TASAMUH: JURNAL STUDI ISLAM Volume 8, Nomor 1, April 2016, 69-86. ISSN 2086-6291 (p); 2461-0542 (e) http://ejournal.stain.sorong.ac.id/indeks.php/tasamuh SEJARAH EROPA PADA ABAD KE – 19 Anis Masduqi Dosen STIQ AN-NUR Yogyakarta Abstract: This article talks about the history of Europe in the 19th century ago to today’s that modern world was born. The revolution of 1848 has given a deadly blow at all forms of pre-Marxian socialism. In all countries, the revolution revealed how social classes are diverse in their actions. In June days of 1848, the shooting of the workers by the republican bourgeoisie in Paris finally revealed that the proletariat the socialist character. The liberal bourgeoisie was a hundred times more afraid of the independent movement of this class than any kind of reactionary movements. Liberals are cowards worship the reactionary groups. During the 18th century a variety of fundamental changes in the economy began to occur in the Western world. The changes are far-reaching that, ultimately changing the overall way of human life. This transformation process is known as “industrial revolution”. This movement was first evident in the UK, but in the mid-19th century it spread to Europe continental. Transformation in economic activity stemming from the industrial revolution was accompanied by the dismantling of economic theory. In line with the progress and pace of mankind in the fields of industry, the various roads have been done “in order to dominate the market and new targets, in order to throw their products. Tempers of polarization in the community, a group of owners of capital and working groups boast his achievements. Keywords: Industrial Revolution, New Ideology and Neoliberalism. 69 70 TASAMUH, Volume 8 Nomor 1, April 2016 Pendahuluan Selama abad ke-18 berbagai perubahan mendasar di bidang ekonomi mulai terjadi di dunia Barat. Perubahan-perubahan yang jauh jangkauannya sehingga, pada akhirnya mengubah keseluruhan cara hidup manusia. Proses transformasi ini dikenal dengan “revolusi industri”. Ditandai oleh berbagai penemuan baru, kekuatan mesin menggantikan tenaga manusia. Dengan mekanisasi produksi, orang mulai pindah dari pertanian ke kota, sistem pabrik menggantikan proses pengelolahan di rumah, dan kaum industrialis menggantikan tuan-tuan tanah dan bahkan para pedagang dunia. Revolusi industri tidak terjadi secara tiba-tiba dalam panggung dunia. Awal bisa dilacak jauh ke belakang pada periode Reformasi ketika modal mulai ditanamkan di lahan pertanian demi keuntungan. Namun demikian, baru setelah tahun 1875 lah penemuan-penemuan besar dalam produksi ilmiah dan mekanis terjadi, awalnya dalam produksi pertanian dan kemudian dalam industri manufaktur. Gerakan ini pertama kali nampak jelas di Inggris, tetapi pada pertengahan abad ke-19 ia menyebar ke Benua Eropa.1 Transformasi dalam aktivitas ekonomi yang berasal dari revolusi industri diiringi dengan pembongkaran teori ekonomi. Sejalan dengan kemajuan dan kelajuan umat manusia di bidang industri, maka berbagai jalan telah dilakukan “guna menguasai pasaran dan sasaran baru, guna melemparkan hasil produksinya. Terjadilah poralisasi dalam masyarakat, yakni kelompok pemilik modal dan kelompok kerja. Tentu saja masingmasing membanggakan prestasinya. Ribuan pekerja terpaksa harus mandi keringat di kawasan industri dengan upah yang sangat rendah, sedang di satu pihak kaum pemilik kapital (kapitalis) dengan bangga tanpa mengenal perikemanusiaan berusaha mengembangkam sayapnya.2 Demikian gambaran Eropa pada masa revolusi 1 Henry J. Schmandt, Henry J. Schmandt, Filsafat Politik Kajian Historis dari Zaman Yunani Kuno sampai Zaman Modern, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2002), h. 507-508. 