepribadian. Kecerdasan emosional ini juga mencakup kemampuan untuk mengenali emosi, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Pengaruh Locus of Control Terhadap Perilaku Etis Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa locus of control memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap perilaku etis mahasiswa. Berdasarkan analisis uji t parsial, nilai t-hitung yang diperoleh adalah 2,493, lebih besar dibandingkan dengan nilai t-tabel 1,99714. Nilai signifikansi yang ditemukan adalah 0,015, yang lebih rendah dari tingkat signifikansi 0,05. Dengan demikian, hipotesis nol (HCA) ditolak Anita De Grave dan Riswan Studi Empiris tentang Hubungan Kecerdasan Multidimensi serta Locus of Control pada Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi STIE Balikpapan VISIONER: Jurnal Manajemen dan Bisnis Volume : 14 No. 1 Bulan April, 2025 Website: https://ejurnal. id/jmbv Doi: https://doi. org/jmbvV14. ISSN: 2252-4835 / EISSN: 2597-7474 Halaman : 60-76 dan hipotesis alternatif (HC. diterima, yang mengindikasikan bahwa locus of control memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku etis mahasiswa Akuntansi angkatan 2020 di STIE Balikpapan. Oleh karena itu, hipotesis H4 dalam penelitian ini diterima. Menurut Allen . 6:13Ae. dan Risnawita . , locus of control merujuk pada keyakinan seseorang bahwa peristiwa dalam hidupnya dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari dalam diri mereka, seperti tindakan atau karakter pribadi. Pada konteks mahasiswa akuntansi, individu dengan locus of control yang tinggi cenderung lebih menolak perilaku tidak etis dan lebih konsisten dalam menunjukkan sikap etis, berbeda dengan mereka yang memiliki locus of control rendah, yang cenderung lebih mudah menerima perilaku tidak etis. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa semakin kuat locus of control seseorang, semakin tinggi pula kecenderungan mereka untuk menunjukkan perilaku etis. Kesimpulan ini sejalan dengan penelitian Putra dan Wardhana . yang menemukan hubungan positif yang signifikan antara locus of control dan perilaku etis. Namun, temuan ini berbeda dengan hasil penelitian Mikoshi . , yang menunjukkan bahwa locus of control tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku etis, bahkan cenderung negatif saat dianalisis secara parsial. IV. KESIMPULAN HASIL PENELITIAN Berdasarkan hasil analisis mengenai pengaruh Kecerdasan Intelektual. Kecerdasan Spiritual. Kecerdasan Emosional, dan Locus of Control terhadap Perilaku Etis mahasiswa Akuntansi STIE Balikpapan angkatan 2020, dapat disimpulkan sebagai berikut: Studi ini menguak dinamika kompleks antara berbagai dimensi kecerdasan dan pembentukan etika di kalangan mahasiswa. Temuan krusialnya adalah bahwa ketajaman intelektual terbukti menjadi fondasi penting bagi kemampuan mahasiswa dalam menavigasi lanskap moral. Semakin tinggi kapasitas kognitif mereka, semakin kuat pula kepekaan mereka terhadap distingsi antara tindakan yang benar dan salah, yang pada gilirannya memperkokoh manifestasi perilaku etis. Lebih lanjut, penelitian ini menyoroti peran kecerdasan spiritual sebagai kompas internal yang secara substantif memengaruhi orientasi etika mahasiswa. Kemampuan untuk berpikir reflektif, bersikap terbuka terhadap perspektif yang beragam, dan berpegang teguh pada keyakinan mendasar teridentifikasi sebagai pendorong utama perilaku yang selaras dengan prinsip-prinsip etis. Menariknya, penelitian ini tidak menemukan korelasi yang kuat antara kecerdasan emosional dan perilaku etis mahasiswa. Meskipun