Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2450-2461 Peranan Pondok Pesantren Al-Ittifaq dalam Bidang Agribisnis terhadap Kehidupan Masyarakat Alamendah Bandung 1970-1998 The Role of Al-Ittifaq Islamic Boarding School in Agribusiness and its Impact on the Life of the Alamendah Bandung 1970-1998 Andika Dwiki Arislan*. Mumuh Muhsin Zakaria. Miftahul Falah Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Padjadjaran Jl. Raya Bandung Sumedang KM. Hegarmanah. Kec. Jatinangor. Kab. Sumedang. Jawa Barat *Email: andika18009@mail. (Diterima 10-03-2025. Disetujui 01-07-2. ABSTRAK Pesantren Al-Ittifaq merupakan suatu lembaga pendidikan Islam yang menyatukan pendidikan agama dengan kehidupan sosial, serta berbeda dengan pondok yang lainya karena pondok ini berfokus juga pada bidang Kegiatan agribisnis ini bermula dari kebutuhan pesantren untuk dapat menghidupi seluruh santri dan pengurus yang berada di pesantren. Tujuan penelitian ini untuk mengungkap berdiri dan berkembangnya pondok pesantren Al-Ittifaq dalam bidang agribisnis, dan untuk mengetahui peran pondok pesantren Al-Ittifaq pada kehidupan santri dan masyarakat di daerah Ciburial. Desa Alamendah. Kecamatan Rancabali di bidang Metode penelitian ini yaitu metode sejarah lisan dengan empat tahap yaitu, heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Teknik pengumpulan data menggunakan studi observasi partisipasi, dan wawancara mendalam. Hasil penelitian ini menunjukan pondok pesantren Al-Ittifaq yang didirikan pada tahun 1934 oleh K. Mansyur. Kemudian pada tahun 1980 mulai berlangsungnya kegiatan agribisnis yang dipimpin oleh K. Fuad Affandi. Dengan adanya kegiatan agribisnis ini berdampak kepada santri dan masyarakat sekitar sehingga dapat menguntungkan satu sama lain. Kata Kunci: Agribisnis. Al-Ittifaq. Pondok Pesantren. Sejarah Perkembangan ABSTRACT Al-Ittifaq Islamic boarding school is an educational institution that integrates religious education with social life, and it differs from other boarding schools because it also focuses on agribusiness. The agribusiness activities began due to the boarding schoolAos need to support all the students and staff living there. This study aims to uncover the establishment and development of Al-Ittifaq Islamic boarding school in the field of agribusiness, and to explore its role in the lives of the students and the community in Ciburial. Alamendah Village. Rancabali District in the agribusiness sector. The research method used is oral history, which involves four stages: heuristics, criticism, interpretation, and historiography. Data collection techniques include participatory observation and in-depth interviews. The results of this study show that Al-Ittifaq Islamic boarding school was founded in 1934 by K. Mansyur. In 1980, agribusiness activities impacted both the students and the surrounding community, benefiting both parties. Keywords: Agribusiness. Al-Ittifaq. Islamic Boarding School. History of Development PENDAHULUAN Pesantren adalah sebuah rangkaian kata yang terbentuk dari dua kata yaitu AopondokAo serta AopesantrenAo yang memiliki arti seperti rumah kecil dalam bentuk bangunan yang sederhana, selain itu istilah pondok di dalam bahasa Arab yaitu dari kata AofunduqAo yang memiliki arti tempat tidur seperti wisma maupun hotel dengan sederhana. Pondok secara umum adalah tempat sederhana yang dipergunakan untuk siswa yang tinggal karena jauh dari rumahnya. Pada dasarnya pesantren merupakan sekolah tradisional yang mengutamakan pendidikan agama islam disertai dengan adanya asrama sebagai tempat tinggal santri untuk belajar terkait ilmu agama yang dibimbing oleh seorang kyai. Pendapat lain menurut Poerbawaktja bahwa pondok merupakan tempat pelajar atau santri yang menginap untuk mengikuti pembelajaran agama islam. Oleh karena itu, pesantren juga diartikan sebagai istilah dari kata AosantriAo yang memiliki arti gabungan antara kata sant itu sendiri artinya Peranan Pondok Pesantren Al-Ittifaq dalam Bidang Agribisnis terhadap Kehidupan Masyarakat Alamendah Bandung 19701998 Andika Dwiki Arislan. Mumuh Muhsin Zakaria. Miftahul Falah manusia baik dengan kata tra berarti suka menolong, jadi secara keseluruhan pesantren itu adalah tempat untuk mendidik santri . rang-orang bai. Pondok pesantren tidak terlepas dari sistem pendidikan agama islam yang bersejarah dari dulu hingga saat ini secara tradisional. Adanya sistem pendidikan di pondok pesantren diawali dengan banyaknya masyarakat yang beragama islam di Indonesia. Kemudian dari banyaknya masyarakat tersebut sehingga terjadinya proses Islamisasi. Awalnya proses Islamisasi ini muncul karena adanya pendekatan unsur-unsur kepercayaan yang disesuaikan dari sebelumnya, yang kemudian terjadi akulturasi atau pencampuran dari berbagai jalur yaitu perdagangan, perkawinan hingga memengaruhi kebudayaan dan kesenian (Kartodirjo, 1. Selain itu, menurut Muchtarom menyimpulkan dengan adanya agama islam di Indonesia terdapat beberapa sumber atau pendapat yang masih sesuai dengan asumsi yang dipakai. Hal tersebut, dari hasil seminar pada tahun 1963 di Medan mengenai masuknya islam dari Arab ke Indonesia pada abad ke-7 masehi. Dengan demikian, dapat disimpulkan dari pendapat hasil seminar tersebut bahwa kedatangan islam ke Indonesia bukan berasal dari Arab menurut G. Drewes melainkan berasal dari India (Syam, 2. Penyebaran agama islam di Indonesia bukan lagi sebagai doktrin spiritual akan tetapi sudah memberikan karakter pada bangsa, sehingga agama islam meluas dan menjadikan masyarakat Indonesia banyak yang menganut agama islam. Hal tersebut karena adanya proses islamisasi oleh para pedagang terutama di daerah Jawa bahkan dalam sejarah dikenal dengan sebutan Walisongo. Peran Walisongo menjadi awal mula pesantren ada di abad 15-16 M, sehingga berkembang menjadi Lembaga pendidikan, salah satu tokoh Walisongo yakni Maulana Malik Ibrahim yang telah wafat di Gresik dan tokoh yang telah wafat tahun 1419 oleh masyarakat jawa menjadi sebab awal mula lahirnya pesantren di tanah Jawa (MasAoud, 2. Pada abad 15-15 Masehi terdapat banyak tokoh Walisongo menjadi seorang penyebar agama Islam di tanah Jawa, seperti Sunan Maghribi. Sunan Gunung