2 Imam Munawir, Drs. Ec, Posisi Islam di Tengah Pertarungan Ideologi dan Keyakinan, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1988), h. 97. Anis Masduqi – Sejarah Eropa Pada Abad Ke – 19 71 industri, yang terjadi di sekitar abad ke-18 dan 19. dengan semakin majunya industri dan pemasaran, maka keuntungan besar-besaran itu hanya dapat dirasakan oleh para pemilik modal, sedang kaum buruh yang miskin hanya tetap tidak mendapat imbalan seimbang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.3 Revolusi 1848 telah memberikan pukulan yang mematikan pada segala bentuk sosialisme pra-Marxian yang riuh rendah, warna-warni, serta banyak lagak ini. Di semua negara, revolusi membuka kedok bagaimana kelas-kelas sosial yang beraneka ragam dalam tindakannya. Penembakan terhadap buruh-buruh oleh borjuasi republikan di Paris dalam Hari-hari Juni 1848 akhirnya menyingkapkan bahwa hanya kaum proletar yang berwatak sosialis. Kaum borjuis liberal merasa seratus kali lebih takut pada gerakan independen kelas ini daripada gerakan reaksioner macam apapun. Kaum liberal pengecut menyembah kepada golongan reaksioner. Kaum tani memuaskan diri dengan penghapusan sisa-sisa feodalisme, dan bergabung dengan para pendukung tatanan; mereka jarang sekali masih terombangambing antara demokrasi pekerja dan liberalisme borjuis. Semua doktrin mengenai sosialisme tanpa-kelas dan politik tanpa-kelas terbukti omong kosong semata.4 Komune Paris (1871) melengkapi perkembangan perubahan borjuis ini; republik, yaitu bentuk organisasi politik yang di dalamnya hubunganhubungan kelas muncul dalam bentuk yang paling tak tersembunyikan, konsolidasinya sepenuhnya berhutang pada heroisme kaum proletar. Di semua negara Eropa lainnya, sebuah perkembangan yang lebih kacau dan kurang komplit menimbulkan akibat serupa, sebuah masyarakat borjuis yang telah mengambil bentuk definitif. Menjelang akhir periode pertama (1848-71) yang merupakan sebuah periode badai dan revolusi, sosialisme 3 4 Ibid., h. 97-98 Info@ Harun Yahya.com., lihat: WWW Bencana Kemanusiaan Akibat Darwinisme 72 TASAMUH, Volume 8 Nomor 1, April 2016 pra-Marxian mati. Partai-partai independen kaum proletar bermunculan: Internasional Pertama (1864-72) dan Partai Sosial-Demokratik Jerman.5 Periode kedua (1872-1904) dibedakan dari periode pertama oleh karakternya yang “damai”, oleh tiadanya berbagai revolusi. Dunia Barat telah selesai dengan revolusi-revolusi borjuis. Dunia Timur belum muncul ke arah itu. Dunia Barat memasuki fase persiapan “damai” bagi perubahan yang akan tiba. Partai-partai sosialis, yang secara mendasar proletar, dibentuk di mana-mana dan belajar menggunakan parlementerisme borjuis dan menggunakan terbitan harian mereka sendiri, institusi-institusi pendidikan mereka, serikat-serikat pekerja mereka, dan masyarakat-masyarakat kooperatif mereka. Doktrin Marx memperoleh sebuah kemenangan penuh dan mulai tersebar. Penyeleksian dan pengumpulan kekuatan-kekuatan kaum proletar, serta persiapannya untuk menghadapi pertempuran yang akan tiba mencapai kemajuan-kemajuan secara lambat tapi pasti. Secara historis, filsafat Marx dan Engels bisa dianggap sebagai hasil gabungan antara dialektika Hegelian, materialisme, dan empirisme.6 Maka muncullah faham hasil gabungan yang saling berhubungan seperti idealisme Hegel dan materialisme Marx. Idealisme Hegel Hegel akan mengutarakan bagaimana seorang budak akan mempunyai kesadaran diri yang lengkap justru karena tekanan tuannya. Maka seluruh proses itu harus digali dengan teliti hanya dengan kesadaran diri yang lengkap itulah tujuan dialektika Hegel. Berfikir secara dialektika berarti berpikir dalam totalitas dalam artian dimana unsur-unsurnya yang yang saling bernegasi (mengingkari dan diingkari), saling berkontradiksi (melawan dan dilawan), saling bermediasi (memperentarai dan diperantarai). 5 6 228. Ibid., Henry D. Aiken., Abad Ideologi, (Yogyakarta: Yayasan Benteng Budaya, 2002), h. Anis Masduqi – Sejarah Eropa Pada Abad Ke – 19 73 Menurut pemikiran dialektis, individu selalu saling berkontradiksi, bermediasi, dan benegasi terhadap masyarakat. Jelaslah bahwa proses dialektika tidak sintesis. dapat sekedar dirumuskan sebagai tesis-antitesis- Rumusan sederhana ini bisa mengaburkan proses dialektis yang sesungguhnya menjadi semata-mata kompromi yang berarti perpaduan dan malah bisa berarti saling meniadakan. Proses dialektis tidak mengarah pada sintesis dalam arti perpaduan, melainkan mengarah pada tujuan baru sama sekali, yakni reaksioner, dimana tercakup pengertian pembaharuan, penguatan, dan perdamaian.7 Seluruh proses dialektis itu sebenarnya merupakan “realiatas yang sedang bekeja” dan