Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan p-ISSN: 2302-0008 e-ISSN: 2623-1964 DOI: https://doi. org/10. 47668/pkwu. Volume 13 Issue 3 2025 Pages 458-472 website: https://journalstkippgrisitubondo. id/index. php/PKWU/index Penerapan Filsafat Montessori dalam Pengembangan Kemandirian Anak SD Fase A. B, dan C di SDIT Cendekia Purwakarta Amelia Pratiwi1*. Wita Puspita Sari2. Silvi Madya3. Ricky Yoseptry4. Wachyudin5 1,2,3,4,5 Universitas Islam Nusantara. Indonesia *Corresponding author: ameliapratiwi@uninus. Abstract: This research is motivated by the understanding that basic education plays a crucial role in forming the foundation of studentsAo personality, character, and life skills. One important character aspect that must be developed from an early age is independence. This study employs a descriptive qualitative approach. The qualitative method was chosen because the aim is to examine comprehensively and in depth the implementation of educational philosophy in real field contexts. Descriptive research seeks to systematically and accurately describe the facts and characteristics of the object under study. Through this approach, researchers are able to understand the meanings, processes, and experiences of the subjects involved in the implementation of the Montessori approach. The research was conducted at SDIT Cendekia Purwakarta. The research subjects were focused on students in Phase A. B, and C . quivalent to grades 1 through . In addition to students, key informants included the school principal, teachers, and parent representatives. Overall, the study concludes that the implementation of Montessori philosophy at SDIT Cendekia Purwakarta is carried out partially yet consistently and has a significant positive influence on the development of childrenAos independence in Phases A. B, and C. Although the implementation does not fully adhere to pure Montessori standards, the adaptations made produce relevant, measurable outcomes that align with studentsAo developmental needs. The integration of Montessori values with Islamic values has been proven to be mutually supportive and not contradictory. Keywords: philosophy. Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh Pendidikan dasar memiliki peran penting dalam membentuk fondasi kepribadian, karakter, dan keterampilan hidup peserta didik. Salah satu aspek karakter penting yang harus dikembangkan sejak dini adalah kemandirian. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Metode kualitatif dipilih karena tujuannya adalah untuk mengkaji secara komprehensif dan mendalam . n-dept. mengenai penerapan filosofi pendidikan dalam konteks nyata di lapangan. Penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek yang diteliti secara akurat. Dengan pendekatan ini, peneliti dapat memahami makna, proses, dan pengalaman subjek yang terlibat dalam implementasi Montessori. Lokasi penelitian adalah SDIT Cendekia Purwakarta. Subjek penelitian difokuskan pada siswa yang berada di Fase A. B, dan C . etara kelas 1 sampai Selain siswa, subjek kunci yang menjadi informan adalah kepala sekolah, guru, dan perwakilan orang tua. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan filsafat Montessori di SDIT Cendekia Purwakarta berjalan secara parsial namun konsisten serta memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap pengembangan kemandirian anak pada fase A. B, dan Meskipun implementasinya tidak sepenuhnya mengikuti standar Montessori murni, adaptasi yang dilakukan memberikan hasil yang relevan, terukur, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan siswa. Fusion antara nilai Montessori dengan nilai-nilai Islam terbukti saling mendukung dan tidak saling bertentangan. Kata kunci: filsafat. Copyright . 2025 The Authors. This is an open-access article under the CC BY-SA 4. 0 license . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. 458 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. 459 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. Received: 06-10-2025 Revised: 23-10-2025 Accepted: 28-10-2025 Published: 06-11-2025 PENDAHULUAN Pendidikan dasar memiliki peran penting dalam membentuk fondasi kepribadian, karakter, dan keterampilan hidup peserta didik. Salah satu aspek karakter penting yang harus dikembangkan sejak dini adalah kemandirian. Kemandirian tidak hanya berarti kemampuan siswa untuk melakukan aktivitas tanpa bantuan, tetapi juga mencakup kemampuan mengambil keputusan, mengelola emosi, bertanggung jawab, dan mengatur diri sendiri. Kemandirian merupakan bagian dari kompetensi sosial-emosional yang berperan besar dalam keberhasilan anak pada tahap pendidikan selanjutnya maupun dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks Kurikulum Merdeka, sekolah dituntut untuk menumbuhkan kompetensi kemandirian siswa sesuai fase perkembangan