Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknologi https://journal. id/index. php/ABDIKAN ISSN 2828-4526 (Media Onlin. | ISSN 2828-450X (Media Ceta. Vol. 4 No. 2 (Mei 2. 134-144 DOI: 10. 55123/abdikan. Submitted: 21-04-2025 | Accepted: 07-05-2025 | Published: 20-05-2025 Peningkatan Keterampilan Guru dan Pendampingan Orang Tua dalam Kelas Blended Learning di SD Demak Ijo Daniel Ari Widhiatama1. Valentina Dyah Arum Sari2*. Angelina Dyah Arum Setyaningtyas3 1,2* Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Pendidikan Bahasa Inggris. Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Yogyakarta. Indonesia Psikologi. Fakultas Psikologi. Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Yogyakarta. Indonesia Email: 1daniel@mercubuana-yogya. id, 2valentina@mercubuana-yogya. , 3angelina@mercubuanayogya. Abstract This community service activity is aimed at teachers and parents of students at Demak Ijo Elementary School. Yogyakarta. The purpose of this activity is to increase the understanding of Demak Ijo Elementary School teachers about multimodal learning and how to implement it in the classroom. In addition, teachers were also introduced to the blended learning method and they were also trained to design digital teaching materials with the LUMI Education application. Apart from focusing on teachers, this community sevice activity also aims to hold a webinar for parents of Demak Ijo Elementary School students so that they can apply the right strategies in accompanying their children both during synchronous and asynchronous The results of this activity show that teachers are able to design digital materials with LUMI Education as the platform. In addition, on the parents' side, they get the opportunity to dialogue and ask directly to the presenters related to what strategies parents can do to be able to assist students optimally. Keywords: Blended Learning. Digital Learning Materials. Teachers and Parents Collaboration. LUMI Education. Multimodal Learning. Abstrak Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini ditujukan bagi guru-guru dan orang tua siswa di SD Negeri Demak Ijo. Yogyakarta. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman guru-guru SD Negeri Demak Ijo tentang pembelajaran dengan basis multimodal serta bagaimana menerapkannya di kelas. Selain itu, guru-guru juga diperkenalkan dengan metode pembelajaran berbaur . lended learnin. dan mereka juga dilatih untuk mendesain bahan ajar digital dengan aplikasi LUMI Education. Selain berfokus pada guru-guru, kegiatan PkM ini juga bertujuan untuk menggelar webinar yang diperuntukkan bagi para orang tua siswa SD Negeri Demak Ijo agar dapat menerapkan strategi yang tepat di dalam mendampingi putera-puteri mereka baik ketika berlangsung pembelajaran syncrhonous maupun asyncrhonous. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa guru-guru mampu mendesain materi digital dengan LUMI Education sebagai platformnya. Selain itu, di sisi orang tua, mereka mendapatkan kesempatan untuk berdialog dan menanyakan secara langsung kepada pemateri terkait dengan strategi apa saja yang bisa orang tua siswa lakukan untuk dapat mendampingi siswa dengan maksimal. Kata Kunci: Blended Learning. Desain Bahan Ajar Digital. Kolaborasi Guru dan Orang Tua. LUMI Education. Multimodal Learning. PENDAHULUAN Di tengah laju perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat, keterampilan penggunaan teknologi menjadi kunci utama dalam dunia pendidikan modern. Penguasaan teknologi yang tepat akan tidak hanya membantu guru untuk menciptakan proses pembelajaran yang lebih interaktif dan adaptif, tetapi juga memberikan ruang bagi siswa untuk belajar secara mandiri dan kreatif (Kundu et al. , 2. Kendati demikian, tidak semua guru dan orang tua memiliki kesiapan yang cukup untuk menghadapi tuntutan ini. Masih ditemukan guru di sekolah dasar yang mengalami kendala dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran secara efektif, terutama karena masih sedikitnya pelatihan profesional dan fasilitas Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Daniel Ari Widhiatama1. Valentina Dyah Arum Sari2. Angelina Dyah Arum Setyaningtyas3 ABDIKAN (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknolog. Vol. 4 No. 134 Ae 144 pendukung (Trust & Whalen, 2. Di sisi lain, orang tua juga terkadang menghadapi kesulitan dalam mendampingi anak belajar di rumah, khususnya dalam mengelola pembelajaran bauran . lended learnin. di mana metode ini merupakan penggabungkan antara pembelajaran daring dan tatap muka (Garrison et al. Dengan hadirnya berbagai macam jenis teknologi dan metode pengajaran, maka kemampuan siswa untuk belajar secara mandiri . utonomous learnin. menjadi isu penting di era digital ini (Broadbent & Poon, 2. Oleh karena itu, kompetensi guru dan orang tua dalam penggunaan teknologi perlu ditingkatkan untuk mendukung penerapan blended learning dan membangun budaya belajar mandiri sejak pendidikan