AL-MUHITH JURNAL ILMU AL-QURAoAN DAN HADITS E-ISSN : 2963-4024 . edia onlin. P-ISSN : 2963-4016 . edia ceta. DOI : dx. org/10. 35931/am. MAKNA KATA MANNA WA SALWA DALAM Q. AL-BAQARAH . : 57 (STUDI KOMPARATIF TAFSIR KLASIK DAN KONTEMPORER) Muhammad Rifqi Ridhani Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya ridhani@gmail. Akhmad Dasuki Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya akhmaddasuki@iain-palangkaraya. Abstrak Frasa Manna wa Salwa dalam Q. al-Baqarah . :57 bukan sekadar kisah historis tentang rezeki langit yang dikaruniakan kepada Bani Israil, melainkan menjadi simpul penting dalam wacana tafsir lintas zaman yang memperlihatkan dinamika pergeseran makna dari literalitas ke simbolisme kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konstruksi makna Manna wa Salwa dalam perspektif tafsir klasik dan kontemporer, serta menggali relevansinya dalam kehidupan modern melalui pendekatan komparatif. Data diperoleh melalui studi pustaka terhadap tafsir Ibn Katsir, al-Qurtubi, al-Munir, dan al-Misbah. Penelitian ini bersifat kualitatif-deskriptif dengan menekankan analisis terhadap kecenderungan metodologis dan interpretatif dari masing-masing mufasir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tafsir klasik umumnya menekankan aspek tekstual dan historis, di mana manna dimaknai sebagai zat manis alami seperti madu atau getah pohon, dan salwa sebagai burung puyuh yang dagingnya dapat dikonsumsi. Sebaliknya, tafsir kontemporer membuka ruang interpretasi yang lebih fungsional, di mana keduanya tidak hanya dipahami sebagai objek fisik semata, tetapi juga sebagai simbol dari rezeki ilahi yang bergizi dan menunjang daya tahan fisik manusia. Riset ini mengembangkan dimensi kontekstual bahwa manna di era sekarang dapat dipadankan dengan makanan bergizi tinggi seperti kurma, madu, atau suplemen alami, sementara salwa dapat dimaknai sebagai protein hewani seperti ayam, bebek, atau ikan yang kaya akan nutrisi. Kata kunci: Manna wa Salwa. Al-Baqarah: 57. Komparatif. Tafsir Klasik. Tafsir Kontemporer Abstract The phrase Manna wa Salwa in Q. al-Baqarah . :57 is not merely a historical account of divine sustenance granted to the Children of Israel, but rather serves as a pivotal element in the exegetical discourse across generations, revealing the dynamic shift from literal interpretation to contextual symbolism. This study aims to explore the construction of meaning behind Manna wa Salwa from both classical and contemporary tafsir perspectives, and to examine its relevance in modern life through a comparative approach. The data were obtained through a literature review of the works of Ibn Kathir, al-Qurtubi, al-Munir, and al-Misbah. Employing a qualitative-descriptive methodology, the research emphasizes analysis of the methodological and interpretative tendencies of each exegete. The findings reveal that classical interpretations predominantly emphasize textual and historical aspects, with manna understood as a naturally sweet substance such as honey or tree sap, and salwa interpreted as quail, whose meat was consumable. In contrast, contemporary exegesis allows for more functional interpretations, wherein manna and salwa are not solely viewed as physical objects but also as symbols of divine sustenance that nourish and sustain human vitality. This research advances a contextualized understanding that manna in the modern era may be equated with highly nutritious foods such as dates, honey, or natural supplements, while salwa may refer to sources of animal protein like chicken, duck, or fish, rich in essential nutrients. Keywords: Manna wa Salwa. Al-Baqarah: 57. Comparative. Classical Tafsir. Contemporary Tafsir. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Muhammad Rifqi Ridhani. Akhmad Dasuki: Makna Kata Manna Wa Salwa dalam Q. Al-Baqarah . : 57 (Studi Komparatif Tafsir Klasik dan Kontempore. A Author. 2025 This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. PENDAHULUAN Tidak semua yang disebut dalam al-QurAoan dapat langsung diterjemahkan secara harfiah atau dipahami secara literal. Beberapa istilah tertentu menyimpan makna yang kompleks, bahkan menimbulkan silang pendapat di kalangan mufassir klasik dan kontemporer. Salah satunya adalah frasa Manna wa Salwa, dua kata yang secara repetitif muncul dalam narasi eksodus Bani Israil dan hingga kini masih menyisakan ruang perdebatan mengenai hakikat maknanya. 1 Apakah Manna merujuk pada substansi alami seperti embun manis yang mengkristal di atas bebatuan, ataukah ia sekadar simbol dari kemurahan Tuhan? Apakah Salwa benar-benar spesifik menunjuk burung puyuh, atau justru bermakna lebih luas dalam lanskap sosial, budaya, dan spiritual umat terdahulu? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini menunjukkan bahwa al-QurAoan bukan sekadar teks normatif, tetapi juga ruang diskursif yang terbuka untuk eksplorasi epistemologis lintas zaman. Dalam khazanah keislaman, al-QurAoan tidak hanya diposisikan sebagai sumber ajaran normatif dan spiritual, tetapi juga sebagai medan intelektual yang terus-menerus ditafsirkan ulang. Penafsiran terhadap teks suci ini telah berlangsung sejak masa pewahyuan, berkembang dari metode interpretasi literal berbasis riwayah hingga pendekatan kontekstual berbasis dirayah. Salah satu karakteristik utama dari al-QurAoan adalah kapasitas linguistiknya yang tinggi. 