JURNAL ANTROPOLOGI: Isu-Isu Sosial Budaya. Desember 2017 Vol. : 129-138_________ ISSN 1410-8356 TOGOG & SEMAR: DEHUMANIZATION. ANTI-HUMAN. POST-HUMAN Imam Setyobudi Received Article: 08 Nopember 2017 Reviewed Article: 7 Desember 2017 Accepted Article: 20 December 2017 Abstract The core of Wayang stories (Mahabharata. Bharatayuda. Ramayan. is the reflection of human that is always continuously in crisis and emergency situations and Tragic. Wayang stories raise humanity problems so that the existences of human conception experience the perpetuity of dehumanization, existential instability and ambiguous. The killing of the essence of the human existence purpose on earth. It is an issue fundamentally of anti-human. Shadow play perspective does not rest on human understanding or Knight (Pandawa. Kurawa. Rama. Gian. , the heaven God (Bathara Gur. , and/or Prabu Khresna, incarnation of Wisnhu God. Wayang stories evoke Togog and Semar angle. Liyan. Grassroots. The general public. Amorphous: No Man is not a knight instead of a brahmana is not god instead of giant. Arises a question that is closely related to the presence of Togog and Semar. Why do shadow play stories present the figure of the them, while the authentic story of the Mahabharata and Ramayana India version does not exist at all? Are Togog and Semar truly actualization of post-human aesthetic and post-human anthropology The substance of this writing ask us to discuss regarding the idea of Togog and Semar in shadow play into the realm of post-human discourse as a result of dehumanization signs in the frame of shadow play stories. The main focus of the discussion focused on the position of Togog and Semar as the figure as linuwih or great beyond human . and god. Study restriction on the context of Purwa Java Gagrak Jogja and Solo wayang. similarly in East Java. Sunda and Bali, there are also those two figures. Keywords: post-human, anti-human, dehumanization, togog, semar Abstrak Inti cerita-cerita wayang (Mahabharata. Bharatayuda. Ramayan. adalah cermin manusia yang senantiasa berada pada situasi dan kondisi krisis serta gawat tanpa Tragic. Kisah-kisah pewayangan mengangkat problem kemanusiaan tiada henti sehingga wujud konsep manusianya mengalami kelanggengan dehumanization, kegoyahan eksistensial, ambiguous. Pembunuhan terhadap esensi tujuan keberadaan manusia di muka bumi. Sebuah isu yang mengarah pada anti-human. Perspektif pewayangan bukan berpijak paham manusia atau Ksatria (Pandawa. Kurawa. Ram. Dewa Kahyangan (Bathara Gur. , dan/atau Prabu Kresna titisan Wisnu. Kisah-kisah wayang membangkitkan angle Togog dan Semar . Liyan. Wong cilik. Grass-root. Khalayak ramai. Amorphous. Bukan Manusia bukan Ksatria bukan Brahmana bukan Dewa bukan Raksasa. Penulis adalah dosen Program Studi Antropologi Budaya. Fakultas Budaya dan Media. ISBI Bandung setyobudiimam@gmail. Togog dan Semar DOI: 10. 25077/jaisb. 129 | P a g e JURNAL ANTROPOLOGI: Isu-Isu Sosial Budaya. Desember 2017 Vol. : 125-138_________ ISSN 1410-8356 Timbul suatu pertanyaan yang terkait erat atas kehadiran Togog dan Semar. Kenapa cerita-cerita pewayangan menghadirkan sosok keduanya, sedangkan cerita autentik Mahabharata dan Ramayana versi India tak ada sama sekali? Apakah Togog dan Semar sejatinya perwujudan menyangkut ide post-human aesthetic dan post-human Substansi tulisan ini mengajak diskusi menyangkut gagasan tentang Togog dan Semar dalam pewayangan ke ranah diskursus post-human akibat adanya gelagat dehumanization pada bingkai kisah-kisah pewayangannya. Fokus utama pembahasan tertuju kedudukan Togog dan Semar selaku sosok linuwih atau unggul melampaui manusia (Ksatri. dan Dewa. Pembatasan kajian pada konteks wayang Purwa Jawa gagrak Jogja dan Solo. kendati pun di Jawa Timur. Jawa