dispekulasikan bahwa defisit dalam kecerdasan emosional berpotensi mereduksi kualitas perilaku etis, bukti empiris dalam konteks studi ini tidak secara signifikan mengkonfirmasi asumsi tersebut. Di sisi lain, keyakinan akan kendali diri . ocus of control interna. muncul sebagai prediktor signifikan terhadap perilaku etis mahasiswa. Individu yang percaya bahwa mereka memegang kendali atas tindakan dan konsekuensinya cenderung lebih konsisten dalam mempraktikkan nilai-nilai etika dibandingkan dengan mereka yang meyakini bahwa faktor eksternal mendominasi hasil. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya agensi diri dalam mempromosikan perilaku etis di lingkungan akad Anita De Grave dan Riswan Studi Empiris tentang Hubungan Kecerdasan Multidimensi serta Locus of Control pada Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi STIE Balikpapan VISIONER: Jurnal Manajemen dan Bisnis Website: https://ejurnal. id/jmbv Volume : 14 No. 1 Bulan April, 2025 Doi: https://doi. org/jmbvV14. ISSN: 2252-4835 / EISSN: 2597-7474 Halaman : 60-76 DAFTAR RUJUKAN Ahmad . dalam bukunya Kecerdasan Spiritual dan Pendidikan Islam mengkaji hubungan antara kecerdasan spiritual dengan pendidikan dalam Islam. Allen . membahas teori-teori kepribadian dalam bukunya Personality Theories: Development. Growth, and Diversity . disi ke-. , yang diterbitkan oleh Pearson Education Inc. Bambang Supomo & N. menyajikan pendekatan metodologi penelitian bisnis dalam karya Bertens . menjelaskan konsep etika dalam bukunya Etika . disi ke-. yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Fajar . membahas tentang stress kerja dalam Media Sains Indonesia. Fitria . mengulas kecerdasan emosional dalam dunia kerja dalam bukunya Kecerdasan Emosional Dalam Bekerja yang diterbitkan oleh Erlangga. Fitriastuti. & lainnya . memberikan dasar-dasar akuntansi dalam karya mereka. Ghozali . menyajikan aplikasi analisis multivariate menggunakan program IBM SPSS dalam bukunya yang diterbitkan oleh Universitas Diponegoro. Goleman . membahas tentang kecerdasan emosional dalam bukunya Emotional Intelligence yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama. Griffin . memberikan pemahaman mengenai bisnis dalam Business . disi ke-. yang diterbitkan oleh Pearson Education Inc. Hagger. menyusun The Handbook Of Behavior Change yang diterbitkan oleh Cambridge University Press. Hidayat. & Y. menyajikan teori dan solusi perilaku etis di perguruan tinggi dalam bukunya yang diterbitkan oleh Indonesia Emas Group. Ibrahim. menjelaskan metode untuk menumbuhkan kecerdasan spiritual dalam Metode Menumbuhkan Kecerdasan Spiritual yang diterbitkan oleh Siombisa Rekatama Media. Ika. mengulas pentingnya kecerdasan spiritual lebih dari IQ dan EQ dalam bukunya Kecerdasan Spiritual (Mengapa SQ Lebih Penting dari IQ dan EQ) yang diterbitkan oleh PT Gramedia Utama. Anita De Grave dan Riswan Studi Empiris tentang Hubungan Kecerdasan Multidimensi serta Locus of Control pada Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi STIE Balikpapan VISIONER: Jurnal Manajemen dan Bisnis Volume : 14 No. 1 Bulan April, 2025 ISSN: 2252-4835 / EISSN: 2597-7474 Website: https://ejurnal. id/jmbv Doi: https://doi. org/jmbvV14. Halaman : 60-76 Ikhsan. memberikan pandangan mengenai akuntansi keperilakuan dalam bukunya Akuntansi Keperilakuan Akuntansi Paradigma. Ingga . menjelaskan teori akuntansi dan implementasinya dalam bukunya yang diterbitkan oleh Indomedia Pustaka. Khoirul Abidin. Affifudin, dan J. menulis artikel mengenai ekonomi dan bisnis yang diterbitkan dalam E-JRA Vol. 07 No. 