4 Teksnya dirangkai dengan struktur bahasa Arab yang padat, estetik, dan polisemik yakni sarat dengan kemungkinan makna jamak dalam satu bentuk lafaz. 5 Hal ini menjadikan al-QurAoan tidak hanya mengandung keindahan retoris, tetapi juga potensi tafsir yang multidimensi. 6 Oleh karena itu, studi terhadap makna kata tertentu dalam al-QurAoan, seperti AuManna wa SalwaAy, memerlukan pendekatan hermeneutik yang tidak hanya tekstual, tetapi juga kontekstual dan historis. Secara eksplisit, istilah Manna wa Salwa muncul dalam tiga ayat al-QurAoan: QS. al-Baqarah . : 57, al-AAoraf . : 160, dan AhA . : 80. 8 Dalam terjemahan Indonesia maupun tafsir-tafsir MannaAo Khalil al-Qattan. Studi Ilmu-Ilmu QurAoan. Terj. Mudzakir AS. Cet. Xi (Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa, 2. : h. MannaAo Khalil al-Qattan. Studi Ilmu-Ilmu QurAoan. Terj. Mudzakir AS. Cet. Xi (Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa, 2. : h. Abdul Hakim. Akhmad Supriadi, and Nor Faridatunnisa. AoAnalisis Surah Al-Baqarah Ayat 233: Studi Tafsir Ilmi Dan Tafsir Tematik Kementerian AgamaAo. Syams: Jurnal Studi Keislaman Volume 3 Nomor 1 (June 2. , : h. Abdul Mustaqim. Epistimologi Tafsir Kontemporer. Cetakan ke-1 (Yogyakarta: Lkis, 2. Ecep Ismail. AoAnalisis Semantik Pada Kata AhzAb Dan Derivasinya Dalam Al-QuranAo. Al-Bayan: Jurnal Studi Al-QurAoan Dan Tafsir 1, no. 2 (Desember 2. Quraish Shihab. Mukjizat Al-Qur`an, (Bandung: Anggota Ikapi, 2. : h. Vera Fikrotin and Aufia Aisa. AoKemukjizatan Al QurAoan Dari Segi Kebahasaan Dan KeilmuanAo. Dinamika Jurnal Kajian Pendidikan Dan Keislama 4, no. Terjemahan QurAoan Kemenag 2019. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Muhammad Rifqi Ridhani. Akhmad Dasuki: Makna Kata Manna Wa Salwa dalam Q. Al-Baqarah . : 57 (Studi Komparatif Tafsir Klasik dan Kontempore. populer, dua kata ini kerap diterjemahkan begitu saja tanpa penjelasan detail yang memadai. Padahal, di balik lafaz tersebut, tersimpan narasi sejarah, simbolisme ilahiah, dan tafsir sosiokultural yang dapat membuka wacana lebih luas dalam kajian tafsir tematik dan Namun demikian. Kajian-kajian sebelumnya mengenai istilah Manna wa Salwa telah dilakukan dari berbagai perspektif, meskipun masih bersifat sektoral dan belum terintegrasi dalam satu kerangka analisis tematik yang komprehensif. Salah satu penelitian menitikberatkan pada keragaman pemaknaan tekstual terhadap Manna dan Salwa dalam berbagai riwayat, serta keterkaitannya dengan ilmu gizi, namun terbatas pada dimensi materialistik tanpa menyinggung dinamika epistemologis di balik konstruksi maknanya. 10 Studi lainnya mengaitkan konsep makanan dalam al-QurAoan dengan aspek spiritualitas, seperti pengaruh konsumsi makanan halal terhadap terkabulnya doa, tetapi tidak menelusuri kedalaman makna simbolik Manna wa Salwa dalam kerangka tafsir lintas zaman. 11 Sementara itu, penelitian yang memverifikasi validitas hadis-hadis terkait Manna, madu, dan kurma menunjukkan pentingnya keabsahan sanad dan matan, namun tidak menyentuh aspek penafsiran ayat secara langsung. 12 Kajian semantik terhadap term tersebut pun telah dilakukan dengan mengidentifikasi variasi morfologis dan frekuensi kemunculannya dalam al-QurAoan, disertai ulasan tentang nilai gizi berdasarkan tafsir kontemporer, tetapi belum menghadirkan pembacaan perbandingan antara tafsir klasik dan modern secara metodologis. Adapun penelitian lain yang mengulas respons Bani Israil terhadap anugerah langit ini lebih menekankan pada aspek historis dan sikap keberingkaran kolektif, tanpa mengupas dinamika diskursif dari konstruksi maknanya dalam tafsir lintas periode. 14 Oleh karena itu, masih terdapat ruang signifikan untuk menghadirkan kajian yang lebih integratif dan kritis dengan pendekatan tematik-komparatif, yang tidak hanya membongkar makna tekstual, tetapi juga menelusuri landasan ideologis, metodologis, dan sosio-historis dari penafsiran Manna wa Salwa dalam spektrum tafsir klasik hingga kontemporer. Adi Pratama Awadin. Hilma Nurlaila Azhari, and Ade Jamarudin. AoAnalisis Kritis Terhadap Sejarah Penafsiran Al-QurAoan Pada Periode NabiAo. Proceeding Fakultas Ushuluddin. Adab dan Dakwah IAIN Kerinci. 1, no. February 2. Erina Dwiyanti Korengkeng, "Manna Wa Salwa Perspektif Tafsir Al-Thabariy Dan Relevansinya Dengan Ilmu Gizi" (Skripsi. Riau. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim, 2. Ahmad Mundzir. AoKonsep Makanan Dalam Al-QurAoan (Kajian Tafsir Temati. Ao (Tesis. Semarang. Universitas Islam Negeri Walisongo, 2. Mahdi Ashiddieqi. AoKritik Atas Pemikiran Muhammad Ahmad Khalafullah Terhadap Ayat-Ayat Tetang Kisah Mitos Dalam Al-QurAoan (Kajian Terhadap Kitab al-Fann al-Qasasi Fi al-QurAoan al-Kari. Ao (Tesis. Surabaya. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, 2. Qonitah Hafidzah. AoManna Dan Salwa (Studi Semantik Dalam Al-QurAoan Dan Tafsirnya Dan Tafsir al-Mishba. Ao. El Furqania 8, no. 2 (August 2. , https://doi. org/10. 54625/elfurqania. Astiana Abdillah. AoPenafsiran Atas Kisah Keengganan Kaum Yahudi Terhadap Hidangan Langit Dalam Qs. Al-Baqarah . : 61 (Studi Kitab Tafsir Al-Munir Karya Wahbah Al-Zuhail. Ao (Skripsi. Jakarta. Universitas Negeri Syarif Hidayatullah, 2. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Muhammad Rifqi Ridhani. Akhmad Dasuki: Makna Kata Manna Wa Salwa dalam Q. Al-Baqarah . : 57 (Studi Komparatif Tafsir Klasik dan Kontempore. Bertolak dari argumentasi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menjawab kebutuhan atas pembacaan ulang terhadap Manna wa Salwa melalui pendekatan komparatif antara tafsir klasik dan Fokus penelitian ini tidak hanya membongkar isi tekstual dari dua kata tersebut, tetapi juga membandingkan struktur berpikir, landasan epistemik, dan konteks sosial-kultural yang memengaruhi konstruksi makna oleh para mufassir. Dengan pendekatan ini, diharapkan penelitian ini dapat memberi kontribusi nyata dalam pengembangan studi tafsir tematik yang adaptif terhadap dinamika zaman serta membuka ruang bagi integrasi ilmu-ilmu keislaman dan humaniora METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan studi kepustakaan . ibrary researc. dengan menggunakan metode kualitatif-deskriptif, pendekatan komparatif. Fokus utama penelitian ini adalah menelaah makna kata Manna dan Salwa dalam Q. al-Baqarah . : 57 melalui perbandingan antara tafsir klasik dan kontemporer. Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk menggali kedalaman makna secara tekstual sekaligus memahami konteks sosio-historis dan metodologis yang melatarbelakangi penafsiran para mufassir. Data dalam penelitian ini diperoleh dari dua jenis sumber, yakni primer dan sekunder. Sumber primer mencakup al-QurAoan Kemenag RI, kitab-kitab tafsir seperti Tafsir Ibn Kathr. Tafsir al-Qurub. Tafsir al-MibAu dan Tafsir al-Munir. Adapun sumber sekunder meliputi jurnal ilmiah, artikel, dan buku-buku yang relevan dalam menunjang analisis tematik dan komparatif terhadap ayat yang dikaji. HASIL DAN PEMBAHASAN Definisi dan Konteks Manna wa Salwa Dalam kamus MuAojam al-Lughah al-AoArabiyyah al-MuAoAirah Istilah A( aIIAman. dalam bahasa Arab memiliki makna yang luas terkait dengan karunia ilahi. Secara etimologis, kata ini merupakan masdar dari AEaOA a A AE aI acIAyang berarti memberikan karunia atau nikmat. Secara khusus, manna merujuk pada embun manis yang turun di atas pohon, kemudian mengering seperti getah dan dapat dimakan. Lafaz salwA memiliki dua makna utama yang saling melengkapi. Pertama, salwA merujuk pada sesuatu yang memberikan hiburan batin, ketenangan jiwa, dan menghilangkan kesedihan serta kegundahan hati, sebagaimana tergambar dalam ungkapan Auibnatuhu a-aghrah hiya salwAhAy . utrinya yang kecil adalah penghibur hatiny. , atau Aual-qirAAoah wa al-muAlaAoah salwAAy . embaca dan menelaah adalah hiburan bagi jiw. Makna diatas mengandung dimensi psikologis dan emosional yang memperlihatkan peran salwA sebagai simbol penguatan batiniah. Kedua, dalam bidang zoologi, salwA adalah bentuk jamak dari salwAh, yang menunjuk pada burung as-summAnA, yaitu burung dari ordo ad-dajAjjiyyAt Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Muhammad Rifqi Ridhani. Akhmad Dasuki: Makna Kata Manna Wa Salwa dalam Q. Al-Baqarah . : 57 (Studi Komparatif Tafsir Klasik dan Kontempore. dengan tubuh padat dan bulu coklat serta ekor pendek, yang dikenal sebagai burung migran musim dingin menuju kawasan seperti Habasyah dan Sudan. Burung ini banyak ditemukan di wilayah Eropa dan sekitar Laut Tengah. Penegasan terhadap keberadaan burung ini juga termaktub dalam al-QurAoan, yakni dalam QS. al-Baqarah . : 57, yang menyebut bahwa Allah menurunkan al-mann wa al-salwA kepada Bani Israil. Dengan demikian, makna leksikal salwA mencerminkan dua dimensi sekaligus yakni spiritual-psikologis dan biologis-zoologis yang saling memperkaya dalam konteks pemaknaan tekstual maupun historis. Dalam kamus Al-Muu. Istilah A( aIIAal-man. memiliki makna yang beragam, mulai dari sikap sombong atas nikmat hingga fenomena alam dan ukuran tradisional. Secara moral, al-mann merujuk pada sikap membanggakan nikmat sampai menimbulkan kesombongan, yang dalam alQurAoan dilarang karena dapat membatalkan pahala sedekah. Istilah as-salwA dimaknai sebagai segala sesuatu yang dapat menghibur dan mengalihkan kesedihan, menegaskan fungsi semantisnya sebagai elemen penenang batin. Secara lebih khusus, salwA juga menunjuk pada burung assummAnA, yaitu sejenis burung kecil dari ordo ad-dajAjjiyyAt yang memiliki tubuh padat dan penuh, tergolong burung migran yang berpindah ke kawasan Habasyah dan Sudan saat musim dingin, serta bermukim di wilayah Eropa dan sekitar cekungan Laut Tengah. Burung ini dikenal sebagai simbol rezeki dan pemeliharaan ilahi dalam konteks keagamaan. Selain itu, makna salwA dalam kamus ini juga mencakup as-salwas, yakni sejenis tumbuhan liar merambat yang berumur panjang dan dapat berfungsi sebagai tanaman hias. Ragam