ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 HUBUNGAN POLA TIDUR DENGAN KEJADIAN AKNE VULGARIS DI PT X KABUPATEN TEBO PROVINSI JAMBI Sudarsono1. Sukma Sahreny2. Salman Alfarisy3 Fakultas Kedokteran Universitas Batam. Email: sudarsono@univbatam. id, sukmasahreni@univbatam. 61121088@univbatam. ABSTRACT Background: Acne vulgaris is a common skin disorder involving the pilosebaceous unit, influenced by multiple factors including sleep patterns. Poor sleep quality reduces melatonin levels, increases androgen hormones, and stimulates excessive sebum production, contributing to acne development. Methods: This study used an analytical observational design with a cross-sectional approach. The sampling technique was purposive sampling. The study population was 235 PT X workers, with 100 respondents as the sample. Data analysis used the Chi-Square test. Results: Most respondents had good sleep patterns . %), while poor sleep patterns accounted for 45%. Acne vulgaris occurred in 47% of respondents. Respondents with poor sleep patterns who experienced acne vulgaris were 68. 9%, compared to 29. 1% among those with good sleep The Chi-Square test showed a p-value of 0. < 0. Conclusion: There is a significant relationship between sleep patterns and the incidence of acne vulgaris at PT X. Tebo Regency. Jambi Province. Keywords: Sleep Pattern. Acne Vulgaris. Employees ABSTRAK Latar Belakang: Akne vulgaris adalah penyakit kulit yang umum terjadi pada unit pilosebasea dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pola tidur. Pola tidur yang buruk dapat menurunkan hormon melatonin, meningkatkan hormon androgen, sehingga memicu produksi sebum berlebih dan timbulnya akne vulgaris. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan potong Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Populasi penelitian adalah 235 pekerja di PT X dengan sampel sebanyak 100 responden. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Sebagian besar responden memiliki pola tidur baik . %), sedangkan pola tidur buruk sebesar 45%. Kejadian akne vulgaris ditemukan pada 47% responden. Hasil analisis menunjukkan responden dengan pola tidur buruk yang mengalami akne vulgaris sebanyak 68,9%, sedangkan responden dengan pola tidur baik yang mengalami akne vulgaris sebesar 29,1%. Uji statistik menunjukkan nilai p = 0,000 . < 0,. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara pola tidur dengan kejadian akne vulgaris di PT X Kabupaten Tebo Provinsi Jambi. Kata kunci: Pola Tidur. Akne Vulgaris. Pekerja PENDAHULUAN Akne vulgaris merupakan gangguan pada kelenjar pilosebasea yang umumnya timbul di area wajah. Meski kondisi ini dapat sembuh secara alami, akne vulgaris dapat meninggalkan bekas permanen yang Universitas Batam memengaruhi penampilan kulit. Selain dampak fisik, akne vulgaris juga berdampak pada aspek psikologis dan sosial, seperti rasa malu, penurunan rasa percaya diri. Page 275 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 mengakhiri hidup (Fitriana et al. , 2. Gejala klinis berupa komedo, papul, pustul, nodul, dan kista, dengan lokasi paling sering ditemukan di wajah dan leher . %), punggung . %), serta dada, bahu, dan lengan atas . %) (Hartono. Kapantow, & Kairupan, 2. Menurut data Global Burden of Disease (GBD), akne vulgaris menempati urutan kedelapan sebagai penyakit kulit dengan prevalensi tertinggi secara global, memengaruhi sekitar 85% populasi dewasa muda berusia 12 hingga 25 tahun. Studi di Jerman melaporkan bahwa 64% individu berusia 20Ae29 tahun dan 43% berusia 30Ae 39 tahun mengalami kondisi ini. Indonesia, angka kejadian akne vulgaris terus mengalami peningkatan, dengan prevalensi 60% pada tahun 2006, meningkat menjadi 80% di tahun 2007, dan mencapai 90% pada tahun 2009 (Panjaitan, 2020. Sirajudin. Tarigan Sibero, & Indria Anggraini, 2. Berdasarkan laporan PERDOSKI tahun 2017, akne