JURNAL Al-Manaj Volume 5. Nomor 1 Juni 2025 P-ISSN: 27752062 E-ISSN: 27758729 OPTIMALISASI PERAN DAN FUNGSI MASJID DALAM KEGIATAN DAKWAH: STUDI KASUS DI MASJID BANDAR KLIPPA Muhammad Hizbullah1. Haidir2. Yeltriana3. Syahrul Bakti Harahap4 Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah Email: muhammadhizbullah@umnaw. Kata kunci Masjid, dakwah Islam, masyarakat, kegiatan sosial keagamaan, fungsi masjid Keywords Mosque. Islamic preaching, community empowerment, socioreligious activities, function of mosque Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran dan fungsi Masjid Al-Muhajirin di Desa Bandar Klippa dalam mengoptimalkan kegiatan dakwah. Masjid sebagai institusi keagamaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga berperan penting dalam pembinaan spiritual dan sosial masyarakat. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) telah berhasil melaksanakan berbagai program dakwah seperti pengajian rutin, pembinaan anakanak, peringatan hari besar Islam, serta kegiatan sosial seperti makan bersama dan gerakan sedekah kampung. Optimalisasi fungsi masjid ini menunjukkan peran strategis masjid dalam memperkuat nilai-nilai keislaman, mempererat ukhuwah, serta memberdayakan masyarakat secara spiritual dan sosial. Temuan ini dapat menjadi model pemberdayaan masjid dalam konteks dakwah berbasis komunitas lokal. Abstract This study aims to analyze the role and function of the Al-Muhajirin Mosque in Bandar Klippa Village in optimizing da'wah activities. The mosque as a religious institution not only functions as a place of ritual worship, but also plays an important role in the spiritual and social development of the community. Using descriptive qualitative methods, data were collected through observation, interviews, and documentation. The results of the study indicate that the Mosque Prosperity Council (DKM) has succeeded in implementing various da'wah programs such as routine religious studies, children's development, commemoration of Islamic holidays, and social activities such as eating together and village alms movements. Optimizing the function of this mosque shows the strategic role of the mosque in strengthening Islamic values, strengthening brotherhood, and empowering the community spiritually and socially. These findings can be a model for mosque empowerment in the context of local community-based da'wah. Muhammad Hizbullah. Haidir. Yeltriana. Syahrul Bakti Harahap Optimalisasi Peran Dan Fungsi Masjid Dalam Kegiatan Dakwah: Studi Kasus Di Masjid Bandar Klippa Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 113-120 Pendahuluan Masjid merupakan tempat ibadah yang memiliki fungsi multifaset. Pada dasarnya, masjid tidak hanya berperan sebagai tempat pelaksanaan ibadah shalat, tetapi juga menjadi wadah dan pusat berbagai kegiatan positif yang bermanfaat bagi umat Islam. Oleh karena itu, umat Islam seharusnya mampu merancang peran masjid secara komprehensif untuk masa depan, mencakup aspek agama . , politik, ekonomi, sosial, dan seluruh dimensi kehidupan, sebagaimana fungsi masjid pada masa Rasulullah. Memakmurkan masjid merupakan kewajiban yang secara eksplisit tertuang dalam Al-QurAoan. Masjid menjadi media strategis yang krusial dalam aktivitas dakwah Islam, bukan hanya sebagai sarana ibadah ritual, tetapi juga sebagai tempat pembinaan akhlak dan pengembangan peradaban Islam. Ia memiliki potensi besar sebagai sentra peningkatan kualitas dakwah Islam. Namun, kenyataannya masih banyak masjid yang belum optimal dalam menjalankan fungsi tersebut. Oleh karena itu, peningkatan dakwah Islam dapat dilakukan melalui penggiatan berbagai kegiatan keagamaan dan sosial yang sesuai dengan ajaran Islam. Ajaran Islam yang dianut masyarakat berpotensi menjadi instrumen perubahan sosial dan peningkatan