Jurnal Ilmiah DeSciArs ISSN x - x Volume 1. No. Desember 2021 HIGH PERFORMANCE ARCHITECTURE SEBAGAI INDIKATOR PROSES PENGUKURAN KERANGKA KONSEPTUAL ARSITEKTUR HIJAU PADA BANGUNAN NON-RESIDENSIAL Freike Eugene Kawatu Universitas Negeri Manado e-mail: eugenekawatu@unima. ABSTRAK Perancangan bangunan yang hemat energi sekarang ini sudah bukanlah sekedar fitur bangunan saja, melainkan menjadi sebuah sasaran desain untuk mengantisipasi krisis energi yang terjadi di abad ke-21 ini. Desain bangunan High-performance Architecture (Arsitektur Performa Tingg. merupakan alternatif perwujudan bangunan yang hemat energi. Di lain pihak, bangunan yang membutuhkan performa tinggi seperti bangunan non-residensial merupakan jenis bangunan yang berkontribusi tinggi terhadap perusakan dan pencemaran lingkungan. Dunia Arsitektur sendiri telah lama menumbuhkan tren bangunan yang ramah lingkungan melalui konsep Arsitektur Hijau. Sangat menarik untuk mengukur konsep Arsitektur Hijau itu sendiri pada bangunan nonresidensial yang menggunakan desain high-performance architecture dimana terdapat korelasi antara bangunan yang hemat energi sekaligus ramah lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif untuk mengidentifikasi secara statistik korelasi indikator Ae indikator high-performance architecture dengan hasil kinerja bangunan yang berhubungan dengan Arsitektur Hijau, seperti tingkat green building, biaya, dan jadwal, pada bangunan Ae bangunan yang telah memiliki sertifikat Green. Hasil dari penelitian ini berkontribusi pada pengetahuan perancangan arsitektur dengan memberikan bukti statistik yang menggaris bawahi pentingnya indikator Ae indikator high-performance pada hasil kinerja bangunan melalui proses implementasi Arsitektur Hijau. Kata kunci: High-Performance. Green Architecture. Bangunan Non-Residensial PENDAHULUAN Konsumsi sumber daya yang berlebihan . dan pertambahan populasi yang berlebihan . mengakibatkan meningkatnya kebutuhan dan konsumsi energi dari tahun ke tahun. Terbatasnya sumber daya alami untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut akhirnya menyebabkan terjadinya krisis energi pada abad ke21. Hal ini tentu juga berdampak terhadap penggunaan energi dari bangunan. Bangunan non-residensial adalah bangunan yang difungsikan bukan sebagai tempat tinggal, yaitu seperti bangunan industri, bangunan komersil, sekolah, rumah sakit, gudang, dan lain sebagainya. Bangunan non-residensial adalah bangunan yang konsumsi energinya lebih besar daripada bangunan residensial dikarenakan kinerja atau operasional bangunan yang membutuhkan energi yang besar (Gambar 1. (High-Performance Architecture Sebagai Indikator Proses Pengukuran Kerangka Konseptual Arsitektur Hijau Pada Bangunan Non-Residensia. Jurnal Ilmiah DeSciArs ISSN x - x Volume 1. No. Desember 2021 Gambar 1. 1 Grafik Perbandingan Konsumsi Energi Bangunan Residensial dan Non-Residensial Di Dunia (Sumber: Xiangdong, 2. Di Indonesia, bangunan Ae bangunan non-residensial yaitu pada sektor industri dan komersil memiliki total 43% dari keseluruhan konsumsi energi, dibandingkan dengan konsumsi energi bangunan residensial pada sektor rumah tangga yaitu sebesar 27% (Gambar 1. Gambar 1. Grafik Total Konsumsi Energi di Indonesia (Sumber: Kementerian ESDM, 2. Dengan tujuan penghematan energi, fitur Ae fitur dari High-Performance Architecture atau Arsitektur Performa-Tinggi mulai diintegrasikan pada bangunan Ae bangunan non-residensial. High-Performance Architecture itu sendiri adalah desain bangunan yang dinilai baik dalam operasional/kinerja bangunannya dimana melaksanakan fungsi bangunannya dengan sempurna, serta menggunakan sumber daya secara efisien (El-Wassimy, 2. Selain itu, peforma dari pengguna bangunan juga dinilai baik karena dibantu dengan kinerja dari bangunan. Menurut El-Wassimy, bangunan yang membantu meningkatkan produktivitas dari penggunanya dapat disebut sebagai high-performance buildings. Arsitektur Hijau adalah konsep yang dikembangkan dalam dunia