Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. September 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index BAYANGAN GELAP DI DUNIA AKADEMIK: PENGARUH SOSIAL BUDAYA DALAM MENYIKAPI FENOMENA BULLYING MELALUI SOSIALISASI EDUKATIF DI SMAN 5 TANJUNGPINANG Suherry. Junriana. Safrika Nur Fadilla*. Ridho Aufa Riyadi Program Studi Ilmu Pemerintahan STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang Korespondensi : safrikanurfadilla59@gmail. Artikel history : Received Revised Published : 02 Agustus 2025 : 03 September 2025 : 30 September 2025 DOI : https://doi. org/10. 29303/pepadu. ABSTRAK Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di SMAN 5 Kota Tanjungpinang dengan tujuan memberikan pemahaman awal kepada siswa kelas 10 mengenai fenomena bullying serta dampak sosial budaya yang menyertainya. Metode kegiatan dilakukan melalui sosialisasi interaktif yang mencakup pemaparan materi, diskusi, dan sesi tanya jawab. Data diperoleh melalui observasi partisipasi siswa dan pencatatan refleksi yang muncul dari pertanyaan maupun komentar selama Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebagian besar siswa sebelumnya memandang bullying hanya sebatas tindakan fisik, namun melalui sosialisasi ini mereka mulai menyadari adanya bentuk-bentuk lain seperti kekerasan verbal dan pengucilan sosial. Beberapa siswa juga membagikan pengalaman pribadi dan menunjukkan empati terhadap korban bullying, yang mengindikasikan adanya ruang refleksi kritis terhadap fenomena tersebut. Meskipun demikian, temuan ini masih bersifat deskriptif karena didasarkan pada observasi kualitatif dan kegiatan yang hanya berlangsung Oleh sebab itu, hasil kegiatan lebih tepat dipahami sebagai langkah awal dalam membangun kesadaran kolektif siswa mengenai bahaya bullying, yang memerlukan tindak lanjut dengan evaluasi lebih sistematis untuk menilai dampak jangka panjangnya. Kata Kunci: Bullying. Sosialisasi. Kesadaran Siswa. Budaya Sekolah. Pengabdian ABSTRACT This community service activity was conducted at SMAN 5 Tanjungpinang City with the aim of providing 10th-grade students with an initial understanding of the phenomenon of bullying and its accompanying socio-cultural impacts. The activity method was carried out through interactive socialization that included material presentations, discussions, and question-and-answer sessions. Data were obtained through student participant observation and recording reflections that emerged from questions and comments during the activity. The results of the activity showed that most students previously viewed bullying as limited to physical actions, but through this socialization they began to recognize other forms such as verbal violence and social exclusion. Several students also shared personal experiences and demonstrated empathy for victims of bullying, indicating a space for critical reflection on the phenomenon. However, these findings are still descriptive because they are based on qualitative observations and a one-time activity. Therefore, the results of the activity are more appropriately understood as an initial step in building students' collective awareness of the dangers of bullying, which requires follow-up with a more systematic evaluation to assess its longterm impact. Keywords: Bullying. Outreach. Student Awareness. School Culture. Community Service. Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. September 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index PENDAHULUAN Menggertak atau mengganggu adalah dasar kata bullying dalam bahasa Inggris . Agresi, kekerasan verbal, kekerasan fisik adalah komponen perilaku bullying yang biasanya dilakukan dengan sengaja. Perilaku bullying juga terjadi apabila sekelompok orang merasa kuat dan perilaku tersebut digunakan untuk menyakiti orang lemah (Bulu, 2. Data resmi dari Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI-PPA) menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2024 tercatat 28. 