Abdi Wisata. Volume 1. Nomor 1. Halaman 23-32. Tahun 2024 e-ISSN x-x | p-ISSN x-x Pelatihan Kewirausahaan AuPesantrenpreneurAy di Pondok Pesantren Darul Ulum. Kabupaten Pamekasan. Pulau Madura. Provinsi Jawa Timur M Tanggap Sasmita1*. Rumba2. Dimas Purnama Dewata3 . Supardi4 . Muhammad Ilham5 Usaha Perjalanan Wisata. Politeknik Pariwisata Lombok Usaha Perjalanan Wisata. Politeknik Pariwisata Lombok Divisi Kamar. Politeknik Pariwisata Lombok Usaha Perjalanan Wisata. Politeknik Pariwisata Lombok. Usaha Perjalanan Wisata. Politeknik Pariwisata Lombok *Email korespondensi: tanggap@ppl. Abstrak Pada era persaingan yang cukup ketat akhir-akhir ini para santri perlu dibekali dengan pengetahuan, keahlian, dan beragam kompetensi para santri agar mampu beradaptasi. Untuk mencapai hal itu salah satunya dengan mengikuti kegiatan inkubasi atau pelatihan kewirausahaan yang sesuai dengan teori pola pikir kewirausahaan yang memungkinkan seseorang untuk lebih berani mengatasi tantangan secara kreatif, mengambil tindakan inovatif dengan dasar itulah diselenggarakan kegiatan pelatihan kewirausahaan AupesantrenpreneurAy di Pondok Pesantren Darul Ulum. Kabupaten Pamekasan. Pulau Madura. Provinsi Jawa Timur dengan tujuan kegiatan adalah untuk membangun jiwa-jiwa wirausaha di kalangan santri, menghasilkan bisnis model, dan prototipe bisnis. Dengan metode pengelolaan kegiatan proyek skrumban dan metode pelaksanan kegiatan dengan kegiatan diskusi, simulasi, dan banyak melakukan pratik dengan mengisi lembar kerja dan canvas yang sudah disediakan, dilakukan selama 3 hari pada tanggal 17-19 Maret 2023 dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang yang merupakan santri Pondek Pesantren Darul Ulum. hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta berhasil mendapatkan pengalaman praktis dan mencapai tujuan yang sudah direncanakan dengan masukan terhadap metode penyampaian materi sehingga lebih mudah dipahami dan diterapkan dan diaplikasikan. Kata kunci: Pelatihan. Kewirausahaan. Pesantren. BMC. Prototipe Riwayat artikel Diajukan Diterima Dipublikasikan : 16 April 2024 : 31 Mei 2024 : 31 Mei 2024 Abstract In an era of increasingly tight competition, students need to be equipped with knowledge, skills, and various competencies to adapt. One way to achieve this is by praticipating in business incubation activities or entrepreneurship training that aligns with entrepreneurial mindset theory, enabling individuals to boldly tackle challenges creatively, and take innovation action. With this in mind, the AuPesantrenprenuerAy entreprenurship training was held at Pondok Pesantren Darul Ulum. Pamekasan Regency. Madura Islan. East Java Province. The Objective of the training was to foster entreprenurial spirit among students, develop business models, and protoype businesses. The activities were managed using scrumban project management method and implemented through discussions, simulations, and practical excersies using provided worksheets and canvases. The training lasted for 3 days from March 17th to 19th, 2023, with 30 participants who were students of Pondok Pesantren Darul Ulum. The results of the training showed that participants gained practical experience and achived the planned objectives, with feedback inidicating that the delivery method of the materials made them easier to understand, apply, and implenet. Keywords: Training. Entrepreneurship. Islamic Boarding School. BMC. Prototype https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 