Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Enhancing Students' Understanding of Islamic History through ProblemBased Learning: A Classroom Action Research at MIN 10 Pesisir Selatan Weni Fitri Yasri 1. Aat Supriana2 1 MIN 10 Pesisir Selatan 2 MAS Asaasuttarbiyah Correspondence: yasrifitri039@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Problem-Based Learning. Islamic History. Sejarah Kebudayaan Islam. Classroom Action Research. Critical Thinking. MIN 10 Pesisir Selatan. Student Engagement. Historical Understanding. ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) aims to enhance students' understanding of Sejarah Kebudayaan Islam (Islamic Histor. at MIN 10 Pesisir Selatan by implementing the Problem-Based Learning (PBL) model. PBL is an educational approach that engages students in solving real-world problems, encouraging them to apply critical thinking, collaboration, and independent learning. This research explores how PBL can improve students' understanding of Islamic history, develop their analytical skills, and help them connect historical events to contemporary issues. The study involves 30 students from grade 6 at MIN 10 Pesisir Selatan. Data collection is conducted through classroom observations, interviews with students and teachers, and pre- and post-assessment tests to evaluate improvements in students' knowledge and problem-solving skills. The research is conducted in two cycles. In the first cycle, the PBL model is introduced by presenting students with historical problems related to Islamic civilization. Students work in groups to research, analyze, and present solutions. The second cycle involves refining the PBL approach based on feedback and observations from the first cycle, with more emphasis on deepening the historical context and encouraging critical The results indicate that the PBL model significantly improves students' engagement in learning Islamic history, fosters critical thinking, and enhances their ability to apply historical concepts to real-life situations. The students demonstrated a better understanding of key historical events and their relevance to modern society. The study concludes that Problem-Based Learning is an effective pedagogical tool to improve the teaching of Islamic history, making the subject more engaging, meaningful, and applicable. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan sejarah kebudayaan Islam (SKI) merupakan bagian integral dari pembelajaran di madrasah yang bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang pentingnya peran peradaban Islam dalam sejarah dunia. Namun, pembelajaran SKI di banyak madrasah masih sering dianggap monoton dan kurang menarik bagi siswa. Sebagian besar metode yang digunakan lebih menekankan pada hafalan fakta dan peristiwa sejarah, tanpa memberikan kesempatan bagi siswa untuk lebih mengaitkan pengetahuan yang mereka peroleh dengan kehidupan sehari-hari (Dewi, 2. Pada MIN 10 Pesisir Selatan, pembelajaran SKI mengacu pada kurikulum yang ada, namun kurang mengoptimalkan metode yang dapat mendorong siswa untuk berpikir kritis dan mengaitkan sejarah dengan konteks modern. Hal ini menyebabkan siswa hanya menghafal fakta sejarah tanpa benar-benar memahami dan menghargai kontribusi besar yang diberikan oleh peradaban Islam terhadap dunia. Oleh karena itu, sangat penting untuk menerapkan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 pendekatan yang lebih interaktif dan berbasis pemecahan masalah dalam pembelajaran SKI, salah satunya melalui model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) (Rina, 2. Model Pembelajaran Berbasis Masalah merupakan suatu pendekatan yang menekankan pada pemberian masalah yang relevan dan kontekstual kepada siswa, sehingga mereka dapat bekerja sama dalam kelompok untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dalam konteks SKI. PBL dapat memberikan peluang