pandangan Hegel tentang pekerjaan manusia. Manusia yang akal budinya telah mencapai kesempurnaan dalam Roh, harus berkembang, harus menemukan diri, dan makin menjadi dirinya sendiri. Hegel menggambarkan pekerjaan manusia pertama-tama sebagai keterasingan manusia dari dirinya sendiri. Karena Hegel yakin hal tersebut bisa dilaksanakan karena pada hakekatnya kesadaran (teori) sudah mencapai kesempurnaan dalam roh, di dalamnya terkadang realitas yang sudah saatnya diafirmasikan (dinyatakan ke luar).8 Hegel mensucikan Negara Kristen Jerman Prusia sebagai puncaknya. Hegel telah menunjukkan sebuah teori dialektika sebagai pemikiran tak berujung, menghilangkan apa pun yang ada untuk membawa perubahan dan perkembangan terhadap rasionalitas yang lebih tinggi. Hegelian Muda mengambil sisi radikal dari ambiguitas Hegel ini, mereka berpendapat bahwa Negara Prusia yang dalam fakta kesehariannya merupakan Negara yang ketat dan otoriter, sarat dengan hal- hal negatif, kekuasaan yang kritis dan menyerang dialektika. 7 33-34 8 Sindudinata, Dilema Usaha Manusia Rasional, (Jakarta: PT. Gramedia,1983), h. Ibid., h. 37-38. 74 TASAMUH, Volume 8 Nomor 1, April 2016 Hegel hanya memandang rendah liberalisme politik dan komponen kembarnya yaitu individualisme dan demokrasi. Bagi Hegel, Negara memiliki kekuatan absolut dan otoritas moral melebihi atau berada diatas individu. Filsafat Hegel tentang sejarah mengibarkan bendera kebebasan. Kebebasan tersebut mengklaim bahwa arti sebenarnya sejarah manusia merupakan kemajuan jiwa tidak terbatas dalam kesadaran kebebasan.9 Hegel telah meninggal lima tahun sebelumnya, akan tetapi pengaruhnya di universitas-unervesitas seluruh Jerman memuncak. Pengikut Hegel saat itu pecah menjadi dua : yaitu sayap kanan yang konservatif dan sayap kiri yang merupakan kelompok radikal. Marx kemudian menenggelamkan dirinya dalam karya-karya Hegel, merupakan studinya kelompok radikal sayap kiri yang disebut dengan Hegelian Muda. Pandangan akhir Hegel sendiri, tidaklah radikal atau sarat pergerakan, bahkan cenderung konservatif dan bertahun-tahun vakum di Berlin. Namun, para Hegelian Muda termotivasi untuk menemukan pesan-pesan radikal dalam Hegel dan mereka benar-benar menemukannya, Hegel memiliki dua sisi : radikal dan koservatif. Para Hegelian Muda menemukan bahwa inti dialektika Hegel ialah pembalikan, prinsip dimana setiap konsep dikritisi, diserang, distabilkan kembali, disahkan kembali. Prinsip pembalikan Hegel sendiri merupakan pembangkit penting dari perubahan dialektika, paradoks, ironi dan ambiguitas. Para Hegelian Muda mengambil sisi yang memberikan mereka dukungan intelektual.10 Materialisme Karl Marx Dialektika Hegel telah diintrodusir oleh Karl Marx pada dua unsur pokok. Pertama, gagasan mengenai pertentangan antara segi-segi yang berlawanan, yang kedua gagasan bahwa segala sesuatu berkembang 9 T.Z. Lavine, Marx Konflik Kelas dan Orang yang Terasing, (Yogyakarta : Penerbit Delima, 2003), h. 31-32. 10 Ibid., h. 34-35. Anis Masduqi – Sejarah Eropa Pada Abad Ke – 19 terus-menerus. 75 Marx menandaskan bahwa hukum dialektik terjadi dalam dunia kebendaan (dunia materi) dan sesuai dengan pandangan itu, menamakan ajarannya materialisme11 Marx pembangkit kembali materialisme dengan memberi intepretasi dan hubungan baru dengan sejarah manusia. Namun dalam aspek lainnya ia orang terakhir pembangunan sistem besar ini, penerus Hegel, seorang yang seperti dia mempercayai rumusan rasional yang menyimpulkan evolusi manusia. Penekanan pada salah satu dari aspek-aspek ini dengan mengesampingkan yang lain menimbulkan pandangan yang salah dan menyampingkan mengenai filsafatnya.12 Filsafat Materialisme, yang lahir di Yunani Kuno, memperoleh kemenangan di abad ke-19. Filsafat kuno ini meraih keberhasilannya melalui dua tokoh filsuf Jerman, Karl Marx dan Friedrich Engels. Marx dan Engels berusaha menjelaskan filsafat materialis, yang bertahan hidup selama berabad-abad, dengan penjelasan baru bernama “dialektika”. Secara singkat, dialektika beranggapan bahwa segala perubahan yang terjadi di alam semesta adalah akibat dari konflik persaingan dan kepentingan pribadi antar kekuatan yang saling bertentangan. Marx dan Engels menggunakan dialektika untuk menjelaskan keseluruhan sejarah dunia. Analisis sederhana oleh Marx menyatakan bahwa sejarah kemanusiaan didasarkan pada konflik, dan konflik yang ada saat ini adalah antara kaum buruh dan masyarakat kelas atas. Ia meramalkan bahwa kaum buruh pada akhirnya akan menyadari bahwa harapan satu-satunya adalah agar mereka bersatu dan melakukan revolusi. 