P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. Representasi Kepemimpinan Transformasional Perempuan dalam Film AuBila Esok Ibu TiadaAy . : Pemaknaan Peran Ibu sebagai Pemimpn Keluarga Vannesya Chandika Maharani, 2Amara Bilqis kinanti, 3Erindah Dimisyqiyani, 4Amaliyah. Gagas Gayuh Aji, 6Rizky Amaliya Sinulingga Manajemen Perkantoran Digital. Universitas Airlangga. Surabaya E-mail: 1vannesya. maharani-2023@vokasi. id, 2amara. kinanti2023@vokasi. id, 3erindahdimisyqiyani@vokasi. amaliyah@vokasi. id, 5rizkyamalia@vokasi. aji@vokasi. ABSTRAK Kepemimpinan transformasional biasanya dibicarakan dalam lingkungan organisasi dan dianggap mampu meningkatkan hasil kerja serta semangat para anggotanya. Meskipun begitu, penelitian tentang kepemimpinan transformasional dalam keluarga masih belum banyak, padahal keluarga adalah unit sosial yang paling kecil namun sangat penting dalam membentuk kepribadian dan nilai moral seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana nilai kepemimpinan transformasional terlihat dalam film Bila Esok Ibu Tiada . melalui sosok Ibu Rahmi, yang berperan sebagai ibu dan sekaligus pemimpin keluarga. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan naratif, dengan menganalisis adegan dan dialog dalam film yang menunjukkan empat dimensi kepemimpinan transformasional, yaitu pengaruh ideal, motivasi inspiratif, stimulasi intelektual, serta pertimbangan individual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibu Rahmi mampu mempertahankan keharmonisan keluarga dengan penuh empati, menjadi contoh moral yang baik, serta mendorong anak-anak untuk berpikir lebih jernih. Namun, tindakannya menyembunyikan penyakit anak juga menunjukkan adanya dilema antara perlindungan dan transparansi, sehingga kepemimpinan dalam keluarga tidak selalu sempurna. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa film bisa menjadi alat pembelajaran tentang kepemimpinan yang penuh nilai moral, serta memberikan ruang untuk mempertimbangkan peran ganda perempuan sebagai ibu sekaligus pemimpin keluarga. Kata kunci : Transformational Leadership. Peran Ibu. Representasi Perempuan. ABSTRACT Transformational leadership is commonly discussed in organizational settings and is considered capable of improving work performance and the morale of its members. However, research on transformational leadership within the family is still limited, even though the family is the smallest social unit but is very important in shaping a person's personality and moral values. This study aims to analyze how transformational leadership values are seen in the film Bila Esok Ibu Tiada . through the character of Ibu Rahmi, who plays the role of both mother and family leader. The method used is a descriptive qualitative method with a narrative approach, by analyzing scenes and dialogue in the film that demonstrate four dimensions of transformational leadership: idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, and individual consideration. The results show that Ibu Rahmi is able to maintain family harmony with empathy, serves as a good moral example, and encourages children to think more clearly. However, her actions in concealing her child's illness also demonstrate the dilemma between protection and transparency, so that family leadership is not always perfect. Thus, this study shows that film can be a learning tool about leadership full of moral values, and provides space to consider the dual role of women as mothers and family leaders. Keyword : Transformational Leadership. Mother's Role. Women's Representation. Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. PENDAHULUAN Pemimpin adalah seseorang yang memiliki peran untuk memimpin anggota atau kelompok, baik melalui pemilihan, keturunan, atau cara lainnya. Seorang pemimpin bisa membawa pengaruh, memberi semangat, mengajak, menuntun, memaksa orang atau kelompok agar terpengaruh, sehingga mereka bisa membantu mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah organisasi atau Menurut Asmarazisa kepemimpinan akan berjalan baik jika pemimpin dan karyawan saling bekerja Untuk mencapai hal itu, mereka harus memiliki kesepakatan yang sama dan menerapkan mekanisme serta strategi yang diperlukan agar bisa mencapai tujuan yang sudah ditentukan. Kepemimpinan kemampuan seseorang untuk bersiap dan mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun, menggerakkan, mengarahkan, bahkan memaksa seseorang atau kelompok agar menerima pengaruhnya, sehingga dapat tercapai sesuatu yang membantu mencapai tujuan yang telah ditentukan (Hade Afriansyah 2. Dalam sebuah kelompok, terdapat beberapa orang yang ingin mencapai tujuan yang sama. Secara umum, di dalam kelompok tersebut terdapat seseorang yang menjadi pemimpin atau yang mampu mempengaruhi orang lain (Andika Miftah Fauzi & Dede Lilis Chaerowati, 2. Pemimpin dalam sebuah organisasi memiliki peran yang sangat penting, yaitu untuk membimbing dan mempengaruhi anggotanya. Jika tidak ada orang yang mengatur dan memberikan arah, maka organisasi Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 tersebut tidak akan mampu mencapai tujuannya sesuai dengan visi dan misinya. Seorang pemimpin dibutuhkan untuk mengatur dan mengelola organisasi agar tujuan tercapai. Ia harus memiliki sikap positif, percaya diri, visi, misi, nilai etika, serta mampu menyampaikan ide, mendorong orang Kepemimpinan menjadi faktor penting keberhasilan organisasi karena berperan sebagai pusat perubahan, memiliki pengaruh besar, serta menciptakan keselarasan dalam organisasi (Latifah, 2. Kepemimpinan perempuan memiliki legitimasi kuat secara teologis, filosofis, maupun hukum (Anshor, 2. Berbagai regulasi, seperti Deklarasi HAM PBB. Konvensi Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan (UU No. 7 Tahun 1. Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, dan UU No. 39 Tahun 1999, menegaskan hak perempuan untuk bebas dari diskriminasi serta terlibat dalam lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Selain itu. Inpres No. 9 Tahun pembangunan memperhatikan perspektif gender (Anshor, 2. Peran perempuan sangat penting dalam keluarga, namun sering kali mereka menghadapi beban ganda yang dianggap kewajiban, bukan pilihan (Arif, 2. Meski banyak perempuan bekerja di luar rumah, anggapan tradisional bahwa tugas mereka hanya di ranah domestik masih membatasi peran dan menimbulkan ketidakadilan gender (Harun AR, 2. Kajian akademik tentang representasi perempuan dalam film keluarga Indonesia masih terbatas, sehingga analisis film Bila Esok Ibu Tiada menjadi relevan untuk mengisi kekosongan tersebut. Peran ganda perempuan mulai diperbincangkan sejak awal abad ke-20, ketika politik etis Belanda membuka kesempatan bagi perempuan masuk ke ruang publik (Arif, 2. Saat itu P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. perempuan dipandang memiliki dua peran, yakni pekerja dan ibu rumah tangga, namun kebijakan tersebut mendorong mereka menjadi mitra lakilaki serta memperjuangkan hak yang Film "Bila Esok Ibu Tiada" . transformasional perempuan melalui karakter seorang ibu yang tidak hanya menjalankan tugas sebagai pengasuh, tetapi juga sebagai pemimpin dalam Ini sejalan dengan SDG 5 (Gender Equalit. yang menyoroti pentingnya menghapus diskriminasi terhadap perempuan dan mengakui sepenuhnya kontribusinya di ruang publik dan domestik. Penjabaran tentang peran menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak hanya dipegang oleh laki-laki, namun juga dapat dilakukan oleh perempuan secara efektif dengan pendekatan yang mampu menumbuhkan nilai, harapan, dan semangat bagi setiap anggota keluarga. Selain itu, gagasan tersebut juga bersinggungan dengan SDG 16 (Peace. Justice and Strong Institution. , terutama dalam hal keadilan dan penguatan hak perempuan untuk berpartisipasi secara Dengan memperlihatkan sosok ibu sebagai pemimpin, film ini memperlihatkan bagaimana keadilan gender dan inklusi bisa dimulai dari lingkup paling kecil, yakni keluarga, yang pada akhirnya akan memperkuat lembaga sosial