Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra P-ISSN: 1978-8800. E-ISSN: 2614-3127 http://journal. um-surabaya. id/index. php/Stilistika/index Vol. 17 No. Januari 2024, hal 1-10 KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT BANGKA BELITUNG DALAM CERITA RAKYAT AuBATU BALAIAy: KAJIAN PENDIDIKAN KARAKTER LOCAL WISDOM OF THE BANGKA BELITUNG COMMUNITY IN THE FOLK STORY "BATU BALAI": A STUDY OF CHARACTER EDUCATION Lasmi Hartati1*. Lili Liana2. Muhammad Rozani3 Perencanaan Wilayah dan Kota. Universitas Bangka Belitung. Indonesia1 Kedokteran. Universitas Bangka Belitung. Indonesia2 Akuntansi. Universitas Bangka Belitung. Indonesia3 lasmihartati24@gmail. com 1, lililiana@ubb. id 2, muhammadrozani@ubb. *penulis korespondensi Info Artikel ABSTRAK Sejarah artikel: Diterima: 5 Desember 2023 Direvisi: 5 Januari 2024 Disetujui: 18 Januari 2024 Terdapat berbagai cerita rakyat atau folklor yang memuat nilai kearifan . budaya suatu daerah. Cerita rakyat mempunyai ragam arti dalam menciptakan karakter. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan manfaat cerita rakyat sebagai salah satu bentuk pembentukan karakter. Dalam penelitian ini, peneliti menerapkan metode deskriptif kualitatif. Sumber data penelitiannya berupa dokumen cerita rakyat Batu Balai, serta wawancara dengan informan yang kemudian ditranskip dalam bentuk Analisis interaktif digunakan untuk menganalisis data,yang divalidasi menggunakan metode triangulasi dan evaluasi informan. Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan, telah ditemui tujuh karakter yang muncul dari cerita. Karakter yang adalah mandiri, kerja keras, sabar, komitmen, gotong royong, jujur, dan sopan. Nilai yang paling mendominasi dari ketujuh nilai tersebut adalah nilai kerja keras dan gotong royong. Tentu hal tersebut terlihat dari perilaku atau sikap para tokoh dalam cerita. Terutama tokoh utama yang mencoba untuk membantu perekonomian Hal tersebut perlu diimplementasikan, karena saat ini era digitalisasi yang membuat anak-anak sibuk dengan gawainya. Kata kunci: cerita rakyat, kearifan local, pendidikan Article Info ABSTRACT Article history: Received: 5 December 2023 Revised: 5 January 2024 Accepted: 18 January 2024 There are various folk tales that contain local wisdom values. Folklore has many meanings in character formation. The aim of this research is to describe the benefits of folklore as a form of character formation. The method used in this research is descriptive qualitative. The research data sources were Batu Balai folklore documents, as well as interviews with informants which were then transcribed in narrative form. Interactive analysis was used to analyze the data, wich was validated using triangulation and informant evaluation methods. Based on the research conducted, seven characters were found that emerged from the story. The characters found are independence, hard work, patience, commitment, mutual cooperation, honesty and politeness. The most dominant value of the seven values is the value of hard work and mutual cooperation. Of course, this can be seen from the behavior or attitudes of the characters in the story. Especially the main character who tries to help his mother's economy. This needs to be implemented, because in the current era of digitalization, children are busy with their devices. Keyword: folklore, local wisdom, character education Copyright A 2024. Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra DOI: http://dx. org/10. 