1. Nomor 1. Halaman 23-32. Tahun 2024 e-ISSN x-x | p-ISSN x-x Pendahuluan Dalam acara Santripreneur Award 2023, melalui siaran pers yang dikeluarkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif oleh Hendriyani . Wakil Presiden Republik Indonesia menyampaikan tiga pesan strategis untuk pengembangan kewirausahaan di kalangan santri, yaitu, pertama, para santri harus meningkatkan dan memanfaatkan teknologi digital dalam pengembangan kewirausahaan syariah, kedua agar para santri dapat terus meningkatkan pengetahuan, keahlian, dan beragam kompetensi agar mampu beradaptasi dengan dinamika tren dunia, termasuk dengan mengikuti program inkubasi bisnis digital yang diselenggarakan kementerian/lembaga terkait untuk dapat menggali, mengoptimalkan, dan mengembangkan potensi bisnis kewirausahaan baru untuk mendorong kesejahteraan masyarakat. Ketiga agar para santri dapat memperluas jaringan dan memperkuat sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan terkait, guna mendorong pengembangan kemandirian ekonomi pesantren sehingga dapat menjadi bagian dari upaya pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di tingkat nasional dan daerah. Penciptaan wirausaha baru dari kalangan santri ini adalah dalam rangka untuk menciptakan rasio yang ideal antara pengusaha dan jumlah penduduk dimana menurut Darmansyah, dkk . bahwa minimal 4 % dari populasi penduduk suatu negara adalah pengusaha. Minimnya jumlah pengusaha berpengaruh kepada jumlah ketersediaan lapangan pekerjaan yang mengakibatkan penganguran, sehingga kehadiran wirausaha baru menimbulkan peluang. Pernyataan Wakil Presiden di atas sejalan dengan tulisan dari Nuradhi, dkk . yang menyatakan bahwa pola pikir wirausaha adalah pola pikir yang memungkinkan seseorang untuk lebih berani mengatasi tantangan secara kreatif, mengambil tindakan inovatif atas peluang-peluang yang diperoleh dari proses pengenalan diri dan lingkungannya, serta bertanggung jawab atas keputusan yang diambil sebagai bagian dari caranya untuk berkontribusi dampak positif pada dirinya, keluarganya, lingkunganya, bangsanya, negaranya dan dunia. Pola pikir entrepreneurial mempersiapkan seseorang menjadi pribadi yang menyambut dan menerima kegagalan dan ketidakpastian sebagai bagian dari pembelajaran dan kesempatan untuk meraih kesuksesan. Pola pikir yang membangun kebiasaan seseorang untuk menjadi berani keluar dari zona nyamannya dari waktu ke waktu untuk meraih kesempatan-kesempatan yang datang padanya. Hal ini penting untuk dimiliki karena entrepreneurship tidak menjanjikan kesuksesan dan kemudahan. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekra. berupaya mendorong perekonomian Indonesia, salah satunya adalah melalui berbagai kegiatan kewirausahaan. Kolaborasi dengan stakeholder terus dilakukan oleh Kemenparekraf/Baparekraf dengan berbagai pihak dan salah satunya adalah dengan para santri. Potensi 5 juta santri yang tersebar di 28 ribu lebih pondok pesantren di Nusantara telah ditindaklanjuti dengan kunjungan Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno ke beberapa Pondok Pesantren di Jawa Timur yang didampingi oleh Pusbang SDM dan salah satunya adalah Pondok Pesantren (Ponpe. Darul Ulum di Banyuanyar. Kabupaten Pamekasan. Pulau Madura. Provinsi Jawa Timur. Setelah dari kunjungan tersebut Menparekraf memberikan arahan untuk menghadirkan pelatihan AosantripreneurAo di pesantrenpesantren salah satunya di Pondok Pesantren (Ponpe. Darul Ulum di Banyuanyar. Kabupaten Pamekasan. Pulau Madura. Provinsi