Barat, dan Bali mengenal pula kedua tokoh ini. Kata-kata Kunci: post-human, dehumanization, anti-human, togog, semar PENDAHULUAN ajian ini berupaya mempelajari melalui cara membaca teks terhadap pemosisian Togog dan Semar pada bingkai cerita wayang purwo Jawa dengan memperhatikan konsep post-human, dehu manization, dan anti-human. Cerita-cerita wayang kulit purwa Jawa, baik yang gagrak Jogja maupun Solo, bukan menyodorkan suatu makna absolut, melainkan multi makna, pluralitas makna, heterogenitas makna, sehingga menciptakan ruang Pembuktiannya: Kats telah mencatat ada 149 lakon ternyata hanya 32 lakon yang merupakan cerita pokok, sedangkan selebihnya 114 merupakan lakon carangan . 3: 446. Brandon, 1970: Magnis-Suseno, 1991: . Setiap dalang boleh mengkreasikan lakon sesuai selera ide berdasar pengetahuan dan Oleh karena itu, tiada makna akhir dan satu makna dalam setiap senantiasa terjadi pusaran tanya tanpa jawab. Penonton bebas memaknai setiap lakon sekehendak hati sesuai pengetahuan dan pengalaman masing-masing yang bisa jadi berbeda tafsir dengan dalang. Seorang dalang tertutup peluang mengendalikan . tafsir yang muncul atas benak Bahkan, antara dalang satu dengan dalang yang lain berbeda tafsir atas suatu pemaknaan terhadap lakon apa pun. Oleh karena itu, epos Mahabharata dan Ramayana menurut versi wayang purwa Jawa berbeda makna dengan versi asli asal India (Asia Selata. Terutama adanya dua 130 | P a g e DOI: 10. 25077/jaisb. figur lokal Togog dan Semar yang posisi . peran keduanya mensubversi pemaknaan semula yang ada pada epos Mahabharata dan Ramayana yang berasal dari India. Diskontinuitas terhadap teks sastra yang asli. Teks-teks cerita wayang purwa Jawa meniscayakan kehadiran beragam makna: Polisemi. Dalang bukan subyek otonom yang tampil monolog. Dalang hanya Posisinya sama persis dengan penonton selaku AopembacaAo pula. Lakon wayang purwa Jawa bersifat poetic. Jika kita berpegang pada pendapat Sri Muljono, maka dalang adalah simbolisasi manusia. hal ini masuk akal. Penonton dan dalang menempuh inter-relation antara subyekobyek. Cerita . wayang kulit purwanya telah mencatut eksistensi kesadaran subyek sekaligus menyerap keberadaan dalang, nayaga, dan penonton ke realitas lain yang tercipta. Fiksi. Realitas imajinatif. Ruang-waktu yang historis terhenti alihwujud . ke ruang-waktu yang fiksi. The performing art of wayang purwa Jawa: Turbulensi yang menyedot eksistensi kesadaran keberadaan subyek menuju suwung agar menggapai awang-uwung. Subyek melenyapkan hakikat kesubyek tivitasan dirinya menjadi obyek bagi dirinya. Subyek mengobyektifkan dirinya agar supaya dapat merefleksikan segala sifat yang ada dalam diri: Segala sifat yang disimbolkan sebagai wayang kiwo dan wayang tengen. Tindak laku demikian dalam rangka terjadi evaluasi diri Ae introspeksi Ae Kendati respon yang muncul tetap tergantung masing-masing. ada yang Togog dan Semar JURNAL ANTROPOLOGI: Isu-Isu Sosial Budaya. Desember 2017 Vol. : 125-138_________ ISSN 1410-8356 tertawa, bercanda, berbincang, serius, dan terkantuk-kantuk. Betapa pun pribadi-pribadi tadi sudah lebur. Tanpa pribadi. Luluh semua pribadi tersedot ke arus pusaran turbulensi alam mistik, ontologi, dan fungsional yang tumbuh dalam ruang di mana lakon itu sedang dipuitisasikan. Lakon seperti Bharatayuda bukan obyek yang ditonton, melainkan motor turbulensi yang menyedot segenap eksis tensi kesadaran keberadaan manusia ke dalam hingar-bingar kemisteriusan laku Seni pergelaran wayang kulit purwa yang berupa bayang-bayang. sesuatu yang kosong, hampa, dan paradox. Setiap orang . sifat-sifatnya: Pertempuran dan krisis dalam batin yang mengarah pada dua pilihan, dehumanization atau post-human. Timbul pertanyaan: Kenapa ada gagasan tentang Togog dan Semar beserta