dasar. Pendekatan blended sejatinya perlu didasari dengan pemahaman guru akan pembelajaran multimodal karena perpaduan keduanya akan meminculkan pengalaman belajar yang adaptif dan bermakna. Dalam blended learning, siswa akan berhadapan dengan materi dengan berbagai format digital seperti video, audio, simulasi interaktif, maupun teks dalam bentuk animasi. Menurut (Moreno & Mayer, 2. , pembelajaran dengan multimodal berpotensi untuk meningkatkan pemahaman dan retensi informasi karena mampu menghadirkan lebih dari satu saluran kognitif. Picciano . menambahkan bahwa dengan adanya multimodalitas maka desain instruksional pembelajaran akan mampu mengakomodasi siswa dengan berbagai gaya belajar. Dengan demikian, multimodalitas tidak hanya sebagai komplementer tetapi sebagai fondasi penting di dalam mewujudkan pembelajaran bauran yang efektif, khususnya dalam konteks pendidikan dasar yang membutuhkan pendekatan visual dan interaktif. Hal ini tentunya juga sejalan dengan teori tentang VARK (Visual. Auditory. Reading/Writing, dan Kinenstheti. yang dicetuskan oleh Fleming dan Mills pada tahun 1992. Meskipun pembelajaran bauran dan multimodal dianggap sebagai aspek yang penting, nampaknya guruguru di sejumlah Sekolah Dasar di Indonesia masih mengalami kendala dalam menguasai teknologi yang Penelitian dari Indrayani et al. menunjukkan bahwa masih terdapat sekolah yang mana penguasaan Teknologi. Informasi dan Komunikasi (TIK) Ae nya masih harus ditingkatkan. Hal ini juga terjadi di SD Negeri Demak Ijo Yogyakarta yang mana pengetahuan guru-guru tentang blended learning dan pembelajaran multimoda masih terbatas. Sementara itu, pemerintah saat ini melalui Permendikbudristek Republik Indonesia No. 12 Tahun 2024 tentang Pendidikan Anak Usia Dini. Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah pasal . ayat 2 yang menyatakan bahwa kurikulum dirancang untuk mengembangkan kompetensi peserta didik melalui pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan, minat, dan kemampuan peserta didik atau sering disebut sebagai pembelajaran berdiferensiasi. Berdasarkan hasil observasi awal, ditemukan bahwa sebagian besar guru belum mampu mengintegrasikan aplikasi pembelajaran berbasis digital dengan maksimal. Hasil wawancara menunjukkan bahwa para guru masih membutuhkan beberapa pelatihan tentang cara mengoptimalkan penggunaan teknologi, terutama untuk mengelola blended learning. Para guru bahkan masih sangat awam dengan konsep blended learning, prinsip-prinsip penerapannya, lalu aplikasi pembelajaran apa saja yang bisa dipakai untuk mendukung pembelajaran bauran. Lebih jauh, mereka juga belum memahami pentingnya pembelajaran dengan multimodal terhadap peningkatan daya nalar siswa. Para guru masih menerapkan sistem pembelajaran konvensional dengan media utama yakni buku ajar. Hasil diskusi dengan perwakilan orang tua juga menunjukkan bahwa mereka menjumpai sejumlah kendala di dalam mendampingi putera-puterinya di dalam belajar di rumah. Kendala tersebut antara lain bahwa orang tua merasa kesulitan di dalam mengontrol putera-puteri mereka di dalam menggunakan handphone. Anak-anak cenderung lebih banyak bermain handphone untuk tujuan selain yang mendukung pembelajaran, seperti menonton Youtube, bermain games, atau mengirim pesan pendek dengan temannya dengan aplikasi WhatsApp. Kendala yang lain seperti penguasaan strategi yang tepat di dalam pendampingan belajar secara daring dan juga jenis-jenis teknologi yang tepat diberikan untuk mereka. Kondisi ini berdampak pada semakin lebarnya kesenjangan keterampilan belajar mandiri antar siswa. Masalah berikutnya adalah keterbatasan waktu yang dimiliki orang tua di dalam mendampingi anak dikarenakan kesibukan mereka. Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis berupa program peningkatan literasi digital bagi guru dan orang tua siswa di SD Negeri Demak Ijo Yogyakarta untuk membekali mereka dengan keterampilan yang dibutuhkan dalam mendukung pembelajaran siswa secara lebih efektif dan Sebagai upaya untuk menjawab permasalahan tersebut, program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk mengembangkan keterampilan guru SD Negeri Demak Ijo dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran bagi siswa guna meningkatkan autonomous learning mereka dan juga memberikan penjelasan kepada orang tua terkait dengan metode pendampingan belajar secara blended learning yang tepat. Aplikasi LUMI Education dipilih sebagai platform pembelajaran dalam kegiatan ini karena kemampuannya dalam Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Daniel Ari Widhiatama1. Valentina Dyah Arum Sari2. Angelina Dyah Arum Setyaningtyas3 ABDIKAN (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknolog. Vol. 4 No. 134 Ae 144 menyediakan antarmuka yang sederhana namun fungsional untuk menghasilkan konten pembelajaran yang Dengan LUMI Education, guru-guru dapat membuat modul-modul berbasis HTML5 dengan elemen seperti kuis, video interaktif, dan