Jawa Timur. Pelatihan AosantriprenuerAo diarahkan agar para santri memiliki kemandirian dalam melihat peluang dan menjalankan UMKM. Poltekpar Lombok sebagai lembaga pendidikan tinggi di bawah Kemenparekraf/Baparekraf diharapkan mengambil peran dalam membagun talenta wirausaha di pesantren melalui implementasi tri dharma perguruan tinggi di dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan yang dilaksanakan ini sangat sesuai dengan tulisan Rahmati, dkk . yang menyatakan bahwa ponpes yang menggabungkan pendidikan agama dan entreprenuer memberi pengaruh yang signifikan terhadap aktifitas kewirausahaan, yang dikuatkan oleh beberapa penelitian lain yang menyatakan bahwa tolak ukur aktifitas bisnis tergambar dari agama yang dianut oleh pelaku bisnis tersebut. Dalam artikelnya Dwiwinarno et al . dan Hermanto et. menyatakan bahwa pelatihan kewirausahaan pada santri memiliki manfaat yang besar dalam mengmbangkan potensi wirausaha mereka, melalui sebuah pelatihan santri mendaptkan kompetensi yang diperlukan untuk memulai sebuah bisnis dengan baik. Mereka menjadi lebih siap menghadapi dunia bisnis dan memeiliki kesempatan untuk menciptakan perubahan positif dalam diri dan masayrakat, di lain pihak pelatihan kewirasuahaan juga dapat meningkatkan reputasi pesantren sebagai lembaga yang memberikan pendidikan menyeluruh kepada santrinya. https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 1. Nomor 1. Halaman 23-32. Tahun 2024 e-ISSN x-x | p-ISSN x-x Dalam rangka menindaklanjuti arahan tersebut. Pusat Pelatihan dan Pengembangan SDM (Pusbang SDM) Kemenparekraf/Baparekraf melalui Politeknik Pariwisata Lombok hadir untuk memberikan peningkatan kewirausahaan melalui Unit Kewirausahaan dan Unit Praktek Kerja Nyata dan Bursa Kerja menyelenggarakan Pelatihan Kewirausahaan bagi para santri yang diberi tajuk AuPesantrenprenuerAy dengan tema AuIf opportunity doesnAot knock, build a doorAy yang bermakna bahwa bagaimana membangun sebuah peluang bisnis. Adapun tujuan dari kegiatan ini sejalan dengan arahan dari Kemenparekraf yaitu untuk membangun jiwa-jiwa wirausaha di kalangan santri, mampu menghasilkan Business Model Canvas dan purwarupa dari bisnis sederhana yang dihasilkan selama Metode Pelatihan kewirausahaan ini dilakukan dengan pendekatan project management yang merupakan seperangkat praktik, prinsip, dan teknik yang digunakan untuk merencanakan, melaksanakan, sekaligus mengelola proyek. , metodologi ini membantu project manager dalam memimpin dan mengelola pekerjaan sambil memfasilitasi kolaborasi tim. Metodologi proyek yang digunakan dalam kesempatan pelatihan ini adalah metodologi Scrumban sesuai artikel dari Wulandari . yang merupakan gabungan dari metode scrum dan Dimana metode scrum ini sangat ideal untuk tim kecil yang kurang dari 10 orang, yang pekerjaanya dibagi kedalam beberapa siklus yang dikenal dengan AuprintAy dan biasanya berlangsung sekitar 1 hingga 2 minggu, metode ini dikenal metode yang dipimpin oleh seorang master scrum yang bertugas untuk memimpin rapat, demo, dan sprint. Metode ini sering digunakan juga dalam perencanaan event yang memerlukan fleksibilitas dan tepat digunakan jika sebuah kegiatan selalu berusaha untuk melakukan perbaikan berkelanjutan. Sedangkan metode kanban atau yang dikenal dengan pendekatan visual untuk project management yaitu metode yang membantu mengelola alur kerja dengan menempatkan tugas anggota tim di kanban board . apan reklam. Metodologi kanban membantu mempercepat efisiensi dan melihat