JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA http://jktp. com/jktp/index VOLUME 07 NOMOR 02 DESEMBER 2024 ISSN 2654 - 5756 ARTIKEL PENELITIAN GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN MAHASISWA TENTANG PROGRAM WINGKO (WOLBACHIA ING KOTA SEMARANG) THE OVERVIEW OF COLLEGE STUDENTS' KNOWLEDGE LEVEL ON THE WINGKO PROGRAM (WOLBACHIA ING KOTA SEMARANG) Aerrosa Murenda Mayadilanuari 1*. Silvia Nurvita1. Dody Indra Sumantiawan1. Dhieo Kurniawan2 Manajemen Informasi Kesehatan. Universitas Nasional Karangturi. Semarang. Indonesia Magister Farmasi Klinik. Universitas Airlangga. Surabaya. Indonesia Abstrak Article history Received date: 23 September 2024 Revised date: 20 November 2024 Accepted date: 28 November 2024 *Corresponding author: Aerrosa Murenda Mayadilanuari. Universitas Nasional Karangturi. Semarang. Indonesia. Aerrosa. murenda@unkartur. Wolbachia adalah jenis bakteri yang secara alami ditemukan pada serangga dan memiliki kemampuan untuk menekan replikasi virus dalam tubuh nyamuk seperti virus dengue. Kota Semarang menetapkan program Wolbachia Ing Kota Semarang (WINGKO) untuk menekan angka demam berdarah di Kota Semarang. Keberhasilan program WINGKO bergantung pada penerimaan dan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa Universitas Nasional Karangturi Semarang tentang Program WINGKO. Penelitian deskriptif kuantitatif ini dilakukan pada bulan Agustus 2024 dengan melibatkan 34 mahasiswa. Pengambilan sample dilakukan dengan metode accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan . dan berada pada kelompok umur 18-19 . ,06%). Sebanyak 70,59% responden memiliki tingkat pengetahuan rendah terkait Wolbachia mayoritas mahasiswa khawatir terhadap program WINGKO dan mereka masih ragu untuk mendukung pelaksanaan program WINGKO . ,53%). Perlu adanya peningkatan sosialisasi dan edukasi terkait Program WINGKO untuk meningkatkan pemahaman dan dukungan masyarakat di Kota Semarang. Kata Kunci: Wolbachia, demam berdarah dengue, tingkat pengetahuan Abstract Copyright: A 2024 by the authors. This is an open access article distributed under the terms and conditions of the CC BY-SA. Wolbachia is a type of bacteria naturally found in insects and can suppress virus replication in mosquito bodies, such as the dengue virus. The city of Semarang has implemented the Wolbachia Ing Kota Semarang (WINGKO) program to reduce the incidence of dengue fever in Semarang. The success of the WINGKO program depends on the acceptance and cooperation between the government and the This study aims to assess the knowledge level of students at Universitas Nasional Karangturi Semarang regarding the WINGKO Program. This descriptive quantitative study was conducted in August 2024, involving 34 students. The sampling method used was accidental sampling. The study results show that most respondents were female . 82%) and in the age group of 18-19 years . 06%). A total of 70. 59% of the respondents had a low level of knowledge regarding Wolbachia. Most of the students expressed concern about the WINGKO program and were still hesitant to support its implementation . 53%). There is a need for improved socialization and education about the WINGKO Program to enhance understanding and support among the community in Semarang. Keywords: Wolbachia, dengue fever, level of knowledge PENDAHULUAN Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit menular yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes spp. betina, khususnya Aedes aegypti (Kathiriya et al. , 2. Penularan penyakit ini dapat berlangsung cepat di suatu wilayah serta menimbulkan angka kematian yang tinggi (Paramasivam et al. , 2. Angka kejadian DBD di Indonesia pada tahun 2023 mencapai lebih dari 55. 000 kasus yang dilaporkan (Rakhmatsani & Susanna. Saat ini, berbagai upaya pencegahan DBD seperti teknologi nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi Wolbachia telah diterapkan untuk menekan populasi nyamuk (Hoffmann et al. , 2. Wolbachia adalah jenis bakteri yang secara alami ditemukan pada serangga dan memiliki kemampuan untuk menekan replikasi virus dalam tubuh nyamuk (Edenborough et al. , 2. Ketika nyamuk Aedes aegypti terinfeksi oleh Wolbachia, bakteri ini mengurangi kemampuan nyamuk tersebut dalam menyebarkan virus dengue, zika, dan chikungunya kepada Aerrosa Murenda Mayadilanuari. Silvia Nurvita. Dody Indra Sumantiawan. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 7 . , 2024: 104-110 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. manusia (Gymez et al. , 2. Di dalam tubuh nyamuk. Wolbachia tidak hanya menghalangi penularan virus, tetapi juga dapat mengurangi populasi nyamuk dengan memengaruhi proses reproduksinya (Ross, 2. Teknologi Wolbachia sebelumnya telah berhasil diterapkan di Yogyakarta dengan penurunan jumlah kasus DBD hingga 77% (Arguni et al. , 2. Keberhasilan serupa juga terjadi di negara lain seperti Australia yang menemukan penurunan signifikan penyakit DBD setelah penerapan teknologi ini (Beebe et al. , 2. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa teknologi Wolbachia aman dan tidak menimbulkan risiko signifikan bagi lingkungan maupun kesehatan manusia (Gesto et al. , 2. Selain itu, nyamuk yang terinfeksi Wolbachia tidak mengalami perubahan perilaku atau peningkatan agresivitas (Bi & Wang, 2. Beberapa studi jangka panjang juga menunjukkan bahwa Wolbachia efektif dalam menekan penularan virus seperti dengue tanpa memengaruhi keseimbangan ekosistem (Lopes et al. , 2. Teknologi Wolbachia merupakan teknologi baru yang mulai diterapkan di Indonesia pada tahun 2023. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 1341 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Pilot Project Penanggulangan Dengue melalui Wolbachia di lima kota yang ada di Indonesia. Kota Semarang dipilih untuk mengikuti uji coba program tersebut (Anggraini. Aprianti. Mubarokah, et al. , 2. Program WINGKO (Wolbachia Ing Kota Semaran. diluncurkan pertama kali di Kota Semarang pada bulan September 2023 dengan melepas telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia di Kecamatan Tembalang (Anggraini. Aprianti. Muthoharoh, et al. Berbagai upaya sosialisasi program ini di masyarakat juga telah dilakukan, walau belum mencakup seluruh wilayah (Mayadilanuari et al. , 2. Keberhasilan program WINGKO ini bergantung pada penerimaan dan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat di Kota Semarang. Berdasarkan penelitian sebelumnya terkait penerimaan masyarakat terhadap program Wolbachia di Singapura menunjukkan menunjukkan penerimaan yang baik (Liew et al. , 2. Masyarakat di Australia mendukung program ini setelah mendapatkan informasi yang jelas dan transparan mengenai manfaat serta keamanan teknologi tersebut (Ogunlade et al. , 2. Kemudian partisipasi aktif masyarakat di Brasil juga menjadi faktor kunci keberhasilan program ini (Gesto et al. , 2. Penelitian di Yogyakarta menunjukkan bahwa meskipun ada keterlibatan masyarakat yang luas, hanya sekitar seperempat responden yang mengetahui penerapan program berbasis Wolbachia di wilayah mereka (Rosyad et al. Hal ini menunjukkan bahwa edukasi yang efektif dan keterlibatan masyarakat merupakan komponen penting dalam kesuksesan program Wolbachia. Di sisi lain, mahasiswa sebagai kelompok yang umumnya memiliki tingkat pemahaman lebih tinggi dan akses informasi yang lebih luas, memiliki potensi besar untuk menerima dan memahami inovasi baru seperti program berbasis bioteknologi Wolbachia (Ahyar & Zumrotun, 2. Mahasiswa lebih responsif terhadap intervensi baru yang diterapkan pada masyarakat, sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai tingkat pengetahuan masyarakat terdidik terkait program tersebut. Penelitian terkait tingkat pengetahuan masyarakat di Kota Semarang terhadap Program Wingko khususnya pada mahasiswa hingga kini belum banyak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa Universitas Karangturi Semarang tentang program WINGKO (Wolbachia Ing Kota Semaran. METODE Desain penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang dilakukan di lingkungan kampus Universitas Nasional Karangturi Semarang. Data dikumpulkan pada bulan Agustus 2024. Populasi dan