simulasi, yang dapat oleh siswa secara mandiri kapan saja dan di mana saja. Ditambahkan oleh Panadero . , platform ini memungkinkan adanya personalisasi dan interaksi aktif dari siswa yang mana mampu meningkatkan motivasi serta kemandirian belajar siswa. Untuk lebih meningkatkan peran orang tua dalam mendukung proses pembelajaran di rumah dan demi meningkatnya prestasi siswa, dilaksanakan webinar khusus bagi orang tua siswa. Webinar ini bertujuan memperkenalkan` konsep dasar blended learning dan strategi-strategi yang bermanfaat untuk mendampingi siswa dalam belajar di rumah. Berdasarkan temuan dari (Rapanta et al. , 2. , webinar merupakan salah satu metode yang cukup efektif ketika dipakai sebagai media dalam pelatihan berbasis komunitas dilihat dari efisiensi waktu dan biaya, serta kemampuannya membangun literasi digital peserta. Di samping itu, webinar memungkinkan orang tua dari berbagai latar belakang untuk mengakses materi dan diskusi secara fleksibel, tanpa batasan geografis, serta menyediakan ruang tanya jawab yang memperkuat pemahaman mereka (Alawamleh et al. , 2. Kombinasi antara platform LUMI bagi siswa dan webinar bagi orang tua diharapkan mampu menciptakan pendekatan dua arah yang saling melengkapi dalam membangun suasana dan lingkungan pembelajaran digital yang kolaboratif dan berkelanjutan. Dengan pencapaian tujuan-tujuan tersebut, diharapkan SD Negeri Demak Ijo dapat menjadi model penerapan pembelajaran campuran yang adaptif dan inklusif di tingkat pendidikan dasar. PELAKSANAAN DAN METODE Kegiatan PkM di SD Negeri Demak Ijo ini berjalan dengan 3 tahapan, yakni persiapan kegiatan, pelaksanaan kegiatan, dan evaluasi kegiatan. Persiapan Kegiatan Kegiatan persiapan untuk penyelenggaraan PkM ini meliputi wawancara dengan kepala sekolah dan guru mengenai permasalahan yang dihadapi dengan kegiatan pembelajaran dengan pengintegrasian teknologi. Setelah itu, diadakan juga sesi wawancara singkat dengan perwakilan orang tua siswa via panggilan WhatsApp. Tahapan ini sangat penting agar masalah yang dihadapi sekolah, guru dan orang tua siswa menjadi teridentifikasi. Pelaksanaan Kegiatan Kegiatan lokakarya ini dibuka oleh Drs. Tangsi Sasmita. Pd. , selaku kepala sekolah SD Negeri Demak Ijo. Beliau membuka kegiatan lokakarya dan sembari menekankan bahwa workshop ini akan bermanfaat bagi para guru dalam meningkatkan pengalaman mengajar siswa utamanya dalam mengintegrasikan teknologi di dalam pembelajaran. Secara umum, kegiatan PkM ini dibagi menjadi 2 sesi, yakni sesi offline . dan sesi online . Sesi luring diselenggarakan di sekolah dan diikuti oleh sebanyak 15 orang guru dari berbagai kelas dan mata pelajaran yang ada di SD Negeri Demak Ijo yang beralamat di Modinan. Banyuraden. Gamping. Sleman. Yogyakarta. Kegiatan pertama yakni pemaparan materi tentang bahan ajar digital berbasis multimodal dan juga contoh-contoh penerapan dan teknologi yang bisa dipakai di dalam Guru-guru diajak untuk melihat secara langsung contoh bahan ajar yang berbasis multimodal dan perbedaannya dari bahan ajar konvensiona. Ada sejumlah aplikasi yang bisa diintegrasikan seperti Flipbook. Flippity. Canva. Story Jumper dan Storyboardthat dengan fungsinya masing-masing. Peserta workshop juga dberikan kesempatan untuk mencoba masing-masing aplikasi di atas dengan menggunakan laptop dan smartphone masing-masing. Pelatihan yang kedua yakni tentang pemaparan tentang dasar-dasar pengaplikasian kelas dengan model pembelajaran bauran dan dilanjutkan dengan penerapan penggunaan aplikasi LUMI Education di kelas. Sesi ini berlangsung di hari dan tempat yang sama dengan pelatihan yang pertama. Dalam pelatihan ini, pemateri memberikan landasan teori tentang apa itu blended learning atau pembelajaran bauran dan juga jenis-jenisnya. Selanjutnya pemateri menjelaskan kelebihan dari blended learning dan manfaatnya di dalam Sebagai kegiatan inti, pemateri memberikan penjelasan tentang bagaimana aplikasi LUMI Education bisa diterapkan di kelas dengan fitur-fitur yang ada. Para peserta juga diajak untuk turut mencoba mendesain satu unit bahan ajar sesuai mata pelajaran yang diampu oleh masing-masing peserta dengan aplikasi tersebut. Kegiatan yang ketiga berlangsung secara online dengan tema Peningkatan Pendampingan Siswa oleh orang tua dalam Pembelajaran Bauran. Kegiatan ini dilaksanakan dengan menyelenggarakan webinar untuk meningkatkan pemahaman orang tua mengenai cara melibatkan diri dalam pembelajaran blended learning Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Daniel Ari Widhiatama1. Valentina Dyah Arum Sari2. Angelina Dyah Arum Setyaningtyas3 ABDIKAN (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknolog. Vol. 4 No. 134 Ae 144 dengan anak-anak mereka untuk mendorong mereka menjadi pembelajar yang autonomous. Selain itu, orang tua juga diajak untuk menerapkan strategi yang tepat dalam mendampingi siswa ketika belajar dengan pembelajaran bauran serta membangun budaya belajar mandiri . utonomous learnin. di kalangan siswa, yang menjadi kunci keberhasilan pendidikan jangka panjang. Autonomous learning terbukti memiliki korelasi positif dengan peningkatan motivasi belajar, kemampuan metakognitif, dan hasil akademik siswa, terutama ketika didukung oleh lingkungan belajar yang kolaboratif dan berbasis teknologi (Broadbent & Fuller-Tyszkiewicz, 2. Evaluasi Kegiatan Evaluasi dilakukan di akhir kegiatan untuk dapat memastikan bahwa kegiatan pelatihan dan webinar yang telah dilaksanakan dapat diikuti dan diimplementasikan dengan baik oleh guru dan orang tua siswa di SD Negeri Demak Ijo. Instrumen yang dipakai untuk mengevaluasi kegiatan pelatihan untuk guru adalah kuesioner dengan Google Form yang berfokus pada sejumlah indikator berikut: Tabel 1. Indikator Evaluasi Program Pelatihan untuk Guru No. INDIKATOR EVALUASI Mampu menjelaskan konsep pembelajaran dengan multimodal Mampu menyebutkan platform yang dapat mendukung pembelajaran berbasis multimodal. Mampu menyebutkan pinsip-prinsip dalam penerapan blended learning Mampu menyebutkan tujuan penggunaan LUMI Education Mampu menyebutkan prinsip-prinsip dalam mendesain bahan ajar baik digital maupun konvensional Mampu mendesain bahan ajar memakai LUMI Education Sedangkan untuk orang tua siswa, evaluasi dilakukan langsung pada saat kegiatan berlangsung dengan menanyakan pendapat mereka tentang jalannya webinar, manfaat yang diambil, dan juga harapan mereka terhadap sekolah ketika pembelajaran bauran ini dilaksanakan di semua kelas secara serentak. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan PkM ini terbagi menjadi 2 tahap, yakni tahap tahap pelatihan dan webinar, dan yang kedua adalah tahap evaluasi. Secara garis besar, ada 3 sesi yang dilaksanakan secara daring untuk sesi pertama yakni tentang pengenalan pembelajaran dengan mutimodalitas dan sesi kedua tentang penerapan pembelajaran bauran dengan aplikasi LUMI Education. Untuk sesi ketiga yakni webinar untuk peningkatan strategi pendampingan belajar siswa dalam pembelajaran bauran dilaksanakan secara daring. Tahap Pelatihan dan webinar Sesi ke-1: Workshop tentang Pentingnya Penerapan Multimodalitas dalam Modul Pembelajaran Online Setelah sambutan dari kepala sekolah, sesi selanjutnya disampaikan oleh Valentina Dyah Arum Sari. Pd. Hum. Seperti yang terlihat pada Gambar 1, sesi dimulai dengan penjelasan berbagai macam gaya belajar siswa yang dikenal dengan VARK turut dijelaskan. Fleming dan Mills adalah pihak pertama yang mengenalkan VARK pada tahun 1992 yang oleh (Karim et al. , 2. dijabarkan menjadi Visual. Auditory. Reading/Writing, and Kinesthetic. Sekalipun mengidentifikasi gaya belajar siswa merupakan satu strategi yang krusial, namun (Mayer, 2. berpendapat bahwa memberikan metode pembelajaran dan materi pembelajaran dengan tujuan pembelajaran yang tepat dinilai lebih penting dibandingkan dengan menemukan gaya belajar siswa itu sendiri. Sejumlah pemikiran dari para peneliti lain juga muncul dan mengatakan bahwa teori ini berpotensi untuk membatasi potensi siswa dari mencoba strategi belajar yang lain (Pashler et al. , 2. Siswa dinilai bisa memiliki lebih dari satu jenis preferensi belajar dan Kress . menyebutnya sebagai konsep multimodal dalam belajar di mana siswa menggunakan berbagai mode belajar baik visual, audio, kinestetik, maupun spasial secara terintegrasi di dalam proses pembelajaran. Terkait dengan hal tersebut, pemateri kemudian menekankan kepada para guru agar ketika menyampaikan materi ajar sebaiknya juga memberikan opsi jenis moda yang dipakai. Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Daniel Ari Widhiatama1. Valentina Dyah Arum Sari2. Angelina Dyah Arum Setyaningtyas3 ABDIKAN (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknolog. Vol. 4 No. 134 Ae 144 Gambar 1. Guru Mengikuti Sesi Pertama tentang Pembelajaran Berbasis Multimodal Pemateri juga memaparkan sejumlah dampak positif dari penggunaan model multimodal yang mana menurut (Hafner, 2. akan mampu meningkatkan kemandirian siswa dalam belajar. Hal ini didukung oleh pendapat Magnuson yang menyampaikan bahwa pembelajaran dengan multimodal tidak hanya membuat siswa semakin autonomous tetapi juga termotivasi dalam belajar. Oleh sebab itu, dalam kegiatan ini guru-guru juga diberikan contoh seperti ketika siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi pembelajaran, mereka dapat memutar kembali video pembelajaran yang direkam. Hal ini membuat semangat belajar mereka bertambah karena mempelajari materi semakin lebih mudah dan juga mereka dapat mengatur strategi belajar mereka secara mandiri. Manfaat yang lainnya adalah siswa dapat mengupload video mereka ke berbagai platform publik dengan segala kreatifitas yang ada. Dengan merekam video kreasi mereka, maka secara tidak langsung mereka juga belajar untuk mengenali audiens di dunia maya (Kim & Lee, 2. Materi selanjutnya yang disampaikan oleh Valentina Dyah Arum Sari. Pd. Hum. adalah mengenai sejumlah hal yang harus diperhatikan oleh guru dan sekolah ketika akan menerapkan pembelajaran dengan Pertama, siswa harus memiliki kedisiplinan diri yang tinggi . elf-disciplin. , khususnya dalam hal metakognisi yang terkait dengan kapan bagaimana mereka harus belajar dan kapan mereka harus mengganti strategi belajar di luar kebiasaan mereka (Bezemer & Kress, 2015. Moreno & Mayer, 2007. Kedua, pembelajaran multimodal menuntut agar siswa dapat mencurahkan gagasan dan guru juga harus mampu untuk memahami pilihan dari siswa terkait dengan metode yang mereka kehendaki (Nouri 2. Dengann demikian, melibatkan siswa dalam pembelajaran merupakan hal yang lebih penting dari sekedar menyampaikan bahan ajar itu sendiri. Ketiga, penguasaan teknologi baik oleh guru maupun siswa harus diperhatikan oleh sekolah. Guru memiliki kewajiban untuk mengorganisir, memfasilitasi dan mengatur ritme pembelajaran agar siswa memiliki kemampuan untuk berinteraksi dan juga kesadaran sosial di dalam masyarakat global yang sangat unik (Fedorenko, 2. Beberapa teknologi yang biasa guru pakai di dalam berinteraksi secara synchronous maupun asynchronous antara lain Zoom. BookCreator. StoryJumper, dan Storyboard yang dipadukan dengan Vocaroo. Canva/Microsoft Powerpoint Slides dan Google Slides. Wordwall juga menjadi salah satu aplikasi digital yang dikenalkan dalam pelatihan ini karena dinilai dapat meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa di kelas (Widhiatama & Brameswari, 2. Di akhir sesi semua guru diajak untuk melihat bagaimana aplikasi-aplikasi tersebut dipakai dan mereka juga mencoba secara mandiri dengan gawai masing-masing. Sesi ke-2: Workshop tentang Cara Penggunaan LUMI Education dalam Blended Learning Selanjutnya, penjelasan mengenai blended learning disampaikan oleh Daniel Ari Widhiatama. Pd. Hum, salah satu Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris dari UMBY (Universitas Mercu Buana Yogyakart. Para guru diberikan beberapa dasar tentang pentingnya blended learning dalam pendidikan saat ini. Blended learning sering didefinisikan sebagai penggabungan antara pembelajaran dan penyampaian bahan ajar secara tatap muka dengan pembelajaran berbantuan teknologi (Garrison et al. Pemateri menekankan bahwa dalam pelaksanaannya, siswa tidak harus selalu hadir bersama-sama secara fisik di satu tempat. Namun, mereka bisa terkoneksi secara digital melalui platform online. Pemateri memberikan contoh bahwa dalam pembelajaran bauran, siswa tetap bisa hadir di kelas secara tatap muka, namun juga tetap harus mengerjakan tugas secara daring atau online di luar jam pembelajaran atau di luar Kendati demikian, segala aspek pembelajaran yang terjadi baik secara daring dan luring harus terintegrasi satu sama lain dengan mengacu ke tujuan pembelajaran yang sama. Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Daniel Ari Widhiatama1. Valentina Dyah Arum Sari2. Angelina Dyah Arum Setyaningtyas3 ABDIKAN (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknolog. Vol. 4 No. 134 Ae 144 Gambar 2. Guru Mengikuti Pelatihan Sesi Kedua tentang Blended Learning Berikutnya, sperti yang terlihat pada Gambar 2, pemateri menjelaskan sejumlah contoh pembelajaran bauran yang terbagi menjadi beberapa model sesuai teori dari (Hannon & Macken, 2. Yang pertama adalah model blended presentation and interaction. Dalam model ini, kegiatan pembelajaran terjadi secara tatap muka, sedangkan bahan pembelajarannya tersedia secara online. Model kedua yakni blended block. Pada model ini, pembelajaran secara tatap muka akan berlangsung seperti biasa dalam waktu tertentu, misalnya satu hari atau setengah hari. Model yang ketiga adalah fully online. Di dalam model ini, semua kegiatan pembelajaran akan terselenggara secara daring dengan tatap muka langsung . maupun tidak langsung . dan begitu juga materi bahan ajar akan diberikan secara daring. Dari 3 model di atas, sekolah maupun guru dapat memilih model mana yang tepat untuk diterapkan di konteks masing-masing. Agar tujuan dari pelatihan ini terlaksana, maka Daniel Ari Widhiatama. Pd. Hum. mengenalkan salah satu aplikasi yang disebut dengan LUMI Education. Dipilihnya LUMI Education sebagai platform yang dikenalkan kepada guru dikarenakan beberapa keunggulan yang tidak semua platform pembelajaran lain Fitur-fitur yang ada pada LUMI Education sesuai dengan apa yang ditekankan oleh teori Cognitive Theory of Multimedia Learning (CTML) oleh (Mayer & Fiorella, 2. Di teori tersebut ditekankan bahwa penggunaan teks, gambar, audio dan video secara terintegrasi akan mengurangi beban kognitif siswa dalam mempelajari suatu konsep. Secara tidak langsung. LUMI sudah menerapkan pembelajaran multimodal. Selain hal ini. LUMI Education juga menjalankan prinsip-prinsip UDL (Universal Design Learnin. yang mana salah satunya adalah menciptakan pembelajaran yang bisa diakses oleh semua pihak (Meyer et al. Aplikasi ini merupakan sebuah platform yang dirancang untuk memudahkan guru dalam