831 kasus kekerasan anak, dengan sebagian besar terjadi di lingkungan pendidikan (Kementerian pA, 2025. NU Online, 2. Masalah perundungan di lingkungan pendidikan di Indonesia telah berlangsung cukup Berita tentang kejadian perundungan di sekolah sering muncul di media, menunjukkan betapa umum kasus ini. Bentuk perundungan dapat berupa kekerasan fisik, ucapan yang menyakitkan, atau tekanan psikologis, dilakukan oleh siswa yang lebih senior terhadap mereka yang lebih junior atau antar rekan sebaya. Tingginya tingkat kekerasan yang dialami oleh anakanak di usia sekolah saat ini sangat mengkhawatirkan, baik bagi sektor pendidikan maupun bagi para orang tua. Sekolah, yang seharusnya menjadi tempat untuk belajar dan membantu perkembangan karakter yang baik, sering kali justru berubah menjadi tempat perundungan (Rahim & Suyitno, 2. Menurut JPPI (Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesi. , kasus kekerasan di lingkungan pendidikan mengalami peningkatan yang sangat berdampak dari tahun ke tahun. Pada tahun 2024, tercatat sebanyak 573 kasus kekerasan yang terjadi di sekolah, madrasah, dan Angka ini menunjukkan kinerja yang signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, di mana pada tahun 2020 hanya terdapat 91 kasus, meningkat menjadi 142 kasus pada tahun 2021, 194 kasus pada tahun 2022, dan 285 kasus pada tahun 2023. Peningkatan tajam ini mencerminkan perlunya perhatian serius dari berbagai pihak untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan bebas dari kekerasan. Kota Tanjungpinang merupakan salah satu daerah yang masih menghadapi permasalahan kekerasan terhadap kelompok rentan, terutama anak-anak dan perempuan. Pemerintah daerah melalui UPTD DP3APM Kota Tanjungpinang melakukan pencatatan dan pemantauan terhadap kasus-kasus kekerasan yang terjadi sebagai bentuk tanggung jawab dalam upaya perlindungan terhadap kelompok tersebut. Melalui data yang dihimpun, dapat dilihat bagaimana tren kekerasan mengalami perubahan dari tahun ke tahun, yang mencerminkan perlunya perhatian dan penanganan yang lebih serius serta berkelanjutan. Rincian kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan dapat dilihat dari tabel 1. Tabel 1. Data Kasus Kekerasan Terhadap perempuan dan anak Tahun Januari-Oktober Kekerasan Terhadap Anak Anak Sebagai Anak sebagai korban 102 Kasus 23 Kasus 7 Kasus 71 Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan 64 Kasus 50 Kasus Sumber. UPTD DP3APM Kota Tanjungpinang Data tersebut menunjukkan bahwa kekerasan terhadap anak dan perempuan masih menjadi persoalan serius yang memerlukan perhatian berkelanjutan. Perubahan jumlah kasus dari tahun ke tahun menjadi indikator penting perlunya penguatan perlindungan, khususnya di lingkungan pendidikan. Sebagaimana Undang-undang Perlindungan Anak No 35 Tahun 2014 Pasal 54 menyatakan bahwa saat berada di lingkungan sekolah anak patut dilindungi dari Baik itu kekerasan fisik, psikis. Selain itu dilindungi dari kekerasan atau kejahatan yang ditimbulkan dari guru, siswa dan lingkungan sekolah (Katayana 2019, sebagaimana Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. September 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index dikutip dalam NAJWA et al. , 2. Kondisi ini mendorong perlunya identifikasi terhadap sekolah-sekolah yang berpotensi menghadapi risiko serupa untuk melakukan pencegahan dan pendampingan lebih lanjut. Salah satu sekolah yang menjadi perhatian dalam konteks ini adalah SMAN 5 Kota Tanjungpinang, khususnya siswa kelas 10 yang baru saja memasuki lingkungan sekolah menengah atas. Berdasarkan