Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP) Volume 6. Nomor 1. Maret 2025 ISSN 2721 - 4311 http://jurnal. id/index. php/JISP Proses Adaptasi Penyandang Disabilitas dengan Masyarakat di Perumahan Inklusi Kabupaten Trenggalek Kirana Andini Janna Lahitani1*. Franciscus Adi Prasetyo2. Wahyuni Mayangsari3 1,2,. Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Jember. Indonesia *E-mail: 200910301082@mail. Abstrak Penyandang disabilitas dalam masyarakat mengalami banyak permasalahan berupa stigma, diskriminasi, segregasi, dan sebagainya yang mengarah ke kondisi masyarakat eksklusif. Namun apabila merujuk pada perkembangan dua dekade terakhir ini, mulai terdapat pergeseran dari kondisi masyarakat yang eksklusif, menjadi inklusif. Selaras dengan perkembangan tersebut, saat ini di Desa Prambon. Kecamatan Tugu. Kabupaten Trenggalek terdapat sebuah kawasan hunian inklusif yang diinisiasi oleh Yayasan Naeema. Penyandang disabilitas di perumahan inklusi memiliki kedekatan dengan masyarakat, seperti terlibat dalam kegiatan gotong royong, kerja bakti, dan aktivitas keagamaan. Penelitian ini berfokus pada proses beradaptasi penyandang disabilitas dengan masyarakat dan bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis secara mendalam mengenai proses adaptasi tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penyandang disabilitas penghuni perumahan inklusi mampu beradaptasi dengan masyarakat. Penyandang disabilitas penghuni perumahan inklusi mampu melewati beberapa tahap proses adaptasi mulai dari kondisi kebimbangan beradaptasi, proses penetapan strategi beradaptasi, dan sampai pada akhirnya mampu beradaptasi dengan masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perumahan inklusi mampu menjadi mediator dalam mewujudkan masyarakat inklusif yang ramah, peduli, dan saling menolong antara penyandang disabilitas dengan masyarakat umum. Kata Kunci: Penyandang Disabilitas. Proses Adaptasi. Perumahan Inklusi. Abstract People with disabilities in society experience many problems in the form of stigma, discrimination, segregation, and so on, leading to exclusive society conditions. However, when referring to the development of the last two decades, there has been a shift from an exclusive to an inclusive society. In line with these developments, currently in Prambon Village. Tugu District. Trenggalek Regency there is an inclusive residential area initiated by the Naeema Foundation. People with disabilities in inclusive residential have close ties with the community, such as being involved in mutual cooperation activities, community service, and religious activities. This research focuses on the process of adapting persons with disabilities to the community and aims to find out and analyze in depth about the adaptation process. This research uses a qualitative approach with a case study type. The results of this study show that people with disabilities living in inclusive residential are able to adapt to the community. Persons with disabilities living in inclusive housing are able to go through several stages of the adaptation process starting from the indecision conditions of adapting, the process of determining adaptation strategies, and finally being able to adapt with society. This research concludes that inclusive housing is able to act as a mediator in creating an inclusive society that is friendly, caring and helpful to each other between people with disabilities and the general public. Keywords: People with Disabilities. Adaptation Process. Inclusive Residential. Cara citasi : Lahitani. Kirana Andini Janna. Prasetyo. Franciscus Adi & Mayangsari. Wahyuni. Proses Adaptasi Penyandang Disabilitas dengan Masyarakat di Perumahan Inklusi Kabupaten Trenggalek. Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP) Vol 6 No 1 Maret 2025, 13-26. DOI: https://doi. org/10. 