motivasi dalam kehidupan, sehingga mempercepat transformasi sosio-ekonomi di sekitar masjid. Salah satu masjid yang menjadi fokus penelitian ini adalah Masjid Al-Muhajirin yang terletak di Desa Bandar Klippa. Masjid ini dipilih sebagai lokasi penelitian untuk menelaah sejauh mana kontribusi dewan kenaziran dalam mengembangkan kegiatan dakwah di lingkungan tersebut. Penelitian ini diarahkan untuk mengetahui bagaimana peran strategis masjid dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap ajaran Islam, baik melalui pendekatan tauhid, fikih, tasawuf, hadis, maupun tafsir Al-QurAoan. Pengetahuan keislaman yang kuat diharapkan dapat menjadi benteng bagi umat Islam dari perbuatan maksiat serta dari pengaruh pemikiran liberal dan ajaran-ajaran sesat yang menyimpang dari nilai-nilai Islam. Penelitian mengenai peran dan fungsi Masjid Al-Muhajirin dalam optimalisasi dakwah memiliki urgensi yang tinggi dalam berbagai aspek. Pertama, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman masyarakat tentang pentingnya masjid sebagai pusat penyebaran ajaran Islam, serta sebagai pusat spiritual dan edukasi umat. Kedua, melalui identifikasi peran masjid secara mendalam, penelitian ini dapat meningkatkan efektivitas strategi dakwah yang dijalankan, sehingga kualitas dan dampak pesan dakwah menjadi lebih Ketiga, penelitian ini membuka peluang untuk mengembangkan model atau pedoman dakwah yang ideal dan dapat diterapkan oleh masjid lainnya. Keempat, pemahaman atas fungsi masjid dalam dakwah juga memberi dampak langsung terhadap pemberdayaan masyarakat, baik dalam hal pengetahuan keagamaan, partisipasi sosial, maupun pengembangan keterampilan berbasis nilai Islam. Selain itu, penelitian ini mendorong pembinaan keimanan jamaah melalui programprogram yang dirancang secara terstruktur dan relevan dengan kebutuhan spiritual Khususnya, pemuda menjadi kelompok strategis yang perlu mendapat perhatian dalam dakwah masjid. melalui penelitian ini, dapat dirancang program pemberdayaan pemuda agar menjadi generasi yang paham dan berkomitmen terhadap nilai-nilai Islam. Penelitian ini juga berpotensi mengidentifikasi tantangan-tantangan dakwah yang dihadapi masjid, sekaligus menawarkan solusi strategis yang aplikatif. Di sisi lain, penelitian ini memperkuat kapasitas pemimpin agama dalam membimbing jamaah secara spiritual dan moral. Secara akademik, hasil penelitian ini akan memberikan kontribusi signifikan terhadap literatur ilmiah di bidang studi keislaman dan kehidupan sosial keagamaan. Dengan menyadari urgensi Muhammad Hizbullah. Haidir. Yeltriana. Syahrul Bakti Harahap Optimalisasi Peran Dan Fungsi Masjid Dalam Kegiatan Dakwah: Studi Kasus Di Masjid Bandar Klippa Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 113-120 tersebut, penelitian ini menunjukkan bahwa masjid memiliki peran yang sangat penting sebagai institusi utama dalam menyebarkan ajaran dan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk: . untuk mengidentifikasi peran Masjid Al-Muhajirin dalam optimalisasi dakwah. untuk menganalisis fungsi-fungsi dakwah di Masjid Al-Muhajirin dalam konteks peningkatan kualitas dakwah. untuk mengevaluasi efektivitas metode dakwah yang digunakan di masjid tersebut. Metode Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif Penelitian kualitatif deskriptif merupakan bentuk penelitian yang mengadopsi pendekatan kualitatif dan bertujuan untuk memberikan deskripsi yang rinci tentang fenomena, peristiwa, atau kondisi sosial tertentu. Pendekatan ini memanfaatkan data kualitatif untuk menggambarkan informasi secara detail. Secara umum, penelitian kualitatif deskriptif digunakan untuk menganalisis dan memahami suatu fenomena dengan lebih mendalam. Dalam penelitian kualitatif deskriptif, peneliti mengumpulkan data melalui metode observasi, wawancara, atau analisis dokumen. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif, di mana penjelasan dan gambaran detail diberikan terhadap temuan-temuan penelitian tanpa melakukan generalisasi statistik. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk merinci dan memahami konteks dan karakteristik suatu fenomena secara mendalam. Hal ini dilakukan karena penelitian ini bertujuan untuk mennganalisis kondisi yang sebenarnya secara alamiah. Adapun tahapan yang dilakukan yaitu berawal dari observasi awal, penyusunan instrumen wawancara, melakukan wawancara, penarikan kesimpulan. Lokasi penelitian ini di Desa Bandar Klippa Kecamatan Percut Sei Tuan, dan berdasarkan survei bahwa penelitian ini dilakukan di Masjid Al Muhajirin Bandar Klippa. DKM. Jamaah dan Masyarakat Masjid Al Muhajirin Bandar Klippa. Menurut Spreadley dalam Sugiyono penelitian kualitatif menggunakan istilah situasi sosial, dengan menggunakan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Sumber data yang digunakan terdiri dari 2 macam, yaitu data primer dan sekunder. Hasil dan Pembahasan Penguatan Fungsi Ibadah Ritual Masjid Al-Muhajirin di Desa Bandar Klippa menunjukkan komitmen yang kuat dalam mengoptimalkan fungsi ibadah ritual, khususnya melalui pelaksanaan shalat fardhu lima waktu secara berjamaah. Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) secara aktif mengajak jamaah untuk hadir dan membudayakan kebiasaan shalat berjamaah sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Tidak hanya pada waktu-waktu ramai seperti Maghrib dan Isya, tetapi juga pada waktu-waktu yang biasanya sepi seperti Subuh. Zuhur, dan Ashar. Hal ini mencerminkan kesungguhan DKM dalam menjadikan masjid sebagai pusat kehidupan spiritual masyarakat. Berbagai langkah strategis dilakukan untuk menunjang kegiatan ini, seperti memastikan ketersediaan imam dan bilal, menjaga kebersihan dan kenyamanan masjid, hingga menyediakan minuman atau makanan ringan untuk menciptakan suasana akrab dan kekeluargaan antarsesama jamaah. Konsistensi dalam menghidupkan shalat berjamaah tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas ibadah individual, tetapi juga membentuk budaya keagamaan kolektif yang kokoh. Melalui kegiatan ini, jamaah terlibat dalam interaksi sosial yang positif, mempererat ukhuwah islamiyah, serta memperkuat rasa kepemilikan terhadap masjid sebagai Muhammad Hizbullah. Haidir. Yeltriana. Syahrul Bakti Harahap Optimalisasi Peran Dan Fungsi Masjid Dalam Kegiatan Dakwah: Studi Kasus Di Masjid Bandar Klippa Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 113-120 rumah bersama. Kehadiran jamaah secara rutin di masjid menciptakan ruang dakwah yang lebih terbuka dan efektif, karena menjadi titik temu yang dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan dan informasi kegiatan masjid lainnya. Lebih jauh, ibadah berjamaah juga berfungsi sebagai sarana pembinaan mental dan karakter umat, mengajarkan nilai-nilai seperti disiplin, kesetaraan, serta tanggung jawab sosial. Dengan demikian, penguatan fungsi ibadah ritual di Masjid Al-Muhajirin bukan sekadar pemenuhan kewajiban agama, tetapi merupakan strategi dakwah yang mendasar. Shalat berjamaah tidak hanya menjadi simbol kesalehan personal, melainkan juga menjadi fondasi pembentukan komunitas Muslim yang solid dan berdaya. Melalui pendekatan ini, masjid benar-benar difungsikan sebagaimana mestinya, yakni sebagai pusat spiritual, sosial, dan moral masyarakat. Pendidikan Islam Melalui Kegiatan Pengajian Tematuk Salah satu bentuk konkret optimalisasi fungsi dakwah Masjid Al-Muhajirin adalah pelaksanaan pendidikan Islam melalui kegiatan pengajian tematik yang dilakukan secara rutin dan terstruktur. Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) tidak hanya menyelenggarakan kegiatan pengajian secara insidental, melainkan telah membentuk pola pengajaran agama Islam yang sistematis sesuai dengan kebutuhan jamaah. Setiap hari Senin malam, diadakan pengajian dengan fokus pada kajian hadis dan tauhid, yang bertujuan untuk memperkuat fondasi akidah umat dan membentuk pemahaman keislaman yang benar sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW. Kajian ini sangat penting untuk mencegah masuknya pemahaman yang menyimpang serta membentengi umat dari pengaruh ideologi liberal dan sekularisme yang berkembang di Pada waktu Subuh di hari Ahad, masjid mengadakan kajian yang lebih mendalam mengenai fiqih dan tafsir Al-QurAoan. Kajian ini bersifat aplikatif karena membahas persoalan hukum Islam dalam kehidupan sehari-hari, serta memberikan pemahaman yang benar terhadap ayat-ayat suci Al-QurAoan. Melalui kegiatan ini, jamaah dibekali dengan wawasan yang lebih luas mengenai hukum Islam, baik dari sisi ibadah maupun muamalah, serta diarahkan untuk menerapkan nilai-nilai QurAoani dalam kehidupan sosial. Waktu subuh dipilih karena suasananya yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk aktivitas harian, sehingga menjadi waktu yang ideal untuk mendalami ilmu agama. Selain itu. Masjid Al-Muhajirin juga menyelenggarakan program "Maghrib Mengaji" yang ditujukan khusus untuk anak-anak. Program ini merupakan bagian dari pembinaan dini terhadap generasi muda agar mereka tumbuh dalam lingkungan yang religius dan memiliki kecintaan terhadap Al-QurAoan sejak kecil. Melalui kegiatan ini, anak-anak tidak hanya belajar membaca Al-QurAoan, tetapi juga diajarkan adab, akhlak Islami, serta cerita-cerita teladan dari para nabi dan sahabat. Pengajian anak-anak ini menjadi strategi jangka panjang untuk mencegah terjadinya degradasi moral generasi muda akibat pengaruh negatif media dan lingkungan yang tidak kondusif. Secara keseluruhan, pelaksanaan pengajian tematik di Masjid Al-Muhajirin menunjukkan adanya kesinambungan dakwah bil-lisan . enyampaian lisan melalui cerama. dan dakwah bil-hikmah . endidikan yang bijaksana dan terstruktu. Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai media transfer ilmu keislaman, tetapi juga sebagai proses internalisasi nilainilai Islam yang berkelanjutan. Strategi ini juga menjadi bagian dari pendekatan dakwah yang kontekstual dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat, baik dari sisi usia, pemahaman keagamaan, maupun tingkat partisipasi. Oleh karena itu, pengajian tematik yang dilaksanakan Muhammad Hizbullah. Haidir. Yeltriana. Syahrul Bakti Harahap Optimalisasi Peran Dan Fungsi Masjid Dalam Kegiatan Dakwah: Studi Kasus Di Masjid Bandar Klippa Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 113-120 oleh DKM Masjid Al-Muhajirin merupakan model pendidikan nonformal yang mampu memperkuat kapasitas spiritual dan intelektual umat secara simultan. Peringatan Hari Besar Islam Sebagai Media Dakwah Massal Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) yang rutin diselenggarakan oleh Masjid AlMuhajirin merupakan salah satu bentuk optimalisasi fungsi masjid sebagai pusat dakwah Berbagai kegiatan keagamaan seperti Maulid Nabi Muhammad SAW. IsraAo MiAoraj. Tahun Baru Hijriyah, serta ritual khas bulan Ramadan seperti shalat tarawih, tadarus, dan buka puasa bersama menjadi momen penting yang tidak hanya berfungsi sebagai bentuk penghormatan terhadap peristiwa-peristiwa bersejarah dalam Islam, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan nilai-nilai keislaman kepada masyarakat secara luas. Selain itu, perayaan Idul Fitri dan Idul Adha yang dilaksanakan dengan penuh kekhidmatan serta kegiatan penyembelihan hewan qurban memperlihatkan bahwa masjid mampu menjadi pusat konsolidasi spiritual, sosial, dan budaya umat. Kegiatan-kegiatan tersebut dirancang secara terbuka dan inklusif