makna ini memperlihatkan dimensi semantik salwA yang luas, mencakup aspek psikologis, zoologis, dan botanis, sehingga memperkaya telaah makna kata ini dalam konteks linguistik maupun tafsir tekstual. Makna Manna wa Salwa dalam Tafsir Klasik a Ae OO aEEaO aII aOaA A aI aaCe I aE eI aOaI aEa aI eO aaI aOEEa eI aEIaeOA ca AaOEacEeIa aEaeO aE aI Eea aI aI aOaIe aEeIa aEaeO aE aI Ee aI acI aOA e e AaIe aA a aN eI OaeEa aI eO aIA Terjemahan: AuKami menaungi kamu dengan awan dan Kami menurunkan kepadamu manna dan salwa. Makanlah . yang baik-baik dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu. Mereka tidak menzalimi Kami, tetapi justru merekalah yang menzalimi diri sendiri. Ay (Q. al-Baqarah . : . Ahmad Mukhtar Umar. MuAojam al-Lughah al-Arabiyah al MuAoashirah, cet. 1 (Mesir: PT. Alamul Qutub, 2. Muhammad bin YaAoqub al Fairuz Abadi. Al-Qamus Al-Muhit (Beirut: Dar al MaAorifah, 2. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Muhammad Rifqi Ridhani. Akhmad Dasuki: Makna Kata Manna Wa Salwa dalam Q. Al-Baqarah . : 57 (Studi Komparatif Tafsir Klasik dan Kontempore. Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyatakan bahwa Ayat diatas merupakan bagian dari rentetan narasi historis mengenai nikmat-nikmat yang Allah anugerahkan kepada Bani Israil pasca penyelamatan mereka dari kekejaman FirAoaun. Dalam ayat ini. Allah berfirman bahwa Dia menaungi mereka dengan al-ghamAm dan menurunkan kepada mereka al-mann dan al-salwA, sebagai bentuk pemeliharaan ilahi di tengah perjalanan mereka di padang pasir yang panas dan Para mufasir klasik seperti Ibn Jarr al-abar menjelaskan bahwa al-ghamAm adalah sejenis naungan dari langit yang tidak mesti berupa awan dalam pengertian fisik biasa, tetapi lebih kepada fenomena ilahiah yang menyerupai kabut atau sesuatu yang menutupi langit, memberikan perlindungan dari panas matahari. Bahkan sebagian riwayat dari MujAhid menyebutkan bahwa ghamAm ini bukanlah awan biasa, melainkan awan yang kelak menjadi tempat datangnya Allah pada hari kiamat, yang pada waktu itu secara khusus diberikan kepada Bani Israil sebagai karunia. Sementara itu, diskursus mengenai makna al-mann menunjukkan ragam interpretasi yang Sebagian ulama seperti MujAhid dan QatAdah menyebut bahwa al-mann adalah zat manis seperti getah atau semacam embun pagi yang menetes di pepohonan, ada pula yang menyamakannya dengan madu, minuman manis, atau bahkan roti tipis yang halus. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa ia turun dari langit dan menempel pada pepohonan sehingga dapat dikonsumsi langsung oleh Bani Israil. Keberagaman tafsir ini mengindikasikan bahwa al-mann bukan sekadar makanan fisik, tetapi simbol dari rezeki yang datang secara langsung dari langit tanpa usaha manusia, menunjukkan relasi langsung antara Tuhan dan hamba-Nya dalam pemenuhan kebutuhan pokok. Adapun al-salwA dipahami oleh mayoritas mufasir sebagai sejenis burung yang menyerupai burung puyuh . amAnA) yang dikirim oleh Allah dalam jumlah banyak dan mudah ditangkap. Burung ini menjadi sumber protein bagi Bani Israil di tengah keterbatasan pangan di padang pasir. Riwayat dari Ibn AoAbbAs. MujAhid, dan QatAdah secara konsisten menyebutkan bahwa al-salwA adalah burung yang tubuhnya gemuk dan lezat untuk dikonsumsi. Kehadiran al-mann dan al-salwA menjadi simbol konkret dari kemurahan Allah kepada suatu kaum yang sebelumnya sempat menyimpang, namun tetap mendapatkan kasih sayang dan pemeliharaan-Nya. Menariknya, ayat ini ditutup dengan pernyataan bahwa Aumereka tidak menzalimi Kami, melainkan mereka menzalimi diri mereka sendiri,Ay yang mengandung makna teologis mendalam: bahwa pengingkaran terhadap nikmat dan ketidaktaatan kepada perintah Ilahi bukanlah bentuk perugian bagi Tuhan, tetapi kerugian eksistensial bagi pelakunya sendiri. Dengan demikian, ayat Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar bin Faih Al Anshari Al Khazraji Al Andalusi Al Qurthubi. Tafsir Al-Qurthubi Jilid 1 (Jakarta: Pustaka Azzam, 2. , h. Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar bin Faih Al Anshari Al Khazraji Al Andalusi Al QurthubiA, h. Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar bin Faih Al Anshari Al Khazraji Al Andalusi Al Qurthubi. , h. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Muhammad Rifqi Ridhani. Akhmad Dasuki: Makna Kata Manna Wa Salwa dalam Q. Al-Baqarah . : 57 (Studi Komparatif Tafsir Klasik dan Kontempore. ini tidak hanya merekam sejarah nikmat kepada Bani Israil, tetapi juga mengandung pelajaran etis dan teologis universal bahwa nikmat yang disia-siakan akan berbalik menjadi bentuk penzaliman terhadap diri sendiri. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan berbagai bentuk keburukan dan hukuman yang telah Dia hindarkan dari Bani Israil, ayat ini berpindah untuk mengingatkan mereka akan limpahan nikmat yang pernah mereka peroleh selama berada di padang Tih. Dalam firman-Nya, "Dan Kami menaungi kalian dengan awan. ", para mufasir menjelaskan bahwa "al-ghamAm" adalah bentuk jamak dari "ghamAmah", yaitu awan putih yang menaungi langit dan menutupi teriknya matahari. Ibnu Abbas, sebagaimana diriwayatkan oleh an-NasaAoi dan lainnya, menyatakan bahwa awan tersebut menaungi Bani Israil di padang Tih sebagai bentuk perlindungan dari panas yang Hal ini juga diperkuat oleh pendapat-pendapat dari tokoh-tokoh tafsir seperti Ibnu Umar, ar-RabiAobin Anas. Abu Mujliz, adh-Dhahhak, dan as-Suddi. Lebih lanjut, sebagian mufasir seperti Mujahid menafsirkan bahwa awan tersebut bukanlah awan biasa, melainkan awan istimewa yang lebih sejuk, lebih indah, dan lebih suci dari awan-awan pada umumnya. Bahkan menurutnya, awan ini adalah awan yang kelak menjadi sarana hadirnya Allah pada hari kiamat, sebagaimana dalam firman-Nya di QS. Al-Baqarah: 210, dan disebut pula sebagai awan yang mendatangkan malaikat pada Perang Badar. Penafsiran ini menunjukkan bahwa perlindungan tersebut bukan sekadar fisik, melainkan juga simbolik atas kedekatan dan pemuliaan dari Allah Swt. Selanjutnya, ayat ini juga menyebutkan nikmat lainnya berupa turunnya al-mann dan assalwa. Dalam literatur tafsir klasik, terdapat perbedaan pandangan mengenai makna al-mann. Ibnu Abbas menjelaskan bahwa mann adalah sejenis makanan manis yang turun dan menempel di pepohonan, yang bisa diambil dan dikonsumsi oleh Bani Israil sesuka hati mereka. Mujahid menyebutnya sebagai getah manis, sementara Ikrimah menggambarkannya sebagai sesuatu yang menyerupai embun, namun kental seperti air manisan. Al-Suddi menyatakan bahwa mann turun dan menempel pada pohon jahe, dan menurut Qatadah, mann turun seperti salju lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu dan hanya turun dari waktu fajar hingga matahari terbit, dengan aturan bahwa jika diambil melebihi kebutuhan hari itu, maka makanan tersebut akan rusak. Ibnu Katsir juga mengutip bahwa dalam tafsiran lain, ar-RabiAobin Anas menyebutkan bahwa mann adalah cairan seperti madu yang bisa dicampur air dan diminum, sementara Wahb bin Munabbih menggambarkannya seperti roti tipis yang lembut seperti tepung murni. Abu JaAofar at- Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar bin Faih Al Anshari Al Khazraji Al Andalusi Al Qurthubi, h. Ibnu Katsir. Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, cet. 2 (Jakarta: Maghfirah Pustaka, 2. , h. Ibnu KatsirA, h. Ibnu KatsirA, h. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Muhammad Rifqi Ridhani. Akhmad Dasuki: Makna Kata Manna Wa Salwa dalam Q. Al-Baqarah . : 57 (Studi Komparatif Tafsir Klasik dan Kontempore. Tabari bahkan meriwayatkan dari asy-SyaAobi bahwa madu yang dikenal manusia hanyalah satu dari tujuh puluh bagian dari al-mann yang Allah turunkan kepada Bani Israil. Semua pernyataan ini menegaskan bahwa mann merupakan simbol karunia Ilahi yang luar biasa, baik dari sisi fisik maupun spiritual. Interpretasi Manna wa Salwa dalam Tafsir Kontemporer a AE eE OO aEEaO aII aOaA A aI aaCe I aE eI aOaI aEa aI eO aaI aOEEa eI aEIaeOA ca AaOEaceEIa aEaeO aE aI Eea aI aI aOaIe aEeIa aEaeO aE aI Ee aI acI aOA e e AaIe aA a aN eI OaeEa aI eO aIA Terjemahan: AuKami menaungi kamu dengan awan dan Kami menurunkan kepadamu manna dan salwa. Makanlah . yang baik-baik dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu. Mereka tidak menzalimi Kami, tetapi justru merekalah yang menzalimi diri sendiri. Ay (Q. al-Baqarah . : . Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir, mengungkapkan penjelasan yang komprehensif mengenai ayat-ayat yang berkaitan dengan karunia Allah terhadap Bani Israil setelah penyelamatan mereka dari penindasan Firaun. Salah satu bentuk karunia tersebut adalah pemberian makanan dan minuman yang bersifat langsung dari langit, yaitu al-mann dan as-salwa. Az-Zuhaili menafsirkan al-mann sebagai substansi manis menyerupai madu yang dapat diminum setelah dicampur air, sedangkan as-salwa dimaknai sebagai burung mirip puyuh yang dagingnya lezat dan bergizi. Kedua jenis makanan ini diberikan secara kontinu dan mencukupi kebutuhan harian mereka tanpa harus bersusah payah mencarinya. Al-mann dikatakan turun seperti kabut dari fajar hingga terbit matahari, sementara as-salwa datang sendiri dalam jumlah yang cukup agar setiap individu dapat mengambil sesuai kebutuhannya. Namun, menurut az-Zuhaili, nikmat-nikmat ini tidak disyukuri oleh Bani Israil. Mereka justru menampakkan sikap pembangkangan dan pengingkaran atas karunia Allah. Seruan Ilahi agar mereka memakan rezeki yang halal lagi baik sembari bersyukur diabaikan. Akibat dari kedurhakaan ini, nikmat yang tadinya diberikan dengan kemurahan dan kemudahan, dihentikan sebagai bentuk Az-Zuhaili menekankan bahwa bencana yang menimpa mereka adalah akibat langsung dari sikap mereka sendiri yang tidak taat, sebagai bentuk balasan atas pelanggaran terhadap perintah Tuhan. Ibnu KatsirA, h. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Muhammad Rifqi Ridhani. Akhmad Dasuki: Makna Kata Manna Wa Salwa dalam Q. Al-Baqarah . : 57 (Studi Komparatif Tafsir Klasik dan Kontempore. Lebih lanjut, az-Zuhaili juga menafsirkan ayat yang berkaitan dengan perintah Allah kepada Bani Israil untuk memasuki sebuah negeri yang menurut jumhur ulama adalah Baitul Maqdis, meskipun terdapat pendapat lain yang menyebutkan Jericho (Arih. dengan sikap tunduk dan merendah diri kepada Allah. Perintah ini menunjukkan kesinambungan ujian spiritual terhadap Bani Israil, yang tidak hanya berkisar pada nikmat materiil, tetapi juga berkaitan dengan ketundukan hati dan kepatuhan terhadap perintah ilahi. Allah tidak hanya memberi mereka rezeki, tetapi juga mengarahkan mereka untuk tinggal dan menikmati hasil bumi yang melimpah dengan syarat kerendahan hati dan ketaatan. Dengan demikian, tafsir Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir memperlihatkan relasi erat antara karunia ilahi dan tanggung jawab manusia. Nikmat yang diberikan Allah bukanlah tanpa syarat, tetapi mengandung konsekuensi moral dan spiritual yang harus dijaga. Ketidakpatuhan terhadap nilai-nilai tersebut akan berujung pada terputusnya rahmat Ilahi dan datangnya musibah sebagai bentuk keadilan Tuhan terhadap umat yang lalai. Penafsiran terhadap ayat yang mengisahkan perjalanan Bani Isra'il. Quraish Shihab, melalui Tafsir al-Misbah, menggarisbawahi bagaimana Allah SWT menampakkan kasih sayang-Nya kepada suatu kaum yang justru acap kali membangkang. Allah tidak semata-mata menegur dan memberi ancaman atas kedurhakaan mereka, melainkan juga tetap menunjukkan rahmat dan nikmat yang berlimpah, sebagai bentuk bimbingan dan pendidikan ilahi yang sarat dengan kelembutan. Ketika Bani Isra'il menolak perintah Allah untuk memerangi kaum durhaka di wilayah Syam, mereka dijatuhi konsekuensi berupa pengembaraan di padang pasir selama empat puluh tahun, sebagaimana disebutkan dalam QS. al-MaAoidah . : 26. Di tengah-tengah kegersangan dan teriknya panas padang pasir. Allah tetap melimpahkan kasih sayang-Nya. Ia menaungi mereka dengan awan sebagai perlindungan dari panas yang menyengat. Ini bukan hanya pertolongan fisik, tetapi juga manifestasi dari kemurahan Tuhan yang tetap hadir bahkan di tengah-tengah kedurhakaan umatNya. Tak hanya itu. Allah juga menurunkan al-mann dan as-salwa sebagai sumber pangan mereka di wilayah tandus tersebut. Al-mann dipahami sebagai butiran berwarna merah keemasan yang turun di waktu fajar dan hinggap di dedaunan. Quraish Shihab mengutip berbagai pandangan ulama mengenai identitas al-mann, di antaranya pendapat Thyhir Ibn AoAsyyr yang menyebutnya mirip lem dari udara, serta pandangan asy-SyaAorywy yang menggambarkannya sebagai manisan alami, yang sangat lezat dan penuh gizi. Sementara itu, as-salwa dipahami sebagai burung sebangsa puyuh yang mudah ditangkap dan menjadi sumber protein utama selama pengembaraan mereka. Menurut riwayat, burung ini berhijrah menjauhi suara guntur dan karenanya datang ke daerahdaerah yang tenang, termasuk ke tempat Bani IsraAoil bermukim saat itu. Wahbah az-Zuhaili. Tafsir Al-Munir Jilid 1, cet. 8 (Jakarta: Gema Insani, 2. , h. Quraish Shihab. Tafsir Al-Misbah Jilid 1, vol. 1 (Jakarta: Lentera Hati, 2. , h. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Muhammad Rifqi Ridhani. Akhmad Dasuki: Makna Kata Manna Wa Salwa dalam Q. Al-Baqarah . : 57 (Studi Komparatif Tafsir Klasik dan Kontempore. Namun, nikmat yang begitu agung ini justru tidak diiringi dengan rasa syukur dari mereka. Sebagian besar dari Bani IsraAoil tetap larut dalam pelanggaran-pelanggaran dan sikap keras kepala. Dalam menjelaskan bagian ini. Quraish Shihab menekankan bahwa penganiayaan yang mereka lakukan sejatinya tidak berpengaruh sedikit pun terhadap keagungan Allah. Melalui bentuk e aA)OA, gramatikal dalam ayat, yakni penggunaan kata kana ( aA ) aEIAdan fiAoil mudhyriAo yazhlimyn ( aA aE aIOIA dipahami bahwa perbuatan mereka merupakan suatu kebiasaan yang berulang. Allah tidak sedikit pun terpengaruh oleh ketaatan maupun kedurhakaan hamba-Nya, sebab kemuliaan-Nya telah mencapai puncak yang tidak terjangkau oleh apa pun. Konsekuensi dari tindakan mereka bukanlah hukuman yang merugikan Tuhan, melainkan justru menjerumuskan mereka ke dalam kerugian diri sendiri. Amal buruk yang mereka lakukan akan menjadi beban yang mengiringi kehidupan akhirat, sementara kenikmatan duniawi yang mereka dapatkan akan musnah dan tak akan terbawa mati. Dengan demikian, ketidaksyukuran mereka adalah bentuk nyata dari tindakan menganiaya diri sendiri sebuah penganiayaan spiritual yang mengundang penderitaan eskatologis. Meski demikian, kasih sayang Allah kembali terlihat di akhir kisah ini. Setelah empat dekade dalam keterasingan dan kebingungan di padang Tih, mereka akhirnya memperoleh nikmat kemenangan atas musuh dan diizinkan memasuki tanah impian mereka. Allah SWT tidak hanya mengakhiri masa pengembaraan mereka, tetapi juga memberi pembebasan dan keberhasilan. Ayat selanjutnya, sebagaimana dijelaskan oleh Quraish Shihab, menjadi pengingat akan puncak dari rangkaian nikmat tersebut: sebuah kemenangan dan kembalinya kehidupan berperadaban setelah masa ujian dan pembelajaran panjang di alam keterasingan. Perbandingan Penafsiran Manna wa Salwa: Klasik vs Kontemporer Perdebatan mengenai makna manna dan salwa dalam al-QurAoan merupakan salah satu contoh bagaimana teks suci menimbulkan beragam penafsiran yang tidak selalu menghasilkan makna tunggal. Dalam tradisi tafsir klasik, para ulama seperti al-Qurub dan Ibnu Kathir, sepakat bahwa manna adalah sejenis makanan manis yang berasal dari langit, sering dikaitkan dengan getah atau embun seperti madu yang muncul di pepohonan, sedangkan salwa merujuk pada burung puyuh yang diturunkan Allah kepada Bani Israil di tengah kehausan dan kelaparan mereka di padang pasir. Namun, penting digarisbawahi bahwa penafsiran ini tidak bersumber dari penjelasan definitif alQurAoan itu sendiri, melainkan dari kumpulan riwayat yang kebanyakan bersandar pada tradisi Israiliyat yakni kisah-kisah yang berasal dari sumber-sumber Yahudi dan Kristen awal yang masuk Shihab. , h. ShihabA, h. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Muhammad Rifqi Ridhani. Akhmad Dasuki: Makna Kata Manna Wa Salwa dalam Q. Al-Baqarah . : 57 (Studi Komparatif Tafsir Klasik dan Kontempore. ke dalam literatur tafsir Islam. Karena itu, meskipun kerap dikutip secara berulang dalam tafsirtafsir besar, makna tersebut tidak bisa diklaim sebagai sesuatu yang final atau mutlak. Makna al-GhamAm: Perlindungan Ilahi Baik al-Qurub maupun Ibn Kar menekankan bahwa al-ghamAm merupakan bentuk naungan dari langit yang melindungi Bani Israil dari terik matahari di padang pasir. Ibn Jarr alabar dan beberapa mufasir lain menggarisbawahi bahwa al-ghamAm bukanlah awan biasa, melainkan sebuah fenomena ilahiah yang memiliki karakteristik spiritual. MujAhid bahkan menyebutnya sebagai awan yang kelak akan menjadi tempat hadirnya Allah pada hari kiamat, menunjukkan dimensi sakral dan keistimewaan dari bentuk perlindungan ini. Penafsiran klasik ini memberikan kesan bahwa Allah tidak hanya memberi perlindungan fisik, namun juga perlambang kehadiran dan pemuliaan spiritual terhadap Bani Israil. Makna al-Mann: Rezeki dari Langit yang Manis Tafsir klasik menunjukkan keragaman makna dari al-mann. MujAhid. QatAdah, dan Ibn AoAbbAs menafsirkannya sebagai zat manis seperti getah, embun kental, atau madu yang menempel di dedaunan dan pohon-pohon. Ada pula yang menyebutnya seperti roti tipis atau makanan surgawi yang turun dari langit. Kesamaan dalam semua pandangan ini adalah bahwa al-mann merupakan simbol dari rezeki yang diberikan Allah secara langsung dan tanpa usaha Tafsir ini mengandung pesan teologis bahwa pemenuhan kebutuhan manusia bisa datang dari kemurahan Tuhan secara langsung sebagai wujud hubungan vertikal antara hamba dan Khaliknya. Dalam pandangan Wahbah az-Zuuail (Tafsir al-Mun. , al-mann dijelaskan sebagai zat manis mirip madu yang turun seperti kabut pagi dan bisa diminum setelah dicampur air. Quraish Shihab dalam Tafsir al-MibAu menambahkan bahwa al-mann berbentuk butiran merah keemasan yang menempel di dedaunan, dan menyebutnya sebagai simbol kasih sayang Allah yang halus dan lembut. Pandangan kontemporer cenderung lebih simbolik, menekankan makna spiritual dan nilai kemurahan Ilahi daripada deskripsi fisik semata. Makna al-Salwa: Nutrisi Ilahi Berupa Daging Mayoritas mufasir klasik menyepakati bahwa al-salwa adalah sejenis burung yang menyerupai puyuh . amAnA), dikirim oleh Allah dalam jumlah banyak dan mudah ditangkap. Riwayat dari Ibn AoAbbAs. QatAdah, dan MujAhid menekankan kelezatan dan kegemukan burung ini sebagai sumber protein bagi Bani Israil di tengah keterbatasan makanan. Tafsir ini menggambarkan kelengkapan pemeliharaan Ilahi Allah tidak hanya memberikan makanan manis seperti al-mann, tetapi juga sumber protein yang bergizi dari as-salwa. Wahbah az-Zuuail dan Quraish Shihab dalam tafsir kontemporer memberikan penekanan pada kontinuitas dan kemudahan dalam mendapatkan al-salwa. Burung ini datang Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Muhammad Rifqi Ridhani. Akhmad Dasuki: Makna Kata Manna Wa Salwa dalam Q. Al-Baqarah . : 57 (Studi Komparatif Tafsir Klasik dan Kontempore. sendiri setiap hari dalam jumlah cukup, menunjukkan bahwa rezeki dari Allah datang tepat waktu dan sesuai kebutuhan jika manusia bersyukur. Dimensi Etis dan Teologis Keseluruhan ayat ini tidak hanya mencatat nikmat-nikmat fisik, tetapi juga memuat pelajaran etis dan spiritual. Kalimat penutup ayat tersebut "Mereka tidak menzalimi Kami, melainkan menzalimi diri mereka sendiri" membawa pesan universal bahwa pengingkaran terhadap nikmat Allah akan berbalik menjadi kerugian bagi pelakunya. Ibn Kar dan az-Zuuail sama-sama menggarisbawahi bahwa nikmat ini seharusnya dibalas dengan rasa syukur dan Ketika Bani Israil membangkang, nikmat pun dicabut sebagai bentuk keadilan Ilahi. Quraish Shihab menambahkan bahwa kasih sayang Allah tetap hadir meskipun Bani Israil membangkang, yang menunjukkan dimensi tarbaw . dalam cara Allah membimbing hamba-Nya: melalui nikmat, pembelajaran, dan bahkan hukuman, semua merupakan bentuk rahmat yang bertujuan mengarahkan manusia menuju kebaikan. Perbandingan antara tafsir klasik dan kontemporer menunjukkan adanya pergeseran metodologis yang signifikan: jika tafsir klasik bertumpu pada upaya pelacakan narasi-narasi masa lalu yang bersifat deskriptif dan kadang spekulatif, maka tafsir kontemporer cenderung menekankan