30596/jisp. Naskah diterima : 26-07-2024 Revisi akhir : 03-03-2025 Disetujui : 05-03-2025 Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP) is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Lahitani. Kirana Andini Janna. Prasetyo. Franciscus Adi & Mayangsari. Wahyuni. Proses Adaptasi PENDAHULUAN World Health Organisation (WHO) pada tahun 2001 lalu, memperkenalkan terminologi albleism untuk menjelaskan tentang situasi penyandang disabilitas yang sering kali mengalami pelecehan, isolasi sosial, serta kebijakan yang tidak berpihak. Dinyatakan bahwa albleism itu menciptakan invisible barriers untuk berpartisipasi setara dengan anggota masyarakat lainnya (Al Yusainy et al. , 2. Beberapa hambatan yang ditemui seperti akses kepada lapangan pekerjaan, akses layanan kesehatan yang ramah disabilitas, akses pada kesempatan mengikuti pendidikan, akses pada informasi dan teknologi, dan kurangnya infrastruktur ramah disabilitas (Hastuti, et al. , 2. Lemahnya dukungan bagi penyandang disabilitas tersebut terjadi karena sejak awal, penyandang disabilitas memang tidak diperhitungkan sebagai subyek pembangunan akibat stigmatisasi (Widinarsih, 2. seperti anak abnormal, bodoh, lamban, pengganggu, dan aneh (Nisa, 2. , disebut sebagai orang sakit, tidak mampu mengikuti Pendidikan, dan tidak mampu bekerja (Widjaja, et al. , 2. , mudah marah serta tersinggung (Mutasim. Seharusnya, disabilitas dipandang sebagai bagian dari keanekaragaman dan keunikan manusia (Luhpuri & Rini, 2. Memang harus diakui, bahwa eksistensi stigma sosial bagi penyandang disabilitas merupakan bentuk eksklusi sosial akibat ketidakakuratan dalam memahami perbedaan situasi sosial dan latar belakang sehingga menciptakan marginalisasi (Ningrum, 2. Stigma tersebut lantas diinternalisasi oleh penyandang disabilitas dan menjadi cara pandang terhadap dirinya sendiri dan menjadi self-stigma (Mardiyah & Muthmainah. Situasi kurang menguntungkan yang dialami oleh penyandang disabilitas tersebut, selaras dengan laporan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang menyatakan bahwa 80 persen penyandang disabilitas hidup dalam kemiskinan, terutama di wilayah pedesaan akibat kurangnya akses pendukung penting kehidupannya seperti akses terhadap layanan pendidikan, kesehatan, transportasi, dan pekerjaan (Utami, 2. yang merupakan aktualisasi dari marginalisasi bagi penyandang disabilitas. Namun, pada saat yang bersamaan, paradigma masyarakat tentang penyandang disabilitas pun telah mengalami pergeseran dari masyarakat yang ekslusif menjadi ke arah masyarakat inklusif yang menerima penyandang disabilitas sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat (Andriani, 2. Inklusivitas ini tentu saja telah memberikan kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk berkontribusi, baik menyeluruh atau sebagian, pada kehidupan sosialnya yang dicirikan dengan adanya Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 6. Nomor 1. Maret 2025: 13-26 kebijakan pembangunan di tingkat desa untuk melibatkan penyandang disabilitas (Gutama & Widiyahseno, 2. Beberapa upaya mewujudkan inklusivitas di Indonesia saat ini agar penyandang disabilitas mampu terpenuhi hak-haknya terus dilakukan seperti yang dilaksanakan oleh Pelopor Peduli Disabilitas Situbondo (PPDis Situbond. bersama Pemerintah Kabupaten Situbondo dengan mendukung penyandang disabilitas di pedesaan memiliki usaha mandiri dan bekerja sebagai karyawan swasta (Gufron & Rahman, 2. Bahkan, saat ini, terdapat usaha membentuk desa inklusi di beberapa wilayah untuk mendukung upaya adaptasi, sosialisasi, interaksi, dan terintegrasinya penyandang disabilitas dengan lingkungan sosialnya (Murwaningsih & Wedjajati, 2021. Rifai & Aminah, 2022. Dakelan, et al. , 2. Menguatnya inklusivitas sosial di masyarakat tersebut, tentu saja memberikan harapan baru bagi penyandang disabilitas untuk bergabung bersama dengan masyarakatnya sama seperti anggota masyarakat lainnya. Tentu saja, pada prosesnya dibutuhkan sebuah adaptasi yang bertujuan untuk tercapainya keseimbangan antara individu dengan komunitasnya, dimiliknya masa depan, kemandirian, dan peningkatan status sosial (Terziev, 2. Berkaitan dengan proses adaptasi tersebut, diketahui bahwa untuk penyandang disabilitas netra melakukan konformitas untuk menyesuaikan diri dengan nilai, aturan sosial, dan perilaku dari masyarakat yang lebih besar (Fadhilah, et al. Selain itu, penyandang disabilitas tentu harus mempersiapkan diri dengan baik dengan menguasai self-control yang baik sebagai kemampuan personal untuk mengendalikan dimensi kognitif, afektif, dan perilaku diri agar sesuai dengan standar yang diharapkan untuk mereduksi self-stigma agar mampu mengendalikan pikiran, afeksi, dan tingkah laku seperti yang diharapkan (Inzlicht & Legault, 2. , sebab di dalam proses adaptasi juga terdapat respon mental dan tingkah laku agar tercapai keselarasan dan keharmonisan antara dirinya dengan masyarakat (Agustina, 