COGNITIVE: JURNAL PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN http://ejournal. org/index. php/cognitive ISSN: 3026-1686 (Onlin. ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN PERSPEKTIF SYED MUHAMMAD NAQUIB AL-ATTAS: LANGKAH REKONSTRUKSI FILOSOFIS ILMU PENGETAHUAN MODERN Mahrus1*. Akh. Fakih2 . Busahwi3 1,2,3 Universitas Islam Negeri Madura. Indonesia *mahrus@iainmadura. Keywords Abstract Islamization. Science. Islamic Education T The development of modern science, supported by a secular paradigm and claims of value neutrality, has given rise to epistemic anxiety among Muslim intellectuals, especially in the context of Islamic education, which faces a dichotomy between religious and general knowledge. This condition has weakened the orientation of values, manners, and the transcendental purpose of science, thus demanding a more fundamental philosophical This study aims to systematically examine the idea of Islamization of knowledge from the perspective of Syed Muhammad Naquib al-Attas as an effort to offer an alternative paradigm for the development of Islamic science in the modern era. The approach used is qualitative with a type of library research. Data collection was carried out through the identification of primary and secondary data sources, a search for relevant literature, data selection based on academic and thematic criteria, recording and documentation of key ideas, and thematic organization of data. Data analysis was carried out through critical reading, concept categorization, and reflective interpretation to capture the meaning relationships between ideas within the framework of Islamic The results of the study show that the Islamization of knowledge according to al-Attas centers on criticism of the secular Western worldview, the affirmation of the concept of adab, and the restructuring of the hierarchy of knowledge based on tawhid. Knowledge is understood not merely as the accumulation of information, but as a process of internalizing true meaning within oneself. This research contributes to the strengthening of Islamic epistemological theory by emphasizing the Islamization of science as a comprehensive epistemological reconstruction project, while also providing practical implications for curriculum development. Islamic education policy, and the formation of civilized This study also opens up space for further exploration regarding the application of the Islamization of science paradigm in the context of contemporary educational institutions and practices. Kata Kunci Abstrak Islamisasi. Ilmu Pengetahuan. Pendidikan Islam Perkembangan ilmu pengetahuan modern yang ditopang oleh paradigma sekuler dan klaim netralitas nilai telah melahirkan kegelisahan epistemik di kalangan intelektual Muslim, terutama dalam konteks pendidikan Islam yang menghadapi dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Kondisi ini berdampak pada melemahnya orientasi nilai, adab, dan tujuan transendental ilmu, sehingga menuntut adanya rekonstruksi filosofis yang lebih mendasar. Penelitian ini bertujuan mengkaji secara sistematis gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan perspektif Syed Muhammad Naquib al-Attas sebagai upaya menawarkan paradigma alternatif bagi pengembangan ilmu pengetahuan Islam di era modern. Pendekatan yang 37 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 3 (Desember, 2. digunakan adalah kualitatif dengan jenis studi pustaka . ibrary researc. Pengumpulan data dilakukan melalui identifikasi sumber data primer dan sekunder, penelusuran literatur yang relevan, seleksi data berdasarkan kriteria akademik dan tematik, pencatatan serta dokumentasi gagasan kunci, dan pengorganisasian data secara tematik. Analisis data dilakukan melalui pembacaan kritis, kategorisasi konsep, dan penafsiran reflektif untuk menangkap relasi makna antar gagasan