apa implikasi fundamental atas posisi peran kedua figur tersebut dalam konteks lakon wayang purwa Jawa? Kedua figur ini penting, kendati figur Semar lebih populer ketimbang Togog dan untuk perkara ini perlu kajian tersendiri. Relevansi pertanyaan tadi pada fakta yang ada: Setiap terjadi goro-goro atau chaotic . senantiasa Semar [Togo. hadir meredakan suasana Kenapa yang mampu meredakan chaotic justru kalangan punokawan, dan bukan dewa, brahmana, atau ksatria? Di sinilah, kita selanjutnya perlu memeriksa ulang atas keberadaan figur Togog dan Semar dalam lakon pewayangan. Kajian saya bukan bidang Javanologi, atau sebuah disiplin ilmu an sich yang rigorous dan rigid. melainkan hanya sebuah petualangan yang penuh hasrat meluap untuk bermain dengan teks (Jean-Franyois Lyotard. Hans-Georg Gadame. mencampur-aduk teks-teks yang sudah kuno . dengan teks-teks yang mutakhir, agar dapat melahirkan teks baru yang radikal serta militan (Roland Barthe. Saya memperoleh sumbangan inspirasi tulisan-tulisan ahli lain dari berbagai disiplin Profesor Zoetmolder mengungkap kandungan isi suluk klasik Jawa yang menyimpan kekayaan tentang filsafat Ketuhanan Manunggaling kawulo Gusti . 5, 1940. Profesor Drijakarja menggali prinsipprinsip yang universal antara sistem berpikir Togog dan Semar DOI: 10. 25077/jaisb. filsafat pada suluk Jawa dengan sistem berpikir filsafat modern dan filsafat Barat yang menerima warisan dari tradisi filsafat Yunani . 5, 1969, 1. Profesor Harun Hadiwijono . menelaah suluk-suluk klasik Jawa dengan metode perbandingan agama dalam bidang The Studies of Religion. Profesor Franz Magnis-Suseno mengkaji aspek kerohanian yang selaras Katolik pendekatan Filsafat Etika terhadap sastra suluk Jawa klasik dan wayang kulit purwo Jawa. Sri Muljono menggali kandungan filosofis yang terkait dengan nalar mistik pada cerita pewayangan. Profesor Soehardi meneliti secara cermat aspek laku mysticism dan asceticism pada kebudayaan Jawa dalam bidang the Anthropology of Javanese Religion . 6, 1989, 1993, 1995, 1. Profesor Jakob Sumardjo memperluas kajian-kajian ke pantun Sunda dengan paradigma antropologi struktural dan mene mukan tentang gejala paradoks. Tulisantulisan ini, tiada lain, upaya menyanggah pendapat dan anggapan ilmuwan yang tegas menolak adanya sistem berpikir filsafat yang berbasis AulokalAy seperti filsafat Jawa. Sunda, dan lain-lain. KLARIFIKASI DAN PEMBATASAN RUANG-LINGKUP ika kita simak tema wacana pada jurnal-jurnal dan buku-buku yang terbit di Eropa dan USA mengenai posthuman, anti-human, dan dehumanization merupakan pembahasan berbeda, akan tetapi saya memanfaatkan ketiga kata kunci itu bersamaan karena saling berkaitan di dalam pembahasan tentang Togog dan Semar. Keseluruhan argumentasi saya dibangun melalui tiga kata kunci ini. Namun, saya bukan mengelaborasi diskursus mengenai tiga kata kunci itu serta-merta . dari alur diskusi yang sedang riuh di kampus-kampus Eropa dan USA. Pemahaman saya terhadap post-human barangkali justru anti-post-humanism seperti Francis Fukuyama . 2 dan 2. Dalam konteks tulisan ini, saya memanfaatkan istilah post-human/post-humanism seturut pemaknaan saya untuk mengkritik salah post-human/posthumanism (Nichols, 1988. Haraway, 1995. Rutsky, 1999. Hayles, 1999. Badmington, 131 | P a g e JURNAL ANTROPOLOGI: Isu-Isu Sosial Budaya. Desember 2017 Vol. : 125-138_________ ISSN 1410-8356 Winner, 2004. Whitehead, 2009. Wolfe, 2. Memang, di antara para ahli terlanjur mendefinisikan pengertian posthuman itu berbeda . impang-siu. Saya menggali pengertian post-human sesuai lakon tentang Togog dan Semar. Saya agak setuju pendapat Profesor Nick Bostrom tentang post-human . 