2. Permasalahan adaptasi ini pun sesungguhnya tidak hanya berada pada pihak penyandang disabilitas saja, sebagian masyarakat sesungguhnya jika tidak memahami cara untuk bersikap dan bertingkah laku dengan penyandang disabilitas (Resnawaty, et al. , 2. Selaras dengan perkembangan masyarakat inklusif tersebut, pada saat ini di Kabupaten Trenggalek terdapat sebuah kawasan hunian inklusif yang diperuntukkan bagi penyandang disabilitas dan merupakan satu-satunya kawasan hunian yang dikhususkan bagi penyandang disabilitas. Kawasan hunian ini, menjadi satu bagian dengan perumahanperumahan lain di sekitarnya sebagai sebuah upaya untuk memenuhi hak penyandang Lahitani. Kirana Andini Janna. Prasetyo. Franciscus Adi & Mayangsari. Wahyuni. Proses Adaptasi disabilitas untuk memiliki rumah yang layak dengan harga terjangkau. Lokasi perumahan inklusi yang diinisasi oleh Yayasan Naeema ini terletak di Desa Prambon. Kabupaten Trenggalek. Pembangunan kawasan perumahan inklusi ini dimulai sejak tahun 2019 lalu, dan saat ini telah tersedia 11 unit rumah. Namun, sampai dengan tahun 2024, dari 11 unit yang tersedia, hanya 4 unit rumah saja yang telah dihuni oleh penyandang disabilitas beserta keluarganya. Perumahan tersebut dilengkapi oleh aksesibilitas fisik seperti guiding block serta jalan yang mudah dilalui bagi pengguna kursi roda. Akses jalan tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi penyandang disabilitas di perumahan tersebut, melainkan juga bagi warga masyarakat di perkampungan sekitar perumahan inklusif tersebut, sehingga terjadi interaksi karena diketahui terdapat sebagian warga masyarakat yang berbelanja kebutuhan di kios milik salah satu penyandang disabilitas di perumahan inklusif tersebut. Penyandang disabilitas sebagai penghuni perumahan inklusi aktif terlibat aktivitas bersama dengan masyarakat sekitar, seperti halnya gotong royong, kerja bakti, dan aktivitas keagamaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tentang proses adaptasi penyandang disabilitas dengan masyarakat di perumahan inklusif Kabupaten Trenggalek. Urgensi penelitian ini terletak pada semakin menguatnya pengarusutamaan disabilitas untuk mendorong pada terwujudnya inklusivitas di masyarakat. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan tipe studi kasus (Neuman, 2. Kasus yang dipelajari adalah orang dengan disabilitas yang menghuni perumahan inklusif di Perumahan Inklusif Trenggalek. Pemilihan informan utama dan tambahan berdasarkan pada teknik purposive sampling dengan kriteria informan utama yang dipilih, pertama, adalah penyandang disabilitas yang telah memiliki dan menempati rumah di Perumahan Inklusif Trenggalek. kedua, telah mampu beradaptasi. Kriteria untuk informan tambahan adalah individu adalah warga non Perumahan Inklusi Trenggalek yang sering berbelanja di tempat usaha milik informan utama. Berdasarkan kriteria tersebut terpilih 4 orang informan utama yang telah memiliki unit rumah, sebab 7 unit rumah lainnya belum berpenghuni. Sedangkan informan tambahan yang dipilih berjumlah 3 orang karena merupakan tetangga terdekat yang sering berbelanja, sekaligus telah menjadi sahabat informan utama. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam semi tersturktur, observasi terbuka, dan studi dokumentasi. Setiap informan diwawancari sebanyak 2 kali dengan durasi kurang lebih 2 jam dengan menggunakan Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 6. Nomor 1. Maret 2025: 13-26 handphone sebagai alat perekam suara. Hasil wawancara pertama yang telah ditranskrip kemudian dilakukan audit transkrip sebagai dasar untuk melakukan wawancara kedua agar diperoleh informasi yang lebih lengkap sehingga saturasi data terpenuhi. Analisa data menggunakan tahapan kondensasi data yaitu dengan memberikan kode-kode dari setiap jawaban informan yang disusun menggunakan tabel, display data dilakukan dengan mengelompokkan data hasil pengkodean berdasarkan data yang sama serta menentukan tema-temanya, dan kesimpulan/verifikasi data dilakukan dengan memeriksa ulang seluruh hasil dari proses analisa data (Miles, et al. , 2. Peningkatan kualitas hasil penelitian mengacu pada standar kredibilitas, dependabilitas, transferabilitas, dan konfirmabilitas (Guba & Lincoln, 1. HASIL DAN PEMBAHASAN Proses Kepemilikan Rumah Perumahan inklusi yang dibangun oleh Yayasan Naeema di sebuah lahan yang berada di Desa Prambon. Kabupaten Trenggalek