30651/st. Hartati. Liana. Rozani/Kearifan Lokal Masyarakat A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 17 No. Januari 2024. Hal 1-10 PENDAHULUAN Pendidikan merupakan suatu proses yang sangat diutamakan dalam meningkatkan kualitas baik kualitas pengajaran maupun karakter. Dalam semua negara, pendidikan berada di tingkatan terpenting dalam konteks pembangunan bangsa dan Negara (Sebayang dan Rajagukguk, 2. (Musdolifah, dkk. , 2. menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan selalu berubah karena sifatnya yang kompleks sama halnya dengan individu . yang menjadi sasarannya. (Dirman dan Cicik, 2. mengatakan bahwa tindakan yang begitu penting dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar . meningkatkan kualitas pendidikannya. Misalnya tercantum pada tujuan pendidikan nasional, yaitu kemampuan peserta didik harus dikembangkan guna menjadi insan yang memiliki iman dan taqwa pada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak terpuji, baik fisik dan batin, berpengetahuan, terampil, kreatif, mandiri, serta bertanggung jawab. Dalam proses belajar mengajar juga mesti mampu memotivasi siswa agar terlibat secara aktif dalam proses mengembangkan potensi diri dengan menambah berbagai keterampilan yang Meski demikian, realitasnya sampai saat ini belum sepenuhnya tujuan dari pendidikan tersebut terpenuhi sesuai harapan. Banyak peristiwa yang terjadi, seperti tawuran pembunuhan, dan bahkan tindak korupsi yang masih kerap diulas di berbagai media massa baik cetak maupun digital. Fakta ini membuktikan bahwa tujuan dari pendidikan tersebut belum sepenuhnya sesuai dengan apa Semestinya, pendidikan tersebut tidak semata menghasilkan individu yang memiliki pengetahuan dan keahlian saja, tetapi bernegara (Safitri, dkk. , 2. Pendidikan karakter sangat penting untuk dilaksanakan dan diwujudkan karena memuat tujuan dari pendidikan nasional (Pratomo & Herlambang. Pernyataan di atas meminta semua yang terlibat untuk terus menilai dan meningkatkan kualitas pendidikan khususnya di Indonesia. Institusi pendidikan diharapkan tidak hanya berkualitas di ruang lingkup akademik, tetapi juga menciptakan generasi yang bermoralitas tinggi. Menurut (Kesuma, 2. , pendidikan karakter umumnya adalah proses pembelajaran yang bertujuan untuk memperkuat dan mengembangkan perilaku peserta didik secara keseluruhan, yang berlandaskan nilai-nilai ditegaskan oleh instansi pendidikan (Sekola. Artinya pendidikan karakter harus terintegrasi dengan seluruh mata Kearifan local merupakan unsur-unsur mengkristal menjadi bagian-bagian yang menyemai tatanan fisik maupun non fisik dari suatu kebudayaan masyarakat atau bangsa (Habibi. Kusdarini, 2. Penerapan dan pelaksanaan pendidikan karakter sangatlah penting dan salah satu cara untuk menerapkan dan melakukannya adalah dengan menggunakan karya sastra, yaitu cerita Cerita rakyat merupakan salah satu karya sastra yang hampir oleh setiap wilayah di Indonesia. Selain itu. Hartati. Liana. Rozani/Kearifan Lokal Masyarakat A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 17 No. Januari 2024. Hal 1-10 Indonesia juga salah satu Negara yang mengutamakan pendidikan, sehingga karya sastra . erita rakya. merupakan salah satu implementasi yang dapat menunjang pentingnya pendidikan, terkhusus pendidikan karakter. (Ilahi, 2. mengatakan bahwa pendidikan karakter di instansi pendidikan . harus didasarkan pada nilainilai luhur warisan kebudayaan guna mengarahkan seseorang dalam beradab dan bermartabat. Pandangan masyarakat yang dihargai, dipercaya, dan bernilai positif merupakan konsep atau asal muasal nilai-nilai luhur . earifan loka. Pandangan dan gaya hidup manusia yang didasarkan pada kebijaksanaan . akan mampu memberikan ketenangan dan kebahagiaan dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam praktiknya, kebijaksanaan . akan menuntun nilai dan norma dalam bentuk perilaku yang benar, tanpa memutarbalikkan nilai dan norma Berperilaku dengan bijaksana berarti bersikap etis dan norma-norma yang ada di kehidupan. Bersikap kurang bijaksana merupakan sikap yang melanggar etika dan norma-norma Semua nilai dan norma yang diterapkan dalam kehidupan untuk menilai bagaimana individu sebaiknya melaksanakan kegiatan sehari-hari disebut dengan etika (Unsriana, 