Jurnal Sinergitas PkM & CSR Vol. No. April 2019 p-ISSN: 2528-7052 | e-ISSN:2528-7184 EMPOWERMENT OF PRODUCTIVE YOUTH THROUGH TRAINING THE SKILLS VOCATIONAL ENTREPRENEUR TOWARDS BANTEN CREATIVE IN THE DIGITAL ERA 1 Anggoro Suryo Pramudyo*. Suhendar. Enok Nurhayati. Ina Indriana. Benny Irawan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Serang - Banten e-Mail *: pramudyo@untirta. Abstract Recorded more than 7536 people of productive age unemployment spread in cities in Banten province. 4473 of them are in four cities, namely the City of Serang. Rangkasbitung. Cilegon, and Pandeglang . They are stranded on the streets and wandering around. The Banten government does not yet have a special program that is progressive, comprehensive, and sustainable to overcome unemployment and Drop Out Youth. In connection with that, the University of Sultan Ageng Tirtayasa Banten offers cooperation programs in the form of Working with Community. The objectives of this program are: . to empower productive age unemployed, . to provide start-up entrepreneurship skills for the development and promotion of Banten local products, . to improve the social status of the unemployment in order to achieve the program of Aua less children on the streetAy heading of Creative and Cultured Banten Communities, . to establish an integrative and comprehensive sustainable programs to overcome the problems of unemployed social groups. The method of social transformation is carried out through training in vocational entrepreneur skills. Activities begin with counseling, training, and mentoring. The application of start-up entrepreneurship technology is provided for the promotion of Banten local products. As many as 30 unemployed are divided into three training groups. The types of training provided are: screen printing skills, entrepreneurship, and the use of mobile phones for online business. Three types of training are given for the three groups. The final product in the form of shirt printing is sold off line at tourist attractions of Gunung Pinang and also through the media on line Bukalapak and Tokopedia. This empowerment activity has been able to give change of life of the parties. The unemployed become more confident because they can use mobile phones for entrepreneurship gradually. The community began to seek ideas to develop and promote local Banten Keywords: Vocational. Entrepreneur. Start-up. Skills, unemployment. Banten. Dipresentasikan pada Konferensi Nasional PkM-CSR. Lombok, 23-25 Oktober 2018 Jurnal Sinergitas PkM & CSR Vol. No. April 2019 p-ISSN: 2528-7052 | e-ISSN:2528-7184 PEMBERDAYAAN PENGANGGURAN USIA PRODUKTIF MELALUI PELATIHAN VOCATIONAL ENTREPRENEUR SKILLS MENUJU BANTEN BERKARYA DI ERA DIGITAL Anggoro Suryo Pramudyo*. Suhendar. Enok Nurhayati. Ina Indriana. Benny Irawan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Serang - Banten e-Mail *: pramudyo@untirta. Abstrak Tercatat lebih dari 7536 jiwa pengangguran usia produktif tersebar di kota-kota dalam provinsi Banten. 4473 jiwa diantaranya berada di empat kota, yaitu Kota Serang. Rangkasbitung. Cilegon, dan Pandeglang . Mereka terlantar di jalanan dan berkeliaran. Pemerintahan Banten belum memiliki program khusus yang progresif, komprehensif, dan berkesinambungan untuk mengatasi pengangguran dan Pemuda Putus Sekolah. Sehubungan dengan itu, timUniversitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten menawarkan program kerjasama dalam bentuk pengabdian working with community. Tujuan program ini adalah: . memberdayakan pengangguran usia produktif, . memberikan