sampel Populasi penelitian adalah mahasiswa Universitas Nasional Karangturi Semarang. Sampel dipilih menggunakan teknik accidental sampling yaitu peneliti memilih responden berdasarkan siapa saja yang mudah dijangkau atau ditemui pada saat penelitian berlangsung, serta bersedia menjadi sampel. Jumlah responden yang dikumpulkan sebanyak 34 mahasiswa. Kriteria inklusi terdiri dari mahasiswa aktif yang berdomisili di Kota Semarang dan bersedia menjadi responden. Sedangkan kriteria eksklusinya adalah mahasiswa alumi atau mahasiswa tidak aktif kuliah dan tidak bersedia menjadi responden. Variabel Penelitian Variabel penelitian dalam studi ini mencakup tiga jenis utama, yaitu tingkat pengetahuan, persepsi terhadap program WINGKO, dan variabel demografis. Variabel tingkat pengetahuan didefinisikan sebagai tingkat pemahaman responden mengenai Wolbachia dan program WINGKO. Pengukuran dilakukan berdasarkan tiga indikator utama: definisi Wolbachia, manfaat program WINGKO, dan risiko yang terkait dengan program tersebut. Responden diberikan skor 1 untuk setiap jawaban yang benar dan skor 0 untuk jawaban yang salah. Berdasarkan jumlah skor, pengetahuan responden dikategorikan sebagai tinggi (Ou3 jawaban bena. atau rendah (<3 jawaban Variabel persepsi terhadap program WINGKO didefinisikan secara operasional sebagai tingkat dukungan responden terhadap program tersebut. Pengukuran dilakukan melalui indikator "setuju" atau "tidak setuju" terhadap manfaat dan implementasi program WINGKO. Responden dikategorikan mendukung jika menjawab "setuju" pada Ou2 pertanyaan, sedangkan responden yang hanya menjawab "setuju" pada 1 pertanyaan dikategorikan sebagai tidak mendukung. Variabel demografis mencakup karakteristik responden yang meliputi usia . ikategorikan menjadi <20 tahun, 20Ae25 tahun. Aerrosa Murenda Mayadilanuari. Silvia Nurvita. Dody Indra Sumantiawan. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 7 . , 2024: 104-110 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. dan >25 tahu. , jenis kelamin . aki-laki atau perempua. , latar belakang pendidikan . urusan yang diambi. , serta pengalaman terkait. Pengalaman ini meliputi riwayat keluarga yang pernah mengalami demam berdarah dengue (DBD) dan apakah responden pernah mendengar informasi tentang Wolbachia. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan langsung kepada responden. Responden memberikan jawaban di bawah supervisi peneliti untuk memastikan kejelasan pertanyaan. Pengumpulan data Instrumen yang digunakan adalah kuesioner yang diadaptasi dari penelitian Rosyad et al. Kuesioner ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan terdiri dari lima pertanyaan tentang pengetahuan program WINGKO, lima pertanyaan tentang pengetahuan terkait nyamuk ber-Wolbachia, dan tiga pertanyaan tentang persepsi program WINGKO. Semua pertanyaan bersifat tertutup, dengan jawaban "benar" atau "salah" untuk pengetahuan, dan "setuju" atau "tidak setuju" untuk persepsi. Penelitian ini mengukur beberapa aspek penting terkait karakteristik demografis, persepsi, dan tingkat pengetahuan mahasiswa Universitas Nasional Karangturi Semarang mengenai Program WINGKO dan teknologi Wolbachia. Karakteristik demografis mencakup jenis kelamin, kelompok umur, alamat asal, jumlah orang yang tinggal serumah, dan pengalaman terkait DBD. Responden juga dikategorikan berdasarkan jumlah anggota keluarga yang tinggal serumah dan pengalaman terkait DBD, baik secara langsung maupun melalui anggota keluarga atau orang lain. Persepsi mahasiswa terhadap Program WINGKO diukur melalui tiga indikator, yaitu tingkat kekhawatiran terhadap program, dukungan terhadap pelaksanaannya, dan kesediaan menerima informasi lebih lanjut. Tingkat pengetahuan mahasiswa terkait program ini juga diukur, meliputi pengetahuan dasar mengenai program WINGKO dan teknologi Wolbachia, sumber informasi yang digunakan, serta pemahaman tentang pelaksanaan program, seperti lokasi pelepasan nyamuk ber-Wolbachia di Kota Semarang. Pengetahuan mahasiswa tentang teknologi Wolbachia ditinjau lebih lanjut melalui lima indikator utama, yaitu