2457 J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 8 Januari 2026 EDUKASI DAN IMPLEMENTASI BLACK SOLDIER FLY (BSF) COMPOSTING UNIT SEBAGAI PENGOLAH LIMBAH ORGANIK RUMAH TANGGA DI KOTA PALANGKA RAYA Oleh Yusintha Tanduh1. Stevin Carolius Angga2 1Jurusan Kehutanan. Fakultas Pertanian. Universitas Palangka Raya 2Program Studi Kimia. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Palangka Raya E-mail: 2stevin. carolius@mipa. Article History: Received: 01-11-2025 Revised: 11-11-2025 Accepted: 04-12-2025 Keywords: Black Soldier Fly. Maggot. BSF. Palangka Raya. Pengolahan Limbah. Limbah Organik Abstract: Permasalahan meningkatnya volume sampah rumah tangga terutama limbah organik berpotensi menimbulkan pencemaran dan memicu penyebaran penyakit apabila tidak dikelola dengan baik. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memberikan solusi melalui edukasi dan implementasi pengolahan limbah organik berbasis Black Soldier Fly (BSF) kepada warga Kecamatan Jekan Raya. Kota Palangka Raya. Kegiatan mencakup penyuluhan terkait bahaya limbah organik, pelatihan pembuatan dan operasional BSF Composting Unit, pembiakan BSF melalui love cage, serta pemanenan maggot dan frass sebagai produk bernilai guna. Hasil evaluasi menunjukkan BSF Composting Unit efektif mempercepat dekomposisi limbah organik dan warga mendapatkan peningkatan pemahaman serta motivasi untuk menerapkan pengolahan limbah organik secara mandiri dan PENDAHULUAN Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menyatakan bahwa limbah merupakan material yang tidak dapat dihindari sebagai hasil dari berbagai aktivitas manusia yang sudah tidak lagi dibutuhkan dan harus segera dibuang. Produksi limbah padat yang beragam serta ketiadaan sistem pengelolaan yang terintegrasi di berbagai kota menjadi salah satu hambatan dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Sebagai ilustrasi, apabila setiap individu menghasilkan sekitar 0,1 hingga 1 kilogram limbah per hari maka dengan mempertimbangkan jumlah populasi, pengelolaan limbah merupakan hal yang krusial untuk diperhatikan (Behrozneia et al. Aamar 2018. Akbari and Jamallewani Lingkungan yang sehat dengan pembangunan berkelanjutan serta transformasi sosial yang memadai merupakan prasyarat bagi keberlanjutan ekosistem dan kesejahteraan Pengelolaan sampah organik yang tidak efektif terutama sampah organik rumah tangga seperti sisa makanan, buah-buahan, dan sayuran dapat menimbulkan dampak lingkungan yang serius. Kegagalan dalam menangani limbah organik tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga meningkatkan risiko munculnya berbagai Sampah organik yang terurai secara tidak terkontrol menjadi media pertumbuhan http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 8 Januari 2026 bagi vektor penyakit seperti lalat, kecoa, dan tikus, yang dapat menularkan patogen penyebab diare, kolera, demam tifoid, dan infeksi saluran pencernaan lainnya. Selain itu, proses pembusukan sampah organik menghasilkan senyawa volatil dan mikroorganisme patogen yang berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat di sekitarnya (Angga et al. Amirah et al. Khorasani. Moshfeqnezhad, and Hekmati 2018. Habibzadeh. Hasami, and Mahmodifer 2015. Angga et al. Pengolahan limbah organik dapat dilakukan melalui berbagai metode, salah satu yang saat ini berkembang pesat dan menjadi tren adalah pemanfaatan Black Soldier Fly (BSF) sebagai agen biokonversi. Teknologi ini telah banyak dilaporkan efektif dalam menguraikan limbah organik termasuk limbah rumah tangga sekaligus menghasilkan produk samping yang bermanfaat seperti frass dan biomassa larva (Holmes. Vanlaerhoven, and Tomberlin Rachmawati et al. Siswanto et al. Dewi and Sylvia 2. Selain efektivitasnya dalam pengolahan limbah BSF juga memiliki risiko kesehatan yang relatif Berdasarkan temuan Bullock et al. dan Li et al. BSF tidak berperan sebagai vektor penyakit seperti halnya beberapa jenis lalat lainnya serta bukan merupakan lalat hama sehingga tidak menimbulkan ancaman bagi kesehatan manusia maupun Pada program pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan kegiatan edukasi serta implementasi BSF Composting Unit sebagai sarana pengolahan limbah organik rumah tangga di Kota Palangka Raya, khususnya di Kecamatan Jekan Raya. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola limbah organik secara mandiri melalui pemanfaatan BSF, sekaligus memberikan pemahaman mengenai pentingnya pengelolaan limbah yang tepat untuk mendukung kesehatan keluarga dan menjaga kualitas Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan dapat menerapkan praktik pengolahan limbah yang berkelanjutan dan berkontribusi pada upaya pengurangan volume sampah rumah tangga di tingkat lokal. METODE Kegiatan edukasi dan implementasi BSF Composting Unit untuk pengolahan limbah organik diselenggarakan oleh dosen dari Jurusan Kehutanan, dan dosen Program Studi Kimia sekaligus Koordinator Kimia Terapan PPIIG Universitas Palangka Raya. Program ini dilaksanakan di Kecamatan Jekan Raya. Kelurahan Bukit Tunggal. Kota Palangka Raya. Kalimantan Tengah. Kegiatan pengabdian ini mengangkat topik pengolahan limbah organik sebagai bentuk kontribusi nyata dosen dalam memberikan solusi aplikatif bagi masyarakat melalui sosialisasi dan demonstrasi teknik pengolahan limbah yang dapat diterapkan pada skala rumah tangga. Pelaksanaan program dilakukan secara luring . melalui sesi pelatihan langsung di lapangan yang mencakup pembuatan BSF Composting Unit pengolah limbah organik berbasis larva BSF . , persiapan media dan limbah organik, serta penyiapan larva BSF sebagai agen biokonversi. Kegiatan ini disusun ke dalam tiga tahapan utama sebagai berikut: Edukasi tentang Limbah Organik dan Pemanfaatan Larva BSF sebagai Agen Pengolah Limbah Tahapan awal dilaksanakan pada halaman rumah warga setempat. Pada sesi ini, tim pengabdian memberikan penjelasan mengenai karakteristik dan dampak negatif limbah organik rumah tangga termasuk potensinya dalam menarik hama dan meningkatkan risiko ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 8 Januari 2026 Selanjutnya, disampaikan pula penjelasan mengenai siklus hidup BSF, peran larva dalam proses biokonversi limbah, serta manfaat ekologis dan ekonomis yang dapat diperoleh Penjelasan Habitus Larva BSF dan Demonstrasi Preparasi BSF Composting Unit Setelah tahap edukasi, tim menyampaikan perencanaan teknis berupa blueprint dan layout BSF Composting Unit yang dirancang agar mudah dibuat dan dioperasikan pada skala rumah tangga. Peserta pelatihan kemudian diberikan demonstrasi mengenai tahap-tahap pembuatan BSF Composting Unit, persiapan media pertumbuhan larva, serta penambahan bibit maggot BSF ke dalam sistem. Pertimbangan mengenai kebiasaan hidup . maggot, seperti kebutuhan kelembapan, kondisi media, dan desain jalur panen otomatis, turut dijelaskan untuk memastikan keberhasilan operasional unit biokonversi. Eksekusi Lapangan dan Evaluasi Bertahap BSF Composting Unit yang telah terisi limbah organik dan larva BSF kemudian dipantau setiap beberapa hari untuk menilai efektivitas proses penguraian limbah. Setelah satu siklus hidup larva hingga fase pupa tercapai, sebagian maggot dipanen sebagai pakan ternak, sementara sebagian lainnya digunakan sebagai calon indukan untuk menjaga keberlanjutan operasional BSF Composting Unit. Selama proses ini berlangsung, tim melakukan evaluasi bersama warga mengenai kinerja BSF Composting Unit, manfaat yang diperoleh, tingkat pemahaman masyarakat, serta potensi keberlanjutan program pada skala rumah tangga. HASIL Pada kegiatan pelatihan yang dilaksanakan, masyarakat diberi pemahaman mengenai bahaya limbah organik rumah tangga apabila tidak dikelola dengan baik. Limbah organik yang menumpuk berpotensi mengundang hama seperti lalat rumah, kecoa, dan tikus, yang merupakan vektor berbagai penyakit. Oleh karena itu, edukasi mengenai pentingnya pengolahan limbah secara tepat menjadi salah satu fokus utama pelatihan. Salah satu poin edukasi yang mendapat perhatian adalah penjelasan mengenai keamanan pemanfaatan Black Soldier Fly (BSF) sebagai agen biokonversi. Larva BSF yang dikenal masyarakat sebagai maggot dianggap aman karena pada fase dewasa BSF tidak mencari makanan sebagaimana lalat rumah (Musca domestic. pada umumnya. Serangga dewasa BSF hanya berfokus pada reproduksi sehingga risiko penyebaran penyakit sangat Selain itu, perilaku larva menuju fase pupa menunjukkan bahwa maggot cenderung menjauhi tumpukan sampah lembap dan mencari lokasi yang lebih kering dan gelap sebagai tempat bermetamorfosis. Kondisi ini turut mengurangi potensi penyebaran kontaminan. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 8 Januari 2026 Gambar 1. BSF Dewasa di dalam Love Cage untuk Reproduksi Fenomena ekologis lainnya yang dijelaskan kepada peserta adalah bahwa keberadaan BSF pada suatu tumpukan limbah organik dapat menekan keberadaan lalat rumah. Lalat rumah cenderung menghindari lokasi yang telah didominasi oleh BSF sehingga area pengolahan limbah menjadi lebih bersih dan aman dari vektor penyakit. Secara umum, siklus hidup BSF berlangsung dalam beberapa tahapan: telur (A3 har. , larva mini (A4 har. , larva (A14 har. , pupa (A14 har. , dan serangga dewasa (A9 har. Tahapan yang paling berperan dalam proses pengolahan limbah adalah fase mini larva hingga larva di mana maggot aktif mengonsumsi limbah organik dan menguranginya secara Ketika memasuki fase pupa atau kepompong, aktivitas makan berhenti lalu mempersiapkan metamorfosis menuju fase dewasa. Perbedaan fase ini juga dapat diamati secara visual di mana larva umumnya berwarna lebih cerah, sedangkan pupa berwarna lebih Gambar 2. Fasa Telur BSF hingga Pupa ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 8 Januari 2026 Preparasi BSF Composting Unit dimulai dengan pemanfaatan ember sebagai wadah utama yang diisi limbah organik dan ditambahkan telur BSF. Pada tahap ini, peserta juga diberikan edukasi mengenai cara memperoleh telur BSF melalui teknik attracting yaitu memancing kedatangan BSF betina menggunakan serum feromon yang dipreparasi oleh tim Edukasi ini penting mengingat keberlanjutan operasional Composting Unit sangat bergantung pada ketersediaan telur atau larva baru. Gambar 3. Serangga BSF Dewasa Meletakkan Telur Desain BSF Composting Unit yang digunakan bersifat sederhana dan dapat dengan mudah diaplikasikan pada skala rumah tangga. Ember berisi limbah organik dilengkapi jalur spiral yang berfungsi sebagai jalur pemanjatan bagi larva yang telah memasuki fase prapupa. Larva BSF secara alami mencari lokasi yang lebih kering dan gelap untuk bermetamorfosis, sehingga jalur spiral memfasilitasi pergerakan tersebut. Pada sisi ember dibuat sebuah lubang yang dihubungkan dengan toples tertutup lakban untuk menciptakan kondisi gelap dan kering serta diisi bahan isolator seperti serat/fiber. Larva yang siap memasuki fase pupa akan memanjat keluar melalui jalur tersebut dan akhirnya jatuh ke dalam toples sehingga proses panen dapat berlangsung secara otomatis. Gambar 4. Biokonversi Limbah dan Toples Panen Pupa BSF http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 8 Januari 2026 Untuk menjaga keamanan Composting Unit dari predator alami seperti semut dan cicak, unit ditutup dengan jaring . dan ditempatkan di atas pagar air . ater barrie. Pupa BSF yang terkumpul di dalam toples kemudian dapat dipanen sebagai pakan ternak, sementara sebagian lainnya dipertahankan sebagai calon indukan. Calon indukan tersebut ditempatkan dalam kelambu sebagai ruang reproduksi (Love Cag. Di dalam kelambu disediakan potongan kayu tipis . sebagai substrat tempat BSF betina meletakkan telurnya. Perawatan BSF dewasa relatif sederhana, hanya memerlukan penyemprotan air setiap pagi dan sore untuk menjaga kelembapan lingkungan. Gambar 5. BSF Composting Unit dan Love Cage Selama proses biokonversi berlangsung limbah organik diuraikan oleh larva menjadi frass yaitu hasil ekskresi dan sisa material yang telah terdegradasi. Frass memiliki potensi sebagai media tanam karena kandungan nutrisinya yang tinggi. Lalu, mengingat tingkat konsumsi larva BSF yang sangat tinggi maka limbah organik perlu ditambahkan setiap 2Ae3 hari untuk menjaga ketersediaan pakan. Frass umumnya perlu dibersihkan dari Composting Unit setiap 1Ae2 minggu agar kapasitas wadah tetap optimal. Beberapa jenis limbah, seperti tulang dari sisa daging atau kulit buah yang sangat keras tidak dapat dikonsumsi oleh maggot dan harus dipisahkan. Dalam pelatihan ini, tim sengaja menunjukkan kondisi limbah tanpa pemisahan termasuk limbah yang masih mengandung plastik, tulang, atau kulit buah keras untuk memperlihatkan kepada warga bahwa tidak semua bahan dapat didegradasi oleh Gambar 6. Hasil Panen Larva dan Calon Indukan BSF ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 8 Januari 2026 DISKUSI