keterampilan . ife skill. start-up enterpreneur untuk pengembangan dan promosi produk lokal Banten , . meningkatkan status sosial pengangguran guna mewujudkan program less children on the street menuju masyarakat Banten berkarya dan berbudaya, . membuat program integratif dan komprehensif berkelanjutan untuk mengatasi problematika kelompok sosial pengangguran. Metode transformasi sosial dilaksanakan melalui pelatihan vocational entrepreneur skills. Kegiatan dimulai dengan penyuluhan, pelatihan, dan Penerapan teknologi sart-up enterpreneur diberikan untuk promosi produk lokal Banten. Sebanyak 30 pengangguran dibagi menjadi tiga kelompok pelatihan. Jenis pelatihan yang diberikan adalah keterampilan sablon, kewirausahaan, dan pemanfaatan hand phone untuk bisnis on Ketiga jenis pelatihan diberikan secara bergantian antar-satu kelompok dengan kelompok lainnya. Produk akhir berupa sablon kaos dijual secara off line di tempat wisata Gunung Pinang dan melalui media on line bukalapak dan tokopedia. Pemberdayaan yang dilaksanakan sedikit banyaknya telah dapat memberi perubahan. Para pengangguran menjadi lebih percaya diri karena dapat memanfaatkan hand phone untuk berwirausahan secara bertahap. Masyarakat mulai keratif mencari ide untuk mengembangkan dan mempromosikan produk lokal Banten. Kata kunci: Vocational. Entrepreneur. Start-up. Skills. Pengangguran. Banten. PENDAHULUAN Pemuda putus sekolah dan pemuda tuna karya termasukanak jalanan (ANJAL) adalah pemuda berusia produktif antara 15-18 tahun. Diantara mereka menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mencari nafkah dan berkeliaran di jalanan maupun di tempat-tempat umum . Mereka pada umumnya tidak memiliki pekerjaan tetap. Ada dua kategori anak jalanan, yaitu children on the street dan children of the street . Children on the street adalah anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan dan masih memiliki hubungan dengan keluarga. Ada dua kelompok anak jalanan dalam kategori ini, yaitu anak-anak yang tinggal bersama orangtuanya dan senantiasa pulang ke rumah setiap hari, dan anakanak yang melakukan kegiatan ekonomi dan tinggal di jalanan namun masih mempertahankan hubungan dengan keluarga dengan cara pulang baik berkala ataupun dengan jadwal yang tidak rutin. Jurnal Sinergitas PkM & CSR Vol. No. April 2019 p-ISSN: 2528-7052 | e-ISSN:2528-7184 Children of the street adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh atau sebagian besar waktunya di jalanan dan tidak memiliki hubungan atau ia memutuskan hubungan dengan orangtua atau keluarganya. Kemudian berkembang menjadi Children in the street atau children from the families of the street adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh waktunya di jalanan yang berasal dari keluarga yang hidup di Gambar 1. Potret Aktivitas Anak-Anak Jalanan (ANJAL) di Banten . Seiring dengan kemajuan Banten sebagai propinsi. Kota Serang sebagai ibu kota propinsi, kota Cilegon sebagai kota industri, dan kota Tangerang sebagai kota perdagangan mengalami perkembangan pesat pada aspek infrastruktur, perdagangan dan jasa yang turut menstimulasi meningkatnya jumlah anak Di Propinsi Banten saja, saat ini sedikitnya tercatat 1. 076 anak terlantar. Tabel 1. Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Menurut Jenis di Provinsi Banten Tahun 2015-2016 . No. Jenis PMKS Anak Terlantar Anak Jalanan Pekerja Seks Komersil (PSK) Pengemis Gelandangan Balita Terlantar Korban Napza Bekas Narapidana Keluarga Bermasalah Lansia Terlantar Jumlah Selisih Keterangan Turun Naik Naik Naik Naik Naik Naik Naik Turun Turun Naik Jurnal Sinergitas PkM & CSR Vol. No. April 2019 p-ISSN: 2528-7052 | e-ISSN:2528-7184 Tabel 2. Jumlah Anak Terlantar dan Anak Jalanan di Provinsi Banten Tahun 2016 . No. Kab/Kota Kabupaten Pandeglang Kabupaten Lebak/Rangkasbitung Kabupaten Tangerang Kabupaten Serang Kota Tangerang Kota Cilegon Kota Serang Kota Tangerang Selatan Provinsi Banten Pemuda Putus Sekolah. Tunakarya. Anak Terlantar, dan Anak Jalanan Terdapat berbagai faktor penyebab seorang anak pada akhinya menjadi anak jalanan, diantaranya: kemiskinan, keretakan keluarga . eluarga yang tidak harmoni. Orang tua tidak mampu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, keinginan sendiri, akibat kekerasan keluarga, hingga kecenderungan ingin hidup bebas. Selain terdapat faktor penyebab, juga terdapat beberapa resiko yang dihadapi anak jalanan dengan kehidupan jalanan, diantaranya: rawan mendapatkan pelecehan, berpotensi tidak melanjutkan pendidikan, rawan kesehatan dikarenakan banyak menghirup polusi udara, berpotensi menjdi pengkonsumsi minuman keras dan narkoba, berpotensi melakukan tindak kekerasan dan Mengingat kondisi permasalaan kepemudaan di wilayah provinsi Banten, penting kiranya memberikan dan membekali mereka dengan keterampilan di bidang tertentu. Keterampilan yang diberikan disesuaikan dengan perkembangan dan kebiasaan keseharian yang sedang tren saat ini. Mayoritas pemuda saat ini tidak ada yang tidak memiliki dan tidak pandai bermain perangkat handphone. Oleh karena itu, tepat kiranya membekali mereka dengan ilmu dan keterampilan bagaimana cara memanfaatkan perangkat teknologi seluler yang dimilikinya untuk hal-hal yang bermanfaat. Salah satu keterampilan yang bias ditawarkan adalah vocational entrepreneur skills bidang bisnis online beserta cara mempromosikan produk local yang dimiliki Banten berbantu perangkat digital. Tujuan Program pengabdian memiliki fokus dan tujuan, yaitu untuk: memberdayakan pengangguran usia produktif, memberikanketerampilan . ife skill. start-up enterpreneur untuk pengembangan dan promosi produk lokal Banten, meningkatkan status sosial pengangguranguna mewujudkan program less children on the street menuju masyarakat Banten berkarya dan berbudaya, membuat program integrative dan komprehensif berkelanjutan untuk mengatasi problematikan kelompok sosial pengangguran. Jurnal Sinergitas PkM & CSR Vol. No. April 2019 p-ISSN: 2528-7052 | e-ISSN:2528-7184 METODE Tim pelaksana pengabdian terdiri dari dosen pembimbing lapangan, mahasiswa dan Mitra. Timditerjunkan untuk melakukan transformasi sosial masyarakat dengan memberikan pembekalan, pelatihan, dan pendampingan. Pelatihan yang diberikan berkaitan dengan penerapan teknologi promosi bisnis secara online . tart-up enterpreneu. Kerjasama sinergi dalam konsep working with community . diharapkan dapat memberikan sumbangan positif dalam peningkatan skill bagi kelompokpemuda putussekolah, tuna karya, dan anak jalanan. Pada tahap persiapan dan pembekalan. Mitra Sentra Inovasi & Aplikasi Teknologi bekerjasama dengan tim dosen pembimbing lapangan (DPL) memberikan pembekalan teknis, ilmu, dan wawasan technopreneur dan penerapan teknologi sablyn terhadap mahasiswa peserta KKN-PPM. Pembekalan ini penting diberikan kepada peserta KKN-PPM supaya paham segala sesuatu yang harus dilakukan di lokasi di tengah masyarakat. Pada tahap pelaksanaan. Mitra bekerjasama dengan peserta KKN-PPM memberikan penyuluhan, pendidikan, dan pelatihan terhadap kelompok pemuda putus sekolah & tuna karya, dan anak jalanan tentang tema kegiatan , termasuk di dalamnya proses pendampingan dan monitoring progres kegiatan. Pada tahap akhir kegiatan. Mitra bekerjasama dengan tim DPL melakukan evaluasi atas pelaksanaan dan hasil kegaitan tema KKN-PPM yang telah diimplementasikan. Gambar 2. Kerjasama dan Kontribusi Lembaga Mitra dengan Tim KKN-PPM HASIL DAN PEMBAHASAN Pada usianya yang sangat produktif . -18 tahu. , pemuda Indonesia memiliki potensi besar jika ditangani dengan baik. Semua pihak berupaya mencari jalan keluar untuk mengatasi permasalahan pengangguran usia produktif. Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan maupun program yang secara perlahan diharapakan akanmampu mengurangi jumlah pengangguran terbuka berusia produktif. Tujuannya adalah mewujudkan kesejahteraan dengan melibatkan berbagai pihak, agar upaya penanganan tersebut menjadi upaya bersama . Namun demikian upaya menangani pengangguaran produktif, tidak bisa dilakukan secara parsial atau diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah semata Jurnal Sinergitas PkM & CSR Vol. No. April 2019 p-ISSN: 2528-7052 | e-ISSN:2528-7184 melainkan perlu penanganan dan kepedulian bersama dan kerjasama antar stakaholders, dalam hal ini pemerintah, perguruan tinggi, swasta maupun masyarakat . Upaya-upaya yang sudah dan sedang dilakukan pemerintah setempat guna mengatasi permasalahan pengangguran usia produktif adalah menyediakan rumah singgah sebagai di tempat tinggal sementara anak jalanan sebelum ditangani lebih lanjut. Tim pengabdian Untirta memberikan bimbingan motivasi dan keterampilan yang tujuannya adalah bisa mengurangi pengangguran. Karena permasalahan pengangguran terbuka di Banten merupakan tantangan sekaligus peluang meningkatkan produktivitas para pemuda putus sekolah dan pemuda tuna karya guna turut mewujudkan pembangunan Indonesia di masa depan. Sehingga penyelesaian masalah sosial, kesejahteraan masyarakat dan daya saing bangsa segera bias diatasi. Peningkatan produktivitas pemuda dapat memberikan nilai tambah dalam pembangunan nasional, dan meningkatkan daya saing menghadapi perkembangan global . Oleh karena itu diperlukan inovasi dan terobosan dalam pengembangan dan peningkatan status sosial pemuda Banten di masa depan. Beberapa program yang ditawarkan oleh tim pengabdian Untirta, yaitu pelatihan adalah keterampilan sablon, kewirausahaan, dan pemanfaatan hand phone untuk bisnis on line. Penerapan teknologi sart-up enterpreneurdiberikan untukpromosi produk lokal Banten. Sebanyak 30 pengangguran dibagi menjadi tiga kelompok pelatihan. Jenis pelatihan yang diberikan adalah keterampilan sablon, kewirausahaan, dan pemanfaatan hand phone untuk bisnis on line. Ketiga jenis pelatihan diberikan secara bergantian antar-satu kelompok dengan kelompok lainnya. Produk akhir berupa sablon kaos dijual secara off line di tempat wisata Gunung Pinang dan melalui media on loine bukalapak dan tokopedia. Pemberdayaan yang dilaksanakan sedikit banyaknya telah dapat memberi Para pengangguran menjadi lebih percaya diri karena dapat memanfaatkan hand phone untuk berwirausahan secara bertahap. Masyarakat mulai keratif mencari ide untuk mengembangkan dan mempromosikan produk lokal Banten. Lebih lengkap setiap program kegiatan tersebut dijelaskan melalui gambar-gambar berikut. Gambar 3. Sosialisasi dan Penyuluhan Program Pengabdian Jurnal Sinergitas PkM & CSR Vol. No. April 2019 p-ISSN: 2528-7052 | e-ISSN:2528-7184 Kelompok sasaran dalam kegiatan pengabdian adalah kelompok pemuda putus sekolah & tuna karya, dan anak jalananusia produktif di wilayah pusat-pusat kota di provinsi Banten, terutama di kota