adalah rumah dengan model cluster yang diperuntukkan bagi penyandang disabilitas yang dapat dimiliki dengan harga lebih murah dibandingkan dengan perumahan lainnya. Perumahan yang dibangun ini pun disebarluaskan melalui grup media sosial untuk mempermudah bagi penyandang disabilitas yang berminat memiliki rumah. Memang jumlah unit perumahannya hanya 11 unit saja, dan baru terisi oleh 4 orang penyandang Karakteristik penyandang disabilitas yang membeli adalah disabilitas tuli, disabilitas low vision, dan disabilitas daksa. Umumnya, alasan ingin memiliki rumah sendiri adalah dorongan untuk hidup mandiri setelah menikah, dapat memanfaatkan rumah sebagai tempat tinggal dan berwirausaha tanpa harus mengeluarkan biaya sewa tambahan, dan dapat hidup bersama dengan masyarakat. Disain rumah tersebut disesuaikan dengan kebutuhan penyandang disabilitas seperti bentuk pintu geser, disediakan bidang miring, ketinggian dapur yang disesuaikan dengan pengguna kursi roda, dan toilet duduk. Jalan dibangun dengan material paving block dilengkapi dengan guiding block yang memudahkan penghuni disabilitas netra dapat melakukan mobilitas luar rumah yang nyaman. Akses jalan ini pun terhubung dengan hunian masyarakat umum, sehingga dapat diakses dan tidak memunculkan kesan eksklusif. Hanya saja, kondisi jalan di luar perumahan yang kurang baik dan becek saat hujan sehingga menyulitkan bagi masyarakat dan penyandang disabilitas yang akan beraktivitas ke pasar, mengunjungi kerabat, atau keperluan Berdasarkan informasi diperoleh, bahwa pemerintah setempat memang telah merencanakan untuk melakukan perbaikan jalan tersebut, dan saat ini sedang proses pengajuan Lahitani. Kirana Andini Janna. Prasetyo. Franciscus Adi & Mayangsari. Wahyuni. Proses Adaptasi penganggaran yang diharapkan dapat segera terealisasi. Meskipun demikian, penyandang disabilitas menyadari bahwa hidup bersama di lingkungan masyarakat harus siap dengan kurangnya aksesibilitas yang mendukung mobilitasnya. Oleh karena itu, untuk mengatasinya, penyandang disabilitas memilih untuk menggunakan transportasi berbasis aplikasi online sehingga mampu mengatasi permasalahan jalan yang becek tersebut saat hujan. Sebelum memiliki rumah, para penyandang disabilitas tersebut ada yang tinggal sementara di Yayasan Naeema, hidup bersama mertua, dan orang tua. Rumah tersebut dapat dimiliki dengan model pembayaran kredit ataupun tunai. Fasilitas pembayaran yang ditawarkan pun relatif memudahkan bagi penyandang disabilitas yang ingin memilikinya. Biaya kredit yang menjadi tanggung jawab penyandang disabilitas pun disesuaikan dengan kemampuan membayar. Informan KM cukup membayar kredit antara Rp. 000-Rp. 000/bulan, sedangkan informan S mencicil antara Rp. 000-Rp. 000/bulan. Terkadang, salah seorang penyandang disabilitas juga mendapatkan keringanan untuk menunggak membayar cicilan sebesar Rp. 000/bulan karena ada kebutuhan yang mendadak dan bersifat mendesak. Salah seorang penyandang disabilitas yang mampu membeli rumah dengan metode tunai pun menjelaskan bahwa dirinya memang sebagian biayanya dibantu oleh keluarga. Beberapa jenis wirausaha yang dilakukan oleh penyandang disabilitas seperti salon rambut khusus perempuan . isabilitas daks. , jasa fotokopi dan print . isabilitas tul. , berjualan pulsa handphone . isabilitas daks. , dan toko kelontong . isabilitas netra/low visio. yang menjual aneka barang keperluan masyarakat. Diketahui juga, terdapat seorang perempuan penyandang disabilitas daksa yang bekerja sebagai asisten Bupati Trenggalek dan menjadi konten kreator. Cukup banyak masyarakat di sekitar perumahan yang berbelanja di tempat usaha penyandang disabilitas tersebut untuk berbelanja keperluan pribadinya. Penghasilan yang diperoleh dari usaha inilah yang sebagian disimpan untuk melunasi cicilan rumah setiap bulan, memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dan ditabung untuk keperluan tidak terduga. Penyandang disabilitas terhitung relatif belum terlalu lama menjadi penghuni perumahan inklusi mulai dari dua bulan yang paling baru, sampai dengan dua tahun yang paling lama. Memang, sejak menjadi penghuni perumahan inklusi, para penyandang disabilitas dan masyarakat secara alamiah memang saling berkomunikasi dan berinteraksi apabila ada salah seorang masyarakat yang berbelanja di kios penyandang disabilitas untuk membeli kebutuhan rumah tangga, fotokopi, atau menggunting rambut di salon milik penyandang disabilitas. Dijelaskan oleh penyandang disabilitas bahwa komunikasi yang terjadi baru sebatas hubungan antara penjual dan pembeli saja. Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 6. Nomor 1. Maret 2025: 13-26 Proses Adaptasi Penyandang Disabilitas dengan Masyarakat Berdasarkan hasil penelitian, diketahui beberapa proses yang dilalui oleh penyandang disabilitas penghuni rumah inklusi dengan masyarakat di sekitarnya, sebagai Proses kebimbangan. Secara umum hal ini terjadi pada masa awal menempati rumah baru. Proses ini ditandai dengan adanya perasaan ragu-ragu, malu, dan khawatir. Hal ini terjadi karena penyandang disabilitas belum memiliki cukup banyak orang yang dikenal. Selain itu, terdapat ketakutan bahwa orang lain akan tersinggung apabila menilai terdapat perilaku yang kurang sesuai dengan aturan sosial di masyarakat. Oleh karena itu, penyandang disabilitas cenderung beraktivitas di dalam rumah saja dan jarang sekali keluar rumah. Selain itu, secara khusus, ditemukan permasalahan yang penting untuk digarisbawahi, pertama, adalah self-stigma yang menjadi penghambat karena masih memandang kondisi fisik dirinya yang berbeda, sehingga merasa malu untuk Hal ini berkaitan dengan pengalaman masa lalu penyandang disabilitas yang pernah dirundung oleh beberapa orang teman di rumah dan sekolah yang memanggil dirinya berdasarkan kondisi disabilitasnya seperti si buta, orang cacat. Selain itu, jarang sekali ada yang mengajak penyandang disabilitas bermain semasa kanak-kanak, sehingga saat teman-temannya bermain, penyandang disabilitas lebih sering duduk menyendiri. Dan, hal tersebut sangat menyedihkan hatinya. Meskipun demikian, pihak keluarga berupaya memberikan dukungan positif seperti memberikan semangat, memenuhi kebutuhan hidup, dan mengajak keluar rumah. Kedua, kebingungan untuk berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat bagi penyandang disabilitas tuli. Pada sisi masyarakat itu sendiri mengalami dua hal, pertama, kebingungan untuk mengawali berkomunikasi karena merasa khawatir penyandang disabilitas menjadi tersinggung apabila cara berkomunikasi dan berinteraksinya kurang tepat seperti menatap kondisi disabilitas tetangganya tersebut terlalu lama karena merasa iba. Hal tersebut terjadi karena masyarakat belum pernah memiliki pengalaman untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan penyandang disabilitas. Meskipun demikian, masyarakat juga memiliki keinginan menyapa untuk merangkul penyandang disabilitas sebagai tetangga barunya. Kedua, rasa heran melihat penyandang disabilitas mampu mandiri, terutama penyandang disabilitas netra yang memiliki Lahitani. Kirana Andini Janna. Prasetyo. Franciscus Adi & Mayangsari. Wahyuni. Proses Adaptasi keterbatasan penglihatan, tetapi mampu melakukan aktivitas harian di rumah seperti membersihkan rumah, memasak, mencuci, setrika, dan merawat diri. Hal inilah yang sering menjadi topik pembicaraan di antara masyarakat apabila sedang berkumpul dengan sesamanya dan di dalam keluarganya. Menyusun strategi adaptasi Setelah melalui proses pertama, penyandang disabilitas mulai menyusun strategi agar dapat beradaptasi. Strategi yang ditetapkan adalah berbaur dengan masyarakat dengan cara mengikuti kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan seperti posyandu, pengajian, dan gotong royong membersihkan lingkungan seperti saluran air dan Secara mental, penyandang disabilitas memutuskan untuk memberanikan diri mengikuti kegiatan-kegiatan di lingkungan sekitar perumahan bersama. Perlahanlahan penyandang disabilitas mengikuti kegiatan yasinan, posyandu balita, gotong royong, dan ikut bergabung untuk berbincang bersama warga. Pada proses ini, peran masyarakat yang memilih strategi proaktif untuk mendekati penyandang disabilitas dengan metode berbelanja ke rumah penyandang disabilitas yang memang membuka unit usaha mandiri. Saat berbelanja tersebut, masyarakat mulai menyapa, berkenalan, dan menanyakan terkait dengan nama, daerah asal, dan kegiatan sehari-hari penyandang disabilitas. Respon penyandang disabilitas juga sangat baik, karena melihat justru masyarakat itu sendiri yang mendekatkan dirinya dengan cara sederhana yaitu berbelanja di tempat usahanya. Secara alamiah, seiring berjalannya waktu, komunikasi yang terjalin pun menjadi lebih rileks, tidak kaku seperti pada awal mula berkomunikasi karena sudah