alur kerja dan kemajuan bisa dilihat anggota tim, dan mengetahui mana pekerjaan yang macet sehingga bisa diperiksa, metode ini membantu anggota tim untuk fokus terhadap apa yang sedang dikerjakan sehingga menjadi lebih produktif. Jadi metode scrumban menggabungkan hal-hal terbaik dari masing-masing pendekatan, sederhananya metode ini membuat alur kerja lebih jelas namun tetap sederhana, yang berkeinginan memecah proyek menjadi tugas-tugas yang lebih kecil sekaligus membuatnya tetap terlihat sederhana secara visual. Demikian halnya dalam pelaksanaan kegiatan AupesantrenprenuerAy ini memiliki tim yang jumlahnya hanya 8 orang yang merupakan gabungan dari tim Pusbang SDM sebanyak 2 orang. Unit Kewirausahaan dan Unit PKN dan Bursa Kerja sebanyak 4 orang dan tim Akademik dan keuangan sebanyak 2 orang, dimana sebagian juga merangkap sebagai narasumber kegiatan ini. Dipimpin oleh seorang scrum master dari unit kewirausahaan dan mempersiapkan kegiatan membutuhkan waktu 2 minggu hingga kegiatan terlaksana di tengah kesibukan masing-masing, tim menggunakan google drive sebagai media untuk memantau pekerjaan masing-masing tim sehingga bisa fokus dalam menyelesaikan target-target yang sudah Sebagai masukan . dalam metodologi ini adalah adanya rapat pembahasan kegiatan ini dengan Pusbang SDM Kemenparekraf/Baparekraf kepada seluruh Poltekpar diawali dengan penyampaian latar belakang kenapa kegiatan ini perlu dilakukan kemudian output dan outcome yang diharapkan, kemudian disampaikan bentuk kegiatan mulai tema berupa pelatihan santripreneur di pondok pesantren, dengan tempat kegiatan di pondok pesantren tersebut, dengan durasi waktu 1-2 hari menyesuaikan kebutuhan, dan panitia berasal dari poltekpar dan dari pengurus pondok pesantren setempat dan tim pubsang SDM, dan dalam kesempatan ini pula disampaikan pondok pesantren yang ditunjuk untuk pertama kali adalah di Pondok Pesantren Darul Ulum. Banyuanyar. Kabupaten Pamekasan. Madura. Jawa Timur, beserta nomor kontak dari pengurus pesantren. Usulan terkait dengan agenda kegiatan mulai dari registrasi, pembukaan pelatihan, pelatihan wirausaha, coaching, diskusi dan sharing, penutupan pelatihan, dan foto bersama. Untuk pembicara dan peserta dalam rapat tersebut disarankan dari dosen wirausaha di masing-masing poltekpar dan pesertanya adalah santri dari pondok https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 1. Nomor 1. Halaman 23-32. Tahun 2024 e-ISSN x-x | p-ISSN x-x pesantren tersebut dengan skema pembiayaan dari dana pengabdian masyarakat di masing-masing Poltekpar. Tindak lanjut hasil rapat tersebut dari Poltekpar Lombok dilanjutkan dengan rapat dengan pengurus pesantren untuk mengetahui kebutuhan materi pelatihan, ketersediaan peserta, venue, akomodasi, konsumsi pelatihan, transportasi, dan kebutuhan teknis lainnya. Dari rapat dengan pengurus pesantren diputuskan bahwa venue akan dilakukan di salah satu ruangan di Pondok Pesantren, dengan peserta sebanyak 30 orang yang seluruhnya adalah laki-laki sesuai dengan ketersediaan anggaran 000 juta rupiah, untuk kegiatan pelatihan selama 3 hari menyesuaikan dengan materi kebutuhan yang diharapkan dan dapat berkelanjutan, selanjutnya transportasi dan konsumsi selama pelatihan disediakan oleh pihak pondok pesantren. Adapun agenda yang disusun dan disepakati sebagai Gambar 1. Agenda kegiatan Pesantrenpreneur Kemudian selanjutnya dari hasil rapat dengan pengurus pesantren untuk mengetahui kebutuhan maka tim segera membuat timeline persiapan dan