Jati, dan masih banyak yang lainnya. Pendidikan Islam ada karena hasil dari percobaan tokoh-tokoh tersebut mendirikan pesantren yang merakyat sehingga Walisongo menjadi induk pendidikan Islam di Indonesia. Oleh karena itu, pesantren sebagai tempat dalam berproses atau berkembangnya agama Islam menjadi sebuah Lembaga Pendidikan dengan berbasis dan berbagai ajaran-ajaran terkait ilmu agama Islam di dalamnya (Syam, 2. Tujuan dari pesantren itu sendiri yaitu sebagai dasar pembelajaran atau latihan untuk dapat mengerti terhadap adanya tuhan pada diri sendiri, selain itu menuntun supaya kita tidak bergantung pada orang lain selain tuhan (Muchtarom & dkk, 2. Kemudian selain tujuan terdapat juga manfaat adanya pesantren sebagai pendidikan yang melibatkan pelajarnya seorang muslim untuk mengembangkan pribadi sebagai warga negara yang tangguh, dapat mengarahkan kehidupannya, dan mampu mengatur pribadinya menjadi lebih baik sesuai keagamaan Islam. Sistem Lembaga pendidikan yang ada di pesantren yaitu dengan adanya pimpinan yaitu kyai dan dibantu dengan yang lainnya seperti ulama atau ustadz dalam menyampaikan ajaran-ajaran agama Islam terhadap kehidupan santri atau pelajarnya dengan adanya fasilitas ibadah sebagai kegiatan sehari-harinya. Hal tersebut bahwa pondok pesantren dapat diartikan juga sebagai Lembaga pendidikan agama islam yang sudah berkembang pada zamannya juga telah mengikuti kemajuan IPTEK. Dampak dari kemajuan dan perkembangan tersebut dapat dirasakan oleh santri bahkan kepada masyarakat, karena pesantren tidak sekedar Lembaga pendidikan namun juga menjadi penyiaran agama Islam dan sosial keagamaan Islam. Tujuan dari sosial tersebut yaitu dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitar masyarakat yang juga beragama. Pada akhirnya pesantren merupakan pusat perkembangan dan gerakan agama Islam di Indonesia. Agribisnis merupakan kegiatan pertanian yang berhubungan dengan adanya perdagangan dan pemasaran hasil pertanian dengan tujuan agar dapat mendapatkan keuntungan. Secara umum, agribisnis merupakan sebuah usaha yang melibatkan kegiatan produksi, pengolahan, dan pemasaran hasil yang berkaitan dengan komoditi pertanian seperti perkebunan, peternakan dan lain sebagainya dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan. Selain itu agribisnis berarti kegiatan untuk mendapatkan untung seluruh sektor pemasukan, pengeluaran, dan produksi (Gunawan, 2. Dalam artikel ini permasalahan yang dikaji adalah mengenai berdirinya serta berkembangnya pondok pesantren Al-Ittifaq, khususnya dalam bidang agribisnis. Pesantren Al-Ittifaq ini merupakan pondok Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2450-2461 pesantren yang berada di daerah Rancabali. Kabupaten Bandung. Jawa Barat. Pesantren ini berfokus dengan kegiatan pertanian sehingga posisi letaknya ada di daerah dengan ketinggian 1. 200meter serta jauh dari Kota Bandung. Oleh karena itu, fokus yang dikaji yaitu dalam bidang agribisnis. Namun, sebelumnya sama seperti pada umumnya semua pesantren yaitu fokus dalam bidang pendidikan dan Pada tahun 1970 berawal dari bidang pendidikan dan keagamaan saja, akan tetapi setelah mengalami perkembangan maka pada tahun 1980 menjadi berfokus pada agribisnis sehingga tidak hanya pendidikan namun juga bidang pertanian. Alasan pemilihan pondok tersebut karena sangat menarik untuk diteliti. Berbeda dengan pondok pesantren lainnya, biasanya pondok pesantren berfokus pada bidang pendidikan dan agama. Namun, pondok pesantren Al-Ittifaq ini berfokus juga dalam bidang agribisnis. Selain itu, dalam bidang ini terutama pertanian mengalami fenomena usia petani yang mengalami penuaan (Susilowati, 2. Oleh karena itu, tenaga kerja petani di pedesaan semakin berkurang, sehingga perlu adanya tenaga kerja muda. Adanya sumber daya manusia yaitu sebagai tenaga kerja yang memiliki peran untuk mengembangkan kegiatan pertanian dalam bidang agribisnis tersebut. Memacu pada tujuan dari kementrian pertanian 2015 yang berencana fokus dalam membangun pertanian berdasarkan konsep atau strategi berkelanjutan. Kerangka berpikir dalam konsep pertanian berkelanjutan yaitu artinya sistem pembangunannya menggunakan potensi seluruh sumber daya alam. SDM, dan IPTEK dalam mengelola pertaniannya. Bertujuan sebagai upaya berkembang terus-menerus sehingga tidak mengalami penurunan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh, menjadikan SDM yang berkualitas dan adanya perjanjian membangun sektor pertanian hingga tercapai sebuah keberhasilan dalam kegiatan Pondok pesantren ini, memiliki peranan terhadap santrinya dan bekerjasama dengan masyarakat sekitar hingga dapat memberdayakan skill bertani dan dapat meningkatkan sektor pertanian untuk menjenjang pembangunan ekonomi dalam bidang pertanian. Hal tersebut tidak hanya mengenai berdirinya dan berkembangnya pondok pesantren Al-Ittifaq. Namun, untuk membahas atau mengetahui peranan kehidupan santri Al-Ittifaq dan masyarakat Alamendah dalam bidang agribisnis. Dalam peranan ini, bahwa perlu diketahui komoditas yang dihasilkan, perolehan dukungan dalam bidang pertanian, jumlah peranan santri di Al-Ittifaq, serta kegiatan yang dilakukan santri atau metode untuk mengembangkan agribisnis sehingga peranan kehidupan masyarakat sekitar ikut terpengaruhi oleh adanya kegiatan tersebut. Secara permasalahan tersebut, memaparkan kegiatan dan pengajaran pondok pesantren yang dipimpin oleh KH Fuad Affandi untuk memberikan pendapatnya ke pemerintah tepatnya Departemen Pendidikan Nasional untuk mengikuti pesantren dalam rangka membangun agribisnis bidang pertanian sehingga dapat berperan penting dan bermanfaat untuk masyarakat sekitar serta membawa santrinya agar dapat mengikuti dengan kemajuan zaman bersama program pendidikan atau kurikulum yang tepat. METODE PENELITIAN Pada penulisan sejarah, diperlukan untuk menggunakan suatu metode yang dipakai sebagai dasar pada penulisan. Penelitian ini memakai metode sejarah lisan sebagai acuannya. Metode sejarah digunakan dalam penelitian ini. Pada dasarnya, metode sejarah ada empat tahap yakni, heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Pertama, heuristik yang diartikan sebagai usaha untuk mencari dan mendapatkan