komunikasi awal dengan pihak sekolah, teridentifikasi bahwa sebagian siswa belum memiliki pemahaman utuh mengenai batasan antara interaksi sosial yang sehat dan tindakan bullying. Ketidakjelasan batas ini diperparah oleh budaya diam, rasa takut untuk melapor, dan kurangnya literasi sosial tentang kekerasan dalam konteks akademik. Kondisi ini menimbulkan urgensi untuk memberikan penguatan pemahaman melalui pendekatan edukatif yang sederhana, langsung, dan komunikatif. Hal ini sejalan dengan temuan Ayu dkk. bahwa edukasi berbasis literasi digital di SMA/SMK mampu meningkatkan pengetahuan siswa tentang bentuk dan dampak bullying, sekaligus mendorong partisipasi aktif dalam diskusi dan kampanye anti-bullying. Sebagai respon terhadap situasi tersebut, tim pelaksana melakukan kegiatan pengabdian masyarakat dalam bentuk sosialisasi bertema "Bayangan Gelap di Dunia Akademik: Pengaruh Sosial Budaya dalam Menyikapi Fenomena Bullying". Kegiatan ini dilaksanakan secara langsung di hadapan siswa kelas 10 SMAN 5 Kota Tanjungpinang. Sosialisasi dipilih sebagai metode utama karena dinilai paling efektif untuk menjangkau siswa secara cepat dan luas, sekaligus membuka ruang dialog tentang pengalaman dan persepsi mereka terhadap fenomena bullying di lingkungan sekolah. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran siswa terhadap bahaya bullying serta membongkar normalisasi kekerasan yang berakar pada nilai-nilai sosial budaya. Perubahan yang diharapkan adalah munculnya pemahaman baru di kalangan siswa tentang pentingnya sikap saling menghargai dan menciptakan lingkungan belajar yang aman serta bebas dari kekerasan. Sosialisasi ini juga dimaksudkan untuk menjadi langkah awal dalam membangun budaya akademik yang lebih inklusif dan berpihak pada keselamatan psikologis peserta didik. Upaya pencegahan bullying di sekolah tidak dapat dilepaskan dari pentingnya membangun budaya sekolah yang positif dan ramah anak. Penelitian Kristiastuti et al. menunjukkan bahwa sosialisasi anti-perundungan yang dilakukan di sekolah dasar mampu mengurangi kecenderungan terjadinya perundungan dengan cara memberikan pemahaman yang lebih baik kepada siswa tentang dampak negatif bullying. Temuan ini sejalan dengan tujuan kegiatan sosialisasi di SMAN 5 Tanjungpinang, yakni meningkatkan kesadaran siswa untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan inklusif. METODE KEGIATAN Pengabdian masyarakat ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode utama berupa sosialisasi edukatif kepada siswa kelas 10 SMAN 5 Kota Tanjungpinang. Tujuannya adalah memberikan pemahaman kritis terhadap fenomena bullying yang terjadi dalam lingkungan sekolah dengan mempertimbangkan aspek sosial budaya yang Tahapan Pelaksanaan Kegiatan Kegiatan dilaksanakan melalui beberapa tahapan sebagai berikut: Identifikasi Masalah Dilakukan melalui komunikasi informal dengan pihak sekolah, termasuk guru bimbingan konseling dan wali kelas, guna mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terkait bullying dan bentuk-bentuknya. Tahap ini digunakan untuk menilai urgensi kegiatan serta merumuskan fokus permasalahan yang relevan dengan kondisi siswa kelas 10. Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. September 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index Perumusan Tujuan dan Desain Kegiatan Berdasarkan hasil identifikasi, tim menyusun tujuan sosialisasi dan merancang metode penyampaian materi yang sesuai dengan karakteristik siswa. Materi disusun berbasis referensi akademik serta data empiris terkait bullying di sekolah. Pelaksanaan Sosialisasi Kegiatan dilaksanakan secara langsung di sekolah dengan menggunakan pendekatan Penyampaian materi dilakukan melalui kombinasi ceramah, pemutaran video, studi kasus, dan diskusi