sehingga mampu menjangkau kalangan masyarakat yang lebih luas, termasuk mereka yang tidak aktif mengikuti kegiatan rutin di masjid. Dengan suasana yang meriah dan penuh semangat kebersamaan, peringatan hari besar Islam mampu menciptakan atmosfer religius yang membangkitkan kembali semangat keagamaan jamaah. Misalnya, dalam perayaan Maulid Nabi, penceramah biasanya menyampaikan kisah-kisah inspiratif dari kehidupan Rasulullah SAW yang dapat dijadikan teladan dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan dalam kegiatan IsraAo MiAoraj, pesan-pesan tentang pentingnya shalat dan kedekatan kepada Allah kembali ditegaskan kepada masyarakat. Momentum Ramadan dimanfaatkan secara optimal oleh DKM Masjid Al-Muhajirin dengan memperbanyak kegiatan keislaman seperti tarawih berjamaah, tadarus bersama, dan buka puasa kolektif. Kegiatan buka bersama tidak hanya mempererat hubungan antarjamaah, tetapi juga mendorong semangat berbagi dan kepedulian sosial, terutama kepada fakir miskin dan anak yatim. Sementara dalam perayaan Idul Adha, kegiatan qurban menjadi sarana nyata untuk mengajarkan nilai-nilai pengorbanan, keikhlasan, dan kesetaraan sosial, di mana daging hewan qurban didistribusikan secara adil kepada masyarakat yang membutuhkan. Melalui pendekatan ini, peringatan Hari Besar Islam tidak hanya menjadi peristiwa ritualistik, tetapi bertransformasi menjadi medium dakwah yang kuat. Di dalamnya terkandung dakwah bil-lisan melalui ceramah dan tausiyah, dakwah bil-hal melalui tindakan nyata seperti pembagian qurban dan buka bersama, serta dakwah bil-qudwah melalui keteladanan para pengurus masjid dalam menyelenggarakan kegiatan secara profesional dan penuh keikhlasan. Kegiatan ini juga menjadi strategi untuk memperluas cakupan partisipasi jamaah yang sebelumnya pasif menjadi lebih aktif dan terlibat dalam kehidupan keagamaan. Dengan demikian. PHBI yang diselenggarakan Masjid Al-Muhajirin merupakan bagian penting dari strategi dakwah yang massif dan menyentuh berbagai lapisan masyarakat. Melalui peringatan hari-hari besar Islam, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang publik yang menyatukan umat dalam semangat ukhuwah, pembelajaran, dan pengamalan ajaran Islam secara kolektif. Model dakwah Berbasis Komunitas Lokal Masjid Al-Muhajirin di Desa Bandar Klippa menjalankan model dakwah yang berbasis komunitas lokal, yakni pendekatan dakwah yang bertumpu pada kondisi riil, kebutuhan, serta karakteristik sosial budaya masyarakat sekitar. Model ini tercermin dari berbagai program Muhammad Hizbullah. Haidir. Yeltriana. Syahrul Bakti Harahap Optimalisasi Peran Dan Fungsi Masjid Dalam Kegiatan Dakwah: Studi Kasus Di Masjid Bandar Klippa Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 113-120 dakwah dan kegiatan sosial-keagamaan yang tidak bersifat top-down atau seragam, tetapi justru dirancang dengan mempertimbangkan aspirasi dan keterlibatan warga secara aktif. Dalam hal ini. Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) tidak hanya berperan sebagai penyelenggara acara semata, melainkan juga sebagai fasilitator, mediator, dan penggerak yang menjembatani nilai-nilai Islam dengan konteks kehidupan masyarakat lokal. Keberhasilan model dakwah ini terletak pada sifatnya yang inklusif, di mana semua lapisan masyarakatAibaik anak-anak, pemuda, orang tua, maupun lansiaAimendapat ruang untuk berpartisipasi. Misalnya, kegiatan AuMaghrib MengajiAy ditujukan bagi anak-anak, sementara pengajian tematik rutin menyasar jamaah dewasa. Bahkan, kegiatan sosial seperti makan bersama dan sedekah kampung melibatkan masyarakat luas, termasuk mereka yang mungkin kurang aktif dalam kegiatan keislaman formal. Kegiatan-kegiatan tersebut bukan hanya dirancang dari atas oleh pengurus masjid, tetapi lahir dari interaksi dan dialog antara DKM