11 Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, (Jakarta: Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, 1977), h. 80. 12 Bertand Russell, ertand Russel, Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio- Politik dari zaman Kini Hingga Sekarang, Terj. Sigit Jetmiko, Agung Prihantoro, Imam Mutaqim, Imam Baihaqi, dan Mohammad Shodiq, (Yogyakarta: 2003), h. 1018. 76 TASAMUH, Volume 8 Nomor 1, April 2016 Pada permulaan periode pertama, doktrin Marx sama sekali tidak mendominasi. Ia hanya satu dari banyak sekali kelompok atau trend sosialisme. Bentuk-bentuk sosialisme yang banyak mendominasi adalah dekat dengan Narodisme kita: ketidak pahaman terhadap basis materialis dari perkembangan sejarah, ketidakmampuan untuk membedakan peran dan pentingnya masing- masing kelas dalam masyarakat kapitalis, penyembunyian karakter borjuis dari reform-reform demokratik di balik bermacam-macam ungkapan sosialis-semu tentang “rakyat”, “keadilan”, dan “hak”. Marx dan Engels memiliki kebencian mendalam terhadap agama. Sebagai ateis tulen, mereka menegaskan bahwa penghapusan agama adalah perlu demi keberhasilan Komunisme. Saat Marx dan Engels sedang merumuskan pandangannya, muncul perkembangan penting yang dapat memberikan dukungan bagi teori mereka. Darwin muncul ke permukaan dengan bukunya The Origin of Species. di alam kehidupan, Darwin menyatakan bahwa makhluk hidup berevolusi dan bertahan hidup akibat adanya perjuangan untuk mempertahankan hidup. Apa lagi ini kalau bukan dialektika? Lagi pula, ini adalah dialektika yang muncul untuk mengingkari segala peran agama termasuk adanya penciptaan atau Pencipta. Ini adalah kesempatan emas bagi Marx dan Engels.Engels membaca buku Darwin segera setelah terbit dan menulis kepada Karl Marx: “(Buku) Darwin, yang kini sedang saya baca, sungguh mengagumkan”. Karl Marx menjawab: “Ini adalah buku yang berisi dasar berpijak pada sejarah alam bagi pandangan kita.” Engels sangat terpengaruh oleh teori Darwin sehingga, dalam upaya memberi sumbangsih pada teori tersebut, ia menulis artikel berjudul: “Peran yang Dimainkan Kaum Buruh dalam Peralihan dari Kera ke Manusia”. Dengan segera, Engels mengumpulkan seluruh gagasan evolusionisnya dalam sebuah buku berjudul “Dialectics of Nature”. Anis Masduqi – Sejarah Eropa Pada Abad Ke – 19 77 Dialektika sejarah adalah sebagaimana bahwa kemenangan teoritis Marxisme memaksa musuh-musuhnya menyamarkan diri mereka sebagai kaum Marxis. Liberalisme, busuk di dalam, mencoba untuk membangkitkan kembali dirinya dalam bentuk oportunisme sosialis. Mereka menafsirkan periode penyiapan kekuatan-kekuatan untuk pertempuran-pertempuran besar sebagai penolakan terhadap pertempuran-pertempuran ini. Kemajuan kondisi-kondisi kaum budak untuk melawan perbudakan upah kerja mereka mengerti sebagai penjualan hak atas kemerdekaan oleh para budak demi uang dalam jumlah kecil. Dengan kecut hati mereka mengajarkan “perdamaian sosial” (yaitu perdamaian dengan para pemilik budak), penolakan atas perjuangan kelas, dan lain sebagainya. Mereka memiliki amat banyak pengikut di tengah kaum sosialis yang menjadi anggota parlemen, beraneka pejabat dalam gerakan kelas pekerja, dan kaum cendekiawan yang “menaruh simpati”.13 Munculnya pergerakan generasi penerus Karl Marx (Marxisme) dalam dialektika melalui proses materi untuk memperjuangkan kaum proletariat dari eksploitasi dan alienasi. Dengan cara pandangannya seperti komunisme manifesto dibeberapa dunia untuk mengajak para buruh segera bangkit agar mereka bersatu dan melakuakan revolusi. Buah Komunisme di Uni Sovyet Pandangan Karl Marx dan Engels tumbuh dan berkembang subur, khususnya setelah kematian mereka. Vladimir Ilyich Lenin adalah yang pertama menerapkan revolusi komunis sebagaimana dicita-citakan Karl Marx. Lenin adalah pemimpin pergerakan komunis Bolshevik di Rusia. Saat itu, rejim Tsar diperintah oleh dinasti Romanov. Kaum Bolshevik di bawah pimpinan Lenin sedang menunggu kesempatan untuk menumbangkan rejim Tsar dengan kekuatan. Kekacauan akibat Perang Dunia Pertama 13 Info@ Harun Yahya. 