dalam kerangka epistemologi Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Islamisasi ilmu menurut al-Attas berpusat pada kritik terhadap worldview Barat sekuler, peneguhan konsep adab, dan penataan kembali hierarki ilmu berbasis Ilmu dipahami bukan sekadar akumulasi informasi, melainkan proses internalisasi makna yang benar dalam diri manusia. Penelitian ini berkontribusi pada penguatan teori epistemologi Islam dengan menegaskan Islamisasi ilmu sebagai proyek rekonstruksi epistemologis yang utuh, sekaligus memberikan implikasi praktis bagi pengembangan kurikulum, kebijakan pendidikan Islam, dan pembentukan insan beradab. Kajian ini juga membuka ruang eksplorasi lanjutan terkait penerapan paradigma Islamisasi ilmu dalam konteks kelembagaan dan praksis pendidikan kontemporer. A Cognitive: Jurnal Pendidikan dan Manajemen Pendidikan is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. PENDAHULUAN Para Intelektual Muslim kontemporer saat ini mengalami kegelisahan epistemik ilmu pengetahuan Sebab struktur disiplin ilmu pengetahun dirancang jauh dari makna, nilai, dan orientasi transendental yang seharusnya menjadi landasan etis dan filosofis pada ilmu pengetahuan. Sehingga konstruksi Kurikulum modern memiliki rancangan yang lebih sekuler, yakni memosisikan ilmu sains dan ilmu sosial sebagai entitas yang netral dari nilai, sementara agama dipersempit menjadi ranah normatif dan privat. Kondisi seperti ini menciptakan pola dikotomi keilmuan yang kuat, serta menjadi tantangan bagi Lembaga pendidikan Islam, dalam membentuk karakter peserta didik. Dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum tidak hanya menjadi persoalan konseptual, akan tetapi hal ini menjadi persoalalan yang lebih prinsipil bagi Lembaga Pendidikan tinggi Islam. Secara praktik seringkali ditemukan ketegangan terjadi antara tuntutan akademik modern dan komitmen prinsip nilai keIslaman, yang menciptakan fragmentasi dominasi rasionalitas yang mengabaikan tujuan nilai etik dalam pengetahuan manusia (Hanifah, 2. Secara global realitas perkembangan ilmu pengetahuan Modern . membangun worldview yang sekuler dan dilandaskan pada prinsip dikotomi ilmu yang kentara, sehingga memosisikan ilmu pengetahuan terpisah dengan eksistensi nilai-nilai wahyu dan dimensi spiritual. Mahrus & Fakih - Islamisasi Ilmu Pengetahuan A 38 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 3 (Desember, 2. Secara historis masyarakat Muslim memiliki pengalaman adopsi ilmu modern tanpa kritik epistemologis justru memperlemah orientasi keilmuan dan mengaburkan hierarki pengetahuan dalam Islam, sehingga ilmu cenderung direduksi menjadi instrumen pragmatis yang terpisah dari nilai tauhid, dan Ilmu tidak lagi diposisikan sebagai sarana pengabdian dan pembentukan makna. (Husnaini, 2. Dengan realitas tersebut maka dianggap cukup penting untuk ditelaah Kembali tentang usaha rekonstruksi ilmu pengetahuan dengan Gerakan Islamisasi ilmu pengetahuan. Penelitian tentang Islamisasi ilmu pengetahuan telah dilakukan oleh sejumlah akademisi dengan fokus dan pendekatan yang beragam. Seperti. Hanifah . mengkaji Islamisasi ilmu dalam konteks integrasi keilmuan di universitas Islam Indonesia dengan penekanan pada pengembangan paradigma dan kelembagaan pendidikan tinggi Islam . 8, hlm. 275Ae. Sahidin . secara khusus menempatkan Islamisasi ilmu perspektif Syed Muhammad Naquib al-Attas sebagai jawaban terhadap problem sekularisme melalui proses dewesternisasi dan reintegrasi nilai-nilai Islam ke dalam ilmu kontemporer . 