yang lebih besar. Dalam film "Bila Esok Ibu Tiada" yang disutradarai oleh Rudy Soejardwo, terdapat cerita tentang sebuah keluarga yang harus menghadapi kepergian seorang ibu. Ibu dalam cerita ini menjadi tokoh utama yang menjaga keharmonisan Film ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Nagiga Nur Ayati, yang dikenal dengan nama Nuy Nagiga. Cerita ini mengisahkan kehidupan seharihari secara realistis, sekaligus mengajak penonton untuk memikirkan peran penting seorang ibu dalam kehidupan Kehilangan sosok ibu mengguncang struktur emosional keluarga sekaligus mengajarkan nilai cinta, relasi, dan Dalam konteks pastoral keluarga, hal ini menunjukkan pentingnya iman, dukungan komunitas, dan konseling rohani untuk memulihkan relasi yang retak. Dalam budaya Indonesia, peran ibu sangat sentral dalam pengasuhan serta stabilitas kehilangannya menjadi tantangan besar bagi keluarga (Burhan et al. , n. LANDASAN TEORI Pengertian Manajemen Manajemen adalah cara untuk merencanakan, mengatur, memandu, dan mengawasi berbagai kegiatan agar tujuan organisasi tercapai dengan baik dan hemat, dengan memanfaatkan sumber daya yang ada (Jannah & Mufidah, 2. Menurut Nizamuddin et al. , . mewujudkan tujuan atau keinginan yang dicari oleh sebuah organisasi, seperti organisasi bisnis, sosial, pemerintah, dan lain sebagainya. Fungsi Manajemen Manajemen memiliki empat fungsi utama yang saling berkaitan. Pertama, perencanaan yaitu proses menentukan tujuan organisasi serta strategi untuk mencapainya melalui analisis kondisi, identifikasi peluang maupun ancaman, dan penyusunan rencana tindakan (Robbins & Coulter, 2. Kedua, pengorganisasian yang berfokus pada pengaturan dan alokasi sumber daya seperti manusia, keuangan, teknologi, serta informasi, sehingga terbentuk struktur organisasi dan pembagian kerja yang jelas untuk mencapai tujuan bersama (Daft, 2. Ketiga, penggerakan yang mencakup motivasi, arahan, serta Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. bimbingan kepada individu dalam organisasi agar dapat bekerja dengan semangat, memiliki tujuan yang sama, dan menghasilkan kinerja optimal (Luthans, 2. Keempat, pengendalian yaitu pemantauan kinerja organisasi dengan membandingkannya terhadap target yang telah ditetapkan, serta mengambil tindakan korektif bila diperlukan agar jalannya organisasi tetap sesuai rencana dan meminimalkan risiko. Kepemimpinan Kata kepemimpinan atau pemimpin sering muncul dalam kehidupan seharihari, yang berarti menggambarkan mengarahkan orang lain, baik individu maupun kelompok, agar bisa mencapai tujuan yang sama. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kepemimpinan adalah hal yang berhubungan dengan pemimpin atau cara seseorang memimpin. Kata ini berasal dari kata "pimpin" yang berarti mengarahkan, membina, atau memberi Kepemimpinan juga bisa diartikan sebagai suatu proses atau sifat yang dimiliki oleh seseorang yang memiliki peran sebagai pemimpin. Menurut Komariah kepemimpinan memiliki nilai yang sama Selain itu, kepemimpinan juga merupakan hal yang sangat penting dalam menentukan apakah sebuah organisasi berhasil atau tidak, karena kepemimpinan berkaitan erat dengan cara seorang pemimpin mempengaruhi para pegawainya, sehingga para pegawai bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan organisasi. Gaya Kepemimpinan Transformasional Gaya kepemimpinan yang mendorong pengikut Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 untuk berbuat lebih dari yang mereka kira Caranya rangsangan berpikir, serta memperhatikan kebutuhan masing-masing orang. Hal ini membantu mengubah ide-ide besar menjadi tindakan nyata, sehingga tujuan organisasi bisa tercapai dengan baik. Menurut Ordway Tead dalam The Art Leadership (Shalahuddin, kepemimpinan transformasional adalah cara mempengaruhi orang agar bekerja sama mencapai tujuan. Pemimpin transformasional mendorong bawahan menyadari pentingnya hasil kerja, menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi, serta meningkatkan motivasi (Bass, 2001. Aprilinda & Aslamawati, 2. Suarga . menekankan bahwa gaya ini membuat bawahan merasa dihargai, dipercaya, dan Konsep kepemimpinan transformasional pertama kali diperkenalkan oleh James McGregor Burns, lalu dikembangkan oleh Bernard Bass yang mendefinisikannya sebagai kepemimpinan yang mampu mengubah nilai bawahan, membangun kepercayaan, serta menghasilkan kinerja di luar harapan. Penjelasan di atas bisa disimpulkan transformasional harus mampu mengubah sumber daya organisasi secara maksimal agar mencapai tujuan yang bermakna sesuai dengan target yang sudah Contohnya seperti sumber daya manusia, peralatan, dana, dan faktor di luar organisasi. Dalam hal indikatornya, memberikan pengaruh positif, memberi contoh yang baik, mendorong hasil kerja bawahan, menciptakan suasana kerja yang nyaman, memberdayakan bawahan, menjaga nilai-nilai organisasi, serta meningkatkan kemampuan diri dan mampu menghadapi situasi yang rumit. METODOLOGI Penelitian metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan naratif. Penelitian P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. kualitatif adalah jenis penelitian yang mengolah data secara deskriptif. Objek dalam penelitian ini adalah film Bila Esok Ibu Tiada . yang disutradarai oleh Rudi Soedjarwo dan diproduksi oleh Leo Pictures. Penelitian ini difokuskan untuk mengeksplorasi secara dalam bagaimana kepemimpinan transformasional melalui tokoh Ibu Rahmi. Data dikumpulkan dengan cara menonton ulang film, mengamati adegan, percakapan, dan simbol-simbol yang muncul, serta menganalisis teori-teori yang relevan terkait film Bila Esok Ibu Tiada . untuk memahami gaya kepemimpinan transformasional yang terdapat di mengamati adegan, dialog, ekspresi, dan simbol visual dari tokoh Ibu Rahmi. Data Sekunder Data yang dikumpulkan oleh peneliti berasal dari berbagai sumber yang sudah ada. Sumber tersebut meliputi ulasan film, artikel kritis, dan buku teori tentang kepemimpinan serta nilai moral dalam konteks film. Misalnya, penekanan pada pentingnya menjaga hubungan keluarga dalam film ini serta penelitian sebelumnya yang menggunakan metode kualitatif dan analisis naratif dalam kajian film serupa. Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian metode penelitian kualitatif deskriptif dan pendekatan naratif. Penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang bertujuan memahami fenomena yang terjadi dalam kehidupan manusia atau masyarakat, dengan menggambarkan kondisi yang lengkap dan kompleks menggunakan kata-kata (Walidin et al. , 2. Menurut Creswell . , pendekatan naratif adalah metode penelitian yang fokus pada informasi tentang kehidupan seseorang, yang diberikan oleh peneliti dengan menceritakan kembali secara terurut dalam bentuk cerita. Sumber Data Sumber data yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Data Primer Data yang dikumpulkan langsung oleh peneliti dari sumbernya sendiri. Data primer juga disebut sebagai data asli atau data baru yang memiliki informasi yang paling baru dan terkini. Untuk mendapatkan data primer, peneliti melakukan pemutaran film berulangulang (Bila Esok Ibu Tiada 2. untuk Untuk memastikan keabsahan temuan, diterapkan teknik triangulasi data, yaitu dengan membandingkan hasil analisis film dengan interpretasi dari sumber lain seperti artikel, kritik film, dan teori kepemimpinan. Temuan penelitian lalu disajikan dalam format naratif analisis yang menggabungkan hasil observasi film transformasional secara menyeluruh. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 HASIL Film Bila Esok Ibu Tiada transformasional melalui tokoh Ibu Rahmi sebagai pusat dinamika keluarga. menunjukkan keteladanan, motivasi, stimulasi intelektual, dan perhatian individu dalam membimbing anakanaknya. Perannya menegaskan bahwa kepemimpinan transformasional tidak hanya berlaku di organisasi formal, tetapi juga dalam keluarga. Idealized Influence Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. Gambar 01. Adegan Ibu Rahmi tetap tegar meski sakit . enit 62:. Ibu Rahmi: AuMaafkan Ibu ya nakAy Dalam adegan ketika Ibu Rahmi pergi ke Pekalongan tanpa memberitahu anak-anaknya dan juga menyembunyikan penyakit yang sedang ia alami, lalu saat kembali ke rumah hanya berkata. AuMaafin Ibu ya nakAy tanpa menjelaskan apa-apa, hal itu menunjukkan Idealized Influence dalam kepemimpinan transformasional. Ibu memilih menghadapi penderitaan sendirian, karena ia tak ingin anakanaknya terbebani secara emosional karena kondisi yang ia alami. Kebaikan hatinya dalam meminta maaf, meskipun ia adalah seorang ibu, menunjukkan bahwa ia memiliki integritas dan tanggung jawab yang sangat tinggi. Dari sikap tersebut, anak-anak belajar bahwa seorang pemimpin sejati bukan hanya yang terlihat kuat di depan orang lain, tetapi juga yang berani mengakui kelemahan diri sendiri, jujur terhadap perasaan, dan tetap menjaga ketenangan hati orang yang Keteladanan memperkuat rasa hormat dan kepercayaan anak-anak terhadap Ibu, karena mereka melihat bahwa kepemimpinan yang benar-benar baik berasal dari kejujuran dan keberanian untuk menempatkan kepentingan orang lain lebih dahulu dibandingkan kepentingan diri sendiri. P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 Rania: Auayo sini buk, lupain buk, mending kita makan, aku juga belum beliin kado lhoo buat ibu. Ay Di sebuah adegan ketika anak-anak sedang bertengkar dan saat itu sedang berkumpul dalam rangka merayakan ulang tahun ibu. Ibu Rahmi dengan sabar membersihkan suasana agar mereka tidak Tindakan menunjukkan inspirational motivation transformasional, karena Ibu tidak hanya menghentikan perkelahian, tetapi juga memberi pesan bahwa kerukunan keluarga lebih berharga daripada pertengkaran kecil. Dengan sikapnya yang lembut. Ibu berhasil mengubah suasana yang sedang tegang menjadi lebih rileks, nilai-nilai kebersamaan dan saling menghormati. Dengan cara ini. Ibu menunjukkan bahwa seorang pemimpin tidak hanya memberi menginspirasi para pengikutnya untuk lebih bijak, mengendalikan ego pribadi, dan fokus pada tujuan yang lebih besar, yaitu menjaga keharmonisan keluarga. Intellectual Stimulation Inspirational Motivation Gambar 03. Adegan Ibu Rahmi berdiskusi dengan saudara untuk pergi ke Pekalongan . Gambar 02. Adegan Ibu Rahmi menenangkan keluarga yang sedang dilanda konflik . Ibu Rahmi: Au. karena aku selalu berusaha terlihat kuat didepan anakanakAAy Tante Esti: Au. dah mbak, udah mbak, yaudah iyaa. Ibu Rahmi: AuSayang, inikan ulang tahun ibu ya nak ya!, kita baru mau makan bareng, baru berkumpulAAy Dalam film Bila Esok Ibu Tiada, adegan Ibu Rahmi yang memutuskan Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. untuk tetap pergi ke Pekalongan meskipun sedang sakit dan tidak memberitahu anakanaknya Intellectual Stimulation Keputusan Ibu Rahmi ini tidak melibatkan pembicaraan langsung dengan anak-anak, namun secara tidak langsung mendorong mereka untuk berpikir lebih dewasa, kritis, dan mulai mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang sulit. Dengan sikapnya yang tegar dan tidak ingin merepotkan orang lain. Ibu Rahmi memberi pesan bahwa hidup tidak selalu bisa dijalani hanya bergantung pada siapapun, melainkan harus belajar mandiri dan berani mengambil tanggung jawab. Situasi ini menjadi pelajaran bagi anakanaknya bahwa seorang pemimpin sejati tidak hanya memberi petunjuk, tetapi juga mampu membentuk cara berpikir baru melalui contoh sikap dan keputusan yang ia ambil. Individualized Consideration Dalam film Bila Esok Ibu Tiada, bentuk Individualized Consideration terlihat ketika Ibu Rahmi memperlakukan anak-anaknya dengan perhatian yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Ia tidak menganggap semua anak sama, melainkan memahami kondisi setiap anak dengan cara yang berbeda. Misalnya, ia tersinggung saat bertengkar, menasihati anak yang suka membangkang, dan memberi dukungan pada anak yang sering merasa rendah diri. Ini bisa dilihat pada adegan di ruang makan ketika anakanaknya bertengkar di hari ulang Alih-alih marah. Ibu Rahmi justru menenangkan mereka dengan Sikap ini