arsitektur dikarenakan dampak negative yang ditimbulkan oleh bangunan, baik oleh bangunan (High-Performance Architecture Sebagai Indikator Proses Pengukuran Kerangka Konseptual Arsitektur Hijau Pada Bangunan Non-Residensia. Jurnal Ilmiah DeSciArs ISSN x - x Volume 1. No. Desember 2021 residensial dan non-residensial. Intisari dari Arsitektur Hijau yaitu bangunan yang di desain dan dikonstruksikan berdasarkan prinsip arsitektur yang ramah lingkungan (Ragheb, 2. Konsep Arsitektur Hijau tersebut dapat diukur melalui beberapa kategori pengukuran seperti Sustainable. Ecological, dan Performance. Oleh karena itu, menjadi sangat menarik untuk mengukur kerangka konsep Arsitektur Hijau pada bangunan non-residensial yang mengintegrasikan fitur - fitur high-performance Melalui pengukuran tersebut dapat ditemukan suatu standar desain bangunan yang hemat energi dan juga ramah lingkungan. METODE Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, dengan indicator pengujian seperti penggunaan simulasi energi yang berkorelasi dengan konsep green, biaya, dan hasil kinerja bangunan. Sampel Penelitian Sampel penelitian ini adalah bangunan Ae bangunan di Indonesia yang memiliki sertifikat Green Building, termasuk 5 bangunan studi kasus di Kota Manado yang telah masuk dalam kategori bangunan hijau yang memiliki high-performance. Seluruh tipe bangunan pada sampel adalah bangunan non-residensial dengan mayoritas tipe bangunan kantor. Data dikumpulkan melalui survey, wawancara terstruktur dengan owner, arsitek, dan kontraktor dari masing Ae masing proyek bangunan tersebut. Setelah pengumpulam data, penelitian ini kemudian memilih metrik yang menjadi prioritas dalam analisis data, kemudian mengecek variable Ae variable luaran sebagai normalitas, dan akhirnya melakukan analisis kuantitatif untuk mengidentifikasi korelasi statistical dari indicator Ae indicator penelitian. Untuk menentukan cara mengukur tingkat dari metrik arsitektur hijau pada penelitian ini, pertama Ae tama indeks penilaian bangunan hijau dihitung sebagai X1 = A/B x 100 Dimana A = poin bangunan hijau yang dicapai pada sampel bangunan dan B = poin bangunan hijau yang tersedia. (High-Performance Architecture Sebagai Indikator Proses Pengukuran Kerangka Konseptual Arsitektur Hijau Pada Bangunan Non-Residensia. Jurnal Ilmiah DeSciArs ISSN x - x Volume 1. No. Desember 2021 Selanjutnya, index yang terpisah dikonstruksikan dengan memasukkan definisi high-performance green buildings kedalam perhitungan, dimana highperformance green building memiliki focus yang lebih terhadap peningkatan efisiensi energi dan kualitas lingkungan indoor (Horman. Oleh karena itu, efek dari kualitas lingkungan indoor dan perhitungan energi dilipatk gandakan menjadi dua kali untuk mengkonstruksikan index high-performance Ae green building . sebagai berikut: Dimana A= poin bangunan hijau yang dicapai oleh sampel bangunan. B= poin bangunan hijau yang tersedia. I= kualitas lingkungan indoor yang dicapai. IA= poin kualitas lingkungan indoor yang tersedia. E= poin energi yang dicapai, dan EA= poin energi yang tersedia. Statistik pengujian menunjukkan bahwa mean dari semua proyek yang dinilai dengan system bangunan hijau memilik index . = 56,. yang jauh lebih rendah dari index semua proyek green building dengan high-performance . = 173,. Oleh karena itu, index high-performance green building dipilih untuk mengukur tingkat green dari hasil performa . uilding performanc. bangunan Ae bangunan yang dijadikan sampel. Kualitas Data Pengukuran untuk memastikan kualitas data kedalam set data final meliputi hal Ae hal sebagai berikut: Indikator Ae indicator proses yang terpilih distandarisasikan menggunakan rasional koding umum (Tabel 3. Metrik untuk mengukur hasil dari performa bangunan . isalnya tingkat green, pertumbuhan biaya, ds. dikalkulasikan melalui nilai persentase untuk mengeliminasi perubahan tahunan dan variasi posisi geografi yang berkenaan dengan letak bangunan Semua koding, termasuk