2. Membicarakan tentang kearifan lokal, berarti merujuk pada nilai-nilai yang dinilai baik oleh masyarakat tertentu di suatu wilayah. Di Kabupaten Bangka Barat. Bangka Belitung, terdapat satu cerita rakyat yang akan dijadikan bahan penelitian untuk melestarikan nilai kearifan lokal suatu Nilai-nilai kearifan lokal tersebut dapat memberikan pelajaran dalam bertindak mapun bertingkah laku seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan dapat dijadikan sebagai landasan pendidikan karakter. Aturanaturan tersebut didasarkan pada pengalaman terdahulu masyarakat masa lalu dan diwariskan dari generasi ke generasi sebagai adat istiadat dan praktik suatu wilayah. Pengalaman pada masa lalu tersebut biasanya didapat dari kisah lisan yang diceritakan dari generasi ke generasi. Hal ini menarik untuk berdasarkan pengalaman orang-orang masa lalu, sehingga dapat memperoleh nilai-nilai kearifan yang dijadikan sebagai pegangan hidup oleh nenek moyang terdahulu. Nilai-nilai moral dalam proses pendidikan karakter akan ditanamkan dalam lingkungan satuan pendidikan resmi dan tidak resmi, seperti yang dijelaskan oleh (Samani & Hariyanto, . Jujur, mengungkapkan kenyataan, terbuka, konsisten antara ucapan dan tindakan, berani pada kebenaran, amanah . apat dipercay. dan tidak curang sedikit pun. Bertanggung jawab, menyelesaikan pekerjaan dengan sepenuh hati, bekerja dengan filosofi tinggi, berusaha sebaikbaiknya . emberikan yang terbai. , mengendalikan diri dan mengatasi tekanan, disiplin hukum, bertanggung jawab atas pilihan dan keputusan yang . Cerdas, berpikir cermat hati-hati, menjunjung tinggi kebenaran dan kebajikan, mencintai Tuhan dan . Berbadan sehat, bersih, menjunjung ketertiban, keteraturan, disiplin, keterampilan, menjaga diri dan lingkungan, serta mempunyai pola Peka. Hartati. Liana. Rozani/Kearifan Lokal Masyarakat A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 17 No. Januari 2024. Hal 1-10 memperlakukan orang dengan sopan, perbedaan, tidak suka menyakiti orang lain, mau mendengarkan orang lain, mau berbagi, tidak merendahkan orang lain, tidak memanfaatkan orang lain, mempunyai kemampuan untuk bergaul dalam kegiatan komunitas. Kreativitas, kemampuan memecahkan masalah secara kreatif, fleksibel, kritis, berani dalam mengambil keputusan dengan cepat dan sangat tepat serta mempunyai ide-ide baru. Gotong royong, kemauan bekerjasama dengan baik, dengan prinsip kalau tujuan tersebut akan terasa lebih mudah dan sangat cepat tercapai jika dicapai sama-sama, dibutuhkan untuk berbagi dengan orang Penelitian terkait pendidikan karakter pernah dilakukan oleh banyak Yustina Dwinuryati dan Andayani yang mengangkat tema tentang Kajian Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal pada Cerita Rakyat AuNyi Andan Sari dan Ki Guru SokaAy. Dalam penelitian ini menghasilkan sepuluh karakter, di antaranya religius, disiplin, keingintahuan yang kuat, kerja keras, kebangsaan, bersahabat, peduli sosial, dan tanggung jawab (Dwinuryati dan Andayani, 2. Selain itu, penelitian yang serupa juga pernah dilakukan oleh Firdauzia Nur Fatimah dan Edy Tri Sulistyo yang mengangkat tema tentang Cerita Rakyat Dewi Sritanjung Upaya Mewujudkan Pendidikan Karakter Berbasis Nilai Kearifan Lokal. Berdasarkan penelitian tersebut menunjukkan adanya nilai jujur dan religius dari cerita rakyat yang dipilih (Fatimah dan Edy, 2. Berdasarkan beberapa penelitian relevan di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat nilai-nilai kearifan lokal dalam sebuah cerita rakyat. Artinya nilai-nilai kearifan local dalam mewujudkan pendidikan karakter yang kehidupan sehari-hari. METODE Penelitian ini menerapkan metode deskriptif kualitatif. Penelitian dengan metode deksriptif kualitatif merupakan penelitian yang memiliki alur induktif yang berasal dari proses untuk menghasilkan kesimpulan (Yuliani. Kunci dari instrumen penelitian