78 TASAMUH, Volume 8 Nomor 1, April 2016 memunculkan peluang yang ditunggu-tunggu kaum Bolshevik. Di bulan Oktober 1917, mereka berhasil mengambil alih kekuasaan. Setelah revolusi, Rusia menjadi ajang perang saudara berdarah antara kaum komunis melawan para pendukung Tsar. Siapapun yang dianggap musuh oleh kaum komunis, termasuk keluarga Romanov, dibunuh secara sadis.14 Lenin dan Trotsky, yang dianggap tokoh paling penting dalam revolusi Bolshevik setelah Lenin, kembali menekankan pentingnya Darwinisme. Ia menyatakan kekagumannya atas Darwin sebagaimana berikut: Penemuan Darwin adalah kemenangan terbesar dialektika di segala bidang kehidupan.15 Menyusul kematian Lenin di tahun 1924, Stalin, yang dikenal luas sebagai diktator paling berdarah sepanjang sejarah dunia, menggantikannya menduduki jabatan pemimpin Partai Komunis. Selama 30 tahun masa pemerintahannya, apa yang dilakukan Stalin hanyalah pembuktian atas kekejaman sistem Komunisme. Sebagaimana gurunya, yakni Karl Marx dan Engels, Lenin pun seorang evolusionis tulen, dan seringkali menegaskan bahwa teori Darwin adalah dasar berpijak filsafat materialis dialektika yang ia agungkan. Trotsky adalah nama penting kedua dalam revolusi Bolshevik. Ia juga sangat menekankan pentingnya Darwinisme, dan menyatakan dukungannya kepada Darwin dengan mengatakan. Penemuan Darwin adalah kemenangan tertinggi dialektika di seluruh alam kehidupan. Joseph Stalin, sang dictator Partai Komunis paling kejam, menggantikan Lenin pada tahun 1924. Menengok tiga puluh tahun pemerintahan teror Stalin, siapapun hampir pasti akan berkata bahwa kebijakan Stalin secara umum adalah untuk membuktikan kekejaman komunisme.16 Di antara kebijakan pertamanya adalah menghilangkan kepemilikan tanah secara individu. Ia mengerahkan tentara untuk memaksa petani, yang berjumlah Ibid., WWW. Harun Yahya.com.. WWW. Harun Yahya.com/indo, Bencana Kemanusiaan Akibat Darwinisme 16 Ibid., 14 15 Anis Masduqi – Sejarah Eropa Pada Abad Ke – 19 79 80% dari populasi, agar menggabungkan tanah mereka menjadi lahan-lahan luas kolektif milik pemerintah. Biji bijian tanaman pangan dipanen oleh tentara bersenjata. Kelaparan pun melanda, merenggut nyawa pria, wanita dan anak-anak. Tapi Stalin terus saja mengekspor stok makanan daripada memberi makan penduduknya. Menurut perhitungan, sekitar sepuluh juta petani tewas dalam tahun-tahun ini. Enam juta orang mati kelaparan di Ukraina. Dua puluh persen penduduk Kazakhstan lenyap. Di Kaukasus saja, angka kematian mencapai satu juta. Stalin mengirim ribuan para penentang kebijakannya ke kamp kerja paksa di Siberia. Kamp-kamp ini, tempat para tahanan dipekerjakan sampai mati, menjadi kuburan bagi kebanyakan mereka. Di samping itu, puluhan ribu orang dibunuh oleh polisi rahasia Stalin. Di wilayah Krimea dan Turkistan, jutaan orang juga dipaksa pindah ke daerah-daerah terpencil di Uni Soviet.17 Akibat kebijakan berdarah Stalin, sekitar tiga puluh juta orang mati terbunuh. Menurut para ahli sejarah, Stalin merasakan kenikmatan tersendiri dari kekejaman ini. Di kantornya di Istana Kremlin, ia merasa senang ketika memeriksa daftar orang-orang yang dieksekusi dan dibunuh. Selain karena kondisi kejiwaannya, yang menjadikan Stalin pembunuh masal kejam adalah keyakinan kuatnya pada filsafat materialis. Dasar berpijak filsafat ini, dalam pengertian Stalin, adalah teori evolusi Darwin. Satu lagi yang menunjukkan keyakinan buta Stalin pada teori evolusi adalah penolakan hukum genetika Mendel oleh sistem pendidikan Soviet. Sejak awal abad ke-20, hukum Mendel telah diterima oleh kalangan ilmuwan kecuali di Uni Soviet. Penemuan ini menggugurkan klaim Lamarck, yang sebagiannya juga diyakini Darwin, tentang pewarisan sifat-sifat dapatan kepada generasi berikutnya. Ilmuwan Rusia Lysenko menganggap hal ini sebagai pukulan berat terhadap teori evolusi, dan merumuskan teori alternatif Lamarckis. Stalin kagum atas ide Lysenko dan kemudian mengangkatnya 17 Ibid., 80 