sumber-sumber yang dapat dipercaya sehingga sesuai dengan yang dipakai. Dalam mencapai suatu keberhasilan pada sumber pencarian perlu diperhatikan wawasan dan keterampilan ketelitian peneliti dalam mencari sumber yang dipakai. Jika dilihat dari penyajiannya, maka sumber dapat diperoleh dalam bentuk seperti dokumen, jurnal atau artikel, arsip, buku dan lain sebagainya (Herlina, 2. Penelitian ini bersumber dari data subjek dimana data tersebut didapatkan. Studi kasus dilakukan pada penelitian ini yang dilakukan di Al-Ittifaq. Sumber data dari penelitian ini yaitu Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ittifaq. Data yang diperoleh pada penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara mendalam. Penelitian yang dilakukan di Al-Ittifaq ini berlokasi di Ciburial. Alamendah Kabupaten Bandung. Penelitian yang berlokasi di tempat tersebut ditentukan berdasarkan karakteristik dari pesantren itu sendiri, yaitu selain dari ilmu agama, santri dibekali kemampuan lain, salah satunya keterampilan pada bidang pertanian. Peranan Pondok Pesantren Al-Ittifaq dalam Bidang Agribisnis terhadap Kehidupan Masyarakat Alamendah Bandung 19701998 Andika Dwiki Arislan. Mumuh Muhsin Zakaria. Miftahul Falah Selama melakukan kegiatan penelitian, peneliti menggunakan teknik wawancara untuk memperoleh informasi dengan Pimpinan pesantren, dan alumni, serta masyarakat sekitar Al-Ittifaq. Dalam memperoleh informasi dan data yang berhubungan dengan peranan pondok pesantren Al-Ittifaq dalam bidang Agribisnis terhadap kehidupan masyarakat sekitar. Studi kepustakaan dilakukan peneliti sebagai data pendukung yang sumbernya didapatkan dari bermacam literatur. Data pendukung yakni mengenai berbagai konsep serta berbagai teori sebagai dasar pemikiran dari berbagai jurnal, artikel, buku, internet, dan yang berhubungan dengan penelitian. Kedua, untuk penulisan sejarah, sumbernya harus dinilai terlebih dahulu melalui kritik internal dan kritik eksternal. Kritik sumber bertujuan untuk menyeleksi data, agar memperoleh fakta. Selanjutnya Interpretasi yakni penafsiran dari makna fakta serta hubungan dari fakta yang satu dengan fakta lain yang sering disebut biang subjektivitas (Herlina, 2. Sikap objektif harus dilakukan dalam penafsiran fakta. Jika pada hal tertentu bersikap subjektif, tidak boleh subjektif emosional, akan tetapi harus subjektif rasional. Tahap akhir pada metode sejarah yaitu Historiografi yang berarti merangkai dan mengkaitkan fakta dan maknanya dengan cara kronologis atau diakronis serta Seni penulisan erat sekali dan berhubungan dengan historiografi dan menekankan pentingnya keterampilan dalam seni menulis serta dapat dikategorikan sebagai proses dalam penulisan sejarah objektif (Herlina, 2. Penggunaan metode sejarah dalam metode penelitian ini membuat penulis merasa terbimbing dalam menyelesaikan skripsi ini serta dari adanya tahapantahapan dalam metode sejarah tersebut membuat pengerjaan skripsi ini menjadi lebih sistematis, komprehensif dan kronologis HASIL DAN PEMBAHASAN Sejarah Berdirinya serta Berkembangnya Pondok Pesantren Al-Ittifaq Pada 1 Februari tahun 1934 . Syawal tahun 1. Pondok Pesantren Al-Ittifaq didirikan oleh KH. Mansyur atas restu dari Kangjeng Dalem Wiranata Kusumah. Al-Ittifaq awal mulanya termasuk pesantren salafiyah atau pesantren tradisional atau non sekolah. Pada saat itu sistem pendidikan yang diterapkan di Al-Ittifaq cukup kolot. Santri tidak diperbolehkan untuk belajar menulis tulisan latin kemudian tidak diperbolehkan berinteraksi atau kenal dengan pejabat pemerintah, membangun rumah bertembok tidak diperbolehkan, peralatan elektronik seperti mic, televisi, radio, dan sebagainya tidak diperbolehkan, dan tidak diperbolehkan adanya toilet didalam rumah. Rifai memimpin Al-Ittifaq pada tahun 1953 hingga wafat pada tahun 1970, kemudian kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh K. Fuad Affandi yang merupakan cucu dari KH. Mansyur. Pada saat itu pendidikan di Pondok pesantren yang tidak dikelola dengan baik mengakibatkan perkembangannya sangat lambat atau bahkan stagnan, ketidakmauan untuk membuka diri, serta kurangnya kesadaran dan pengetahuan akan potensi di daerahnya. Sebagai suatu lembaga Pendidikan. Pondok Pesantren Al-Ittifaq mempunyai visi, yakni AuIkhlas pada pelayanan dalam menegakan syiar Islam lewat dakwah bil halAy. Serta mempunyai misi Aumewujudkan pribadi serta masyarakat yang memiliki akhlak mulia melalui pengalaman nilai-nilai di Islam, dan juga mengembangkan sebuah program pelayanan dengan terpadu, terarah, serta berkesinambungan. Mewujudkan perilaku yang berprestasi, berpikir dengan strategis dan bertindak efektif, efisien melalui pengembangan Pendidikan yang komprehensif bagi banyak orang. Ay Usaha dalam menjaga kesesuaian eksternal di Al-Ittifaq memiliki prinsip kelembagaan yakni, meyakinkan, menggalang, menggerakan, memantau, dan melindungi. Pondok Pesantren Al-Ittifaq memiliki latar belakang menjalankan pertanian serta agribisnis bermula dari kebutuhan pesantren untuk dapat menghidupi seluruh santri serta pengurus pondok pesantren. Pesantren dapat menyediakan biaya operasional dan menjalankan roda pesantren. Pada saat itu mayoritas santri yang mondok berlatar belakang dari kalangan yatim piatu serta tidak mampu. Jadi mereka tidak mempunyai kemampuan untuk membiayai pendidikannya, otomatis mereka jadi tanggungan pesantren, karena pada saat itu santri sama sekali tidak dipungut biaya, jadi santri yang mondok di pesantren tidak mengeluarkan biaya untuk kegiatan pendidikannya. Semakin hari jumlah santri semakin bertambah dan biaya operasional semakin tinggi. Pada akhirnya pondok pesantren harus mencari solusi, salah satu caranya dengan melakukan pemberdayaan santri. Pada saat itu yang memungkinkan untuk menghasilkan uang yaitu dengan cara mengolah lahan pertanian di sekitar Tanah yang berada di sekitar pondok ini sangat subur karena berada pada dataran tinggi, letaknya 1200-1500 m diatas permukaan laut, jadi sangat cocok untuk kegiatan pertanian, serta di Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2450-2461 daerah perbukitan yang luas dan memiliki suhu udara diantara 19-20 derajat celcius serta memiliki curah hujan dengan