bagi siswa untuk menggali lebih dalam tentang sejarah Islam dan mengaitkannya dengan isu-isu kontemporer. Model ini dapat membuat pembelajaran lebih menarik dan bermakna, karena siswa tidak hanya belajar tentang sejarah, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan problem-solving (Shakira, 2. Melalui PBL, siswa akan menghadapi berbagai masalah yang relevan dengan tema-tema dalam SKI, seperti bagaimana peradaban Islam berkontribusi dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya. Dengan menggunakan pendekatan ini, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan yang bersifat teoritis, tetapi juga mampu melihat relevansi sejarah dengan kondisi dan tantangan yang dihadapi umat Islam pada masa kini. Hal ini juga memungkinkan mereka untuk berpikir lebih kritis tentang bagaimana mereka bisa memanfaatkan pelajaran sejarah untuk mengatasi masalah-masalah yang ada di sekitar mereka (Tariq, 2. Penerapan PBL dalam pembelajaran SKI diharapkan dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Dengan bekerja dalam kelompok, siswa belajar untuk saling bertukar ide, berkolaborasi, dan memecahkan masalah secara bersama-sama. Ini dapat meningkatkan komunikasi dan keterampilan sosial mereka, yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. PBL juga dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar, karena mereka merasa bahwa pembelajaran yang mereka lakukan memiliki nilai praktis yang dapat diterapkan dalam konteks kehidupan mereka (Ilham, 2. Namun, meskipun PBL memiliki banyak manfaat, penerapannya tidak selalu mudah. Salah satu tantangan utama adalah bagaimana guru dapat merancang masalah yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa dan sesuai dengan konteks sejarah Islam. Guru perlu menyiapkan sumber daya yang tepat dan memastikan bahwa siswa memiliki keterampilan yang cukup untuk bekerja dalam kelompok dan menyelesaikan masalah secara efektif. Oleh karena itu, pelatihan dan persiapan yang matang bagi guru sangat penting untuk keberhasilan implementasi model PBL (Budi, 2. Selain itu, model PBL juga memerlukan pengelolaan waktu yang efektif, karena siswa akan melakukan banyak aktivitas kelompok yang membutuhkan koordinasi dan diskusi. Pengelolaan waktu yang buruk dapat menyebabkan ketidakefisienan dalam menyelesaikan tugas, sehingga hasil yang dicapai tidak maksimal. Oleh karena itu, guru perlu merencanakan setiap langkah pembelajaran dengan baik, memastikan bahwa setiap tahap kegiatan dapat diselesaikan dengan waktu yang telah ditentukan (Zahra, 2. Penerapan PBL juga memerlukan evaluasi yang berbeda dibandingkan dengan metode pembelajaran tradisional. Dalam PBL, penilaian tidak hanya didasarkan pada kemampuan siswa dalam menjawab soal atau ujian, tetapi juga pada proses mereka dalam menyelesaikan masalah, kerja sama dalam kelompok, dan keterampilan komunikasi yang ditunjukkan selama Evaluasi ini harus bersifat holistik, menilai tidak hanya hasil akhir, tetapi juga keterampilan berpikir kritis dan kemampuan berkolaborasi yang dikembangkan oleh siswa (Mira, 2. Selain tantangan dalam pengelolaan waktu dan penilaian, salah satu hambatan yang mungkin ditemui dalam penerapan PBL adalah kesiapan siswa untuk menghadapi model pembelajaran yang lebih aktif dan mandiri. Beberapa siswa mungkin merasa cemas atau kurang percaya diri ketika dihadapkan dengan masalah yang harus mereka selesaikan secara kelompok. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk memberikan dukungan dan bimbingan yang cukup agar siswa merasa nyaman dan percaya diri dalam mengikuti pembelajaran (Fajar, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Penerapan PBL juga akan memberikan tantangan bagi siswa yang terbiasa dengan metode pembelajaran yang lebih tradisional, seperti ceramah dan penghafalan. Oleh karena itu, guru perlu mengenalkan model ini secara bertahap dan memberikan penjelasan yang jelas tentang bagaimana PBL dapat membantu mereka dalam memahami materi SKI dengan cara yang lebih aplikatif dan relevan dengan kehidupan mereka (Dewi, 2. Sementara itu, penguatan keterampilan kolaborasi dan komunikasi juga menjadi aspek penting dalam penerapan PBL di kelas. Siswa yang bekerja dalam kelompok perlu diajarkan cara berkomunikasi dengan baik, berbagi ide, dan mendengarkan pendapat orang lain dengan penuh Keterampilan ini sangat penting tidak hanya untuk pembelajaran SKI, tetapi juga untuk kehidupan sosial mereka di luar kelas. Pembelajaran yang berbasis kolaborasi membantu siswa untuk mengembangkan sikap saling menghargai dan bekerja sama dalam menyelesaikan masalah bersama (Rina, 2. Melalui penerapan PBL, diharapkan siswa di MIN 10 Pesisir Selatan dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang sejarah kebudayaan Islam dan relevansinya dengan kehidupan mereka. PBL memberi kesempatan kepada siswa untuk tidak hanya belajar tentang peristiwa sejarah, tetapi juga untuk menggali nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwaperistiwa tersebut, dan bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan mereka sehari-hari (Budi, 2. Dengan meningkatkan pemahaman mereka terhadap sejarah dan budaya Islam, siswa diharapkan akan lebih menghargai kontribusi peradaban Islam terhadap dunia, serta memahami bagaimana mereka dapat mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka sebagai bagian dari umat Islam yang bertanggung jawab. Pembelajaran yang berbasis masalah ini diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana dan peduli terhadap permasalahan yang ada di sekitar mereka (Ilham, 2. Secara keseluruhan, model Pembelajaran Berbasis Masalah di MIN 10 Pesisir Selatan memiliki potensi besar untuk memperbaiki kualitas pembelajaran SKI. Dengan fokus pada pengembangan keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, dan aplikasi praktis dari nilai-nilai sejarah Islam. PBL dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan relevan bagi siswa. Di masa depan, penerapan PBL ini dapat diadaptasi dan diterapkan pada mata pelajaran lain untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah ini (Zahra, 2. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK dipilih karena tujuannya adalah untuk meningkatkan pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di MIN 10 Pesisir Selatan dengan penerapan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL). PTK memungkinkan peneliti untuk merancang, melaksanakan, mengamati, dan merefleksikan setiap tindakan yang diambil, sehingga hasil dari setiap siklus dapat diperbaiki dan disesuaikan dengan kebutuhan siswa (Tariq, 2. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VI di MIN 10 Pesisir Selatan yang berjumlah 30 siswa. Penelitian ini melibatkan guru pengampu SKI sebagai kolaborator dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran berbasis masalah. Data dikumpulkan melalui observasi kelas untuk melihat interaksi siswa selama kegiatan kelompok, wawancara dengan siswa dan guru untuk memperoleh perspektif mereka tentang penerapan PBL, serta penilaian terhadap hasil kerja siswa baik individu maupun kelompok (Ilham, 2. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus. Siklus pertama dimulai dengan merancang dan melaksanakan pembelajaran menggunakan model PBL. Siswa diberi masalah yang berkaitan dengan topik SKI, seperti peran peradaban Islam dalam ilmu pengetahuan, yang mereka harus pecahkan melalui diskusi kelompok dan penelitian. Siklus pertama bertujuan untuk mengidentifikasi apakah model ini dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Siklus kedua berfokus pada evaluasi dan perbaikan berdasarkan umpan balik dari siklus pertama, dengan tujuan lebih mendalam lagi untuk melibatkan siswa dalam diskusi dan penelitian yang lebih luas (Budi, 2. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi yang mendalam terhadap setiap tahap pembelajaran, terutama selama kegiatan diskusi kelompok dan presentasi. Siswa juga diwawancarai untuk mengetahui pandangan mereka terhadap pembelajaran berbasis masalah dan sejauh mana mereka merasa terlibat dalam proses belajar. Penilaian dilakukan terhadap pemahaman siswa terhadap materi dan kemampuan mereka untuk bekerja sama dalam Semua data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif untuk mengevaluasi efektivitas model PBL dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan pemahaman siswa tentang SKI (Rina, 2. Pada akhir penelitian, diharapkan model Pembelajaran Berbasis Masalah ini dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai peningkatan keterlibatan siswa dalam pembelajaran SKI dan bagaimana model ini dapat diterapkan lebih luas di kelas-kelas lain. Dengan model ini, diharapkan siswa tidak hanya menghafal fakta sejarah, tetapi juga mampu menganalisis dan memecahkan masalah yang terkait dengan perkembangan sejarah dan kebudayaan Islam dalam kehidupan mereka (Zahra, 2. RESULTS AND DISCUSSION Pada siklus pertama, penerapan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) di MIN 10 Pesisir Selatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam keterlibatan siswa dalam pembelajaran SKI. Sebelumnya, siswa cenderung pasif dan hanya menerima informasi dari guru, namun dengan penerapan PBL, siswa lebih aktif berpartisipasi dalam diskusi kelompok. Mereka dilibatkan dalam pemecahan masalah sejarah Islam yang nyata, yang tidak hanya mendorong mereka untuk memahami sejarah, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir kritis (Budi, 2. Siswa mulai menunjukkan rasa ingin tahu yang lebih besar terhadap topik-topik sejarah Islam. Misalnya, ketika diberikan masalah tentang peran ilmuwan Muslim dalam perkembangan ilmu pengetahuan, mereka tidak hanya menghafal fakta, tetapi aktif mencari informasi tambahan untuk mendalami materi tersebut. Pembelajaran berbasis masalah memungkinkan siswa untuk menggali lebih dalam dan mengaitkan peristiwa sejarah dengan konteks sosial dan budaya mereka, meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi (Fajar, 2. Namun, meskipun ada peningkatan yang signifikan dalam partisipasi siswa, beberapa siswa masih menunjukkan kesulitan dalam bekerja sama dengan teman satu kelompok. Beberapa kelompok merasa ada ketidakseimbangan dalam kontribusi setiap anggotanya, yang menghambat kemajuan mereka dalam menyelesaikan tugas bersama. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun PBL dapat meningkatkan keterlibatan siswa, pengelolaan kelompok yang lebih efektif dan pembagian tugas yang jelas masih diperlukan untuk memastikan setiap siswa berkontribusi secara maksimal (Tariq, 2. Pada siklus kedua, perbaikan dilakukan dengan memberikan panduan yang lebih jelas mengenai pembagian tugas dan tanggung jawab dalam kelompok. Guru juga memberikan pelatihan tentang bagaimana bekerja sama secara efektif dan mengelola waktu dengan lebih Dengan perbaikan ini, siswa mulai lebih menghargai peran masing-masing dalam Setiap anggota kelompok kini lebih aktif berkontribusi, dan hasil diskusi serta presentasi kelompok menjadi lebih komprehensif dan terorganisir (Dewi, 2. Selain itu, penggunaan teknologi dalam PBL memberikan dampak positif dalam meningkatkan keterlibatan siswa. Di siklus kedua, siswa diberi akses ke berbagai sumber digital yang mendalam terkait topik-topik SKI, seperti artikel, video dokumenter, dan sumber-sumber lainnya yang relevan. Hal ini memperkaya pengalaman belajar mereka, memberikan informasi lebih lanjut yang mungkin tidak tersedia di buku teks, dan membantu mereka dalam memahami Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 peristiwa sejarah dari berbagai perspektif. Penggunaan teknologi juga membuat pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan bagi siswa (Zahra, 2. Siklus kedua juga menunjukkan peningkatan dalam keterampilan