kelompok. Pendekatan ini bertujuan membangun keterlibatan peserta secara aktif. Pengumpulan Data Reflektif Data dikumpulkan melalui observasi langsung terhadap partisipasi siswa selama kegiatan serta tanggapan verbal yang muncul selama sesi diskusi. Selain itu, dilakukan pencatatan terhadap pertanyaan, komentar, dan pernyataan siswa sebagai bentuk data kualitatif. Kegiatan ini tidak menggunakan instrumen kuantitatif seperti kuesioner pre-test maupun post-test. Hal ini karena sifat kegiatan adalah pengabdian masyarakat dengan pendekatan edukatif-reflektif, bukan penelitian eksperimental. Tujuan utama kegiatan adalah menumbuhkan kesadaran kritis siswa melalui sosialisasi interaktif, sehingga instrumen yang dipilih lebih menekankan pada observasi partisipasi dan pencatatan refleksi siswa selama diskusi Analisis Data Data dianalisis secara kualitatif dengan pendekatan tematik. Proses analisis dilakukan dengan mengidentifikasi tema-tema utama dari jawaban siswa, seperti persepsi mereka tentang bullying fisik maupun nonfisik, empati terhadap korban, serta pandangan tentang peran siswa dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman. Evaluasi dan Refleksi Hasil Evaluasi kegiatan dilakukan dengan indikator: . tingkat partisipasi siswa dalam sesi diskusi, dan . perubahan pemahaman yang terlihat dari pernyataan siswa setelah Indikator ini digunakan untuk menilai sejauh mana kegiatan mampu menumbuhkan kesadaran kritis tentang bullying di kalangan siswa. Model sosialisasi sebagai metode edukatif terbukti relevan dalam menumbuhkan pemahaman siswa mengenai bullying. Penelitian Adelina & Lestari . di tingkat SMP menunjukkan bahwa edukasi melalui sosialisasi efektif dalam meningkatkan pengetahuan siswa tentang bentuk-bentuk bullying sekaligus menumbuhkan sikap empati terhadap korban. Kegiatan ini juga menekankan pentingnya keterlibatan siswa secara aktif dalam sesi diskusi, sebagaimana diterapkan dalam sosialisasi di SMAN 5 Tanjungpinang. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan pengamatan awal, sebagian besar siswa . ekitar 14 dari 20 pesert. masih memandang bullying hanya sebagai tindakan fisik, seperti pemukulan atau perundungan Normalisasi kekerasan verbal juga terlihat dari pernyataan siswa, misalnya AuKami sering dipanggil dengan nama hewan atau tubuh, dan itu sudah jadi hal biasa di sini. Ay Hal ini menunjukkan bahwa bentuk bullying verbal dan pengucilan sosial belum dipahami secara serius oleh sebagian siswa. Adapun kegiatan sosialisasi yang dilakukan seperti yang terlihat pada Gambar 1 di bawah ini. Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. September 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index Gambar 1. Kegiatan Sosialisasi Setelah penyampaian materi dan diskusi, terjadi dinamika pemahaman baru. Dari catatan observasi, sebanyak 12 siswa mulai menyebutkan bentuk bullying nonfisik, seperti ejekan verbal, sedangkan 9 siswa mengaitkan bullying dengan pengucilan sosial. Selain itu, 6 siswa aktif mengajukan pertanyaan terkait pencegahan, dan 3 siswa berbagi pengalaman pribadi sebagai korban bullying. Indikasi ini menunjukkan bahwa sosialisasi mampu membuka ruang refleksi kritis, meskipun hasilnya masih bersifat deskriptif. Gambar 2. Kegiatan Sosialisasi Setelah penyampaian materi selesai, kami melanjutkan dengan sesi tanya jawab untuk mendorong partisipasi aktif dari siswa. Dalam sesi ini, kami memberikan sedikit penghargaan kepada setiap siswa yang berani bertanya atau berbagi pandangan mereka, sebagai bentuk apresiasi agar mereka merasa dihargai. Strategi ini terbukti efektif karena mampu menciptakan suasana yang lebih terbuka dan interaktif. Siswa menjadi lebih berani untuk mengemukakan pendapat, bertanya lebih banyak tentang cara menghadapi penindasan, dan bahkan