5, 2006, dan Perdebatan mengiringi dua pandangan yang saling bertolak-belakang antara humanism dan anti-humanism bukan fokus pembahasan tulisan ini. Anti-human dalam konteks tulisan ini mengangkat praktik mysticism dan menyangkut anti-humanism bukan yang berada di jalur langsung post-structuralism/ Namun, saya sependapat mengenai program agenda aksinya. Jika saya boleh menjelaskan status posisi saya adalah anti-humanism dan post-humanism yang berbeda arah tujuan dari versi atheist. Kerangka pemikiran tulisan ini postcolonialism anthropology. TOGOG DAN SEMAR: ASAL-USUL BESERTA TUJUAN embahasan tentang Semar boleh dibilang dominan ketimbang ulasan tentang Togog. Hanya saja, ada sebuah novel sastra karya Seno Gumira Aji Darma (Mizan-Bentang, 2012/2. menga ngkat Togog didasarkan alasan diskursus tentang Semar (Semarism. terlampau dominan, padahal tugas dan tanggungjawab Togog sangat berat di dalam Sebaiknya, kita berpegang pada pendapat Togog. Semar, dan Batara Guru adalah satu-kesatuan inter-relation (Soehardi. Inilah alasan utama kenapa saya membaca bersamaan Togog dan Semar. Asal-usul kejadian ketiganya bermula dari sebuah telur yang menetas menjadi tiga makhluk antropomorfis: Antaga Tejamantri dari cangkang atau kulit telur bertindak selaku kakak tertua. Ismaya dari putih telur yang bertindak selaku kakak nomor dua, dan Manikmaya dari kuning telur sebagai Sewaktu ketiganya telah beranjak dewasa terlibat perselisihan tentang siapa yang pantas di antara ketiganya mengganti kedudukan Sang Hyang Tunggal sebagai 132 | P a g e DOI: 10. 25077/jaisb. raja para dewa. Mereka terlibat perkelahian yang bikin geger kahyangan suralaya. Dan. Sang Hyang Tunggal turun melerai serta menganjurkan pertandingan menelan dan memuntahkan Gunung Mahasamun untuk menentukan siapa di antara ketiganya yang berhak mengganti dirinya sebagai raja para dewa (Gesta, 2. Tejamantri sebagai kakak tertua memperoleh kesempatan pertama tiada mampu menelan. Ismaya sebagai kakak nomor dua memperoleh kesempatan kedua dan ternyata mampu Sang Hyang Tunggal memberi titah bahwa Manikmaya yang bakal menggantikan dirinya. Namun posisi Tejamantri dan Ismaya selaku kakak menyebabkan tetap Audi atasAy posisi Batara Guru yang raja para dewa. Tejamantri dan Ismaya turun ke bumi dalam keadaan bertubuh . menerima tugas mengasuh serta membimbing anakanak keturunan Batara Guru di bumi. Tejamantri berganti nama jadi Togog dan Ismaya berganti nama jadi Semar. Kenapa asal-usulnya Apa Saya melancarkan siasat yang sedikit berbeda arah tujuan dengan Jacques Derrida yang gencar menyerang . emper karaka. lewat segenap kemahiran tafsirnya terhadap segala teks filsafat Barat modern yang terlanjur sudah dianggap sahih. Praktik berfilsafat Derrida bukan melahirkan sebuah filsafat, namun ia memproduksi teks filosofis lain atas teks filsafat yang diperkarakannya mengenai kerangka bangunan arsitekturnya. Serupa benalu terhadap tanaman induknya. Derrida merontokkan untuk menggoyahkan pilar-pilar berbagai teks filosofis Filsafat modern dan Filsafat Barat. Praktik antifilsafat. Saya menggabungkannya dengan modus operandi Gadamer terkait konsep to play untuk semakin meradikalkan tesis Aokematian Tuhan-PengarangAo (Barthe. dan Aokematian subyekAo (Michel Foucaul. sehing ga mampu memproduksi teks yang radikal yang mengaktualisasi ulang Togog dan Semar dalam diskursus kontemporer yang mengangkat isu post-human. Pembacaan saya terhadap posisi peran Togog dan Semar dalam bingkai ceritacerita pewayangan wayang kulit purwa Jawa dalam rangka bersiasat politik untuk membangkitkan teks filosofis lain (Togog Togog dan Semar JURNAL ANTROPOLOGI: Isu-Isu Sosial Budaya. Desember 2017 Vol. : 125-138_________ ISSN 1410-8356 dan Sema. yang semula tenggelam . di bawah mainstream tradisi Filsafat Barat modern yang meletakkan posisi manusia terlampau sentral: Subyek otonom dan agung di atas