dan masyarakat, sehingga program yang dilaksanakan bersifat responsif dan relevan dengan kebutuhan warga. Pendekatan dakwah berbasis komunitas ini juga adaptif terhadap kondisi sosial dan dinamika masyarakat sekitar. DKM Masjid Al-Muhajirin mampu membaca situasi dengan baik, misalnya dengan mengintensifkan kegiatan spiritual dan sosial selama bulan Ramadan, memanfaatkan momen Hari Besar Islam untuk memperkuat kebersamaan umat, dan menggelar gerakan infak dan sedekah dalam format yang sederhana namun menyentuh kehidupan warga secara langsung. Dalam hal ini. DKM berfungsi sebagai katalisator perubahan sosial yang menanamkan nilai-nilai keislaman dalam praktik kehidupan sehari-hari masyarakat, bukan sekadar dalam ceramah dan simbol. Model dakwah seperti ini sangat selaras dengan pendekatan dakwah Islam kontemporer yang menekankan pada kontekstualisasi, yaitu menyampaikan ajaran Islam sesuai dengan realitas sosial dan budaya masyarakat tempat dakwah dilakukan. Dalam konteks ini, dakwah tidak dipahami hanya sebagai transfer ilmu dari penceramah kepada pendengar, tetapi sebagai proses partisipatif untuk membangun kesadaran keagamaan bersama yang hidup, dinamis, dan DKM sebagai pemegang peran utama memiliki posisi strategis untuk mengarahkan gerak dakwah agar lebih membaur dengan denyut kehidupan warga, sehingga masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pembinaan umat dan transformasi Dengan demikian. Masjid Al-Muhajirin telah mempraktikkan model dakwah yang tidak hanya efektif dalam menyampaikan pesan-pesan Islam, tetapi juga mampu memperkuat solidaritas sosial, meningkatkan partisipasi warga, dan menjadikan Islam sebagai nilai hidup yang hadir dalam aktivitas harian umat. Inilah wajah dakwah berbasis komunitas lokal yang sesungguhnya dakwah yang berakar, berdaya ubah, dan berkelanjutan. Tantangan dan Keterbatas Meskipun artikel ini tidak secara eksplisit memaparkan tantangan yang dihadapi dalam proses optimalisasi fungsi Masjid Al-Muhajirin, namun dari berbagai deskripsi kegiatan dan dinamika pelaksanaannya, dapat disimpulkan adanya sejumlah kendala dan keterbatasan yang bersifat implisit namun signifikan. Tantangan-tantangan ini perlu dicermati sebagai bagian penting dalam evaluasi keberlanjutan dakwah berbasis masjid. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan sumber daya manusia (SDM), terutama dalam hal ketersediaan daAoi atau penceramah yang memiliki kompetensi keilmuan, keterampilan komunikasi, serta pemahaman kontekstual terhadap kondisi masyarakat. Dalam konteks dakwah komunitas, dibutuhkan sosok daAoi yang bukan hanya menguasai materi Muhammad Hizbullah. Haidir. Yeltriana. Syahrul Bakti Harahap Optimalisasi Peran Dan Fungsi Masjid Dalam Kegiatan Dakwah: Studi Kasus Di Masjid Bandar Klippa Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 113-120 keislaman, tetapi juga mampu menyampaikan pesan dakwah secara komunikatif, membumi, dan relevan dengan realitas sosial jamaah. Minimnya SDM seperti ini dapat menghambat variasi dan kedalaman materi pengajian yang diberikan, serta mengurangi daya tarik program dakwah bagi jamaah yang memiliki latar belakang dan kebutuhan yang berbeda. Tantangan berikutnya adalah keterbatasan dana untuk mendukung keberlangsungan program-program masjid. Sebagian besar kegiatan keagamaan dan sosial di masjid membutuhkan anggaran operasional, baik untuk konsumsi jamaah, biaya logistik, publikasi kegiatan, maupun penghargaan bagi narasumber. Masjid Al-Muhajirin memang telah berinisiatif melalui gerakan AuSedekah KampungAy sebagai bentuk penggalangan dana, namun pola infak sukarela ini masih sangat bergantung pada semangat masyarakat dan belum memiliki sistem pengelolaan keuangan yang berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang. Tanpa dukungan dana yang