TASAMUH, Volume 8 Nomor 1, April 2016 sebagai kepala lembaga-lembaga ilmiah milik pemerintah. Hingga kematian Stalin, ilmu genetika tidak diterima di lembaga-lembaga ilmiah Uni Soviet.18 Evolusi dan Komunisme Cina Selama pemerintahan totaliter Stalin, rejim komunis lainnya yang berlandaskan Darwinisme didirikan di Cina. Pada tahun 1949, setelah perang saudara yang panjang, kaum komunis memenangkan kekuasaan di bawah pimpinan Mao Tse Tung. Mao mendirikan rezim penindas dan berdarah, sebagaimana sekutunya Stalin yang memberinya banyak dukungan. Hukuman mati yang tak terhitung jumlahnya terjadi di China. Sekitar tiga puluh juta orang mati kelaparan akibat kebijakan kejam Mao. Selama Revolusi Kebudayaan, kelompok pemuda militan yang disebut “Pasukan Pengawal Merah Mao” menghempaskan negeri ini dalam kekacauan dan ketakutan. Mao menjelaskan landasan filosofis rezimnya dengan menyatakan secara terang-terangan bahwa: “Sosialisme Cina didirikan di atas Darwin dan teori evolusi”. Ahli sejarah universitas Harvard, James Reeve Pusey juga mengakui pengaruh Darwinis pada Maoisme. Dalam bukunya yang berjudul “China and Charles Darwin”, Pusey mengatakan sebagai berikut:19 Darwin telah membenarkan perubahan dan revolusi dengan kekerasan. Sungguh, ini adalah satu di antara hal paling berharga yang diberikan Darwin pada China. Dan ini betul-betul sesuai dengan pemikiran Mao Tse Tung. Komunisme telah menyebabkan teror, perang gerilya dan perang saudara di banyak negara. Di Kamboja, Khmer merah komunis membantai hampir sepertiga dari penduduk negeri. Manusia dibunuh hanya karena mengambil sedikit makanan dari lahan pertanian kolektif atau mengucapkan perkataan yang bertentangan dengan komunisme. Bukti-bukti pembantaian Kamboja menampakkan kebiadaban komunisme tanpa perlu dijelaskan lagi. 18 19 Ibid., Ibid., Anis Masduqi – Sejarah Eropa Pada Abad Ke – 19 81 Selama seratus lima puluh tahun, ideologi komunis, yang identik dengan pertikaian dan peperangan, senantiasa berjalan beriringan dengan Darwinisme. Kini, kaum Marxis dan komunis masih merupakan pendukung utama Darwinisme. Di hamper setiap negara, pendukung terdepan teori evolusi cenderung berpandangan Marxis. Mudah dipahami, sebab sebagaimana perkataan Karl Marx sendiri, teori evolusi berisi dasar berpijak pada sejarah alam bagi ideologi materialisnya. Turki Turkestan Meskipun pembubaran Uni Soviet telah diterima sebagai simbul kematian Komunisme sebagai rezim politis, ideologi dan penerapan Komunis masih terus berlanjut. Rusia dan China adalah negara di mana mentalitas Tentara Merah ini masih sangat berpengaruh. Kebijakan Rusia di Chechnya, dan perlakuan pemerintah Cina di Turkistan Timur, adalah bukti paling penting tentang hal ini. Warga Turki Muslim yang kini hidup di Turkistan Timur, tengah mengalami penindasan yang tiada hentinya di bawah kekuasaan Cina yang didirikan Mao. Para pemuda ditahan tanpa alasan, dihukum mati dengan tuduhan melawan rezim, dan ditembak. Umat Islam dilarang menjalankan kewajiban agama secara berjamaah, dan pendapatan mereka diambil dengan cara menerapkan pajak yang tidak manusiawi. Orangorang hidup di ambang kematian karena kelaparan, dan uji nuklir yang dilakukan persis di depan mereka; akibatnya merekapun terjangkiti penyakit mematikan.20 Umat Turki Muslim di Turkistan Timur telah hidup dibawah penjajahan Cina selama 250 tahun. Cina memberi nama “Sinkiang” atau “tanah terjajah” kepada Turkistan Timur, yang merupakan wilayah Muslim, dan menyatakannya sebagai wilayah kekuasaan mereka. Setelah kaum Komunis yang dipimpin Mao mengambil alih wilayah tersebut pada tahun 1949, 20 Ibid. 82 TASAMUH, Volume 8 Nomor 1, April 2016 penindasan terhadap warga Turkistan Timur meningkat bahkan lebih kejam dari sebelumnya. Kebijakan rezim Komunis bertujuan untuk menghancurkan kaum Muslimin yang menolak asimilasi. Ketika mengkaji berbagai peristiwa ini, para pengamat sejarah terjebak dalam kesalahan saat mengemukakan bahwa penyebab utama dari segala kebiadaban dan kejahatan ini adalah dikarenakan Lenin, Stalin, Mao, Hitler, dan Mussolini memiliki kepribadian yang tidak stabil dan menderita penyakit kejiwaan.21 Adalah sebuah kebenaran yang jelas dan pasti bahwa orang-orang