rata-rata 2150. Awalnya santri di kebun hanya untuk menghasilkan hasil kebun yang dapat dijadikan makanan bagi Seperti petani tradisional yang hanya menanam untuk dikonsumsi sendiri untuk kebutuhan sehari-hari dan bernilai jual rendah karena Bertani hanya untuk kebutuhan sehari-hari bukan untuk kebutuhan pasar. Karena semakin banyak jumlah santri maka biaya operasional semakin tinggi, kemudian para pengurus pondok pesantren berpikir ulang untuk tidak hanya mengolah kebun tetapi bagaimana meningkatkan nilai jual komoditas kebun. Sejak tahun 1970 an santri dilibatkan dalam pengembangan pertanian di pondok pesantren Al-Ittifaq. Produk santri akhirnya diterima di pasar modern. Karena secara pendapatan pasar tradisional kurang memberikan margin dibandingkan dengan pendapatan jika dijual di pasar modern. Sejak saat itu pertanian pondok pesantren semakin berkembang karena berorientasi pasar, tidak asal menanam tetapi menanam berdasarkan permintaan pasar. Mulailah dirintis bagaimana mengelola, mengatur lahannya, dan mengatur sumber daya manusianya, termasuk juga menyediakan wadah untuk kegiatan usaha. Maka dibentuklah koperasi pondok pesantren . al-ittifaq sebagai ujung tombak pemasaran hasil produk para santri. Jadi motivasi awalnya pertama adalah untuk memberdayakan para santri sebagai Pendidikan pesantren, yang kedua, mengoptimalkan potensi alam yang ada disekitar pondok pesantren, dan akhirnya bukan hanya pondok pesantren yang mengelola lahannya tetapi masyarakat sekitar juga ikut mencontoh pondok pesantren dalam pengolahan lahannya. Pesantren sebagai model bagi masyarakat untuk pengolahan lahan pertanian dan termasuk usaha pertanian, maka tidak sedikit orang luar menjadikan al-ittifaq sebagai rujukan untuk pengembangan agribisnis. Pada awalnya masyarakat di sekitar pondok pesantren tidak terlalu peduli dengan potensi alamnya, banyak tanah yang tidak digarap, banyak tanah yang hanya disewakan kepada pihak lain. Setelah pondok pesantren yang mempelopori bagaimana mengolah lahan dan mulai dikatakan berhasil dalam pengolahan lahannya, maka masyarakat pada akhirnya ikut tertarik untuk mengolah lahannya sendiri. Kegiatan agribisnis di pesantren al-ittifaq awalnya hanya dilakukan oleh santri saja, kemudian karena semakin besar permintaan pasar maka semakin membutuhkan SDM dan sumber daya lahan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Maka semakin luas cakupan kerjasama yang harus dibangun oleh pondok pesantren. Pesantren berusaha untuk merangkul banyak pihak dalam rangka memenuhi kebutuhan pasar. Pesantren akhirnya menjalin kerjasama dengan dengan berbagai pihak salah satunya kelompok-kelompok tani. Kelompok tani itu dibangun oleh alumni-alumni pesantren dengan masyarakat sekitar karena jumlah permintaan yang diterima pesantren membutuhkan lahan yang tidak sedikit kurang lebih sekitar ratusan hektar lahan yang dibutuhkan untuk dapat menjaga kontinuitas suplai produk pertanian dari pondok pesantren ke pasar, karena semakin besar usaha yang pondok pesantren bangun maka semakin besar juga kemitraan yang dibangun. Tidak semua produk yang diminta pasar ada di al-ittifaq atau ditanam di al-ittifaq, ada produk-produk yang ditanam di daerah dataran rendah maka pondok harus bekerjasama dengan orang-orang di dataran rendah. Pondok Pesantren Al-Ittifaq sebagaimana PPAI Ciwidey mencatat reputasi, prestasi, serta inovasi yang telah sukses tercapai sebagai pesantren percontohan dan pengembangan agribisnis di tahun 1996 oleh tim dari antar departemen (Departemen Pertanian. Departemen Agama. Koperasi Pondok Pesantren. Departemen Koperasi dan Pengusaha Kecil dan Menengah serta Pemda Tingkat I). Kemudian mendapat penghargaan Kyai PPAI di tahun 1998 menjadi Tokoh yang mendapat penghargaan Tut Wuri Handayani Award, sebagai tokoh di Pendidikan swasta yang diberikan oleh Internasional Manajemen Indonesia, dan menerima Tanda Kehormatan Satya Lancana Wirakarya Nugrahai, atas Darma Bakti pada Negara dan Bangsa. Sejarah Perkembangan Agribisnis di Pondok Pesantren Al-Ittifaq Sebelum agribisnis berjalan pada era 1980-an, masyarakat petani di kawasan Ciburial. Alamendah Rancabali terkenal miskin serta terbelakang dan terbalut kebodohan juga kekolotan. Menurut KH. Fuad Affandi masyarakat di sini mengidap ideologi kesukuan ala Samin. Setiap hal yang baru tidak Jika merasa tidak cocok langsung ditolak. Kenyataan itu telah berubah setelah 15 tahun lebih agribisnis berjalan di sana. Kemiskinan masih ada, akan tetapi mayoritas petani di sana sudah lebih sejahtera. Dapat dibandingkan dengan kampung-kampung lain yang mempunyai potensi dan aset sama tetapi tidak sesejahtera di Kawasan Desa Alamendah itu. Peranan Pondok Pesantren Al-Ittifaq dalam Bidang Agribisnis terhadap Kehidupan Masyarakat Alamendah Bandung 19701998 Andika Dwiki Arislan. Mumuh Muhsin Zakaria. Miftahul Falah Kondisi perkampungan di sekitar pesantren al-ittifaq menjelang tahun 1980 sangat ketinggalan di bidang pertaniannya, dan tidak hanya dari bidang pertanian saja yang ketinggalan, perkampungan di Desa Alamendah juga ketinggalan di bidang Pendidikan, teknologi dan transportasi, bahkan listrik belum masuk, sedangkan kondisi Kawasan itu pada tahun 1980 masih dipenuhi semak belukar. Pada musim kemarau jalan sempit di kampung-kampung penuh debu dan ternak, jarang sekali kendaraan yang melintas. Apabila pada musim hujan, jalanan kotor dan becek penuh dengan lumpur. Kendaraan seperti mobil tidak dapat masuk karena jalan sempit, kemudian rumah-rumah panggung berdempetan tidak teratur dan kondisi pesantrennya juga kumuh. Pada malam hari semua kegiatan di kampung desa Alamendah itu berhenti. Orang-orang masuk kerumah masing-masing dan hewan ternak masuk ke kandangnya masing-masing. Hanya ada sinar lampu teplok kelap-kelip untuk menunjukan tanda dari kehidupan suatu keluarga. Hal ini mendasari pimpinan Al-Ittifaq pada saat itu K. H Fuad bahwa ilmu pengetahuan yang baik untuk mengelola pertanian sangat dibutuhkan. H Fuad Affandi atau biasa orang-orang memanggilnya mang haji adalah pimpinan Pondok Pesantren Al-Ittifaq pada saat itu ia menjabat sejak tahun 1970, mang haji merupakan pelopor agribisnis di pondok pesantren AlIttifaq. Ia menyadari