http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. Desember 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 Artikel Penelitian Mental and Emotional Problems among Preschool-Aged Children Experiencing Sibling Rivalry. Case Study Ruminem Ruminem1. Aldi Saputra2. Rita Puspa Sari3. Ida Ayu Kade Sri Widiastuti4 Abstrak Pendahuluan: Sibling rivalry pada anak usia prasekolah membawa beberapa konsekuensi, termasuk dampak pada individu tersebut, seperti agresi, tantrum, ketidakstabilan emosi, bahkan reaksi berlebihan, gangguan kepercayaan diri, dan perasaan dendam terhadap saudara kandung. Dampak lainnya adalah pengaruh terhadap saudara kandung, seperti perilaku agresif, ketidakmauan berbagi, rasa persaiangan, kurangnya kerjasama, kecenderungan untuk mengadukan, dominasi terhadap saudara, dan memberikan contoh perilaku negatif pada saudara kandung. Tujuan: mengetahui gambaran masalah mental-emosional anak usia prasekolah yang mengalami sibling rivalry. Metode: desain penelitian berupa deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Subjek pada penelitian ini adalah anak usia pra sekolah yang bersekolah di TK Tunas Rimba 1 yang mengalami sibling rivarly dan orang tuaanya sebanyak 6 partisipan. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner sibling rivalry dan Kuesioner Masalah Mental Emosional (KMME). Analisis data secara deskripsi eksplanasi. Hasil: Penelitian ini mendapatkan seluruh partisipan . mengalami sibling rivarly kategori tinggi, dengan karakteristik perilaku agresif, persaingan dan perasaan iri/cemburu dengan saudara kandung. Masalah mental emosional anak diperoleh dari penilaian KMME sebanyak 5 partisipan memiliki kategori kemungkinan mengalami masalah mental emosional, yang ditandai dengan perilaku anak marah tanpa sebab,ketakutan berlebihan dan perilaku kebingungan. Kesimpulan: Anak yang mengalami sibling rivarly dapat menimbulkan dampak pada masalah mental emosional anak, mayoritas kategori kemungkinan mengalami masalah mental emosional. Disarankan orang tua lebih aktif mencari informasi mengenai dampak sibling rivalry pada anak dan dianjurkan melakukan konseling. Kata kunci: Usia prasekolah. Mental -Emosional. Sibling Rivarly Abstract Introduction: Sibling rivalry in preschool-aged children may lead to various consequences, including negative impacts on the children themselves, such as aggression, tantrums, emotional instability, excessive reactions, low self-confidence, and feelings of resentment toward siblings. It may also affect sibling relationships, manifested by aggressive behavior, unwillingness to share, competitive attitudes, lack of cooperation, frequent tattling, dominance over siblings, and modeling of negative behaviors. Objective: This study aimed to describe the mentalAeemotional problems of preschoolaged children experiencing sibling rivalry. Methods: This study employed a descriptive research design with a case study approach. The subjects were preschool-aged children attending Tunas Rimba 1 Kindergarten who experienced sibling rivalry, along with their parents, involving a total of six participants. The research instruments included a Sibling Rivalry Questionnaire and the MentalAeEmotional Problems Questionnaire (KMME). Data were analyzed using descriptive explanatory analysis. Results: The findings revealed that all participants . ix childre. experienced high levels of sibling rivalry, characterized by aggressive behavior, competition, and feelings of jealousy toward siblings. Based on the KMME assessment, five participants were categorized as having a possible risk of mentalAeemotional problems, indicated by behaviors such