BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ISSN 2541-3252 Vol. 3, No. 2, Sep. 2018 PENERAPAN PROGRAM REMEDIAL OLEH TUTOR SEBAYA DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP BAHASA INDONESIA PADA SISWA KELAS VI SD INPRES MISIR oleh Petronela Theresia Guru di SD Inpres Misir, Sikka, Nusa Tenggara Timur ABSTRAK Dalam pengajaran disekolah pun, khususnya pengajaran Bahasa Indonesia, guru senantiasa berusaha agar siswa tidak mengalami kesulitan dalam memahami konsep bahasa Indonesia yaitu mendeskripsikan benda, namun dalam kenyataannya masih banyak siswa yang tidak dapat memahami konsep bahasa Indonesia tentang mendeskripsikan benda sebagaimana yang diharapkan oleh guru. Hal ini dapat diketahui rendahnya daya serap siswa dalam memahami konsep bahasa Indonesia yaitu mendeskripsikan benda meskipun telah diusahakan dengan baik oleh guru. Kesulitan siswa dalam memahami konsep Bahasa Indonesia tentang mendeskripsikan suatu gambar merupakan salah satu masalah yang dihadapi oleh guru. Jika guru memberikan ulangan atau tes yang diberikan oleh guru. Jika guru memberikan ulangan atau tes pada setiap pokok bahasan hasilnya 50% siswa mendapat nilai di bawah rata-rata, dan hanya sedikit siswa (50%) yang mendapat nilai di atas karena mereka telah memahami konsep yang diajarkan oleh guru. Untuk itu sangat penting bagi guru untuk memberikan bantuan baik berupa perlakuan ataupun cara-cara memahami bahan pelajaran. Oleh sebab itu salah satu bantuan yang bisa dilakukan guru adalah dengan pemberian program remedial yaitu suatu bentuk kegiatan yang bersifat menyembuhkan, membetulkan atau mengajar kembali, sehingga pemahaman siswa menjadi lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya. Kata Kunci : Program Remedial, Tutor Sebaya, Konsep Bahasa Indonesia, Siswa. PENDAHULUAN Dalam melaksanakan tugas mengajar, guru harus memberikan bimbingan yang diperlukan siswa dalam mencapai tingkat perkembangan yang optimal. Hal ini sangat penting, sebab dalam proses belajar mengajar guru akan menghadapi siswa yang tergolong memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Bagi siswa yang pandai akan lelih cepat menguasai bahan pembelajaran. Sedangkan siswa yang memiliki kemampuan rendah, mereka biasanya lambat dalam menguasai bahan pelajaran, karena mereka mengalami kesulitan dalam belajar. Dalam pengajaran disekolah pun, khususnya pengajaran Bahasa Indonesia, guru senantiasa berusaha agar siswa tidak mengalami kesulitan dalam memahami konsep bahasa Indonesia yaitu mendeskripsikan benda, namun dalam kenyataannya masih banyak siswa yang tidak dapat memahami konsep bahasa Indonesia tentang mendeskripsikan benda sebagaimana yang diharapkan oleh guru. Hal ini dapat Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 109 ISSN 2541-3252 Vol. 3, No.2, Sep. 2018 BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia diketahui rendahnya daya serap siswa dalam memahami konsep bahasa Indonesia yaitu mendeskripsikan benda meskipun telah diusahakan dengan baik oleh guru. Kesulitan siswa dalam memahami konsep Bahasa Indonesia tentang mendeskripsikan suatu gambar merupakan salah satu masalah yang dihadapi oleh guru. Jika guru memberikan ulangan atau tes yang diberikan oleh guru. Jika guru memberikan ulangan atau tes pada setiap pokok bahasan hasilnya 50% siswa mendapat nilai di bawah rata-rata, dan hanya sedikit siswa (50%) yang mendapat nilai di atas karena mereka telah memahami konsep yang diajarkan oleh guru. Untuk itu sangat penting bagi guru untuk memberikan bantuan baik berupa perlakuan ataupun caracara memahami bahan pelajaran. Pada