membagi tugas untuk yang fokus kepada administrasi kerjasama dan perjalanan, administrasi keuangan, persiapan peralatan dan acara, serta narasumber yang mempersiapkan konten pelatihan yang diambil dari Modul Start Inc yang memang sudah digunakan di Poltekpar Lombok dalam perkuliahan kewirausahaan, dan untuk memudahkan kegiatan ini diduplikasi pada Poltekpar lain atau kegiatan sejenis di kemudian hari, panitia menyusun SOP yang bisa diikuti. Adapun bentuk SOP tertera dalam gambar 2 di bawah ini: Gambar 2. SOP Penyelenggaraan Pesantrenpreneur https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 1. Nomor 1. Halaman 23-32. Tahun 2024 e-ISSN x-x | p-ISSN x-x Jika sebelumnya dibahas metode dalam mengelola kepanitiaan sementara dalam pelaksanaan kegiatan sendiri metode pengabdian masyarakat yang dipakai adalah menggunakan metode yang ditulis oleh Kusuma . yaitu metode diskusi dan metode simulasi. Metode ini setelah narasumber menyampaikan materi maka akan diadakan diskusi dimana cara penyajian informasi dan pengetahuanpara peserta dihadapkan pada suatu masalah yang biasa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama-sama. Pada pelatihan ini 30 peserta akan diminta untuk dapat melihat masalah yang ada di masyarakat dan kemudian mencari solusi yang berpeluang bisnis untuk kemudian dijadikan sebuah bisnis. Artikel ini akan dibahas dengan menggunakan pendekatan fenomenologi yaitu jenis pendekatan kualitatif yang melihat dan mendengar lebih dekat dan terperinci penjelasan dan pemahaman individu tentang pengalaman-pengalamannya. Pendekatan fenomenologi memiliki tujuan yaitu guna menginterpretasikan serta menjelaskan pengalaman-pengalaman yang dialami seseorang dalam kehidupan ini, termasuk pengalaman saat interaksi dengan orang lain dan lingkungan sekitar. Dalam konteks penelitian kualitatif, kehadiran suatu fenomena dapat dimaknai sebagai sesuatu yang ada dan muncul dalam kesadaran penulis dengan menggunakan cara serta penjelasan tertentu bagaimana proses sesuatu menjadi terlihat jelas dan nyata. Pendekatan fenomenologi lebih mengutamakan pada mencari, mempelajari dan menyampaikan arti fenomena, peristiwa yang terjadi dan hubungannya dengan orangorang biasa dalam situasi tertentu. Penelitian kualitatif termasuk dalam penelitian kualitatif murni karena dalam pelaksanaannya didasari pada usaha memahami serta menggambarkan ciri-ciri intrinsik dari fenomena-fenomena yang terjadi pada diri sendiri (Eko Sugianto, 2015:. Dalam artikel ini penulis merupakan pelaku kegiatan sebagai panitia kegiatan dan juga akan menjelaskan pendapat dari para peserta kegiatan setelah kegiatan selesai. Hasil dan Pembahasan Berdasarkan latar belakang dan metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat di atas maka hasil dan pembahasan dari kegiatan tersebut adalah sebagai berikut. 1 Proses Pelaksanaan Pada hari pertama kegiatan dilakukan upacara pembukaan yang dihadiri oleh direktur Poltekpar Lombok dan juga para jajaran pimpinan yayasan darul ulum, dalam upacara pembukaan ini ditandatangani pula MoU antara Poltekpar Lombok dan Ponpes Darul Ulum sebagai dasar pelaksanaan kegiatan, setelah kegiatan pembukaan selesai dilaksanakan kegiatan pelatihan langsung dilakukan dengan pemberian materi dengan metode diskusi dan simulasi. Materi pertama adalah materi Creative Thinking dimana dalam sesi ini peserta diajak untuk berpikir kreatif dengan menggunakan pola pikir seorang designer dengan menghilangkan mental block seseorang untuk dapat berpikir kreatif, pada