as unexplained anger, excessive fear, and confused behavior, while one participant was categorized as Conclusion: Children experiencing sibling rivalry may be at risk of developing mentalAeemotional problems, with the majority classified as having a possible risk. It is recommended that parents actively seek information regarding the impact of sibling rivalry on children and engage in counseling to prevent further mentalAeemotional problems Keywords: Preschool Age. MentalAeEmotional. Sibling Rivalry Submitted : 29 November 2025 Afiliasi penulis : 1 Program S1 Keperawatan, 2. Program Studi Di Keperawatan, 3. Program Studi Di Keperawatan, 4. Program Studi Profesi Ners . Fakultas Kedokteran. Universitas Mulawarman Korespondensi : AuRuminemAy rumjoyo65@gmail. Accepted : 31 December 2025 http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. Desember 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 PENDAHULUAN Anak usia prasekolah adalah anakanak yang memasuki periode usia 3-5 tahun serta berdampak pada tahap perkembangan mental dan emosional. Perkembangan dipengaruhi oleh interaksi di dalam keluarga . yah, ibu, saudara kandun. maupun interaksi di luar rumah, misalnya di sekolah, teman sebaya, dan guru . Masa ini berlangsung singkat, oleh karena itu disebut sebagai masa kritis (Critical Perio. Anak prasekolah mengalami masalah mental dan emosi yang labil pada saudara kandung persaingan atau kompetisi antara saudara kandung yang berujung konflik seperti perasaan cemburu dan iri karena kehadiran saudara kandung yang baru lahir. Dalam keluarga, sangat sering terjadi persaingan dimana kedua orang tuanya memberikan atensi lebih pada anak dan antar anak saling mendapatkan perhatian tersebut. Kejadian ini biasanya disebut sebagai sibling rivalry . Berdasarkan data survei oleh WHO menunjukkan bahwa di Asia terdapat kejadian sibling rivalry pada sebanyak 10 juta Lalu di Amerika terdapat 82% keluarga dengan kasus sibling rivalry dengan dicirikan anak yang saling berebut perhatian dan ambisi untuk menjadi lebih baik. Kemudian dilakukan pada tahun 2014 menyatakan bahwa jumlah penduduk Indonesia adalah sebanyak 237,6 juta jiwa dan menurut Badan Pusat Statistik memperkirakan jumlah anak balita pada tahun 2014 mencapai sekitar 22% . ekitar 47,2 juta jiw. Dari data ini menunjukkan bahwa di Indonesia hampir 75% anak mengalami Sibling Rivalry . Hal ini tampak dari tingkah laku anak yang lebih agresif, memukul atau melukai kakak maupun adiknya, sering menangis tanpa sebab, sering mengompol dan kadang tidak ingin pisah dari ibunya . Kejadian sibling rivalry jika tidak dengan baik maka dapat menimbulkan dampak pada anak yang lebih tua maupun saudaranya . Sibling rivalry pada anak usia dini membawa beberapa konsekuensi, termasuk dampak pada individu tersebut, seperti agresi, tantrum, ketidakstabilan emosi, bahkan reaksi berlebihan, gangguan kepercayaan diri, dan perasaan dendam terhadap saudara Dampak lainnya adalah pengaruh Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman terhadap saudara kandung, seperti perilaku agresif, ketidakmauan berbagi, kurangnya kerjasama, kecenderungan untuk mengadukan, dominasi terhadap saudara, dan memberikan contoh perilaku negatif pada saudara kandung . Situasi ini dapat terjadi ketika anak merasa kehilangan perhatian dan kasih sayang dari orang tua, sehingga menganggap saudara kandung sebagai pesaing dalam meraih perhatian dan kasih sayang tersebut. Hal ini seringkali dipengaruhi oleh kebiasaan orang tua yang cenderung membanding-bandingkan anak-anak mereka . Anak berusia 3-5 tahun cenderung lebih fokus pada diri sendiri, sehingga mereka mungkin mengalami