jika ingin menggapai kemajuan pertanian harus mengadopsi ilmu-ilmu pengetahuan dari luar juga terus mempelajari banyak hal, tidak cukup apabila hanya mengandalkan pengalaman petani di desa itu. Perkembangan usaha agribisnis ini dimulai tahun 1970 sejak pimpinan KH. Fuad Affandi. Berawal dari kegiatan keagamaan hingga dipadukan kegiatan usaha pertanian atau agribisnis. Hal ini, karena adanya dukungan dari potensi alam di sekitaran pondok pesantren. Saat ini kegiatan agribisnis masih berlangsung dan menjadi tulang punggung di pondok pesantren. Pada era akhir tahun 1970 sampai dengan era 1985-an, terkendala karena penyebaran ilmu pengetahuan pertanian lewat forum-forum pertanian contohnya diskusi, seminar dan penyuluhan masih sangat sedikit, dan buku-buku pertanian masih sangat minim. Agribisnis sendiri pengenalannya baru ada pada tahun 1982. Mang haji Fuad aktif mengikuti acara pertanian pada saat itu yang biasanya dilakukan oleh Tempat belajar paling sering dikunjungi adalah Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) yang bertempat di Lembang. Pada tahun 1993 mang haji Fuad pernah mendapat beasiswa magang agribisnis untuk urusan greenhouse ke Belanda selama tiga bulan, kemudian ia juga pernah magang dari pemerintah di Jepang untuk urusan desain produk/pengepakan pada tahun 1995. Bahkan orang dari BBPP sering merekomendasikan pelatihan atas nama BBPP karena kepercayaannya terhadap mang haji Fuad, dan pada tahun 1997 ia pernah mengikuti pelatihan yang bertempat di Bali. Pertama kali pondok pesantren Al-Ittifaq memasarkan produk pertaniannya ke pasar-pasar tradisional, kemudian memasok produk pertaniannya ke pasar modern. Pada awal kerjasamanya pondok pesantren bekerjasama dengan KUD Pasirjambu untuk memasok barang ke salah satu pasar modern Hero sejak tahun 1980-an. Hero sendiri mengajarkan pondok pesantren al-ittifaq dalam rangka pengolahan hasil pertanian, termasuk cara treatment sayuran agar dapat diterima di pasar Hero merupakan standar tertinggi pada saat itu untuk pengolahan hasil sayuran. Pondok pesantren al-ittifaq belajar berbagai cara untuk seleksi, grading, packing, wrapping, dan labeling dari Hero. Produk pesantren dapat diterima tidak hanya di Hero, tetapi di supermarket lain seperti Yogya. Lotte, dan Superindo, bahkan bekerjasama dengan rumah sakit dan beberapa restoran. Kegiatan tersebut melibatkan santri yang berasal dari berbagai pelosok negeri untuk berpendidikan di Al-Ittifaq. Para santri disana mayoritas berasal dari kalangan miskin serta anak yatim piatu, dapat disebut juga dari golongan ekonomi rendah sehingga mereka tidak dipungut biaya. Tidak hanya itu ternyata mereka juga dijamin kesehariannya untuk keperluan kesehatan, makan dan kebutuhan oleh pondok, yang merupakan hasil pertanian yang dikelola para santri. Pengembangan bidang agribisnis ini mendasar pada prinsip Ilahi. Negeri. Pribadi. Ekonomi. Keluarga. Birahi. Ilmihi atau disingkat INPEKBI, juga memiliki arti di dalam pelaksanaan agribisnis yang diridhoi Allah SWT, kemudian harus diakui pemerintah, berdasar pada kepribadian yang luhur, juga usaha harus dapat menghasilkan keuntungan. Dengan demikian, kegiatan tersebut harus sesuai asas kekeluargaan, apabila telah santri sudah dewasa harus siap untuk dinikahkan serta dikasih tempat untuk tinggal, di pesantren ini tidak ada batasan waktu santri untuk berlatih dan mondok, serta menerapkan ilmu serta teknologi yang berkembang agar meningkatkan hasil produksi. Pondok pesantren ini melibatkan santri pada kegiatan agribisnis. Santri juga dibekali dengan ilmu agama dan ilmu agribisnis. Banyak lulusan pesantren yang menjalankan usaha di bidang agribisnis dan tidak sedikit yang sukses. Saat ini Al-Ittifaq telah menjadi tempat magang serta pelatihan Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2450-2461 agribisnis dari santri-santri luar daerah, kemudian mahasiswa juga dari beberapa perguruan tinggi, serta petani yang berasal dari penjuru tanah air dan bahkan luar negeri. Kegiatan usaha di Al-Ittifaq memberikan berbagai dampak dalam keberlangsungan pendidikan di Al-Ittifaq. Dampak lainnya yaitu untuk sarana dalam memenuhi kebutuhan dari pesantren itu sendiri, juga menekan untuk biaya produksi, menjadikan komoditas memiliki nilai keunggulan yang bersaing serta komparatif, kemudian menjadi laboratorium sebagai pengembangan wirausaha serta mandiri di kalangan santri. Hal tersebut sejalan dengan tujuan dari pendidikan yang diinginkan Al-Ittifaq yakni menghasilkan santri mandiri, berakhlak mulia, serta berjiwa wirausaha. Al-Ittifaq sebagai pondok pesantren yang sejak tahun 1993 sudah membuat kontrak kerja jangka panjang dengan perusahaan mitra yakni Makro . ekarang Lottemar. Hero . ekarang Gian. , supermarket di daerah Bandung yakni Griya. Yogya Department store serta Superindo. Pada bulan Juni tahun 1998 setiap harinya pesanan sayuran dari Al-Ittifaq untuk supermarket minimal 3-4 ton. Terkait soal pekerja yang telah disepakati bahwa pesantren serta kelompok tani yang berada dibawah kopontren ini diharuskan untuk bisa mengirim barang secara mandiri dengan kualitas dan kuantitasnya sesuai keinginan pasar. Tidak lepas dari itu jika terdapat kekurangan maka pondok pesantren diharuskan bekerja sama dengan kelompok lain yang berada di luar kecamatan Ciwidey. Selain itu, jika masih saja kekurangan maka pondok diharuskan mencari di pasar-pasar yang lainnya dan pasar induk Caringin juga termasuk. komoditas yang dimaksud tetap harus sesuai dengan permintaan pasar lalu dikemas oleh kopontren Pada awal 1993 Al-Ittifaq mengadakan kerangka kerja untuk memenuhi kebutuhan di Hero yang bertempat di Jakarta, dengan kesepakatan yang sesuai diantara KUD Pasirjambu dan Hero serta kesepakatan dari pihak KUD Pasirjambu dan Al-Ittifaq yakni: Dalam pengiriman barangnya ke Hero, pesantren harus mengirimkan ke KUD Pasirjambu terlebih dahulu berikutnya dari KUD Pasirjambu dikirimkan ke Hero yang berada di Jakarta. Kemudian sistem pembayaran oleh Hero dikirim ke KUD melalui transfer KUD langsung diberikan uangnya ke Al-Ittifaq melalui cek yang sesuai dengan bon yang sudah disepakati. Harga untuk setiap barang sudah tertera di kontrak. Sedangkan perubahan dari harga