GG I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. KORELASI DAMPAK PENCEMARAN LINGKUNGAN TERHADAP KEJADIAN STUNTING DI DUNIA Yessy Aprihatin1. Erpita Yanti2. Putri Minas Sari3. Milya Novera4. Debby Sinthania5. Anggra Trisna Ajani6. Mariza Elvira7 Program Studi Pendidikan Profesi Ners. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Universitas Negeri Padang. Indonesia E-mail:putri_minasari@yahoo. ABSTRACT Various water quality pollutions have had a negative impact on children's health. One of the pollution that commonly occurs in urban and rural environments is the use of pesticides in agricultural environments. Pesticides are made for the specific purpose of causing harm . o insects, rodents, and other pest. , they have the potential to cause serious damage to a developing fetus. Another cause that causes the environmental quality to decline, especially the air environment, is the bad behavior of the community in consuming cigarettes. This research method uses descriptive techniques, which describes how Environmental quality affects public health, especially in the impact of stunting among children under five. Environmental quality and community behavior will determine the health status of the community. Furthermore, a person's health status will affect the quality of life and productivity which in turn will affect their welfare. The existence of environmental pollution from various toxic chemicals such as excessive use of pesticides in the environment results in disturbances in infant growth and in early In addition, an increase in cigarette consumption of about two percent has been replaced by a decrease in expenditure on rice, protein and fat sources, as well as education. Household expenditure on meat and fish decreased by around 2. 3 percent during 2012-2023. Yet, as many studies have shown, this type of expenditure will profoundly influence the future development of children in terms of weight, height and cognitive abilities. Keywords : Pollution. Environment. Stunting PENDAHULUAN Upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat dalam upaya pencegahan stunting selama ini lebih difokuskan pada perbaikan gizi, sedangkan beberapa faktor lainnya belum mendapatkan perhatian yang maksimal1 . Stunting . merupakan suatu kondisi di mana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang lebih pendek jika dibandingkan dengan usianya. Kondisi ini diukur berdasarkan panjang atau tinggi badan yang lebih dari minus dua standar deviasi dari standar median pertumbuhan anak menurut WHO. Stunting pada balita termasuk masalah gizi JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 kronis yang disebabkan oleh banyak faktor seperti kondisi sosial ekonomi, gizi ibu saat hamil, penyakit pada bayi, dan kurangnya asupan gizi pada balita2. Balita yang stunting di kemudian hari akan mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal, lebih mudah terserang penyakit dan saat dewasa berisiko mengalami penyakit degeneratif. Dampak dari stunting tidak hanya pada sisi kesehatan saja tetapi juga mempengaruhi tingkat kecerdasan anak dan tentunya kondisi ini akan berdampak langsung pada kualitas sumber I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. daya manusia di masa yang akan datang 4 . Dampak jangka pendek terkait dengan angka kesakitan dan kematian pada bayi/balita, jangka menengah terkait dengan rendahnya intelektualitas dan kemampuan kognitif, dan jangka panjang terkait dengan kualitas sumber daya manusia dan masalah penyakit degeneratif pada usia dewasa 5 . Pengalaman dan bukti internasional juga menunjukkan bahwa stunting dapat menghambat produktivitas pasar tenaga kerja, sehingga mengakibatkan hilangnya 11% PDB (Produk Domestik Brut. dan mengurangi pendapatan pekerja dewasa hingga 20%. Selain itu, stunting juga dapat berkontribusi pada pelebaran ketimpangan, sehingga mengurangi 10% dari total pendapatan seumur hidup dan juga menyebabkan kemiskinan antargenerasi . Kabupaten/Kota Prioritas Stunting, 2. Generasi yang tumbuh optimal alias tidak stunting, memiliki tingkat kecerdasan yang lebih baik, yang akan memberikan daya saing yang baik dalam bidang pembangunan dan ekonomi. Selain itu, pertumbuhan yang optimal dapat mengurangi beban risiko penyakit degeneratif sebagai akibat dari sisa yang dibawa sejak dalam kandungan 6 . Penyakit degeneratif seperti diabetes, hipertensi, jantung, ginjal, merupakan penyakit yang memerlukan biaya pengobatan yang tinggi 7 . Dengan demikian, jika pertumbuhan stunting dapat dicegah, diharapkan pertumbuhan ekonomi dapat lebih baik, tanpa terbebani oleh biaya pengobatan penyakit degeneratif 8 Faktor lingkungan dapat mempengaruhi pertumbuhan fisik. Lingkungan tempat tinggal anak tidak menerapkan kebiasaan hidup sehat, maka secara otomatis kondisi kesehatan anak akan terganggu, termasuk masalah gizi dan stunting. Penelitian yang dilakukan oleh Keino . mengemukakan bahwa faktor sosial ekonomi, demografi dan lingkungan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap determinan terjadinya stunting pada anak. Bahaya pencemaran lingkungan dengan genetik seperti penggunaan pestisida dengan intensitas tinggi 9 . Kondisi ini dapat dilihat dari semakin tingginya tingkat pencemaran di lingkungan. Penelitian dari JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 berbagai negara telah membuktikan bahwa beberapa zat berbahaya di lingkungan terutama racun dan radiasi dapat membahayakan kehamilan dan janin 10 . Beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa faktor lain yang kemungkinan menyebabkan stunting adalah adanya zat-zat kimia di lingkungan . Hasil penelitian yang dilakukan di Dhaka dan Bangladesh menunjukkan bahwa anak yang lahir dengan berat badan rendah berpotensi mengalami malnutrisi dan bahkan lebih buruk Gizi dan status kesehatan ibu merupakan determinan yang sangat penting terhadap terjadinya stunting. Seorang ibu yang malnutrisi lebih besar kemungkinannya mengalami stunting saat melahirkan, sehingga memperparah lingkaran setan gizi dan kemiskinan 11 12 . Orangorang yang berada di sekitar perokok akan terpengaruh oleh asap rokok. Hasil penelitian Hackshaw et al . menyebutkan bahwa pada serum tali pusat janin wanita bukan perokok yang terpapar asap rokok, ditemukan kotinin . etabolit nikoti. sebesar 2,76 ng/ml dan kotinin pada wanita yang merokok sebesar 59,33 ng/ml 13 . Wanita hamil dapat terpapar asap rokok dari rekan kerja, anggota keluarga di rumah, dan tetangga 14 . Wanita hamil sebagian besar terpapar asap rokok dari lingkungan rumah tangga 6 . METODE Metode penelitian ini menggunakan teknik deskriptif, yaitu menggambarkan bagaimana kualitas lingkungan mempengaruhi kesehatan masyarakat, khususnya dampak stunting pada anak balita. HASIL DAN PEMBAHASAN Kesehatan lingkungan sangat penting dalam menjaga kesehatan setiap manusia, termasuk ibu hamil. Embrio atau janin manusia relatif rentan terhadap dampak kondisi buruk di lingkungan ibu. Kondisi janin yang tidak memenuhi standar sering kali menyebabkan berbagai tingkat keterlambatan perkembangan, baik fisik maupun mental, bagi bayi yang sedang GG I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. Meskipun beberapa variabel memang terjadi sebagai akibat dari kondisi genetik, banyak variabel yang secara langsung disebabkan oleh racun lingkungan yang terpapar pada ibu. Diketahui bahwa beberapa zat cukup berbahaya bagi ibu hamil. Zat-zat tersebut sering dikaitkan dengan kerusakan pada janin. Golongan zat tersebut meliputi zat fisik misalnya radiasi, getaran, panas, dan kebisingan. Zat kimia seperti toluena . ahan pereka. dan timbal. Untuk itu, ibu hamil perlu melindungi diri dan bayinya dari zatzat berbahaya dengan menghindari lingkungan kerja yang terpapar polusi atau tidak menggunakan bahan kimia berbahaya di rumah. Terdapat beberapa zat berbahaya di lingkungan, terutama racun dan radiasi, yang dapat membahayakan pertumbuhan bayi dan anak . Sampah rumah tangga mengandung sampah domestik berupa sampah organik dan sampah anorganik serta deterjen. Sampah organik merupakan sampah yang dapat diuraikan atau diurai oleh bakteri, contohnya: sisa sayur, buah, dan dedaunan. Sampah anorganik ini tidak dapat diuraikan oleh bakteri . on-biodegradabl. , contohnya: kertas, plastik , gelas atau kaca, kain, kayu, logam, karet, dan kulit. Selain sampah organik dan anorganik, deterjen merupakan sampah rumah tangga yang paling berpotensi mencemari air. Bahkan, saat ini hampir semua rumah tangga menggunakan deterjen. Berbagai pencemaran kualitas air telah memberikan dampak negatif pada kesehatan anak. Salah satu pencemaran yang umum terjadi di lingkungan perkotaan dan pedesaan adalah penggunaan pestisida di lingkungan pertanian. Pestisida dibuat untuk tujuan tertentu yaitu menimbulkan bahaya . ada serangga, tikus, dan hama lainny. , pestisida berpotensi menimbulkan kerusakan serius pada janin yang sedang berkembang, jika masuk ke lingkungan janin. Penelitian telah menunjukkan bahwa pestisida, khususnya fungisida, muncul dalam analisis darah tali pusat bayi, membuktikan bahwa racun ini memang berpindah ke tubuh bayi. Secara keseluruhan, dua pestisida yang paling sering terdeteksi dalam darah tali pusat adalah diet D yltoluamide (DEET) dan vinclozolin . JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 Meskipun toksisitas pestisida tidak sesering beberapa metode toksisitas lingkungan lainnya, seperti polusi udara, kontaminasi dapat terjadi kapan saja hanya dengan melakukan aktivitas sehari-hari seperti berjalan di jalan setapak di dekat area yang terkontaminasi, atau memakan makanan yang belum dicuci dengan benar. Pada tahun 2007 saja, ditemukan 1,1 miliar pon pestisida di lingkungan, menjadikan paparan pestisida sebagai hal yang perlu diwaspadai bagi mereka yang ingin menjaga kesehatan. Tinjauan tahun 2013 terhadap 27 studi tentang paparan prenatal dan awal masa kanakkanak menemukan semua kecuali satu menunjukkan hasil perkembangan saraf yang negatif. Dalam sepuluh studi yang menilai paparan prenatal, "defisit kognitif . erkaitan dengan memori kerj. ditemukan pada anak-anak pada usia 7 tahun, defisit perilaku . erkaitan dengan perhatia. terlihat terutama pada balita, dan defisit motorik . efleks abnorma. , terlihat terutama pada anakanak. Tinjauan sistematis tentang dampak paparan pestisida organofosfat prenatal dan postnatal terhadap perkembangan neurologis dilakukan pada tahun 2014. Tinjauan tersebut menemukan bahwa "Sebagian besar penelitian yang mengevaluasi paparan prenatal mengamati dampak negatif pada perkembangan mental dan peningkatan masalah perhatian pada anak-anak prasekolah dan sekolah 1 7 Pada tahun 2017, sebuah penelitian mengamati kemungkinan dampak pestisida pertanian terhadap lebih dari 500. 000 kelahiran di sebagian besar wilayah pertanian California dan membandingkan temuan mereka dengan kelahiran di wilayah California yang kurang Secara meningkatkan hasil persalinan yang buruk sebesar 5-9%, tetapi hanya di antara ibu yang terpapar pestisida dalam jumlah tertinggi. Bayi yang lahir dengan paparan pestisida yang tinggi memiliki risiko tinggi untuk mengembangkan tubuhnya, selain itu kandungan kimia yang GG I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. beracun pada usia muda membuat bahan kimia tersebut menyebabkan kerusakan pada tubuh. Pencemaran lingkungan lainnya yang diakibatkan oleh kebiasaan buruk masyarakat adalah pencemaran kualitas udara yang disebabkan oleh perilaku merokok. Perilaku merokok pada orang tua diduga dapat mempengaruhi anak stunting melalui dua cara. Pertama melalui asap rokok dari orang tua perokok yang berdampak langsung pada tumbuh kembang anak. Asap rokok mengganggu penyerapan zat gizi pada anak yang pada akhirnya akan mengganggu tumbuh kembangnya. Dampak kedua dari perilaku merokok jika dilihat dari segi biaya pengeluaran rokok membuat orang tua mengurangi AujatahAy biaya belanja makanan bergizi, biaya kesehatan, pendidikan dan sebagainya. Sebuah penelitian membuktikan adanya pengaruh konsumsi rokok terhadap kemiskinan dan kejadian Indonesia. Penelitian menggunakan dataset longitudinal . 7 Ae 2. dari Survei Kehidupan Keluarga Indonesia (IFLS) ini membuktikan bahwa perilaku merokok berdampak pada kondisi stunting pada anak yang ditunjukkan dari tinggi badan dan berat badan. Dalam penelitian ini, terlihat bahwa konsumsi rokok sekitar 3,6% pada tahun 1997 telah meningkat sebesar 5,6% pada tahun 2014, penurunan yang signifikan selama tahun 19972014. Artinya, peningkatan konsumsi rokok sekitar dua persen telah digantikan oleh penurunan pengeluaran untuk beras, sumber protein dan lemak, serta pendidikan. Pengeluaran rumah tangga untuk daging dan ikan menurun sekitar 2,3 persen selama tahun 1997-2014. Padahal, seperti yang telah ditunjukkan oleh banyak penelitian, jenis pengeluaran ini akan sangat memengaruhi perkembangan anak di masa mendatang dalam hal berat badan, tinggi badan, dan kemampuan KESIMPULAN Kualitas masyarakat akan menentukan derajat kesehatan Selanjutnya, derajat kesehatan seseorang akan mempengaruhi kualitas hidup dan JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 produktivitas yang pada gilirannya akan Adanya pencemaran lingkungan dari berbagai bahan kimia beracun seperti penggunaan pestisida yang berlebihan di lingkungan yang mengakibatkan gangguan pada tumbuh kembang bayi dan pada anak usia dini REFERENSI