berpikir kritis siswa. Siswa mulai tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mulai menganalisis dan menilai kebenaran atau relevansi informasi tersebut. Mereka terlibat dalam diskusi yang lebih mendalam, mempertanyakan berbagai peristiwa sejarah Islam, dan mencari solusi atas masalah yang PBL mendorong siswa untuk berpikir lebih kritis dan kreatif dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam konteks sejarah (Shakira, 2. Namun, meskipun ada peningkatan, beberapa siswa masih kesulitan dalam merumuskan solusi atas masalah yang diberikan. Mereka lebih sering terjebak dalam diskusi tanpa mampu menghasilkan solusi konkret atau menyimpulkan ide-ide mereka dengan jelas. Ini menunjukkan bahwa meskipun PBL telah mendorong mereka untuk berpikir lebih kritis, mereka masih perlu bimbingan lebih lanjut dalam menyusun argumen atau solusi yang lebih terstruktur (Rina, 2. Untuk mengatasi tantangan tersebut, pada siklus kedua, guru memberikan lebih banyak latihan dan bimbingan mengenai bagaimana merumuskan solusi dan menyajikan argumen secara Selain itu, siswa diberi kesempatan untuk lebih sering mempresentasikan hasil diskusi mereka, sehingga mereka dapat berlatih dalam menyampaikan ide-ide secara jelas dan Hasilnya, siswa mulai lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat mereka dan dapat menyusun solusi yang lebih konkrit untuk masalah yang diberikan (Ilham, 2. Pembelajaran berbasis masalah ini juga membantu siswa untuk mengaitkan pengetahuan sejarah Islam dengan isu-isu kontemporer. Ketika mereka membahas topik seperti peran Islam dalam perkembangan ilmu pengetahuan, mereka dapat melihat relevansi kontribusi ilmuwan Muslim dengan kemajuan sains di masa kini. Pembelajaran ini tidak hanya mengajarkan fakta sejarah, tetapi juga memperkenalkan siswa pada cara berpikir analitis yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata (Budi, 2. Meskipun hasil yang dicapai pada siklus kedua lebih memuaskan, tantangan dalam hal pengelolaan waktu tetap ada. Beberapa kelompok masih kesulitan untuk menyelesaikan tugas dalam waktu yang telah ditentukan. Waktu yang terbatas untuk diskusi dan penelitian sering kali menghambat proses berpikir dan penyelesaian masalah yang mendalam. Untuk itu, guru perlu lebih bijak dalam merencanakan waktu yang dialokasikan untuk setiap aktivitas PBL agar semua tujuan dapat tercapai dalam waktu yang efisien (Zahra, 2. Selama siklus kedua, ada juga peningkatan dalam kemampuan kolaborasi antar siswa. Mereka mulai menyadari pentingnya kerja sama yang efektif dalam mencapai tujuan bersama. Pembelajaran berbasis masalah menuntut setiap siswa untuk saling berbagi pengetahuan dan membantu teman-temannya memahami konsep-konsep yang sulit. Ini mendorong siswa untuk lebih terbuka terhadap pendapat orang lain dan bekerja dengan lebih harmonis dalam kelompok (Tariq, 2. Meskipun demikian, beberapa siswa yang lebih pendiam atau kurang percaya diri masih merasa kesulitan dalam berbicara atau berkontribusi aktif dalam diskusi kelompok. Beberapa dari mereka lebih suka diam atau bergantung pada anggota kelompok lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun PBL membantu sebagian besar siswa berkembang, masih ada kebutuhan untuk memberikan lebih banyak dukungan kepada siswa yang cenderung lebih pasif dalam diskusi kelompok (Dewi, 2. Di sisi lain, evaluasi menunjukkan bahwa PBL dapat membantu siswa memahami materi dengan cara yang lebih mendalam dan aplikatif. Mereka lebih mampu mengaitkan pelajaran sejarah dengan kehidupan sehari-hari mereka dan melihat bagaimana peristiwa-peristiwa tersebut dapat mempengaruhi kehidupan modern. Hal ini menunjukkan bahwa model PBL tidak hanya meningkatkan keterampilan akademik siswa, tetapi juga membantu mereka Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 mengembangkan keterampilan sosial yang penting, seperti komunikasi, kolaborasi, dan problem-solving (Ilham, 2. Secara keseluruhan, penerapan model Pembelajaran Berbasis Masalah di MIN 10 Pesisir Selatan terbukti efektif dalam meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran SKI. Melalui PBL, siswa tidak hanya belajar sejarah Islam, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan keterampilan sosial yang sangat penting untuk kehidupan Meskipun ada tantangan dalam hal pengelolaan waktu dan partisipasi, perbaikan yang dilakukan pada siklus kedua menunjukkan bahwa model ini dapat terus dikembangkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di masa depan (Shakira, 2. CONCLUSION Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di MIN 10 Pesisir Selatan. Berdasarkan hasil yang diperoleh melalui dua siklus, dapat disimpulkan bahwa model PBL terbukti efektif dalam meningkatkan keterlibatan siswa, kualitas pemahaman mereka, serta keterampilan sosial yang penting dalam pembelajaran SKI. Pada siklus pertama, meskipun siswa mulai menunjukkan peningkatan dalam partisipasi dan keterlibatan mereka dalam diskusi kelompok, masih ada tantangan dalam hal kolaborasi yang efektif dan pengelolaan waktu yang efisien. Beberapa siswa cenderung pasif atau bergantung pada teman-temannya dalam kelompok, yang menghambat pencapaian hasil yang maksimal. Namun, peningkatan yang cukup signifikan dapat diamati, terutama dalam hal minat siswa terhadap topik yang dibahas. Pembelajaran berbasis masalah memberi mereka kesempatan untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang nyata, sehingga mereka merasa lebih terhubung dengan materi yang dipelajari. Pada siklus kedua, dengan perbaikan dalam hal pengelolaan waktu dan pembagian tugas yang lebih jelas dalam kelompok, hasil yang diperoleh jauh lebih memuaskan. Siswa menunjukkan peningkatan dalam keterampilan berbicara, menulis, dan berpikir kritis. Penggunaan teknologi juga memberikan dampak positif, di mana siswa dapat mengakses sumber-sumber yang lebih kaya dan mendalami topik lebih jauh. Kolaborasi antar siswa pun semakin baik, dengan lebih banyak anggota kelompok yang aktif berkontribusi dalam diskusi dan penyelesaian masalah. Namun, meskipun banyak manfaat yang tercapai, tantangan tetap ada. Beberapa siswa yang lebih pendiam atau kurang percaya diri masih merasa kesulitan dalam berkontribusi selama Oleh karena itu, meskipun pembelajaran berbasis masalah memberikan banyak keuntungan, diperlukan dukungan lebih lanjut untuk siswa yang cenderung pasif. Hal ini menunjukkan bahwa penting bagi guru untuk terus memberikan bimbingan dan menciptakan ruang yang inklusif bagi semua siswa untuk berpartisipasi secara aktif. Secara keseluruhan, penerapan PBL di MIN 10 Pesisir Selatan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran SKI dengan cara yang lebih menarik dan bermakna bagi siswa. Pembelajaran berbasis masalah memungkinkan siswa untuk tidak hanya menghafal fakta sejarah, tetapi juga berpikir kritis, menganalisis peristiwa sejarah, serta mengaitkan pengetahuan mereka dengan konteks kehidupan modern. Selain itu. PBL juga membantu siswa mengembangkan keterampilan sosial dan komunikasi yang penting, seperti bekerja sama, mendengarkan, dan berbagi ide dalam kelompok. Ke depan, dengan perencanaan yang lebih matang dan pengelolaan yang lebih baik, model PBL dapat diterapkan secara lebih luas di berbagai mata pelajaran untuk meningkatkan keterlibatan siswa dan kualitas pembelajaran. Pembelajaran yang berbasis pada masalah nyata dan yang melibatkan siswa secara aktif ini tidak hanya membantu mereka memahami materi dengan lebih baik, tetapi juga membentuk karakter dan keterampilan yang relevan untuk kehidupan mereka di masa depan. PBL memberikan siswa kesempatan untuk menjadi pemikir Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 yang lebih kritis, komunikatif, dan kolaboratif, yang sangat penting dalam dunia yang semakin kompleks dan saling terhubung. REFERENCES