yang diajukan satu minggu sebelum pengiriman. Pengiriman barang sudah harus terbaik yaitu kelas 1 untuk kualitasnya. Peningkatan kualitas pada usaha pertanian pondok pesantren dimulai sejak dari tahun 1997. Pondok pesantren Al-Ittifaq mendirikan koperasi pondok pesantren atau di singkat menjadi Koperasi Pondok Pesantren ALIF, melewati Koperasi Pondok Pesantren ALIF, sayuran hasil karya para santri serta masyarakat dijual ke beberapa supermarket di Jakarta dan di Bandung antara lain Diamond. Makro. Superindo. Yogya, dan Hero. Setelah mendirikan koperasi serta bekerja sama dengan perusahaan atau pengusaha swasta, kemudian santri Al-Ittifaq mengikuti bermacam-macam pelatihan yang diadakan dinas pemerintahan atau swasta. Pada tahun 1997 Koperasi Pondok Pesantren ALIF mulai berbadan hukum. Koperasi Pondok Pesantren ALIF berkembang pesat sehingga tabungan sukarela berjumlah tidak kurang dari 1,5 juta rupiah dalam kurun waktu satu minggu. Pemasaran dengan supermarket seperti Superindo. Yogya dan Griya di Kota Bandung didasarkan pada kerjasama langsung antara Koperasi Pondok Pesantren dengan supermarketnya. Peranan Pondok Pesantren Al-Ittifaq di Bidang Agribisnis terhadap Kehidupan Santri dan Masyarakat Desa Alamendah Pondok Pesantren Al-ittifaq bisa dikatakan menganut gaya Komunitarisme. Komunitarianisme adalah ideologi sosio-politik yang menghargai kebaikan bersama masyarakat daripada keperluan individu, dan merupakan semacam organisme sosial, kemudian menjadi satu pilar individu dengan suatu pendapat yang bisa mencapai tujuan bersama secara ideal seperti kemaslahatan seksama. Politik struktural disebut juga sebagai suatu jalan yang strategis demi membangun kemajuan diberbagai bidang, khususnya bidang pertanian. Dapat ditemukan bahwa petani sejati itu petani dengan hidup yang sejahtera yang berarti tidak mengandalkan peranan dari pemerintah secara keseluruhan seperti pada kampung Ciburial. Desa Alamendah di Kabupaten Bandung. Peranan Pondok Pesantren Al-Ittifaq dalam Bidang Agribisnis terhadap Kehidupan Masyarakat Alamendah Bandung 19701998 Andika Dwiki Arislan. Mumuh Muhsin Zakaria. Miftahul Falah Peran pesantren dianggap sebagai suatu lembaga Pendidikan yang memiliki peran penting dengan mendidik santrinya hingga mendidik masyarakat. Kemudian pesantren sebagai lembaga dakwah secara tidak tertutup tanpa batas santri dengan masyarakatnya. Peran pesantren selanjutnya sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat. Semuanya berimplikasi kepada masyarakat sekitar, dari bidang pendidikannya di pondok pesantren bukan hanya dibutuhkan oleh santri tetapi juga oleh masyarakat sekitar, demikian pula dakwahnya bukan hanya untuk santri tetapi juga kepada masyarakat sekitar. Termasuk pengembangan masyarakat dan pemberdayaan masyarakat. Apa yang menjadi nilai baik di pesantren diharapkan dapat ditiru oleh masyarakat sekitar, sehingga masyarakat sekitar yang awalnya tidak mengetahui dapat berubah tahu, termasuk yang awalnya tidak bisa berubah menjadi bisa, dan awalnya tidak taat berubah taat. Hal tersebut menjadi bagian dari upaya pondok pesantren dalam melaksanakan peran pesantren kepada masyarakat sekitar, di al-ittifaq sendiri apa yang ada di pondok pesantren sangat mudah diakses oleh masyarakat, baik kegiatanya pola pendidikannya dan termasuk kegiatan agribisnis. Bahkan tidak jarang masyarakat dilibatkan secara penuh dalam kegiatan di pondok pesantren. Salah satu contohnya program pesantren yang melibatkan masyarakat yaitu sekali sebulan pada bulan rajab diadakan khitanan masal di Al-Ittifaq. Pada awalnya program khitanan massal merupakan inisiasi pondok pesantren yang dilakukan di pondok pesantren kemudian dibiayai pesantren, kemudian masyarakat merasakan manfaat dan dampak positifnya sehingga kegiatan khitanan masyarakat tersebut menjadi kegiatan milik masyarakat dan seluruh kegiatan tersebut dikelola oleh masyarakat secara penuh yang bertempat di pondok pesantren al-ittifaq, kemudian kegiatan umrah di setiap bulan mulud yang melibatkan masyarakat. Nilai-nilai baik pondok pesantren dapat diadopsi oleh masyarakat itu merupakan bagian dari upaya pondok pesantren Al-Ittifaq, kemudian masyarakat dapat menjadi bagian dari pola kehidupan di Al-Ittifaq. Al-Ittifaq sangat berpengaruh terhadap perkembangan ekonomi masyarakat di sekitar desa Alamendah, karena sebelum pondok pesantren menjalankan kegiatan agribisnis yang melibatkan masyarakat sekitar, desa Alamendah termasuk desa terpencil dan sangat miskin atau dapat dikatakan desa tertinggal. Berkat kerjasama dari pihak pondok pesantren dan kerjasama pemerintah, desa Alamendah kemudian menjadi desa mandiri dan menjadi desa percontohan tingkat nasional dengan kemampuan ekonomi yang luar biasa, hal ini merupakan bagian dari keberhasilan pondok pesantren memberikan contoh kepada masyarakat dalam memajukan kehidupan masyarakat sekitar. Pesantren Al-Ittifaq telah mencapai banyak kesuksesan, salah satu dari bukti kesuksesannya yakni banyak alumni Al-Ittifaq menjadi guru ngaji, pedagang serta juga mendirikan pesantren baru yang bertempat di kampungnya. Tidak kurang dari 36 DKM di Rancabali. Ciwidey, dan Lebak Muncang adalah lulusan Pondok Al-Ittifaq. Kini Al-Ittifaq sudah resmi menjadi salah satu unit untuk klinik konsultasi bidang agribisnis sebagai berikut: Pusat Inkubator Agribisnis, adalah suatu tempat untuk inkubasi yang dapat meningkatkan kemandirian untuk usaha kecil sehingga dari pemula bisa menjadi usaha yang lebih mandiri. Pelatihan agribisnis tempat untuk santri serta masyarakat petani dan sekitar Unit Kegiatan Masyarakat dari berbagai daerah serta dinas pemerintahan. Tidak hanya memberi manfaat serta meningkatkan kesejahteraan untuk santri serta pengelola pesantren, namun memberi manfaat serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Sebab, usaha Al-Ittifaq ini melibatkan masyarakat sekitar, dalam produksi suatu produk dalam pengembangan Kopontren serta Balai Mandiri Terpadu. Agribisnis yang dijalankan di Al-Ittifaq saat ini meliputi beberapa bidang usaha, sebagai berikut: Sayuran di daerah dataran tinggi diproduksi agar memenuhi kebutuhan supermarket, pasar modern dan juga pasar tradisional. Komoditi yang dihasilkan