Serang. Rangkasbitung. Cilegon, dan Pandeglang. Kelompok sasaran di kota tersebut memiliki potensi, di usia yang masih sangat produktif, potensi anak-anak ini masih bias untuk dikembangkan lagi dan memiliki harapan kehidupan yang lebih baik, dengan kemauan dan bekerja keras akan mampu meningkatkanketerampilan mereka, potensi dirinya masih bias dikembangkan dengan memberikan motivasi dan pengarahan dan adanya kemauan dalam mengembangkan diri menjadi lebih baik, dapat diarahkan untuk membuka lapangan pekerjaan yang baruaset sebagai SDM. Gambar 4. Pelatihan Teknik Sablon Tabel 3. Profil Kelompok Sasaran Program Pengabdian Profil Kelompok Sasaran C Kelompok Pemuda Putus Sekolah C Kelompok Pemuda Tuna Karya Kelompok Anak Jalanan C Potensi kelompok Sasaran Memiliki pengetahuan tentang penggunaan smartphone Masih bisa diarahkan untuk mengoptimalkan kemampuan dirinya Memiliki harapan masa depan untuk diarahkan dan dikaryakan Semangat yang tinggi untuk berusaha dan bekerja Memiliki waktu dan kemauan untuk Bisa diarahkan untuk membuka lapangan pekerjaan Masih memiliki kemampuan untuk mengembangkan potensi diri Memiliki harapan masa depan untuk diarahkan dan dikaryakan Semangat yang tinggi untuk berusaha dan bekerja Memiliki kemampuan dan minat untuk mengembangkan usaha produk yang dikenal masyarakat lokal Memiliki harapan masa depan untuk diarahkan dan dikaryakan Semangat yang tinggi untuk berusaha dan bekerja Permasalahan Kelompok Sasaran C Faktor keterbatasan biaya yang menyebabkan remaja ini tidak meneruskan sekolah Belum mengenal teknologi StartUp Enterpreneur Kurangnya akses informasi untuk pengembangan teknologi Kurangnya keterampilan diri sehingga sulit untuk bersaing di dunia kerja Kesempatan untuk belajar yang masih terbatas Sedikitnya lapangan pekerjaan Rendahnya keterampilan dan Keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dalam teknik produksi dan manajemen usaha Keterbatasan modal dalam pengembangan usaha Jurnal Sinergitas PkM & CSR Vol. No. April 2019 p-ISSN: 2528-7052 | e-ISSN:2528-7184 Gambar 5. Pelatihan Start-Up Bisnis On Line Untuk memberdayakan modal potensi positif yang dimiliki Pemuda PutusSekolah. Pemuda Tuna Karya, dan Anak Jalanan serta masalah yang masih ada, maka model dan upaya penanganan anak-anak terlantar tersebut harus dilakukan secara terintegrasi dan komprehensif dengan mensinergikan para stakeholders sebagai berikut. Tabel 1. 3 Stakeholder dan Perannya Stakeholders Peran Stakeholders Penyelenggara Urusan Negara Terkait Penanganan PMKS Penanggungjawab Wilayah& pihak terdekat serta terkait Pemerintah (Dinas Sosia. Lingkungan (RT/RW. Tokoh masyaraka. Perguruan Tinggi dan Lembaga Swasta Tanggungjawab Sosial Lembaga Keluarga Pemuda PutusSekolah. Pemuda Tuna Karya, dan Anak Jalanan Penanggungjawab anak Pendekatan Program dan Kegiatan Kepedulian lingkungan Terhadap Anak,Persuasif melalui ajakan kembali ke sekolah atau keluarga, santunan lingkungan Mengadakan pembinaan bagi Pemuda PutusSekolah. Pemuda Tuna Karya, dan Anak Jalanan Mengadakan program pemberdayaan bagi Penyadaran hak-hak anak Mengembalikan masa kanak-kanak Jurnal Sinergitas PkM & CSR Vol. No. April 2019 p-ISSN: 2528-7052 | e-ISSN:2528-7184 Gambar 6. Pendampingan Persiapan Promosi Produk Sablon Permasalahan yang masih dimiliki oleh kelompok sasaran dan akan diselesaikan melalui program KKN-PPM, diantaranya: berpendidikan rendah, tidak memiliki keterampilan . ife skil. yang baik. Kurang perhatian keluarga. Hidup bebas di jalanan. Mudah dipengaruhi hal-hal negatif. Berpotensi menjadi sampah sosial masyarakat. Kurang diberdayakan. Pemuda