2, hlm. 114Ae. Firnanda dan Husnaini . , beliau mengkaji Islamisasi ilmu sebagai respons terhadap dominasi epistemologi sekuler melalui pembacaan terhadap pemikiran AlFaruqi dan Al-Attas, sekaligus menyoroti tantangan positivisme dan dualisme kurikulum pendidikan Islam. Kajian-kajian tersebut memberikan kontribusi penting dalam membaca Kembali konstruksi ilmu pengetahuan dan memetakan konsep sejarah Islamisasi ilmu, namun pembahasannya masih cenderung menempatkan pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam kerangka normatif atau komparatif. Namun berbeda dengan pola pemikiran Islamisasi ilmu Al-Attas yang lebih mengarah pada perubahan dan rekonstruksi sistem epistemologis yang utuh yang mencakup worldview, adab, hierarki ilmu, serta proses pembentukan makna keilmuan belum banyak dikaji secara mendalam sebagai pengalaman intelektual dan proses sosial dalam pendidikan Islam kontemporer. Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa ilmu tidak pernah bebas nilai, melainkan selalu sarat dengan pandangan hidup peradaban, sehingga dengan ilmu pengetahuan harusnya menjamin akan peradaban yang lebih barmakna. Menurutnya, problem utama perkembangan ilmu modern terletak pada hilangnya orientasi nilai moral Mahrus & Fakih - Islamisasi Ilmu Pengetahuan A 39 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 3 (Desember, 2. dan tujuan transendental yang jelas, sehingga terbangun kontradiktif antara ilmu modern dan agama (Hanifah, 2. Sahidin menunjukkan bahwa Islamisasi ilmu menurut Al-Attas mencakup pembebasan ilmu pengetahuan dari paradigma sekuler, dengan cara proses dewesternisasi, serta integrasi nilai-nilai Islam ke dalam disiplin ilmu yang telah disterilkan dari muatan sekular. Kerangka ini menempatkan Islamisasi ilmu sebagai proses rekonstruksi epistemologis secara total dalam mencapai ilmu yang bebas dari nilai-nilai peradaban sekuler. Sehingga ilmu dan adab . eradaban dan perilak. manusia menjadi satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan (Sahidin, 2. Dalam Kajian ini, penulis konsentrasi pada proses telaah Pemikiran Islamisasi ilmu pengetahuan perspektif Syed Muhammad Naquib al-Attas secara sistematis dengan fokus pada fondasi epistemologis, konsep adab, dan kritik terhadap sekularisme ilmu sebagai usaha atau Langkah dalam merekonstrukksi ilmu pengetahuan Modern. Kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi konseptual bagi penguatan tradisi keilmuan Islam pada era modern sekaligus kontribusi praktis bagi pengembangan Lembaga pendidikan Islam dan rancangan kurikulum Islam yang berorientasi pada tauhid, adab, dan pembangunan peradaban yang lebih akademis dan Humanis. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi pustaka . ibrary researc. , karena objek kajian pada penelitian ini berupa gagasan, konsep, dan konstruksi pemikiran tokoh yang tidak dapat dianalisis melalui prosedur statistik atau pengukuran kuantitatif. Pendekatan kualitatif dipilih untuk memungkinkan peneliti memahami lebih mendalam pola pemikiran Islamisasi ilmu pengetahuan Al-Attas secara holistik dan kontekstual, dengan menekankan makna, struktur argumentasi, serta relasi antar konsep dalam kerangka epistemologi Islam. Studi pustaka relevan digunakan karena sumber utama penelitian berupa karya-karya Al-Attas dan literatur ilmiah yang membahas pemikirannya, sebagaimana ditegaskan bahwa penelitian kualitatif dengan jenis Studi pustaka bertujuan untuk merekonstruksi pemahaman melalui telaah kritis terhadap teks dan wacana keilmuan (Fadli, 2. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran dan inventarisasi sumber-sumber primer dan sekunder. Sumber primer mencakup karya-karya utama Mahrus & Fakih - Islamisasi Ilmu Pengetahuan A 40 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 3 (Desember, 2. Syed Muhammad Naquib Al-Attas yang membahas konsep ilmu, adab, dan Islamisasi ilmu pengetahuan, sedangkan sumber sekunder meliputi buku, artikel jurnal, dan hasil penelitian yang relevan dengan topik kajian. Data dikumpulkan dengan cara membaca secara intensif, mencatat gagasan kunci, serta mengelompokkan konsep-konsep utama yang berkaitan dengan definisi ilmu, adab, dan kritik terhadap epistemologi Barat, serta tujuan