deskriptif kualitatif pada peneliti sendiri dan mengacu pada generalisasi (Rahmayanti, dkk. , 2. Fokus penelitian terletak pada nilai kearifan lokal yang terkandung dalam cerita rakyat "Batu Balai" sebagai dasar pendidikan karakter yang berlandaskan pada nilai kearifan lokal suatu Data dikumpulkan melalui teknik observasi dan wawancara dengan seorang tokoh masyarakat dan Observasi merupakan teknik mengumpulkan data dengan cara mengamati kegiatan yang sedang berlangsung, sementara wawancara dilakukan secara lisan dengan menemui langsung antara individual dengan tokoh masyarakat dan budayawan. Wawancara tersebut dilakukan di daerah Bangka Barat sesuai dengan daerah asal cerita rakyat. Dalam melakukannya dengan mengadaptasi model analisis secara berurutan dari Sutopo yang terdiri dari empat tahap, yaitu mengumpulkan data, mereduksi reduksi data, menyajikan data, dan menarik simpulan. Hartati. Liana. Rozani/Kearifan Lokal Masyarakat A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 17 No. Januari 2024. Hal 1-10 HASIL DAN PEMBAHASAN Cerita Rakyat Batu Balai masyarakat Muntok secara sederhana yang masih memegang erat adat dan budayanya seperti, nilai mandiri, kerja keras, sabar, komitmen, gotong royong, jujur, dan sabar. Cerita rakyat Batu Balai merupakan sastra lisan atau sastra daerah yang memiliki nilai kearifan lokal untuk dapat dijadikan sebagai pedoman untuk mengatur kehidupan Selain itu, cerita rakyat tersebut akan tetap lestari jika selalu mengenalkannya kepada anak-anak dan bisa membangkitkan kesadaran bahwa bangsa Indonesia kaya akan cerita Jika membaca cerita rakyat, nilai-nilai positif yang terkandung di dalamnya dapat dijadikan cerminan kehidupan dalam sikap dan perilaku. Namun tidak semua cerita rakyat cocok untuk dibacakan kepada anak-anak, karena sebagian cerita cocok dinikmati oleh orang dewasa. Artinya peran orang tua dalam memperkenalkan ceritacerita Dengan 38 provinsi yang ada di Indonesia tentu mempunyai banyak cerita rakyat setiap daerahnya. Cerita rakyat Batu Balai asal Muntok. Bangka Barat ini mengisahkan tentang kehidupan seorang anak lakilaki bernama Dempu Awang dan Mereka tinggal di sebuah rumah yang sederhana di tengah-tengah Sumber mata pencaharaian mereka adalah berladang. Penghasilan dari berladang tersebut hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, semakin hari hasil dari berladang tersebut semakin memprihatinkan. Informan Sarina sehari-hari. Dengan berat hati. Dempu Awang memutuskan untuk merantau mencari nafkah demi membantu ibunya. Hari demi hari ibu Dempu Awang hidup sendirian di tengah-tengah hutan sembari menanti kabar dari anaknya. Sudah puluhan tahun Dempu Awang merantau dan kehidupannya pun sudah kaya raya bahkan sudah menikah. Akan tetapi, selama puluhan tahun juga Dempu Awang tidak pernah menemui Tidak tahu bagaimana kabar dan kondisi ibunya di kampung. Selang berapa lama ia di perantauan. Dempu Awang mulai berniat untuk pulang kampung menemui ibunya. Setelah sampai di kampung halaman, ia melihat seorang perempuan tua yang tidak ia Padahal semua nelayan di situ sudah memberitahu bahwa perempuan tua tersebut adalah ibunya, bahkan perempuan tua tersebut mengetahui kalau Dempu Awang adalah anak lakilakinya yang selama ini merantau dan melihat ada goresan di keningnya. Akan tetapi. Dempu Awang sudah berubah menjadi sombong, ia marah dan menghalau perempuan tua itu hingga jatuh ke air laut. Akibat dari sifat durhaka Dempu Awang ia dan kapalnya akhirnya karam dan pecah hingga menjadi batu, yang dikenal dengan Batu Balai. Hasil Wawancara Berikut dengan informan terkait kearifan lokal masyarakat Bangka Barat. Bangka Beitung. Tabel 1. Hasil wawancara Hasil Wawancara Ibu Sarina menjelaskan bahwa kearifan masyarakat Bangka Barat memang harus dilestarikan. Mengingat saat ini semuanya serba Hartati. Liana. Rozani/Kearifan Lokal Masyarakat