stabil dan sistematis, banyak program berpotensi tidak konsisten atau hanya bergantung pada momen-momen tertentu. Selain itu, partisipasi masyarakat yang fluktuatif juga menjadi tantangan tersendiri. Umumnya, tingkat kehadiran jamaah meningkat secara drastis pada momen hari besar Islam seperti Ramadan. Maulid Nabi, dan Idul Fitri, tetapi cenderung menurun pada hari-hari biasa. Ketergantungan pada momentum keagamaan menunjukkan bahwa kedekatan sebagian warga terhadap masjid belum sepenuhnya tumbuh sebagai komitmen spiritual yang berkelanjutan. Ketidakstabilan partisipasi ini berdampak langsung pada efektivitas dakwah, baik dari segi konsistensi audiens maupun pengaruh jangka panjang terhadap transformasi sosialkeagamaan. Oleh karena itu, dibutuhkan sejumlah langkah strategis sebagai rekomendasi. Pertama, diperlukan pelatihan manajemen dakwah bagi para pengurus masjid, termasuk dalam hal pengelolaan program, komunikasi publik, penggalangan dana, dan manajemen relawan. Pelatihan ini akan meningkatkan kapasitas internal masjid agar lebih profesional dan adaptif dalam menghadapi tantangan dakwah kontemporer. Kedua, masjid perlu membangun jaringan kemitraan dengan lembaga eksternal, baik itu organisasi keislaman, lembaga zakat, lembaga pendidikan, maupun pemerintah daerah, untuk mendapatkan dukungan sumber daya dan memperluas jangkauan dakwah. Kolaborasi ini tidak hanya membantu dari sisi teknis dan finansial, tetapi juga membuka peluang inovasi program yang sesuai dengan kebutuhan Dengan memperhatikan tantangan dan keterbatasan yang ada, serta menerapkan rekomendasi yang tepat. Masjid Al-Muhajirin memiliki potensi besar untuk terus berkembang sebagai pusat dakwah yang dinamis, responsif, dan berdaya tahan dalam melayani umat secara berkelanjutan. Kesimpulan Penelitian ini menegaskan bahwa Masjid Al-Muhajirin di Desa Bandar Klippa telah berhasil mengoptimalkan peran dan fungsinya sebagai pusat dakwah dan pemberdayaan masyarakat melalui berbagai kegiatan keagamaan dan sosial. Fungsi masjid tidak hanya terbatas sebagai tempat ibadah ritual, tetapi telah diperluas menjadi pusat pendidikan Islam, media dakwah massal melalui peringatan hari besar Islam, serta model dakwah berbasis komunitas lokal yang adaptif dan partisipatif. Program-program seperti shalat berjamaah, pengajian tematik. AuMaghrib MengajiAy untuk anak-anak, kegiatan sosial seperti makan bersama, hingga gerakan AuSedekah KampungAy membuktikan bahwa masjid mampu memainkan peran strategis dalam membentuk karakter umat, mempererat ukhuwah islamiyah, serta menginternalisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Muhammad Hizbullah. Haidir. Yeltriana. Syahrul Bakti Harahap Optimalisasi Peran Dan Fungsi Masjid Dalam Kegiatan Dakwah: Studi Kasus Di Masjid Bandar Klippa Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 113-120 Keberhasilan ini ditopang oleh kepemimpinan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) yang responsif dan kontekstual dalam merancang serta melaksanakan program dakwah yang relevan dengan kebutuhan lokal. Namun demikian, penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa tantangan yang perlu diatasi, antara lain keterbatasan sumber daya manusia daAoi yang kompeten, minimnya pendanaan berkelanjutan untuk program dakwah, dan partisipasi jamaah yang fluktuatif. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kapasitas pengurus masjid melalui pelatihan manajemen dakwah, serta pengembangan jaringan kemitraan dengan berbagai lembaga eksternal. Dengan mengatasi kendala-kendala tersebut dan mempertahankan pendekatan dakwah yang kontekstual dan berbasis komunitas. Masjid Al-Muhajirin dapat menjadi model ideal bagi optimalisasi peran masjid sebagai agen transformasi spiritual dan sosial dalam masyarakat Muslim kontemporer. Referensi