Jurnal Jendela Matematika Volume 1 No. 2 Juli 2023 ISSN: 2986-7134 (Prin. / ISSN: 2985-9875 (Onlin. The article is published with Open Access at: https://w. id/index. php/JJM Eksperimentasi Model Pembelajaran Creative Problem Solving Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas Vi SMPN 1 Kasreman Tika Sindi Fardani1 A. STKIP Modern Ngawi Arum Dwi Rahmawati2. STKIP Modern Ngawi Anwas Mashuri 3. STKIP Modern Ngawi A tikacindy55@gmail. com1, arum. dr21@gmail. com2 , anwas. 1@gmail. Abstract: The purpose of this study was to see the difference between the CPS model and direct learning on the critical thinking skills of students in class Vi SMPN 1 Kasareman on statistics. The sampling technique used is the Cluster Random Sampling sample. which consisted of two classes, the experimental class (Vi B) was given the CPS model, while the control class (Vi C) was given direct learning. Hypothesis testing is done by t-test. The conclusions that can be drawn from this study are . there is an average CPS difference in mathematics learning outcomes of 75. 17, and direct learning gets an average of 61. The CPS model gives better results than direct learning. The conclusion of this study is that the CPS model is more effective than direct learning in terms of the increased pretest and posttest results. class with the CPS model treatment which has a higher average of students' mathematical critical thinking skills Keywords: Creative Problem Solving. critical thinking. Abstrak: Tujuan penelitian ini untuk melihat perbedaan model CPS dengan pembelajaran langsung terhadap kemampuan berfikir kritis matematika siswa kelas Vi SMPN 1 Kasareman materi teknik pengambilan yang digunakan adalah sampel Cluster Random Sampling. terdiri dari dua kelas. Kelas eksperimen (Vi B) diberikan model CPS, sedangkan kelas kontrol (Vi C) diberikan pembelajaran langsung. Pengujian hipotesis dilakukan dengan Uji-t. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah . Didapatkan perbedaan hasil belajar matematika CPS rata-rata 75,17, dan pembelajaran langsung mendapat rata-rata 61,55. Model CPS memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran langsung. Kesimpulan dari penelitian ini adalah model CPS lebih efektif dari pada pembelajran langsung ditinjau dari hasil pretest dan posttes yang meningkat. kelas dengan perlakuan Model CPS yang memiliki rata-rata lebih tinggi terhadap kemampuan berpikir kritis matematika siswa Kata kunci: Pemecahan Masalah Kreatif. berpikir kritis. Received 1 Juli 2023. Accepted 8 Juli 2023. Published 20 Juli 2023 Citation: T S Fardani1. A D Rahmawati2. A Mashuri 3. Eksperimentasi Model Pembelajaran Creative Problem Solving Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas Vi SMPN 1 Kasreman. Jurnal Jendela Matematika. Vol 1 . , 63-68. Copyright A2021 Jurnal Jendela Matematika Published by CV. Jendela Edukasi Indonesia. This work is licensed under the Creative Commons Attribution-Non Commercial-Share Alike 4. 0 International License. T S Fardani1. A D Rahmawati2. A Mashuri 3 PENDAHULUAN Pendidikan adalah basis pentinguntukkemajuansesuatubangsa. Di mana pendidikan Bisa mengubah kehidupan seseorang bahkan takdir bangsa menjadi lagiBagus. Pendidikan menurut Sumarmo(Munir, 2. bahwa matematika selalu dibutuhkan di dalam kehidupan setiap orang. Bagus di dalam membentuk Yang paling sederhana, likecount isi atau berat, juga bukan di dalam membentuk kompleks, menyukai menyelesaikan masalah matematika dengan menggunakan bermacam-macam fakta atau definisi yang mana hanya Bisa Selesai oleh kelompok orang yakin. Pembelajaran matematika sangat erat kaitannya dengan berpikir,Memikirkan adalah