Islamisasi ilmu. Teknik ini sejalan dengan praktik penelitian kualitatif pustaka yang menekankan proses pencarian, rekonstruksi, dan pemaknaan data dari berbagai sumber tertulis secara sistematis (Malahati et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Biografi Intelektual Syed Muhammad Naquib al-Attas Syed Muhammad Nauqib Al-Attas dilahirkan di lingkungan keluarga yang memiliki intelektual dan spiritual tinggi serta tradisi keilmuan dan kebudayaan yang Beliau lahir di Bogor pada tanggal 5 September 1931, dari seorang ayah yang memrupakan keturunan Arab-Hadrami dan ibunya merupakan bangsawan Sunda. Dengan latar belakang tersebut, beliau memiliki tradisi keilmuan Islam klasik yang mendalam dan tradisi nusantara yang kental sehingga membentuk cara pandang integratif antara Agama dan Budaya. (Hasanah et al. , 2024, hlm. Pengalaman Pendidikan Al-Attas justru tidak linier, beliau memiliki pengalaman Pendidikan dalam berbagai bidang keilmuan, sehingga beliau lebih integrative dalam mengkontruksi sebuah paradigma terhadap sesuatu, kemudian, dengan pengalman Pendidikannya Pendidikan di Universitas Malaya dan McGill University. Al-Attas memiliki sensitifitas kritis yang serius terhadap konstruksi epistemologis ilmu Barat modern dengan dasar unsur logika peradaban barat yang sekuler. (Sholeh, 2017, hlm. 215Ae. ia juga memiliki pengalaman interaksi intelektual dengan diskursus orientalisme. Filsafat Barat, dan Studi Islam Modern, sehingga ia mampu mengkritisi asumsi-asumsi dasar ilmu barat modern dan memberi konstribusi pemikiran dalam Islamisasi (Yulianto & Baihaki, 2018, hlm. 7Ae. Gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan Al-Attas merupakan hasil dari dialog kritis dalam lintas peradaban dunia, bukan karena ketersaingan intelektual atara barat dan timur. Al-Attas memahami bahwa dalam perkembangan ilmu pengetahuan Modern Mahrus & Fakih - Islamisasi Ilmu Pengetahuan A 41 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 3 (Desember, 2. secara epitemologis dan metodelogis didominasi oleh perdaban barat yang lebih pada pandangan duniawi dan menjauhkan dari demensi nilai-niliai agama dan metafisis serta struktur nilai etika. Oleh karena itu, dalam gagasan Islamisainya lebih pada arah rekonstruksi konseptual dan konstruksi filosofis ilmu pengetahuan. Dengan Gerakan Islamisasinya konstribusi Al-Attas semakin jelas sebab ia menempatkan konsep nilai adab sebagai aspek yang harus diperkuat dalam bangunan ilmu modern. Al-Attas menganggap sedang terjajdi krisis nilai yang kuat dalam perkembangan ilmu modern, dan gagasannya merekomendasikan relasi integrative antara wahyu, akal, dan pengalaman emperis sebagai pandangan alternatif pada arah perkembangan ilmu modern yang terkontaminasi dengan nilai sekularisme. (Hasanah et , 2024, hlm. 423Ae. Dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan modern, gagasan Islamisasi AlAttas, mengampanyekan Islamisasi ilmu pengetahuan tidak hanya sekedar upaya eksklusif terhadap masa lalu, akan tetapi sebagai strategi rekonstruksi epistemology ilmu pengetahuan dengan tujuan untuk mengambalikan martabat pengetahuan non-barat yang dalam perkembangannya direduksi sebagai pengetahuan yang tidak ilmiah dan Secara sosio-kultural, gagasan Al-Attas menguatkan orientasi pemikirannya menjadikan nilai identitas. Bahasa, dan kebudayaan sebagai objek penting dalam membangun epistemology ilmu pengetahuan modern. Pola Islamisasi Ilmu Pengetahuan Menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas Gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan Al-Attas memiliki ligimitasi kuat dalam membangun epitemologi sains dan menguatkan Kembali marwah epistemology Islam, sebab gagasannya didasarkan pada hasil Analisa evaluative filosofis secara kritis terhadap keberadaan ilmu modern bukan dari sikap anti-sains. Al-Attas menyimpulkan bahwa ilmu modern