kesulitan dalam membagi perhatian orang tua dengan saudara-saudara mereka, terutama ketika ada kehadiran adik baru, yaitu Kehadiran adik baru tersebut dapat mengubah dinamika yang semula harmonis menjadi lebih kompleks. Anak pertama dihadapkan pada tuntutan untuk berbagi dalam berbagai aspek, dan tantangan terbesar muncul ketika mereka harus berbagi perhatian dan kasih sayang orang tua dengan saudara baru mereka. Kondisi ini menyebabkan anak mengalami respon ketidaknyamanan sehingga akan memicu terjadinya sibling rivalry. Berdasarkan hasil penelitian terhadap 68 responden di SDN 18 Campago Guguk Bulek, ditemukan bahwa terdapat 33 responden . ,5%) yang mempunyai tingkat sibling rivalry yang tinggi. Hasil penelitian menunjukkan hampir separuh anak mempunyai kasus atau masalah sibling rivalry, dengan reaksi perilaku seperti sikap anak yang tidak mau mengalah kepada saudaranya . ,3%), iri hati terhadap saudaranya . ,8%), mengadukan setiap tindakan saudaranya . ,1%), tidak menawarkan bantuan jika . ,6%) mengakibatkan hilangnya motivasi anak jika dibandingkan dengan saudaranya . ,1%) . Menurut hasil penelitian Dinengsih & Agustina . di Bantul Yogyakarta terdapat 40 orangtua yang memiliki anak usia 3-5 tahun didapatkan data sebagaian besar . ,5%) mengalami sibling rivalry . Sibling rivalry dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk pembagian perhatian orang tua kepada anak-anak lain, penonjolan perhatian terhadap satu anak tertentu, serta kurangnya pemahaman diri. Selain itu, pola asuh yang tidak tepat, seperti kecenderungan orang tua untuk membandingkan anak-anak juga dapat menjadi penyebab. Faktor lain yang dapat menjadi penyebab sibling rivalry melibatkan Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. Desember 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 karakteristik intrinsik anak itu sendiri, seperti temperamen, kebutuhan akan perhatian, perbedaan usia, jenis kelamin, urutan ambisi anak mendominasi saudara kandungnya. Berdasarkan studi pendahuluan melalui wawancara dengan beberapa orang tua dari murid yang bersekolah di TK Tunas Rimba 1 Samarinda didapatkan keluhan mengenai perilaku anak, seperti: anak sering marah tanpa alasan, suka melanggar, membantah, dan mudah teralih perhatianya, susah lepas dari orangtuanya, dan memiliki perasaan takut yang berlebihan. Hal tersebut permasalahan perilaku pada anak yang mengalami masalah mental emosional pada anak dengan sibling rivarly. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai gambaran masalah mentalemosional anak usia pra sekolah yang mengalami sibling rivalry di TK Tunas Rimba 1 Samarinda. Adapun tujuan penelitian ini Untuk mengetahui gambaran masalah mental-emosional anak usia prasekolah yang mengalami sibling rivalry di TK Tunas Rimba 1 Samarinda. Adapun keterbaruan penelitian ini yaitu lebih berfokus pada masalah mental emosional dan subjek anak yang menjadi sampel pada penelitian ini adalah anak usia prasekolah yang mengalami sibling rivarly. Sedangkan bukan hanya meneliti mengenai perilaku sibling. Sedangkan penelitian sebelumnya lebih banyak meneliti menganai faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian sibling rivarly pada anak. METODE Desain adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Populasi penelitian ini adalah anak usia prasekolah di TK Tunas Rimba 1 Samarinda sebanyak 11 responden. Subjek yang menjadi sampel terpilih pada penelitian ini adalah anak berusia 4 - 6 tahun yang mengalami sibling rivalry yang bersekolah di TK Tunas Rimba 1 Kota Samarinda dan orang tuanya berjumlah 6 partisipan. Pemilihan subjek penelitian menggunkan tehnik purposive sampling . , dengan kriteria insklusi : Anak yang berusia 4-6 tahun yang mengalami sibling rivalry. anak yang memiliki saudara kandung. Orang tua yang mempunyai anak lebih dari satu Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman dengan jarak kelahiran 1-3 tahun. kriteria inklusi :. anak yang mengalami gangguan perkembangan (Autism Spectrum Disorder/ASD). Orang tua tidak bersedia menjadi responden. Intrumen penelitian berupa kuesioner lembar observasi sibling rivarly . ategori Tinggi = skor Ou 6 dan Rendah = skor < . dan kuesioner KMME untuk menilai problem mental emosional anak usia pra sekolah . sia 36 bulan samai 72 bula. dengan interpretasi yaitu Normal . ika tidak ada jawaban AuYaA. dan Kemungkinan mengalami Masalah mental emosional . ika terdapat Ou 1 jawaban AuYaA. Pengumpulan data dilakukan secara langsung, dimana sebelum orang tua (Ib. diberikan kuesioner, peneliti memberikan penjelasan mengenai prosedur penelitian dan menandatangi lembar inform concent jika ibu bersedia menjadi Penelitian ini telah disetujui oleh KEPK FK Unmul dengan nomor : 201/KEPKFK/IX/2004. Analisis data penelitian disajikan secara deskripsi eksplanasi guna memberikan gambaran partisipan yang mengalami sibling rivarly dan masalah mental emosional anak usia prasekolah. HASIL Penelitian ini melibatkan 6 partisipan ibu dan anaknya yang bersekolah di TK Tunas Rimba Samarinda. Hasil penelitian terdiri dari karakteristik partispan anak, simbling rivarly dan masalah mental emosional Karakteristik Partisipan Tabel 1. Karakteristik Partisipan (Ana. berdasarkan Usia, jenis Kelamin,urutan Posisi anak. Jumlah dan Selisih Umur dengan Saudara Kandung Partisipan PA. PA. PA. PA. PA. PA. Usia (Tahu. Jenis Kelamin Perempuan Perempuan Laki-Laki Laki-Laki Laki-Laki Laki-Laki Urutan Lahir Jumlah Selisih Saudara Usia Kandung (Tahu. Berdasarkan Partisipan yang berusia 5 tahun dan 6 tahun masing-masing 3 partisipan dan berdasarkan jenis kelamin lebih banyak laki-laki yaitu 4 Berdasarkan urutan kelahiran di keluarga diketahui semua partisipan sebagai anak pertama, dengan jumlah saudara kandung mayoritas 1 orang dan terdapat selisih umur dengan saudara kandung rentang 2 tahun Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. Desember 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 sebanyak 5 partisipan. yang tidak mengalami masalah mental emosional (PA. Gambaran Sibling Rivarly Pada Anak Tabel 2. Gambaran Sibling Rivarly Pada Partispan Anak Partisipan kategori Reaksi Sibling Rivarly PA. Tinggi PA. Tinggi PA. Tinggi PA. Tinggi PA. Tinggi PA. Tinggi Perilaku Agresif. Persaingan, perasaan iri/cemburu Persaingan, perasaan iri/cemburu Perilaku agresif, persaingan. Perasaan iri/cemburu Perilaku agresif, persaingan. Perasaan iri/cemburu Perilaku agresif, persaingan. Perasaan iri/cemburu Perilaku agresif, persaingan. Perasaan iri/cemburu Berdasarkan tabel 3, didapatkan semua partisipan mengalami sibling rivarly kategeri tinggi dan reaksi perilaku yang muncul pada partisipan mayoritas berupa persaingan/kompetesi dan perasaan iri Gambaran Mental-Emosional Anak Tabel 3. Gambaran Emosional Anak Sibling Rivarly Masalah Mental yang mengalami Partisipan KMME- Masalah Mental Emosial Jumlah Kategori Penyimpangan AyYaAy PA. Kemungkinan Marah Tanpa Sebab Ada Masalah PA. Kemungkinan Perubahan Pola Ada Masalah Tidur PA. Tidak Ada Tidak Ada Masalah PA. Kemungkinan Ketakutan berlebihan Ada Masalah & sulit berkonsentrasi PA. Kemungkinan Perilaku Kebingungan Ada Masalah PA. Kemungkinan Marah Tanpa Sebab Ada Masalah Pada Tabel 3, hasil dari penilaian KMME pada anak didapatkan lebih banyak partisipan yang memperoleh jawaban AuyaAy Ou 1 yaitu