prosesindrawi. Ingat di dalam sedang belajar. Yang hasil adalah Akuisisi pengetahuan. Proses memikirkan satu sama lain terkait dengan perilaku lainnya Dan membutuhkan partisipasi aktif pemikir melalui koneksi kompleks Yang terbentuk melalui pemikiran. Dalam Berdasarkan(Azizah et al. , 2. Memikirkan kritis adalah berpikir secara logis dan sistematis dalam mengambil keputusan atau memecahkan suatu masalah yang ada dan mampu konsep atau komunikasi Untuk membentuk kepercayaan Dan tindakan langsung,atau Yang memiliki dihasilkan. Mereka juga mengatakan bahwa keterampilan berpikir kritis merupakan salah satu keterampilan yang harus dimiliki setiap orang dalam aktivitas sehari-hari dan hanya individu yang berkompeten yang memiliki kemampuan untuk mengembangkannya. Kemampuan memikirkan kritis adalah kemampuan berpikir yang sangat tinggi dan harus dikembangkan. Selain itu, berpikir kritis dan kreatif dapat dikembangkan saat mengambil keputusan, mengevaluasi dan memecahkan berbagai masalah (Karim & Normaya, 2. Oleh karena itu, ketika belajar matematika harus memiliki landasan berpikir kritis sehingga dapat merumuskan masalah untuk memecahkan masalah matematika tersebut Berdasarkan hasil observasi di SMPN 1 Kasreman dengan guru matematika kelas Vi memberikan informasi bahwa model pembelajaran masih menggunakan model pembelajaran langsung. lalu kapan murid diberikan contoh pertanyaan Dan sejumlah pertanyaan Belajar mandiri sebagai contoh, bagian besar murid Bisa menjawab dengan Benar. Tetapi Kapan pertanyaan baru diajukan dengan Sedikit modifikasi. Tetap menggunakan teori Yang Sama,TetapBanyak murid Yang TIDAK mampu jawab dan Tetap Bingungselesaikan itu. Selain itu, ketika siswa diberikan soal yang berkaitan dengan penerapan konsep statistika dalam kehidupan sehari-hari, misalnya mencari rata-rata tinggi badan di kelas, mencari median suatu data, dan mengetahui modus suatu data, siswa masih mengalami banyak kesulitan. Ada juga siswa yang menanggapi topik yang Namun masih banyak siswa lain yang diam dan kurang memberikan respon yang Di dalamurusan Ini Mungkin disebabkan kemampuan memikirkan kritis murid Yang lemah. Di mana murid TIDAK mampu memahami draf masalah dengan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari Indikator kemampuan berpikir kritis menurut(Hidayat et al. , 2. dapat diungkapkan melalui aspek-aspek perilaku yang dinyatakan dalam definisi berpikir kritis. Keterampilan berpikir kritis dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga kemampuan, yaitu: C Klarifikasi dasar Indikator yang diukur dalam kemampuan ini adalah pemusatan pertanyaan. mengidentifikasi dan merumuskan masalah untuk mempertimbangkan kemungkinan C Membangun Keterampilan Dasar Kemampuan ini mencakup indikator mempertimbangkan kredibilitas suatu sumber, yaitu mempertimbangkan prosedur yang tepat berdasarkan sumber atau informasi yang ada. C Menyimpulkan T S Fardani1. A D Rahmawati2. A Mashuri 3 Kemampuan ini meliputi inducing indicator dan mempertimbangkan hasil induksi yaitu menarik kesimpulan dari hasil investigasi dengan baik. Dalam penelitian ini indikator berpikir kritis yang digunakan peneliti adalah kemampuan siswa yang masih rendah dalam menarik kesimpulan terhadap suatu masalah Salah Satu metode Untuk mengembangkan memikirkan kritis pada peserta didik SMP adalah menggunakan metode sedang belajar Yang sesuai. Metode mendalam pembelajaran ini adalah metode pemecahan masalah. Untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritismetode sedang belajar berdasarkan pemecahan masalah Bisa menjadi solusi. Karenadengan menggunakanmetode sedang belajar pemecahan masalahmelibatkan siswapenuh di dalam pemecahan masalah sedang belajar matematika, pendidik hanya sebagai penyedia. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode tersebut sedang belajar pemecahan masalah itu adalah metode sedang belajarPemecahan Masalah Kreatif. Berdasarkan(Wahyuni et al. , 2. Metode pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) memiliki beberapa keunggulan yaitu membuat siswa aktif dalam mengikuti pembelajaran serta berpikir dan bertindak secara kreatif, kemudian siswa juga dapat mengembangkan kemampuan berpikir, serta merangsang perkembangan berpikir siswa untuk memecahkan masalah secara tepat. Salah satu keterampilan siswa yang dapat mempengaruhi berpikir kritis adalah belajar mandiri. Kemandirian mempengaruhi kemampuan siswa untuk berpikir kritis saat memecahkan masalah. Fitur model sedang belajar CPS di antara lainnya sedang belajar dimulai dengan memberi masalah, masalah yang diberikan berhubungan dengan kehidupan nyata,siswa dalam kelompok dapat aktif untukmerumuskan masalah dan mampu mengenali celah pengetahuan,belajar mandiri dan mencari materi tentang masalah, serta menyampaikan pemecahan masalah. Di sisi lain, pendidik hanya memfasilitasi(Anggraini et al. , 2. Model sedang belajar CPS adalah model sedang belajar Yang berdasarkan Keterampilan pemecahan masalah Yang Berikutnya denganpenguatan keterampilan(Lestari et al. , 2. Dalam penelitian(Mahmudah et al. , 2. mengatakan model sedang belajar CPS memberidampak yang lebih efektif dibandingkan dengan model pembelajaran langsung. Hal ini terlihat dari perbedaan nilai rata-rata posttest kelas eksperimen yang secara umum lebih tinggi dari nilai rata-rata posttest kelas kontrol. CPS dengan kemampuan berpikir kritis diharapkan dapat meningkatkan ketuntasan belajar dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika, sehingga siswa dapat memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya baik dari pembelajaran maupun hasilnya. METODE Peneliti dalam penelitian ini menerapkan jenis kuantitatif dengan menggunakan metode Metode yang digunakan adalahKuasi Eksperimentaldengan Desain Grup Kontrol Tidak Setara. Pada penelitian ini terdapat dua kelas yaitu kelas eksperimen Vi B dan kelas kontrol Vi C bertujuan untuk memperjelas perbandingan antara model Creative Problem Solving dan model konvensional terhadap kemampuan berpikir kritis matematika siswa. Rancangan penelitian yang digunakan peneliti terdapat urutan kegiatan penelitian yaitu ada perlakuan pada kelas eksperimen, tidak ada perlakuan pada kelas kontrol, pre-test dan post-test pada masing-masing kelas. Ujian terakhir setelah seseorang mendapat perlakuan baru bisa membedakan. Berikut adalah tabel desain penelitian Tabel 1. Desain Penelitian Kelompok Percobaan Pretes Perlakuan Tes pasca T S Fardani1. A D Rahmawati2. A Mashuri 3 Kontrol Keterangan: : Eksperimen kelompok pretest. : Pretes kelompok kontrol. : Menggunakan model pembelajaran Creative Problem Solving. : Menggunakan model pembelajaran konvensional. : hasil tes kemampuan berpikir kritis kelompok eksperimen. : hasil tes kemampuan berpikir kritis kelompok kontrol. Tahapan dalam penelitian yang dilakukan penulis adalah: . mengidentifikasi tujuan penelitian, . mengumpulkan bahan penelitian . menganalisis informasi yang diperoleh dari observasi . membuat tes instrumen tes sesuai dengan uji validitas, reliabilitas, daya beda, dan juga tingkat kesulitan . memberikan pretest kepada kelompok sampel . memberikan perlakuan kepada kelompok sampel kelas, . kemudian melakukan posttest berupa uraian kelas sampel . mengumpulkan data ( . kemudian nilai hasil setelah dilakukan pengujian dicek dengan menggunakan uji normalitas, homogenitas . analisis hipotesis dengan uji t. kategori tes total 5 soal uraian pada kelas uji coba dengan menggunakan validitas, reliabilitas,tingkat kesulitan dan tes diskriminatif. HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN Hasil yang diperoleh dari data kedua kelompok diolah dan dianalisis meliputi nilai pretest dan posttest pemahaman konsep matematika siswa kelompok eksperimen dan kontrol. Kemampuan memahami konsep awal siswa sebelum mendapatkan pembahasan materi diketahui dari hasil pre-test. Sedangkan kemampuan siswa dalam memahami konsep akhir setelah mendapatkan pembahasan materi diketahui dari hasil post-test. A Deskripsi Data Pre-test Hasil uji normalitas data awal merupakan hasil pre-test dengan uji Lilliefors untuk kelompok eksperimen sedangkan kelompok kontrol diperoleh Karena masing-masing kemudian diterima. Sehingga kedua kelompok sampel berdistribusi normal. Setelah itu dilakukan uji homogenitas pada kedua kelompok. Uji yang digunakan adalah uji F dengan taraf signifikan 5% diperoleh hasil, maka diterima. Sehingga Berdasarkan uji normalitas data, sampel berdistribusi normal dan uji homogenitas memenuhi syarat yaitu memiliki data dengan varians yang sama. Kemudian dapat dilanjutkan dengan melakukan uji keseimbangan awal dengan uji T. Data berikut diperoleh dari: Tabel 2. Hasi Uji Data awal Kelompok Percobaan Kontrol Rata-rata 37,66 Perbedaan 75,40 52,32 Keputusan Deskripsi Data Pasca Tes Hasil uji normalitas data awal yaitu hasil posttest dengan uji Lilliefors untuk sedangkan pada kelompok kontrol kelompok eksperimen diperoleh T S Fardani1. A D Rahmawati2. A Mashuri 3 diperoleh sebesar . Karena masing-masing kelompok kemudian diterima. Sehingga kedua kelompok sampel berdistribusi normal. Setelah dilakukan uji normalitas, uji homogenitas kedua kelompok menggunakan uji F dengan taraf signifikan 5% diperoleh hasil, maka Sehingga kedua kelompok memiliki varians yang sama atau Berdasarkan uji normalitas data yang menyatakan bahwa sampel berdistribusi normal dan uji homogenitas memenuhi syarat yaitu memiliki data dengan varians yang sama. Kemudian dapat dilanjutkan dengan melakukan tes kemampuan akhir dengan menggunakan T-test. Data berikut diperoleh dari: Tabel 3. Hasil Hipotesis Uji T Kelompok Percobaan Kontrol Rata-rata Perbedaan Keputusan H0 ditolak Aktivitas murid menunjukkan hasil Yang positif di dalam aplikasi model sedang belajar CPS. Urusan Inidapat dilihat dari hasil kelas yang baik dan nilai rata-rata tes pembelajaran CPS yang besar dibandingkan respon siswa terhadap pembelajaran SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang diperoleh peneliti disimpulkan bahwa model pembelajaran Creative Problem Solving memberikan dampak positif terhadap kemampuan berpikir kritis matematika siswa dibandingkan dengan model tradisional dengan perolehan t hitung > t tabel dari pengujian hipotesis yang dilakukan. Karena memenuhi tiga kriteriaefektivitas. Dari Di Sini Bisa ditarik kesimpulan sebagai mengikuti, secara khusus setelah subtema masalah belajar. a Dari hasil perhitungan rata-rata postes yang diperoleh penerapan model pembelajaran CPS dengan rata-rata75. 833 danmodel pembelajaran konvensional mendapatkan rata-rata62. Sehingga penggunaan model pembelajaran CPS mengalami perbedaan dan peningkatan pemahaman konsep matematika pada siswa kelas Vi B dan Vi C SMPN I Kasreman. a Dari hasil pengujian hipotesis diperoleh mendalam penggunaan model pembelajaran CPS dikatakan lebih baik dalam proses pembelajaran siswa kelas Vi SMPN 1 Kasreman. a Aktivitas belajar siswa tergolong aktif selama pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran CPS DAFTAR PUSTAKA