ini beserta ideologi yang dianutnya, semuanya meminum dari mata air yang sama. Segala kebijakan yang mereka terapkan dikemukakan sebagai sesuatu yang sah dan satu- satunya yang benar berdasarkan sumber yang sama. Singkatnya, di belakang orang-orang ini ada satu pihak lain yang paling bertanggung jawab atas semua yang telah terjadi. Penyebab munculnya para pemimpin yang tidak manusiawi dan berpenyakit kejiwaan, yang menyeret jutaan manusia untuk mengikuti mereka, dan yang membolehkan mereka melakukan kejahatan, adalah pembenaran dan dukungan yang seolah tampak ilmiah tersebut, yang diberikan kepada mereka oleh filsafat materialis. Kritik-Kritik Karl Marx Filsafat Marx perlu dimengerti sebagai berasal dari kritiknya terhadap filsafat Hegel. Seperti Hegelian kiri lainnya, Marx berpendapat bahwa pemahaman tentang rekonsiliasi antara kenyataan dan kesadaran pada Hegel tidak berarti apa- apa buat praxis. Pemahaman itu tetap pemahaman belaka, sementara realitas realitas tetap, seperti keadaan semula. Marx ingin membangun suatau filsafat praksis yang benar-benar dapat menghasilkan kesadaran untuk merubah realitas, yang pada waktu itu sangat tidak 21 Ibid., h. 233-234. Anis Masduqi – Sejarah Eropa Pada Abad Ke – 19 83 berkenan, yakni masyarakat kapitalis berkelas dan bercirikan pengisapan. Untuk membangun filsafat praksis yang baru, Marx tetap memakai metode dialektia dari Hegel, hanya metode dialektis diletakan dalam prespektif materialis. Jelas, Marx memakai metode dialektis Hegel untuk menganalisa itulah akan ditemukan unsur-aunsur yang menunjang terciptanya suatu praksis yang sanggup mengubah keadaan yang tidak diinginkan. Marx tidak ingin berspekulasi secara teoritis, ia juga tidak mengiginkan semata-mata teori baru, tapi ia mengarah pada suatu praksis sosial yang revolusioner. Marx sendiri menuduh dialektika Hegel sebagai idealis semata-mata, berlawanan dengan dialektikanya yang bersifat materialis itu : Marx menyebut dialektikanya sebagai kritis dan revolusioner.22 Marx tidak lagi hanya ingin menerangkan atau memahami apakah keterasingan itu, tapi ia ingin menghapuskan keterasingan itu. Ia juga tidak ingin sekedar memahami masyarakat berkelas di mana terjadi pengisapan dan ketidakadilan sebagai tahap yang perlu ada, jika hal itu dilihat dalam prespektif sejarah secara keseluruhan yang memang sedang mengarah pada kebebasan seperti diajarkan oleh dialektika Hegel. Sebaliknya Marx hanya menginginkan bagaimana pengisapan dan ketidakadilan dalam masyarakat berkelas itu dihapuskan. Marx kemudian, yakin bahwa ketidakadilan, pengisapan, penindasan dapat dihapuskan dalam masyarakat tanpa kelas, masyarakat tersebut diperoleh dengan penjungkirbalikan masyarakat kapitalisme oleh revolusi proletariat. Manusia hidup dengan banyak pernyataan yang sama sekali tidak dijawab oleh suatu teori atau tindakan sosial-ekonomis. Hubungan materi dan jiwa, individu dan masyarakat, kebebasan dan keperluan, misteri kematian, pertanyaan- pertayaan cultural, religius, psikologis. Samasekali tidak dijelaskan oleh pendekatan Karl Marx. Bahkan banyak soal ekonomis diselesaikan denganterlalu mudah. Misalnya tidak jelas bahwa firdaus 22 Sindudinata, Dilema Usaha Manusia Rasional…, h. 41-42. 84 TASAMUH, Volume 8 Nomor 1, April 2016 duniawi akan mulai kalau segala sesuatu dimiliki secara kolektif.23 Tapi Marx juga meletakkan kapitalisme dalam seluruh perspektif sejarah, di mana kapitalisme secara dialektis akan mengarah kepada kehancurannya sendiri: marx mengatakan bahwa kapitalisme adalah akhir dan prasejarah manusia, dengan hancurnya kapitalisme mulailah babak baru sejarah manusia. Lewat kritiknya terhadap kapitalis, Marx mencita-citakan sosialisme. Meski demikian ia melawan anggapan tentang sosialisme utopis seperti diajukan oleh Carles Fourier (Prancis) dan Robert Owen (Inggris). Sosialis-sosialis utopis itu mengutuk masyarakat kapitalis dari segi moral, yakni sebagai masyarakat kapitalis itu, mereka menyodorkan cita-cita masyarakat sosialis. Marx tidak ingin menunjukan kehancuran masyarakat kapitalis dengan ketetapan ilmiah. Untuk itulah ia memusatkan diri hukum- hukum perkembangan ekonomi kapitalis, sampai dengan penghancuran.24 Marx mengatakan