mereka. Pada fase A. B, dan C . elas 1Ae6 SD), penguatan kemandirian menjadi lebih penting karena di tahap inilah anak belajar mengembangkan self-regulation, self-direction, dan problem solving dasar yang menjadi pondasi bagi perkembangan akademik maupun karakter. Namun, pada praktiknya masih banyak sekolah yang menghadapi tantangan dalam mengembangkan kemandirian peserta didik. Tantangan tersebut meliputi budaya ketergantungan anak kepada guru, pola pembelajaran yang berpusat pada instruksi, serta kurangnya ruang eksplorasi dalam kegiatan Salah satu pendekatan yang diyakini mampu menjawab tantangan tersebut adalah pendidikan Montessori. Filsafat Montessori yang dikembangkan oleh Maria Montessori menekankan pentingnya lingkungan belajar yang disiapkan dengan baik . repared environmen. , pembelajaran yang berpusat pada anak . hild-centere. , kebebasan dalam batas, penggunaan material konkret, dan dorongan bagi anak untuk melakukan aktivitas secara mandiri. Montessori percaya bahwa anak memiliki dorongan alami untuk belajar dan berkembang jika ditempatkan dalam lingkungan yang memberikan kesempatan untuk memilih, bergerak, dan bertanggung jawab atas tindakannya sendiri. Melalui filosofi ini, kemandirian tidak hanya diajarkan, tetapi dibentuk melalui pengalaman nyata. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah sekolah berbasis Islam terpadu mulai mengadopsi pendekatan Montessori karena kompatibel dengan nilai-nilai pembiasaan, disiplin, dan pembentukan karakter Islami. SDIT Cendekia Purwakarta merupakan salah satu lembaga pendidikan dasar yang mulai mengintegrasikan prinsip-prinsip Montessori dalam pembelajaran sehari-hari, terutama dalam kegiatan kelas, pengelolaan lingkungan, dan interaksi guruAesiswa. Sekolah ini memadukan filosofi Montessori dengan nilai-nilai Penerapan Filsafat Montessori dalam Pengembangan Kemandirian Anak Sd Fase A. B, dan C A 460 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. pendidikan karakter Islam, sehingga menciptakan model pembelajaran yang unik dan Namun, penerapan filosofi Montessori di sekolah reguler seperti SDIT Cendekia tentu menghadapi tantangan. Beberapa guru mungkin belum sepenuhnya memahami prinsip Montessori seperti auto-education, freedom within limits, atau control of error pada material Selain itu, kurikulum nasional yang harus dipenuhi sering kali membuat penerapan Montessori tidak dapat berjalan secara penuh. Tantangan lainnya termasuk penyesuaian perbedaan karakteristik siswa di fase A. B, dan C, kesiapan guru, serta dukungan sarana yang diperlukan untuk menciptakan prepared environment yang memadai. Fenomena di lapangan menunjukkan bahwa tingkat kemandirian siswa di SDIT Cendekia masih bervariasi. Sebagian siswa sudah mampu mengurus diri, menyelesaikan tugas, dan memilih aktivitas belajar secara mandiri, namun ada pula siswa yang masih mengalami ketergantungan tinggi pada guru, terutama pada fase A dan B. Hal ini mendorong perlunya kajian mendalam mengenai bagaimana filosofi Montessori diimplementasikan, bagaimana guru memfasilitasi kemandirian sesuai fase perkembangan anak, dan sejauh mana pendekatan tersebut efektif meningkatkan kemandirian siswa. Dengan demikian, penelitian tentang penerapan filsafat Montessori dalam pengembangan kemandirian anak SD fase A. B, dan C di SDIT Cendekia Purwakarta menjadi penting dilakukan. Penelitian ini tidak hanya bertujuan menggambarkan proses dan strategi implementasi Montessori, tetapi juga mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat, serta melihat dampaknya terhadap perkembangan kemandirian siswa. Hasilnya diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan model pembelajaran yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak di sekolah dasar, khususnya dalam upaya mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang mandiri dan bertanggung jawab. KAJIAN PUSTAKA Filsafat Pendidikan Montessori Filsafat Montessori adalah pendekatan pendidikan yang dikembangkan oleh Maria Montessori berdasarkan prinsip bahwa anak memiliki potensi alami untuk belajar secara aktif dan mandiri. Montessori menekankan bahwa pendidikan harus membantu anak Aumenolong dirinya sendiriAy . elp me to do it mysel. , sehingga proses pembelajaran lebih berfokus pada pengembangan kemandirian, kebebasan yang bertanggung jawab, dan pengalaman nyata. Anak dipandang sebagai individu yang memiliki dorongan intrinsik untuk berkembang, dan guru berperan sebagai fasilitator yang menyiapkan lingkungan belajar yang tepat. Penerapan Filsafat Montessori dalam Pengembangan Kemandirian Anak Sd Fase A. B, dan C A 461 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. Filsafat Montessori, yang dikembangkan oleh Maria Montessori, berakar pada keyakinan bahwa setiap anak adalah individu yang unik dengan potensi bawaan untuk Inti dari filsafat ini adalah