sebanyak 5 partisipan dan dengan interpretasi partisipan kemungkinan mengalami masalah mental emosional. Adapun perilaku penyimpangan masalah mental emosional yang terdapat pada partisipan seperti marah tanpa sebab (PA. dan PA. , ketakutan berlebihan dan sulit konsentrasi (PA. , serta terjadinya perubahan pola tidur (PA. dan perilaku kebingungan (PA. Hanya 1 partisipan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman PEMBAHASAN Gambaran Sibling Rivarly Pada Anak Berdasarkan hasil penelitian dilakukan terhadap 6 partisipan anak di TK Tunas Rimba 1 Samarinda diperoleh hasil seluruh partisipan merupakan anak usia prasekolah rentang usia 5-6 tahun yang mengalami sibling rivalry kategori tinggi. Usia tersebut merupakan fase perkembangan prasekolah yang ditandai dengan peningkatan kebutuhan perhatian, egosentrisme, dan kemampuan regulasi yang belum matang. Anak usia prasekolah masih berada pada tahap perkembangan emosi yang labil sehingga rentan mengalami konflik interpersonal terutama dengan saudara kandung . Sibling rivalry merupakan respons emosional yang wajar pada anak, namun dapat menjadi bermasalah bila intensitasnya tinggi dan berlangsung terus-menerus. Persaingan yang tidak terkelola dapat memicu konflik perkembangan psikososial anak . Bentuk reaksi sibling rivalry yang terdapat pada seluruh partisipan yaitu munculnya perilaku agresif . arah, berbuat kasa. , rasa persaingan . idak mau kalah, suka mengkriti. dan anak memiliki perasaan iri atau cemburu dengan saudara kandungnya dan cenderung mencari perhatian secara berlebiha. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian . yang menemukan bahwa anak usia prasekolah dengan sibling rivalry tinggi menunjukkan perilaku agresif, tantrum, dan mudah marah. Menurut Fitri & Hotmauli . sibling rivalry ditunjukkan melalui beberapa tingkah laku. Tingkah laku tersebut seperti berperilaku agresif atau resentment . ekesalan, kemarahan, atau kebencia. terhadap orang tua dan saudaranya, memiliki rasa semangat untuk bersaing atau kompetisi, serta adanya perasaan iri atau . Terjadinya sibling rivarly pada seluruh partisipan pada penelitian ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu urutan kelahiran, diketahui bahwa semua anak . merupakan anak pertama. Menurut (Franz, 2. , urutan kelahiran atau posisi anak dikeluarga dapat mempengaruhi perilaku sibling menunjukkan kebencian terhadap saudaranya karena perhatian orang tua terbagi. Selain itu faktor jarak kelahiran atau selisih usia antar Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. Desember 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 saudara kandung juga dapat berkontribusi pada partisipan mengalami sibling rivarly, hal didukung bahwa rata-rata selisih umur partisipan dengan saudara kandung berada pada rentang 2-3 tahun. Menurut Yuliana, et. Jarak usia yang lazim memicu munculnya sibling rivalry adalah jarak antara usia 1- 3 tahun dan muncul pada usia 3- 5 tahun kemudian muncul kembali pada usia 8- 12 tahun . Sejalan dengan penelitian lainnya bahwa jarak kelahiran antar anak ada hubungannya dengan kejadian sibling rivarly pada anak. Penelitian Nurgaheny,et. juga menemukan kejadian sibling rivarly pada anak usia prasekolah berhubungan dengan jarak . Usia yang berdekatan akan menyebabkan intensitas semakin sering terjadi dan perselisihan antara saudara kandung dapat muncul dengan jarak usia kurang dari 5 tahun . Faktor lainnya adalah jumlah saudara kandung, diketahui mayoritas partisipan memiliki saudara kandung sebanyak 1 orang partisipan memiliki saudara kandung 2 Sibling rivalry timbul akibat adanya permasalahan kerap kali timbul saat kehadiran anak