pembelajaran di sekolah, guru diharuskan melaksanakan remedial bagi siswa yang nilainya masih di bawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Sedangkan untuk siswa yang mendapat nilai rata-rata di atas KKM, maka ia berhak mengikuti program pengayaan. Oleh sebab itu salah satu bantuan yang bisa dilakukan guru adalah dengan pemberian program remedial yaitu suatu bentuk kegiatan yang bersifat menyembuhkan, membetulkan atau mengajar kembali, sehingga pemahaman siswa menjadi lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya. Dengan melaksanakan program remedial maka diharapkan dapat mendorong siswa untuk lebih baik dalam memahami konsep Bahasa Indonesia yaitu mendeskripsikan benda sehingga mempertinggi daya serap siswa dan tujuan pembelajaran yang diharapkan oleh guru dapat tercapai secara tuntas sesuai dengan KKM, terutama kemampuan siswa dalam 110 memahami konsep bahasa Indonesia yaitu mendeskripsikan benda. Program remedial dapat dilakukan oleh guru pengajar atau boleh juga dicari tutor sebaya yaitu dipilih teman sekelasnya yang sudah memahami konsep bahasa Indonesia untuk bisa menjelaskan kepada temannya yang masih mendapatkan nilai di bawah KKM. METODE PENELITIAN Prosedur penelitian tindakan ini direncanakan atas tiga siklus, dimana tiap siklus akan dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai seperti apa yang telah didesain dalam faktor sesuai prosedur : 1) perencanaan (planning), 2) pelaksanaan tindakan (acting) 3) observasi (observing), dan refleksi (reflecting). Prosedur penelitian tindakan untuk siklus pertama dapat dijabarkan lebih rinci sebagai berikut : a) Perencanaan (Planning) Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan ini adalah 1) memuat skenario pembelajaran sesuai teknik pembelajaran yang digunakan 2) membuat lembar observasi (lembar tindakan kelas) untuk melihat kondisi proses pembelajaran selama berlangsung 3) mendesaian penilaian peningkatan pemahaman konsep bahasa Indonesia. b) Pelaksanaan (Acting) Dalam tahap ini adalah melaksanakan skenario pembelajaran yang telah didesain. c) Observasi (Observing) Pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap tindakan dengan menggunakan lembar observasi dan lembar penelitian. Segera tindakan guru peneliti dalam tahap ini diamati oleh diri sendiri maupun oleh kolaborator mengamati berdasarkan format lembar tindakan kelas. Setiap kekurangan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dicatat oleh kolaborator dan dijadikan bahan, dalam kegiatan refleksi d) Refleksi (Reflecting) Penilaian pada kolaborator dan hasil diskusi dengan guru peneliti, hasilnya dianalisis, diinterprestasikan dan disimpulkan bersama. Kesimpulan ini akaan dijadikan dasar dalam merevisi rencana untuk diterapkan pada siklus berikutnya. Siklus terus berlangsung sampai pada tahap guru peneliti dan kolaborator sepakat bahwa siklus layak dihentikan, karena tujuan telah tercapai. Posisi Peneliti Peneliti adalah guru Kelas VI di SD Inpres Misir Kecamatan Alok Kabupaten Sikka berkolaborasi dengan teman sejawat yang dianggap mampu dan berkompeten dalam konteks penelitian ini. Subyek Penelitian dan Waktu Penelitian Subyek penelitian ini adalah semua siswa Kelas VI SD Inpres Misir Kecamatan Alok Kabupaten Sikka Tahun Pelajaran 2018/2019. Jumlah siswa kelas VI adalah 23 orang, dengan perincian siswa laki-laki 17 orang dan siswa perempuan 6 orang. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen berupa kuisioner, tes, lembar pertanyaan, dan lembar observasi. Kuisioner dan tes dilakukan terhadap siswa untuk melihat kemampuan pemahaman konsep dalam pelajaran bahasa Indnesia tentang kendeskripsikan benda sebelum dan sesudah dilakukan remedial oleh tutor sebaya. Lembar pertanyaan siswa dan lembar observasi digunakan untuk melihat pelaksanaannya. Analisis Data Data yang telah dikumpulkan yang berbetuk data kuantitif, diolah dan dianalisis ISSN 2541-3252 Vol. 3, No. 2, Sep. 2018 melalui tahapan reduksi data, paparan, dan penyimpulan. Reduksi data adalah proses penyederhanaan yang dilakukan melalui seleksi, pemeriksaan, dan pengabstraksian data mentah menjadi informasi yang bermakna. Paparan adalah proses penyimpulan data secara lebih sederhana dalam bentuk paparan naratif. Sedangkan penyimpulan data adalaah proses pengambilan intisari dari sajian data yang telah terorganisir tersebut dalam pernyataan kalimat yang singkat, padat, dan mengandung pengertian yang luas. Sedangkan data yang berbentuk data kuantitatif dianalisa untuk memberikan justifikasi empirik melalui uji statistik. Data yang dianalisis adalah variabel kemampuan tutor sebaya dalam memberikan pemahaman konsep kepada temannya yang masih belum mampu. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum melaksanakan siklus pertama, siswa diberi lembar test guna mengetahui kondisi kemampuan siswa dalam memahami konsep Bahasa Indonesia tentang mendeskripsikan gambar. Berdasarkan data perolehan nilai pada saat penelitian maka diketahui bahwa sebanyak 11 siswa atau 47,82% memperoleh nilai diatas KKM. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa belum memahami konsep Bahasa Indonesia tentang mendiskripsikan benda tersebut, maka perlu diadakan perbaikan melalui program remedial. Program ini dilaksanakan oleh tutor sebaya di luar jam pelajaran yang ada dalam bentuk kelompokkelompok kecil. Peneliti hanya mengamati proses remedial. Dalam pembuatan rencana tindakan dalam siklus pertama mengacu pada hasil tes tersebut. Pada akhir siklus ini akan di test kembali agar siswa dapat memperbaiki nilainya dan mencapai Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 111 ISSN 2541-3252 Vol. 3, No.2, Sep. 2018 BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ketuntasan belajar minimalnya. Pembahasan mengenai hasil penelitian setiap siklus dapat dipaparkan sebagai berikut : Siklus I Perencanaan pengajaran pada Siklus I ini terdiri dari 1 tahap perencanaan pengajaran yang ditetapkan pada pertemuan kesatu. Secara garis besar perencanaan pengajaran yang ditetapkan pada dasarnya sama dengan perencanaan umum. Adapun perbedaan dapat diungkapkan di bawah ini. Perencanaan pembelajaran siklus I difokuskan pada remidi pada mendiskripsikan benda. Perencanaan pada siklus I ini, penulis deskripsikan sebagai berikut.Kegiatan Pendahuluan, Motivasi dan Apersepsi Guru memberikan pertanyaan mengenai pelajaran yang telah lalu yang telah dipelajari sebelumnya, Guru mengaitkan pelajaran yang lalu dengan yang akan dipelajari, dengan menanyakan mengapa benda-benda/gambar benda-benda atau alat-alat yang ada pada gambar dapat bermanfaat, Guru menyampaikan indikator hasil yang akan dicapai dalam belajar. Kegiatan Inti, Siswa dibagi menjadi 3 kelompok, setiap kelompok terdiri 8-9 orang secara acak. Setiap kelompok mendapatkan satu lembar gambar yang akan dipelajari, dengan judul gambar "Menonton Pertunjukan Sulap. Guru memberikan dorongan agar siswa aktif melakukan pengamatan. Siswa melakukan diskusi kolompok dan menyiapkan kesimpulan hasil pengamatan untuk disajikan pada diskusi kelas. Setiap kelompok diberi kesempatan untuk menyajikan hasil pengamatan yang diwakili oleh salah seorang anggota, dan kelompok lain ikut serta mengamati dan mengevaluasi hasil