sesi ini pula diberikan banyak metode-metode bagaimana menjadi kreatif. Sesi selanjutnya di hari pertama pelatihan adalah Building a Team in term of business dalam sesi ini peserta diajarkan untuk bagaimana membangun sebuah tim, memilih anggota tim, dan komposisi tim dalam membangun sebuah bisnis, dan setelahnya peserta diminta untuk langsung membentuk tim dengan peserta lain sehingga dari 30 peserta tercipta 10 kelompok, kemudian dilanjutkan pada sesi selanjutnya yaitu menemukan masalah dengan melakukan eksplorasi di lingkungan mereka masalah apa yang dihadapi oleh target pasar mereka yang dituangkan dalam kanvas yang sudah disiapkan yaitu Value Proposition Canvas sehingga bisa mencoba untuk menghasilkan sebuah solusi dari masalah tersebut dan menjadikannya sebuah peluang bisnis, sesi hari pertama diakhiri dengan pengetahuan umum mengenai kewirausahaan dan pentingnya https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 1. Nomor 1. Halaman 23-32. Tahun 2024 e-ISSN x-x | p-ISSN x-x Gambar 3. Penyampaian pelatihan hari pertama Hari kedua peserta di dalam kelompoknya masing-masing membuat sebuah model bisnis dengan dibantu kanvas yang disebut Business Model Canvas (BMC) yang terdiri dari beberapa blok yang harus diisi seperti target pasar, value proposition, channel. Customer Relationship. Key Activities. Key Partner. Key Resources. Revenue dan Cost, dengan aktivitas ini peserta mendapatkan gambaran model bisnis yang sekiranya akan dijalankan nantinya oleh mereka, selanjutnya aktivitas dilanjutkan dengan memperjelas kembali ide yang sudah mereka hasilkan ke dalam bentuk yang lebih jelas dan sederhana yaitu membuat prototipe, dengan media yang tersedia baik dalam bentuk yang low res maupun yang high res jika bahannya mudah didapatkan, kemudian prototipe ini coba untuk dikumpulkan dan dilaporkan kepada para narasumber dan diberikan komentar masing-masing, sesi terakhir adalah sesi mempersiapkan untuk validasi produk berupa pameran dan bagaimana untuk menyampaikan pitching kepada para dewan juri keesokan harinya. Dalam kesempatan ini juga hadir Kapusbang SDM yang melakukan monitoring terhadap kegiatan. Pada hari kedua ini panitia berkoordinasi kepada pihak pondok pesantren untuk keesokan harinya dapat menghadirkan santri-santri lain untuk dapat hadir pada kegiatan validasi produk Gambar 4. Pelatihan hari kedua penyusunan BMC Hari ketiga peserta mempersiapkan booth/stand masing-masing untuk memajang prototipe masing-masing dan peserta diperkenankan untuk menjual produk prototipe yang sudah mereka hasilkan, tujuan diadakannya adalah untuk mendapatkan masukan dari target pasar terhadap ide/produk barang maupun jasa yang sudah mereka hasilkan, sehingga bisa diperbaiki di kemudian hari, setelah kegiatan tersebut sesi dilanjutkan dengan refleksi dari masing-masing peserta apa yang sudah didapatkan selama pelatihan selama tiga hari dan kemudian mengisi formulir evaluasi yang sudah dipersiapkan oleh panitia, sesi terakhir di hari ketiga adalah pitching dimana dengan waktu hanya 7 menit masing-masing https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 1. Nomor 1. Halaman 23-32. Tahun 2024 e-ISSN x-x | p-ISSN x-x kelompok diberikan waktu untuk memaparkan bisnisnya sehingga membuat para juri tertarik pada bisnis masing-masing, dalam sesi ini pula masing-masing juri memberikan masukan terhadap bisnis masingmasing kelompok dan juga teknik pitching masing-masing kelompok. Sebelum upacara penutupan diumumkan tiga kelompok terbaik yang