memiliki problem utama yang terletak pada corruption of knowledge, yaitu krisis nilai dan makna serta tujuan, yang disebabkan oleh dominasi dan pengaruh pandangan wordview Barat sekuler yang kuat, sehingga mampu memisahkan ilmu pengetahuan dari sumber transendennya . (Muslih et al. 2021, hlm. 32Ae. Dengan argument tersebut bisa dinilai bahwa Islamisasi ilmu Mahrus & Fakih - Islamisasi Ilmu Pengetahuan A 42 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 3 (Desember, 2. pengetahuan bukanlah proyek ideologis sempit, akan tetapi respon ilmiah secara kritis terhadap perkembangan dan keberadaan ilmu modern yang bebas nilai secara epistemik. Islamisasi saecara epitemik menurut Al-Attas, adalah pembersihan atau penyucian ilmu pengetahuan dari unsur sekuler, atau proses pembersihan sekularisme dari aspek onotologis, epistemologis ilmu dari unsur Barat. Sehingga ilmu menurut beliau adalah sesuatu yang syarat nilai dan terikat dengan pandangan hisup dan mustahil dapat dipiusahkan dari dimensi metafisik dan nilai etika. (Muslih et al. , 2021, hlm. Oleh karena itu, konsep Islamisasi ilmu dapat dibangun dengan argument bahwa setiap ilmu selalu membawa asumsi filosofis dan kepentinagan kultural dalam kajian filsafat Gagasan tersebut di atas muncul dari hasil Analisa Al-Attas yang menilai bahwa nilai Adab dalam perkembangan Ilmu modern dipahami sebagai ketimpangan secara epistemik pada struktur ilmu pengetahuan, sehingga ilmu tidak mampu mencapai pada pembentukan perilaku manusia akan tetapi hanya dipahami sebagai teori saja, dominasi epistemology barat sering menempatkan pengalaman historis non-barat sebagai pinggiran atau tidak ilmiah. Westernisasi ilmu terjadi dan menciptakan degradasi moral dikalangan masyarakat muslim. Gagasan Islamisasi dianggap salah satu Langkah alternatif yang tegas dan sekaligus menjadi konstruksi kritik ilmiah terhadap perkembangan ilmu modern dan sekularisasinya. Islamisasi ilmu modern dalam perspektif Al-Attas merupakan bentuk konsistensi filosofis yang l. ebih ketat dengan Langkah yang tiidak sekedar proses mengintegrasikan Islam dan sains. Abudi Nata mengatakan bahwa respon intelektual Muslim Indonesia terhadap Islamisasi sangat beragam, bahkan Sebagian lebih memilih istilah integrasi karena dianggap lebih moderat. (Nata, 2019, hlm. 200Ae. Namun dengan pendekatan integrasi akan selalu terjebak pada dialog antar disiplin ilmu dengan tanpa menyentuh problematikan secara epistemik . ord vie. , sehingga berpotensi akan dianggap mempertahankan asumsi ilmu modern sekuler secara tidak krkitis. Dengan asumsi integrasi yang dianggap kurang kritis sebagai respon pada perkembangan ilmu pengetahuan modern, maka kemudian muncul gagasan Islamisasi dalam konteks pemikiran Al-Attas yang dinilai lebih memiliki legimitasi yang kuat sebab mengarah pada bentuk kritik epistemologi ilmu modern dan pembenahan pada konstruksi epistemology Islam yang lebih luas. Hilmi menegaskan bahwa pengetahuan Mahrus & Fakih - Islamisasi Ilmu Pengetahuan A 43 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 3 (Desember, 2. dalam Islam bersumber dari wahyu, akal, dan intuisi, yang semuanya memiliki validitas epistemic yang berbeda (Hilmi, 2020, hlm. 251Ae. Wordview seperti ini merupakan respon pada penolakan sains barat terhadap intuisi dan wahyu sebagai epistemologi, dan menunjukkan keterbatasan epoistemologi positivistik serta menegaskan bahwa epistemology Islam tidak lemah. Dengan demikian Islamisasi ilmu dapat dipertahankan sebagai upaya penguatan dan perluasan cakupan epistemology Islam. Dalam konteks gagasan Islamisasi Al-Attas, sebenarnya beliau tidak menolak terhadap temuan emperis dan menerima metode ilmiah, tetapi beliau mengkritik secara mendalam tentang orientasi dan tujuan penggunaannya. Ilmu yang dijauhkan dari nilai transenden akan memiliki kecenderungan menghasilkan kemajuan yang tidak