Putus Sekolah & Tuna Karya, dan Anak Jalanan termasuk masyarakat yang Marginal dengan tingkat pendidikan sangat rendah. Pemuda Putus Sekolah & Tuna Karya, dan Anak Jalanan membutuhkan penangan khusus yag lebih fokus dibanding dengan penduduk pengangguran lainnya. Pemuda Putus Sekolah & Tuna Karya, dan Anak Jalanan berpotensi besar dalam mempengaruhi dampak negatif jika tidak ditangani dengan baik. Mentalitas dan harapan yang rendah, masalah ekonomi yang membuat mereka putus sekolah. Secara umum. Banten masih memerlukan uluran tangan untuk mentransformasi kehidupan para pengangguran terbuka. Karena Banten masih memiliki masalah yang harus ditangani lebih lanjut, tingkat pendidikan penduduk sekitar masih sangat rendah, sehingga masih sangat memungkinkan potensi muncul dan terus bertambahnya Pemuda Putus Sekolah. Pemuda Tuna Karya, dan Anak Jalanan Daya serap terhadap masyarakat asli setempat untuk bekerja di industri atau di sector perdagangan pun masih sangat rendah Mentalitas warga miskin dan indeks pembangunan manusia (Human Inde. yang rendah mengakibatkan kualitas produktivitas perekonomian yang rendah dan menjadikan multipersoalan yang berkepanjangan Pemuda PutusSekolah. Pemuda Tuna Karya, dan Anak Jalanan termasuk masyarakat yang Marginal dengan tingkat pendidikan sangat rendah Pemuda PutusSekolah. Pemuda Tuna Karya, dan Anak Jalanan membutuhkan penangan khusus yag lebih fokus dibanding dengan penduduk pengangguran lainnya Pemuda PutusSekolah. Pemuda Tuna Karya, dan Anak Jalanan berpotensi besar dalam mempengaruhi dampak negatif jika tidak ditangani dengan baik Jurnal Sinergitas PkM & CSR Vol. No. April 2019 p-ISSN: 2528-7052 | e-ISSN:2528-7184 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) sebagai salah satu stakeholder perguruan tinggi telah melakukan sinergi dalam mengisi akselerasi pembangunan terutama menangani masalah permasalahan pengangguran usia produktif . emuda tuna karya, dan anak jalana. Tim pengabdian UNTIRTA telah bersedia menjadi job creator dengan membuat dan membuka peluang usaha melalui pemberdayaan pemuda putussekolah, pemuda tuna karya, dan anak jalanan sehingga segala bekal pemahaman teknologi dan pemikiran keilmuan dari berbagai disiplin ilmu dapat dimanfaatkan untuk menyelesaiakan masalah karakter sosial kemasyarakatan . Terlaksananya program pengabdian KKN-PPM diformulasikan guna mengatasi permasalahan pengangguran terbuka. Program telah menawarkan pembelajaran dan pemberdayaan kepada kelompok masyarakat khususnya para pengangguran produktif yang terkategorikan menjadi kelompok pemuda putus sekolah, pemuda tuna karya, dan anak jalanan. SIMPULAN DAN IMPLIKASI Secara umum provinsi Banten memiliki potensi unggulanyang sangat variatif. Unggulan Banten pun muncul dari mayoritas pemuda putus sekolah, pemuda tuna karya, dan anak jalanan (ANJAL) yang berusia produktif. Kelompok masayarakat ini merupakan modal aset yang potensial jika dikelola dan diberdayakan dengan baik, terarah, dan progresif. Di Wilayah kota Serang. Rangkasbitung. Pandeglang, dan Cilegon para pemuda putus sekolah, pemuda tuna karya, dan anak jalanan masih relatif dapat ditangani, dikelola dengan mudah, dan diberdayakan dibanding dengan kota DKI atau kota Bandung. Antusias tinggi kelompok masayarakat ini perlu dikembangkan lebih lanjut dengan memberinya berbagai macam keterampilan sesuai dengan minat dan perkembangan mereka. Kegiatan kelompok masyarakat ini agar lebih diarahkan kepada hal-hal yang positif, mendatangkan manfaat dan berkesinambungan dalam kontrol pemerintahan setempat. UCAPAN TERIMA KASIH