definisi Wolbachia sebagai bakteri, kemampuan Wolbachia untuk diturunkan melalui telur nyamuk, potensi penularan bakteri Wolbachia kepada manusia, efektivitas teknologi ini dalam menurunkan kasus DBD, dan dampaknya terhadap kesehatan manusia. Instrumen penelitian ini telah diuji validitas dan reliabilitasnya dalam penelitian Rosyad et al. Analisis Data Analisis dilakukan menggunakan software SPSS (SPSS Inc. Chicago. USA) versi 26. Metode analisis meliputi distribusi frekuensi dan persentase untuk karakteristik demografis responden, penghitungan persentase dan distribusi tingkat pengetahuan serta analisis dukungan terhadap program WINGKO. Etika Penelitian Prosedur informed consent dilakukan dengan cara memberikan penjelasan tertulis dan lisan kepada responden terkait tujuan, manfaat, dan prosedur penelitian. Kemudian responden diminta menandatangani formulir Data responden dijaga kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk tujuan penelitian. HASIL Tabel 1. Karakteristik responden Karakteristik Jenis kelamin Laki Ae laki Perempuan Kelompok umur . 18 Ae 19 20 Ae 21 22 Ae 23 Alamat asal Kota Semarang Luar Kota Semarang Jumlah orang yang tinggal dalam 1 rumah 1-4 orang > 5 orang Tabel 1 menunjukkan karakteristik responden yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini sebanyak 34 mahasiswa aktif di Universitas Nasional Karangturi Semarang. Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan . ,82%) dengan kelompok umur terbanyak adalah kelompok umur 18-19 . ,06%). Sebagian besar responden menyatakan tidak pernah menderita DBD/ tidak ada anggota keluarga yang tinggal serumah pernah menderita DBD . ,1%). Namun, sebanyak 26,4% responden menyatakan diri sendiri/ anggota keluarga yang tinggal serumah pernah menderita DBD (Tabel . Sebanyak 70,59% responden memiliki tingkat pengetahuan rendah terkiat Wolbachia dan 61,76% juga memiliki tingkat pengetahuan rendah terkait program WINGKO (Tabel Tabel 3 menunjukkan tingkat pengetahuan mahasiswa terkait teknologi Wolbachia masih bervariasi. Sebagian besar responden keliru mengidentifikasi Wolbachia sebagai bakteri . ,71%), dan hanya 35,29% responden yang memahami dengan benar bahwa Wolbachia adalah bakteri. Sebanyak 50% responden Aerrosa Murenda Mayadilanuari. Silvia Nurvita. Dody Indra Sumantiawan. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 7 . , 2024: 104-110 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. mengetahui bahwa Wolbachia dapat diturunkan melalui telur nyamuk Aedes aegypti, sementara separuh lainnya masih salah memahami mekanisme ini. Tabel 2. Paparan penyakit DBD dan pengetahuan tentang program WINGKO Paparan penyakit DBD Pengalaman pernah sakit DBD Tidak pernah menderita DBD/tidak ada anggota keluarga yang tinggal serumah pernah menderita DBD Mengenal orang lain / teman yang pernah menderita DBD Diri sendiri / anggota keluarga yang tinggal serumah pernah menderita DBD Tingkat pengetahuan terkait Wolbachia Rendah Tinggi Tingkat pengetahuan terkait program WINGKO Rendah Tinggi Tabel 3. Tingkat pengetahuan mahasiswa terkait Wolbachia Pengetahuan Wolbachia adalah bakteri Salah Benar Wolbachia dapat diturunkan ke generasi nyamuk Aedes aegypti berikutnya melalui telur nyamuk. Salah Benar Nyamuk Aedes aegypti yang sudah terinfeksi Wolbachia dapat menularkan Wolbachia kepada manusia Salah Benar Wolbachia pada nyamuk Aedes aegypti dapat mengurangi kasus penyakit DBD Salah Benar Nyamuk Wolbachia tidak mengganggu kesehatan manusia Salah Benar Sebagian besar mahasiswa memiliki pemahaman yang benar bahwa nyamuk yang terinfeksi Wolbachia tidak menularkan bakteri ini kepada manusia . ,59%). Lebih dari separuh responden memahami bahwa Wolbachia mampu mengurangi kasus demam berdarah dengan menekan populasi nyamuk Aedes aegypti . ,76%). Namun, terdapat 38,24% responden masih belum mengetahui Wolbachia mampu mengurangi kasus demam berdarah dengan menekan populasi nyamuk Aedes aegyptiMeskipun mayoritas mahasiswa . ,82%) tahu bahwa nyamuk ber-Wolbachia tidak membahayakan kesehatan manusia, masih ada 41,18% yang memiliki kekhawatiran tentang keberadaan