nominal, ordinal, interval, dan skala rasio, distandarisasikan kedalam sebuah skala konsisten Normalitas diperiksa untuk memastikan reabilitas dari data. Analisis Data Pada tahap analisis data, pertama Ae tama dihasilkan statistic deskriptif dari semua metrik performa bangunan. Selanjutnya, tingkat green, biaya, dan jadwal yang (High-Performance Architecture Sebagai Indikator Proses Pengukuran Kerangka Konseptual Arsitektur Hijau Pada Bangunan Non-Residensia. Jurnal Ilmiah DeSciArs ISSN x - x Volume 1. No. Desember 2021 dihasilkan oleh bangunan dianalisis berdasarkan variasi metode Ae metode implementasi . ebagai contoh: desain bangunan, manajemen konstruksi, ds. dengan menggunakan analisis bivariasi. Kemudian korelasi dilakukan untuk menentukan hubungan antara indicator Ae indicator proses yang ditunjukkan dalam Tabel 3. 1 dengan tingkat green, biaya, dan jadwal yang dihasilkan bangunan. Analisis korelasi Pearson digunakan sebagai metode primer karena keberadaan dari data nominal dalam set data dan ukuran dari sampel (Ott dan Longnecker. Minitab 16 digunakan sebagai media analisis statistic. Reabilitas dari koefisien Ae koefisien korelasi diperiksa melalui nilai p. Tabel 3. 2 menyimpulkan langkah Ae langkah analisis data dalam penelitian ini. Gambar 3. 1 Analisis Korelasi Untuk Penggunaan Simulasi Energi Gambar 3. 1 adalah hasil analisis korelasi Pearson yang menunjukkan efek dari penggunaan simulasi energi pada berbagai tahapan desain dengan index highperformance green building. Memulai simulasi energi pada tahapan desain yaitu pada tahap konseptual memiliki dampak yang lebih besar pada tingkatan performa green building daripada tahap skematik, dan jika simulasi energi dimulai pada tahapan desain yang lebih akhir seperti pada tahap pengembangan desain, dampaknya mengalami penuruan yang sangat besar terhadap hasil dari performa green building. (High-Performance Architecture Sebagai Indikator Proses Pengukuran Kerangka Konseptual Arsitektur Hijau Pada Bangunan Non-Residensia. Jurnal Ilmiah DeSciArs ISSN x - x Volume 1. No. Desember 2021 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Rata Ae rata pertumbuhan biaya dari sampel adalah 4,8% (N=. , sedangkan rata Ae rata perkembangan jadwal yaitu 3,28% (N=. Analisis data unvariat menunjukkan bahwa walaupun memungkinkan untuk menghasilkan green building dengan highperformance dengan menggunakan metode implementasi apapun, rancang-bangun menghasilkan tingkat green yang lebih tinggi. Contohnya manajemen konstruksi (N=20, h = . , rancang-bangun (N=15, h = . Hasil dari tingkatan green building pada perancangan bangunan non-komersil yang dijadikan sampel, dikalkulasikan melalui index green building highperformance, dimana menunjukkan bahwa diantara semua indicator yang ada, pengalaman arsitek terhadap green building high-performance dan jumlah metode (High-Performance Architecture Sebagai Indikator Proses Pengukuran Kerangka Konseptual Arsitektur Hijau Pada Bangunan Non-Residensia. Jurnal Ilmiah DeSciArs ISSN x - x Volume 1. No. Desember 2021 komunikasi yang digunakan anggota tim konstruksi bangunan selama berjalannya implementasi proyek adalah yang paling efektif . ihat Gambar/Grafik 4. Melacak performa desain dengan metode kuantitatif memberikan cara pengukuran untuk mengevaluasi kemajuan proyek dan tim yang terlibat didalamnya. Diantara semua alat kuantitatif yang digunakan, setting dari sasaran konsumsi energi untuk bangunan yang diukur dalam BTU/ft2, kemudian pengguaan checklist penilaian kriteria green building, dan penggunaan dari modeling bangunan menunjukkan hubungan yang signifikan dengan tingkatan tinggi dari green building terhadap Melakukan simulasi pencahayaan dan konsumsi energi pada awal proses desain juga menjadi faktor yang berkorelasi dengan tingkat green building yang lebih Grafik 4. 