menciptakan lingkungan yang dipersiapkan (The Prepared Environmen. yang dirancang khusus, memuat bahan ajar nyata, dan memungkinkan anak untuk memilih aktivitas belajarnya sendiri. Dua prinsip sentral yang diterapkan dalam studi ini adalah: Education for Life: Pendidikan adalah persiapan untuk kehidupan nyata, di mana keterampilan praktis dan kemandirian dihargai setinggi pengetahuan akademis. Follow the Child: Pembelajaran harus mengikuti minat, kecepatan, dan fase perkembangan anak, bukan paksaan dari kurikulum atau guru. Model Montessori mendukung aktivitas belajar yang berpusat pada siswa. Anak didorong untuk berinteraksi dengan bahan ajar secara mandiri, yang secara langsung memperkuat kemampuan kemandirian, konsentrasi, dan inisiatif. Bahan ajar konkret dalam pendekatan Montessori memiliki peran fundamental sebagai jembatan antara konsep abstrak dengan pemahaman nyata anak. Melalui penggunaan bendabenda nyata seperti balok berhitung, kartu huruf kasar, atau puzzle geometri, anak tidak hanya memahami konsep secara intelektual, tetapi juga melalui pengalaman sensorik yang Dengan demikian, proses belajar menjadi lebih bermakna karena anak dapat melihat, menyentuh, dan memanipulasi objek secara langsung sebelum beralih pada pemikiran abstrak. Selain itu, bahan ajar konkret membantu mengembangkan koordinasi, ketelitian, dan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan belajar. Anak belajar untuk merawat, mengatur, dan menggunakan alat dengan benar, yang sekaligus memperkuat nilai-nilai kemandirian dan disiplin diri. Dalam konteks ini, peran guru bukan sebagai pengajar utama, melainkan sebagai pengamat yang peka terhadap kebutuhan individu anakAimemberi bimbingan hanya ketika dibutuhkan agar anak tetap memiliki ruang untuk bereksplorasi dan menemukan makna pembelajaran sendiri. Konsep Kemandirian Anak Usia Sekolah Dasar Kemandirian pada anak Sekolah Dasar (Fase A. B, dan C) meliputi kemampuan untuk membuat keputusan sendiri, menyelesaikan tugas tanpa bantuan terus-menerus, dan mengelola waktu serta bahan belajar secara efektif. Dalam teori pendidikan, kemandirian terkait erat dengan Teori Penentuan Diri (Self-Determination Theory oleh Deci & Rya. yang menekankan kebutuhan psikologis dasar akan otonomi. Filsafat Montessori secara Penerapan Filsafat Montessori dalam Pengembangan Kemandirian Anak Sd Fase A. B, dan C A 462 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. langsung mendukung otonomi ini dengan memberikan "kebebasan dalam batas" (Freedom Within Limit. Kemandirian di jenjang Sekolah Dasar (SD) tidak hanya terbatas pada kemampuan fisik, tetapi juga kemandirian kognitif . emampuan berpikir kriti. dan emosional . emampuan mengatur emosi dan mengatasi frustras. Melalui penggunaan bahan ajar nyata dan lingkungan yang memfasilitasi eksplorasi, anak didorong untuk belajar dari kesalahan tanpa takut dihukum, yang merupakan fondasi penting dalam membangun kepercayaan diri dan inisiatif. Kemandirian pada anak SD yang dikembangkan melalui prinsip Montessori dan Teori Penentuan Diri memiliki implikasi jangka panjang terhadap motivasi belajar dan kesejahteraan psikologis siswa. Teori Penentuan Diri menekankan bahwa pemenuhan kebutuhan akan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan menjadi dasar munculnya motivasi intrinsik yang kuat dalam belajar. Dalam konteks ini, ketika siswa diberi ruang untuk memilih tugas, mengatur cara belajar, dan merasakan keberhasilan atas usahanya sendiri, mereka akan lebih terlibat secara aktif, menunjukkan ketekunan yang lebih tinggi, serta memiliki sikap positif terhadap sekolah. Penerapan prinsip Montessori berupa kebebasan dalam batas memungkinkan siswa SD di Fase A. B, dan C untuk mengalami kemandirian yang terarah dan aman. Lingkungan belajar yang terstruktur tetapi fleksibel, dengan aturan yang jelas serta kesempatan memilih aktivitas, membantu anak mengembangkan regulasi diri, rasa tanggung jawab, dan kemampuan mengambil keputusan sesuai tahap perkembangannya. Pola ini selaras dengan temuan berbagai studi yang menunjukkan bahwa dukungan otonomi dari guru, dikombinasikan dengan struktur yang konsisten, berkorelasi dengan motivasi belajar yang lebih mandiri dan kesejahteraan emosional yang lebih baik pada siswa. Selain itu, penguatan kemandirian pada masa sekolah dasar berkontribusi pada pembentukan kepercayaan diri, kemampuan pemecahan masalah, dan kesiapan menghadapi tantangan di jenjang pendidikan berikutnya. Anak yang terbiasa mengelola tugas, membuat keputusan, dan belajar dari konsekuensi alami akan lebih siap mengatasi tuntutan akademik maupun sosial yang semakin kompleks. Dalam perspektif perkembangan holistik, kemandirian tidak hanya dilihat sebagai kemampuan Aubisa sendiriAy, tetapi juga sebagai fondasi karakter yang tangguh, bertanggung jawab, dan mampu berkolaborasi