mendapatkan bantuan modal usaha, dan setelah selesai kegiatan seluruh peserta bergabung dalam sebuah grup whatasapp yang akan tetap dilakukan pendampingan selama 6 bulan setelah selesai kegiatan. Gambar 5. Pelatihan hari ketiga proses pitching 2 Hasil Evaluasi Menurut Widyastuti . Implementasi program harus dievaluasi untuk dapat melihat bagaimana program tersebut berhasil mencapai tujuan pelaksanaan program yang telah direncanakan Tanpa adanya evaluasi, pelatihan yang sudah dilaksanakan kurang dapat ditinjau Dengan demikian kebijakan-kebijakan baru sehubungan dengan program tersebut, tidak didukung dengan data. Oleh karena itu, evaluasi pelatihan bertujuan untuk menyiapkan data dan informasi serta rekomendasi bagi pengambil kebijakan untuk memutuskan dikemudian hari apakah akan melanjutkan, memperbaiki, atau menghentikan sebuah program . Demikian halnya dengan kegiatan pelatihan kewirausahaan ini dilakukan tahapan evaluasi untuk dapat melihat ketercapaian tujuan dan juga sebagai rekomendasi pengambilan keputusan di kemudian hari maka tim pengabdian masyarakat juga melakukan evaluasi dengan menyebarkan kuesioner kepada para peserta dan hasil dari kuesioner evaluasi tersebut adalah sebagai berikut: Gambar 6. Hasil Kuesioner Kejelasan Penyampaian Materi Dari Gambar 7 di atas dapat diketahui bahwa materi yang disampaikan oleh Narasumber sudah sangat jelas dan jelas ini dibantu juga dengan modul yang disediakan oleh panitia untuk seluruh peserta dalam versi cetak yang dirasa sangat membantu bagi para peserta untuk memahami materi yang disampaikan oleh narasumber. https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 1. Nomor 1. Halaman 23-32. Tahun 2024 e-ISSN x-x | p-ISSN x-x Gambar 7. Hasil Kuesioner Kesesuaian Materi dengan Kebutuhan Dari Gambar 8 diketahui bahwa materi yang dipersiapkan dan disampaikan oleh narasumber sudah dapat memenuhi kebutuhan dari para peserta, hal ini menunjukkan bahwa rapat dengan pengelola pondok pesantren sebelum kegiatan yang memaparkan kebutuhan materi-materi pelatihan sesuai dengan yang disiapkan oleh panitia dan narasumber. Hal ini menunjukkan juga bahwa peserta merasa puas karena kebutuhannya sudah terpenuhi Gambar 8. Hasil Kuesioner Peran Aktif Narasumber Peran aktif narasumber sangatlah dibutuhkan dalam jenis pelatihan kewirausahaan seperti yang sudah direncanakan, dikarenakan pelatihan yang dipersiapkan lebih banyak bersifat praktis dan mengisi kanvas yang banyak membantu peserta dalam memahami materi yang diberikan, hal ini tampak dari hasil kuesioner di Gambar 9 dimana narasumber yang dipersiapkan memiliki peran aktif dalam membantu peserta dalam mendorong menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Gambar 9. Hasil Kuesioner Materi yang disampaikan bersifat praktis dan mudah diaplikasikan Dari Gambar 10 dapat diketahui bahwa walaupun materi yang disampaikan bersifat praktis dan mudah diaplikasikan namun ada peserta yang menjawab bahwa materinya kurang praktis dan kurang dapat diaplikasikan, hal ini perlu menjadi perhatian penyelenggara pelatihan di kemudian hari untuk dapat https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 1. Nomor 1. Halaman 23-32. Tahun 2024 e-ISSN x-x | p-ISSN x-x mempermudah bahan materi yang disampaikan sehingga dapat dengan mudah diaplikasikan oleh peserta disesuaikan dengan kebutuhan peserta Gambar 10. Hasil Kuesioner untuk mengikuti kegiatan sejenis di kemudian hari 100% dari peserta yang mengisi kuesioner menyampaikan bahwa jika kegiatan ini