segalanya. Manusia adalah pusat. Manusia adalah puncak matarantai kehidupan. Sebaliknya, gagasan filsafat yang terkandung dalam wayang: Manusia berada di struktur paling bawah seperti terlihat pada gambar gunungan . , ada dua buah daun pintu simbol manusia . agad ali. sebagai akar pohon. Relevansi pembahasan saya yang menelaah kenapa muncul gagasan yang melahirkan keberadaan Togog dan Semar yakni pada fakta aktual dan kontekstual terhadap mental budaya bangsa ini sebagaimana tercermin dalam tingkah-laku sehari-hari elit-masyarakatakademi-terdidik menyangkut sikap mental pragmatisme yang cenderung destruktif terhadap yang lain: Meraih suatu keinginan melalui cara memenggal liyan . he othe. , menghalalkan segala cara . ikut-sikuta. , hedonisme, gaya hidup instan, penjilat, haus dijilat, penyakit batin . , malas . ngin enak tanpa berjuan. , gemar cari kambing hitam . epas tanggung-jawab. lempar kesalahan kepada orang lai. Pragmatisme destruktif ini warisan sistem mentalitas budaya rezim Orde Baru dan kolonial Belanda. Jadi, bukan hal baru. Namun bagaimana hal ini dapat didobrak TOGOG DAN SEMAR: KERADIKALAN DAN MILITANSI ETIKA JAWA da di mana posisi Togog dan Semar dalam konteks lakon wayang? Di luar Keduanya bukan berada dalam struktur. Jika, kita membaca struktur . brahmana, ksatria . anusia dan raksas. maka Togog dan Semar bukan termasuk stratifikasi tadi. Anti-struktur. Semula Togog dan Semar adalah dewa berjenis kelamin pria yang gagah dan tampan. Keduanya turun ke bumi: Manusia yang sangat buruk rupa dan tanpa kejelasan jenis kelamin akibat bertanding menelan gunung. Mereka hanya pelayan . akyat keci. bagi para ksatria . dan brahmana. Brahmana dan ksatria tunduk di bawah titah Togog dan Semar DOI: 10. 25077/jaisb. dewa, akan tetapi Togog dan Semar melampaui kuasa daripada dewa. Apa implikasi anti-struktur ini? Apakah perspektif lakon wayang purwa mengandung sebuah gagasan anti-humanism dan post-huma Profesor Magnis-Suseno . 5: . menelaah ajaran tentang Semar adalah sepi ing pamrih dan rame ing gawe. Etika Jawa mengajarkan keselarasan dan harmoni, namun apakah hanya sekadar hal ini? Penjelasannya, keteladanan Semar adalah kokoh integritas . , sederhana, laku prihatin, rendah hati, pemberani, anti munafik, berani mendobrak kemunafikan, terbuka dikritik sekaligus lantang mengkritik menghadapi ketidakadilan dan kepincangan sosial, berani mengambil sikap konfrontasi serta berani menerima resiko dibenci banyak orang dan pejabat, pantang menjilat, dan menolak dijilat. Togog persis seperti Semar. Togog berulang kali mengingatkan majikannya agar menjaga tingkah-laku utama, akan tetapi majikan-majikannya tiada satu pun yang melaksanakan nasehatnya. Majikan-majikan Togog mengunduh wohing pakarti Ae memanen amal perbuatan sendiri. Batara Guru berubah wujud jadi seorang pendeta dalam rangka menjebak Pandawa dengan maksud dijadikan tumbal untuk anaknya. Batara Kala. Semar mencium gelagat ini dan menghardik adiknya. Batara Guru. Semar mencegah peluang intervensi Batara Guru yang hendak memenangkan Kurawa dalam Bharatayuda. Sedemikian hal. Togog mengubah wujud menjadi pemuda tampan mengejar hingga ke kahyangan Suralaya raja raksasa Jangkarlangit alih-wujud Batara Guru yang semula hendak merebut kerajaan Yudhistira. Baladewa. Kresna, dan Duryu Adegan ini menegaskan tindakan keliru Batara Guru ditangkal oleh campurtangan Togog dan Semar. Togog dan Semar memperlihatkan ciriciri kepribadian yang konsisten . idak plinpla. Jika kita peras ciri-ciri watak karakter utama Togog dan Semar mengarah radikalisme dan militan demi memperjuang kan keadilan dan kebenaran tanpa Kenapa seolah-olah kontradiktif dengan etika keselarasan dan harmoni? Keselarasan dan harmoni bukan memperta 133 | P a g e JURNAL ANTROPOLOGI: Isu-Isu Sosial