yang disampaikan. Guru memberikan bimbingan kepada siswa untuk menuliskan kebaikan dan kelemahan serta kegunaan benda-benda/gambar benda-benda 112 atau alat-alat yang ada pada gambar yang dapat bermanfaat. Dengan bimbingan guru, siswa bersama-sama menyimpulkan materi pelajaran. Guru mengadakan refleksi, untuk mengetahui berhasil tidaknya kegiatan remedial yang dilakukan oleh tutor sebaya, sebagai tes siklus kedua. Kegiatan Penutup Siswa mendapat kesempatan mencatat kesimpulan. Siswa dan guru bersama-sama mengintegrasikan materi tentang kebaikan dan kelemahanya serta kegunaan bendabenda/gambar benda-benda atau alat-alat yang ada pada gambar yang dapat bermanfaat. Siswa menjawab tes secara tertulis pilihan ganda sebagai tes siklus pertama. Berdasarkan data perolehan nilai pada penerapan siklus I maka diketahui bahwa sebanyak 16 siswa atau 69,56% sudah memperoleh nilai di KKM dan 7 siswa (30,43%) masih belum memahami konsep Bahasa Indonesia tentang mendiskripsikan benda tersebut, maka perlu diadakan perbaikan pada Siklus II. 1. Siklus II Dalam siklus II tindakan kelas yang dilakukan sebagai berikut : Berdasarkan hasil refleksi diketahui bahwa sebagian besar siswa masih belum memahami konsep Bahasa Indonesia tentang mendiskripsikan benda. Hal itu ditunjukkan dengan hasil tes siklus I. Oleh sebab itu peneliti melalkukan remidi kembali untuk memperjelas materi yang di ajarkan, langkah-langkah peneliti dalam melakuakn remidi akan di uraikan di bawah ini. Kegiatan Pendahuluan Motivasi dan Apersepsi Guru memberikan pertanyaan mengenai pelajaran yang telah lalu yang telah dipelajari sebelumnya. Guru mengaitkan pelajaran yang lalu dengan yang akan dipelajari, dengan menanyakan mengapa benda-benda/gambar benda-benda Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia atau alat-alat yang ada pada gambar dapat bermanfaat. Guru menyampaikan indikator hasil yang akan dicapai dalam belajar. Kegiatan Inti, Siswa dibagi menjadi 3 kelompok, setiap kelompok terdiri 8-9 orang secara acak. Setiap kelompak mendapatkan satu lembar gambar yang akan dipelajari, dengan judul gambar "Ronda Malam. Guru memberikan dorongan agar siswa aktif melakukan pengamatan. Siswa melakukan diskusi kelompok dan menyiapkan kesimpulan hasil pengamatan untuk disajikan pada diskusi kelas. Setiap kelompak diberi kesempatan untuk menyajikan hasil pengamatan yang diwakili oleh salah seorang anggota, dan kelompok lain ikut serta mengamati dan mengevaluasi hasil yang disampaikan. Guru memberikan bimbingan kepada siswa untuk menuliskan kebaikan dan kelemahan serta kegunaan benda-benda/gambar benda-benda atau alatalat yang ada pada gambar yang dapat bermanfaat. Dengan bimbingan guru, siswa bersama-sama menyimpulkan materi pelajaran. Guru mengadakan refleksi, untuk mengetahui berhasil tidaknya kegiatan remedial yang dilakukan oleh tutor sebaya sebagai tes siklus II. Kegiatan Penutup Siswa mendapat kesempatan mencatan kesimpulan. Siswa dan guru bersama-sama mengintegrasikan materi tentang kebaikan dan kelemahan serta kegunaan bendabenda/gambar benda-benda atau alat-alat yang ada pada gambar yang dapat bermanfaat; Setelah selesai dilaksanakan pengintegrasian materi tentang kebaikan dan kelemahan serta kegunaan bendabenda/gambar benda-benda atau alat-alat yang ada pada gambar yang dapat bermanfaat, maka dilaksanakan test kembali untuk mengetahui tingkat keberhasilannya. ISSN 2541-3252 Vol. 3, No. 2, Sep. 2018 Dari hasil nilai ulangan pada siklus II menunjukan persentase ketuntasan belajar siswa mencapai 100% itu artinya sudah mencapai kriteria kelulusan yang ditentukan. Dari hasil analisis