diadakan di kemudian hari mereka akan mengikutinya kembali, hal ini menunjukkan ketertarikan yang mendalam bagi para peserta untuk mengikuti pelatihan sejenis di kemudian hari sehingga mau mengikutinya kembali. Gambar 11. Hasil Kuesioner dampak kegiatan kepada peserta Dari Gambar 12 dapat diketahui bahwa peserta merasakan dampak positif kepada dirinya ini menunjukkan bahwa tujuan pertama dari kegiatan pelatihan ini telah tercapai yaitu mulai tumbuhnya nilai-nilai kewirausahaan di kalangan santri, disamping berhasil dihasilkannya 10 BMC dan 10 Ide Simpulan Hasil dari pengabdian kepada masyarakat pelatihan kewirausahaan AuPesantrenpreneurAy di Pondok Pesantren Darul Ulum. Kabupaten Pamekasan. Pulau Madura. Provinsi Jawa TImur adalah: Peserta telah menunjukkan peningkatan pemahaman terhadap kewirausahaan dengan pengalaman praktis dan mudah diterima oleh peserta Setelah proses pelatihan peserta telah dapat menghasilkan sepuluh . model bisnis yang dituangkan dalam Business Model Canvas. Melalui kegiatan ini pun telah dihasilkan sepuluh . prototipe bisnis yang dipamerkan untuk mendapatkan validasi dari pasar dan dipamerkan Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi kegiatan ini telah berhasil mencapai tujuannya dan peserta merasakan manfaat dan berdampak dari adanya kegiatan ini dan bersedia mengikuti kembali jika diadakan di kemudian hari. https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 1. Nomor 1. Halaman 23-32. Tahun 2024 e-ISSN x-x | p-ISSN x-x Referensi Darmansyah. Asep. Umi Zuraida. Yedi Purwanto . Pelatihan Peningkatan Kemampuan Kewirausahaan dan Pembukan Dalam Mendukung Terbentuknya Wirasusaha Baru di Kabupaten Indramayu. Ethos: Jurnal Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat 8. https://doi. org/10. 29313/ethos. Dwiwinarno. Titop. Budi Setyanta. Titi Laras. Sri Handayani . Pelatihan Untuk Mencetak Wirasuaha di Pondok Pesantren Nurul Hayah Yogyakarta. Adarma: Jurnal Pengabdian Masyarakat Universitas Janabadra 8. https://doi. org/10. 37159/jad. Hendriyani. I Gusti Ayu Dewi . Siaran Pers: Menparekraf Dorong Santripreneur Tingkatkan kemampuan Ekonomi Digital. available at https://kemenparekraf. id/berita/siaran-persmenparekraf-dorong-santripreneur-tingkatkan-kemampuan-ekonomi-digital Hermanto. Syahril. , & Kurdi. Pengembangan Keterampilan Wirausaha Bagi Santri Pondok Pesantren Di Pondok Pesantren Modern Al-Ittihad. Jurnal Abdiraja, 3. , 1-5. Kusuma. Indra Kika. Pelatihan Kewirausahaan Sebagai Peluang Bisnis Untuk Generasi Milenial di Soloraya Selama Masa Pandemi Covid-19. Journal Budimas 3. http://dx. org/10. 29040/budimas. Nuradi. Laurensia Maureen, dkk. Startinc module: Create Your Entrepreneurial Journey in Tourism. Surabaya: Penerbit Universitas Ciputra Sugiarto. Eko. Menyusun Proposal Penelitian Kualitatif Skripsi dan Tesis. Yogyakarta: Suaka Media Rahmati. Arinal. Husnurrosyidah. Muhammad Dian Ruhamak. Pesantrenprenuer: Strategi Entreprenurship di Pondok Pesantren Melalui Komoditas Talas Satoimo. EQULIBIRUM: Jurnal Ekonomi Syariah 8. http://dx. org/10. 21043/equilibrium. Widyastudi. Umi. Purwana . Dedi . Evaluasi Pelatihan (Trainin. Level II Berdasarkan Teori The Four Levels Kirkpartick. Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis 3. https://doi. org/10. 21009/JPEB. Wulandari. Ayu, dkk . Pelatihan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur - Malaysia. Journal Of Community Engagement in Education 2. https://journal. id/index. php/dedicate/article/view/26784 Ucapan Terima Kasih