Budaya. Desember 2017 Vol. : 125-138_________ ISSN 1410-8356 hankan status quo. Magnis-Suseno menan daskan etika keselarasan dan harmoni secara hakikat hanya ada sewaktu keadaan Jika keadaan ketakadilan, maka sesuai etika Jawa harus bersikap seperti halnya Togog dan Semar . epi ing pamrih rame ing gaw. , dalam arti berani melawan kemungkaran Ae amar maAoruf nahi mungkar. Silahkan, kita menatap pribadi kita: Apakah seperti Togog dan Semar? DEHUMANIZATION heodor W. Ardono was said: AuManAy is the ideology of dehumanization. Apa yang dimaksudkan dehumanization? Suatu gejala yang timbul akibat adanya tindakan sejumlah kelompok orang maupun massa yang merendahkan serta menghina maupun melecehkan harkat dan martabat nilai-nilai kemanusiaan terhadap orang lain. Manusia adalah mesin pembunuh dan perusak yang melampaui kekuatan pemus nah lain akibat bencana alam seperti letusan Gunung Toba yang terjadi 74 ribu tahun Bencana alam terjadi secara periodik berkala dalam jangka waktu sangat lama, namun manusia mampu menciptakan kemusnahan terus-menerus secara cepat maupun perlahan tanpa henti. Kita bisa melihat kasus-kasus seperti kejahatan perang semasa Perang Dunia I dan II, bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Sekutu memperkosa perempuan Jerman, tentara Jepang memperkosa perempuan secara sistematis, aksi brutal tentara Israel kepada warga sipil Palestina, kekejaman Lenin dan Stalin, perang saudara antara Yugo dan Slavia, genocide terhadap orang-orang muslim Bosnia, rasisme, anti etnis tertentu . emusnahan pihak lai. kasus Kurdi dan lain-lain, mutilasi, pembantaian massal terhadap mereka yang dituduh AoPKIAo selama 1965/1966 di Indonesia. Tindakan lain yang tergolong dehumanization adalah feoda lisme, neo-feodalisme, neo-kolonialisme, perbudakan, otoritarian, pornografi, vanda lisme, perkelahian massal, perdaga ngan perempuan, dan lain-lain. Dehumanization melanda cyber-world. Industri pornografi mengeksploatasi tubuh sebagai komoditi tatapan sex. 134 | P a g e DOI: 10. 25077/jaisb. Definisi dehumanization yang erat terkait disiplin psikologi dapat memeriksa Kelman . Bandura et. Haslam . , dan Loughman et. khusus dehumanization sesuai pendekatan antropologi sehubungan dengan aspek sosial-budaya dapat membaca Montenbruck . dan Waytz et. pembahasan mengenai dehumanization aki bat tindak kekerasan sehubungan dengan pengembangan kepribadian akibat dampak kemajuan teknologi digital dan computerize dapat menyimak Bastian et. Indonesia, sejak zaman purba Ae Nusantara. Kerajaankerajaan di Nusantara saling terlibat perang. Raja yang menang kerap kali melancarkan keturunannya supaya terhindar balas Epos Mahabharata (Bharatayudh. dan Ramayana merefleksikan dehuma Kelicikan Kurawa memancing den Pandawa. Werkudara membunuh Dursasana yang darahnya diserahkan kepada Drupadi untuk diguna kan keramas rambutnya yang panjang Inilah dendam Drupadi atas tindakan Dursasana sewaktu melakukan Werkudara menjagal dan merobek mulut Sengkuni yang sudah sekarat. Kepala Durno dipenggal sampai terlempar jauh dari Tubuh Bisma tergolek sekarat penuh anak panah Arjuna. Rama memutilasi tubuh Rahwana menghindarkan hidup kembali jika sentuh tanah . Somantri membunuh adik kandungnya (Sukasran. akibat tiada mampu menahan malu oleh wajah buruk adiknya. Peran Togog dan Semar yang berada di luar struktur cerita pokok kedua epos tersebut menguatkan unsur reflektive kepada manusia supaya insyaf bahwa dirinya menyimpan bibit potensi kejahatan akar dehumanization. Manusia mengandung sifat binatang yang dalam wayang purwo disimbolkan buto, cakil, sengkuni, kurowo, rahwana atau dasamuka, sarpakenaka. Kita condong berwatak wayang kiwo ini. Togog dan Semar JURNAL ANTROPOLOGI: Isu-Isu Sosial Budaya. Desember 2017 Vol. : 125-138_________ ISSN 1410-8356 ANTI-HUMAN nti-humanism adalah suatu paham gerakan yang ingin mengkritik dan mengoreksi keyakinan paham huma nism yang terlampau mengagungkan manusia sebagaimana dianjurkan oleh Rene Descartes. Edmund Husserl, dan Jean PaulSartre. Humanism seiring renaisans dan Enlightnment. Kolonialisme dan imperialisme merupakan wujud lain huma Jadi, humanism itu kental aroma sudut-pandang kulit putih . Cauca Dampak paham humanism itu malah kemerosotan harkat dan martabat manusia itu sendiri dan kerusakan lingku ngan. Inti pengertian anti-human (Foucault, 1970. Derrida, 1968: Aothe Ends of ManAo. also see Soper, 1986. Sylvester Kanisius Laku, 2008. Elizabeth Kuhn, 2009. Matthew McLennan. Budi Hardiman, 2. adalah upaya merevisi kedudukan manusia terha dap diri-manusia beserta hubungannya dengan ekologi dan alam semesta. Manusia bukan puncak. Manusia bukan semata-mata unconscious/ subconscious mempengaruhi . Timbal-balik. Proyek gerakan anti-humanism menandaskan be berapa poin penting di antaranya alterity, inter-relationality between objectivity and subjectivity, body, surface, setting, micro-agency, genealogy, transfor mation, poetics, abstraction, collectivity, religious state of history. Bagaimana perspektif Togog-Semar? Ada implikasi mendasar atas alih-ubah wujud TogogSemar yang semula dewa menjadi manusia yang buruk rupa, tanpa kejelasan jenis kesaktiannya mengungguli keampuhan para dewa, brahmana, dan ksatria. Sang Hyang Tunggal dan Sang Hyang Wenang menganggap keduanya lebih tua. Suatu gagasan anti-humanism dan post-human? Manusia, menurut Profesor Drijar kara . dan Sri Muljono . , makhluk belum tuntas, belum final. Manusia masih mentah dan perlu dibimbing serta dituntun oleh pamong. Togog dan Semar. Oleh karena itu, menurut saya, simbol sifat-sifat yang ada pada diri manusia itu digambarkan ciri-cirinya ada dua, yakni manusia bertubuh kurus dikarenakan gemar olah batin melalui semadi (Arjuna. Yudhistira. Kresna, dl. dan Togog dan Semar DOI: 10. 25077/jaisb. raksasa yang bertubuh tinggi-besar bergigi Raksasa simbol sifat dasar manusia yang hanya mengejar hasrat kehendak kuasa dan passion . erkecualian Kumbo karno. Sukasrana. Resi Bagaspat. Dasa muka simbol manusia yang gemar mengejar ilmu dan ngelmu hanya demi dunia. Kesaktiannya sekadar untuk adigang adigung adiguna. Manusia condong dikendalikan ba dan . , napsu binatang, dunia, ditelikung ego, terjerat super ego. Oleh karena itu, manusia semestinya membe baskan diri lewat mencemplungkan batin ke suwung awang-uwung, di antara kesadaran dan ketaksadaran, hanyut ke pusaran arus samudra ketaksadaran. Jika manusia terlalu kuat sifat hakiki kesadarannya, sadar eksistensi dirinya . empertahankan status qu. , maka inilah cogito ergo sum [Auaku berpikir . , maka aku adaAy yang dibimbing rasi. Bharatayuda melukiskan manusia menempuh krisis demi krisis dalam batinnya ibarat perang besar abadi yang berakhir kekalahan salah satu pihak. Namun kemenangan Pandawa atas kepunahan Kurawa membawa ke suwung awanguwung, bertapa di Gunung Mahameru. selama perjalanan, satu demi satu ketemu ajal, tinggal Yudistira Ae darah putih kebaikan yang hobi judi mata dadu. Bagaimana gagasan anti-human? Wirjoatmodjo . menja barkan manusia adalah tri-sarira: Badan pikir, badan rasa, dan badan tubuh . Hakikat manusia itu badan tubuh . Sesuatu yang kasar . Tri-sarira mencerminkan manusia sebagai jagad alit . sekaligus refleksi dari jagad ageng . yang disebut tri-loka: Guru-loka . lam pikir. Indra-loka . lam raos atau ras. , dan Jana-loka atau arcapada . lam wadhag. alam dunia. Posisi manusia ada di alam dunia . ana-loka. Manusia mengandung tri-loka: Guru-loka di benak . ebih tepat pada otak kanan dan kir. Indra-loka di dada . atau lebih tepat pada otak atas bagian depan, dan