dan refleksi, dapat dievaluasi tindakan yang diterapkan guru ini cukup berhasil. Mengingat adanya konsistensi peningkatan nilai secara individual maupun rata-rata klasikal, maka tindakan kelas berupa program remidi dinilai berhasil dan dihentikan. Dari hasil penelitian di atas jumlah siswa yang mengikuti remedial mengalami perubahan yang cukup berarti dari pertemuan pertama dan kedua. Hal ini dapat dilihat dari tabel pengamatan tingkah laku siswa. Hal ini kemungkinan siswa sudah mulai menghargai jerih payah teman yang menjadi tutor sebayanya yang akan membantu mereka memahami konsep Bahasa Indonesia tentang mendiskripsikan benda pada siklus pertama, siswa hanya aktif berdiskuasi dengan tutor sebaya hanya 3 orang dari tiap kelompok atau sekitar 37,50%, tetapi pada siklus kedua ada kenaikan sehingga rata-rata tiap kelompok yang aktif berdiskusi ada 6 orang tiap kelompok. Sedangkan kenaikan yang cukup signifikan terjadi pada keaktifan siswa dalam menjawab soal-soal yang diberikan oleh tutor sebaya dari 3 orang atau 37,50% pada siklus pertama menjadi 56,67%. Agar seluruh siswa dapat memahami konsep bahasa Indonesia tetang mendiskripsikan benda dengan baik, maka kegiatan tutor sebaya dapat menjadi salah satu penunjang keberhasilan siswa. Hal ini dapat dilihat dengan adanya kenaikan yang cukup baik dari awal pada kegiatan siklus pertama dan siklus kedua. Untuk memperoleh hasil yang lebih maksimal mungkin jumlah anggota kelompok dapat diperkecil kendalanya mencari tutor sebaya yang agak sulit karena, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 113 ISSN 2541-3252 Vol. 3, No.2, Sep. 2018 BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia jika anggota kelompok diperkecil maka dibutuhkan tutor sebaya yang jumlahnya lebih banyak. Kuntjaraningrat. 1986. Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta : Remaja Rosda Karya. SIMPULAN Berdasarkan hasil pengamatan dan pengujian dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep bahasa Indonesia tentang mendiskripsikan benda melalui kegiatan remedial oleh faktor sebaya dalam kelompok kecil dapat meningkatkan nilai test siswa. Hal ini dapat dilihat dari table pengamatan tingkah laku pada saat kegiatan remedial oleh tutor sebaya maupun hasil perolehan nilai pada tiap siklusnya. Siswa yang malu atau takut bertanya pada guru ternyata dalam kelompok kecil mereka terlihat tidak malu dan takut bertanya, bahkan terlihat telah aktif baik dalam diskusi maupun dalam hal menjawab soal-soal yang diberikan oleh tutor sebayanya. Siswa merasa lebih nyaman belajar dalam kelompok kecilnya karena mereka bebas untuk bekerja, belajar sambil bercanda dengan teman-temannya tanpa merasa ada yang akan memarahi, menegur, atau menghukumnya jika mereka berbuat salah. Siahaan, Bistak. 1986. Pengajaran Remedial dan Pengajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Universitas Terbuka. Suke, Silverius. 1991. Hasil Belajar dan Umpan Balik. Jakarta: Gramedia Suwandi. 1986. Materi Pokok Bahasa Indonesia. Jakarta : Universitas Terbuka. Suryobroto. 1986. Pengajaran Mengenal di Sekolah Metode dan Pendekatan Terbaru Dalam Proses Belajar Mengajar. Yogyakarta : Liberty. Walkitri. 1990. Penilaian Pencapaian Hasil Belajar. Jakarta : Universitas Terbuka. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi, 2007, Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bima Aksara Djamarah, Syaiful Bahri. 1997, Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. Ishack. 1982. Program Remedial dalani Proses Belajar Mengajar. Yogyakarta: Liberty 114 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan