At-TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 1 No. September 2024 Hal : 61 - 77 Upaya Guru dalam Pembelajaran Menulis Berbasis Pendidikan Karakter di Kelas IV MI Islamiyah Ngoro Jombang Imroatus Sulthoniyah1. Syafaatul Udhmah2 Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. Pascasarjana. UIN Sunan Ampel Surabaya e-mail: imroasulthon@gmail. Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. Pascasarjana. UIN Sunan Ampel Surabaya e-mail: syafaatul121feb@gmail. ABSTRACT The purpose of this research is to find out how teachers make efforts to learn characterbased writing, the application of character-based writing learning both face-to-face and offline, as well as the strengths and weaknesses during implementation at MI Islamiyah Ngoro JombangThis research is a type of qualitative research, using data collection, techniques in the form of observation,interviews and documentation. We use data analysis techniques from miles and huberman. The resultsn of this study,variations of teacher in learning make hand notes. Then use of visual media to play inspiring story videos that make interested learning better reading activities in student book only. Online learning cannot be followed by all students because there are some student guardians who donAot have smartphone. Suggestions for teacher in character-learning writing-learning that have been running well are maintained and their creations are improved. So that student remain interested in writing. For school, it becomes a material for consideration in developing better character-education writing learning for students in the future. For future researchers who carry out research with a similar theme to be able to find and develop better character-education learning to write. Keywords: writing. Education, character ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana upaya guru dalam pembelajaran menulis berbasis karakter, penerapan pembelajaran menulis berbasis karakter ketika tatap muka dan luring, serta kelebihan dan kelemahan selama penerapan di MI Islamiyah Ngoro Jombang. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi,wawancara dan dokumentasi. Kami menggunakan teknin analisis data dari miles dan huberman. Hasil penelitian ini variasi guru dalam pembelajaran membuat jejak telapak cita-cita, kemudian pemanfaatan media visual untuk menampilkan video kisah inspiratif yang membuat pembelajaran tidak monoton dengan kegiatan membaca di buku pegangan saja. Pembelajaran daring masih belum bisa diikuti oleh keseluruhan siswa karena ada sebagian wali siswa yang belum memiliki smartphone Saran untuk guru dalam pembelajaran menulis berbasis karakter ini yang sudah berjalan baik dipertahankan dan ditingkatkan lagi kreasinya agar siswa tetap tertarik dalam menulis. Bagi sekolah, menjadi bahan pertimbangan dalam mengembangkan pembelajaran menulis berbasis karakter yang lebih baik bagi siswa untuk kedepannya. Bagi peneliti selanjutnya yang melaksanakan penelitian dengan tema serupa untuk bisa menemukan dan mengembangkan pembelajaran menulis dengan berbasis karakter yang lebih baik. Hal 61 At-TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Kata Kunci: Menulis. Pendidikan. Karakter PENDAHULUAN Pada hakekatnya fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia diarahkan agar siswa terampil berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan. Pembelajaran bahasa selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa, juga untuk meningkatkan kemampuan berpikir, mengungkapkan gagasan, persaan, pendapat, persetujuan, keinginan, penyampaian informasi tentang suatu perisiwa dan kemampuan memperluas wawasan. Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang sangat penting dalam kehidupan, tidak hanya penting dalam kehidupan pendidikan, tetapi juga sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Keterampilan menulis ini sangat penting karena merupakan salah sattu keterampilan berbahasa yang harus dimiliki oleh siswa. Dengan menulis siswa dapat mengungkapkan atau mengekspresikan gagasan atau pendapat, pemikiran dan perasaan yang dimiliki. Selain iu, dapat mengembangkan daya pikir dan kreativitas siswa dalam menulis. Menulis sebagai suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung. Bahwa menulis adalah suatu kegiatan yang aktif dan produktif serta memerlukan cara berpikir yang teratur yang diungkapkan dalam bahasa tulis. Keterampilan seseorang untuk mengungkapkan ide, pikiran, gagasan, pengetahuan, ilmu, dan pengalaman sebagai suatu keterampilan yang produktif. Menulis dipengaruhi oleh keterampilan produktif lainnya, seperti aspek berbicara maupun keterampilan reseptif yaitu aspek membaca dan menyimak serta pemahaman kosa kata , diksi, dan keefektifan kalimat, penggunaan ejaan dan tanda baca (Erawan Aidid, 2020: . Sedangkan Dalman . juga berpendapat terkait pengertian menulis, bahwa menulis merupakan sebuah proses kreatif menuangkan gagasan dalam bentuk bahasa tulis dalam tujuan, misalnya memberitahu, meyakinkan, atau menghibur. Hasil dari proses kreatif ini biasa disebut dengan istilah karangan atau tulisan. Kedua istilah tersebut mengacu pada hasil yang sama meskipun ada pendapat yang mengatakan kedua istilah tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Isilah menulis sering melekatkan pada proses kreatif yang sejenis ilmiah. Sementara istilah mengarang sering dilekatkan pada proses kreatif yang berjenis nonilmiah. Menulis juga dapat dikatakan sebagai kegiatan merangkai huruf menjadi kata atau kalimat untuk disampaikan kepada orang lain, sehingga orang lain dapat memahaminya. Dalam hal ini, dapat terjadinya komunikasi antar penulis dan pembaca dengan baik. Menurut (Suparno dan Yunus, 2. menulis merupakan suatu kegiatan penyampaian pesan . dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau Hal 62 At-TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah medianya, menulis ialah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafis yang menghasilkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafis tersebut dan dapat memahami bahasa dan grafis itu. Menulis juga bisa didefinisikan sebagai suatu aktifitas mereaksi maksudnya menulis adalah proses menuangkan kembali ide yang didapatkan seorang penulis dari sebuah dasar masukan berbagai sumber ide yang tersedia. Suatu sumber ide yang didapatkan bisa jadi dari segala sesuatu yang dapat mengingatkan, menumbuhkan, mengembangkan rasa penulis untuk menulis meskipun di dalamnya terdapat tulisan yang sudah pernah ditulis oleh orang lain. Disini, jika penulis mengembangkan tulisan dari karya orang lain maka disebut sebagai tulisan reproduksi. Menulis juga diartikan sebagai suatu kegiatan yang mampu menghasilkan sebuah pesan dalam kehidupan bersosial dan supaya dapat mencapai sebuah tujuan yang diharapkan. Kaitannya dalam hal ini, maka menulis ditafsirkan sebagai kegiatan yang memberikan kesan, makna dalam mengembangkan kemampuan seseorang untuk dapat memahami, mengerti sebuah tulisan yang sudah dibuat dalam konteks sosial budaya. Jadi dengan kata lain bahwa menulis ialah kemampuan memahami konteks sosial budaya masyarakat (Abidin, 2. Dalam proses pembelajaran keterampilan menulis perlu mendapat perhatian serius di sekolah, karena bagaimanapun juga melalui keterampilan menulis, peserta didik mampu melatih diri sendiri untuk mengolah pikirannya dan dituangkan ke dalam bentuk tulisan. Menulis bukan hanya sekedar pengetahuan, tetapi juga merupakan suatu keterampilan yang harus dipelajari dengan penggunaan berbagai strategi, metode, dan media pembelajaran yang tepat sehingga keterampilan menulis di sekolah dasar hasilnya optimal. Dalam proses menulis tidak hanya bergantung pada proses kognitif, tetapi juga dapat memberi penguatan efektif terhadap proses membaca. Sehingga kegiatan menulis ini menjadi aktivitas penting dalam setiap pembelajaran di sekolah dan juga mempunyai peranan yang penting bagi pesera didik dalam mengembangkan keterampilan berpikir dan mendalami bahan ajar. Maka disini kegiatan menulis perlu dikembangkan mengingat bahwa menulis, selain membaca dan mendengar, kegiatan menulis adalah bermanfaat untuk belajar, menulis juga dapat membantu peserta didik mempelajari informasi baru dalam mata pelajaran yang sedang mereka pelajari, menulis juga mampu memfasilitasi strategi-strategi pemecahan masalah peserta didik untuk mengorganisasi informasi lama dan baru, menulis dapat mengajarkan peserta didik konvensi pragmatik dan kesadaran akan . itra tutur/tuli. dan mengembangkan proses penting agar mampu berkomunikasi secara berhasil, menulis juga dapat mengajarkan peserta didik mengevaluasi kritisannya terhadap informasi yang mereka pelajari dan menulis dapat mengajarkan peserta didik bagaimana mereka menerima atau menganalisis pengalaman-pengalaman personal Hal 63 At-TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah mereka sendiri (Munirah, 2019: . Mengingat pentingnya keterampilan menulis dalam kegiatan pembelajaran, maka peserta didik perlu dibina, diberi latihan secara tekun untuk memperoleh hasil yang optimal. Selanjutnya pada tujuan pembelajaran menulis di sekolah, terdapat tiga tujuan utama pembelajaran menulis yang dilaksanakan para guru di sekolah, yaitu . dapat meningkatkan semangat bagi peserta didik dan senang terhadap pembelajaran menulis, . meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menulis . memupuk jiwa kreativitas para peserta didik untuk Para peserta didik minimal harus mencapai ketiga tujuan tersebut dalam proses pembelajaran menulis yang sudah dilakukannya (Abidin, 2. Tujuan pertama pembelajaran menulis adalah meningkatkan semangat bagi peserta didik dan senang terhadap pembelajaran Tujuan ini menjadi sangat penting sebab senang akan menulis adalah modal awal bagi peserta didik supaya mau untuk menulis sehingga dengan itu peserta didik menjadi terbiasa dan terampil dalam menulis. Hal ini sejalan dengan hakikat menulis bahwa untuk bisa menguasai keterampilan menulis maka kunci utamanya adalah melakukan keterampilan tersebut secara intens. Dan bahwa kemampuan menulis tersebut paling tinggi dipengaruhi dari intensitas menulis dengan cara praktik yang teratur. Semakin sering seseorang menulis semakin besar pula kemampuan seseorang dalam membuat tulisan. Guna mencapai intensitas menulis yang tinggi ini, para peserta didik tentu saja harus terlebih dahulu senang atau gemar dalam Tujuan pembelajaran menulis yang kedua adalah meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menulis. Kemampuan menulis yang dimaksud adalah kemampuan peserta didik memproduksi beberapa ragam tulisan untuk berbagai kepentingan, sasaran, dan konteks sosial Berdasarkan tujuan ini, pembelajaran menulis harus diarahkan supaya bisa memberi bekal peserta didik bermacam strategi menulis, macam-macam tulisan, serta sarana publikasi Melalui pemberian strategi menulis, peserta didik akan terhindari dari kesulitan selama Pengenalan macam-macam tulisan akan membekali peserta didik tentang bagaimana cara menulis berdasarkan genre yang harus dihasilkan. Pengenalan sarana publikasi sangat penting agar peserta didik merasa tulisannya dihargai sehingga akan timbul keinginannya untuk tetap menulis serta meningkatkan kemampuannya menulis sebab mendapatkan banyak umpan balik atas tulisan yang telah dipublikasikannya. Tujuan terakhir adalah agar peserta didik mampu menulis secara kreatif. Tujuan ini menghendaki agar peserta didik dapat menjadikan menulis bukan sekadar sebagai kompetensi yang harus dikuasai selama mengikuti pembelajaran, melainkan agar peserta didik bisa memanfaatkan menulis sebagai sebuah aktivitas yang mendatangkan berbagai keuntungan baik keuntungan yang bersifat psikologis, ekonomis, maupun sosiologis. Hal 64 At-TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Berkenaan dengan hal ini, menulis seyogyanya menjadi sebuah kebutuhan bagi peserta didik dalam rangka mengekspresikan diri sehingga terbebas dari beban-beban psikologis. Jika peserta didik telah mencapai taraf ini, menulis bukanlah hal yang menakutkan melainkan hal yang harus dilakukan agar ia merasa tenang dan termotivasi dalam hidup. Dalam pandangan ekonomis menulis juga memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mendapatkan berbagai keuntungan melalui menulis. Peserta didik yang telah mampu kreatif menulis dapat memublikasikan tulisannya dalam berbagai media yang akan berdampak secara finansial bagi Lebih jauh, publikasi ini akan meningkatkan prestisenya di masyarakat sehingga secara sosiologis ia akan terkenal di masyarakat. Guna mencapai tujuan ini, jelaslah pembelajaran menulis harus diorientasikan agar peserta didik bukan hanya bisa menulis melainkan kreatif Selain ketiga tujuan di atas, pembelajaran menulis pun seyogyanya mampu mengembangkan karakter siswa. Berkenaan dengan tujuan ini, pembelajaran menulis harus dilakukan melalui penyediaan serangkaian aktivitas yang menuntut siswa mengunjukkerjakan karakter dirinya selama pembelajaran. Melalui berbagai aktivitas yang menantang diharapkan siswa mampu aktif bekerja keras sehingga secara tidak sadar ia telah berupaya pula membangun karakter positif selama pembelajaran. Berkenaan dengan tujuan pembelajaran menulis di atas, ada beberapa konsekuensi yang harus dilakukan guru selama pembelajaran menulis. Beberapa konsekuensi tersebut adalah sebagai berikut. Guru hendaknya menguasai berbagai strategi menulis, konsep jenis-jenis tulisan, dan media publikasi bagi wahana tulisan yang dihasilkan siswa. Guru hendaknya terbiasa menulis agar ia mampu menjadi model menulis bagi para siswanya. Selama pembelajaran menulis, guru hendaknya senantiasa melatih seluruh kemampuan siswa sejak dari tahap penangkapan ide sampai tahap penyampaian ide. Selama pembelajaran menulis, guru hendaknya senantiasa memberikan bimbingan, arahan, dan motivasi agar siswa terpacu untuk mampu menulis. Pembelajaran menulis hendaknya tidak dibatasi ruang kelas melainkan dilakukan di mana pun agar siswa bisa terfokus menulis (Abidin, 2. Dalam lingkungan peserta didik yang serba digital saat ini, yang mana banyak sekali kemudahan yang ditawarkan, maka peran menulis pada kualitas pembelajaran peserta didik selalu tidak tergantikan. Kualitas peserta didik di masa depan masih ada kaitannya dengan kegiatan menulis yang sering dilakukan oleh peserta didik semenjak kecil. Oleh karena itu, sudah seharusnya bahwa kegiatan menulis mendapat perhatian yang serius baik dari sekolah, orang tua ataupun peserta didiknya. Melihat kondisi yang ada bahwa kegiatan menulis di era pandemi seperti saat ini, sangat berkurang drastis dari sebelumnya, ini dikarenakan penggunaan handphone pada masing-masing peserta didik selama proses pembelajaran daring tidak bisa Hal 65 At-TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah dihindari. Sehingga sebagai seorang pendidik sepatutnya tetap menggalakkan pembelajaran menulis seperti aktivitas mencatat kembali hasil pembelajaran, membuat ringkasan, menulis argumentasi, menulis puisi, menulis naskah drama dan pembelajaran menulis lainnya. Dari kegiatan menulis tersebut, peserta didik memperoleh manfaat yang lumayan banyak sehingga bisa meningkatkan kemajuan cara berpikir peserta didik ke depannya. Dalam hal ini, kegiatan menulis mempunyai tiga manfaat yaitu dari kegiatan menulis dapat meningkatkan kemampuan motorik halus, melatih kreativitas, serta dapat meningkatkan daya ingat melalui metode belajar memahami sambil menulis pelajaran. Dengan kegiatan berupa menulis, peserta didik akan terbiasa untuk mengontrol gerakan motorik dengan tekanan yang sesuai, serta mempunyai persepsi visual yang baik. Peserta didik juga dapat mengembangkan imajinasinya, dan kreativitasnya melalui sebuah ide tulisan. Selain itu, melalui merangkum atau membuat catatan pelajaran dengan gaya penulisan personal dapat meningkatkan daya ingat dibandingkan jika anak hanya membaca dan menghafal. Kegemaran peserta didik terhadap kegiatan menulis pastinya belum dapat berjalan lancar seperti yang diharapkan, terlebih pada era pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, dimana para peserta didik melewati proses pembelajarannya secara daring dan tanpa kendali dari seorang guru secara langsung. Namun, hal tersebut bukan berarti kegiatan menulis berhenti begitu saja karena seiring dengan perkembangan kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan akses kebebasan pada guru untuk mengembangkan kegiatan pembelajaran yang bervariasi sesuai dengan minat dan kondisi peserta didik sehingga para guru mempunyai keleluasaan dalam membantu meningkatkan kemampuan menulis peserta didik dengan kegiatan yang menyenangkan. Salah satu contoh kegiatan menulis secara daring yang menyenangkan adalah guru dapat membuat kuis yang sederhana terkait pelajaran yang telah dipelajari, guru mengajak anak menjawab pertanyaan tersebut dengan menuliskannya ke dalam buku tulis mereka. Selanjutnya guru dapat mengajak peserta didik untuk kembali menuliskan hasil pembelajaran yang sudah dipelajari ke dalam buku tulis, kegiatan ini bisa memicu otak peserta didik untuk mengingat dan memahami hasil dari kegiatan belajar mengajar yang sudah Dalam lingkungan peserta didik saat ini, banyak sekali aktivitas yang dapat mempengaruhi moral peserta didik, apalagi perkembangan zaman dan teknologi yang semakin Sehingga disini perlu adanya penguatan dalam diri peserta didik untuk bisa mengembangkan potensi diri dan tanpa adanya penyimpangan pada kebudayaan asli negara Mengacu pada Pasal 3 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta Hal 66 At-TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan mengembangkanpotensipeserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dari fungsi dan tujuan pendidikan nasional tersebut terlihat sudah sangat mulia, sayangnya, citi-cita pendidikan yang sangat luhur tersebut tercemari oleh kenyataan kehidupan bangsa Indonesia yang mengalami multi krisis. Krisis ekonomi yang berdampak pada krisis sosial yang kemudian menimbulkan gejolak yang berujung timbulnya kerusuhan. Sikap masyarakat yang suka mengambil tindakan main hakim sendiri, timbulnya budaya amuk yang terjadi dimana-mana, sikap saling ejek dan merendahkan, antar kelompok yang mengakibatkan lahirnya perbuatan sara merebak di banyak Pada sisi lain, kejahatan korupsi tumbuh di setiap level pemerintahan. Kenyataan ini,membuat sebagian tokoh menyalahkan satuan pendidikan yang dipandang gagal mengembangkan karakter yang baik kepada peserta didik. Untuk menghadapi kenyataan dari beberapa permasalahan ini, pendidikan karakter dapat dijadikan solusi untuk menghasilkan peserta didik yang memiliki kepribadian unggul, berakhlak mulia, dan menjunjung tinggi nilainilai keindonesian secara menyeluruh. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional mencanangkan penerapan pendidikan karakter bagi semua tingkat pendidikan, mulai dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Melalui revitalisasi dan penekanan pendidikan karakterpada berbagai lembagapendidikan, baik informal, formal, maupun nonformal, diharapkan bangsa Indonesia bisa menjawab berbagai tantangan dan permasalahan yang semakin rumit dan kompleks. Berpedoman pada pernyataan Endang Ekowarni . bahwa karakter merupakan nilai dasar perilaku yang menjadi acuan tata nilai interaksi antar manusia . hen character is lost then everything is los. Secara universal berbagai karakter dirumuskan sebagai nilai hidup bersama berdasarkan atas pilar kedamaian, menghargai, kerjasama, kebebasan, kebahagiaan, kejujuran, kerendahan hati, kasih sayang, tanggung jawab, kesederhanaan, toleransi dan persatuan. Sedangkan pendidikan karakter diartikan sebagai the deliberate us off all dimensions of school life to foster optimal character development . saha kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah untuk membantu pengembangan karakter dengan optima. Hal ini berarti bahwa untuk mendukung perkembangan karakter peserta didik harus melibatkan seluruh komponen di sekolah baik dari aspek isi kurikulum . he content of the curriculu. , proses pembelajaran . he procces of instructio. , kualitas hubungan . he quality of relationship. , penanganan mata pelajaran . he handling of disciplin. , pelaksanaan aktivitas ko-kurikuler, serta etos seluruh lingkungan sekolah. Pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan yang Hal 67 At-TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah mengembangkan nilai-nilai karakter pada peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif, dan kreatif (Judiani, 2. Pengembangan pendidikan karakter secara terperinci memiliki lima tujuan. Pertama, mengembangkan potensi afektif pesera didik sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai karakter bangsa. Kedua, mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius. Ketiga, menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus Keempat, mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, dan berwawasan kebangsaan. Kelima, mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, dan dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (Said Hamid Hasan dkk, 2010: . Untuk mewujudkan tujuan tersebut, peran keluarga, sekolah dan komunitas sangat menentukan pembangunan karakter peserta didik untuk kehidupan yang lebih baik di masa yang akan Sebagaimana kita ketahui, bahwa di era pandemi seperti sekarang ini, pembelajaran dilakukan dengan daring atau belajar dari rumah sehingga kerjasama antara guru dengan orang tua dalam membangun komunikasi sangatlah penting, terutama dalam proses pembelajaran Karena untuk mengajarkan keterampilan menulis pada anak diperlukan stimulus dari lingkungan terdekatnya yaitu bisa orang tua ataupun gurunya. Beberapa karakter yang bisa dikembangkan pada masa pendidikan menurut Aunilah . , yaitu religius, kerja keras, komunikatif, jujur, disiplin, rasa ingin tahu toleransi, kreatif, mandiri, cinta damai, demokratis, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, gemar membaca, peduli sosial, peduli pada lingkungan, dan yang terakhir adalah bertanggung selanjutnya. Zubaedi . menyatakan ada 9 pilar pendidikan karakter, antara lain: cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya, . jujur, . percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, . hormat dan santun, . kasih sayang, peduli, dan kerja sama, . tanggung jawab, disiplin, dan mandiri . keadilan dan kepemimpinan, . baik dan rendah hati, dan . toleransi, cinta damai serta persatuan. Dengan memasukkan nilai-nilai karakter dalam proses belajar mengajar, peserta didik diharapkan tidak hanya kemampuan kognitif saja yang dimiliki, namun, mereka bisa dan mau mempraktikkan semua nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari baik di sekolah maupun dilingkungan masyarakat. Prinsip dari pada pengembangan nilai-nilai karakter tidak dimuat secara khusus dalam sebuah mata pelajaran tertentu, sehingga perlu disisipkan disisipkan ke dalam setiap mata pelajaran di sekolah. Hal 68 At-TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah pengembangan diri siswa, dan budaya sekolah sehingga para siswa berkembang menjadi pribadi yang berintelektualitas dan berkarakter. Disini, para guru dan sekolah perlu mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam kurikulum, silabus, dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang mereka gunakan di sekolah. Berpijak pada penanaman nilai-nilai pendidikan karakter terhadap mata pelajaran bahasa Indonesia, khususnya, menulis, merupakan pembelajaran yang sangat relevan dengan penerapan nilai-nilai pendidikan karakter dalam setiap aktivitas pembelajaran. Hal ini bukanlah tanpa alasan yang jelas. Abidin . 2: . mengatakan bahwa bahasa adalah cermin kepribadian seseorang, yang berarti baik buruknya bahasa yang digunakan seseorang pada dasarnya adalah cerminan kepribadian orang tersebut. Melalui cara seseorang menulis akan diketahui karakter yang dimiliki. Karakter santun, komunikatif, kreatif, jujur, mandiri, bekerja keras, dan sebagainya akan tercermin dari cara seseorang menulis. Selain itu, pembelajaran menulis bisa dijadikan media penanaman karakter karena menulis merupakan sebuah proses produktif kreatif yang menjadikan siswa bertindak jujur, bijaksana, bertanggung jawab dan seterusnya terhadap yang ditulis. Dengan pembelajaran menulis, di samping belajar mengemukakan pikirannya melalui tulisan, siswa juga belajar objektif memandang satu permasalahan, jujur dalam menyikapi permasalahan itu, dan bertanggung jawab atas akibat yang ditimbulkan oleh hasil kreativitasnya tersebut. Oleh karena itu, aspek keterampilan menulis perlu mendapat perhatian dalam upaya pembentukan karakter peserta didik (Mastiah dkk : 2. Beberapa keterampilan menulis yang sangat relevan dengan penanaman pendidikan karakter adalah menulis argumentasi, menulis puisi, menulis naskah drama, menulis cerpen dan kegiatan menulis Hubungan pembelajaran menulis argumentasi dengan pendidikan karakter ialah terbaca dari kedalaman proses berpikir kritisnya, bahwa peserta didik dalam menulis karangan argumentasi secara tidak langsung menunjukkan tingkat pengetahuan peserta didik dalam menggunakan bahasa dan kemampuan berpikirnya yang terlihat dari alur penulisannya. Selain dari itu, ada beberapa tahapan dalam pembelajaran menulis argumentasi, dari beberapa tahapan tersebut ada sejumlah kegiatan yang dilalui peserta didik. Dari beberapa kegiatan itulah, peserta didik secara tidak sadar bahwa dia menunjukkan karakternya. Pada tahap pramenulis, siswa dapat melakukan serangkaian aktivitas, seperti eksplorasi fenomena untuk mendapatkan ide. Kegiatan ini akan menuntut siswa untuk mendayagunakan panca indra dan perasaannya dalam menangkap ide dasar bagi bahan tulisannya. Saat melakukan kegiatan eksplorasi, ia sebenarnya sedang membiasakan diri untuk teliti, cermat, peka, antusias, tanggung jawab, kritis, inisiatif, dan disiplin. Saat menulis naskah secara kooperatif, siswa akan dibiasakan untuk saling Hal 69 At-TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah menghargai, kerja sama, tanggung jawab, kreatif, kritis, inisiatif, problem solving, produktif, keuletan, kecekatan, suka mengambil resiko, dan komitmen, serta beberapa nilai karakter lainnya (Abidin, 2012: . Untuk selanjutnya adalah Pembelajaran menulis yang berkaitan dengan aspek pembentukan karakter ialah karya sastra puisi. Teks puisi dalam pembelajaran ini mengakomodasi tema-tema pembentukan karakter karena puisi mengandung unsur imajinasi yang dapat membentuk karakter kuat, misalnya: kesadaran akan ketuhanan. Proses kesadaran ini terdapat dalam simbol-simbol dalam puisi itu tersebut (Waraulia & Saputro, 2. Selanjutnya menulis naskah drama, dalam menulis naskah drama peserta didik bebas menyampaikan nilai-nilai religius, pendidikan, moral, sosial budaya dan sebagainya. Nilainilai yang disampaikan melalui naskah drama tersebut akan jauh lebih bermakna ketika peserta didik dalam kegiatan menulis tersebut menggunakan aspek penglihatan, penciuman, pendengaran, pengecapan dan perabaan. Sehingga hasilnya dapat dikemas secara kreatif. Dari pembelajaran menulis naskah itulah ada nilai karakter dalam diri peserta didik yaitu karakter kreatif, disiplin, teliti, dan bertanggung jawab (Dzikron Haikal. Harjito. Nazla Maharani Umaya, 2. Dalam hal ini peneliti melaksanakan penelitian di tingkat sekolah dasar yaitu MI Islamiyah Ngoro Jombang terkait langkah yang digunakan dalam peningkatan ketrampilan menulis berbasis karakter siswa siswi disekolah ini. Peneliti mencari tahu bagaimana proses kegiatan belajar mengajar terkait pembelajaran menulis berbasis karakter. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara,kemampuan siswa di MI Islamiyah Ngoro Jombang pada kegiatan menulis masih jauh dari kata baik karena kurangnya kreasi dalam kegiatan merangkai kata menjadi sebuah tulisan. Ketika pembelajaran tatap muka saja mengalami kendala, apalagi semenjak adanya covid-19 yang mengharuskan pembelajaran dilakukan secara daring menyebabkan pelaksanaan pembelajaran mengalami perubahan, termasuk dalam sistem keterampilan menulis siswa nya juga. Berikut penulis akan memaparkan bagaimana proses optimalisasi pelaksanaan kegiatan menulis berbasis karakter siswa MI Islamiyah Ngoro Jombang,kemudian mengenai bagaimana kelebihan dan kekurangan selama pelaksanaan kegiatan menulis berbasis karakter di MI Islamiyah Ngoro Jombang. METODE Penelitian yang akan dilakukan ini menggunakan penelitian kualitatif. Menurut Moleong . Penelitian kualitatif adalah penelitian yang dimaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya perilaku, persepsi. Hal 70 At-TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah motivasi, tindakan dan lain-lain secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk katakata dan bahasa, pada suatu konteks khususnya yang alamiyah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiyah. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif interaktif. Menurut Sukmadinata . , metode ini terkait studi mendalam menggunakan teknik pengumpulan data langsung dari orang dalam lingkungan alamiahnya. Dalam penelitian kualitatif,posisi narasumber sangat penting,bukan hanya sekedar memberi respon melainkan juga sebagai pemilik informasi. Informasi atau orang yang memberi informasi dalam penelitian kualitatif disebut sebagai sumber data,melainkan juga eksekutor yang ikut menentukan berhasil tidaknya suatu penelitian. Berdasarkan sumbernya. Menurut Moleong . data penelitian dapat dikelompokkan dalamdua jenis yaitu : data primer dan data sekunder. sumber data primer merupakan data-data yang langsung diterima dari sumber utama,dalam hal ini semua pihak yang terkait dengan obyek yang dijadikan penelitian yaitu kepala sekolah,guru dan siswa di MI Islamiyah Ngoro Jombang. Sumber data sekunder adalah data-data yang diperlukan guna melengkapi data primer. Dalam hal ini meliputi literatur-literatur yang berhubungan dengan obyek penelitian. Selain itu,data sekunder juga diperoleh dari dokumen-dokumen yang ada di MI Islamiyah Ngoro Jombang. Metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif adalah pengamatan, wawancara . dan dokumentasi. Menurut Ahmad Tanzeh . Observasi dapat dilakukan secara partisipatif atau non partisipatif. Dalam penelitian ini,peneliti menggunakan partisipatif . articipatory observatio. peneliti ikut serta dalam kegiatan yang berlangsung,terlibat dalam subyek yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Observasi ini dilakukan peneliti melalui partisipasi kegiatan pelaksanaan di kelasMI Islamiyah Ngoro Jombang serta melihat aktivitas kegiatan menulisnya. Mengamati benda serta mengambil dokumentasi dari lokasi penelitian. Selanjutnya penulis mengadakan komunikasi wawancara langsung dengan responden yaitu pendidik sebagai pihak yang memberikan keterangan. Penulis menggunakan metode terpimpin yaitu dengan disiapkannya pertanyaan-pertanyaan yang diselesaikan dengan data-data yang diperlukan untuk interview. Setelah wawancara, peneliti melaukan dokumentasi yaitu mengumpulkan data dengan melihat atau mencatat suatu laporan yang sudah tersedia. Dokumentasi dalam penelitian ini meliputi foto kegiatan pembelajaran menulis di MI Islamiyah Ngoro Jombang,dokumentasi dari wawancara kepada kepala sekolah,pendidik,serta siswa MI Islamiyah Ngoro. Dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis data model Miles dan Huberman . Langkah-langkah teknik analisis datanya sebagai berikut: Reduksi Data (Data Reductio. Hal 71 At-TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Mereduksi data berarti merangkum,memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting ,dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memaparkan secara gamblang, mempermudah peneliti dalam melakukan pengumpulan data selanjutnya. Penyajian Data (Data Displa. Setelah data direduksi, langkah berikutnya mendisplay data,pengertian display data adalah mengumpulkan data yang bersifat naratif dari sekumpulan informasi yang berasal dari reduksi data, sehingga dapat memungkinkan untuk ditarik suatu kesimpulan. Dalam penyajian data ini dilengkapi dengan analisis data yang meliputi analisis hasil dokumentasi dan analisis hasil wawancara. Penarikan kesimpulan Pada tahap ini merupakan pemberian kesimpulan terhadap hasil analisis atau penafsiran data dan evaluasi kegiatan yang mencakup pencarian makna serta pemberian penjelasan dari data yang diperoleh. Pada dasarnya bagian ini menjelaskan bagaimana penelitian itu Materi pokok bagian ini adalah: . jenis penelitian, . rancangan penelitian. populasi dan sampel . asaran penelitia. teknik pengumpulan data dan pengembangan instrumen. dan teknik analisis data. Prosedur penelitian harus diuraikan secara jelas dan metode yang dtuliskan harus disesuaikan dengan jenis penelitian. Untuk penelitian yang menggunakan alat dan bahan, perlu dituliskan spesifikasi alat dan Spesifikasi alat menggambarkan kecanggihan alat yang digunakan sedangkan spesifikasi bahan menggambarkan macam bahan yang digunakan. HASIL DAN PEMBAHASAN Keterampilan menulis sangat erat kaitannya dengan membaca, keduanya saling Keterampilan membaca dan menulis adalah bagian yang sangat penting dalam proses pembelajaran siswa dan mutlak harus dikuasai siswa sejak kelas satu sebagaimana yang disampaikan Bapak Mufarrichul Anam selaku kepala sekolah bahwa dasar dari segala kegiatan bahasa adalah ketertarikan membaca dan menulis, sehingga muncullah gerakan literasi sekolah di MI Islamiyah Ngoro Jombang. Siswa menulis karangan cerita kemudian dibaca oleh teman Penulis melakukan penelitian di kelas 4. MI Islamiyah Ngoro Jombang terdiri dari 3 kelas paralel untuk kelas 4, yaitu kelas 4 Aktif, 4 Kreatif, 4 inovatif. Keterampilan menulis yang disisipi pendidikan karakter pada kelas 4 fokus pada menulis karangan pribadi sesuai dengan Kompetensi Inti yang memuat mengenai menyusun karangan tentang berbagai topik sederhana dengan memperhatikan penggunaan ejaan . uruf besar dan tanda bac. , indikator Hal 72 At-TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah menentukan tema karangan, menyusun kerangka karangan, mengembangkan kerangka karangan menjadi karangan yang padu, lalu mengenai penulisan puisi. Ketika dalam pembelajaran menulis, siswa dihadapkan dengan kesulitan memilih kata yang tepat seperti penuturan Ibu Wiwit Chandra Lestari anak-anak ketika dihadapkan dengan kegiatan menulis kebanyakan mengeluh duluan sebelum mencoba, mungkin dalam fikirannya menulis berparagraf itu sulit dan melelahkan,padahal memang perlu pembiasaan dulu. Seperti yang sudah disampaikan bapak Kepala Sekolah mengenai gerakan literasi, pada kelas 4 pun diharapkan siswa tidak hanya gemar membaca namun juga mampu menulis karangan berupa pengalaman pribadi yang menyenangkan sesuai dengan EYD. Hal ini tentu tidak serta merta langsung bisa menyusun sebuah paragraf yang padu, ada langkah demi langkah untuk mencapai sebuah tulisan yang bagus. Seperti penuturan Bapak Mabrur Syah selaku guru kelas 4 inovatif bahwa melalui pembelajaran menulis tidak langsung menyalahkan tulisan anakanak,yang penting anak-anak mau menulis dulu mengenai pengalaman pribadi kemudian barulah dikoreksi penulisannya supaya pada penulisan berikutnya lebih baik. Penulisan pengalaman pribadi siswa mengenai cita-cita menjadi karakter unik dari masing-masing siswa yang tidak dapat ditiru satu sama lain, sesuai dengan Abidin . 2: . mengatakan bahwa bahasa adalah cermin kepribadian seseorang, yang berarti baik buruknya bahasa yang digunakan seseorang pada dasarnya adalah cerminan kepribadian orang tersebut. Melalui cara seseorang menulis akan diketahui karakter yang dimiliki. Karakter santun, komunikatif, kreatif, jujur, mandiri, bekerja keras, dan sebagainya akan tercermin dari cara seseorang menulis. Selain itu, pembelajaran menulis bisa dijadikan media penanaman karakter karena menulis merupakan sebuah proses produktif kreatif yang menjadikan siswa bertindak jujur, bijaksana, bertanggung jawab dan seterusnya terhadap yang ditulis. Untuk mensukseskan pembelajaran menulis berbasis karakter ini sekolah mewajibkan guru kelas untuk memperkaya inovasi dalam penyampaian pembelajaran, apalagi masa pandemi kini yang tidak setiap hari dilakukan pembelajaran tatap muka. Kepala sekolah mengharapkan guru kelas 4 MI Islamiyah Ngoro Jombang tidak monoton materi di buku siswa saja, namun penggunaan media yang menarik diperlukan supaya menghilangkan kejenuhan pada pembelajaran menulis ini. Hal 73 At-TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Berikut pemetaan kegiatan Pembelajaran Menulis Berbasis Karakter kelas 4 di MI Islamiyah Ngoro Jombang. Materi Kegiatan Menulis paragraf mengenai cita-cita yang ingin dicapai Membuat kreasi jejak telapak tangan berisi satu kata tentang profesi memilih profesi tersebut dalam satu Siswa menulis puisi kemudian ditukar dengan teman sebangku kemudian menulis ulang isi puisi Siswa menulis dengan bahasa sendiri kisah sukses mengatasi kegagalan para tokoh besar Siswa menulis langkah-langkah agar cita-citanya terwujud Oe Oe Kemandirian Tanggung jawab Oe Oe Rasa hormat dan Perhatian Menghargai perbedaan Oe Oe Gigih . Tekun (Diligenc. Oe Oe Gigih . Tekun (Diligenc. Siswa menulis cara menghadapi perbedaan lalu manfaat kerjasama dengan orang yang berbeda suku. Siswa mendeskripsikan gambar tempat ibadah kemudian menuliskan hari besar masing-masing agama. Oe Oe Rasa hormat dan Perhatian Menghargai perbedaan Oe Oe Rasa hormat dan Perhatian Menghargai perbedaan Menulis puisi mengenai cita-cita Menulis kembali Menulis paragraf mengenai langkahlangkah cita-cita yang ingin dicapai Menulis informasi dari wawancara terhadap teman berbeda bahasa daerah, suku,pakaian adat. Menulis hari raya dan kegiatan Nilai Pendidikan Karakter Uraian materi,kegiatan serta nilai pendidikan karakter diatas berdasarkan buku kelas 4 tema 6 cita-citaku. Dikarenakan adanya covid-19 pembelajaran tatap muka di MI Islamiyah Ngoro Jombang tidak dilaksanakan 6 hari full, secara bergilir kelas 4 mendapatkan 3 hari tatap muka, 3 hari daring. Hal ini tentu berimbas pada proses pembelajaran terutama jika dilaksanakan daring. Guru menyesuaikan agar pembelajaran menulis siswa tidak monoton hanya menulis dibuku tulis, salah satu inisiatif Ibu Uswatul Hasanah yaitu membacaan teks bacaan tentang cita-cita dengan suara yang menarik melalui aplikasi google meet, ataupun whatsapp grub . ekaman suar. Setelah membacakan cerita tersebut siswa diminta menulis apa cita-cita yang ia dambakan disertai alasan pada buku tugas, ketika tatap muka dikumpulkan untuk dikoreksi penulisannya oleh Bu Uswa, setelah dibetulkan dikelas barulah membuat jejak telapak dari kertas origami,dihias. Setelah itu dikumpulkan ke bu uswa, lalu siswa membacakan hasil tulisannya mengenai cita-cita ke depan kelas satu persatu. Begitu juga dengan menulis puisi bertema cita-cita siswa. Masing-masing siswa tentu memiliki cita-cita berbeda satu sama lan, sebagian mungkin ada yang sama. Tetapi guru di MI Islamiyah Ngoro Jombang memberikan beberapa bank kata sehingga memungkinan siswa untuk mengembangkan kata tersebut menjadi sebuah kalimat dan bait-bait puisi. Selanjutnya pembelajaran menulis di tema 6 ini adalah menulis kembali bacaan kisah Menurut Bapak Mabrur Syah, selain bahan bacaan dari buku pegangan siswa. Pembelajaran ketika tatap muka disajikan vidio kisah orang-orang sukses, sesudah disajikan Hal 74 At-TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah tentu ada hikmah dibalik kisah kesuksesan tokoh tersebut, siswa secara mandiri menuliskan kembali dengan bahasa mereka tentang teladan yang didapat sesudah menonton video itu. Setelah mengetahui teladan yang didapat barulah mengkomunikasikan nya dengan guru isi dari tulisan mereka. Adinda Agustin siswa kelas 4 menjelaskan lebih menyukai jika melihat video yang disajikan guru daripada hanya membaca dari buku lalu diminta menulis lagi. Selain menarik melihat video yang ditampilkan guru, hal seru lainnya adalah ketika menyimak teman yang membacakan kisah inspiratif, jadi harus menyimak bacaan yang kita belum pernah baca supaya kisah teladan yang dapat kita petik menjadi bahasa sendiri dan tidak boleh sama dengan teman sekelas, kalau sama berarti menyontek. Hal yang dilakukan siswa tersebut sesuai dengan pernyataan Abidin . mengatakan bahwa bahasa adalah cermin kepribadian seseorang, yang berarti baik buruknya bahasa yang digunakan seseorang pada dasarnya adalah cerminan kepribadian orang tersebut. Melalui cara seseorang menulis akan diketahui karakter yang Karakter santun, komunikatif, kreatif, jujur, mandiri, bekerja keras, dan sebagainya akan tercermin dari cara seseorang menulis. Selain itu, pembelajaran menulis bisa dijadikan media penanaman karakter karena menulis merupakan sebuah proses produktif kreatif yang menjadikan siswa bertindak jujur, bijaksana, bertanggung jawab dan seterusnya terhadap yang Kegiatan menulis bertema cita-cita selain dikembangkan menjadi puisi juga dikembangkan dalam bentuk tulisan cara meraih cita-cita yang diinginkan siswa. Hampir sama dengan materi kisah inspiratif yang menampilkan video mengenai tokoh-tokoh berpengaruh didunia ,apa yang ditampilkan bisa menjadi teladan gigihnya para orang sukses meraih citacitanya. Untuk pembelajaran daring menurut Ibu Wiwid Chandra Lestari, kelas 4 cukup mandiri ketika diminta untuk mencari teks bacaan yang sesuai cita-cita siswa, kemudian dituangkan dalam 2-3 paragraf berisi cara-cara agar cita-cita mereka terwujud. Menurutnya sangat menarik membaca hasil tulisan siswa,karena rata-rata mereka punya imajinasi tinggi terhadap masa depan mereka. Hal ini merupakan pengaruh dari orang tua dan lingkungan Kegiatan ini sesuai dengan yang dilakukan (Dzikron Haikal. Harjito. Nazla Maharani Umaya, 2. ketika peserta didik dalam kegiatan menulis tersebut menggunakan aspek penglihatan, pendengaran sehingga hasilnya dapat dikemas secara kreatif. Dari pembelajaran menulis naskah itulah ada nilai karakter dalam diri peserta didik yaitu karakter kreatif, disiplin, teliti, dan bertanggung jawab. Berikutnya adalah kegiatan menulis informasi dari wawancara terhadap teman berbeda bahasa daerah, suku,pakaian adat ataupun tempat beribadah. Siswa menulis pertanyaan mengenai perbedaan kebudayaan terhadap teman yang berbeda suku. Disini guru menyajikan Hal 75 At-TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah pembelajaran berbasis masalah apa yang dilakukan ketika mendapatkan teman satu kelas yang berbeda suku, sikap apa yang ia munculkan ketika mengadapi perbedaan antar teman. Ketika membahas materi pembelajaran pada pertemuan tatap muka tentu akan lebih mudah untuk berdiskusi antar teman, namun berbeda ketika dilakukan ketika daring. Menurut Ibu Umitris Safaatin, kebetulan dalam 3 kelas paralel kelas 4 ada beberapa siswa yang berasal dari suku luar jawa. Ada suku Padang,Madura, bahkan Sunda. Jadi perbedaan cukup dirasakan secara Dalam google meet Ibu Umi memberikan satu permasalahan yang berkaitan terhadap materi, lalu siswa satu persatu diminta memberikan solusi . roblem solve. terhadap masalah yang diberikan guru. Dituliskan dalam buku tugas kemudian didiskusikan bersama. Setelah diskusi selesai siswa merangkum ulang apa yang dipelajari dipertemuan kali ini. Kegiatan ini sesuai dengan Kurino . langkah pembelajaran berbasis masalah diawali dengan pengenalan tentang masalah yang akan dikaji oleh siswa, kedua pengorganisasisan masalah yang dikaji oleh siswa, ketiga guru membimbing siswa dalam menyelesaikan masalah, keempat siswa menyajikan solusi dan jawaban atas permasalahan yang dikaji dan pemberian masukan dari guru terkait cara menentukan solusi dan solusi yang diberikan pada permasalahan tersebut. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan dari penelitian ini adalah pembelajaran menulis di kelas 4 MI Islamiyah Ngoro Jombang berjalan dengan baik terbukti dengan adanya beberapa variasi guru dalam pembelajaran membuat jejak telapak cita-cita, kemudian pemanfaatan media visual untuk menampilkan video kisah inspiratif yang membuat pembelajaran tidak monoton dengan kegiatan membaca di buku pegangan saja. Selain itu juga ketika menghadapi pembelajaran daring waktu materi puisi guru juga memaksimalkan penggunaan whatsapp grub dengan memberikan teladan membaca puisi dengan intonasi yang tepat. Pembelajaran menulis berbasis karakter di kelas 4 ini lebih diminati anak-anak ketika merangkum atau membuat ringkasan dari penampilan visual yang disajikan guru daripada membaca di buku. Pembelajaran daring masih belum bisa diikuti oleh keseluruhan siswa karena ada sebagian wali siswa yang belum memiliki smartphone canggih. Saran dari peneliti bagi guru dalam pembelajaran menulis berbasis karakter ini yang sudah berjalan baik dipertahankan dan ditingkatkan lagi kreasi nya agar siswa tetap tertarik dalam menulis. Bagi sekolah,penelitian ini bahan pertimbangan dalam mengembangkan pembelajaran menulis berbasis karakter yang lebih baik bagi siswa untuk Bagi peneliti selanjutnya yang melaksanakan penelitian dengan tema serupa untuk bisa menemukan dan mengembangkan pembelajaran menulis dengan berbasis karakter yang lebih baik. Hal 76 At-TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah DAFTAR PUSTAKA