01 Agustus 2018 oleh Universitas Islam Malang. Mangkunegara . mengulas manajemen sumber daya manusia dalam bukunya yang diterbitkan oleh PT. Remaja Rosdakarya. Marsuki . membahas kualitas kecerdasan intelektual generasi pembaru masa depan dalam bukunya yang diterbitkan oleh UB Press. Mikoshi. Yurniwati. , & Yohana. meneliti pengaruh gender, locus of control, dan equity sensitivity terhadap perilaku etis mahasiswa akuntansi Universitas Andalas dalam Ekonomis: Journal of Economics and Business. Montano . menyusun teori Theory of Reasoned Action yang diterbitkan oleh Deepublish. Morissan . membahas teori komunikasi dalam Teori Komunikasi: Individu Hingga Massa yang diterbitkan oleh Prenadamedia. Oktaviana. melakukan penelitian yang mengkaji dampak kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual terhadap pembentukan sikap etis mahasiswa, yang diterbitkan dalam Global Accounting: Journal of Accounting. Parauba. mengkaji pengaruh kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan perilaku belajar terhadap pemahaman akuntansi di kalangan mahasiswa, yang dipublikasikan dalam Going Concern: Journal of Accounting Research. Pranto. membahas hubungan antara kecerdasan spiritual dan intelektual dengan moralitas pada remaja yang sedang menjalin hubungan asmara, yang dibahas dalam bukunya Kecerdasan Spiritual dan Kecerdasan Intelektual dalam Moralitas Remaja Berpacaran, diterbitkan oleh CV Multimedia Edukas. Putra. , & Wardhana. Menelaah sejauh mana faktor jenis kelamin, kepekaan etis, kendali atas perilaku . ocus of contro. , serta pemahaman terhadap standar etika profesi akuntansi berperan dalam membentuk perilaku etis mahasiswa di bidang akuntansi dalam Jurnal Ilmiah Mahasiswa Ekonomi Akuntansi (JIMEKA). Anita De Grave dan Riswan Studi Empiris tentang Hubungan Kecerdasan Multidimensi serta Locus of Control pada Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi STIE Balikpapan VISIONER: Jurnal Manajemen dan Bisnis Volume : 14 No. 1 Bulan April, 2025 Website: https://ejurnal. id/jmbv Doi: https://doi. org/jmbvV14. ISSN: 2252-4835 / EISSN: 2597-7474 Halaman : 60-76 Ridzal. , & Alamanda. menyajikan pandangan mengenai akuntansi keperilakuan kontemporer dalam bukunya Akuntansi Keperilakuan Kontemporer Berbagai Bidang. Risnawitaq. & R. membahas teori psikologi dalam bukunya yang diterbitkan oleh ArRuzz Media. Mutmainah, dan Maulidi . melakukan penelitian yang mengeksplorasi sejauh mana pemahaman mahasiswa akuntansi terhadap kode etik profesi, serta pengaruh dari kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan locus of control, berkontribusi dalam membentuk perilaku etis mereka. dalam Journal of Economic. Business and Engineering (JEBE). Sugiarto . mengulas akuntansi keuangan menengah dalam bukunya yang d Universitas Terbuka. iterbitkan oleh Sugiyono . membahas metode penelitian kuantitatif dan kualitatif dalam bukunya yang diterbitkan oleh Alfabeta. Suryaningsih. Wahyudin. Ekonomi. , & Ekonomi. Mengkaji bagaimana tiga aspek kecerdasan serta locus of control berkontribusi terhadap perilaku historis, sebagaimana dibahas dalam jurnal Economic Education Analysis Sutrisna. membahas akuntansi keperilakuan manajerial dalam bukunya. Vidya. mengembangkan kecerdasan intelektual melalui pembelajaran sastra dalam bukunya Mengembangkan Kecerdasan Intelektual Melalui Pembelajaran Membaca Sastra yang diterbitkan oleh UB Press Anita De Grave dan Riswan Studi Empiris tentang Hubungan Kecerdasan Multidimensi serta Locus of Control pada Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi STIE Balikpapan