bahwa buruh menjadi barang yang dikuasai aturan pasar, hal itu pantas direnungkan meskipun juga hal itu tidak berlaku seratus persen di Eropa, USA, dan Jepang yang neokapitalis. Marxis ialah gejala kompleks, menjadi suatu messianisme humaniter yang berjuang untuk keselamatan manusia tanpa agama atau kesusilaan.25 Betapa kuatnya religius dan moralitas aktual dalam pemikiran Karl Marx, dengan khususnya yang berkaitan dengan kapitalisme dan komunisme kini kita pandang sebagai kesalahan serius. Berbeda dengan pemikiran Marx, kapitalis belumlah hancur. Marx dengan berlebihan meremehkan kekuatan kapitalisme untuk mereformasi dirinya. Penghormatan kepada komunisme belumlah muncul konflik antarahubungan dan kekuatan produksi mereka. Komunisme malah berkembang dalam kultur feodal,. Di negara-negara miskin seperti Rusia Cina. Meskipun begitu Marx memberi kontribusi 23 Dr. harry Hemersma, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, (Jakarta: PT. Gramedia, 1983), h. 73. 24 Sindudinata, Dilema Usaha Manusia Rasional…, h.44 25 M.A.W. Brouwer dan M. Puspa Heryadi, B.Ph., Sjarah Filsafat Barat Modern dan Sezaman, (Bandung : Alumni, 1986), h. 104. Anis Masduqi – Sejarah Eropa Pada Abad Ke – 19 85 dalam budaya intelektual, politik, pengaruh sosial, ekonomi dan kondisi historis pada kehidupan manusia dan pemikiran. Marx harus dianggap sebagai seorang ahli ekonomi politik besar dan pelopor sosiologi serta sejarah intelektual dan keberadaan politik abad ke-20.26 Pemikiran Marx meluas ke seluruh sudut dunia, komunisme Marx telah menyebar dari Rusia hingga negara-negara selanjutnya juga Ciona, Indocina, Afrika dan kini Amerika Latin..Marxisme memiliki kekuatan kekuatan sebagai sebuah ideologi bagi orang tertindas yang memaknai sejarah dunia sebagai eksploitasi ekonomi dan membuka jalan untuk kebebasan lewat revolusi agresif, penangkapan dengan penindas dunia dan kekayaan, lalu umat manusia akan ditebus dan dikembalikan ke surga. Hantu membayangi Eropa, Asia, Afrika dan Amerika Latin. Hantu membayangi dunia. Penutup Kritik-kritik Marx tentang dialektika tidak menjawab pertanyaan- pertanyaan yang serius. Banyak ahli sejarah yang mengatakan bahwa sesungguhnya tak ada kelaziman dialektika dalam sejarah. Kejadian apa saja dalam sejarah dapat dianggap sebagai tesis, antitesis dan sintesis hali ini harus bergantung pada prespektif atau pandangan seseorang. Manusia hidup dengan banyak pertanyaan yang sama sekali tidak dijawab oleh suatu tindakan sosial-ekonomi. Hubungan materi dan jiwa, individu dan masyarakat, kebebasan dan keperluan, misteri kematian, pertanyaan- pertanyaan kultural, religius, psikologis dan seterusnya, sama sekali tidak dijelaskan oleh pendekatan Marx. Bahkan soal ekonomis diselesaikan dengan terlalu mudah. Misalnya tidak jelas bahwa firdaus duniawi akan mulai kalau segala sesuatu dimiliki secara kolektif. 26 T.Z. Lavine, Marx Konflik Kelas dan Orang yang Terasing …, h. 102. 86 TASAMUH, Volume 8 Nomor 1, April 2016 DAFTAR PUSTAKA Bertand Russell, Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi SosioPolitik dari zaman Kini Hingga Sekarang, Terj. Sigit Jetmiko, Agung Prihantoro, Imam Mutaqim, Imam Baihaqi, dan Mohammad Shodiq, (Yogyakarta: 2003), h. 1018. Dr. harry Hemersma, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, (Jakarta: PT. Gramedia, 1983). Henry D. Aiken., Abad Ideologi, (Yogyakarta: Yayasan Benteng Budaya, 2002). Henry J. Schmandt, Henry J. Schmandt, Filsafat Politik Kajian Historis dari Zaman Yunani Kuno sampai Zaman Modern, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2002). Imam Munawir, Drs. Ec, Posisi Islam di Tengah Pertarungan Ideologi dan Keyakinan, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1988). Info@ Harun Yahya.com., lihat: WWW Bencana Kemanusiaan Akibat Darwinisme M.A.W. Brouwer dan M. Puspa Heryadi, B.Ph., Sjarah Filsafat Barat Modern dan Sezaman, (Bandung : Alumni, 1986). Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, (Jakarta: Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, 1977). Sindudinata, Dilema Usaha Manusia Rasional, (Jakarta: PT. Gramedia,1983). T.Z. Lavine, Marx Konflik Kelas dan Orang yang Terasing, (Yogyakarta : Penerbit Delima, 2003).