kedua . Sibling rivarly pada anak sering terjadi masalah pada keluarga yang memiliki anak lebih dari 1 anak dengan usia salah satu anak 3-6 Perilaku sibling rivalry merusak menyebabkan perilaku agresif terhadap saudaranya . Gambaran Masalah Mental Emosional Berdasarkan penilaian masalah mental KMME, menunjukkan 5 partisipan memiliki Ou 1 jawaban AuYaAy sehingga anak terdeteksi pada kategori kemungkinan mengalami masalah mental-emosional dan 1 partisipan kategori normal. Hasil pemeriksaan KMME juga menunjukkan adanya penyimpangan masalah mental-emosional pada anak seperti perilaku anak yang sering terlihat marah tanpa sebab, perilaku kebingungan, perubahan pola tidur, dan 1 partisipan mengalami ketakutan berlebihan dan sulit berkonsentrasi (PA. Menurut Kemenkes. RI . , hasil Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman pemeriksaan masalah mental emosional anak. Jika terdapat satu atau lebih jawaban AuYaAy pada KMME menunjukkan adanya risiko gangguan mental emosional yang memerlukan pemantauan dan intervensi dini. Gangguan emosi pada anak prasekolah sering muncul dalam bentuk perilaku, bukan keluhan verbal, sehingga sering tidak disadari oleh orang tua. Kondisi 5 partisipan yang memiliki kategori kemungkinan mengalami masalah mental emosional dapat berkaitan dengan dampak sibling rivarly yang dialami oleh anak. Menurut Aziza, et. , anak usia dini belum memiliki kematangan emosional yang memadai untuk memahami perubahan dalam struktur dan dinamika keluarga. Kehadiran saudara kandung baru sering dipersepsikan sebagai berkurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua, sehingga menimbulkan perasaan tidak aman. Kondisi ini kemudian diekspresikan melalui berbagai respons perilaku, seperti persaingan, agresivitas, maupun kecenderungan menarik diri. Hasil penelitian ini sejalan dengan Wahyuni & Rahmawati . bahwa anak dengan sibling rivalry memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan emosi dan perilaku. Temuan penelitian Fauziyah . anak yang mengalami mental-emosional mengakibatkan ketegangan, tingkah laku yang serba salah, tidak terarah, emosional, sikap yang tidak realistik, agresif, dan sebagainya (. Hasil penelitian ini memiliki implikasi penting bagi tenaga kesehatan, untuk melakukan deteksi dini masalah mental Ae emosional melalui KMME perlu dilakukan secara rutin, terutama pada anak yang menunjukkan tanda sibling rivalry tinggi. selain itu orang tua memiliki peran yang sangat penting untuk meminimalkan dampak dampak sibling rivalry melalui pemberian perhatian yang adil, komunikasi yang efektif, dan penguatan emosi positif pada anak. Konseling keluarga juga menjadi salah satu intervensi yang direkomendasikan untuk membantu orang tua memahami kebutuhan emosional anak. Keterbatasan pada penelitian ini adalah masih terbatasnya jumlah sampel dan bervariasinya pemahahaman partisipan mengenai sibling rivarly, sehingga temuan dari beberapa partisipan kemungkinan kurang mewakili populasi yang lebih luas. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat ditarik kesimpulan seluruh partisipan merupakan anak usia prasekolah yang mengalami sibling rivalry kategeori tinggi dan mempunyai masalah mental emosional pada kategori kemungkinan mengalami masalah mental emosional, yang ditandai: perilaku Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2. Desember 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 marah tanpa sebab, perasaan kebingungan dan ketakutan berlebihan. Disarankan orang tua untuk melakukan konseling atau berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila anak semakin menunjukkan tandatanda masalah emosional. DAFTAR PUSTAKA