seimbang dengan kematangan moral, sebagaimana tercermin dalam bentuk krisis kemanusiaan pada saat era modern. (Muslih et al. , 2021, hlm. Dalam konteks ini perlu adanya gagasan Islamisasi Ilmu yang berorientasi pada mekanisme rekonstruksi nilai etik dalam ilmu untuk mengarahkan kemajuan sains agar selaras dengan nilai kemaslahatan Pemikiran Al-Attas juga diperkuat dengan kesadaran bahwa ilmu tidak pernah lahir dengan tanpa pengaruh sosial-budaya. Paradigma seperti itu, membuat Islamisasi merupakan kebutuhan eksistensial dan bukan sekedar wacana akademik serta sebagai respons kontekstual terhadap realitas sosial tertentu, bukan universal yang a Islamisasi Ilmu pengetahuan perspektif Syed Muhammad Nauqib Al-Attas dapat dipertahankan sebagai bentuk paradigma alternatif dalam gagasan filsafat ilmu Paradigma ini bukan bersifat reaktif, akan tetapi lebih bersifat sistematis dan berlandaskan pada niliai tradisi intelektual Islam, dengan menemptkan tauhid sebagai prinsip dasar ilmu pengetahuan, dan Al-Attas menawarkan kerangka keilmuan yang mampu menjembatani antara rasionalitas, spiritualitas dan tanggung jawab sosial secara integrative. (Muslih et al. , 2021, hlm. 27Ae. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa Islamisasi pengetahuan bukan proyek Utopis melainkan sebagai Langkah serius untuk merekonstruksi landasan filosofis epistimek agar lebih adil dan bijaksana, serta manusiawi dalam lanskap keilmuan Pemikiran Al-Attas menjaga kualitas dialogis lintas peradaban antara barat dan non-barat yang selama ini lebih beranggapan non-barat sebagai konstruksi berpikir yang kurang ilmiah dan terpinggirkan. Mahrus & Fakih - Islamisasi Ilmu Pengetahuan A 44 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 3 (Desember, 2. Konstribusi Pemikiran Ilamisasi Ilmu Pengetahuan Syed Muhammad Naquib Pada Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam Era Modern Pemikiran Syed Muhammad Nauqib Al-Attas menempatkan problematika keilmuan modern sebagai akar maslah yang perlu dipecahkan dalam konteks peradaban keilmuan Islam modern dan kemanusiaan. Al-Attas secara tegas menyatakan bahwa kemunduran umat Islam bukan disebabkan ketertinggalan ekonomi, sains, dan teknologi, akan tetapi disebabkan oleh cara umat Islam dalam proses menerima dan mengakui keberadaan ilmu pengetahuan barat dengan tanpa proses evaluasi dan Analisa Menurut Al-Attas, ilmu barat bukanlah ilmu yang original karena telah terkontaminasi kuat oleh kebudayaan barat serta dipengaruhi misi sekularisme dalam proses penyebaran dan pengembangannya. Sehingga penerimaan ilmu barat dengan tanpa evaluasi kritis akan menyebabkan umat Islam semakin jauh dari konsep ilmu yang bersumber dari wahyu, dan akan kehilangan arah orientasi epistemologis yang sejati. (Ansor & Zaitun, 2021, pp. 73Ae. Temuan seperti ini mengokohkan kesimpulan AlAttas bahwa persoalan ilmu bukan sekedar persoalan teknis akademik, akan tetapi merupakan persoalan pengaruh peradaban yang berdampak langsung pada cara pandang manusia dalam memahami kebenaran realitas, dan tujuan hidup. Dari temuan tersebut maka terjadi pergeseran fokus dalam proses pembaharuan keilmuan, beliau merekomendasikan proses Islamisasi ilmu pengetahuan harus menuju pada rekonstruksi ilmu pengetahuan secara opntologis dan epistemologis, bukan sekedar integrasi antar disiplin ilmu pengetahuan. Al-Attas secara tegas menolak bahwa ilmu dapat berdiri sendiri dan netral tanpa nilai dan unsur sosio-kultural peradaban manusia, karena setiap ilmu selalu membawa konsepsi tentang realitas dan kebenaran dan tujuan hidup manusia. Kritik beliau terhap epistemology barat adalah keraguan dan skeptisisme sebagai sarana utama dalam pencapaian kebenaran, pedekatan tersebut dalam pandangannya justru akan menghasilkan pengkaburan makna . onfusion of knowledg. dalam kehidupan manusia modern. Secara konsep, pemikiran Al-Attas