JSIP 1 . Journal of Social and Industrial Psychology http://journal. id/sju/index. php/sip HUBUNGAN KONSEP DIRI DAN MINAT MELAKUKAN PERAWATAN WAJAH PADA PRIA Hana Nor Hanifah A Jurusan Psikologi. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Semarang. Indonesia Info Artikel Abstrak ________________ ___________________________________________________________________ Sejarah Artikel: Diterima Januari 2012 Disetujui Februari 2012 Dipublikasikan Maret Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dengan minat melakukan perawatan Subjek yang terlibat adalah 50 pria 20 - 30 tahun. Dua skala psikologi digunakan sebagai alat pengumpul yaitu skala konsep diri dengan 48 aitem ( = 0,. dan skala minat melakukan perawatan wajah dengan 48 aitem ( = 0,. Hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan analisis korelasi pearson product moment rxy = 0,014 dan p = 0,924 . <0,. menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara konsep diri dengan minat melakukan perawatan wajah. Hipotesis peneliti ditolak. Simpulan dalam penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsep diri dengan minat melakukan perawatan wajah. Hasil penelitian ini bisa difungsikan sebagai sumbangan hasil kajian dalam bidang psikologi kepribadian, dan sebagai acuan bagi penelitian selanjutnya. ________________ Keywords: konsep diri, minat, pria usia 20 sampai 30 tahun ____________________ Abstract ___________________________________________________________________ A 2012 Universitas Negeri Semarang Alamat korespondensi: Gedung A1 Lantai 2 FIP Unnes Kampus Sekaran. Gunungpati. Semarang, 50229 E-mail: journal@unnes. ISSN 2252-6838 Hana Nor Hanifah / Journal of Social and Industrial Psychology 1 . dilakukan peneliti didapati sebanyak 15 sampai 20 pria mendatangi tempat perawatan wajah di LR. Hasil wawancara yang dilakukan peneliti juga menemukan beberapa pria yang tidak mempunyai permasalahan kulit namun rutin melakukan perawatan kulit wajah. Pria dengan permasalahan kulit wajah . isalnya: jerawa. cenderung tidak percaya diri, dan diduga memiliki penerimaan diri yang rendah. Brooks . alam Rakhmat, 2005:. menyatakan bahwa konsep diri adalah pandangan dan perasaan tentang diri sendiri, baik bersifat psikologis, sosial maupun fisik. Sejalan dengan pendapat tersebut Cawangas . alam Pudjijogyanti, 1. bahwa konsep diri merupakan seluruh pandangan individu akan Burns . 3: . menyatakan bahwa konsep diri adalah kesan terhadap diri sendiri, pendapat tentang gambaran diri di mata orang lain, dan pendapat tentang hal-hal yang Konsep diri individu akan diupayakan mencapai keinginan yang optimal yang kemudian digunakan untuk merealisasikan idealisme hidup. Dapat dikatakan bahwa konsep diri juga merupakan kerangka kerja untuk pengalaman-pengalaman yang diperoleh individu. Konsep diri sangat penting bagi Hal ini berarti bahwa dengan konsep diri yang positif individu akan berperilaku positif sehingga akan mendapatkan umpan balik yang positif juga dari lingkungan. Hal ini didukung Oktaviana . 4: . yang menyatakan bahwa konsep diri positif akan membentuk individu yang mampu menerima keadaan fisik diri. Pria yang mempunyai konsep diri positif akan menerima apapun keadaan dirinya. Ketika individu tumbuh menjadi dewasa, pria dan wanita dewasa telah belajar untuk menerima perubahan-perubahan fisik. Apabila dirasa ada kekurangan fisik, individu akan Kesadaran menimbulkan minat mereka terhadap hal-hal Oktaviana . menyatakan bahwa reaksi PENDAHULUAN Pada awalnya penampilan hanya menjadi perhatian wanita. Perasaan ingin selalu tampil guna menarik lawan jenis, tampil cantik dan menarik menjadi bagian dari kepribadian Namun, seiring dengan berjalannya waktu tampak pria juga