1 memberikan informasi mendetail terhadap dampak dari indicator Ae indicator proses terhadap tingkatan green building pada confidence intervals (CI) yang berbeda Ae beda. Hasil dari pertumbuhan biaya, dikalkulasikan melalui metrik Ae metrik korelasi, dimana mengindikasikan bahwa keterlibatan kontraktor sebelum tahap pengembangan desain yang memiliki dampak terbesar, dengan 100% confidence Sebagai tambahan, data yang menunjuk pada pengalaman owner akan highperformance green building juga merupakan indicator proses yang tidak kalah penting peranannya. Peran owner dalam menjelaskan lingkup/ scope, kemampuan pengambilan keputusan dari owner, serta control dan partisipasi owner dalam proses perancangan, semuanya sejajar dengan performa biaya. Mengeluarkan ide green building sebelum tahap desain konseptual menunjukkan dampak positif yang lebih kuat terhadap metrik pertumbuhan biaya dibandingkan dengan memunculkan ide green building pada tahap akhir dari desain bangunan. Dan tidak mengejutkan Ketika perkembangan jadwal menunjukkan korelasi dengan pertumbuhan biaya. Grafik 4. menunjukkan korelasi koefisien Ae koefisien dari indicator Ae indicator proses yang memiliki dampak signifikan terhadap pertumbuhan biaya. Pengaruh kontraktor mendemonstrasikan perkembangan jadwal yang signifikan dalam proyek arsitektur hijau. Kemampuan owner untuk mereduksi pemilihan kontraktor dan mendefinisikan scope dari proyek sejak tahapan awal dari proses desain menjadi indicator proses yang signifikan dengan tingkat korelasi 95% terhadap perkembangan jadwal. Sebagai tambahan, edukasi sub-kontraktor dan pengalaman kontraktor terhadap proses implementasi high-performance green building, diamati sebagai indicator Ae indicator yang potensial. Grafik 4. menunjukkan hasil analisis dari indicator Ae indicator proses yang berkorelasi dengan perkembangan jadwal. (High-Performance Architecture Sebagai Indikator Proses Pengukuran Kerangka Konseptual Arsitektur Hijau Pada Bangunan Non-Residensia. Jurnal Ilmiah DeSciArs ISSN x - x Volume 1. No. Desember 2021 Komparasi silang membantu mengidentifikasi indicator Ae indicator proses yang dapat memberi dampak terhadap lebih dari satu hasil performa green building. Komparasi ini ditunjukkan dalam Tabel 4. 1, dapat memberikan pedoman untuk melihat pada indicator Ae indicator umum dikarenakan saling ketergantungan terhadap keputusan Ae keputusan menyangkut implementasi high-performance green building. Pembahasan Indikator Ae indicator proess yang signifikan dapat berguna untuk melacak progress untuk mencapai sasaran proyek selama implementasi konstruksi highperformance green building. Selain itu indicator Ae indicator proses tersebut dapat memberikan wawasan praktis dan Teknik manajemen untuk tim pelaksana proyek. Walaupun demikian, sangatlah penting untuk sadar bahwa hasil penelitian ini sifatnya indikatif, bukan sebab-akibat. Sebagai contoh, dalam penelitian ini mengamati tingkatan green building yang lebih tinggi ketika simulasi energi dilakukan pada tahapan awal proses desain. Secara logis, hasil ini dapat menyarankan bahwa simulasi energi secara dini dapat dijadikan informasi untuk pengambilan keputusan dari proses desain yang berhubungan dengan performa energi dari bangunan. Di sisi lain, jika modeling energi tidak dilakukan dan disejajarkan dalam pengambilan keputusan, dampaknya terhadap performa bangunan ikut menurun secara signifikan. Jadi indicator Ae indicator ini berperan sebagai tonggak/ titik tolak ataupun pembuka jalan dalam suatu jalur yang mengarah pada sasaran dari proyek. Indicator Ae indicator tersebut dapat digunakan untuk melacak dan memprediksi performa dalam wujud informasi selama implementasi high-performance green building, dan bahkan berperan dalam seleksi anggota tim konstruksi. Beberapa cara kuantifikasi indicator proses telah dilaksanakan dalam proyek Ae proyek konstruksi pada umumnya. Namun penelitian dalam konteks implementasi arsitektur hijau memiliki cara exploratory, studi kasus, atau melalui pendapat ahli. Sedangkan hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa, sangatlah mungkin untuk mengkuantifikasikan atribut Ae atribut implementasi