Al-Ittifaq sebanyak kurang lebih 25 jenis sayuran yaitu Jamur Tiram. Wortel. Kacang Endul. Kacang Merah. Seledri. Daikon. Labu Siam. Bawang Kucai. Bawang Ganda. Jagung Semi. Kapri. Pucuk Labu. Labu Parang. Lobak. Daun mint. Kol Merah. Kol Putih. Jeruk Limau. Sawi Putih. Paprika. Cabe Hijau. Cabe Keriting. Tomat. Daun Bawang. Kentang, dan Buncis. Komoditi yang siap produksi yaitu pasar modern serta pasar swalayan, melewati proses packing, menyortir, wrapping, grading serta labeling yang sesuai dengan keinginan dari pasar tersebut. Bahan untuk membuat kompos yang dikembangkan menjadi siap pakai dalam waktu satu minggu sebagai pupuk tanaman pangan dan hortikultura sehingga dapat diperjualkan dengan kode Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2450-2461 perdagangan Mikroorganisme Fermentasi Alami. MFA ini dijadikan sebagai pembuatan atau pabrik yang dialokasikan di daerah Garut. Adanya pengembangan usaha dalam penggemukan sapi serta domba, sehingga kotorannya berfungsi sebagai kompos. Pondok Pesantren Al-Ittifaq komoditi utama pertaniannya yaitu pada sayuran dataran tinggi. Selain itu agribisnis berkembang menjadi usaha perikanan, industry kompos, peternakan dan koperasi dengan melakukan fungsinya menjadi sarana pengolahan, produksi, penyedia modal, dan pemasaran Terdapat juga beberapa unit usaha seperti unit pengendalian hama serta penyakit, unit produksi, unit kendaraan, unit pemasaran, unit pelayanan sarana produksi, dan unit pemanfaatan hasil upaya untuk mendukung kelompok tani. Santri yang bergelut di bidang pertanian sesudah lulus dari pondok akan disarankan agar membuat suatu kelompok tani dan kemudian mengirimkan hasil dari pertaniannya ke Al-Ittifaq. Tidak sedikit diantaranya petani dari alumni Pondok Pesantren Al-Ittifaq yang telah berhasil untuk menarik minat lulusan Al-Ittifaq agar bekerja di lahan agribisnisnya. Pengajaran Bidang Agribisnis Pendidikan pertanian di Al-Ittifaq dijadikan bagian dari kurikulum sebagai upaya pondok pesantren untuk membekali life skill santri. Santri dituntut bukan hanya menguasai ilmu agama tetapi diharapkan untuk memiliki skill yang mumpuni sebagai bekal untuk dapat bertahan hidup, karena tidak semua lulusan dari pesantren jadi ustad atau kiayi. Setelah lulus dari pesantren maka santri akan kembali terjun ke masyarakat untuk bekal bagi mereka survive, itu merupakan komitmen al-ittifaq untuk membekali dengan kemampuan bertahan hidup melalui life skill, disela-sela pengajian tetap masih belajar life skill, disamping belajar dari pengalaman pesantren dibantu oleh beberapa pihak. Pendidikan pertanian di al-ittifaq disesuaikan dengan karakter santrinya. Bagi santri pemula hanya diajarkan hal-hal mendasar mengenai pertanian, tetapi bagi santri senior mereka diajarkan secara mendalam pada kegiatan pertanian. Pengajaran bidang agribisnis berupaya dalam meningkatkan usaha santri dalam berkerja serta hasilnya, sehingga Al-Ittifaq dapat mengadakan kerjasama diberbagai pihak yang berbentuk kemitraan, seperti kerjasama dengan masyarakat di lokasi sekitar Al-Ittifaq dan adanya pengajaran kepada masyarakat berbentuk penyaluran dari hasil produksi tersebut. Selain itu adanya kerjasama dengan berbagai instansi pemerintah maupun BUMN, dalam meningkatkan SDM, pengembangan sarana prasarana, dan bantuan permodalan. Kemudian menjalin kerjasama lembaga Pendidikan dengan adanya penyesuaian kemajuan IPTEK pertanian serta pembelajaran seperti magang ataupun yang laiinnya. Al-Ittifaq berkerjasama juga dengan instansi Pendidikan yaitu IPB Bogor. UNSIL Tasikmalaya, . ITB Bandung. UNPAD Bandung. UNS Solo. IKOPIN Sumedang. UNBRAW Malang. UMY Yogyakarta, dan masih banyak lagi. Kerjasama selanjutnya dengan lembaga terkait keuangan ataupun keusahaan. Pihak lain yang berada disekitar juga banyak menjalin kerjasama serta dapat memberi pengaruh baik pada bidang Pendidikan bahkan sesuai syariat islam untuk adanya sejahtera sesama umat. Terdapat juga pengajaran berupa pembinaan penyuluhan pertanian. Pembinaan tersebut bertujuan untuk mengurangi kesenjangan antara praktik dengan pengetahuan yang berbasis perkembangan teknologi, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat pedesaan dengan bekal ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental petani yang dapat meningkatkan penghasilan serta Pembinaan tersebut memiliki langkah-langkah dengan adanya peningkatan metode pertanian, pengelolaan usaha yang menguntungkan, dan kehidupan lebih baik dalam pengelolaan keuangan dan lingkungan. Kemudian adanya pembinaan agribisnis dilakukan secara terarah dan terpadu oleh berbagai pihak untuk menghasilkan petani yang mandiri dan Tangguh. Proses tersebut meliputi identifikasi masalah, penyiapan program, pelaksanaan, serta pemantauan dan pengendalian (Muttaqin, 2011: . Bidang agribisnis di Al-Ittifaq terdapat komoditi sesuai permintaan dari berbagai jenis pasar Hal tersebut, tidak lupa dengan adanya prioritas utama seperti mementingkan kebutuhan pasar yang memeperhatikan kualitas maupun kuantitas. Oleh karena itu, pengajaran membutuhkan sebuah metode dalam akurasi seperti perangkat teknis untuk mengelola makanisme kerja. Bertujuan Peranan Pondok Pesantren Al-Ittifaq dalam Bidang Agribisnis terhadap Kehidupan Masyarakat Alamendah Bandung 19701998 Andika Dwiki Arislan. Mumuh Muhsin Zakaria. Miftahul Falah agar pencapaian hasil itu dapat terjamin dengan adanya jaringan pekerjaan yang tidak sama dalam berbagai jenis pekerjaannya, akan tetapi tetap memiliki keterkaitan satu dengan yang lain. Kerjasama tersebut harus sesuai dengan kontrak dan permintaan pasar antara pengusaha dengan pondok pesantren, serta diadakan koordinasi sekelompok petani yang berfokus pada kopontren. Pengelolaan SDM (Santri dan Masyaraka. Sumber daya manusia yaitu para santri yang terdiri dari beberapa kelompok dalam mengelola agribisnis dengan kemampuan pendidikan, minat, dan tingkat keterampilan pada diri masing-masing. Selanjutnya pada pembagian peran guru yang secara umum meliputi, keskreteriatan, pengemasan, pengurus organisasi agribisnis, mandor kebun, pekerja lapangan, pemasaran, dan terakhir pengadaan. Selain itu ada juga tugas pengelolaan budidaya sayuran dengan luas lahan