secara sehat dengan orang lain. Peran Guru sebagai Fasilitator dalam Model Montessori Dalam konteks Montessori, peran guru sangat berbeda dari model tradisional. Guru Penerapan Filsafat Montessori dalam Pengembangan Kemandirian Anak Sd Fase A. B, dan C A 463 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. tidak bertindak sebagai pemberi informasi (Sage on the Stag. , melainkan sebagai fasilitator (Guide on the Sid. dan penghubung antara anak dan lingkungan yang dipersiapkan. Tugas utama guru adalah mengobservasi secara cermat kebutuhan dan minat anak (Follow the Chil. , menyediakan materi yang tepat, dan turun tangan hanya saat dibutuhkan. Peran ini sangat krusial dalam menumbuhkan kemandirian, karena guru secara aktif menahan diri untuk tidak mengintervensi atau memberikan jawaban, melainkan membiarkan anak bergumul dengan tugas untuk menemukan solusi sendiri. Peran guru dalam konteks Montessori dipahami sebagai sosok yang menghubungkan anak dengan lingkungan belajar yang telah dipersiapkan secara cermat, bukan sebagai pusat penyampai informasi di kelas (Montessori, 1. Guru berfungsi sebagai fasilitator yang merancang, menata, dan menyesuaikan lingkungan sehingga setiap anak dapat menemukan materi yang sesuai dengan tahap perkembangan dan minatnya, kemudian bekerja secara mandiri dengan intervensi minimal (Mavric, 2. Pendekatan ini menjauh dari pola Ausage on the stageAy dan menempatkan guru sebagai Auguide on the sideAy yang memberi ruang bagi anak untuk mengatur sendiri proses belajarnya (KV Montessori Academy, 2. Salah satu aspek kunci adalah peran guru sebagai pengamat yang sistematis dan peka terhadap kebutuhan setiap anak, sejalan dengan prinsip Follow the Child. Guru Montessori meluangkan banyak waktu untuk mengamati bagaimana anak memilih aktivitas, berinteraksi dengan teman sebaya, serta merespons materi pembelajaran di lingkungan yang dipersiapkan (Forestville Montessori School, 2. Informasi dari observasi ini digunakan untuk menentukan kapan materi baru perlu diperkenalkan, kapan anak perlu tantangan tambahan, dan kapan guru perlu mundur agar anak dapat mempertahankan konsentrasi dan inisiatif belajarnya (Eagle Peak Montessori School, 2. Dalam literatur Montessori, guru juga digambarkan sebagai penjaga dan perawat lingkungan yang memastikan keteraturan, keindahan, dan aksesibilitas seluruh bahan ajar (Montessori, 1. Lingkungan kelas yang tertata, lengkap, dan konsisten berfungsi sebagai Auguru yang diamAy yang mengundang anak untuk bereksplorasi, memilih aktivitas, dan bertanggung jawab untuk menyiapkan, menggunakan, serta mengembalikan materi pada tempat semula (South County Montessori School, 2. Melalui peran ini, guru secara tidak langsung menanamkan kemandirian, disiplin diri, dan rasa memiliki terhadap ruang belajar (SCMS, 2. Peran non-intervensif guru Montessori sangat penting dalam menumbuhkan kemandirian anak, khususnya ketika guru sengaja menahan diri untuk tidak segera membantu Penerapan Filsafat Montessori dalam Pengembangan Kemandirian Anak Sd Fase A. B, dan C A 464 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. saat anak menghadapi kesulitan. Guru memberi kesempatan kepada anak untuk mencoba, mengulang, dan menemukan strategi pemecahan masalah sendiri, lalu hanya turun tangan ketika benar-benar diperlukan atau ketika anak menunjukkan kebingungan yang berkepanjangan (KV Montessori Academy, 2. Sikap menahan diri ini selaras dengan pandangan Montessori bahwa konsentrasi dan disiplin batin anak akan muncul ketika orang dewasa tidak terus-menerus mengarahkan, tetapi justru menghilangkan hambatan dari lingkungan (Montessori, 1. Lebih jauh, kajian empiris menunjukkan bahwa pola pengajaran Montessori yang menekankan kebebasan dalam batas dan peran guru sebagai pemandu berkorelasi dengan peningkatan kemandirian, fungsi eksekutif, dan keterampilan sosial siswa (Marshall, 2. Guru memegang peran strategis dalam menyeimbangkan kebebasan dan batasan sehingga kemandirian anak berkembang secara terarah dan aman, sambil tetap menjaga iklim kelas yang tertib dan suportif (Mavric, 2. Dengan cara ini, guru tidak hanya memfasilitasi pencapaian akademik, tetapi juga mendukung perkembangan sosial-emosional dan pembentukan karakter anak sebagai pembelajar sepanjang hayat yang percaya diri dan bertanggung jawab (Forestville Montessori School, 2019. SCMS, 2. METODE Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Metode kualitatif dipilih karena tujuannya adalah untuk mengkaji secara komprehensif dan mendalam . n-dept. mengenai penerapan filosofi pendidikan dalam konteks nyata di lapangan. Penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek yang diteliti secara akurat. Dengan pendekatan ini, peneliti dapat memahami makna, proses, dan pengalaman subjek yang terlibat dalam implementasi Montessori. Pendekatan deskriptif