ada yang menawarkan solusi dari sudut pandang mereka sendiri. Melalui pendekatan ini, kami tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun kesadaran bersama bahwa setiap suara dalam diskusi ini penting dan berharga (Ningtyas & Sumarsono, 2. Gambar 3. Kegiatan Sosialisasi Berdasarkan hasil pemaparan dan diskusi yang berlangsung di kelas tersebut, terungkap bahwa sebagian besar siswa ternyata pernah mengalami bullying, meskipun hanya dalam Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. September 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index bentuk verbal dan belum sampai pada tindakan fisik. Bentuk kejadian yang dialami beragam, mulai dari komentar tentang fisik, nama julukan, hingga pengucilan dalam pergaulan. Meskipun terlihat ringan, banyak siswa mengakui bahwa semacam itu tetap meninggalkan perasaan tidak nyaman dan dapat mempengaruhi rasa percaya diri mereka. Untuk memberikan gambaran yang lebih terstruktur mengenai temuan tersebut, hasil pengamatan kemudian dirangkum dalam bentuk kategori tematik. Ringkasan observasi siswa dapat dilihat pada Tabel 2 berikut. Persepsi awal bullying = fisik Jumlah Siswa 14 siswa Menyadari bullying verbal 12 siswa Menyadari bullying sosial 9 siswa Bertanya dalam diskusi 6 siswa Membagikan pengalaman 3 siswa Kategori Temuan Contoh Pernyataan AuBullying itu kalau dipukul atau dikeroyok. Ay AuKalau diejek nama tubuh juga termasuk Ay AuKalau dikucilkan dari pergaulan itu juga Ay AuKalau ada teman dibully, apa yang bisa kita lakukan?Ay AuSaya dulu pernah korban, tapi hanya diam Ay Tabel 2. Ringkasan Hasil Observasi Siswa dalam Kegiatan Sosialisasi Fenomena bullying di sekolah memiliki dampak jangka panjang yang serius bagi Anak-anak yang menjadi korban bullying cenderung mengalami penurunan prestasi akademik, kehilangan minat belajar, dan bahkan mengembangkan masalah kesehatan mental sepertidepresi dan kecemasan. Selain itu, bullying dapat merusak rasa percaya diri anak dan mempengaruhi hubungan sosial mereka, baik di dalam maupun di luar lingkungan (Yuyarti, 2. Dampak dari perundungan terhadap anak, jika si anak tidak melawan atau membiarkan dirinya menjadi korban perundungan, bisa bermacam-macam. Pertama adalah dampak emosional ,hal ini bisa membuat anak jadi sulit bergaul,murung,merasa tidak berdaya, frustasi, dan sebagainya (Ningrum, 2018, sebagaimana dikutip dalam Suparna et al. , 2. Kedua, perundungandisekolahjugabiasanyaberdampakterhadap nilai akademis anak. Karena merasa takut terhadap teman yang melakukan perundungan ini, anak bisa mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi yang berakibat menurunnya nilai akademis si anak (Prasetyo 2011, sebagaimana dikutip dalam Suparna et al. , 2. Dampak bullying juga terlihat dari sisi kesehatan mental. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. 2018 yang diterbitkan Kementerian Kesehatan RI mencatat bahwa 9,8% penduduk usia di atas 15 tahun mengalami gangguan mental emosional, dan lebih dari 12 juta orang menderita depresi. (Kemenkes RI, 2018. Sehat Negeriku, 2. Data lebih lanjut dari Factsheet Kesehatan Jiwa Remaja Kemenkes menunjukkan bahwa 5,5% remaja usia 10Ae17 tahun mengalami gangguan mental, termasuk depresi . ,0%) dan kecemasan . ,7%) (Kemenkes RI, 2. Angka tersebut memperlihatkan keterkaitan antara pengalaman bullying dengan kerentanan kesehatan mental siswa. Menyaksikan Tindakan Bullying ini yaitu Orang yang menyaksikan bullying dan kemudian membantu korban agar tidak dibully, lali Orang yang menyaksikan bullying namun ikut membantu Pelaku untuk membully korban, dan ada pula Orang yang menyaksikan bullying tidak membantu korban tapi ikut membully serta jika ia sebagai saksi ia tidak bisa menjawab dan purapura tidak tahu Damayanti. Dkk . Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. September 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index Faktor budaya sekolah turut berperan dalam memperkuat atau menekan perilaku bullying. Rahayu et al. menegaskan bahwa penumbuhan budaya positif melalui sosialisasi Austop bullyingAy di sekolah dasar berdampak pada meningkatnya kepedulian siswa dan keberanian untuk melaporkan kasus bullying. Hal ini memperkuat hasil kegiatan di SMAN 5 Tanjungpinang, di mana siswa mulai menunjukkan perubahan sikap kritis terhadap bullying setelah sesi tanya jawab dan refleksi bersama. KESIMPULAN DAN SARAN Kegiatan sosialisasi mengenai pengaruh sosial budaya dalam menyikapi fenomena bullying di SMAN 5 Kota Tanjungpinang berhasil membuka ruang refleksi kritis bagi siswa. Melalui pendekatan edukatif-interaktif, siswa menunjukkan peningkatan pemahaman bahwa bullying tidak hanya sebatas pada kekerasan fisik, melainkan juga mencakup kekerasan verbal dan pengucilan sosial. Hal ini tampak dari keberanian siswa mengemukakan pengalaman pribadi serta pandangan kritis mereka terhadap dampak perundungan. Namun, hasil kegiatan ini keterbatasan metodologis. Pengumpulan data hanya dilakukan melalui observasi partisipasi dan pencatatan refleksi siswa, tanpa penggunaan instrumen kuantitatif seperti kuesioner pre-test atau post-test. Dengan demikian, temuan tidak dapat digeneralisasi secara statistik, melainkan hanya menggambarkan dinamika pemahaman siswa pada saat kegiatan berlangsung. Selain itu, sifat kegiatan yang hanya dilakukan satu kali pertemuan belum cukup untuk menilai perubahan sikap jangka panjang siswa terhadap Meskipun demikian, kegiatan ini tetap memberikan kontribusi awal yang penting dalam membangun kesadaran kolektif siswa mengenai bahaya bullying. Temuan awal ini dapat menjadi dasar untuk intervensi yang lebih sistematis dan berkelanjutan di sekolah. SARAN Untuk tindak lanjut kegiatan ini, sekolah disarankan untuk melaksanakan program evaluasi berkelanjutan yang menggunakan instrumen lebih sistematis, seperti survei atau kuesioner pretest dan post-test, sehingga perubahan pengetahuan dan sikap siswa dapat diukur secara Selain itu, pihak sekolah perlu memperkuat kebijakan anti-bullying dengan membangun sistem pelaporan yang aman, rahasia, dan mudah diakses oleh siswa, agar mereka berani melaporkan kasus perundungan tanpa rasa takut. Kegiatan sosialisasi juga sebaiknya diikuti dengan pelatihan lanjutan berupa workshop interaktif yang melibatkan guru, siswa, dan orang tua untuk menanamkan nilai empati, menghargai perbedaan, serta membangun budaya sekolah yang inklusif. Ke depan, kegiatan serupa dapat dipadukan dengan pendekatan penelitian partisipatif yang lebih mendalam sehingga hasilnya tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga dapat digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan berbasis data. Dengan langkah-langkah ini diharapkan tercipta lingkungan belajar yang lebih sehat, aman, dan bebas dari praktik bullying UCAPAN TERIMA KASIH Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak SMAN 5 Kota Tanjungpinang yang telah memberikan kesempatan dan dukungan dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. Terima kasih juga kami sampaikan kepada para siswa yang telah berpartisipasi aktif dan terbuka dalam setiap sesi yang dilakukan, serta kepada seluruh pihak sekolah, guru BK, dan wali kelas atas kerja samanya. Kami juga menghargai dukungan dari Program Studi Ilmu Pemerintahan yang telah memfasilitasi terlaksananya kegiatan ini. Semoga hasil dari Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. September 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index kegiatan ini dapat memberikan kontribusi positif dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan inklusif. DAFTAR PUSTAKA