vulgaris menduduki peringkat ketiga terbanyak pada pasien yang berkunjung ke rumah sakit. Umumnya, kondisi ini mulai muncul pada usia 12Ae15 tahun, dengan puncak keparahan antara usia 17Ae21 tahun, dan menjadi penyakit kulit paling umum pada remaja usia 15Ae18 tahun (Hartono. Kapantow, & Kairupan, 2. Terdapat empat mekanisme utama dalam patogenesis akne vulgaris, yaitu peningkatan produksi sebum, keratinisasi pada saluran infundibulum, kolonisasi bakteri di folikel rambut, serta terjadinya peradangan (Erturul H. Aydemir, 2. Hormon melatonin dihasilkan oleh kelenjar pineal dan disekresikan saat malam Produksi melatonin menurun pada siang hari karena kelenjar pineal menjadi tidak aktif. Ketika malam tiba dan kondisi sekitar menjadi gelap akan meningkatkan kadar melatonin dalam plasma dan memicu rasa kantuk. Efek chronobiotic melatonin berkaitan erat dengan ritme sirkadian yang mengatur siklus tidur dan bangun (Djunarko et al. , 2. Produksi hormon ini mulai Universitas Batam Batam Batam meningkat sekitar dua jam sebelum waktu tidur dan mencapai puncaknya antara pukul 00Ae04. 00 dini hari, kemudian menurun secara bertahap menjelang pagi hari (Mariski. , 2. Kebiasaan tidur larut malam dapat menurunkan produksi melatonin (Djunarko et al. , 2. Penurunan kadar melatonin dapat androgen sehingga memicu aktivitas kelenjar sebasea. Peningkatan aktivitas kelenjar sebasea menyebabkan produksi sebum meningkat, membuat kulit menjadi lebih berminyak dan menyumbat saluran Keadaan ini dapat memicu akne vulgaris (Djunarko, 2. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis terdorong untuk melakukan penelitian dengan judul AuHubungan Pola Tidur dengan Kejadian Akne Vulgaris di PT. Lestarindo Utama Karya. Kabupaten Tebo. Provinsi Jambi Tahun 2025. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan potong lintang. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pekerja di PT X yang berjumlah 235 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive Sampel dihitung dengan menggunakan rumus Yamane berjumlah 100 orang pekerja yang memenuhi kriteria inklusi dan Kriteria inklusi yaitu pekerja di PT X yang memiliki jadwal bekerja pada shift pagi dan malam dan minimal sudah 3 hari dari jadwal pergantian shift. Kriteria eksklusi yaitu sedang menggunakan obat Pengumpulan data dilakukan dengan melalui kuesioner mengenai pola tidur responden serta pemeriksaan klinis oleh tenaga medis untuk menilai adanya akne Pola tidur buruk apabila responden bekerja pada shift malam minimal 3 hari berturut-turut. Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis menggunakan uji chisquare. Page 276 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi sebesar 100 responden. Karakteristik responden terangkum dalam Tabel 1. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Karakteristik Responden Frekuensi . Persentase (%) Usia O 20 Tahun 21-30 Tahun 31-40 Tahun 41-50 Tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pola Tidur Baik Buruk Akne Vulgaris Ada Tidak ada Berdasarkan tabel 1, mayoritas responden berada pada rentang usia 21Ae30 tahun sebesar 78%, berjenis kelamin perempuan sebesar 67,0%, memiliki pola tidur baik sebesar 55% dan tidak memiliki akne vulgaris sebesar 53%. Penelitian global oleh Saurat JH dkk . menunjukann prevalensi akne vulgaris sebesar 20,5%. Berdasarkan usia, rentang usia tersering menderita akne vulgaris adalah 16-24 tahun sebesar 28,3% dan 25-39 tahun sebesar 19,3%. Berdasarkan jenis kelamin, akne vulgaris lebih sering ditemukan pada wanita sebesar Sistem kerja shift di PT X diberlakukan secara bergilir setiap minggu. Sistem kerja bergilir ini dapat menimbulkan dampak signifikan terhadap pola tidur pekerja karena tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan jadwal kerja yang baru. Perubahan jadwal kerja yang terjadi secara rutin dapat mengganggu kestabilan ritme sirkadian