Jana-loka di perut. Mikrokosmos, metakosmos terjadi relasi timbal-balik (Sumardjo, 2. Manusia bukan mengada Manusia tak otonom. Subyek-obyek. Papat kiblat kalimo pancer melenyapkan AoegoAo karena ditentukan oleh sedulur papat 135 | P a g e JURNAL ANTROPOLOGI: Isu-Isu Sosial Budaya. Desember 2017 Vol. : 125-138_________ ISSN 1410-8356 yang ada di empat penjuru mata angin. Pusat bergantung kepada empat yang lain: Alter inter-relation. POST-HUMAN AopostAo mengawali kata AohumanAo mengacu ke pengertian Lyotard . dan Fredric Jameson . , yakni situasi dan kondisi keterputusan, melepaskan diri, melampaui, pembebasan diri dari jerat. Jadi, keadaan yang bukan kelanjutan . Oleh karena itu, kata post-human menurut saya lebih tepat dimengertikan AolinuwihAo. Saya menolak definisi tentang post-human seperti wacana yang berlangsung di Eropa dan USA: Cyborg. Astroboy. Robocop. Saya merumuskan pengertian tentang posthuman sesuai kasus Togog dan Semar. Post-humanism adalah sebuah proyek gerakan membuang segala sifat hakiki kemanusiaan . : Hasrat kehen dak kuasa, passion, seductive. Sang Hyang Tunggal berucap. AuAntaga memuntahkan gunung adalah membuang segala hasrat dan keinginan. Lenyap sudah napsunya. Titah Ismaya menelan gunung adalah mengubur segala hasratAy, maka. AuTejamantri dan Ismaya turun ke bumi membimbing keturunan Manikmaya!Ay Pembacaan atas alih-ubah wujud keduanya member clue terhadap apa perspektif filosofis wayang purwa jawa. Togog dan Semar menjadi abdi ksatria . bukan dalam rangka tapa ramai . editasi di tengah hirukpikuk alam duni. Kenapa? Mereka adalah makhluk paripurna. Unggul dari dewa, brahmana, manusia. Maka, visualisasi Togog dan Semar itu buruk/jelek (Sumardjo, 2003: 87-91 dan 101-. Pemaknaannya melepas kodrat dunia. Filsafat etika: Bukan penampilan luar yang penting . obil, cantik, tampan, santu. , melainkan AobatinAo yang 136 | P a g e DOI: 10. 25077/jaisb. PENUTUP da jawaban sederhana berkenaan asal-usul Togog dan Semar yang dikaitkan sejarah masuknya pengaruh Hindu-Buddha (Indi. ke Nusantara . bad ke-1 Maseh. Gagasan Togog dan Semar sudah ada jauh sebelum pengaruh India masuk Nusantara. Jawaban ini hanya menjawab tentang nilai keotentikkan gaga san Togog dan Semar. Namun belum menjawab tuntas kenapa ada gagasan tentang Togog dan Semar? Pertanyaan apakah gagasan Togog dan Semar itu sudah ada sebelum atau sesudah pengaruh Hindu-Buddha terlalu mengundang jawaban sederhana karena perlu bukti konkret yang terkait artefak Sejauh ini, bukti-bukti berupa artefak budaya yang membuktikan kebera daan Togog dan Semar cenderung pada periode sejarah atau setelah abad ke-5 Masehi. Pertanyaan tentang kenapa . muncul gagasan tentang Togog dan Semar bukan memperkarakan kapan . spek waktu kesejaraha. , melainkan penyelidikan waca na apa yang meniscayakan kemunculan kedua figur itu. Jadi, kita tidak perlu terlalu semangat ingin tahu keotentikkan Togog dan Semar. Bukan perkara penting. Togog dan Semar memuat antihumanism dalam rangka mengangkat posthuman. Bingkai lakon wayang purwa adalah dehumanization untuk menegaskan dua hal pokok: Krisis dan pertempuran abadi di dalam badan batin manusia serta peng gambaran kerusakan akibat perbuatan Sejauh ini, perkembangan Togog dan Semar hanya AohiburanAo akibat adanya penjungkirbalikan ajaran nilai-nilai etika Jawa oleh sekelompok elit-masyarakatakademi-terdidik menjadi adat kesopanan yang membungkus kepalsuan . dan Padahal, gagasan tentang Togog dan Semar radikal, militan, dan Indonesia belum masuk tahap persiapan Bharatayuda. Watak Kurawa masih mencengkram kokoh kepribadian manusia Indonesia, baik di dalam diri maupun di luar diri. Togog dan Semar JURNAL ANTROPOLOGI: Isu-Isu Sosial Budaya. Desember 2017 Vol. : 125-138_________ ISSN 1410-8356 DAFTAR PUSTAKA