memberikan konstribusi besar dan signifikan terhadap pemahaman relasi antara ilmu, manusia dan tujuan Pendidikan. Menurutnya ilmu pengetahuan bukan hanya sekedar kumpulan informasi secara akumulatif, akan tetapi merupakan proses AuArrival Of meaning to the soulAy, artinya ilmu merupakan Mahrus & Fakih - Islamisasi Ilmu Pengetahuan A 45 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 3 (Desember, 2. ketersampaian makna kebenaran pada diri manusia. Perspektif ini yang membuat dimensi epistemology Islam semakin luas dan luwes, dengan menempatkan akal, panca indera, dan intuisi sebagai satu kesatuan sumber pengetahuan yang saling melengkapi. Dalam konteks sosial kontemporer, gagasan Al-Attas memiliki relevansi kuat bagi umat Islam yang dianggap marginal oleh barat dalam perkembangan produksi ilmu pengetahuan secara global. Perkembangan ilmu secara global di era modernisasi. Barat selalu dijadikan sebagai standart universal. Dengan gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan Al-Attas menawarkan jalan alternatif supaya umat Islam tidak hanya menjadi konsumen pengetahuan barat, melainkan sebagai subjek yang mampu menafsirkan, mengkritisi dan merekontruksi ilmu sesuai dengan pengalaman historis dan konstruk prinsip nilai kultural peradaban Islam (Muslem, 2019, pp. 49Ae. Langkah Islamisasi Al-Attas tidak hanya berhenti dalam ruang lingkup gagasan, akan tetapi beliau menujukkannya dalam bentuk aksi melalui pendirian Lembaga International Institute Of Islamic Thought and Civilization (ISTAC). Lembaga ini dirancang sebagai ruang aktualisasi dari gagasan Islamisasi ilmu secara konkret dengan konstrusi tujuan membentuk manusia yang berdab, memiliki kesadaran nilai etik, spiritual, dan intelektual secara integratif. Dengan Langkah ini Amanah gagasan AlAttas menunjukkan bahwa Islamisasi bukan sekedara wacana kritis, akan tetapi merupakan Gerakan Lembaga Islam dalam merekonstruksi ilmu pengetahuan secara dinamis dan ilmiah. (Fadly, 2023, pp. 14Ae. Konsep Islamisasi Al-Atas dapat dipahami sebagai Langkah kritis umat Islam dalam berdialog dengan peradaban barat dengan tanpa menghilangkan jati diri epistemology Islam dan bukan Tindakan menolak terhadap modernitas, dan sebagai acuan landasan berpikir umat Islam pasca kolonial pada upaya penafsiran yang relevan dan Langkah strategis terhadap perkembangan modernisasi. Secara keseluruhan pemikiran syed Muhammad Nauqib Al-Attas berkonstribusi pada pembentukan paradigma alternatif yang berakar pada tauhid, adab, dan pandangan hidup umat Islam secara integratif, serta juga mampu menggeser arah orientasi pembaharuan menuju transformasi mendasar cara berpikir dan memaknai ilmu dari pada sekedar adaptasi teknis. Dengan demikian Islamisasi ilmu pengetahuan dipahami sebagai langakah alternatif pada pembentukan intelektual berkelanjutan yang relevan untuk menjawab Krisis makna, identitas, dan kemanusiaan dalam peradaban modern. Mahrus & Fakih - Islamisasi Ilmu Pengetahuan A 46 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 3 (Desember, 2. KESIMPULAN Penelitian ini membahas dan mempertegas tentang gagasan Islamisasi Ilmu pengetahuan perspektif Syed Muhammad Nauqib Al-Attas merupakan Langkah rekonstruksi Filosofis ilmu pengetahuan modern, serta sebagai respon kritis terhadap krisis nilai ilmu modern, sekularisasi ilmu pengetahuan, dikotomi keilmuan, dan lemahnya orientasi nilai transendental. Temuan utama dalam penelitian ini adalah problematika perkembangan ilmu tidak hanya terletak pada aspek metodologis saja, tapi juga pada pandangan hidup . ord vie. dalam membentuk makna kebenaran realitas, dan tujuan pengetahuan. Dalam perkembangan peradaban modern ilmu direduksi menjadi instrument pragmatis dengan tanpa nilai tauhid dan nilai etis. Pemikiran AlAttas menghadirkan konsep perkembangan ilmu modern yang baru, yaitu paradigma ilmu sejati adalah proses