tubuh dalam mengatur siklus tidur dan bangun. Hal ini menyebabkan sebagian pekerja mengalami gangguan tidur berupa sulit tidur, kelelahan berlebih, serta Universitas Batam Batam Batam penurunan kualitas tidur selama masa penyesuaian dengan jadwal kerja yang baru. Kewajiban bekerja pada shift malam dianggap sebagai salah satu faktor utama yang memengaruhi pola tidur pekerja. Bekerja pada malam hari menuntut individu untuk tetap terjaga pada waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat, sehingga menyebabkan gangguan pada ritme sirkadian atau jam biologis alami Hal ini akan mempengaruhi produksi hormon melatonin. Penilitian ini menunjukkan responden yang memiliki pola tidur buruk sebesar Hasil penelitian ini sejalan dengan menunjukkan tingginya gangguan pola tidur pada responden. Penelitian Tia Mariski . menunjukkan 51,6% responden mengalami kualitas tidur yang Penelitian Nurul Fajriyati . menunjukkan 33,9% responden memiliki pola tidur yang tidak baik. Penelitian Nopri Yadi . 69,4% responden mengalami kualitas tidur buruk. Penelitian Fitri Annisa . menunjukkan 61,2% responden mengalami gangguan Penelitian Dian Malahayati . menunjukkan 82,3% responden mengalami kualitas tidur buruk. Penelitian Djunarko . menunjukkan 61,9% responden mengalami gangguan kualitas tidur. Penilitian ini menunjukkan responden yang memiliki akne vulgaris sebesar 47%. Hasil penelitian ini sejalan dengan beberapa studi sebelumnya yang menunjukkan tingginya akne vulgaris pada responden. Penelitian Tia Mariski . menunjukkan sebesar 53,8% responden mengalami akne Penelitian Fitri Annisa . menunjukkan sebesar 59,7% responden mengalami akne vulgaris. Penelitian Nopri Yadi . menunjukkan sebesar 79,8% responden mengalami akne vulgaris. Penelitian Djunarko menunjukkan sebesar 86,6% mengalami akne vulgaris. Page 277 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 Analisis Bivariat Hubungan pola tidur dengan kejadian akne vulgaris di PT X Kabupaten Tebo Provinsi Jambi dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Hubungan Pola Tidur Dengan Kejadian Akne Vulgaris Pola Tidur Akne Vulgaris Ada Tidak ada Total P-value Baik Buruk Total Berdasarkan tabel 2, ditemukan hubungan bermakna antara pola tidur dengan kejadian akne vulgaris di PT X Kabupaten Tebo Provinsi Jambi . -value = Hasil penelitian ini sejalan dengan beberapa penelitian sebelumnya yaitu penelitian Tia Mariski . Nurul Fajriyati . Nopri Yadi . Fitri Annisa . dan Djunarko . yang menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kualitas tidur dan akne. Pola tidur yang buruk dapat menyebabkan berkurangnya produksi hormon melatonin. Berkurangnya hormon melatonin dapat menyebabkan peningkatan hormon androgen yang berperan penting dalam patogenesis akne vulgaris. Hormon androgen berperan dalam penyumbatan pada saluran kelenjar Penyumbatan inilah yang kemudian berkontribusi pada munculnya akne vulgaris (Malahayati D. , 2. Sebum juga memainkan peran penting dalam proses inflamasi pada akne vulgaris bukan hanya jumlahnya yang meningkat, tetapi juga terjadi perubahan struktur Sebum yang berlebihan berfungsi sebagai lingkungan yang mendukung pertumbuhan bakteri dan mendorong proses inflamasi pada kulit sehingga timbul akne vulgaris (T. Movita. Universitas Batam SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 100 responden di PT X Kabupaten Tebo Provinsi Jambi disimpulkan bahwa mayoritas responden memiliki pola tidur baik sebesar 55% dan 45% memiliki pola tidur yang buruk. Sebagian responden tidak mengalami akne vulgaris sebesar 53% dan 47% lainnya mengalami akne vulgaris. Hasil analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pola tidur dengan kejadian akne vulgaris. Diperlukan penelitian lanjutan untuk lebih mengetahui peranan hormon melatonin dengan kejadian akne vulgaris melalui pengukuran kadar hormon melatonin di DAFTAR PUSTAKA