A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 17 No. Januari 2024. Hal 1-10 Informan Surmantoyo Hasil Wawancara Banyak anak-anak sebagai penerus bangsa yang sudah mulai terjerumus dengan teknologi, seperti penggunaan gawai. Gawai dapat menjadikan para penerus bangsa untuk mengurangi bahkan lupa betapa pentingnya pendidikan. Salah satunya pendidikan karakter. Saat ini di Bangka Barat masih ada beberapa anak yang masih peduli dengan keadaan orang tuanya, sehingga ia bisa berpikir untuk sembari membantu orang tuanya. Sumaryanto mengemukakan bahwa di Bangka Barat saat ini masih terlihat anak-anak yang karakter pribadinya patut dicontoh, seperti gotong royong, mandiri, jujur, sabar. Akan tetapi, terlihat juga sebagian anak-anak yang karakter pribadinya perlu dibimbing, seperti tidak peduli dengan sesama. Misalnya sibuk dengan hanphone. Tetapi di Bangka Barat ini masih sering ditemukan saling gotong royong. Seperti beberapa waktu lalu, saat pembongkaran masjid untuk direnovasi, para warga berbondong-bondong bergotong royong. Nilai-Nilai Kearifan Lokal Berdasarkan hasil analisis terdapat beberapa nilai kearifan lokal dalam cerita legenda Batu Balai. Nilainilai kearifan lokal yang diperoleh diidentifikasi melalui kalimat-kalimat yang terdapat dalam cerita legenda. Berdasarkan data yang diperoleh, terdapat 7 data yang menggambarkan kearifan lokal masyarakat Bangka Belitung dalam cerita legenda Batu Balai. Oleh karena itu, penulis akan menganalisis secara rinci nilai-nilai kearifan lokal tersebut. Mandiri Nilai mandiri pada legenda Batu Balai dapat dilihat pada kutipan berikut. Akibat penderitaan hidup yang sangat berat itulah pada suatu hari timbullah pikiran anaknya bernama Gempu Awang untuk pergi merantau sambil mencari nafkah agar dapat membantu ibunya (Batu Balai, hlm. Kutipan menggambarkan nilai mandiri yang terlihat dari tindakan tokoh utamanya yaitu Gempu Awang yang mencoba untuk pergi merantau sambil mencari nafkah hidupnya dengan sang ibu. Kerja Keras Gempu Awang merupakan seorang anak laki-laki yang hanya Kehidupan mereka pun sangat Tentu hal tersebut membuat Gempu Awang sebagai anak laki-laki sekaligus tulang punggung keluarga memiliki kehidupan mereka dengan bekerja lebih keras lagi. Di dalam perahu tersebut Gempu Awang tidak hanya sekedar sebagai penumpang tetapi turut menjadi anak buah (Batu Balai, hlm. Kutipan menggambarkan nilai Kerja Keras yang terlihat dari kegiatan Gempu Awang saat berada di kapal. Tidak hanya sebagi penumpang, tetapi Hartanti. Liana. Rozani/Kearifan Lokal Masyarakat A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 17 No. Januari 2024, hal 1-9 dia juga memanfaatkan waktu dan kondisi untuk menjadi anak buah Sabar Seorang ibu selalu memikirkan kondisi dan menanti kembalinya seorang anak saat di perantauaun. Berhari-hari ibu Gempu Awang menunggu kepulangan anak lakilakinya dari perantauan. Sungguhpun ibunya sangat berat, namun ia tak putus harapan menanti kedatangan anaknya (Batu Balai, hlm. Setelah merantau, kehidupan Gempu Awang pun sudah snagat baik bahkan menjadi orang kaya raya. Selain itu. Gempu Awang juga sudah memiliki seorang istri. Akan tetapi selama merantau. Gempu Awang tidak pernah menghubungi dan memberitahukan keadaannya kepada ibunya di kampung Padahal, kehidupan ibunya masih diliput kesedihan dan Setelah Gempu Awang memutuskan untuk meninggalkan ibunya dengan merantau demi mengubah kehidupan mereka dengan bekerja keras. Gempu Awang sangatlah jarang pualng. Ibunya pun selalu dengan sabar menunggu kedatangannya, karena sebelum berangkat merantau ia memohon doa dan restu dari ibunya agar bisa sukses dalam mencari kehidupan yang lebih Komitmen Seorang anak yang berada di perantauan tentu tidak akan lupa dengan kampung halamannya begitu juga dengan orang tuanya. Tentu hal itu akan menjadi komitmen seorang anak untuk kembali ke kampung halaman. Setelah