mendesain konten pembelajaran interaktif dengan sederhana tanpa memerlukan kemampuan coding. Basis teknologi yang dipakai adalah H5P (HTML 5 Packag. LUMI memiliki sejumlah aktifitas yang menarik dan mampu meningkatkan keterlibatan siswa dalam belajar seperti kuis interaktif . ilihan ganda, isian singkat, benar/sala. , video interaktif, permainan edukatif . encocokan, teka-tek. , presentasi interaktif, dan banyak lagi. Di bawah ini adalah contoh hasil uji coba guru SD N Demak Ijo di dalam mengupload video Youtube sebagai sumber belajar ke dalam laman LUMI Education yang beliau desain seperti yang terlihat pada Gambar 3 di bawah ini. Gambar 3. Penggunaan Video dalam LUMI Education sebagai Salah Satu Sumber Belajar Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Daniel Ari Widhiatama1. Valentina Dyah Arum Sari2. Angelina Dyah Arum Setyaningtyas3 ABDIKAN (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknolog. Vol. 4 No. 134 Ae 144 Dalam pelatihan ini guru-guru juga diminta untuk membuat soal latihan dari bahan ajar yang sudah dibuat dalam bentuk video maupun teks. Gambar 4 di bawah ini merupakan contoh soal latihan sebagai hasil dari praktek guru: Gambar 4. Soal latihan yang dihasilkan guru dengan LUMI Education Sesi ke-3: Diskusi daring tentang Penerapan Strategi di dalam Pendampingan Belajar Siswa selama Pembelajaran Bauran Workshop selanjutnya dibawakan oleh Angelina Dyah Arum S. Psi. Psi. Psikolog. Topik yang diangkat adalah bagaimana meningkatkan prestasi siswa dalam konteks blended learning melalui keterlibatan orang tua. Sebanyak 15 orang tua berpartisipasi dalam acara ini melalui Zoom. Pembicara tamu memulai dengan penjelasan mengenai apa itu Blended Learning dan manfaatnya. Setelah itu, ada penjelasan tentang apa yang harus dilakukan orang tua untuk terlibat dalam pendidikan anak-anak mereka, terutama dalam situasi blended learning. Banyak pertanyaan yang muncul di kotak obrolan dan sebagian besar orang tua bertanya tentang apa yang harus dilakukan orang tua untuk menghadapi instruksi guru terutama ketika anak-anak mereka harus menggunakan ponsel cerdas mereka untuk mengerjakan beberapa tugas dan bagaimana mengelola waktu layar mereka dengan bijak dan efektif. Workshop ini diselenggarakan sebagai respon terhadap permasalahan yang dihadapi orang tua siswa di SD Bumijo dalam mendampingi putera-puterinya selama pembelajaran berbasis pembelajaran bauran yang menggabungkan sesi synchronous . atap muka virtua. dan asynchronous . elajar mandir. Pemateri pada sesi ini yakni Angelina Dyah Arum S. Psi. Psi. Psikolog. menjelaskan bahwa siswa SD masih berada dalam tahap perkembangan kognitif konkret sehingga mereka sangat membutuhkan perhatian dan pendampingan aktif dari orang tua dalam memahami instruksi, mengatur ritme belajar, mengatur waktu, dan menjaga motivasi belajar. Peran orang dewasa maupun teman yang lebih mampu atau disebutr juga scaffolder akan berpengaruh pada kemampuan mereka untuk menyelesaikan tugas yang mana hal ini sesuai dengan teori Zone of Proximal Development yang diungkapkan oleh Vygotsky pada tahun 1978. Gambar 5. Webinar untuk Orang Tua Siswa SD Demak Ijo Sejumlah strategi praktis turut disampaikan oleh pemateri pada sesi ini, antara lain adalah kiat-kiat apa saja yang harus dijalankan oleh orang tua saat mendampingi anak-anak selama sesi synchronous dan Pada sesi synchronous, yang mana terlihat pada Gambar 4 di atas, orang tua bisa memastikan terlebih dahulu bahwa koneksi internet lancar dan perangkat seperti smartphone dan laptop bisa berfungsi Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Daniel Ari Widhiatama1. Valentina Dyah Arum Sari2. Angelina Dyah Arum Setyaningtyas3 ABDIKAN (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknolog. Vol. 4 No. 134 Ae 144 dengan baik. Selain itu orang tua juga perlu mendampingi anak dalam mengelola fokus, mencatat informasi yang sekiranya penting, dan juga mengatur ulang fokus mereka terhadap materi ketika muncul distraksi. Dalam kegiatan belajar dengan moda asynchronous, orang tua juga diarahkan untuk membangun kebiasaan belajar yang konsisten, membantu anak membuat target belajar harian, serta menuliskan refleksi pendek usai kegiatan belajar selesai. Dalam peneliatiannya. Rasheed et al. , . menemukan bahwa dukungan emosional dan logistik dari rumah akan membuat pembelajaran bauran lebih optimal terutama bagi siswa SD. Di sesi akhir sebelum sesi tanya jawab. Angelina Dyah Arum Setyaningtyas. Psi. Psi. Psikolog. menyampaikan beberapa teknologi dan platform pembelajaran yang bisa dipakai sebagai pendukung di dalam mendampingi siswa selama belajar dengan sistem bauran. Beberapa di antaranya adalah Google Calendar yang bisa dipakai untuk pengelolaan belajar, kemudia Class Dojo sebagai alat penghubung untuk komunikasi antara guru dan siswa, kemudian Edpuzzle sebagai media yang bisa dipakai anak untuk menonton video interaktif. Orang tua juga diajak memahami pentingnya memberi feedback yang positif dan tidak terlalu menuntut hasil, namun lebih fokus pada proses belajar anak. Data dari UNESCO . menegaskan bahwa peran keluarga menjadi faktor kunci dalam memastikan keberhasilan pendidikan jarak jauh dan campuran, khususnya di negara-negara berkembang. Dengan pelatihan ini, diharapkan para orang tua dapat menjadi mitra aktif sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang stabil, suportif, dan responsif terhadap kebutuhan perkembangan anak. Tahap Evaluasi Untuk mengetahui efektivitas dari kegiatan pelatihan ini, terdapat 2 hal yang dilakukan oleh tim pengabdi, yakni pengumpulan data pre-test dan post-test lalu proses analisa data dengan menggunakan paired t-test. Pengumpulan Data Pre-Test dan Post-Test Terdapat sejumlah aspek kompetensi yang dipakai untuk mengevaluasi kegiatan, antara lain adalah pemahaman tentang aspek pembelajaran multimodal, pengetahuan tentang faktor pendukungnya, prinsip-prinsip blended learning, tujuan penggunaan LUMI Education, prinsip dalam mendesain bahan ajar, serta kemampuan praktis dalam mendesain bahan ajar menggunakan LUMI Education. Setelah data terkumpul dalam bentuk presentase capaian kompetensi, selanjutnya data-data tersebut dianalisa secara kuantitatif untuk mengukur peningkatan hasil belajar peserta. Analisa Data dengan Paired T-test Dari tabel perbandingan skor pre-test dan post-test yang nampak pada Tabel 2 menunjukkan bahwa semua indikator mengalami peningkatan yang konsisten. Peningkatan tertinggi terlihat pada indikator AuMenyebutkan platform pembelajaran multimodalAy . ari 76,7% ke 96%) dan AuMenjelaskan konsep pembelajaran multimodalAy . ari 87,4% ke 98%). Namun demikian, peningkatan paling kecil terlihat pada kemampuan AuMendesain bahan ajar memakai LUMI EducationAy, yaitu dari 70,7% ke 78%. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun ada peningkatan, kompetensi ini masih membutuhkan pendalaman lanjutan dan praktik yang lebih intensif, mengingat sifatnya yang teknis dan aplikatif. Tabel 2. Hasil Pre-test dan Post-test Kegiatan PkM No. INDIKATOR EVALUASI Mampu menjelaskan konsep pembelajaran dengan Mampu menyebutkan platform yang dapat mendukung pembelajaran berbasis multimodal. Mampu menyebutkan pinsip-prinsip dalam penerapan blended learning PRE-TEST 87, 4% POST-TEST 76,7% 74,0% 80,2% 94,2% 89,5% 96,8% 70,7% Mampu menyebutkan tujuan penggunaan LUMI Education Mampu menyebutkan prinsip-prinsip dalam mendesain bahan ajar baik digital maupun konvensional Mampu mendesain bahan ajar memakai LUMI Education Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Daniel Ari Widhiatama1. Valentina Dyah Arum Sari2. Angelina Dyah Arum Setyaningtyas3 ABDIKAN (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknolog. Vol. 4 No. 134 Ae 144 Untuk mengetahui efektivitas pelatihan secara statistik dan untuk mengetahui kebermanfaatan dari pelatihan ini secara holistik, dilakukan uji paired t-test terhadap hasil pre-test dan post-test. Hasil uji A t-statistik = 6,25 A p-value = 0,0015 Karena nilai p-value lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05 . < 0,. , maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara skor pre-test dan post-test. Artinya, pelatihan ini memiliki dampak yang signifikan terhadap peningkatan pemahaman dan keterampilan peserta dalam menerapkan pembelajaran berbasis multimodal dan pemanfaatan teknologi pendidikan. Secara metodologis, asumsi-asumsi dasar dari uji paired t-test telah melalui sejumlah pertimbangan. Data berskala rasio . , bersifat berpasangan, dan selisih antara pre-test dan post-test tidak menunjukkan adanya penyimpangan besar . xtreme outlie. dari distribusi normal. Meskipun uji normalitas formal (Shapiro-Wilk tes. tidak dilakukan karena jumlah sampel yang terbatas . , pola distribusi selisih nilai yang terlihat cukup simetris dan stabil dianggap memadai untuk memenuhi asumsi normalitas. Pandangan ini didukung oleh (Lumley et al. , 2. dan De Winter . , yang menyatakan bahwa uji t tetap dapat digunakan terhadap pelanggaran asumsi normalitas, terutama dalam penelitian dengan sampel kecil, asalkan tidak terdapat outlier yang signifikan dan data tidak sangat menyimpang dari distribusi Sehingga, uji paired t-test dianggap valid untuk digunakan dalam konteks ini. Kendati dari hasil dari uji paired t-test bisa diketahui bahwa terdapat peningkatan kompetensi guru di dalam memahami konsep pembelajaran bauran, pembelajaran multimodal dan juga dalam pembuatan bahan ajar menggunakan LUMI Education, namun pelatihan lanjutan tetap dirasa perlu karena proses adaptasi ini tidak bisa selesai dalam waktu yang singkat dan harus berkesinambungan. Pelatihan lanjutan juga akan sangat diuperlukan bagi guru yang belum terbiasa dengan teknologi atau pendekatan pedagogi baru dan mereka akan membutuhkan waktu untuk membangun kompetensi, merefleksikan praktik dan mengembangkan kepercayaan diri mereka. Selain itu, peran serta dari dinas pendidikan setempat akan menjadi sangat penting di dalam mendukung dan menjamin keberhasilan program pelatihan ini sehingga semua target kompetensi guru dapat tercapai secara cepat. Keterbatasan Program Kendati program pelatihan ini bisa dikatakan efektif berdasarkan data hasil uji t-Test di atas, namun masih ditemukan sejumlah kendala yang dihadapi para peserta pada saat mengikuti kegiatan ini. Yang pertama adalah faktor usia guru dan adaptasi teknologi. Di dalam kegiatan tersebut, terdapat beberapa guru yang sudah berusia lebih dari 50 tahun merasa kesulitan di dalam menjalankan program, terutana pada saat harus memasukkan identitas . lamat e-mail, username, dan juga passwor. , menemukan tombol tertentu di dalam program LUMI Education, dan ketika menginput audio dan video. Kedua, beberapa guru merasa kesulitan di dalam memamahi instruksi di dalam program yang mana adalah bahasa Inggris. Sejauh ini belum tersedia pilihan bahasa di dalam aplikasi ini. Permasalahan yang lain adalah beberapa guru lupa dengan password e-mail sehingga perlu membuat akun yang baru. Hal ini tentu menjadi faktor yang memperlambat jalannya Sekolah perlu mewajibkan semua guru untuk memiliki akun G-mail dan juga selalu mengingat passwordnya masing-masing. Solusi yang bisa diterapkan ke depan untuk menyelesaikan kendala ini adalah perlunya pendampingan teknis secara berkala dan berulang. Dengan adanya small group coaching maka guru bisa lebih cepat menguasai aplikasi ini dengan lebih cepat dan fokus pada praktek. Adanya kerjasama antar guru dengan sistem pendamping AuGuru MentorAy akan menciptakan suasana kolaboratif dan saling dukung, tanpa tekanan Di samping itu, perlu adanya pembuatan modul panduan visual dan video tutorial. Hal ini akan membantu guru di dalam mengulang proses secara mandiri di rumah masing-masing sesuai dengan kecepatan belajar mereka. Terkait dengan webinar pendampingan kelas dengan pembelajaran berbaur, hampir seluruh orang tua mengaku bahwa mereka mendapatkan banyak pengetahuan baru dan masukan dari pembicara. Selain itu, adanya webinar ini juga menyadarkan mereka bahwa pendampingan belajar sangat perlu di tengah kesibukan mereka sebagai orang tua yang cukup padat. Mereka juga mengaku bahwa perlu adanya peningkatan kompetensi untuk pendampingan siswa di dalam belajar terlebih dalam konteks pembelajaran Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Daniel Ari Widhiatama1. Valentina Dyah Arum Sari2. Angelina Dyah Arum Setyaningtyas3 ABDIKAN (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknolog. Vol. 4 No. 134 Ae 144 PENUTUP Secara keseluruhan, kegiatan pelatihan ini telah berlangsung dengan baik dan memberikan manfaat bagi para guru dan orang tua siswa. Guru-guru semakin berani untuk mencoba hal baru dan bereksplorasi di dunia digital yang semakin cepat berkembang. Peran dari kepala sekolah dan stakeholder yang ada tentu menjadi penentu keberhasilan dari proses peningkatan profesionalitas guru ini. Ke depannya, guru diharapkan dapat menerapkan keterampilan baru dalam proses pembelajaran di kelas, baik secara daring, luring, maupun bauran. Sedangkan untuk mengakselerasi penguasaan guru di dalam menerapkan pembelajaran bauran dan pembelajaran berbasis multimodal, perlu diselenggarakan sistem pendamping AuGuru MentorAy dan juga AuSmall Group CouchingAy. Orang tua siswa dengan adanya kegiatan ini juga bersyukur karena diberikan penguatan dan juga pendampingan. Di masa yang akan datang diharapkan sekolah dapat menggelar program literasi digital untuk orang tua yang berfokus pada penggunaan perangkat digital secara aman dan produktif. Simpulan Dari kegiatan PkM (Cai et al. , 2. ini dapat disimpulkan bahwa guru-guru harus mau beradaptasi dengan perkembangan teknologi untuk bisa memberikan kualitas pendidikan yang lebih baik dan menantang bagi Adanya pelatihan dan peningkatan kompetensi para guru di semua level penting untuk dilaksanakan supaya mereka terus berusaha untuk meningkatkan skills mereka utamanya di dalam mengembangkan bahan ajar yang berkiblat pada UDL. Selain itu, upaya ini juga harus dibarengi dengan kerjasama yang baik dengan orang tua siswa agar tetap memberikan pendampingan intensif kepada siswa dan juga fasilitas yang Saran Setelah adanya workshop untuk guru dan webinar untuk orang tua ini, diharapkan ada keberlanjutan program yang diadakan oleh sekolah secara mandiri terkait dengan pemantauan kemampuan guru-guru di dalam mendesain bahan ajar dengan basis multimodal dengan menggunakan LUMI Education dan aplikasi Beberapa kendala ini justru memberikan ilham bagi para pemateri agar ke depan bisa disiapkan video tutorial yang bisa disimak peserta sebelum workshop berjalan agar kegiatan bisa berjalan dengan lancar dan mengurangi permasalahan teknis. Sementara untuk orang tua disarankan untuk selalu memonitor perkembangan belajar putera-puterinya agar mampu mengidentifikasi permasalahan dalam belajar dan memberikan support yang sesuai (Widhiatama & Brameswari, 2. DAFTAR PUSTAKA