kualitatif digunakan dalam penelitian ini karena sesuai dengan tujuan untuk menggambarkan secara rinci dan menyeluruh fenomena penerapan filsafat Montessori dalam konteks nyata di sekolah dasar. Dalam kerangka ini, penelitian kualitatif dipahami sebagai upaya mengeksplorasi dan memahami makna yang dikonstruksi individu atau kelompok terhadap suatu masalah sosial atau pendidikan, dengan peneliti sebagai instrumen kunci yang turun langsung ke lapangan (Creswell, 2. Pendekatan ini memungkinkan penggalian data yang kaya . ich dat. melalui interaksi langsung dengan subjek dan konteks sehingga nuansa praktik implementasi filosofi pendidikan dapat tertangkap secara lebih utuh. Penerapan Filsafat Montessori dalam Pengembangan Kemandirian Anak Sd Fase A. B, dan C A 465 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. Secara khusus, desain deskriptif kualitatif berfokus pada penyajian ringkasan komprehensif mengenai peristiwa atau pengalaman dalam istilah-istilah yang dekat dengan bahasa keseharian partisipan (Sandelowski, 2. Studi deskriptif kualitatif cenderung memiliki tingkat interpretasi yang lebih rendah dibanding pendekatan fenomenologi atau grounded theory, sehingga temuan yang dihasilkan tetap dekat dengan data dan mudah dipahami oleh praktisi di lapangan (Colorafi & Evans, 2. Karakteristik ini relevan untuk penelitian pendidikan yang bertujuan memotret bagaimana suatu filosofi diterapkan dalam praktik tanpa harus mengembangkan teori baru yang sangat abstrak. Penelitian deskriptif, baik dalam tradisi kualitatif maupun kuantitatif, pada dasarnya bertujuan menggambarkan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta dan karakteristik populasi atau area tertentu (Suardi, 2. Dalam konteks kualitatif, peneliti berupaya menghasilkan Authick descriptionAy yang memuat detail konteks, pelaku, tindakan, serta interaksi yang terjadi sehingga pembaca dapat memahami situasi penelitian seolah-olah mengalaminya sendiri (Merriam, 2. Dengan demikian, desain ini sangat cocok untuk menguraikan bagaimana prinsip-prinsip Montessori diimplementasikan dalam pengaturan kelas, peran guru, penataan lingkungan, dan respons siswa. Pendekatan deskriptif kualitatif juga selaras dengan prinsip inkuiri naturalistik, di mana fenomena dikaji dalam kondisi alamiah tanpa manipulasi variabel oleh peneliti. Data dikumpulkan melalui teknik seperti observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk menangkap Ausiapa, apa, dan di manaAy dari suatu pengalaman secara mendalam (Sandelowski. Colorafi & Evans, 2. Dengan cara ini, penelitian mampu menelusuri proses, dinamika, dan pengalaman subjek dalam mengoperasionalkan nilai-nilai Montessori seperti kemandirian, kebebasan dalam batas, serta peran guru sebagai fasilitator. Dalam kaitannya dengan kajian implementasi filosofi pendidikan, pendekatan deskriptif kualitatif memberi ruang bagi peneliti untuk mengaitkan temuan empiris di lapangan dengan kerangka teori yang digunakan, kemudian menyajikan deskripsi yang kaya namun tetap terikat pada data. Analisis data dilakukan secara bertahap melalui proses kondensasi, penyajian, dan penarikan kesimpulan/verifikasi sebagaimana disarankan oleh Miles. Huberman, dan Saldaya . Dengan demikian, penelitian tidak hanya menghasilkan gambaran faktual mengenai praktik Montessori, tetapi juga memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang makna, proses, dan pengalaman para pelaku pendidikan dalam mengaktualisasikan filosofi tersebut di ruang kelas. Lokasi dan Subjek Penelitian Penerapan Filsafat Montessori dalam Pengembangan Kemandirian Anak Sd Fase A. B, dan C A 466 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. Lokasi penelitian adalah SDIT Cendekia Purwakarta. Subjek penelitian difokuskan pada siswa yang berada di Fase A. B, dan C . etara kelas 1 sampai . Selain siswa, subjek kunci yang menjadi informan adalah kepala sekolah, guru, dan perwakilan orang tua. Pemilihan subjek kunci ini penting untuk mendapatkan perspektif multi-pihak mengenai efektivitas dan tantangan implementasi. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik utama: Observasi Lapangan: Dilakukan untuk mengamati secara langsung penataan lingkungan belajar, penggunaan bahan ajar, dan interaksi antara siswa dan guru, khususnya dalam konteks kemandirian, konsentrasi, dan inisiatif. Wawancara Mendalam (In-depth Intervie. : Dilakukan kepada kepala sekolah, guru, dan perwakilan orang tua. Wawancara bertujuan untuk menggali pemahaman filosofis guru, strategi implementasi di kelas, serta persepsi orang tua terhadap perubahan perilaku kemandirian anak di rumah. Studi Dokumentasi: Meliputi studi terhadap Kurikulum Merdeka yang diterapkan sekolah, silabus. RPP, dan dokumen terkait penataan lingkungan atau bahan ajar Montessori yang Teknik Analisis Data Data yang terkumpul dari observasi, wawancara, dan dokumentasi dianalisis menggunakan teknik analisis kualitatif. Proses analisis dimulai dengan reduksi data . emilah data yang releva. , penyajian data . engelompokkan data berdasarkan tem. , dan penarikan Penarikan kesimpulan berfokus pada seberapa efektif prinsip-prinsip Montessori diintegrasikan ke dalam Kurikulum Merdeka dan bagaimana hal tersebut secara spesifik berkontribusi pada peningkatan kemandirian siswa SDIT Cendekia Purwakarta. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian SDIT Cendekia Purwakarta merupakan sekolah dasar Islam terpadu yang memadukan kurikulum nasional, kurikulum keislaman, serta pendekatan pembelajaran tematik dan berbasis karakter. Dalam lima tahun terakhir, sekolah mulai mengintegrasikan konsep Montessori approach pada beberapa kelas, terutama dalam pengelolaan lingkungan belajar, penggunaan material konkret, dan strategi pembelajaran mandiri. Sekolah memiliki fasilitas yang mendukung pembelajaran berbasis kemandirian seperti learning center, reading corner, alat peraga konkret, serta ruang kelas yang ditata Penerapan Filsafat Montessori dalam Pengembangan Kemandirian Anak Sd Fase A. B, dan C A 467 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. dengan sistem area. Guru-guru telah mendapatkan pelatihan Montessori dasar melalui workshop internal dan eksternal. Hasil penelitian di SDIT Cendekia Purwakarta menunjukkan bahwa prinsip-prinsip Montessori diimplementasikan secara komprehensif. Implementasi ini terlihat jelas dalam tiga aspek utama: Penataan Lingkungan: Kelas dirancang khusus untuk memfasilitasi gerakan bebas dan pilihan aktivitas. Lingkungan kelas disiapkan sedemikian rupa sehingga barang-barang yang dibutuhkan anak . ahan ajar, alat kebersiha. mudah dijangkau dan digunakan tanpa Penataan ini secara langsung mendukung prinsip Education for Life. Bahan Ajar: Sekolah menggunakan bahan ajar nyata . yang mendukung aktivitas belajar berpusat pada siswa. Bahan ajar ini memungkinkan self-correction . oreksi dir. , di mana anak dapat mengidentifikasi kesalahannya sendiri, sebuah mekanisme penting untuk menumbuhkan inisiatif dan kemandirian. Aktivitas Otentik: Kegiatan belajar mencakup keterampilan hidup praktis, seperti merapikan kelas, membersihkan, dan menata barang, yang merupakan perwujudan langsung dari 'Education for Life'. Analisis Peran Guru dalam Pengembangan Kemandirian Siswa Peran guru di SDIT Cendekia Purwakarta telah bertransisi menjadi fasilitator pembelajaran. Peran fasilitator ini sangat penting dalam pengembangan kemandirian karena guru: Mengobservasi: Guru secara terus-menerus mengamati anak untuk menentukan kapan harus campur tangan . dan kapan harus membiarkan anak bekerja sendiri (Follow the Chil. Menyiapkan: Guru bertanggung jawab memastikan lingkungan dan materi pembelajaran selalu siap dan sesuai dengan tahap perkembangan siswa. Memberi Batas: Meskipun anak diberikan kebebasan untuk memilih, guru memastikan kebebasan tersebut berada dalam batas-batas yang jelas (Freedom Within Limit. , mengajarkan tanggung jawab atas pilihan. Transisi peran guru ini secara pedagogis berdampak positif pada konsentrasi siswa. Ketika siswa diizinkan memilih pekerjaan dan bekerja tanpa interupsi, kemampuan konsentrasi mereka terbukti meningkat. Integrasi Filsafat Montessori dengan Kurikulum Merdeka Salah satu temuan kunci penelitian adalah bahwa prinsip-prinsip Montessori seperti 'Education for Life' dan 'Follow the Child' diintegrasikan secara efektif ke dalam Kurikulum Penerapan Filsafat Montessori dalam Pengembangan Kemandirian Anak Sd Fase A. B, dan C A 468 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. Merdeka. Kurikulum Merdeka, dengan fokusnya pada proyek penguatan profil pelajar Pancasila (P. dan pembelajaran terdiferensiasi, memiliki kesamaan filosofis dengan Montessori yang berorientasi pada kemandirian dan pengembangan minat anak. Pembelajaran Terdiferensiasi: Mirip dengan prinsip Follow the Child. Kurikulum Merdeka mengakomodasi perbedaan kecepatan dan gaya belajar siswa. Proyek P5: Proyek yang berorientasi pada penyelesaian masalah otentik sesuai dengan Education for Life, yang menekankan aplikasi pengetahuan untuk kehidupan nyata. Integrasi ini memungkinkan sekolah untuk menjalankan mandat kurikulum nasional sambil tetap mempertahankan kekhasan filosofi Montessori yang berfokus pada kemandirian. Dampak Implementasi Montessori terhadap Kemandirian Siswa Hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa implementasi Filsafat Montessori secara signifikan meningkatkan kemandirian, konsentrasi, dan inisiatif siswa pada Fase A. B, dan C. Peningkatan Kemandirian: Siswa menunjukkan kemampuan yang lebih tinggi dalam mengurus diri sendiri . embersihkan, menata alat belaja. dan membuat pilihan yang bertanggung jawab mengenai aktivitas belajar mereka. Peningkatan