ketersampaian makna yang benar ke dalam diri manusia, dan beliau menawarkan konsep Islamisasi dengan bentuk upaya rekonstruksi dasar ontologi, dan epistemologi ilmu pengetahuan yang dilandaskan pada prinsip nilai epistemology Islam, dengna tanpa menolak modernisasi. Implikasi dari temuan ini bersifat konseptual sekaligus praktis. Secara teoritis penilitian ini akan memperkuat diskursus epitemologi Islam dengan meletakkan Islamisasi sebagai konstruksi paradigma alternatif secara sistematis, progresif dan relevan dalam kajian filsafat kontemporer. Secara praktis gagasan Islamisasi memberikan pijkan dasar bagi pembuat kebijakan dan pengelola Pendidikan Islam dalam merumuskan kebijaknnya dan pengembangan kurikulumnya yang berorientasi pada pembentukan manusia beradab, dan menyatukan rasionalitas, spiritualitas dan tanggung jawab sosial secara integral. Dalam konteks sosial-budaya penelitian ini memberikan konstribusi literasi epistemik masyarakat muslim agar mampu bersikap kritis terhadap dominasi peradaban barat di era modernisasi dengan tanpa menolaknya. Serta sebagai agenda pembaharuan berkelanjutan yang bertujuan mengmbalikan arah makna kebenaran, dan martabat peradaban yang lebih manusiawi. DAFTAR RUJUKAN Ansor dan Zaitun. SYED MUHAMMAD NAQUIB AL-ATTAS: ISLAMIZATION OF KNOWLEDGE BY DEVELOPING GENUINE ISLAMIC PARADIGM. Jurnal ISLAMIKA, 4. , 167Ae186. Mahrus & Fakih - Islamisasi Ilmu Pengetahuan A 47 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 3 (Desember, 2. Fadli. Memahami desain metode penelitian kualitatif. Humanika, 21. , 33Ae54. https://doi. org/10. 21831/hum. Fadly. Islamisasi Ilmu dalam Pandangan Syed Muhammad Naquib Al-Attas dan Ziauddin Sardar. JERUMI: Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary, 1. , 12Ae22. Hanifah. Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer (Konsep Integrasi Keilmuan di Universitas-Universitas Islam Indonesia. TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam, 13. , 276. https://doi. org/10. 19105/tjpi. Hasanah. Masyhudi. , & Zalnur. Konsep Islamisasi Ilmu Pengetahuan : Studi Kritis Terhadap Pemikiran Ismail Raji. KHIDMAT: Jurnal Pendidikan Dan Ilmu Sosial, 2. , 423. Hilmi. Islamisasi Ilmu Pengetahuan: Pergulatan Pemikiran Cendekiawan Kontemporer. Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan Dan Keagamaan, 15. , 252. https://doi. org/10. 37680/adabiya. Husnaini. dan M. ISLAMISASI ILMU DI TENGAH ARUS MODERNITAS: ANALISIS TANTANGAN DAN PELUANG BERDASARKAN PANDANGAN AL-FARUQI DAN AL-ATTAS. ALHIKMAH : Jurnal Pendidikan Dan Pendidikan Agama Islam, 7. , 112. Malahati. Jannati. Qathrunnada. , & Shaleh. Kualitatif : Memahami Karakteristik Penelitian Sebagai Metodologi. Jurnal Pendidikan Dasar, 11. , 341Ae348. https://doi. org/10. 46368/jpd. Muslem. KONSEP ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN DAN PENERAPANNYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM (Studi Pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Atta. Tazkiya Jurnal Pendidikan Islam. Vi. , 43Ae66. Muslih. Susanto. , & Perdana. The Paradigm of Islamization of Knowledge According to SMN Al-Attas (From Islamization of Science to Islamic Scienc. Tasfiyah: Jurnal Pemikiran Islam, 5. , 25. https://doi. org/10. 21111/tasfiyah. Nata. Respons intelektual muslim Indonesia terhadap gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan dan relevansinya terhadap tantangan era milenial. TaAodibuna: Jurnal Pendidikan Islam, 8. , 202. https://doi. org/10. 32832/tadibuna. Sahidin. ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN AL-ATTAS MENJAWAB PROBLEMATIKA SEKULARISME TERHADAP ILMU PENGETAHUAN Amir. JURNAL IMTIYAZ, 6. , 113Ae126. Sholeh. Islamisasi Ilmu Pengetahuan Syed Muhammad Naquib Al-Attas Dan IsmaAoIl Raji Al-Faruqi. Jurnal Al-Hikmah, 14. , https://doi. org/10. 32939/Islamika. Mahrus & Fakih - Islamisasi Ilmu Pengetahuan A