beberapa lama Gempu Awang di rantau, timbullah niatnya untuk pulang ke kampung halamannya dengan maksud mengambil ibunya (Batu Balai, hlm. Gotong Royong Saat Gempu Awang memutuskan untuk kembali ke kampung halaman dengan maksud untuk menemui ibunya. Gempu Awang menggunakan kapal layar menuju kampung halamannya bersama sang istri. Ketika terlihat oleh nelayan bahwa ada kapal layar berlabuh maka nelayan yang sedang mengayunkan kolek mereka ke kapal tersebut, kalau-kalau ada barang atau penumpang kapal yang hendak merapat (Batu Balai, hlm. Berdasarkan kutipan di atas, terlihat nilai gotong royong yang dilakukan oleh para nelayan saat kapal layar berlabuh. Para nelayan sudah menunggu di pinggiran perairan untuk membantu para penumpang turun dengan barang masing-masing. Jujur Kejujuran memang sangat penting dan utama. Begitu juga dengan kehidupan bermasyarakat. Hal itu tentu akan menjadi bekal Hartanti. Liana. Rozani/Kearifan Lokal Masyarakat A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 17 No. Januari 2024, hal 1-9 dan ditanamkan sejak kecil hingga Kemudian pada waktu itu juga perempuan tua itu menjawab. AuBahwa aku adalah ibunya yang ditinggalkan selama ini, dan dia adalah anakku yang bernama Gempu Awang dengan tanda goresan yang terdapat di Ay (Batu Balai. Berdasarkan kutipan di atas, terlihat kejujuran yang dilakukan oleh orang tua kepada anaknya. Seorang membuktikan kebenaran sesuatu dengan jujur. Seperti Gempu Awang yang awalnya tidak mengakui kalau orang tua tersbeut adalah ibunya. Sopan Sebagai laki-laki sekaligus suami. Gempu Awang harus mendidik istrinya untuk menjadi pribadi yang baik kepada siapa pun, termasuk kepada Terlihat sikap sopan istri Gempu Awang pada kutipan Pada waktu itu istri Gempu Awang mengatakan. Auterimalah ibu kanda, jangan durhaka dan tidak perlu malu. Ay (Batu Balai. Pada kutipan di atas, terlihat nilai kesopanan pada sikap istri Gempu Awang. Saat itu Gempu Awang tidak mau menerima kalau perempuan tua di hadapannya itu adalah ibu kandungnya yang selama ini ia tinggalkan di kampung halaman sendirian. Akan tetapi istri Gempu Awang dengan sopannya menasehati suaminya untuk tetap menerima ibunya dan mengingatkan kalau tidak boleh durhaka kepada orang tua, apalagi seorang ibu. Berdasarkan paparan di atas, dapat dilihat bahwa beberapa nilai meningkatkan nilai pendidikan karakter anak bangsa saat ini yaitu, mandiri, kerja keras, komitmen, sabar, gotong royong, jujur, dan sopan. Akan tetapi jika dikaitkan dengan sinopsis, hasil wawancara, dan analisis data, maka nilai kearifan yang paling dominan adalah kerja keras dan gotong royong. Dari cerita rakyat Batu Balai tersebut pembaca tentu harus bisa memilih dan memilah nilai-nilai yang cocok sesuai usia, sehingga dapat menumbuhkan karakter yang baik. PENUTUP Berdasarkan pembahasan di atas, terdapat tujuh nilai pendidikan karakter dari cerita rakyat Batu Balai yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk mendidik generasi muda untuk bersikap dan bertutur. Perilaku yang tercermin dari tokoh utama dan tokohtokoh lainnya pada cerita dalam membantu orang tua dapat membuka wawasan dan pandangan dunia Peneliti mengharapkan hasil dari penelitian ini bisa dijadikan sebagai pemahaman pembaca dalam mendefinisikan karya sastra dalam membentuk karakter berbasis kearifan lokal dalam cerita rakyat. Pemanfaatan pembentukan pendidikan karakter juga melestarikan budaya suatu daerah. Patut dicontoh, ketika masyarakat lingkungan sekitar. Muntok. Bangka Barat bisa memberikan cerita rakyat Hartanti. Liana. Rozani/Kearifan Lokal Masyarakat A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 17 No. Januari 2024, hal 1-9 yang membina karakter, moral, dan kepribadian masyarakat. Meskipun beberapa di antaranya tampak sangat fiksi dan tidak dapat dibuktikan, cerita rakyat adalah bagian budaya yang terpelihara dengan baik. DAFTAR PUSTAKA