menjadi peduli pada Kepedulian tersebut dilakukan dengan cara memakai parfum, facial, pembersih wajah, pelembab, spa atau bahkan merawat Penampilan berbusana dan kulit yang bersih dan rapi merupakan penunjang seorang pria untuk terlihat menarik dan nyaman. Berbagai macam produk perawatan wajah khusus pria pun mulai beredar di pasaran. Hal itu guna menunjang penampilan pria yang juga ingin terlihat menawan . diakses pada 3 Mei 2. Tren perawatan wajah muncul di kota besar, misalnya: Jakarta. Di daerah Menteng, misalnya, terdapat klinik kecantikan Crystal Aesthetic Clinic yang sebagian besar pasiennya adalah pria, yaitu mencapai 70 % dari seluruh Tren pria merawatkan diri ke klinik kecantikan ini menurut pengelola Crystal Aesthetic Clinic sudah terlihat sejak sekitar 1997. Bedanya, pada sekitar 2007 hampir semua pelanggan adalah waria atau gay. Namun, mulai sekitar 2002 tren bergeser, banyak di antara pelanggan itu bukan waria atau gay, namun pria Kelompok waria dan gay biasanya mengetahui detail bagian wajah mana yang perlu dipermak. Adapun para pria sekarang mengikuti saja rekomendasi dokter kecantikan dengan tetap memperhatikan karakter asli yang dimilikinya. Oktaviana . 4: . menyatakan bahwa pria usia 20 tahun sampai 30 tahun kurang siap Hurlock menyatakan bahwa sedikit remaja yang mengalami kateksis tubuh atau merasa puas dengan tubuhnya. Ketidakpuasan lebih banyak dialami di beberapa bagian tubuh tertentu. Kegagalan mengalami kateksis tubuh menjadi salah satu penyebab timbulnya konsep diri yang kurang baik. Berdasar hasil observasi yang Hana Nor Hanifah / Journal of Social and Industrial Psychology 1 . tergantung dari pengaruh lingkunganya dan sifat Perkembangan organ baik di dalam maupun diluar badan juga sempat menentukan dalam pola perilaku, sikap dan kepribadian. Dion menerangkan alasan mengapa kepuasan terhadap perubahan fisik yang terjadi ketika tubuh anak beralih menjadi dewasa. Penampilan seksualnya merupakan ciri diri pribadi yang paling jelas dan paling mudah dikenali. Meskipun pakaian dan alat-alat kecantikan dapat digunakam untuk menyembunyikan bentuk-bentuk fisik yang tidak disukai dan untuk menonjolkan bentuk fisik yang dianggap Minat merupakan sumber motivasi yang mendorong seseorang untuk melakukan apa yang diinginkan. Jika melihat bahwa sesuatu akan menguntungkan, maka akan muncul minat terhadap sesuatu tersebut dan Minat menunjukkan bahwa individu lebih menyukai sesuatu daripada yang lainnya tetapi dapat juga diimplementasikan melalui partisipasi aktif dalam suatu aktivitas. Dari uraian tersebut memunculkan pertanyaan apakah konsep diri perawatan wajah. waktu singkat apabila individu bersedia menjadi partisipan penelitian, serta jumlah populasi yang tidak dapat diketahui secara pasti. Hal ini berarti tidak semua pria usia 20 sampai 30 tahun dalam populasi memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi sampel. Dalam penelitian ini peneliti meminta kesediaan partisipan yang berada di lokasi penelitian yang memenuhi karakteristik yang telah ditetapkan untuk mengisi skala untuk pengumpulan data. Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala psikologi, yaitu: skala konsep diri dan skala minat melakukan perawatan wajah. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian korelasional, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menyelidiki sejauh mana variasi pada satu variabel berkaitan dengan variasi pada satu atau lebih variabel lain, berdasarkan koefisien korelasi serta bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan variasi pada dua kelompok berdasarkan koefisien beda (Azwar, 2010:. Analisis data yang digunakan untuk melihat hubungan antara konsep diri dengan minat melakukan perawatan wajah pada pria usia 20 tahun sampai 30 tahun adalah dengan menggunakan korelasi pearson roduct moment. HASIL DAN PEMBAHASAN METODE Berdasar hasil analisis data yang menampilkan statistik deskriptif, didapati bahwa sebagian besar subjek dalam penelitian ini memiliki konsep diri positif. Hal tersebut ditunjukkan dengan persentase subjek yang tergolong kriteria positif berjumlah 100%, sedangkan 0% tergolong kriteria negatif. Sebagian besar subjek memiliki minat melakukan perawatan wajah dalam kriteria Hal ini ditandai dengan 78% subjek masuk dalam kriteria tinggi dalam minat melakukan perawatan wajah, 22% subjek dalam kriteria sedang dalam mminat melakukan perawatan wajah, dan tidak ada subjek yang termasuk dalam kriteria rendah. Uji mengetahui hubungan antara konsep diri Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif, yang oleh Azwar . dijelaskan sebagai suatu prosedur penelitian yang menekankan pada data-data numerikal . yang diolah dengan metode statistika. Metode yang digunakan untuk menarik sampel adalah non probability sampling dengan teknik insidental sampling. Menurut Sugiyono . 6: . sampling insidental adalah teknik penemuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber Teknik insidental ini penarikan sampel menjadi lebih praktis dan dapat diperoleh dalam Hana Nor Hanifah / Journal of Social and Industrial Psychology 1 . dengan minat melakukan perawatan wajah pada pria usia 20 tahun sampai 30 tahun. Hasil analisis korelasi product moment menunjukkan besar hubungan antara konsep diri dengan minat melakukan perawatan wajah pada pria usia 20 tahun sampai 30 tahun adalah rxy = 0,014 dengan tingkat signifikansi p= 0,924 . <0,. Tingkat signifikansi korelasi p= 0,924 . < 0,. menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara konsep diri dengan minat melakukan perawatan wajah pada pria usia 20 tahun sampai 30 tahun. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsep diri dengan minat melakukan perawatan wajah pada pria usia 20 tahun sampai 30 tahun. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dijelaskan dengan deskripsi hasil penelitian, subjek berada pada kategori yang tinggi yaitu konsep diri yang positif serta minat melakukan perawatan wajah yang tinggi, akan tetapi tidak ada hubungan yang signifikan dikarenakan minat melakukan perawatan wajah tidak hanya dipengaruhi oleh konsep dirinya saja melainkan dari faktor-faktor lain, misalnya faktor sosial seperti kelompok acuan serta faktor lingkungan, pengaruh lebih besar terhadap timbul dan berkembangnya minat seseorang. Subjek penelitian mahasiswa Universitas Negeri Semarang, sedangkan Universitas Negeri Semarang mahasiswanya kalangan menengah ke bawah serta lingkungan yang belum begitu mengenal tentang perawatan wajah, sehingga mempunyai pengaruh lain untuk melakukan perawatan wajah, meskipun pada kenyataannya konsep diri subjek penelitian termasuk dalam kategori positif. ini, antara lain: . Kurangnya teori yang digunakan sebagai landasan pikir, . Ada kemungkinan terjadinya social desirability yang dialami oleh subjek penelitian sehingga data yang diberikan kurang valid, . Ada kemungkinan keberadaan faktor lain yang diduga secara kuat mempengaruhi variabel dependen yang tidak dikontrol, misalnya: kelompok sosial, gaya hidup, dan kepercayaan Ada kemungkinan kurang tepatnya pemilihan variabel yang diangkat dalam penelitian ini. UCAPAN TERIMA KASIH Terima sebesar-besarnya disampaikan kepada semua pihak yang telah mendukung terselesaikannya kegiatan penelitian yang penulis lakukan, terutama staf pengajar Jurusan Psikologi FIP UNNES yang telah membimbing dan memberi masukan kepada peneliti selama kurang lebih 4 tahun terakhir. DAFTAR PUSTAKA