mulain diselingi humor ringan. Banyaknya masyarakat yang memanfaatkan usaha penyandang disabilitas untuk fotokopi dokumen, print, mencuci rambut, atau membeli kebutuhan rumah tangga, ternyata memberikan manfaat bagi pihak masyarakat dan penyandang disabilitas untuk saling berkomunikasi. Masyarakat lalu memasukkan penyandang disabilitas ke dalam grup whatsapp warga sebagai media bertukar informasi dan silahturahmi, terutama untuk mengajak berkegiatan penyandang disabilitas di masyarakat yang juga menjadi temuan penting di dalam proses adaptasi ini. Ketika sudah bergabung ke dalam grup whatsapp warga, penyandang disabilitas memperkenalkan dirinya. Pada kesempatan tersebut, penyandang disabilitas tuli, selain berkenalan melalui grup whatsapp, juga menjelaskan tentang cara berkomunikasi antara masyarakat dengan dirinya yaitu Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 6. Nomor 1. Maret 2025: 13-26 melalui bahasa tulis di handphone serta berbicara dengan lambat dengan pengucapan yang jelas dan menghadap ke arahnya, agar dapat melihat dengan jelas gerak bibir saat mengucapkan kalimat. Penjelasan ini menyebabkan masyarakat menjadi mengetahui cara yang baik untuk berkomunikasi dengan penyandang disabilitas tuli. Awalnya, masyarakat memang merasa agak janggal karena belum terbiasa. Tantangan berkomunikasi dengan penyandang tuli ini dialami oleh masyarakat misalnya saat hendak fotokopi atau print. Terkadang, selain harus berbicara perlahan-lahan dan mengirimkan pesan whatsapp, masyarakat juga harus bersabar karena panggilannya tidak terdengar saat penyandang disabilitas sedang tidak berada di dapur. Tetapi hal seperti itu tidak setiap saat terjadi, karena penyandang disabilitas tuli pun juga memiliki tanggung jawab atas usaha fotokopi dan print yang dijalaninya. Sampai dengan hari ini, tidak ada hambatan komunikasi yang terjadi. Masyarakat mulai terbiasa berkomunikasi dengan cara yang khusus apabila sedang berhadapan dengan penyandang disabilitas tuli. Beradaptasi Setelah berproses melalui komunikasi dan interaksi yang intensif, perlahan-lahan terjalinlah relasi antara penyandang disabilitas dengan masyarakat. Penyandang disabilitas telah merasa nyaman dan aman hidup bersama dengan masyarakat. Ketercapaian ini, menurut penyandang disabilitas dimaknai sebagai ketercapaian untuk hidup mandiri secara luas, tidak saja mandiri secara ekonomi, melainkan juga hidup bersama dengan masyarakat. Selain itu, penyandang disabilitas juga sering dimintai tolong apabila ada tetangga yang hajatan, berbelanja bersama, dan diikutsertakan pada rapat warga. Masyarakat pun juga tidak segan untuk menolong saat penyandang disabilitas membutuhkan pertolongan seperti memasang tirai jendela dan memasang bingkai foto di dinding. Menurut penyandang disabilitas, fase ini merupakan salah satu bentuk ketercapaian tujuan hidupnya yaitu mampu hidup bersama dengan masyarakat pada umumnya. Ditinjau dari sisi perubahan mentalitas penyandang disabilitas pasca mampu beradaptasi dijelaskan adanya perasaan bahagia karena diterima di tengah masyarakat, optimis karena mampu membuktikan dapat hidup mandiri, dan semakin percaya diri sebab self-stigma yang dialaminya juga Kenyamanan hidup yang dialami oleh penyandang disabilitas di Perumahan Inklusi Trenggalek ini, memungkinkannya untuk berusaha dengan tenang sehingga memiliki Lahitani. Kirana Andini Janna. Prasetyo. Franciscus Adi & Mayangsari. Wahyuni. Proses Adaptasi pelanggan dari masyarakat sekitar. Penghasilan yang diperolehnya saat ini sudah dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari dan membayar cicilan rumah. Memang, terkadang ada saat-saat, usahanya sepi pembeli, tetapi di hari lain ramai pembeli. Penyandang disabilitas juga sangat bersyukur karena terjadi saling menerima antara dirinya dengan masyarakat. Tidak ada lagi kecanggungan untuk bersosialisasi sebab ternyata masyarakat juga saling menghargai satu sama lain. Menurut masyarakat sendiri sebenarnya tidak ada maksud untuk melakukan stigma dan diskriminasi, namun ketidaktahuan dan kekhawatiran menyinggung perasaan itulah yang seringkali menyebabkan terjadinya salah paham. Menurut penyandang disabilitas dan masyarakat, saat ini kehidupan bermasyarakat sangat baik dan menyenangkan. Hidup bersama dengan masyarakat secara setara adalah harapan seluruh individu, baik yang memiliki disabilitas ataupun tanpa disabilitas. Namun, bagi