menunjukkan bahwa Ibu Rahmi tidak hanya menjadi ibu, tetapi juga seorang pemimpin yang peduli pada pertumbuhan setiap anggota keluarganya. Dengan memberikan perhatian yang spesifik, anak-anak merasa dihargai dan dipahami, sehingga ikatan emosional antara mereka menjadi lebih kuat. Tindakan Ibu Rahmi menunjukkan bahwa seorang pemimpin transformasional tidak hanya memikirkan tujuan besar seperti menjaga keharmonisan keluarga, tetapi juga memberikan dukungan individu agar setiap anggota bisa berkembang sesuai PEMBAHASAN Kajian tentang kepemimpinan transformasional perempuan dalam media film dapat dilihat dari representasi tokoh Ibu Rahmi dalam film Bila Esok Ibu Tiada . Sebagai seorang ibu dan pemimpin keluarga, peran Ibu Rahmi menunjukkan bagaimana keempat aspek utama kepemimpinan transformasional pengaruh ideal, motivasi inspiratif, stimulasi intelektual, serta perhatian terhadap individu berlangsung dalam rutinitas kehidupan rumah tangga seharihari. Melalui adegan-adegan yang ditampilkan, film ini memaknai peran ibu bukan sekadar pengasuh, tetapi juga sebagai pemimpin yang mampu menjadi teladan, pemberi inspirasi, penggerak pemikiran, dan penopang emosional anakanaknya. Idealized Influence Dalam adegan dimana Bu Rahmi tetap kuat menghadapi penyakitnya dan memutuskan tidak memberi tahu anakanaknya agar mereka tidak merasa takut, terlihat jelas aspek idealized influence dari kepemimpinan transformasional. Sikapnya menunjukkan bahwa ia rela mengorbankan diri sendiri demi menjaga ketenangan hati keluarganya. Contoh yang ia berikan bukan hanya tentang kesabaran dalam menghadapi penderitaan, tetapi juga keberanian untuk menyembunyikan rasa sakitnya agar anak-anak tetap merasa aman. Kekuatan hati seperti ini membuat anak-anaknya menjadikannya sebagai contoh yang diikuti dan sumber inspirasi. Auladina & AsyAoari . menjelaskan bahwa pemimpin perempuan dengan gaya Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. transformasional umumnya menekankan teladan moral, integritas, dan kekuatan karakter, sehingga dihormati dan diikuti oleh orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian, meskipun dalam lingkungan keluarga. Bu Rahmi mampu membangun kekuatan moral yang kuat, yang secara ketangguhan dan keikhlasan pada anakanaknya. Inspirational Motivation Adegan saat Bu Rahmi Adegan Bu Rahmi menenangkan anak-anak yang bertengkar di hari ulang tahunnya Inspirational Motivation. Alih-alih marah, ia memberi semangat dengan kata-kata bermakna agar anak-anak rukun dan menghargai Sikap ini menunjukkan pengikutnya untuk melihat konflik sebagai peluang menuju tujuan bersama. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Syarifah. Arifin, & Wulandari . bahwa kepemimpinan transformasional motivasi lembut namun menginspirasi untuk menumbuhkan optimisme dan rasa Intellectual Stimulation Pada saat Bu Rahmi melihat konflik antara anak-anaknya saat makan di meja. Di tengah situasi yang penuh perasaan, ia tidak langsung marah atau menegur secara kasar, melainkan bersikap tenang dan memberi ruang bagi anak-anak untuk merenungkan tindakannya sendiri. mendorong anak-anak untuk melihat permasalahan tidak hanya dari segi perasaan, tapi juga dari sudut pandang yang lebih bijak. Dengan cara ini. Bu Rahmi mengajarkan bahwa pertengkaran bisa menjadi peluang untuk belajar, bukan sekadar ajang melepaskan emosi. Hal ini sesuai dengan pendapat Wati & Agustina mendorong orang lain untuk berpikir Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 kritis, mencari solusi yang kreatif, serta menghadapi masalah secara dewasa. Meskipun tidak selalu berbentuk diskusi langsung, sikap tenang dan terkendali yang ditunjukkan Bu Rahmi telah mendorong anak-anak untuk berpikir lebih matang dan memahami bahwa setiap perbuatan memiliki dampaknya. Dengan demikian, ia berhasil melatih kedewasaan emosional anak-anaknya melalui contoh tindakan nyata. Individualized Consideration Dalam momen anak-anaknya berkelahi. Bu Rahmi menunjukkan sikap penuh empati dengan cara menenangkan setiap