Wolbachia di lingkungan masyarakat (Tabel . Tabel 4 menunjukkan mayoritas mahasiswa khawatir terhadap program WINGKO dan mereka masih ragu untuk mendukung pelaksanaan program WINGKO . ,53%). Meskipun demikian, semua responden bersedia menerima informasi lebih lanjut terkait program tersebut . %). Sebanyak 64,71% mahasiswa sudah mengetahui program WINGKO. Sumber informasi utama tentang program WINGKO berasal dari media sosial . ,66%). Sebanyak 52,94% mahasiswa telah mengetahui apa itu teknologi Wolbachia, namun hanya 41,18% yang menyadari bahwa nyamuk ber-Wolbachia sudah dilepas di Kota Semarang. PEMBAHASAN Tingkat pengetahuan mahasiswa di Universitas Nasional karangturi Semarang terkait teknologi Wolbachia dalam pencegahan demam berdarah masih rendah, terutama karena program ini masih baru diterapkan di Indonesia. Sebagai program yang relatif baru, keterbatasan informasi dan sosialisasi di berbagai wilayah berkontribusi terhadap rendahnya pemahaman masyarakat mengenai manfaat dan mekanisme kerja bakteri Wolbachia dalam menekan populasi nyamuk Aedes aegypti (Taolin et al. , 2. Khususnya bagi responden yang berasal dari luar Kota Semarang, mereka mungkin belum memperoleh informasi yang mendalam mengenai implementasi program Wolbachia ini. Hal ini mencerminkan perlunya strategi sosialisasi yang lebih luas dan menyeluruh agar seluruh lapisan masyarakat, baik di dalam maupun di luar kota, memahami konsep dan tujuan dari program ini. Studi ini juga mendukung temuan sebelumnya di Yogyakarta yang menunjukkan bahwa meskipun Aerrosa Murenda Mayadilanuari. Silvia Nurvita. Dody Indra Sumantiawan. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 7 . , 2024: 104-110 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. ada keterlibatan masyarakat yang luas, hanya sekitar seperempat responden yang mengetahui penerapan program berbasis Wolbachia di wilayah mereka (Rosyad et al. , 2. Tabel 4. Persepsi dan tingkat pengetahuan mahasiswa terkait program WINGKO Pertanyaan Persepsi mahasiswa terkait program WINGKO Apakah Anda memiliki kekhawatiran terhadap program WINGKO? Tidak Ragu-ragu Apakah Anda mendukung program WINGKO? Tidak Ragu-ragu Apakah Anda bersedia menerima informasi lebih lanjut mengenai program WINGKO? Tidak Ragu-ragu Tingkat Pengetahuan Terkait Program WINGKO Apakah Anda mengetahui program WINGKO? Tahu Tidak tahu Darimana Anda mengetahui program WINGKO? Perkuliahan/sosialisasi di kampus Sosialisasi dari puskesmas/tenaga kesehatan Media sosial (Instagram. Facebook. X) Poster/Baliho/Leaflet Tidak tahu Apakah anda mengetahui/mendengar informasi terkait Wolbachia yang disuntikkan ke dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti? Tahu Tidak tahu Apakah Anda mengetahui bahwa nyamuk Aedes aegypti berWolbachia sudah dilepas di Kota Semarang? Tahu Tidak tahu Apakah Anda mengetahui kecamatan mana saja nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia sudah dilepas di Kota Semarang? Tahu Tidak tahu Faktor ketidaksetujuan terhadap suatu program baru disebabkan oleh kurangnya pemahaman terkait keamanan Wolbachia atau kekhawatiran terkait dampaknya terhadap kesehatan manusia (Siagian, 2. Sejalan dengan studi di Vietnam, kekhawatiran serupa juga muncul terkait keamanan nyamuk yang terinfeksi Wolbachia dan potensi penularan bakteri ini kepada manusia (Huynh et al. , 2. Studi di Yogyakarta menemukan bahwa hanya sekitar seperempat responden yang mengetahui penerapan program berbasis Wolbachia di wilayah mereka, meskipun proses keterlibatan masyarakat yang luas telah dilakukan untuk memberi tahu masyarakat umum dan pemangku kepentingan masyarakat sebelum pelepasan nyamuk Ae. aegypti yang terinfeksi Wolbachia, yang dilakukan dua tahun sebelum studi ini (Rosyad et al. , 2. Pada studi ini ditemukan sebanyak 73,53% dari responden menyatakan kekhawatiran terhadap program WINGKO. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya di Vietnam yang menunjukkan kekhawatiran tentang keamanan metode ini, termasuk risiko digigit nyamuk ber-Wolbachia, kemungkinan penularan bakteri ke manusia, dan potensi penyebaran penyakit lain (McNaughton & Duong, 2. Meskipun ada kekhawatiran tersebut, di beberapa wilayah seperti Yogyakarta, tingkat gangguan yang dirasakan masyarakat relatif rendah dibandingkan wilayah lain seperti di Vietnam (McNaughton & Duong, 2. , di mana pelepasan nyamuk dilakukan dalam bentuk Di Yogyakarta, pelepasan nyamuk ber-Wolbachia dilakukan dengan meletakkan ember yang berisi telur yang kemudian menetas sehingga mengurangi persepsi gangguan banyaknya nyamuk di lingkungan masyarakat (Rosyad et al. , 2. Pelepasan nyamuk ber-Wolbachia diperkenalkan sebagai metode tambahan untuk mencegah demam berdarah, dan penduduk Yogyakarta didorong untuk terus melakukan kegiatan pencegahan Aerrosa Murenda Mayadilanuari. Silvia Nurvita. Dody Indra Sumantiawan. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 7 . , 2024: 104-110 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. demam berdarah yang sudah ada (Anders et al. , 2. Konsisten dengan maksud ini, penelitian kami menemukan bahwa meskipun Aedes aegypti ber-Wolbachia telah dilepaskan, hanya beberapa responden yang mengetahui program pengendalian melaporkan perubahan rutinitas pencegahan demam berdarah, sebagian besar melakukan perubahan dengan meningkatkan kebersihan rumah dan lingkungan. Media sosial memainkan peran penting sebagai sumber utama informasi terkait program Wolbachia di Semarang. 27,66% dari mahasiswa mendapatkan informasi program ini melalui platform media sosial seperti Instagram. Facebook, atau X menunjukkan bahwa media sosial menjadi alat efektif untuk menyebarkan informasi terkait program kesehatan publik di era digital (Thoriq et al. , 2. Namun, studi ini juga menunjukkan bahwa masih sedikit masyarakat yang mengetahui bahwa Wolbachia adalah bakteri. Kebanyakan orang mungkin keliru menganggap Wolbachia sebagai virus atau organisme lain, sehingga pemahaman yang lebih jelas perlu disampaikan melalui sosialisasi yang lebih fokus pada aspek sains dan teknologi yang mendasari program ini. IMPLIKASI DAN KETERBATASAN Hasil penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan ilmu dan praktik keperawatan, khususnya dalam penanganan penyakit tropis seperti demam berdarah dengue (DBD). Temuan ini menunjukkan pentingnya peningkatan pengetahuan masyarakat, khususnya mahasiswa, mengenai teknologi Wolbachia dan Program WINGKO. Oleh karena itu, tenaga kesehatan, termasuk perawat, dapat berperan penting dalam mengedukasi masyarakat dengan pendekatan yang lebih efektif dan berbasis bukti. Media sosial dapat dimanfaatkan sebagai saluran komunikasi yang efektif dalam menyebarkan informasi kesehatan, karena mayoritas responden menggunakan platform ini sebagai sumber utama informasi. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yaitu jumlah sampel yang terbatas dan penggunaan teknik pengambilan sampel accidental sampling dapat memengaruhi validitas temuan dan representasi hasil penelitian. Selain itu, penelitian ini tidak mencakup wilayah pilot project program WINGKO, yang dapat membuat temuan ini kurang mencerminkan kondisi di lokasi tersebut. Program WINGKO masih berada pada tahap awal pelaksanaan, sehingga tingkat sosialisasi yang terbatas dapat memengaruhi pemahaman masyarakat secara keseluruhan. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut dengan cakupan yang lebih luas dan metode yang lebih representatif diperlukan untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai efektivitas program ini. KESIMPULAN Responden yang mengetahui pelaksanaan program Wolbachia masih rendah setelah satu tahun Tingginya jumlah mahasiswa yang menyatakan kekhawatiran tentang kemungkinan dampak buruk dari pelepasan nyamuk ber-Wolbachia, terutama di antara mereka yang kurang memiliki kesadaran dan/atau pengetahuan tentang program ini, menyiratkan bahwa perlu adanya upaya untuk meningkatkan penyebaran informasi tentang nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia di Kota Semarang. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kepada mahasiswa di Universitas Nasional Karangturi Semarang yang bersedia menjadi responden dalam penelitian ini. REFERENSI