penyandang disabilitas secara khusus, hal tersebut dapat memiliki arti yang lebih dalam mengingat pengalaman hidupnya yang sangat erat dengan pandangan negatif dari sebagian anggota masyarakat (Widinarsih, 2019. Nisa, 2021. Widjaja, et al. , 2020. Mutasim, 2. Penolakan dan stigma negatif merupakan bagian kehidupan yang sulit untuk dipisahkan bagi penyandang disabilitas. Oleh karena itu, ketika sebuah lembaga layanan sosial berinisiatif melakukan terobosan dengan membangun perumahan inklusi bagi penyandang disabilitas, maka hal ini bukan saja bernilai tentang kepemilikan atas sesuatu, melainkan juga menghadirkan harapan baru. Selama ini memang harus diakui bahwa hak untuk memiliki rumah juga seringkali terkendala seperti hak-hak lainnya mulai dari akses terhadap layanan Kesehatan, pendidikan, transportasi publik, dan infrastruktur (Hastuti, et al. , 2. Hambatan akses terhadap pemenuhan hak untuk memiliki rumah tersebut coba diupayakan oleh lembaga sosial tersebut dengan memberikan fleksibilitas pembelian secara tunai maupun kredit. Model kredit inilah yang pada implementasinya dipraktekkan dengan menyesuaikan pada kemampuan masing-masing penyandang disabilitas untuk membayar cicilan. Oleh karena itu, setiap penyandang disabilitas yang mencicil memiliki beban cicilan yang berbeda setiap bulannya dan mendapatkan keringanan apabila harus menunda pembayaran tanpa dikenakan sanksi berupa denda. Hal tersebut yang menjadi bagian dari motivasi dari para penyandang disabilitas untuk berani memutuskan untuk hidup mandiri sebagai salah satu langkah maju bagi masa depannya. Hal ini dapat terjadi karena memang sifat dasar dari menyediakan akses fasilitas kepemilikan perumahan ini Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 6. Nomor 1. Maret 2025: 13-26 adalah sosial. Namun, praktek baik dapat menjadi percontohan bagi pengembang perumahan lainnya untuk membangun kerjasama dengan pihak pemerintah dan lembaga sosial untuk menduplikasi model serupa di daerah yang lain dengan menyediakan beberapa unit rumah khusus bagi penyandang disabilitas. Hidup bersama dengan masyarakat dapat dimaknai dengan hidup dalam keberagaman sosial yang tidak hanya dibatasi oleh latar belakang sosial kultural saja. Hanya saja, sebagian dari anggota masyarakat belum dapat memahami bahwa disabilitas merupakan bagian dari keanekaragaman manusia (Luhpuri & Rini, 2. Situasi inilah yang ternyata berkontribusi pada menguatnya self-stigma pada penyandang disabilitas pada masa awal menjadi penghuni perumahan inklusi. Kebimbangan lain yang juga muncul berkaitan dengan cara komunikasi yang berbeda, khususnya pada penyandang disabilitas tuli. Fase ini memang menjadi kekhasan pada tahap awal beradaptasi. Menguatnya self-stigma ini harus menjadi perhatian tersendiri yang apabila tidak dapat diatasi akan kontraproduktif dengan upaya penyandang disabilitas untuk hidup mandiri dan bermasyarakat. Oleh karena itu, para penyandang disabilitas yang ingin beradaptasi dengan masyarakat perlu menyadari fenomena mental seperti ini sebagai respon yang wajar (Agustina, 2. sebagai warga baru di masyarakat. Penyandang disabilitas perlu segera mengelola kebimbangan yang bersumber dari selfstigma, agar tidak menjadi permanen dan kontraproduktif dengan tujuan awalnya untuk hidup Perilaku mengurung diri di rumah yang merupakan pengejawantahan dari respon mental yang didominasi oleh kebimbangan, harus segera dapat diidentifikasi dan ditemukan solusinya agar terbangun respon mental yang positif dengan cara menghargai upaya-upaya dari sebagian masyarakat yang terbuka dan justru memperlihatkan sikap dan perilaku yang merangkul penyandang disabilitas sebagai warga baru di lingkungan masyarakat. Namun, perlu juga dipahami oleh penyandang disabilitas, bahwa pada hakikatnya, masyarakat pun mengalami kebimbangan juga untuk membangun komunikasi awal karena belum memahami cara yang tepat untuk mengawalinya (Resnawaty, et al. , 2. Berdasarkan pada situasi tersebut, maka, pada proses awal adaptasi ini, kedua belah pihak yaitu penyandang disabilitas dan masyarakat, memiliki rasa bimbang yang sama. Perbedaannya pada penyandang disabilitas merupakan warga baru dan memiliki pengalaman hidup yang kurang menyenangkan, sedangkan masyarakat merupakan pihak yang telah relatif lama keterampilannya berkomunikasi dengan penyandang disabilitas, bersedia untuk proaktif melakukan pendekatan sehingga