pertanian 14 Ha dengan sistem tumpang sari dan rotasi yaitu pola tanam yang sesuai aturan. Bertujuan agar dapat membuahkan hasil produk yang berkelanjutan dan memiliki kualitas yang terjamin. Terutama kelompok pengelolaan budidaya, kelompok tani, dan kelompok pengelolaan produk harus dilaksanakan oleh SDM santri pondok pesantren Al-Ittifaq yang sudah terlatih serta terdidik dan memiliki tenaga terampil. Kemudian peran petani mitra atau petani masyarakat yaitu dengan memberikan hasil panen ke AlIttifaq, peran selanjutnya petani diberi pembinaan langsung berupa pengetahuan atau ilmu dalam meningkatkan kapasitas produksi. Tujuan produksi untuk meningkatkan pendapatan dari usaha petani dan kesejahteraan (Kinding. Priatna, & Baga, 2019: . Pengaruh Bidang Agribisnis terhadap Kehidupan Masyarakat serta Lingkungan Sekitar Pengaruh agribisnis ini sangat mendapatkan perhatian dari masyarakat dan pemerintah sehingga adanya kepercayaan terhadap pondok pesantren Al-Ittifaq ini. Dari lingkungan sekitar juga jadi banyak yang ingin menjadi santri di sana dan banyak yang berasal dari luar daerah, pondok ini menerima terutama bagi yatim piatu dan kalangan tidak mampu yang memiliki minat bekerja, kemudian Al-Ittifaq memberikan secara penuh beasiswa bagi santri tidak mampu. Kehidupan masyarakat dan lingkungan sekitar juga dapat menghambat peran pesantren, terdapat beberapa faktor-faktor yang menghambat peran Al-Ittifaq, seperti sikap apatis pada masyarakat, permasalahan pihak luar terkait kepopuleran, kepemimpinan dengan sifat sentralistik, dan adanya berita negatif yang berasal dari media. Berbanding dengan faktor yang menunjang peran Al-Ittifaq seperti SDA potensial, prinsip kepemimpinan KH. FuAoad Affandi, pemimpin yang entrepreneur, menghapus kesenjangan terkait identitas sosial, memanajemen SDM yang disiplin dan dapat Keberhasilan yang dilakukan Al-Ittifaq yaitu keberhasilan dalam proses entrepreneurship agribisnis dengan memakai konsep shalat berjamaah di awal waktu, dapat menghasilkan kader yang berkembang dan berperan di masyarakat, berhasil dalam perubahan lembaga Pendidikan, sosial dan pelatihan, dan membuahkan penghargaan serta kepercayaan menjadi pesantren entrepreneur. KESIMPULAN Berdirinya Pondok Pesantren Al-Ittifaq pada tahun 1934 oleh K. Mansyur. Kemudian terus berkembang sehingga pada tahun 1980 baru mulai adanya kegiatan agribisnis di Al-Ittifaq yang dipimpin oleh K. Fuad Affandi. Kegiatan agribisnis di Al-Ittifaq awalnya dilakukan oleh santri saja, kemudian karena semakin besar perimintaan pasar maka semakin membutuhkan sumber daya manusia dan sumber daya lahan untuk dapat memenuhi kebutuhan pasar. Maka semakin luas cakupan kerjasama yang harus dibangun oleh pondok pesantren. Pesantren berusaha untuk merangkul banyak pihak dalam rangka memenuhi kebutuhan pasar. Pesantren akhirnya menjalin kerjasama dengan dengan berbagai pihak salah satunya kelompok-kelompok tani. Kelompok tani itu dibangun oleh alumni-alumni pesantren dengan masyarakat sekitar karena jumlah permintaan yang diterima pesantren membutuhkan lahan yang tidak sedikit kurang lebih sekitar ratusan hektar lahan yang dibutuhkan untuk dapat menjaga kontinuitas suplai produk pertanian dari pondok pesantren ke pasar, karena semakin besar usaha yang pondok pesantren bangun maka semakin besar juga kemitraan yang dibangun. Tidak semua produk yang diminta pasar ada di al-ittifaq atau ditanam di al-ittifaq, ada produk-produk yang ditanam di daerah dataran rendah maka pondok harus bekerjasama Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2450-2461 dengan orang-orang di dataran rendah. Sebelum kegiatan agribisnis berjalan, yaitu pada era 1980an, masyarakat petani dikawasan Ciburial Desa Alamendah Kabupaten Bandung dikenal miskin dan terbelakang juga berbalut dengan kebodohan dan kekolotan. Kenyataan itu telah berubah setelah 15 tahun lebih agribisnis berjalan di sana. Kemiskinan masih ada, akan tetapi mayoritas petani di sana sudah lebih sejahtera. Peningkatan kualitas pada usaha pertanian pondok pesantren dimulai sejak dari Pondok pesantren Al-Ittifaq mendirikan Koperasi Pondok Pesantren ALIF, dengan demikian produk hasil karya santri serta masyarakat dapat dijual ke beberapa supermarket di Jakarta dan di Bandung antara lain Makro. Diamond. Superindo. Yogya, dan Hero. Setelah mendirikan Koperasi serta bermitra dengan pengusaha swasta atau perusahaan, kemudian santri Al-Ittifaq sering kali mengikuti berbagai pelatihan yang diadakan oleh dinas pemerintahan maupun dari swasta. Peran pesantren sebagai lembaga pendidikan dan tidak hanya mendidik santri tetapi juga mendidik masyarakat, kemudian pesantren sebagai lembaga dakwah yang terbuka dan tidak ada batas antara masyarakat dan santri. Peran pesantren selanjutnya sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat. Semuanya berimplikasi kepada masyarakat sekitar, dari bidang pendidikannya di pondok pesantren bukan hanya dibutuhkan oleh santri tetapi juga oleh masyarakat sekitar, demikian pula dakwahnya bukan hanya untuk santri tetapi juga kepada masyarakat sekitar. Termasuk pengembangan masyarakat dan pemberdayaan masyarakat. Hal tersebut menjadi bagian dari upaya pondok pesantren dalam melaksanakan peran pesantren kepada masyarakat sekitar, tidak jarang masyarakat dilibatkan secara penuh dalam kegiatan di pondok pesantren. Nilai-nilai baik pondok pesantren dapat diadopsi oleh masyarakat itu merupakan bagian dari upaya pondok pesantren Al-Ittifaq, kemudian masyarakat dapat menjadi bagian dari pola kehidupan di Al-Ittifaq. Al-Ittifaq sangat berpengaruh terhadap perkembangan ekonomi masyarakat di sekitar desa Alamendah, karena sebelum pondok pesantren menjalankan kegiatan agribisnis yang melibatkan masyarakat sekitar, desa Alamendah termasuk desa terpencil dan sangat miskin atau dapat dikatakan desa tertinggal. Berkat kerjasama dari pihak pondok pesantren dan kerjasama pemerintah, desa Alamendah kemudian menjadi desa mandiri dan menjadi desa percontohan tikat nasional dengan kemampuan ekonomi yang luar biasa, hal ini merupakan bagian dari keberhasilan pondok pesantren memberikan contoh kepada masyarakat dalam memajukan kehidupan masyarakat sekitar. DAFTAR PUSTAKA