relevansi makna dengan konteks kekinian dan membuka ruang bagi pemaknaan yang lebih fungsional. Dengan kata lain, manna dan salwa bukanlah entitas yang memiliki satu makna pasti, melainkan konstruksi makna yang dibentuk oleh konteks sejarah, sosial, dan intelektual masing-masing mufasir. Hal ini memperlihatkan bahwa teks al-QurAoan bersifat terbuka terhadap penafsiran dan bahwa kebenaran tafsir tidak selalu berada pada satu kutub saja. Justru dari keragaman interpretasi inilah kita dapat memahami bahwa apa yang dianggap sebagai AumaknaAy sering kali hanya merupakan hipotesis intelektual yang terus berkembang seiring Kontekstual Manna wa Salwa di zaman sekarang Penafsiran terhadap manna dan salwa dalam Al-QurAoan sebenarnya bukanlah sesuatu yang memiliki makna tunggal dan pasti. Para mufasir klasik hingga kontemporer pun mengakui bahwa kedua istilah ini lebih bersifat dugaan berdasarkan konteks historis dan budaya pada saat itu. Sebagian besar menyebut manna sebagai sejenis zat manis seperti madu, getah pohon, atau embun yang mengandung unsur manisan alami yang bisa dikonsumsi langsung. Sementara salwa kerap diartikan sebagai burung sejenis puyuh yang dapat dikonsumsi dagingnya dan menjadi sumber protein hewani bagi Bani Israil. Namun, karena deskripsi tersebut bersifat tafsiran dan bukan penjelasan definitif dari Al-QurAoan sendiri, maka terbuka ruang untuk menafsir ulang makna tersebut dalam konteks yang lebih luas dan kontekstual sesuai perkembangan zaman. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Muhammad Rifqi Ridhani. Akhmad Dasuki: Makna Kata Manna Wa Salwa dalam Q. Al-Baqarah . : 57 (Studi Komparatif Tafsir Klasik dan Kontempore. Dalam pandangan penulis, jika manna dimaknai sebagai makanan bergizi yang rasanya manis dan dapat menguatkan fisik, maka saat ini kita dapat melihat banyak jenis pangan sejenis yang memenuhi kriteria tersebut, seperti kurma, madu alami, sirup maple, atau bahkan suplemen energi yang berbasis alami. Tidak tertutup kemungkinan bahwa manna dalam konteks kekinian mencerminkan bentuk-bentuk makanan sehat bergizi tinggi yang diolah dari sumber alam dan memiliki fungsi yang sama yakni menunjang kekuatan dan daya tahan tubuh. Hal yang sama berlaku pada salwa. Bila ia dimaknai sebagai daging burung kecil berprotein tinggi, maka zaman kini kita memiliki banyak jenis makanan hewani yang dapat menyamai fungsi tersebut, seperti daging ayam, bebek, burung dara, hingga ikan laut yang kaya akan omega-3. Bahkan, olahan modern dari daging rendah lemak seperti kalkun dan ayam organik bisa dijadikan padanan kontekstual dari salwa yang disebutkan dalam kisah Bani Israil. Dengan demikian, sangat jelas bahwa manna dan salwa tidak harus dimaknai secara sempit sebagai AumaduAy dan Auburung puyuhAy secara literal, melainkan lebih kepada representasi makanan dan minuman bergizi yang disediakan oleh Allah untuk menunjang kebutuhan manusia. Tafsir kontekstual seperti ini justru membuka peluang agar pesan-pesan QurAoani tetap relevan dan menyentuh kehidupan nyata umat Islam lintas zaman. Tafsir tidak boleh terkungkung dalam kekakuan teks, melainkan perlu disinergikan dengan pemahaman historis, sosial, dan kebutuhan kontemporer manusia. Maka, penulis berpendapat bahwa memahami manna dan salwa dalam kerangka simbolik dan fungsional jauh lebih bermanfaat daripada sekadar bersikeras pada makna literal yang belum tentu akurat secara ilmiah maupun kontekstual. KESIMPULAN Kajian ini menegaskan bahwa penafsiran terhadap manna dan salwa dalam al-QurAoan tidak bersifat tunggal maupun final, melainkan terbuka bagi pelbagai pendekatan yang mencerminkan konteks intelektual masing-masing zaman. Tafsir klasik seperti dari al-Qurub dan Ibn Kar namun pemaknaan ini pada dasarnya adalah dugaan yang banyak bersandar pada narasi Israiliyat kisahkisah yang berasal dari tradisi Yahudi dan Kristen awal yang masuk ke dalam literatur Islam sehingga tidak bisa dianggap sebagai fakta pasti. Sebaliknya, mufasir kontemporer seperti Wahbah az-Zuuail dan Quraish Shihab menekankan aspek simbolik, spiritual, dan kasih sayang Ilahi dalam pemberian rezeki tersebut, serta menggeser fokus dari bentuk fisik ke makna fungsional. Lebih dari itu, pendekatan kontekstual memperluas pemahaman bahwa manna dan salwa bisa dimaknai sebagai representasi segala bentuk pangan bergizi dan bernilai manfaat yang diberikan Allah di berbagai zaman. Dalam kehidupan masa kini. AumannaAy bisa merujuk pada makanan manis alami bergizi seperti madu, kurma, atau suplemen sehat, sedangkan AusalwaAy dapat diwakili oleh sumber protein seperti ayam, ikan, atau daging rendah lemak lainnya. Dengan demikian, perbandingan ini Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Muhammad Rifqi Ridhani. Akhmad Dasuki: Makna Kata Manna Wa Salwa dalam Q. Al-Baqarah . : 57 (Studi Komparatif Tafsir Klasik dan Kontempore. menunjukkan bahwa tafsir tidak berhenti pada batas literal, melainkan terus bergerak dinamis dalam menjawab kebutuhan spiritual, sosial, dan biologis manusia modern tanpa melepaskan akarnya dari pesan Ilahi yang transhistoris. DAFTAR PUSTAKA