mempermudah proses adaptasi selanjutnya. Lahitani. Kirana Andini Janna. Prasetyo. Franciscus Adi & Mayangsari. Wahyuni. Proses Adaptasi Momentum terbaik yang dimiliki penyandang disabilitas untuk mengendalikan selfstigma diperoleh saat mulai terjadi kontak awal dengan masyarakat melalui aktivitas harian seperti bertegur sapa pada saat berbelanja di tempat usaha penyandang disabilitas. Pengalaman tersebut, secara alamiah turut berproses pada upaya reduksi self-stigma penyandang disabilitas (Inzlicht & Legault, 2. , karena terjadi dua hal penting di dalam diri penyandang disabilitas. Pertama, merubah cara pandangnya pada masyarakat dari yang semula sebagai sumber self-stigma yang dialaminya menjadi positif karena ternyata masyarakat setempat ramah terhadap penyandang disabilitas. Kedua, afeksinya berkembang menjadi berani, merasa nyaman, tenang, dan optimis diterima oleh Oleh karena itu, perilaku yang diperlihatkan oleh penyandang disabilitas adalah lebih memiliki keberanian untuk mengakrabkan diri dengan memberikan keramahan serupa. Termasuk juga berani menghadiri kegiatan sosial kemasyarakatan seperti yasinan, posyandu balita, kegiatan gotong royong, serta bergabung dengan sebagian masyarakat yang sedang berbincang-bincang. Kegiatan sosial inilah yang menjadi media untuk mempertemukan penyandang disabilitas dan masyarakat sehingga turut berkontribusi terhadap perubahan cara pandang dari penyandang disabilitas itu sendiri yang tidak tertutup kemungkinan juga memiliki kecenderungan menggeneralisasikan bahwa semua masyarakat selalu memberikan stigma dan mendiskriminasikan penyandang disabilitas. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat dibuktikan bahwa eksklusi sosial dan marginalisasi (Ningrum, 2. yang umumnya ditemukan, ternyata pada saat ini, di dalam tubuh masyarakat sendiri pun perlahan-lahan mengalami perubahan yang positif dengan kesediaannya membantu proses adaptasi penyandang disabilitas melalui tindakan keseharian karena menyadari bahwa para penyandang disabilitas tersebut adalah bagian Puncaknya, setelah adaptasi dapat tercapai sepenuhnya, penyandang disabilitas pun memiliki respon mental yang berbeda. Dirinya sudah meyakini bahwa keinginannya untuk hidup mandiri sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat telah terpenuhi. Keharmonisan hidup telah dicapainya (Terziev, 2019. Agustina, 2006. Fadhilah, et al. Salah satu bagian penting yang perlu ditegaskan tentu saja berkaitan dengan peningkatan status sosial (Terziev, 2. dari penyandang disabilitas dan masyarakat itu Pertama, peningkatan status sosial pada konteks ini dapat dimaknai dengan adanya perubahan yang pada awalnya merasa tersubordinasi akibat self-stigma, saat ini Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 6. Nomor 1. Maret 2025: 13-26 telah berubah menjadi sebuah pandangan bahwa penyandang disabilitas adalah bagian seutuhnya dari masyarakat. Kedua, ditinjau dari sisi masyarakat, maka peningkatan status sosial ini adalah adanya penguatan bentuk masyarakat inklusi yang ramah terhadap penyandang disabilitas. SIMPULAN Berdasarkan penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa adaptasi merupakan proses belajar bersama antara penyandang disabilitas dengan masyarakat untuk saling memahami satu sama lain yang pada akhirnya mengarahkan pada terbentuknya masyarakat inklusi yang ramah, saling tolong menolong, dan bersedia menerima perbedaan sebagai bagian dari keunikan manusia. Proses adaptasi tersebut dilalui dengan adanya kebimbangan, penyusunan strategi, hingga akhirnya beradaptasi. Pada proses adaptasi ini juga ditemukan adanya dinamika respon mental penyandang disabilitas dari kebimbangan menjadi optimis, percaya diri, dan tereduksinya self-stigma. Kehadiran Perumahan Inklusi Trenggalek ini mampu menjadi mediator bagi pertemuan antara penyandang disabilitas dengan masyarakat yang menyatukan dengan ditandai adanya relasi yang saling menghargai perbedaan, saling menghormati, dan saling tolongmenolong sebagai satu kesatuan masyarakat. Perumahan Inklusi Trenggalek ini juga menjadi sebuah model pengembangan kawasan hunian berbasis ramah disabilitas melalui penyediaan aksesibilitas serta fasilitas kepemilikan rumah bagi penyandang disabilitas. Diharapkan di masa yang akan datang dapat dilakukan penelitian lanjutan terkait dengan keberlanjutan adaptasi penyandang disabilitas dengan masyarakat. DAFTAR PUSTAKA