yang memberi dampak pada hasil implementasi proyek high-performance green building, dan mengidentifikasi indicator Ae indicator proses untuk suksesnya konsep green, biaya, dan jadwal didalam proyek konstruksi bangunan. Hasil penelitian juga mendukung pentingnya integrasi tim dalam tahap awal proses desain. Peningkatan jumlah metode komunikasi, melakukan model simulasi energi yang dilaksanakan sebelum tahap desain skematik, dan keterlibatan kontraktor dalam desain dalam penelitian ini ditemukan sebagai faktor Ae faktor yang kritikal, dimana selaras dengan rekomendasi dunia industry untuk memfasilitasi desain integrative untuk hasil high-performance green building (Reed, 2. (High-Performance Architecture Sebagai Indikator Proses Pengukuran Kerangka Konseptual Arsitektur Hijau Pada Bangunan Non-Residensia. Jurnal Ilmiah DeSciArs ISSN x - x Volume 1. No. Desember 2021 Grafik 4. 1 Indikator Proses . kuran sampel (N), nilai-. berkorelasi dengan tingkatan green building . ndex high-performance green buildin. Grafik 4. 2 Indikator Proses . kuran sampel (N), nilai-. berkorelasi dengan pertumbuhan biaya Grafik 4. 3 Indikator Proses . kuran sampel (N), nilai-. berkorelasi dengan perkembangan (High-Performance Architecture Sebagai Indikator Proses Pengukuran Kerangka Konseptual Arsitektur Hijau Pada Bangunan Non-Residensia. Jurnal Ilmiah DeSciArs ISSN x - x Volume 1. No. Desember 2021 PENUTUP Simpulan Penelitian ini mengkuantifikasi atribut Ae atribut implementasi yang memberi dampak pada hasil proyek high-performance green building dan memberi kontribusi dengan memberikan 23 indikator Ae indikoator proses secara statistic untuk memperkirakan suksesnya hasil konsep green, biaya, dan jadwal dari proyek tersebut. Berdasarkan hasil evaluasi, implementasi indicator Ae indicator yang paling penting yaitu penggunaan metode rancang-bangun, owner yang memiliki visi green dan sustainable, melaksanakan simulasi pencahayaan dan energi sedini mungkin dan tidak melebihi tahap desain skematik, kemampuan owner dalam membentuk scope dan dalam pengambilan keputusan, pemilihan kontraktor, dan melibatkan kontraktor dalam tahap pengembangan Sampel yang digunakan pada penelitian ini terbatas pada bangunan nonresidensial yang telah memiliki sertifikat green building dimaksudkan untuk meminimalkan keragaman dalam hasil yang diberikan oleh performa bangunan. Hasil penelitian dapat diaplikasikan dan bermanfaat dalam merancang bangunan dengan konsep arsitektur hijau yang memiliki performa tinggi. Saran Penelitian lebih lanjut dapat dilakukan dengan mengembangkan focus terhadap tipe bangunan residensial untuk dievaluasi. Ruang lingkup untuk penelitian lebih lanjut juga sebaiknya meneliti bangunan diluar geografi Indonesia untuk mendeteksi kondisi geografi yang berbeda, budaya, kearifan local, ketersediaan teknologi, inovasi, yang mungkin mempengaruhi hasil dari performa bangunan. Tidak menutup kemungkinan bahwa ada indicator proses yang dapat berkorelasi dengan hasil performa bangunan yang tidak dipertimbangkan dalam penelitian ini, seperti variable Ae variable yang berhubungan dengan karakteristik, timing, frekuensi pembahasan desain, ataupun keputusan kritis yang harus diambil yang bisa memiliki pengaruh terhadap hasil performa bangunan yang dapat diteliti lebih lanjut. Analisis secara mendetail dari saling ketergantungan antara pengambilan keputusan dan indicator proses butuh untuk dikembangkan agar lebih baik lagi dalam merepresentasikan hubungan antara metode implementasi, proses, dan strategi pengambilan keputusan. Penelitian selanjutnya juga dapat berfokus pada analisis mendalam terhadap studi kasus tertentu dengan tujuan untuk mengidentifikasi indicator proses yang mendukung suksesnya implementasi proyek high-performance green (High-Performance Architecture Sebagai Indikator Proses Pengukuran Kerangka Konseptual Arsitektur Hijau Pada Bangunan Non-Residensia. Jurnal Ilmiah DeSciArs ISSN x - x Volume 1. No. Desember 2021 DAFTAR PUSTAKA