Inisiatif: Karena lingkungan mendukung eksplorasi bebas, siswa lebih berani mengambil inisiatif untuk memulai tugas baru atau mencari solusi atas masalah tanpa menunggu perintah guru. Peningkatan Konsentrasi: Penggunaan materi konkret yang menarik dan kebebasan untuk bekerja dalam periode waktu yang lama . iklus kerj. memungkinkan anak mengembangkan periode konsentrasi yang lebih panjang. Dampak positif ini dikonfirmasi oleh perwakilan orang tua . yang melaporkan adanya perubahan perilaku positif, seperti lebih bertanggung jawab dan mandiri, di lingkungan rumah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan filsafat Montessori di SDIT Cendekia Purwakarta berjalan parsial namun terstruktur, terutama dalam aspek pengelolaan lingkungan, kebiasaan belajar, dan peran guru sebagai fasilitator. Penerapan program ini berdampak signifikan terhadap pengembangan kemandirian siswa pada fase A. B, dan C, dengan tingkat perkembangan yang berbeda sesuai karakteristik usia. SIMPULAN Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan filsafat Montessori di SDIT Cendekia Purwakarta berjalan secara parsial namun konsisten serta memiliki Penerapan Filsafat Montessori dalam Pengembangan Kemandirian Anak Sd Fase A. B, dan C A 469 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. pengaruh positif yang signifikan terhadap pengembangan kemandirian anak pada fase A. B, dan C. Meskipun implementasinya tidak sepenuhnya mengikuti standar Montessori murni, adaptasi yang dilakukan memberikan hasil yang relevan, terukur, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan siswa. Fusion antara nilai Montessori dengan nilai-nilai Islam terbukti saling mendukung dan tidak saling bertentangan. Lingkungan belajar yang tertata, kebebasan dalam batas, penggunaan material konkret, pembiasaan tanggung jawab, serta peran guru sebagai fasilitator menjadi pilar utama yang menghasilkan peningkatan kemandirian fisik, emosional, sosial, dan akademik pada Secara bertahap, kemandirian siswa berkembang mengikuti karakteristik perkembangan fase masing-masing, dengan perbedaan pola kemajuan yang logis menurut teori pendidikan Montessori. Penerapan Prepared Environment: Lingkungan belajar yang disiapkan sesuai prinsip Montessori terbukti menjadi faktor paling dominan dalam membentuk kemandirian. Penataan ruang, ketersediaan material konkret, serta aksesibilitas peralatan kelas memungkinkan anak melakukan aktivitas tanpa bergantung pada guru. Pada fase A, prepared environment membantu anak belajar merawat diri, mengenal rutinitas, dan membangun disiplin dasar. Pada fase B, lingkungan yang kaya material mendukung eksplorasi akademik dan sosial secara mandiri. Pada fase C, lingkungan yang lebih kompleks membantu siswa mengembangkan pengelolaan diri, perencanaan belajar, dan tanggung jawab pribadi. Kesimpulannya, prepared environment berfungsi sebagai instrumen utama yang membuat anak mampu Aumenolong dirinya sendiri,Ay selaras dengan tujuan inti Montessori. Kebebasan dalam Batas (Freedom within Limit. : Penerapan konsep kebebasan dalam batas menunjukkan dampak positif terhadap pembentukan kemandirian dan disiplin diri. Siswa diberikan kebebasan untuk memilih aktivitas, namun kebebasan tersebut berada dalam koridor aturan kelas yang disepakati bersama. Pada fase A, kebebasan diberikan dalam bentuk pilihan terbatas, karena anak masih memerlukan struktur yang kuat. Pada fase B, siswa mulai mampu mengelola pilihan secara penuh. Pada fase C, kebebasan berkembang menjadi kemampuan menyusun rencana belajar sendiri . elf-directed Kesimpulannya, kebebasan dalam batas menghasilkan perkembangan kemandirian yang terukur dan tidak liar, membentuk disiplin positif tanpa paksaan Penerapan Filsafat Montessori dalam Pengembangan Kemandirian Anak Sd Fase A. B, dan C A 470 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. Material Montessori dan Control of Error: Material Montessori berfungsi sebagai alat bantu yang membuat anak belajar secara mandiri melalui eksplorasi dan penemuan. Control of error membantu anak mendeteksi kesalahan sendiri, tanpa bergantung pada koreksi guru. Pada fase A, material praktis . enuang, meronce, mengancing, mencocokka. membantu kemandirian fisik dan sensorik. Pada fase B, material akademik konkret meningkatkan kemandirian belajar matematika, bahasa, dan sains. Pada fase C, material lanjutan membantu anak mengembangkan kemampuan analitik dan problem Kesimpulannya, material Montessori menjadi instrumen penting yang mendukung pembelajaran mandiri, terutama dalam aspek akademik dan emosional . enerima kesalahan dengan tenan. Peran Guru sebagai Fasilitator. Pembimbing, dan Observer: Guru di SDIT Cendekia tidak lagi menjadi pusat pembelajaran, melainkan bertindak sebagai fasilitator dan pengamat perkembangan anak. Guru memberikan lesson singkat, menyediakan