anak secara perlahan, bukan menghukum mereka semua sekaligus. Hal ini menunjukkan bagaimana seorang pemimpin memperhatikan kebutuhan masing-masing individu. Ia menyadari bahwa setiap anak memiliki perasaan, pandangan, dan cara berpikir yang berbeda, sehingga perlu pendekatan yang lebih perhatian. Dengan cara yang lembut. Bu Rahmi memberikan rasa aman secara emosional dan menegaskan bahwa setiap anaknya memiliki nilai dan dihargai. Sikap ini sesuai dengan penelitian Saleha . , yang menunjukkan bahwa pemimpin perempuan dalam gaya transformasional biasanya menunjukkan perhatian mendalam terhadap anggota kelompok, bahkan saat situasi sulit. Dengan demikian, kepemimpinan Bu Rahmi tidak hanya mengendalikan situasi, tetapi juga menciptakan kehangatan yang membuat anak-anak merasa dimengerti dan diperhatikan secara emosional. Tindakan ini menunjukkan peran penting seorang ibu sebagai pemimpin yang tidak hanya mengajar, tetapi juga memberikan bimbingan dengan penuh kasih sayang. Dari keempat aspek yang sudah dibahas, terlihat bahwa Bu Rahmi dalam film Bila Esok Ibu Tiada tidak mampu transformasional seorang wanita dalam P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. Ia memberikan contoh moral menyebarluaskan semangat kerja sama dengan motivasi yang membawa semangat, mendorong anak-anak untuk berpikir lebih matang serta lebih dewasa secara emosional melalui penyampaian informasi yang menginspirasi, serta menunjukkan rasa empati yang dalam melalui perhatian yang diberikan kepada Kombinasi keempat aspek ini tidak hanya memperkuat hubungan emosional antar anggota keluarga, tetapi juga membantu keluarga menjadi lebih kuat dan siap menghadapi kehilangan, keterbatasan, dan konflik yang terjadi di Dengan kepemimpinan penuh kasih sayang. Bu Rahmi berhasil menjadi sosok sentral yang menjaga keharmonisan keluarga meskipun menghadapi kesulitan. Selain itu, kepemimpinan Bu Rahmi Sustainable Development Goals (SDG. No. 16 yang menekankan perdamaian, keadilan, dan penguatan lembaga. Kehadiran Bu Rahmi sebagai pemimpin keluarga menunjukkan bahwa kepemimpinan yang berlandaskan keadilan, empati, serta tanggung jawab bisa menciptakan lingkungan rumah tangga yang damai dan selaras. Ini membuktikan bahwa kepemimpinan transformasional tidak hanya penting di tingkat organisasi besar atau lembaga resmi, tetapi juga sangat penting dalam memperkuat unit sosial terkecil, yaitu Dengan demikian, film Bila Esok Ibu Tiada menunjukkan secara nyata peran seorang ibu sebagai pemimpin membentuk masyarakat yang lebih adil, damai, dan berkelanjutan. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa tokoh Bu Rahmi dalam film Bila Esok Ibu Tiada transformasional melalui empat aspek utama, yaitu pengaruh ideal, motivasi yang memotivasi, pengembangan berpikir, serta perhatian terhadap individu. Bu Rahmi tidak hanya bertindak sebagai orang yang mengambil keputusan dalam keluarga, tetapi juga menjadi contoh moral, pemicu semangat, penggerak pemikiran, serta sosok yang penuh perhatian dan empati terhadap anak-anaknya. Kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Bu Rahmi transformasional tidak hanya cocok untuk organisasi formal, tetapi juga sangat efektif Dengan ketulusan, keteguhan, dan rasa peduli yang tinggi. Bu Rahmi mampu mempertahankan keharmonisan serta memperkuat ketahanan keluarga meski menghadapi tantangan berupa penyakit dan konflik di dalam keluarga. Film ini tidak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan edukatif. menunjukkan bagaimana kepemimpinan dalam keluarga bisa menjadi pondasi penting untuk menciptakan kehidupan yang harmonis dan adil. Peran Bu Rahmi menegaskan bahwa pemimpin yang memiliki dasar moral, empati, dan visi ke depan mampu membangun keluarga yang kuat dan mendukung tercapainya Sustainable Development Goals (SDG. No. 16, yaitu perdamaian, keadilan, serta penguatan lembaga. UCAPAN TERIMA KASIH Berisi ucapan terima kasih terutama kepada pihak yang telah memberi pendanaan penelitian atau pengabdian Masyarakat. DAFTAR PUSTAKA