lingkungan belajar, dan membiarkan anak bekerja secara mandiri. Peran ini sangat sesuai dengan nilai Islami tentang keteladanan, kesabaran, dan memberikan ruang anak untuk belajar mandiri. Guru berperan memberi arahan yang tidak dominan sehingga anak berkembang sesuai ritmenya Kesimpulannya, pergeseran peran guru menjadi katalis utama peningkatan kemandirian anak. Faktor Pendukung: Penelitian menemukan beberapa faktor pendukung utama keberhasilan implementasi Montessori: Dukungan sekolah dan kepala sekolah yang kuat terhadap transformasi metode A Lingkungan kelas yang tertata mendukung Montessori. Material konkret yang tersedia cukup baik. Guru yang berkomitmen dan terlatih secara dasar dalam Montessori. Pembiasaan Islami yang memperkuat disiplin dan adab anak. Pendukung ini menjadikan Montessori relevan dan efektif dalam pembelajaran seharihari. Faktor Penghambat: Namun, terdapat beberapa hambatan yang membuat implementasi Montessori belum optimal: Pelatihan Montessori belum mendalam dan belum merata di semua guru. Material Montessori belum lengkap, terutama untuk level fase C. Penerapan Filsafat Montessori dalam Pengembangan Kemandirian Anak Sd Fase A. B, dan C A 471 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. Beberapa orang tua belum memahami filosofi Montessori, sehingga pola asuh di rumah tidak seragam dengan pembelajaran di sekolah. Kurikulum nasional yang cukup padat menyulitkan penerapan Montessori secara A Perbedaan ritme belajar siswa membuat guru harus melakukan pengamatan ekstra. Hambatan-hambatan ini perlu ditindaklanjuti dalam pengembangan sekolah ke depan. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan filsafat Montessori di SDIT Cendekia Purwakarta berjalan efektif, kontekstual, dan relevan untuk mengembangkan kemandirian anak pada fase A. B, dan C. Montessori mampu menghasilkan anak yang: lebih mandiri secara fisik. A lebih teratur. A lebih percaya diri. A mampu mengatur diri dalam belajar. A mampu berinteraksi sosial secara matang. A dan bertanggung jawab terhadap tugas-tugas mereka. Integrasi Montessori dengan nilai-nilai Islam menciptakan model pendidikan yang komprehensif untuk membentuk karakter, akhlak, dan kompetensi belajar jangka panjang. Dengan demikian, penerapan Montessori bukan hanya metode pembelajaran, tetapi menjadi pendekatan pendidikan yang efektif untuk membentuk kemandirian yang menyeluruh, sesuai tuntutan Kurikulum Merdeka dan Profil Pelajar Pancasila. DAFTAR RUJUKAN Albata. Simak Ini Metode Montessori Untuk Membantu Psikologi Anak. Diakses dari https://w. Anggela. Konsep Pembelajaran Metode Montessori pada Tingkat Pendidikan Dasar. Syntax Idea, 2. , 14-26. Bandura. Social Learning Theory. Prentice Hall. Creswell. Research Design: Qualitative. Quantitative, and Mixed Methods Approaches . th ed. Sage Publications. Deci. , & Ryan. The AuWhatAy and AuWhyAy of Goal Pursuits: Human Needs and the Self-Determination of Behavior. Psychological Inquiry, 11. , 227-268. agle Peak Montessori School. December . The role of the Montessori Forestville Montessori School. June . What is the role of the Montessori Penerapan Filsafat Montessori dalam Pengembangan Kemandirian Anak Sd Fase A. B, dan C A 472 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. teacher?forestvillemontessori Green Montessori School. https://w. id/education/. Our Philosophies. Pendekatan Model Pembelajaran Montessori dalam Pendidikan Anak. Educhild, 4. , 12-22. KV Montessori Academy. September . The Montessori teacher role: A guide, not a Marshall. Montessori education: A review of the evidence base. NPJ Science of Learning, 2. , 1Ae9. Mavric. The Montessori approach as a model of personalized instruction. Journal of Educational Sciences, 22. , 73Ae89. Merriam. , & Tisdell. Qualitative Research: A Guide to Design and Implementation . th ed. Jossey-Bass. Montessori. The absorbent mind. Holt. Rinehart and Winston. Mutsiroh. , & Muhaimin. Implementasi Metode Montessori Terhadap Kemandirian Siswa. Jurnal Koulutus, 2. , 160-170. Patton. Qualitative Research & Evaluation Methods . th ed. Sage Publications. Ryan. , & Deci. Self-Determination Theory: Basic Psychological Needs in Motivation. Development, and Wellness. Guilford Publications. SCMS. January . The role of the Montessori teacher. South County Montessori School. Transition program. Stake. The Art of Case Study Research. Sage Publications. Sunshine Teacher Training. Montessori Freedom Within Limits: Guide to Independence. https://sunshineteacherstraining. id/freedom-within-limits-montessori/ Syabily. Penerapan Metode Montessori dalam Mendukung Perkembangan Anak. Educhild, 4. , 12-22. Yuliana. Prinsip Montessori dalam Membentuk Kemandirian pada Anak Usia Dini. Jurnal Obsesi, 6. , 90Ae99. Penerapan Filsafat Montessori dalam Pengembangan Kemandirian Anak Sd Fase A. B, dan C A